Seorang bocah terlihat merengut di tengah keramaian. Ia duduk di kursi sambil melipat tangan di depan dada. Sepasang mata bulatnya sesekali melirik pria dewasa yang duduk di sebelah kanannya. Jika ketahuan, ia akan segera memalingkan muka atau berpura-pura menoleh ke arah sang bunda.
"Kenapa, hm?" pemuda bersurai honey bertanya. Diusapnya lembut kepala sang putra.
Si balita yang mengenakan kaos putih dengan perpaduan warna merah pada bagian lengan yang menutupi hingga siku tak menjawabnya dengan kata-kata. Ia menggeleng lalu menggerak-gerakkan kaki berbalut sepatu merah batanya asal, sementara kedua tangannya kini memainkan celana selutut yang ia kenakan.
Sang ibu menghela.
Ia mengalihkan pandangannya dari putra menggemaskan yang sedang merajuk, beralih pada pria dewasa yang menggunakan sweatshirt hitam dan celana panjang berwarna senada. Mereka saling menatap selama beberapa saat, berbincang tanpa kata, lalu yang lebih tua ikut-ikutan menghela.
"Poppa ingin membeli camilan dan minuman untuk di kereta. Kwonnie ikut?"
Merasa dipanggil, jagoan berusia empat tahun langsung menolehkan kepala. Ia mendengar kata camilan, dan itu sungguh sulit untuk diabaikan.
Tapi Kwonnie sedang marah dengan poppa.
Kemudian si kecil Taekwon memalingkan wajahnya. Ia lebih memilih untuk merangkak naik ke pangkuan ibunya, lalu menenggelamkan wajah di dada berbalut kaos lengan pendek bermotif garis-garis yang Jungkook kenakan.
"Sayang, kenapa diam? Poppa sedang bertanya."
Jeon Taekwon melirik ayahnya, lalu dengan segera mendekatkan wajahnya ke telinga momma kesayangan. Hendak berbisik bak orang dewasa, kedua tangannya berusaha menutupi supaya pria Kim yang tengah mengamati tidak bisa mengetahui apa yang ia katakan.
Namun alih-alih menutupi kedua sisi mulutnya saat berbisik, sepasang tangan mungil Kwonnie malah menutupi masing-masing sisi mata kanan dan kirinya.
"Kwonnie sedang marah sama poppa." ucapnya lancar.
Kim Taehyung yang sebenarnya mampu mendengar ucapan itu hanya dapat menahan kekehan yang hampir lolos dari bibirnya.
Baru saja Jungkook akan menoleh untuk memberikan tanggapan, tetapi sang putra sudah mendahului dengan melanjutkan ucapan.
"Tapi Kwonnie mau camilan."
Pemuda Jeon tertawa renyah. Ia jelas tahu alasan marahnya Jeon Taekwon kepada poppa yang selalu diidolakannya, dan ia memilih utnuk tidak membahasnya karena cepat atau lambat, Kwonnie pasti akan baikan dengan Taehyung.
"Ya sudah. Sana ikut poppa beli makanan."
Jeon cilik mendelik saat ibunya menjawab tidak dengan berbisik. Ia lantas menoleh ke arah sang ayah yang juga tengah menatap dirinya. Bibir tebal yang ttengah tersenyum itu tetap saja terlihat tampan walau Kwonnie sedang marah kepadanya,
Ia lalu kembali berbisik kepada sang ibu. "Ssuuuttt… tidak boleh keras-keras nanti poppa dengar!"
Dan Jungkook hanya berpura-pura menyesal dengan membulatkan matanya, lalu menutup mulut dengan kedua tangannya.
Jeon Taekwon semakin mencebik, namun ia tetap turun dari pangkuan momma-nya. "Karena Kwonnie anak baik, Kwonnie temani poppa."
Taehyung senang, tentu saja. Ia mendengar apa yang dikatakan putra semata wayangnya kepada sang kekasih, dan ia bahagia karena jagoan kecilnya mau ikut dengannya.
Ia pun segera beranjak dari duduknya. "Bagus, kita akan beli banyak makanan kesukaan Kwonnie."
Si bocah mengangguk meski masih memasang cebikan.
"Hih! Kwonnie bukan anak kecil, Kwonnie tidak mau digandeng."
Biasanya, Jeon Taekwon sangat senang digandeng Kim Taehyung. Namun kali ini, ia memilih untuk melepaskan tangan besar sang ayah. Mungkin, karena dirinya masih marahdengan apa yang dilakukan ayahnya semalam.
Taehyung memasang wajah sedihnya. "Nanti kalau hilang bagaimana?"
"Tidak hilang." bantah balita berusia empat. "Kwonnie anak besar. Kwonnie juga bisa superhero landing. Kwonnie tidak akan hilang."
Pewaris Kim Enterprise tertawa lirih. Ia berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan sang putra. Bibirnya bergerak perlahan ketika ia mengucapkan kalimat yang membesarkan hati Kwonnie. "Bukan Kwonnie yang hilang. Kalau poppa yang hilang karena tidak digandeng bagaimana?"
Superhero Jeon terdiam. Ia memiringkan kepalanya, nampak berpikir.
"Kalau Kwonnie tidak mau menggandeng poppa, nanti poppa tersesat dan hilang. Kwonnie tidak sedih kalau poppa hilang?"
Ucapan sang ayah membuat Jeon Taekwon mengingat salah satu episode Pororo dimana si pinguin kecil dan teman-temannya tersesat di tengah salju. Menurutnya, itu mengerikan. Jika poppa tersesat seperti Pororo, pasti mengerikan juga.
Taekwon tidak suka hal-hal mengerikan.
Maka tangan mungilnya perlahan mengamit jemari besar ayahnya. Mata bulatnya menatap polos poppa, bibirnya masih mencebik ketika bicara, "Kwonnie tidak mau poppa hilang. Kwonnie akan menggandeng poppa."
Dan dengan itu, si balita menggemaskan mendapatkan kecupan lembut di pipinya sebelum pasangan ayah-anak itu berjalan menuju mini market terdekat.
