Be With You
.
.
.
11
.
.
.
^_^ Happy Reading ^_^
.
.
.
Tok... Tok... Tok...
"Nuguseyo?"
Klek
Krieeeettttt...
"Channie!"
"Annyeonghashimika eommonie." Chanyeol membungkukkan badannya dihadapan ibu Baekhyun, yang masih tertegun di tempatnya.
Ibu Baekhyun pasti sangat terkejut sekali mendapati Chanyeol ada di depan rumahnya saat ini.
Tentu saja.
Dia tak pernah bertemu Chanyeol kalau bukan untuk acara keluarga dan Chanyeol datang ke rumah ini pun baru pertama kali ini, tentu saja dia cukup terkejut dengan kehadiran calon menantunya tersebut.
"Eomma siapa yang dat... ang?"
Sama halnya dengan sang ibu, Baekhyun juga cukup terkejut dengan kehadiran Chanyeol di rumahnya.
Tubuhnya kaku seketika ditempatnya.
Pertemuan yang sama sekali tak diharapkannya. Dia memilih menjauh dan pergi dari Seoul, selain untuk menenangkan dirinya, tentu saja selebihnya untuk menghindar dari pria itu.
Tapi kenyataannya, pagi ini dia mendapati pria itu berdiri tak jauh darinya.
"Mau apa dia kemari eomma?" tanya Baekhyun dingin.
Ibu Baekhyun menatap putrinya, kemudian menatap Chanyeol, bergantian untuk beberapa saat.
Masih cukup bingung dengan situasi yang sedang terjadi saat ini.
"Aku ingin menjelaskan yang sebenarnya terjadi, Bee." Sahut Chanyeol.
Ibu Baekhyun memperhatikan Chanyeol yang menatap putrinya memohon.
"Eomma suruh dia pulang! Aku tak mau bicara dengannya." Balas Baekhyun masih dengan nada suara ketusnya.
"Eommonie saya harus bicara dengannya dan menjelaskan semuanya, tolong beri saya kesempatan itu sebelum saya menyesalinya nanti." Ujar Chanyeol sambil memandang ibu Baekhyun dengan tatapan memohon.
Kali ini, ibu Baekhyun benar-benar di buat pusing oleh ulah kedua anak muda tersebut.
Beliau paham situasi yang sedang terjadi, dia tak menyalahkan sikap Baekhyun yang sedikit kasar terhadap pria yang saat ini berdiri dihadapannya, yang notabene calon menantunya.
Pun demikian, dia juga tak bisa mengabaikan kehadiran Chanyeol di rumahnya pagi ini. Calon menantunya itu, pasti memiliki tujuan datang ke rumahnya pagi-pagi begini.
Dan tujuan pria itu datang kemari, secara tersirat sudah terlontar tadi.
"Aku tidak mau! Eomma jangan percaya dengan apa yang dikatakannya. Pembohong, selamanya akan menjadi seperti itu juga." suara Baekhyun terdengar tegas.
"Bee! Dengarkan aku dulu." Chanyeol menatap Baekhyun, memohon pada gadis itu untuk memberinya kesempatan menjelaskan.
Ibu Baekhyun masih berdiri diantara mereka, masih menatap putrinya dan calon menantunya bergantian.
Kemudian dia tersenyum simpul.
"Masuklah dulu Chanyeol-ah. Kau pasti belum sarapan 'kan?" ibu Baekhyun mempersilahkan Chanyeol masuk ke rumahnya.
Berbeda dengam ibunya, Baekhyun semakin terlihat menekuk wajahanya karena sang ibu memberi kesempatan Chanyeol untuk masuk ke rumah.
"Eomma!" protes Baekhyun tak terima.
"Dia tamu Baekhyunnie, tak baik menolak kedatangan tamu." Sahut ibu Baekhyun santai.
Gadis itu menatap Chanyeol tak suka, lalu berlalu dan masuk ke kamarnya. Baekhyun membanting kasar pintu kamarnya.
"Dia selalu seperti itu kalau sedang marah. Tolong maklumi saja dia, Chanyeol-ah."
Chanyeol tersenyum tipis. Dia sangat mengerti dan kalau boleh jujur, dia sangat rindu cara Baekhyun merajuk padanya.
"Duduklah! Eomma akan menyiapkan sarapan untukmu."
"Gomawo eommoni."
Ibu Baekhyun tersenyum, lalu pergi ke dapur dan kembali dengan beberapa menu sarapan yang menurut Chanyeol sangatlah lengkap.
"Sehun... dia menginap disini juga, eommoni?" tanya Chanyeol sambil membantu calon ibu mertuanya menata menu sarapannya di meja.
"Eoh. Pagi-pagi tadi dia sudah pamit keluar, lari pagi mungkin." Jelas ibu Baekhyun, Chanyeol mengangguk-angguk paham.
"Makanlah! Eomma panggil Hyunnie dulu." Pamit ibu Baekhyun. Perempuan paruh baya itu mendekati kamar Baekhyun.
"Hyunnie kau tidak sarapan?" seru sang ibu dari balik pintu.
"Tidak! Eomma sarapan saja dengan orang itu!" sahut Baekhyun keras masih dengan nada kesalnya.
"Dia sangat keras kepala kalau sedang marah."
Chanyeol tersenyum kecil memaklumi. Pada siapa dan kenapa gadis yang dicintainya itu marah, dia tahu.
"Makanlah!"
"Eommonie tidak sarapan juga?"
Ibu Baekhyun tersenyum simpul lalu menggeleng pelan.
"Channie! Maaf kalau eomma bicara sambil mengganggu makanmu."
