Tales of Wu Family

Tittle : Now That I See You

Pairing: Krisyeol

Character: Wu Yifan, Park Chanyeol, and EXO Members

warning (s) : Mpreg, fluff yang sangat berlebihan, alur sedikit membingungkan (entahlah), typo(s)

disclaimer: Author abal ini hanya punya plot yang pasaran (mungkin) ini XDD


Tales of Wu Family - Now That I See You (cerita lanjutan dari Bubbly Feelings)

" Ahjussi cepatlah!" perintah Chanyeol dengan suara penuh kegelisahan. Sedangkan supir keluarga Park yang bertugas mengantarkan Chanyeol ke sekolah hari ini, benar-benar dibuat heran oleh kelakuan si tuan muda yang sedari tadi lebih aneh dari biasanya.

Waktu baru bergerak dari angka tujuh ketika mobil mercedes berwarna hitam yang membawa Chanyeol keluar dari mansion Park. Padahal jam sekolah Chanyeol tidak akan dimulai setelah pukul setengah sembilan.

Ditambah lagi dengan tidak adanya kegaduhan antara dua Park bersaudara dan membuat mansion Park terasa aneh dengan kesunyiannya. Dan bagian paling mengherankan lainnya adalah, tidak ada senyum di wajah sang tuan muda ketika dengan terburu-buru ia meminta lelaki paruh baya tersebut mengantarkannya ke sekolah. Sangat sangat mengherankan mengingat tuan mudanya itu diberi julukan teeth rich saking seringnya ia tersenyum ala bintang iklan pasta gigi.

Rasa penasaran sang supir pun tidak berkurang ketika tuan mudanya itu tampak gelisah dalam duduknya dengan menggiggit kukunya dan terus menerus memandang secarik kertas yang nampak lusuh.

" Kalau boleh saya bertanya, apa yang membuat tuan muda gelisah seperti ini? Dan tidak biasanya kita berangkat sepagi ini," tanya sang supir setelah ia memberanikan dirinya untuk bertanya.

Chanyeol tersentak dan melepaskan jari yang tanpa sadar ia gigit sebagai kebiasaannya ketika sedang dilanda kegelisahan.

" Tidak apa apa, Paman Jung. Aku hanya teringat sesuatu yang harus segera kuambil di sekolah karena aku lupa meninggalkannya kemarin," jawab Chanyeol dengan sedikit kebohongan.

" Pantas saja anda merasa panik benda itu pasti sangat penting untuk tuan muda," gumam sang supir yang masih bisa didengar oleh Chanyeol dengan jelas dan membuat pipi Chanyeol bersemu merah.

" Penting ya?" gumam Chanyeol pada dirinya sendiri. Tanpa sadar ia meraba dadanya tepat di atas jantungnya berada dan tersenyum ketika merasakan debaran menyenangkan itu ada di sana.

" Kurang lebih seperti itu, ahjussi," jawab Chanyeol dengan sebuah senyum misterius.

.

.

Seperempat jam Chanyeol duduk tepat di depan deretan lokernya. Ia bersembunyi pada celah yang dibuat antara ujung loker dengan tembok pembatas. Bukan sebuah tempat yang nyaman untuk seorang dengan tubuh tinggi seperti Chanyeol bersembunyi, tetapi, sebuah tempat persembunyian yang sangat sempurna.

Sempurna karena ia berada tepat di depan loker miliknya sehingga ia tidak perlu mengeluarkan salah satu anggota badannya, yang pasti bisa membuatnya ketahuan oleh si "peneror tercinta-nya". Entah bagaimana Chanyeol bisa yakin dengan sangat jika si itu akan tetap datang dan memberikan sesuatu untuknya.

Berulang kali Chanyeol mengecek arlojinya hingga pada akhirnya jarum jam menunjukkan pukul delapan kurang lima belas menit. Sudah setengah jam Chanyeol menunggu, dan selama itu pula buruannya itu belum menunjukkan batang hidungnya. Dan sepertinya sebentar lagi murid lain akan mulai berdatangan.

Nyaris saja Chanyeol menyerah untuk menunggu tetapi tiba-tiba saja terdengar suara ketukan sepatu yang sangat pelan tetapi di suasana yang sunyi seperti itu, tentu saja Chanyeol dapat mendengarnya dengan jelas. Suara ketukan itu membuat Chanyeol tanpa sadar menahan nafasnya, takut-takut jika ia meimbulkan suara yang keras ketika bernafas. Jantungnya pun ikut berdetak tak karuan menunggu detik-detik menegangkan di depannya.