Jungkook yang melihatnya hanya tersenyum.
Ia tidak tahu tuan muda arogan macam Kim Taehyung belajar merayu bocah dari mana. Bahkan pria yang dulu begitu angkuh itu rela memposisikan dirinya bak seseorang yang payah hanya agar putra menggemaskan mereka mau digandeng. Tentu yang berpotensi tersesat dan menghilang adalah Jeon Taekwon, dan Kim Taehyung berpura-pura bahwa dirinyalah yang akan tersesat supaya Kwonnie menurut.
Mungkin, Jungkook memang tidak perlu terlalu khawatir.
Keputusannya untuk berangkat ke Seoul pagi ini pastilah keputusan yang tepat.
Ia sudah menyerahkan urusan kedai kepada Yugyeom dan menghabiskan hari kemarin dengan menjelaskan apa-apa saja yang harus pegawai kepercayaannya itu lakoni. Dan apapun yang akan terjadi di Seoul nanti, Kim Taehyung yang akan bertanggung jawab sepenuhnya.
.
A fanfiction, the continuation of "Puzzled"
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung
Genre: Romance, Family, Hurt/ Comfort, Humor, dll
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rated: M for the language and theme, and yeah
Warning: OC for Taekwon.
Ambigu, TYPO tak tertahankan, m-preg (?)
.
.
"Painted"
Part XI: the Graphic Visual
Taehyung terkekeh saat jagoan cilik kesayangannya berlarian di dalam mini market sambil menunjuk berbagai macam camilan yang diinginkan. Tentu Kim muda tidak membeli semuanya. Ia hanya mengambil beberapa yang sekiranya tidak terlalu banyak mengandung MSG dan kawan-kawannya. Bagaimanapun, Jungkook tidak membiasakan bocah mereka mengkonsumsi makanan berpenyedap rasa secara berlebihan.
"Kwonnie mau itu… mau itu… dan itu, lalu itu…" balita menggemaskan berucap riang seakan lupa bahwa dirinya tengah marah kepada sang ayah. Matanya berbinar saat melihat permen gummy berbentuk beruang, lalu langsung mengambilnya karena bungkusan warna-warni itu berada di dalam jangkauan. "Sama ini."
Pria Kim mengangguk. Sebelah tangannya membawa keranjang belanjaan, sementara yang satu ia gunakan untuk mengusap kepala putra tunggalnya. "Sudah? Sekarang kita beli minum."
Jeon kecil mengangguk setuju. Ia merasa sudah menunjuk begitu banyak camilan, perutnya pasti tidak akan muat untuk menampung semuanya.
Di almari pendingin, ia memilih dua botol susu pisang untuk dirinya dan momma, lalu meminta sang ayah untuk menggendongnya. Awalnya Kim muda bingung dengan yang ingin dilakukan Taekwon, namun bibirnya tersenyum lebar begitu tangan mungil Kwonnie mengambil sekaleng kopi di rak bagian atas saat ia menggendongnya.
Kim Taehyung tidak suka rasa kopi dari brand yang diambil jagoan kecilnya, namun karena balita kesayangannya yang mengambilkan, ia akan dengan senang hati meminumnya nanti.
Kegiatan membayar di kasir menjadi hal yang menyenangkan bagi Jeon Taekwon karena ia sangat suka melihat sensor berwarna merah yang menubruk bungkus makanan atau minumannya, lalu menimbulkan bunyi.
"Pa, pa… poppa. Kenapa mesinnya berbunyi saat merah-merahnya bertemu bungkus makanan?" Taekwon menatap ayahnya penuh penasaran. Satu tangannya ia gunakan untuk berpegangan di leher sang ayah, sementara yang lainnya menunjuk ke meja kasir.
"Itu seperti kamera. Kalau Kwonnie difoto memakai kamera, nanti keluar gambarnya. Kalau makanan difoto menggunakan itu, nanti keluar harganya."
Si bocah mengangguk paham. Ia merasa sudah sangat memahami konsep kerja kamera, poppa pernah memberitahunya dengan bahasa yang sederhana. Dan yang ada di meja kasir pasti kamera khusus untuk jajanan. Tentu saja Kwonnie tahu, Kwonnie adalah anak yang pintar.
"Pa, pa, poppa… Kwonnie mau permen itu."
"Hm?" pria Kim mengikuti arah yang ditunjuk putranya, dan hampir tersedak ludahnya sendiri saat menyadari benda apa yang diinginkan pangeran kecilnya.
"Kwonnie mau beli itu. Itu permennya rasa buah? Kwonnie suka rasa buah. Ya, poppa, ya?"
Kim Taehyung tertawa canggung.
Bagaimana tidak?
Ia tengah menjadi pusat perhatian karena malaikat polosnya saat ini tengah menunjuk berbagai macam kondom yang ditata di sudut meja kasir. Bungkusnya berwarna-warni. Jeon Taekwon tidak salah, ada beberapa di antaranya yang memiliki gambar buah-buahan pada bagian sudut, ini pasti yang menjadi alasan si bocah mengira benda-benda yang ditunjuknya adalah permen.
"Kwonnie tidak boleh membelinya." gumam Taehyung perlahan seraya memberikan uang kepada petugas kasir. Dikecupnya gemas pipi gembil sang putra. "Itu permen untuk orang dewasa, poppa dan momma boleh, tapi Kwonnie tidak."
Si bocah mencebik kesal. "Kenapaaaaa?"
Menurutnya, permen manis rasa buah-buahan diciptakan untuk anak-anak menggemaskan seperti dirinya. Bukan utnuk orang dewasa seperti momma dan poppa. Kenapa yang satu ini malah sebaliknya?
"Ya itu permen supaya tidak memiliki adik bayi. Poppa bisa beli, tapi nanti Kwonnie tidak punya adik bayi."
"Tapi Kwonnie mau adik bayi!" si bocah memekik. Ia menatap protes sang ayah.