Chanyeol mengangguk pelan. Dia sudah dapat menduga hal apa yang akan dibahas oleh calon ibu mertuanya itu.
Baekhyun tak mungkin diam saja pulang ke rumahnya, meski mungkin tak banyak, gadis itu pasti menceritakan apa yang baru saja dialaminya pada sang ibu.
"Hyunnie... Dia sudah menceritakan semua pada eomma. Termasuk niatnya untuk membatalkan pertunangan kalian."
Susah payah Chanyeol berusaha menelan makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya.
Ok!
Mungkin Baekhyun memang sangat marah padanya, tapi sedikit pun dia tak pernah berpikir Baekhyun akan membatalkan pertunangan mereka.
Tidak!
Dia tak akan pernah melepaskan Baekhyun. Kalau pun harus, dia akan berjuang untuk memenangkan hati Baekhyun lagi.
Chanyeol meletakkan sumpitnya, lalu meneguk pelan air putihnya.
"Jeosonghamnida eommonie, saya tahu, saya banyak melakukan kesalahan. Saya tahu alasan Baekhyunnie melakukan hal itu, tapi eommonie...untuk membatalkan pertunangan ini, saya tidak bisa. Saya mencintainya dan saya ingin menikah dengannya."
Chanyeol berujar dengan kemantapan hatinya. Dia tak akan melepaskan Baekhyun kali ini, apapun yang terjadi.
Ibu Baekhyun menatap Chanyeol seksama, dia sama sekali tak menemukan keraguan pada sepasang mata pria muda itu.
"Apa yang akan kau lakukan untuk meyakinkan Hyunnie?"
Chanyeol terlihat berpikir keras.
"Saya akan melakukan apapun untuk meyakinkannya, eommonie."
"Kalau Hyunnie tetap menolak?"
"Saya tidak berpikir dia akan menolak saya eommonie."
Ibu Baekhyun tersenyum tipis. Menantunya ini, memiliki rasa percaya diri yang cukup tinggi sepertinya.
"Hyunnie sedikit keras kepala Channie, kau lihat sendiri dia bagaimana sekarang. Bahkan untuk menemuimu pun dia enggan."
"Saya tahu eommonie. Tapi tidak ada yang tak mungkin bukan di dunia ini. Batu karang yang sangat keras saja bisa terkikis kalau di tetesi air setiap hari. Filosofi itulah yang akan saya gunakan untuk meyakinkan Baekhyunie."
Ibu Baekhyun meraih tangan Chanyeol dan menggenggamnya erat. Perempuan yang sudah melahirkan Baekhyun itu tersenyum tipis, lalu kembali berujar pelan.
"Saat ayah Hyunnie membuat perjanjian itu dengan ayahmu, dia memiliki keyakinan bahwa kau akan mampu membahagiakan Hyunnie kami. Tanpa kami tahu, bahwa sebenarnya saat itu, kami sedang menghancurkan dengan perlahan kebahagiaanmu sendiri. Kami, eomma dan bummonimmu, sempat putus asa ketika melihat sikapmu yang sangat acuh pada Hyunnie. Tapi dia, si gadis keras kepala itu, mengatakan apa yang tadi kau katakan pada eomma, bahwa batu karang yang sangat keras saja, bisa terkikis dengan tetesan kecil air, apalagi hati manusia. Melihat keyakinannya, kami mulai memupuk harapan kami dulu. Tapi Channie, ada kalannya, seseorang akan berhenti berjuang, ketika dia merasa bahwa perjuangannya sudah tak berarti apapun. Dan saat ini, Hyunnie sedang mengalami hal itu, dia merasa berada di titik paling rendah di hidupnya, ketika dia membutuhkanmu untuk meyakinkan hatinya, kau tidak ada."
Chanyeol terhenyak di tempatnya. Di balik sikap acuh kedua orangtuanya, ternyata mereka sangat peduli pada dirinya.
"Eomma minta maaf Chanyeol-ah, kalau cara kami ini melukaimu dan juga gadis itu."
"Eommonie, jangan mengatakan hal itu. Yunho ahjussi, setelah mendengar kisahnya, saya banyak belajar dan mencoba memahami keadaan saya saat ini. Jujur eommonie, awalnya saya ingin mencoba lebih dekat dengan Baekhyunie, paling tidak satu bulan. Saya ingin tahu dan mencoba melihatnya dengan hati saya. Dan yang saya alami, perlahan namun pasti, dia ada dan kemudian menjadi satu-satunya."
Chanyeol memberi jeda sebentar, lalu kembali melanjutkan penjelasannya.
"Kami sempat bertengkar beberapa hari yang lalu, pada saat itu, saya berjanji pada untuk segera menyelesaikan masalah saya dengan gadis itu. Saya pergi ke Daegu keesokan harinya, untuk seminar. Di sana, saya memutuskan mengakhiri semuanya dengan gadis itu. Ketika keesokan harinya saya tiba di Seoul dan akan menemui Baekhyunnie, ada kabar dari Daegu kalau gadis itu berusaha bunuh diri. Saya tahu, seharusnya saya menemui Baekhyunie lebih dulu, tapi saya memilih menemui dia eommonie."
"Bu-bunuh diri?" ibu Baekhyun terkejut, tak menyangka keadaan yang sesungguhnya ternyata sepelik ini. Chanyeol mengangguk pelan, mengiyakan.
"Saya datang sebagai seseorang yang pernah mengenal dekat dia, katakan itu sebagai temannya. Hanya itu, tidak ada yang lain. Saya sudah memutuskan memilih Baekhyunie, saya akan bertanggungjawab atas itu." Lanjut Chanyeol tanpa ada keraguan.