Chanyeol melihatnya!

Ia berdiri di depan lokernya dengan sebuah kotak di dalam genggamannya. Chanyeol tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi wajah orang itu, tetapi ia tampak menunduk untuk sesaat sebelum mengambil secarik kertas dari saku jas almamaternya.

' Pesan sialan itu!' batin Chanyeol kesal.

Si peneror itu kemudian meletakkan kotak kecil itu tepat di atas loker Chanyeol seperti biasanya. Sebelum si penguntit sadar akan keberadaan Chanyeol di sana dan memergoki betapa anehnya melihat Chanyeol terjepit di tempat sempit itu, Chanyeol pun segera keluar dengan sangat berhati-hati tanpa menimbulkan suara sedikitpun.

Ia bersandar pada loker di belakangnya, menanti si penguntit itu untuk berbalik dan menampakkan wajah tampannya itu.

Wajah Kris ketika ia berbalik dan mendapati Chanyeol tengah memperhatikannya sangatlah kocak. Dan Chanyeol berharap ia memengang ponselnya saat ini karena wajah terkejut Kris patut untuk di tempelkan di majalah dinding sekolah dengan predikat ekspresi terbaik bulan ini.

" Jadi?" Chanyeol memulai pembicaraan dengan penguntit tersayangnya itu.

Hening...

" Hyung tidak ingin mengatakan apapun padaku?" kata Chanyeol lagi saat Kris tak kunjung sadar atau namja tampan taksiran Chanyeol itu kehilangan kata-katanya terpergok menguntit pujaan hatinya.

" Haruskah aku menciummu supaya kau kembali ke alam sadar?" tantang Chanyeol.

' Seorang Park Chanyeol berkata seperti itu? Oh, Tuhan apa yang sedang terjadi sekarang. Dimana sisi manis dan lugu bocah manja itu, astaga.'

Kris sejenak terkaget-kaget mendengar kata-kata yang meluncur dari mulut pemuda yang sering ia pikir sebagai pemuda yang lugu dan polos.

" Kalau kau berani aku dengan senang hati menerimanya, Park Chanyeol," kata Kris membalas godaan Chanyeol sebelumnya ketika ia sudah tersadar dari keterkejutannya.

Kris yang semula tegang dan terkejut bersender pada loker Chanyeol, ia pun membalas tatapan tajam Chanyeol yang terarah kepadanya.

" Kau benar-benar tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?" ulang Chanyeol.

" Apa yang harus kujelaskan? Bukankah semuanya memang sudah jelas?"

" Aish, hyung sudah menerorku belakangan ini dan hyung hanya berkata seperti itu?" sahut Chanyeol tak percaya. Ia mulai kesal dengan keacuhan namja pirang yang ditaksirnya itu.

" Penjelasan apa yang kau minta Chanyeol-ah?" kata Kris dengan desahan kekalahan di akhir kalimatnya.

" Kenapa hyung menerorku seperti itu?"

" Aku tidak bermaksud untuk menerormu sebenarnya, aku hanya ingin menyampaikan apa yang kurasakan padamu, itu saja," jawab Kris tanpa sedikitpun melepaskan pandangannya dari sang lawan bicara.

Chanyeol yang ditatap sedemikian rupa oleh Kris pun menundukkan wajahnya dengan sesekali ia mencuri pandangan pada sang ketua badan murid itu. Jangan paksa Chanyeol untuk berlama-lama memandang Kris, okay, dia bisa meleleh di lantai saat itu juga jika harus bertukar pandangan lebih dari lima menit.

" Dengan cara diam-diam seperti seorang sasaeng pada idolanya?" tanya Chanyeol lagi. Tanpa ia sadari Kris telah bergerak ke arahnya dan kini jarak mereka tak kurang dari setengah meter jauhnya.

" Sejujurnya, kau memang idolaku, Park Chanyeol," goda Kris.

" Tatap mata seseorang ketika kau sedang berbicara dengannya, Chanyeol-ah," tambah Kris. Dan ketika Chanyeol mendongakkan matanya, kali itu ia yang dibuat terkejut oleh kedekatan mereka berdua.

" Hyuuuung," rajuk Chanyeol.

" Aku memang salah menunjukkan perhatianku dengan cara yang salah. Tetapi aku hanya ingin memberikan perhatian kepadamu lewat cara yang berbeda. Yah, sebut saja egois tetapi aku memang ingin terlihat berbeda di hadapanmu. Bukan sebagai fans tetapi sebagai pemujamu?"