"Ahh.. terima kasih." Taehyung berucap kepada petugas kasir yang memberinya uang kembalian. Ia segera memasukkannya ke dompet dan menyimpannya sebelum menyambar belanjaan yang sebagian besar berisi camilan si jagoan. Setelah itu, Taehyung pergi meninggalkan mini market dengan beberapa pasang mata yang masih mengamatinya sambil terkikik geli.
"Kwonnie mau adik bayi!" Jeon kecil kembali menegaskan, kali ini dengan nada yang dinaikkan. Tangan kanannya gemas mencubit telinga poppa kesayangan.
"Aduh. Kwon…" Taehyung mengerang protes dan langsung menggigit pipi Taekwon main-main. "Makanya poppa tidak akan membeli permen itu kalau Kwonnie ingin adik bayi."
"Tapi itu permen, tapi kenapa kalau poppa beli tidak punya adik bayi?" si bocah penasaran, tentu saja. Sejauh ini, permen selalu berhubungan dengan gigi berlubang, bukan adik bayi. Momma selalu bilang jika Taekwon makan terlalu banyak makanan manis, lalu tidak menyikat gigi sampai benar-benar bersih, giginya bisa berlubang. Momma tidak pernah bilang apapun mengenai adik bayi.
"Ya karena permen itu seperti obat batuk. Kira-kira kenapa orang minum obat batuk?"
"Umm…" si bocah nampak berpikir. Ia bahkan tidak menyadari bahwa dirinya kini telah kembali ke tempat momma-nya menunggu. "Supaya batuknya pergi? Supaya batuknya tidak datang? Supaya batuknya hilang?"
Taehyung menyambar tas gendong besar milik Jungkook setelah menyerahkan plastik belanjaannya. Ia memberi isyarat supaya mereka segera masuk ke peron. Pemuda Jeon sempat protes melihat calon suaminya menggendong sang putra dengan sebelah lengan sambil menyampirkan tas gendong besar bermotif army miliknya di sisi yang lain, namun karena penyandang marga Kim nampak sibuk menjelaskan sesuatu kepada putra kesayangan mereka, dirinya hanya mampu menghela. Jungkook memilih diam sambil membawa jajanan Kwonnie dan tas jinjing hitam bermotif ular milik sang calon suami, plus tas gendong merah milik putranya yang berisi Optimus Prime dan Bumble Bee.
"Adik bayinya tidak akan datang kalau poppa beli permen itu."
Jeon Taekwon mengangguk seolah ia mengerti betul cara kerja permen yang dibicarakan ayahnya.
Permen pencegak adik bayi.
Jungkook merasa tertarik, dan ia segera bertanya. Ia tak tahu mengapa, tetapi pita suaranya mengeluarkan volume yang lirih seakan-akan yang ia bicarakan merupakan sebuah rahasia perusahaan. "Membicarakan permen apa?"
Pria Kim segera mendekatkan wajahnya ke telinga sang kekasih, ia berbicara tak kalah lirih, namun dengan intonasi yang cepat. "Rubber."
Jeon Jungkook mengeryit. Ia nampak berpikir sambil terus mengikuti Kim Taehyung berjalan menyusuri gerbong untuk mencari kursi mereka. Bahkan hingga mereka bertiga duduk, ia masih mengeryitkan dahi karena tidak dapat memahami karet seperti apa yang Kim muda bicarakan.
"What kind of rubber?" akhirnya pertanyaan itu lolos juga. Jungkook menoleh untuk menatap mata calon suaminya sementara kedua tangannya sibuk membuka bungkus gummy bear untuk selanjutnya diberikan kepada Taekwon yang duduk di pangkuan ayahnya.
Bocah itu dengan antusias menunggu permen kenyal berbentuk beruang yang sangat ia suka.
Pewaris Kim Enterprise terkekeh. Ia memberikan sebuah kecupan singkat di pipi sang kekasih, lalu kembali berbisik. "Rubber for my D, Kwonnie thought it was candy."
Dan Jeon muda tak mampu berkata-kata.
Sepasang matanya membulat sempurna, khawatir dengan jawaban seperti apa yang telah diberikan Kim Taehyung untuk putra mereka.
"Hih! Kenapa bisik-bisik Kwonnie juga mau bisik-bisik di telinga…" jagoan Jeon merengek saat memergoki momma dan poppa saling berbisik tanpa melibatkan dirinya. Bibirnya mengerucut sementara pipinya bergerak-gerak saat mengunyah gummy bear kesukaan. Tangan kanannya memegang bungkus permen yang masih berisi beberapa beruang kunyah, sementara tangan kirinya memegang seekor berwarna merah.
Sang ayah tertawa renyah. Ia mencium gemas pipi malaikat kesayangannya, lalu mulai berbisik. "Poppa sayang momma dan Kwonnie."
Mendapat bisikan seperti sang momma, bocah Jeon mengangguk puas, lalu mulai memasukkan permen gummy ke dalam mulutnya lagi.
"I told him it was candy to prevent babies, it works like medicine and so on."
Jeon Jungkook hanya mampu memijit kepalanya saat sepasang manik gelapnya menangkap cengiran kotak tak berdosa dari bibir Kim muda.
Lagipula ia tak dapat memikirkan penjelasan yang lebih masuk akal dari yang diberikan suaminya. Bocah pintarnya pun tampak tak lagi bertanya yang macam-macam mengenai benda yang sebenarnya merupakan pengaman saat bercinta itu.
"Tapi bayi besarnya di perut mama seperti bibi Suran." Taekwon menoleh ke arah ibunya, meminta pembenaran.
"Tentu. Kwonnie dulu juga tumbuh di perut momma. Dulu perut momma besar seperti perut bibi Suran. Tapi karena Kwonnie semakin besar dan perut momma tidak muat lagi, momma melahirkan Kwonnie."
Jeon Taekwon mengangguk lagi. Ia ingat salah satu tetangganya memiliki perut yang besar, dan semakin membesar. Saat Kwonnie bertanya, bibi Suran bilang ada adik bayi di dalam perutnya.
"Tapi perut kakek Bang juga besar. Ada adik bayinya juga?"
Kali ini sang bunda tak mampu manahan tawa. Ia mengusak gemas kepala putranya yang malah menatap dengan sorot polos.