Ibu Baekhyun terdiam sesaat, tak bisa memikirkan hal apapun. Semua ini, pasti berawal dari keegoisan dirinya dan orangtua Chanyeol, hingga anak-anak mereka lah yang saat ini menjadi korban.
"Kau masih mencintainya, Chanyeol-ah?" tanya ibu Baekhyun tiba-tiba.
Chanyeol menatap ibu Baekhyun sesaat, lalu tersenyum kecil dan kembali berujar.
"Bohong kalau saya mengatakan saya sudah tidak mencintainya, tapi, saya tahu dimana harus menyimpan semua itu eommonie. Saya simpan dia hanya sebatas kenangan, karena kenyataannya saat ini, saya jatuh cinta pada Baekhyunie. Saya ingin bersamanya, saya tak ingin mengalami penyesalan yang sama seperti yang dialami Yunho ahjussi. Saya tidak ingin, baru merasakan dia berarti untuk saya, setelah saya di tinggalkan. Saya ingin menikmati waktu yang saya milliki bersamanya, mengukir semua kenangan manis kami. Jadi eommonie, ijinkan saya mencintai dan membahagiakan Baekhyunie saat ini dan sampai maut memisahkan kami."
Ibu Baekhyun tak bisa mengatakan apapun. Sekali lagi, dia dibuat takjub dengan uraian penjelasan Chanyeol, mungkin terkesan seperti bualan. Tapi matanya tak melihat itu dari Chanyeol, pria dihadapannya itu, benar-benar menunjukkan ketulusannya akan perasaannya terhadap Baekhyun.
Ibu Baekhyun mengambil nafasnya pelan, kemudian kembali berujar.
"Channie! Berat bagi eomma mengatakan hal ini, tapi sebagai seorang ibu, eomma harus tetap mengatakan hal ini. Terima kasih untuk semua rasa cintamu pada Hyunnie, sebenarnya mudah bagi eomma mengatakan, tinggalkan Hyunnie sekarang juga,apalagi setelah melihat keadaannya saat ini. Tapi... jika eomma mengatakannya, mungkin saja suatu saat nanti eomma akan menyesalinya. Jadi, kali ini, eomma mengijinkanmu untuk mencintai dan membahagiakan Hyunnie. Dengan satu syarat, jangan membuat eomma menyesal karena pernah mengijinkanmu mencintai Hyunnie."
Tak ada yang lebih membahagiakan bagi Chanyeol saat ini, selain ijin dari ibu Baekhyun ini. Pintu untuk mendekati Baekhyun saat ini sudah terbuka, dia hanya perlu masuk dan kembali menemukan Baekhyun.
Dalam hati, Chanyeol berjanji, bahwa dia akan mencintai Baekhyun, apapun yang akan terjadi nanti.
"Gomapseumnida eommoni. Anda bisa pegang janji saya, kebahagiaannya adalah tujuan hidup saya, saat ini dan sampai maut memisahkan kami nanti."
Di dalam kamar, Baekhyun dapat mendengar dengan jelas pembicaraan itu.
Dadanya berdetak lebih cepat dari sebelumnya ketika mendengar ucapan Chanyeol.
"Benarkah itu."
Dia ingin mempercayai hal itu, namun sepertinya begitu sulit. Sakit hatinya, rasa kecewanya, sepertinya masih sangat menumpuk di dalam hatinya. Dan memberi kesempatan Chanyeol, apakah dia bisa melakukan hal itu?
'Tuhan! Jika dia memang jodoh yang sudah kau gariskan untukku, bimbinglah hatiku untuk memaafkannya. Tapi jika bukan, bantu aku melepasnya dengan penuh keikhlasan.'
.
.
.
Chanyeol langsung bangun dari duduknya begitu mengingat sesuatu.
Dia tak bisa membiarkan hal ini berlarut-larut terlalu lama.
Meski Luhan melarangnya untuk sementara waktu tak bertemu dengan Baekhyun, namun hatinya melarangnya untuk melakukan itu. Hati kecilnya berteriak agar dia cepat menyelesaikan masalah ini.
Chanyeol mengusap airmatanya, kemudian mendial sebuah nomor di ponselnya.
Dia butuh bicara dan meminta pendapat pada profesornya yang juga adalah paman yang paling mengerti dia.
"Yeoboseo!"
Chanyeol sedikit bernafas lega dapat kembali mendengar suara profesornya di Inggris.
"Prof... Maaf kalau aku sedikit mengganggu."
"Kau sepertinya ada masalah Chanyeol-ah."
"Eoh."
Chanyeol diam sejenak, lalu mulai menceritakan semua yang dialaminya pada Yunho.
Semuanya, tak ada satu pun yang ditutupinya. Mulai dari pertengkaran yang terjadi antara dia dan Baekhyun, lalu janjianya untuk memutuskan Seulgi, pertengkarannya dengan Seulgi, lalu percobaan bunuh diri gadis itu dan yang terakhir tentu saja tak ketinggalan, dimana Sehun mengamuk dan menghajarnya tanpa ampun karena dia kembali lagi membuat Baekhyun menangis.
Tak lupa, Chanyeol juga menceritakan bagaimana dia datang ke tempat kerja Baekhyun dan diminta Luhan untuk sementara waktu ini menjauh dari tunangannya itu.
"Kau akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja? Masalahmu tak akan selesai kalau kau hanya diam menunggu."
"Tapi Luhan..."