" Kau memang berbeda, hyung. Selalu saja membuatku jengkel ketika melihat hadiah-hadiah itu datang bersamaan dengan kartu bertuliskan angka-angka aneh seperti itu. kau membuatku pusing dengannya, hyung."

" Aigoo, uri giant baby merajuk, eoh?"

" Aku tidak merajuk! Tapi aku kesal denganmu, mister misterius, kau membuatku terlihat seperti orang bodoh saat orang-orang disekitarku tahu isi pesan itu. Kau tahu, hyung juga membuatku malu dan ditertawakan oleh noona-deul!"

" Aigoo, aigoo, maafkan hyung, ne?" Kris sudah akan meraih Chanyeol ke dalam pelukannya dan mengusak gemas rambut fluffy-nya itu sebelum sebuah tangan terentang tepat di dadanya mencegah keduanya memperpendek jarak mereka.

" Kau belum selesai dengan penjelasanmu, Tuan Wu," larang Chanyeol.

" Apalagi yang harus ku jelaskan, heum?" Kris tampak memutar otak sebelum ia melemparkan senyum menggodanya pada juniornya itu.

" Apakah pertanyaan itu harus ditanyakan? Bukankah aku telah berkali-kali menulisnya di pesan-pesan itu?"

" Aku tetap tidak paham dengan maksudmu di dalam tulisan itu," balas Chanyeol acuh.

" Tidak paham atau ingin mendengarnya langsung dariku?" goda Kris lagi.

" Kalau begitu aku akan ke kelasku dulu. Aku sudah tidak penasaran lagi, sampai jumpa siang nanti," kata Chanyeol dengan dingin.

Entah karena kekesalannya atau untuk menutupi rasa malunya.

" Calon pacarku ini kenapa suka sekali merajuk sih? Tapi merajuk pun ia tetap menggemaskan," goda Kris dari balik punggung Chanyeol.

Chanyeol kembali berbalik dan bersiap untuk memaki namja tampan itu.

" Calon pacar apaa..." genggaman tangan di sisi wajahnya dan sebuah kecupan singkat dibibir kissable-nya membuat otaknya serasa kosong dan kakinya melemah saat itu juga. Ia benar-benar tidak berpikir kalau si ketua badan murid yang terkenal dingin dan tanpa ekspresi itu bisa melakukan tindakan senekat itu di koridor gedung sekolah mereka.

" Maukah kau jadi pacarku, Park Chanyeol?" bisik Kris ketika bibir mereka terpisah dengan wajah yang saling menatap.

Chanyeol memerah menyadari apa yang barusan Kris lakukan padanya. Ia pun melepaskan kedua tangan Kris dari wajahnya dan sebagai gantinya ia menubrukkan wajahnya pada dada bidang milik Kris. Kedua tangannya melingkar sempurna di pinggang namja yang lebih tinggi darinya itu.

" Babo! Prosesnya jangan terbalik!" rajuk Chanyeol yang teredam oleh kain blazer dan kemeja Kris.

" Jadi apa jawabanmu, calon pacarku?" kata Kris saat keduanya kembali bertatapan.

" Jangan selingkuh atau noona-deul ku akan membunuhmu," kata Chanyeol dengan senyum yang sangat menyilaukannya.

" Cross my heart if I did, darling," balas Kris yang dilanjutkan dengan sebuah ciuman persemian keduanya. Tepukan riuh mengiringi lumatan bibir keduanya.

Yap, beberapa murid telah datang dan mulai memenuhi sudut-sudut sekolah mereka. Sehingga beberapa dari mereka bisa menyaksikan lahirnya pasangan yang di kemudian hari akan menjadi legenda sekolah mereka itu.

" YAK! NAGA TUA MESUM!"

" DILARANG PDA DI LINGKUNGAN SEKOLAH!"

Samar-samar keduanya bisa mendengar teriakan itu, tetapi keduanya pun tidak memperdulikannya dan tersenyum di dalam ciuman mereka.

Kris tersenyum dalam hati mengingat sebuaah kartu di atas meja belajarnya di kediaman Wu yang kini tidak lagi berfungsi.

536172616e67686165 2c20 776f756c64 20 796f75 20 6265 20 6d696ee653f 20 66726f6d 20 575946

" Saranghae, would you be mine? from WYF "

END EPS


Note: Maaf untuk yang menunggu lanjutannya ini~~ Maaf lama banget up-nya ^^

Terima kasih untuk yang menunggu dan komen di chapter sebelumnya atau di chapter sebelumnya lagi

Last, RnR please?

Salam sayang,

Kim