"Kakek Bang tidak punya adik bayi di perutnya, ia hanya sedikit gendut."
"Hoo… gendut itu tidak ada adik bayinya?" si bocah kembali bertanya. Ia ingat paman Yumi pernah mengatakan bahwa pipinya gendut, dan jika dilihat-lihat, kedua pipinya memang sedikit menggembung. Mungkin, kakek Bang gendut di seluruh badan.
Taehyung memilih diam, ia memang beberapa kali mendapati Taekwon atau Jungkook berbincang dengan tetangganya. Walau begitu, tidak ada satupun dari mereka yang ia kenal.
Sebelah tangannya terulur untuk meraih kantong plastik yang diletakkan di meja yang tepat berada di depan kursi mereka, sementara satu lainnya menyisir helaian halus putra menggemaskannya.
Jungkook yang peka langsung mengambilkan sekaleng kopi, lalu membukanya sebelum ia berikan kepada sang kekasih.
Dan itu membuatnya mendapatkan sebuah kecupan lembut di bibir.
"Kalau sudah tidak di perut, adik bayi keluar dari mana?"
Kim Taehyung hampir tersedak.
Bocahnya masih saja belum bisa lepas dari urusan bayi-bayi, dan apa yang ditanyakannya sungguh di luar bayangan.
Ia bisa saja menyebutkan organ vital seorang wanita, yang memang menjadi jalur keluar bayi karena itu yang pertama melintas di kepalanya. Tapi… apa balita berumur empat tahun diperbolehkan mengetahui hal seperti itu? Pria bersurai sekelam malam menoleh. Ia mengeryit saat mendapati pujaannya malah tertawa renyah. Pemuda berusia enam tahun lebih muda darinya itu lalu menyingkap pakaiannya sendiri, memperlihatkan bekas c-section kepada sang putra.
"Dulu Kwonnie keluar dari sini." gumam Jungkook sambil menunjuk bekas jahitannya.
"Hiii… perutnya momma kenapa?" Jeon kecil mengeryit. Ia menghentikan kegiatan makannya, lalu lebih memilih untuk mengusap perut ibunya. "Apa sakit?"
"Dulu perut momma dibuka agar Kwonnie bisa keluar. Setelah itu, momma dijahit."
Balita berusia empat meringis ngeri.
Ia membayangkan perut ibunya dibuka seperti bungkus permen yang masih dipegangnya, lalu dijahit seperti baju. Menurutnya, itu sangat-sangat mengerikan.
Rasanya pasti sangat sakit.
"Apa sakit perut momma?" mata bulat Jeon Taekwon menatap ibunya penuh penasaran. Sedikit rasa bersalah terpancar di sana, seolah ia menyesal telah membuat ibunya terluka hanya karena ingin mengeluarkan dirinya dari perut.
Dan kepala mungil itu bergerak mendekati perut Jungkook, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat tepat pada bekas jahitan c-section.
Jeon Jungkook tersenyum simpul. Ia mengusap sayang kepala putranya sebelum berujar. "Dulu sakit, tapi sekarang sudah sembuh."
"Makanya Kwonnie harus menurut sama momma karena momma kesakitan saat mengeluarkan Kwonnie dari perut. Menggerti?" Kim Taehyung memberi pengertian kepada putranya, dalam hati memperingatkan dirinya sendiri supaya tidak membuat pemuda Jeon terluka.
Bagaimanapun, pemuda yang pernah dipandangnya begitu rendah itu telah berjuang mati-matian untuk merawat bayi kecilnya sejak masih berada di dalam kandungan. Perlu digarisbawahi bahwa Jungkook melakukannya sendirian, tanpa didampingi ayah dari bayinya.
Tanpa didampingi Kim Taehyung.
Mereka bertiga begitu larut dalam keheningan hingga yang paling muda kembali melontarkan sebuah pertanyaan.
"Kwonnie tahu adik bayi keluar dari mana, tapi adik bayi masuk ke perut dari mana?"
Kali ini Jeon Jungkook bungkam. Ia menolehkan kepala ke arah pria Kim yang tengah menatapnya dengan sorot yang sama.
Ya, mereka sama-sama bingung harus mengatakan apa.
Maka Kim Taehyung segera menaruh kaleng kopinya yang masih setengah penuh, lalu mengangkat tubuh sang putra untuk kemudian di hadapkan ke jendela.
"Woaaahhh lihat! Ternyata keretanya sudah berjalan!" CEO Vante berujar antusias. Ia bahkan menaikkan nada bicaranya seolah yang barusan dikatakan adalah hal paling menakjubkan di seluruh dunia.
"Waaa! Kereta jalan!" si bocah memekik tak kalah senang. Ia memang terlalu asyik berbincang dengan kedua orangtuanya sampai-sampai tidak menyadari bahwa kereta yang ia tumpangi telah meninggalkan stasiun sejak beberapa menit yang lalu.
Ini adalah kali pertama dirinya naik kereta bersama poppa, wajar jika terasa begitu menyenangkan sampai tak sadar jika kereta telah berjalan. Padahal biasanya ia akan dengan antusias menyemangati kereta yang mulai bergerak perlahan hingga akhirnya melaju kencang.
Sementara perhatian Jeon Taekwon teralihkan oleh pemandangan yang bergerak cepat, Jungkook menghela nafas lega. Sang kekasih melakukan hal yang sama dengan tambahan memijit pelipis dengan sebelah tangannya.
Ini berbahaya, balita menggemaskannya tanpa ragu mulai menunjukkan rasa penasarannya.
Kalau tidak berhati-hati, sepasang orangtua yang sama-sama tengah belajar mengasuh seorang putra ini bisa saja kelepasan bicara.
.
.
.
.
.
Min Yoongi terkekeh di samping mobilnya. Ia tiba sekitar lima menit yang lalu, namun memutuskan untuk tetap berada di dalam mobilnya selagi menunggu. Tentu saja, AC dalam keadaan menyala.
Bukan apa-apa, hanya udara di luar lumayan panas.