"Dia tidak tahu apa-apa. Yang Luhannie tahu, sahabatnya sakit hati dan butuh waktu untuk sendiri. Tapi sampai kapan kau akan membiarkannya? Sampai satu tahun ke depan?"
"Menurut anda, aku harus bagaimana Prof?"
"Datangi dia, jelaskan semuanya. Masalah nanti dia mau mendengarmu atau tidak, itu tergantung akan usahamu meyakinkan dia. Chanyeol-ah!"
"Prof! Kalau setelah aku menjelaskan semuanya, tapi dia tetap mengacuhkanku bagaimana?"
"Dengarkan aku. Sekarang keadaannya kita balik, kau yang mati-matian mencintainya, lalu dia sudah mulai jatuh cinta padamu di kemudian hari mendatangi mantan pacarnya. Bagaimana perasaanmu?"
"Kecewa."
"Yang dia rasakan saat ini juga seperti itu. Dia kecewa padamu. Apa yang kau harapkan dari orang yang sudah mengecewakanmu Chanyeol-ah?"
"Pen-jelasan mungkin." Chanyeol menjawab tak yakin.
Dari seberang, terdengar tawa Yunho berderai keras.
"Penjelasan saja tak akan cukup Chanyeol-ah. Buktikan padanya, kau memang layak mendampinginya mengarungi lautan kehidupan. Dan jangan mengulangi kesalahan yang sama untuk kesekian kalinya nanti."
"Aku tak akan melakukan kesalahan yang sama lagi prof."
"Kau tak perlu mengatakan itu padaku. Katakan itu pada Baekhyun, yakinkan dia bahwa kau tak akan berbuat bodoh lagi."
"Kalau aku menyusul ke Jeju, tidak masalah 'kan prof."
"Kau hanya perlu membuat dia mendengar penjelasanmu Chanyeol-ah. Setelah itu, seiring berjalannya waktu, perbaiki hubunganmu dengan pembuktian nyata bahwa cintamu selamanya hanya untuknya."
"Prof! Gomawo."
"Chanyeol-ah! Kami semua, mendoakan kebahagian kalian. Berjuanglah!"
"Nde."
Chanyeol merasa mendapat suntikan semangat setelah menelpon profesornya.
Dia akan menyusul Baekhyun ke Jeju. Memperjuangkan cintanya, yang nyaris karam sebelum sempat berlayar. Tak memperdulikan larangan Luhan untuk tak menemui Baekhyun sementara ini.
Benar apa yang dikatakan pamannya, Luhan tak tahu apa yang sedang dia perjuangkan meski gadis itu mengatakan memahaminya.
Dia harus segera menyelesaikan masalahnya dengan Baekhyun, dia tak boleh membiarkan Baekhyun larut dalam pikirannya sendiri tanpa mendengar penjelasan yang benar dari dia.
Chanyeol tidak akan menyerah dan menunggu. Dia harus berjuang, itulah yang diputuskannya.
.
.
.
Chanyeol duduk di pinggir pantai, menatap laut lepas dengan ombaknya yang bergulung-gulung tinggi, yang seolah siap melibas siapapun yang menghalanginya.
Di kejauhan, tampak Sehun dan Baekhyun yang sedang asik bermain pasir. Yang pastinya akan menolak kalau dia ikut bergabung diantara mereka.
Chanyeol patut berterima kasih pada calon ibu mertuanya, karena berkat beliaulah Chanyeol akhirnya bisa bergabung dengan dua orang yang masih menyimpan kekesalan yang sama padanya itu.
Hampir setengah jam dia duduk disini, memperhatikan dengan seksama, bagaimana Baekhyun tertawa lepas bersama Sehun.
Sesekali, dia menangkap Baekhyun tengah menatapnya, namun ketika dia menatap balik, gadis itu memilih menunduk atau berbicara dengan Sehun. Baekhyun masih menghindarinya dan tak memberinya kesempatan untuk bicara.
Chanyeol masih setia menatap ke sembarang arah ketika Sehun datang mendekatinya.
"Untuk apa kau kemari?" tanya Sehun tanpa basa basi, pria itu kemudian duduk sedikit jauh dari Chanyeol.
Sehun memang menjauh dari Baekhyun, karena dia tak tahan ingin bertanya tujuan Chanyeol datang ke tempat ini apa?
"Aku ingin menjelaskan semuanya pada Baekhyun." Sahut Chanyeol sambil menoleh sekilas pada Sehun.
"Urusan kalian sudah selesai tepat setelah kau mengirim pesan singkatmu tempo hari."
Chanyeol mengalihkan tatapannya pada Sehun yang menatapnya tajam.
Kalau boleh, pria tinggi sahabat karib Baekhyun itu, ingin sekali memukul Chanyeol. Agar pria itu segera sadar bahwa hubungannya sudah berakhir dengan Baekhyun. Mengulang yang kemarin sempat dilakukannya pada pria itu. Namun dia harus dapat menahan dirinya, kalau ibu Baekhyun tahu, bisa saja dia berakhir di pinggir jalan malam ini. Dia mungkin dianggap anak sendiri oleh ibu Baekhyun, tapi percayalah posisinya tak seistimewa Chanyeol di hati ibu Baekhyun.
"Aku tak memutuskan apapun tempo hari." Sahut Chanyeol dengan menggertakkan giginya.
"Kau lupa kau mengirim pesan padanya untuk menemui Seulgi?" ujar Sehun sinis, senyumnya sudah tercetak miring dan itu benar-benar membuat muak Chanyeol.
"Aku memiliki alasan melakukannya." Balas Chanyeol kemudian.
Pria itu terlihat beberapa kali menarik nafasnya, sangat kentara sekali tengah berusaha menguasai emosinya. Dia tak boleh terpancing oleh Sehun.
Ok!
Kalau tadi dia harus berhadapan dengan Ibu Baekhyun, kali ini dia harus juga menghadapi Sehun yang sangat di sayangi Baekhyun.
"Alasan bahwa perempuan itu berusaha bunuh diri? Benarkah seperti itu?" Sehun menatap Chanyeol dengan tatapan mengejeknya.
Chanyeol ingin sekali menyarangkan satu pukulan ke wajah Sehun. Tapi...
Tidak!
Dia tidak ingin bertindak bodoh. Tujuannya kesini untuk menyakinkan Baekhyun, memberi penjelasan pada gadis itu atas kejadian tempo hari. Bukan yang lain.
Chanyeol kembali membuang nafasnya, lalu mulai bertutur pelan tanpa melihat pada Sehun.
"Kau beruntung Sehun-ah. Ketika kau membawa Luhan pulang ke rumahmu, orangtuamu langsung setuju dengan hubungan kalian. Sedangkan aku, ketika aku membawa Seulgi pulang, mereka menolak dengan alasan aku sudah dijodohkan. Saat itu, aku merasa bumi yang ku pijak tak lagi berputar. Aku tak tahu harus berbuat apa setelah itu. Aku mencintai Seulgi, saat itu. Bagiku dia segalanya dalam hidupku. Awalnya aku bisa menjalani semua, aku bisa mengabaikan perjodohan itu dan tetap mencintai Seulgi. Namun, ketika di Inggris, setiap hari aku dijejali Yunho ahjussi dengan kisah hidupnya yang dramatis. Aku tahu takdir seseorang tak pernah sama, dan karena hal itulah aku mulai berdamai dengan keadaanku. Menerima Baekhyun dan mencoba melihat Baekhyun adalah tujuan kepulanganku. Dan ternyata, dengan sendirinya hati ini memilih ingin dimiliki siapa."
Chanyeol menunjuk Baekhyun yang masih terlihat asik bermain pasir.
"Dia yang bukan siapa-siapa awalnya, kini benar-benar menjadi ratu dihatiku."
Chanyeol mengalihkan tatapannya, menatap Sehun yang kini lebih lembut melihatnya.
"Malam itu, aku benar-benar sudah mengakhiri hubunganku dengan Seulgi. Karena hatiku sudah memilih Baekhyun. Aku tak berpikir apapun setelah itu selain ingin cepat-cepat pulang dan bertemu Baekhyun. Namun, ditengah jalan, aku menerima kabar kalau Seulgi melakukan percobaan bunuh diri. Hhh... Aku tahu tindakanku salah, tapi kalau saat itu kau yang ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan?"
Sehun masih diam. Dia tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan semacam itu dari Chanyeol. Karena dia pun tak tahu harus menjawab seperti apa. Sampai dengan saat ini, hubungannya dengan Luhan tak pernah mengalami goncangan yang berarti. Semua berjalan mulus tanpa hambatan. Terkesan monoton memang, namun Sehun cukup menikmati semuanya.
Chanyeol tersenyum kecil, kemudian kembali berujar sambil menatap Baekhyun yang mulai menjejakkan kakinya diantara ombak.
"Kalau itu kau, aku yakin kau tidak akan melakukan hal sebodoh itu." Chanyeol menatap Sehun sekilas sebelum melanjutkan ucapannya.
"Aku mendatangi Seulgi bukan sebagai kekasihnya Sehun-ah, tapi sebagai seseorang yang pernah dekat dengannya. Aku kesana tidak serta merah memeluknya, aku hanya menegaskan, bahwa hal itulah yang dapat kulakukan untuknya, sebagai bentuk kepedulianku. Karena setelah hari itu, apapun yang terjadi dengannya, itu tak lagi menjadi tanggungjawabku."
Sehun merasakan dasar hatinya tersentuh oleh pernyataan Chanyeol. Kalau dia jadi Chanyeol, mampukah dia mengatakan seperti yang Chanyeol katakan pada Seulgi? Dia rasa, dia tak akan mampu melakukan itu.
Dia tak akan sanggup berujar sekejam itu. Hubungan yang di bangun begitu lama, runtuh dalam semalam dan Chanyeol masih sanggup mengatakan hal itu bahkan disaat gadis itu dalam keadaan terpuruk.
Entah, Sehun harus bersikap seperti apa saat ini. Kemarin dia terlalu terbawa emosi, tanpa mendengar penjelasan Chanyeol lebih dulu. Bahkan peringatan Luhan juga diacuhkannya begitu saja. Dia memilih melampiaskan semuanya pada Chanyeol. Baekhyun menangis karena Chanyeol, berarti disini pria itu yang salah.
"Bukan hal yang mudah melakukan hal itu, Sehun-ah. Aku harus terus meyakinkan diriku bahwa yang kulakukan sudah benar dan semua itu untuk kebaikanku sendiri. Aku mungkin terlalu kejam, tapi memang seperti itulah yang harus ku lakukan bukan?"
Sehun masih belum mengeluarkan suaranya.
"Aku tak meminta apapun Sehun-ah. Aku hanya minta sedikit pengertian darimu. Aku mengakui kesalahan yang aku lakukan dan aku datang kesini untuk memperbaiki semuanya."
"Hyung!" desah Sehun pelan. Ada perasaan bersalah yang menyelinap di hati Sehun tiba-tiba.
Mendengar penjelasan Chanyeol, sahabatnya itu pastilah mengalami banyak masa yang sulit.