Tak berapa lama, ia melihat tiga orang berjalan ke arahnya.
Satu diantaranya adalah bocah menggemaskan yang menggendong tas merahnya dengan ceria. Tangan kanannya bergandengan dengan pemuda bersurai honey yang menenteng tas kesukaan sepupu menyebalkannya. Sementara itu, sang sepupu terlihat seperti seorang pecinta alam dengan tas punggung besar yang ia gendong di belakang.
Segera ia menurunkan jendela di samping kursi penumpang saat keluarga bahagia ini mulai mendekat. Dengan lambaian tangan ia memberikan isyarat supaya mereka cepat.
"Paman Yoon Yoon!" balita bertas merah berteriak girang saat ibunya membuka pintu belakang. Ia langsung merangkak naik ke kursi, lalu menempatkan diri di kursi yang tepat berada di belakang pamannya.
"Yoo jagoan." pria bersurai pirang mengulurkan tangannya ke belakang, meminta sang keponakan untuk melakukan high five.
Tentu Jeon Taekwon dengan senang hati melakukan. Ia bahkan dengan semangat menubrukkan telapak mungilnya ke telapak pria Min.
"Letakkan saja di samping Kwonnie." gumam Taehyung saat menyerahkan tas Jungkook. Ia segera duduk di samping Yoongi setelahnya.
"Bagaimana perjalanan naik keretanya? Kwonnie suka?"
Si bocah yang duduk di belakang mengangguk ceria. Ia bertatapan dengan paman Yoon melalui pantulan kaca. "Kwonnie suka naik kereta karena keretanya panjang dan cepat. Tadi Kwonnie bersama momma dan poppa bicara-bicara terus."
Bersama dengan Jeon Jungkook, Kim Taehyung menahan nafasnya. Sepasang kekasih ini sama-sama khawatir kalau putra kesayangan mereka kembali membicarakan bayi. Tidak apa sebenarnya, namun jika ia kembali menanyakan jalur masuk si bayi ke perut ibu, mereka berdua belum siap menjawabnya.
"Memangnya membicarakan apa dengan momma dan poppa?"
Dan pertanyaan itu menjadi alarm tanda bahaya untuk Jungkook dan pria Kim yang sejak tadi belum bersuara.
"Hyung, jangan menanyainya macam-macam. Biarkan Kwonnie tidur. Perjalanan jauh pasti membuatnya lelah." Taehyung mencoba mengalihkan pembicaraan, meminimalisir kemungkinan topik bayi kembali terangkat ke permukaan.
Apa daya, putranya memang senang berbincang.
"Tapi Kwonnie mau bicara macam-macam." rengek si bocah. Ia mem-pout-kan bibirnya kesal, lalu menggelendot manja kepada sang bunda.
"Baiklah… Kwonnie bisa ceritakan apa saja ke paman Yoon." sebagai yang paling tua, Min Yoongi berusaha menengahi. Ia tahu adik sepupunya sangat menyayangi Taekwon sehingga terkesan terlalu protektif. Sementara si bocah yang dikhawatirkan terlalu senang bicara.
"Atau Kwonnie bisa main saja dengan mainan yang Kwonnie bawa." sang paman memberikan pilihan lain supaya balita berusia empat tetap sibuk dan tidak merengek.
"Tapi Kwonnie tidak boleh bawa mainan sama poppa." bukannya menjawab pertanyaan yang sempat dilontarkan paman bersurai permen kapas, Jeon Taekwon malah mengadu. Ia kembali menunjukkan wajah kesalnya sambil merebahkan dirinya, menggunakan paha momma sebagai bantal.
Kalau saja bukan keponakan kesayangan yang melakukannya, Min Yoongi pasti sudah mendepak siapapun yang berani menaikkan sepatunya ke kursi mobil kesayangannya. Taehyung saja pernah mendapatkan jitakan karena hal itu. Beruntung, Kwonnie berada di daftar manusia paling menggemaskan menurut Yoongi, jadi ia akan membiarkan si bocah melakukan apa saja di mobilnya.
"Kwonnie sudah membawa Kapten Optimus dan Bee. Kalau banyak-banyak, nanti tasnya tidak muat." Jungkook menasihati. Ia mengusap kepala putranya yang terlihat mulai mengantuk.
"Tapi Kwonnie mau mainan banyak-banyak. Nanti ada Cimchar sama mobilan yang dibelikan paman Yumi sama mainan Kwonnie yang dikotak besar, semua-mua mau dibawa."
Jungkook terkekeh, perlahan melepas sepatu jagoan kecilnya supaya tidak mengotori kursi. Ia tidak berkomentar karena jujur, dirinya memiliki alasan tersendiri untuk tidak membawa banyak barang.
Ya… Jungkook sengaja membawa baju dan keperluan dalam jumlah terbatas hanya untuk berjaga-jaga jika dirinya didepak oleh keluarga besar Kim yang terhormat.
Jadi ia membiarkan saja ketika semalam Taehyung melarang putranya untuk membawa banyak mainan. Setidaknya, ia tak harus melakukannya sendiri.
"Poppa bilang kita bisa beli di sini." Taehyung yang kembali diingatkan alasan kemarahan putranya langsung kembali mencoba membela diri. "Poppa sudah bilang kalau Kwonnie bisa membeli mainan baru yang banyak dengan poppa. Kenapa Kwonnie tidak mau mendengarkan poppa?"
Si bocah masih saja merengut meski kini sang ayah menolehkan kepalanya, bahkan menjulurkan tangan untuk ikut mengusap kepalanya.
"Uhh… tapi Kwonnie tidak mau beli baru banyak-banyak." Taekwon mengelak. Ia sungguh suka mainan baru, tapi tidak jika jumlahnya banyak.
Baru saja ingin menanyakan alasannya, Kim Taehyung sudah terlebih dahulu mendengar sesuatu yang menggores hatinya.
"Paman Yumi bilang Kwonnie tidak boleh beli mainan banyak-banyak nanti uangnya momma bisa habis terus Kwonnie tidak bisa beli beli pisang dan susu pisang dan susu melon."