"Sama seperti yang ku katakan pada eommonie, ijinkan aku mencintainya dan membahagiakannya Sehun-ah. Kau tak perlu melakukan apapun. Cukup lihat dan dukung aku."
"Hyung! Aku mengenal Baekhyun sudah dari kami masih sama-sama balita. Bagiku, dia lebih dari hanya sekedar sahabat. Dia kakak ketika aku ingin menjadikannya seperti itu dan dia juga adik bagiku. Kebahagiaannya adalah salah satu dari sekian banyak tujuan hidupku. Dan kau tahu, tiga minggu terakhir ini 'lah, aku benar-benar merasa dia sudah menemukan kebahagiannya. Aku hampir meletakkan semuanya, memasrahkan dia padamu, tapi kemudian malam itu, aku melihatnya begitu terpuruk. Menurutmu, salahkah kalau aku marah?"
Chanyeol menggeleng pelan. Dia tak menyalahkan Sehun atas pukulan yang di terimanya. Dia pun akan melakukan hal serupa kalau ada yang menyakiti sahabatnya.
"Katakan saat ini aku mengerti posisimu kemarin, apa jaminan yang kau berikan kalau kau benar-benar tak akan melukai Baekhyun lagi, kalau aku memberimu ijin mendekatinya?"
Chanyeol menatap Sehun. Jaminan? Apa yang bisa dia jaminkan untuk bisa kembali mendekati Baekhyun?
"Kau boleh membunuhku kalau aku menyakitinya lagi, Sehun-ah."
"Kau yakin?" Sehun berusaha meyakinkan.
"Eoh."
"Baiklah. Aku pegang janjimu, aku memberimu kesempatan mendekatinya lagi, tapi... jangan pernah memaksanya untuk menerimamu selagi dia mengatakan tidak ingin menerimamu. Aku tak hanya ingin kau menepati janjimu, aku juga ingin melihat kau berjuang untuk mendapatkannya."
Chanyeol menatap Sehun tak percaya. Dua orang yang paling dekat dengan Baekhyun, sudah memberinya ijin, dia tak akan menyia-nyiakan hal itu. Dia akan berjuang untuk cintanya pada Baekhyun.
"Maaf sudah memukulmu kemarin, hyung."
"Hmm... masih sedikit sakit, tapi aku rasa, aku menjadi lebih baik saat ini." Chanyeol tersenyum senang.
Saat mereka tengah asik mengobrol, Baekhyun sudah semakin berjalan menjauh dari bibir pantai. Tubuhnya sudah tertutup air laut hingga sebatas pinggang.
Hingga beberapa detika kemudian, Chanyeol menyadari hal itu.
"Sehun-ah! Baekhyun bisa berenang?"
"Ti... Baekhyunnie!"
Baik Chanyeol maupun Sehun melompat dari duduknya dan berlari kencang menghampiri Baekhyun yang sudah hampir tenggelam.
Chanyeol yang pertama kali sampai dan langsung menarik Baekhyun.
"Lepaskan!" pekik Baekhyun kesal.
"Jangan bertindak bodoh Bee. Apa yang kau lakukan?"
"Aku mau berenang, kau mau apa?" Baekhyun menatap Chanyeol tajam.
"Jangan bercanda, Sehun mengatakan kau tak pandai berenang." Chanyeol masih mencekal pergelangan tangan Baekhyun dan juga pinggang ramping gadis itu.
"Sehunnie bohong. Aku bisa berenang!" seru Baekhyun masih dengan nada kesalnya.
"Aku tidak percaya dan aku tak ingin mengambil resiko kalau terjadi apa-apa denganmu. Kalau kau mau berenang, aku yang menemani!" ujar Chanyeol tegas.
"Aku tidak mau!" pekik Baekhyun semakin kesal.
Chanyeol hanya diam dan memandang Baekhyun dalam, memperhatikan wajah cantik yang selalu berhasil membuatnya kelimpungan tiga minggu terakhir ini.
"Kita harus bicara Bee." Ujarnya lirih.
"Aku tidak mau!" Baekhyun kukuh pada pendiriannya. Dia berusaha melepaskan diri dari Chanyeol.
"Hanya dengarkan penjelasanku saja Bee. Aku tak akan memaksa hal lainnya."
"Aku tak butuh penjelasan apapun!"
Chanyeol diam sesaat, kemudian mengangkat tubuh mungil Baekhyun.
"Ya! Lepaskan aku Park Chanyeol!" teriak Baekhyun.
"Kau tidak suka kalau orang berteriak padamu, sekarang kau berteriak padahal aku tak melakukan apapun."
"Turunkan!" perintah Baekhyun sambil memukuli dada Chanyeol.
"Aku pulang dulu, kalian selesaikan masalah kalian." Pamit sehun ketika dilihatnya Chanyeol menurunkan Baekhyun di dekatnya.
"Aku ikut denganmu, Sehunnie. Aku tidak mau bicara dengannya." Baekhyun mencekal erat lengan Sehun.
Sehun tersenyum simpul.
Setelah mendengar semua penjelasan yang begitu jelas dari Chanyeol, pikirannya berubah tentang pria itu. Dia akan mencoba percaya pada Chanyeol kali ini.
"Baekkie! Apapun keputusan yang kau ambil setelah mendengar penjelasan dari Chanyeol hyung, aku akan mendukungmu. Dan Kau hyung, ingat apa yang aku katakan juga ingat janjimu yang sudah ku pegang. Aku pulang!" Sehun melepaskan genggaman Baekhyun, kemudian melangkah pergi dari pasangan itu.
Sepeninggal Sehun, Baekhyun melangkah agak menjauh dari Chanyeol.
"Bee!"