Pria Kim terdiam.
Ia menatap sang kekasih yang hanya menunjukkan senyum simpul kepadanya.
Kalau dipikir-pikir, gaya hidup pemuda Jeon memang sederhana. Ia hidup berkecukupan, namun tidak berlebihan. Mungkin, mengajarkan berhemat kepada jagoan kecilnya adalah hal yang Jungkook pilih.
Tidak buruk.
Kim Taehyung mungkin memiliki begitu banyak uang, namun ide berhemat bukanlah sesuatu yang buruk. Ia juga ingin mengajarkan hal yang sama kepada putranya.
Meski begitu, dirinya merasa sangat kesal karena malaikat kecilnya mengingat nama Kim Yugyeom sebagai seseorang yang mengajarkannya untuk melakukan sesuatu.
Tidak bisa dibiarkan.
Kim Taehyung haruslah yang nomor satu untuk putranya.
Maka ia tersenyum lembut saat menatap sepasang mata bulat Taekwon. "Ya sudah, kita tidak akan beli mainan. Kwonnie ingat poppa punya banyak diecast di rumah?"
Jeon Taekwon berbinar. Ia bahkan langsung mendudukkan dirinya, lalu menatap sang idola penuh harap. Kepalanya mengangguk cepat hingga poninya bergerak-gerak. Bibirnya tersenyum lebar.
"Diecast milik poppa akan menjadi mainan Kwonnie. Mau?"
"Mauuu!" si balita berseru dengan suara nyaring. Paman Yoon Yoon bahkan mengomel tapi Taekwon tidak peduli.
"Tapi jangan marah sama poppa lagi, oke?"
"Sangat oke!"
Dan Jeon mungil menyelip di antara kursi ayahnya dan kursi Yoongi untuk kemudian duduk di pangkuan sang ayah, meninggalkan momma duduk sendirian di belakang.
Jungkook hanya tersenyum maklum.
Ia tahu seberapa sukanya Kwonnie dengan mainan, jadi si bocah pasti sangat senang ketika poppa menawarkan begitu banyak mobil-mobilan tanpa mereka harus membelinya.
.
.
.
.
.
Kim Taehyung memutuskan untuk berangkat ke kantor setelah ia dan keluarga kecilnya, ditambah Min Yoongi, makan siang bersama di rumah. Jungkook membuat nasi goreng dengan cepat dan langsung menghidangkannya.
Kwonnie sebenarnya merengek ingin ikut sang ayah ke kantor, tetapi dengan segala bujuk rayu dari ibunya, ia akhirnya rela ditinggal di rumah. Selama poppa bekerja, si balita memutuskan untuk memperkenalkan Optimus Prime dan Bumble Bee kepada beberapa diecast yang hari itu diberikan ayahnya.
Tentu Kim Taehyung, dengan paksaan Jungkook, hanya mengeluarkan empat buah mobil-mobilan dengan skala yang wajar dan kualitas standard. Untuk beberapa dengan kelas dan harga tinggi, pemuda Jeon melarang keras sang calon suami memberikan benda-benda mahal itu kepada sang putra.
Tidak, sebelum Jeon Taekwon mengerti bahwa diecast ayahnya berharga selangit.
Usai menjanjikan bahwa pulang kantor nanti ia akan mengajak keluarga kecilnya untuk berbelanja bahan makanan dan kebutuhan lainnya, pewaris Kim Enterprise langsung berangkat ke kantor dengan mengendarai mobil.
Dan di sinilah Kwonnie, berada di rumah barunya. Ia berlarian memasuki ruangan demi ruangan yang menurutnya keren. Tangan kanannya memegang Optimus Prime, sementara yang kiri ia gunakan untuk memegang barang-barang yang dilihatnya.
"Rumahnya poppa di sini besar sekali, rumah yang biasanya terlihat kecil." gumam si bocah kala menghampiri ibunya yang berdiri di ruang keluarga.
Ia kemudian mengambil Bee yang tergeletak di meja makan, lalu membawanya untuk duduk di sofa, berjajar dengan momma yang ikut duduk bersamanya.
"Lelah?" tanya pemuda bersurai tembaga. Ia tersenyum lembut saat mengusap peluh di dahi bocah menggemaskannya yang masih mengatur nafas. Sepasang mata obsidiannya mengamati kegiatan sang putra yang tengah menata kedua robot, juga keempat diecast pemberian poppa.
"Kwonnie bersemangat soalnya Kwonnie akan tinggal di sini katanya poppa Kwonnie boleh memilih kamar tapi Kwonnie mau tidur di kamar poppa dan momma soalnya kamar dan kasurnya besar dan muat."
Sang ibu tertawa renyah. Tangannya bergerak dengan sangat kasual untuk mengelap lengan Jeon Taekwon yang basah.
Dulu saat membujuk jagoannya agar mau tidur sendiri, ia memang menggunakan ukuran kamar dan ranjang yang sempit sebagai alasan. Wajar jika saat ini bocah pintarnya mengajukan diri untuk tidur bersama kedua orangtuanya karena memang ranjang-ranjang yang ada di ketiga kamar tidur rumah ayahnya memiliki ukuran yang cukup untuk ditiduri bertiga.
"Nanti bilang kepada poppa, oke?"
Balita berusia empat mengacungkan jari jempol mungilnya.
"Kwonnie juga mau diajari berenang karena ada kolam renang di dalam rumah tapi Kwonnie tidak mau mengajak mainan berenang karena nanti bisa rusak." si bocah memang baru saja mencelupkan kedua lengannya ke kolam renang indoor yang ada di rumah barunya.
Well, sebenarnya tidak bisa dibilang kolam renang karena luasnya hanya sekitar 3x3 meter persegi. Kedua orangtuanya hanya bisa menggunakan kolam itu untuk berendam, tapi Taekwon jelas bisa menggunakannya untuk berenang kesana-kemari.
"Ya, nanti momma ajari Kwonnie berenang."
"Tapi Kwonnie mau poppa yang ajari berenang, poppa sudah janji." gumam si bocah sambil mengucek matanya dengan sebelah tangan, tanda bahwa dirinya kembali mengantuk.