"Berhenti disitu! Aku tak mau dekat-dekat denganmu, sepuluh menit dan aku akan pergi setelah itu!" Baekhyun memperingatkan Chanyeol yang kembali mendekatinya.
Chanyeol mundur satu langkah dan mengangkat kedua tangannya hingga sebatas bahu.
"Setelah mengirim sms padamu, aku ke tempat Seulgi karena dia melakukan percobaan bunuh diri. Aku datang bukan sebagai kekasihnya, karena hubunganku dan dia sudah berakhir malam sebelumnya. Aku datang sebagai seseorang yang pernah dekat dan mengenalnya." Chanyeol memberi penjelasan dengan cepat.
"Sudah!" Baekhyun menatap Chanyeol, kedua tangannya di lipat di dada.
Chanyeol mengangguk ragu. Menunggu jawaban yang akam diberikan Baekhyun padanya.
Namun bukan jawaban yang di dapatnya. Baekhyun memilih berlalu dari hadapan Chanyeol.
"Bee!"
Chanyeol mengejar Baekhyun dan berhasil meraih pergelangan tangan gadis cantik itu.
"Mwo?"
"K-kau tak ingin mengatakan sesuatu?"
"Mengatakan apa? Aku hanya perlu mendengar 'kan? Aku sudah mendengar, mau apa lagi?" sahut Baekhyun sinis.
"Bee! Maaf karena hal itu, tapi ku mohon, mengertilah keadaanku." Lanjut Chanyeol.
"Wae? Kenapa harus aku yang mengerti? Setiap kali ada masalah, kenapa aku yang harus mengerti, kenapa? Kenapa bukan kalian? Hmm?"
Chanyeol terdiam mendapati reaksi tak biasa dari Baekhyun.
"Sudah lama aku selalu berusaha mengerti, sekarang kenapa tidak kau yang berusaha mengerti aku? Aku mati-matian mencintaimu, meski kau terus bersikap acuh, aku tak peduli, aku berusaha mengerti, sampai rasanya dadaku sesak. Lalu sekarang, kau masih memintaku mengerti? Mengerti apa? Mengerti bahwa kau mendatanginya karena kau merasa pernah dekat dengannya? Geurae, lalu apa? Apalagi yang harus ku mengerti? Hmm?"
"Mian Bee."
"Aku datang ke tempat kerjamu, aku mendengar seseorang menggunjingku, bahkan mempertanyakan manusiawikah tindakan seseorang yang memisahkan dua orang yang saling mencintai? Semalaman aku memikirkan hal ini, apa aku masih pantas berada disisimu, dan tindakanmu, membuatku yakin bahwa memang semua harus diakhiri sampai disini." Baekhyun terlihat menarik nafas panjang dan berusaha keras menghalau airmatanya yang nyaris lolos dari matanya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu Bee. Aku tak mau kehilanganmu."
Baekhyun menepis tangan Chanyeol dari lengannya, lalu melangkah menjauhi pria itu.
Namun baru beberapa langkah, Chanyeol berhasil menyusulnya dan kali ini merangkulnya dari belakang.
"Beri aku kesempatan untuk membuktikan semua Bee. Membuktikan bahwa cinta ini memang untukmu. Kau tak perlu melakukan apapun. Biar aku yang melakukan semuanya, kau hanya perlu diam dan menerima semuanya Bee. Please! Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
.
.
.
"Eonni! Maaf kalau kami selalu merepotkan keluargamu, gomawo sudah memberi kesempatan Channie untuk memperbaiki semuanya."
"Aku harap dia tak akan membuat Baekhyun menangis lagi, Junsu-ya."
"Kalau dia membuat Baekhyunie menangis lagi, aku akan mencoretnya dari daftar keluarga!"
"Jangan seperti itu, bagaimanapun juga, dia putramu. Lagi pula Junsu-ya, tak seharusnya kita memaksakan sesuatu yang di luar kehendak kita. Jodoh itu Tuhan yang mengatur, kenapa kita yang justru terlihat repot dengan urusan itu."
"Jiyoungie eonnie! Jangan bicara seperti itu. Mungkin aku terkesan memaksa, tapi percayalah padaku, mereka sudah ditakdirkan Tuhan untuk saling melengkapi."
"Anakku menjadi sangat cengeng setelah mengenal Chanyeolie."
"Mian eonni! Tapi aku mohon jangan batalkan apa yang sudah kita rencanakan sejak mereka masih kecil ini."
"Kau tahu, kau sangat egois Junsu-ie."
"Aku tahu. Maafkan aku eonni. Aku pastikan kali ini, Chanyeol tak lagi main-main."
"Eoh!"
"Sekali lagi gomawo eonnie."
.
.
.
Baekhyun sedang duduk diatas ranjang ketika ibunya masuk ke dalam kamar dan membawa setumpuk selimut dalam pelukannya.
"Berikan ini pada Chanyeol, Baekhyunnie!" perintah sang ibu.
"Kenapa aku?" tanya Baekhyun dengan wajah ditekuk sebal.
"Kalau bukan kau, masa eomma yang mengantar ke kamarnya?" balas ibunya sambil duduk di tepi ranjang Baekhyun.
"Eomma seharusnya menyuruh dia menginap di hotel, bukan disini." Sahut Baekhyun masih dengan nada yang sama.
Jujur saja, setelah kejadian di pantai tadi, dia masih belum berani menemui Chanyeol lagi. Saat tubuhnya di peluk Chanyeol dari belakang, jantungnya nyaris lepas dari tubuhnya, dia tak sanggup bila harus kembali berhadapan dengan Chanyeol. Dia takut hatinya kembali goyah bila dia memberi kesempatan pria itu mendekatinya lagi.