Bocah berusia empat ini memang gagal tidur siang karena ia terlalu antusias dengan diecast yang diimingkan sang ayah. Tidak mengecewakan, keempat mobil-mobilannya memang sangat keren.
"Mau menemani momma tidur siang? Momma sangat lelah dan mengantuk."
Jeon mungil hanya mengangguk. Ia perlahan turun dari sofa dengan menggandeng tangan sang momma. Ia menunjuk sebuah kamar yang menurutnya paling besar diantara ketiga kamar yang ia jelajahi, kamar role model kerennya.
Sebenarnya ada empat kamar tidur, namun Kim Taehyung sengaja mengunci satu kamar yang berada di sudut yang berlawanan dengan kamar miliknya karena ada beberapa benda berbahaya di kamar itu.
Berjalan memasuki kamar ayahnya, Taekwon bisa melihat ruangan tanpa pintu di sebelah kirinya. Tempat itu berisi baju-baju pria Kim yang terlihat begitu mengagumkan di matanya. Bersama Jungkook, ia memasuki walking closet sang poppa untuk menuju sebuah pintu di sisi lainnya, pintu kamar mandi.
Setelah pipis, Kwonnie langsung menuju ranjang milik ayahnya. Perlahan bocah yang sudah setengah mengantuk itu merangkak naik tanpa menunggu sang momma, lalu merebahkan tubuhnya di sana. Sebenarnya kamar di dekat ruang tamu memiliki kasur yang lebih besar, tapi Kwonnie ingin tidur di kamar yang ini karena ruangannya memiliki aroma sang poppa yang begitu familiar dan menenangkan.
"Sini, momma peluk." gumam Jungkook yang telah merebahkan diri di sebelah putranya. Ia memberikan sebuah kecupan hangat di dahi sebelum memejamkan matanya. Ia menepuk-nepuk pantat Taekwon perlahan.
"Mmm.. ma, ma, momma."
"Hm?" pemuda Jeon hanya bergumam. Ia merasakan tubuh putranya bergerak untuk menghadap ke tubuhnya, tetapi Jungkook tetap memejamkan mata supaya si balita cepat tidur.
"Apa poppa bekerja jauh-jauh supaya bisa membuat rumah yang besar dan ada kolam kecilnya untuk Kwonnie?"
Jungkook tidak menjawab. Ia hanya menggumamkan kata tidak jelas sambil menghadiahi pipi menggemaskan sang putra dengan kecupan. Setelah itu, ia mengeratkan pelukan.
Rumah ini bukan dibangun untuk putranya, ia jelas tahu. Bahkan ketika pertama bertemu dengan pria Kim dulu, sang pewaris sudah tinggal di rumah ini. Namun Jungkook akan membiarkan balitanya berasumsi. Lagipula, itu tidak merugikan bagi siapapun, jadi tidak apa-apa jika Taekwon menganggap rumah ayahnya sengaja dibangun untuknya.
"Ungg…" balita yang sedang mengantuk mulai mengusekkan wajahnya ke dada ibunya. Ia memeluk erat sang bunda, lalu menggumamkan apa yang ada di dalam kepala. "Kwonnie suka rumahnya poppa, Kwonnie mau tinggal di sini terus. Nanti katanya poppa akan ambil mainan Kwonnie di rumah yang dulu supaya tidak beli-beli yang banyak."
Jeon muda mengangguk.
Kalau boleh jujur ia juga menginginkan hal yang sama; tinggal di rumah ini bersama pria yang dicintanya. Namun keraguan itu tak kunjung sirna.
Bukan.
Bukan karena rumah ini menjadi saksi segala pelecehan yang pernah dilakukan pria yang, entah sejak kapan, membuatnya jatuh cinta. Bukan pula karena Jungkook meragukan niat Kim Taehyung dan segala janjinya. Yang membuat hatinya bimbang adalah keluarga besar Kim yang kemungkinan besar tak sudi menerima kehadirannya.
Mungkin, itu tak apa, namun Jeon Jungkook khawatir kalau-kalau Jeon Taekwon mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan hanya karena balita berusia empat adalah putranya.
Dadanya selalu saja sesak setiap kali memikirkannya.
Dan ia hanya membalas celotehan putranya dengan gumanan-gumaman tanpa makna hingga kesadarannya perlahan ditarik ke dalam lelap.
.
.
.
.
.
Pewaris Kim Enterprise duduk di meja kebesarannya. Ia menghela nafas saat seorang wanita cantik bertubuh mungil tiba-tiba masuk ke ruangannya. Tentu wanita terhormat itu tidak masuk dengan cara yang anarkis, bahkan sosok yang begitu dikenal Taehyung itu sempat mengetuk pintu. Tapi tetap saja, pria Kim tidak menduga bahwa ibunya akan berkunjung, tepat setelah ia berhasil membawa Jungkook dan Taekwon ke Seoul.
"Kau tidak suka bertemu eomma?" tanya seorang wanita cantik yang berdiri di hadapannya. Ia memasang wajah kesal sambil melipat tangan di depan dada.
"Bukan begitu, eomma." pria Kim menanggapi. Ia kemudian berdiri, lalu membawa ibunya untuk duduk di sofa berwarna maroon yang ada di sudut ruangan. "Aku hanya sedikit terkejut, kenapa eomma tidak menelfonku terlebih dahulu?"
Nyonya Kim diam saja. Ia memperhatikan putranya yang mengambil dua kaleng kopi dingin dari kulkas kecil di samping sofa, lalu duduk di sebelahnya. Tanpa kata-kata jemari panjang Taehyung bergerak lincah membuka tutupnya sebelum menyerahkan satu kaleng kopi kepada ibunya.
"Aku tidak punya teh." gumamnya sambil membuka coffee can-nya sendiri. Perlahan Taehyung meneguknya sekali, lalu memusatkan atensi yang ia miliki kepada wanita yang paling ia sayangi.