"Memangnya kenapa? Sehunnie juga menginap disini kan?" lanjut ibunya sambil merapikan anak rambutnya yang menutupi wajahnya.
"Sehunnie 'kan sudah seperti saudara untuk keluarga kita."
"Lalu Channie kau anggap apa? Orang asing? Dia tunanganmu sayang." Ibu Baekhyun berusaha mengingatkan putrinya.
"Tidak lagi setelah malam itu."
Sret
Baekhyun beranjak dari duduknya, lalu menarik dan membawa selimut yang sudah disiapkan ibunya untuk Chanyeol.
Dia menaiki tangga, menuju kamar tempat Chanyeol istirahat malam ini di rumahnya.
Beberapa kali dia mengetuk pintu, namun tak mendapat jawaban dari dalam.
"Apa mungkin sudah tidur?" gumam Baekhyun.
Sebenarnya, bisa saja dia meletakkan begitu saja selimut itu di depan kamar. Namun hati kecilnya seakan memerintahkannya untuk masuk ke dalam kamar.
Baekhyun sedikit membuka pintu kamar, melongongkan kepalanya sedikit.
Tak ada siapapun disana, namun terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
Baekhyun mengangguk-angguk paham, Chanyeol pasti sedang mandi.
Dia kemudian masuk dan hanya ingin meletakkan selimut itu diatas ranjang, namun saat dia hendak berbalik pergi, Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya.
"A-aku me-mengantar se-se-selimut." Ujar Baekhyun terbata sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Chanyeol menatap Baekhyun sebentar, lalu membuka rangselnya dan mengambil kaos serta celana training.
"Tetap seperti itu. Aku masih ganti baju!" ujarnya memperingatkan.
"Ke-kenapa tidak di kamar mandi?" seru Baekhyun, jangan tanya bagaimana keadaan Baekhyun, jantungnya berdetak cukup kencang dengan wajah hingga kuping memanas.
Dia tak pernah melihat Chanyeol seperti ini sebelumnya.
Tiga minggu tinggal dengan pria itu, dia tak pernah mendapati pria itu keluar dari kamar mandi dengan keadaan topless seperti sekarang. Atau mungkin dia yang tak tahu.
"Haaaaahhh!" Baekhyun menggeleng-geleng pelan, menepis pikirannya.
"Aku tak biasa ganti baju di kamar mandi." Sahut Chanyeol.
"Sudah belum?"
"Eoh."
Baekhyun menurunkan tangannya dari wajahnya dan mendapati Chanyeol sudah duduk di ujung ranjang. Sedang mengusak rambut basahnya dengan handuk.
Baekhyun dibuat semakin salah tingkah akan tindakan Chanyeol. Tunangannya itu, ah tidak, calon mantan tunangannya itu, kenapa terlihat semakin sexy dengan rambut setengah basahnya itu?
Pikiran seperti itu hanya melintas sesaat, karena detik berikutnya, Baekhyun kembali menggeleng, menepis pikiran liarnya.
Setelah mengambil nafas pelan, Baekhyun siap berbalik dan keluar dari kamar itu ketika tiba-tiba kakinya terantuk meja nakas dan membuatnya jatuh seketika.
"Aaaaauuucchhh!" jeritnya tertahan dengan wajah meringis kesakitan dan tangan memegangi kakinya yang sepertinya mengeluarkan darah.
"Gwaenchanayo?" Chanyeol menghampiri Baekhyun dan melihat khawatir gadis itu, yang sudah meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.
Chanyeol sigap mengangkat tubuh Baekhyun, lalu mendudukkannya di pinggir ranjang.
"Tunggu!"
Chanyeol membuka rangselnya lagi. Ada beberapa obat-obatan ringan yang dia bawa dan dia simpan disana. Seperti anti septik, plester, kasa dan obat luka luar.
Chanyeol kembali mendekati Baekhyun, dengan membawa gayung juga. Yang dia mabil dari kamar mandi.
"Lain kali lebih hati-hati Bee." Ujarnya sambil menyiram jempol kaki Baekhyun dengan anti septik.
Lalu dengam telaten dibersihkan luka itu, setelah itu dokter muda itu meneteskan obat luka pada luka Baekhyun.
Baekhyun berjengit kaget.
"Perih?" Chanyeol menatap Baekhyun yang meringis sakit. Baekhyun mengangguk kecil.
Setelah obat luka di teteskan, Chanyeol membungkus luka Baekhyun dengan kassa.
Tanpa di duga, setelah melakukan hal itu, Chanyeol berdiri dengan menumpukan kakinya pada kedua lututnya.
Baekhyun yang tersentak langsung memundurkan kepalanya.
Mereka saling bertatapan lama.
Debaran pada jantung Baekhyun, masih terasa sama ketika dia pertama kali bertatap mata dengan Chanyeol, sangat lembut, ringan tapi begitu menyenangkan.
"Aku tak akan pernah bosan mengatakan ini Bee. Mianhae. Saranghae Bee."
Chup
.
.
.
TBC
.
.
.
Note : Terima Kasih untuk Cinta dan perhatian kalian pada cerita ini.
Maaf lama baru update, saya mengalami stuck ide. Sudah ngetik banyak ternyata setelah dibaca, agak terlalu cepat, akhirnya dengan sedikit memaksa otak untuk berpikir, terciptalah chap 11 ini.
Semoga hasilnya tak terlalu mengecewakan kalian semua.
Big love for you guys
.
.
.
^_^ Lord Joongie ^_^