Mereka terdiam selama beberapa saat. Kim Taeyeon memperhatikan gerak-gerik putra kesayangannya, sementara Kim Taehyung memilih bungkam karena ia tahu bahwa ibunya datang hanya untuk membahas satu hal.
"Taehyung, eomma ingin bicara denganmu sekali lagi." Taeyeon menghela nafas. Ia menyandarkan tubuhnya pada sofa. "Tidak bisakah kau mendengarkan eomma untuk yang satu ini?"
Yang di ajak bicara hanya diam. Ia lebih memilih untuk menyeruput kembali kopinya sambil duduk santai memperhatikan layar televisi yang barusan ia nyalakan. Volume sengaja ia kecilkan sebab alasannya melihat televisi adalah supaya ia tak harus menatap mata ibunya Taehyung akan membiarkan ibunya mengatakan apapun yang diinginkan, baru dirinya akan mengutarakan yang ia rasakan.
"Usiamu masih muda, kau tak perlu tergesa-gesa memutuskan." sang ibu melanjutkan. Ia menatap lekat putranya meski yang ditatap memilih untuk menghindar. "Pikirkan baik-baik, Jungkook bukan orang yang tepat untukmu. Kau bisa mendapatkan wanita atau pemuda yang lebih baik di luar sana. Eomma hanya tidak ingin kau menyesal karena menikah bukan sebuah permainan, dan eomma ingin kau melakukannya sekali seumur hidup."
Sungguh. Kim Taeyeon hanya ingin yang terbaik untuk Taehyung. Jika memang Kim Taehyung ingin menikah dengan seseorang dan membangun sebuah keluarga, ia ingin putranya mendapatkan pasangan dengan latar belakang yang baik, bukan malah seorang pemuda yang menjual dirinya demi uang.
Pria Kim menghela nafas. Ia masih tidak sanggup menatap mata ibunya karena ia paham betul bahwa wanita yang telah melahirkannya itu terluka setiap kali dirinya membangkang. Bibirnya bergerak pelan, ia berucap lirih. "Aku juga menginginkan yang sama, eomma. Aku ingin menikah sekali seumur hidup, dan Jeon Jungkook adalah pilihanku."
"Kau hanya tergesa-gesa karena Jungkook mengatakan bahwa bocah itu adalah anakmu."
"Eomma." Kim Taehyung menyambar cepat. Ia menolehkan kepalanya, kini memberanikan diri untuk menatap mata sendu sang ibu. "Taekwon putraku. Aku tahu bocah itu benar-benar putraku. Sejak sebelum aku mengetahui bahwa ia adalah darah dagingku, aku sudah menyayanginya."
Kim Taeyeon melihatnya, bibir Taehyung yang tersenyum lembut saat membicarakan balita yang diklaim sebagai darah dagingnya.
"Kwonnie sangat menggemaskan. Ia bocah yang banyak bertanya dan memperhatikan sekitar. Eomma tidak akan menduga hal yang ditanyakannya." Lagi, pria Kim tersenyum. Ia bahkan sampai terkekeh saat mengingat balita pintarnya yang menanyakan masalah bayi-bayian. "Aku sudah melewatkan banyak hal, dan aku tidak ingin membiarkan lebih banyak momen tumbuh kembangnya terlewat dari pengawasanku."
"Kita bisa merawat Taekwon. Eomma tidak akan melarang jika kau ingin mengambilnya."
Kim Taehyung paham sekarang.
Ibunya ingin supaya dirinya meninggalkan Jungkook dan hanya mengambil Taekwon.
"Eomma…" rengeknya lirih. Ia masih menatap lekat sepasang netra indah ibunya. "Aku ingin bersama Jungkook bukan hanya karena ada Kwonnie, tapi karena aku mencintainya."
"Itu bukan cinta, Tae… bisa saja kau hanya merasa iba."
"Akulah yang harus dikasihani, eomma. Dulu aku tidak menyadari bahwa diriku mencintai Jungkook. Dan sekarang, saat aku sudah menyadarinya, aku tidak akan melepaskannya begitu saja."
Ada tekad yang kuat di sorot mata putranya, Taeyeon bisa merasakannya.
Ia terdiam selama beberapa saat, memejamkan mata.
Kim Taehyung memang keras kepala.
Sama seperti dirinya.
Sama seperti suaminya.
"Besok malam." gumam wanita cantik bertubuh mungil pada akhirnya. Ia merasa percuma membicarakan hal yang sama dengan sang putra. Membuka matanya, ia lalu beranjak dari sofa. "Bawa jalangmu dan anaknya untuk makan malam di rumah."
Hati Kim Taehyung terasa begitu nyeri kala mendengar ucapan itu dari bibir ibu kandungnya. Dan ia hanya bisa menggigit bibir bagian dalamnya, lalu berpura-pura tersenyum.
Pria bersurai jelaga ikut beranjak dari duduknya. Ia langsung mengikuti sang ibu yang terlihat berjalan menuju pintu ruangannya untuk keluar.
"Aku akan mengantar eomma."
Taeyeon menghentikan langkahnya. Tanpa menoleh ia berucap, "Lebih baik kau gunakan waktumu untuk mengajarkan mereka supaya tidak melakukan tindakan yang memalukan."
Sungguh, kalau saja wanita di hadapannya ini bukan ibunya, Kim Taehyung pasti sudah membentak, bahkan menamparnya.
Dan ia lebih memilih untuk diam, membiarkan nyonya Kim yang terhormat meninggalkan ruangannya.
Meninggalkan dirinya yang merasakan sesak yang begitu nyata saat pemuda yang dicintainya, juga putra kesayangannya, dipandang seperti itu oleh ibunya sendiri.
Tidak.
Kim Taehyung tidak akan mengeluh. Ia tidak akan menceritakan ini kepada siapapun, terutama Jeon Jungkook.
Momma tidak boleh terluka lebih dari yang sebelumnya. Poppa tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya. Poppa juga tidak akan membiarkan malaikat kecilnya merasakan sakit yang tak seharusnya ia mengerti di usianya yang masih balita.
.
.
TBC
.
.
Adik bayi…. eheheh…
.
.
Akhir kata,
Review please
