Caca : Soal Sherina sama Riddle itu saya punya rencana yang mengejutkan dunia #ApaanLebayDeh hehehe.. ada dramione? Baca chapter ini dulu yuukk. *evilsmirk* thanks sudah review :')
Vovg : hoho, iya bener sih. Kurang ngeehh aja Snape ama Rovine nya. Akan aku buat se-mak-jleb-mungkin deh… hahaha.. thanks sudah review :')
.
.
Disclaimer : Tokoh Harry Potter punya JK Rowling.
A/N : maaf karena laamaaaa update nya, soalnya kegiatan sekolah lagi banyak banget ini. Aku bela-belain pulang cepet buat selesain chapter ini. So, Hope you'll be happy with this.
-Fred & George : kok kita keluarnya dikit sih?
-Author : sabar napa.
-Ron : aku sama Mione juga keluarnya dikit banget.
-Author : Jangan bawel, aku Avada Kedavra kalian baru tau rasa loh.
.
.
.
Pagi yang cerah menyelimuti Hogwarts dan sekitarnya. Pagi ini Sherina dan teman-temannya sedang sarapan pagi di Great Hall bersama-sama. Seperti biasa, ia duduk disebelah Rovine Blade. Mereka saling mengobrol selama beberapa saat.
"Apa kabar, Sherina?" Tanya wanita berusia 35 tahunan itu.
"Kabarku baik, Miss. Bagaimana dengan Anda?" tanyanya balik.
"Yah, aku baik. Apa rencanamu hari ini?" Tanya Rovine.
"Er, entahlah. Aku punya jadwal agak padat hari ini. Pagi sampai sore aku harus membantu Popy untuk meramu Dreamless Potion. Dan Sorenya aku harus membantunya menghitung persediaan ramuan. Aku tak punya kesempatan untuk pergi ke kementrian hari ini." Jelasnya parau.
"Ke kementrian? Mau ngapain?" Tanya Blade.
"Er, aku ingin bertemu dengan orang yang bernama Willem Harcrom. Aku punya firasat jika ia tahu sesuatu tentang orang tua kandungku." Ucapnya.
'tepat sasaran. Sudah kuduga dia pasti akan menemui Willem. Aku tak boleh membiarkan ini. Ini demi kebaikan dan keselamatanmu, nak.' Batinnya.
"Lalu, kapan kau berencana menemui Willem lagi?" tanyanya.
"Secepat mungkin. Jika aku bisa mala mini akan ku temui dia." Ucap Sherina.
"Kementrian tidak melayani orang diluar jam kerja, nak." Ucap Rovine.
"Oh, baiklah. Kalau begitu, terpaksa aku harus menemuinya dua atau tiga hari lagi." Timpalnya sedih.
"Semoga berhasil ya." Ucap Blade.
"Tentu, terima kasih." Ucap
Rovine membalasnya hanya dengan senyum.
Selesai sarapan di Great Hall, Sherina pun segera bergegas menuju Hospital Wings. Ia tak mau terlambat untuk tugas-tugasnya kali ini. Tapi ia kebetulan bertemu dengan Draco dijalan.
"Hai Draco." Ucapnya.
"Hai, apa kabarmu?" tanyanya.
"Baik, kau sendiri?" Tanya Draco balik.
"Baik. Dimana Harry?"
"Eh, dia ada di kamar. Oh iya, kau jadi ke Willem hari ini?" Tanya Draco.
"Kurasa tidak Draco. Aku sedang terlalu banyak pekerjaan. Mungkin aku akan kesana dua atau tiga hari lagi." Balasnya parau.
"Oh, tak apa. Kami akan menemani mu." Balas Draco.
"Terima kasih, aku akan ke Hospital Wings sekarang. See you later." Ucap Sherina yang sudah melesat menuju Hospital Wings.
"Bye." Teriak Draco.
Saat Sherina sampai di Hospital Wings, ia disambut oleh Poppy dengan ramah.
"Pagi, Sherina." Ucap Poppy.
"Pagi, Poppy." Balasnya sambil melemparkan senyum ramah.
"Sudah siap untuk hari ini?" Tanya Poppy.
"Tentu saja." Balasnya semangat.
"Senang melihatmu semangat. Sebenarnya, ini adalah tugas Severus. Tapi, karena ia sedang mempersiapkan OWL untuk para siswa, jadi kita yang akan meramunya." Jelas Poppy.
"Oh, baiklah. Dengan senang hati aku akan meramu." Ucap Sherina semangat.
Mereka pun mulai meramu.
-Sementara itu-
Tok..tok..tokk..
Beberapa kali ketukan terdengar dari balik pintu ruangan Severus. Ia sedang mengoreksi perkamen-perkamen dari asrama Gryffindor yang menurutnya hanya anak-anak otak udang.
"Severus, ini aku." Ucap Rovine.
"Tunggu." Ucap suara dari seberang.
Severus membuka pintu besar itu dengan sekali lambaian tongkat sihirnya. Pintu itu terbuka seketika.
"Huh, selalu saja membuka pintu dengan sihir." Gumam Rovine.
"Aku sudah PeWe disini." Balasnya.
"Dapat dari mana kau bahasa itu?" Tanya Sherina.
"Healer itu mengajarkan aku beberapa kata baru." Godanya.
"Oh, baiklah. Aku ingin berbicara denganmu, penting sekali." Ucap Rovine.
"Silakan." Balasnya dingin dan kembali ke ekspresi nya seperti biasa.
"Dia, Sherina, akan menemui Willem dalam waktu beberapa hari ini." Ucapnya.
"Lalu?" sahutnya dingin.
"Willem tau siapa orang tua Sherina. Jika ia menemui Willem, ia akan mengetahui semua ini. Dan dia akan dalam bahaya." Ucapnya getir.
"Aku akan mencoba berbicara kepada Albus besok. Kau mau ikut?" Tanya Severus dengan nada datar tetapi terdapat sedikit rasa gugup disana.
"Kenapa tidak hari ini saja?" Tanya Rovine.
"Aku tak bisa meninggalkan perkamen-perkamen ini. Aku harus menyalin nilai-nilai mereka dan harus aku arsipkan hari ini." Jelas Severus.
"Baiklah. Aku akan mencoba untuk memikirkan jalannya." Balas Rovine.
"Aku juga." Balas Severus.
"Apapun pilihanmu, bawa aku kedalamnya." Ucap Rovine dan menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan Severus.
Severus tersenyum dan memeluk Rovine dilengannya.
Sore pun tiba.
Rovine bergegas menuju Hogsmeade untuk menemui Tristan. Ia penasaran siapa yang dimaksud dengan 'seseorang' di suratnya kemarin. Ia berjalan menyusuri jalanan yang becek karena hujan tadi siang. Akhirnya tiba di tempat biasa dimana ia dan Tristan biasa berkumpul dulu. Ia duduk di meja dekat jendela paling pojok. Memesan minuman berupa teh hangat untuk dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, Tristan datang dengan seseorang lebih tepanya anak laki-laki berusia 4 tahun. Ia dan anak kecil itu datang menghampiri Rovine dan duduk disana.
"Hi, Rovine." Teriak pria berambut blonde itu.
"Hi Tristan!" balas Rovine.
"Sudah lama menungguku?" Tanyanya.
"Tidak, aku baru beberapa menit disini. Ngomong-ngomong, pastilah pria kecil ini yang kau ceritakan kemarin di surat." Ucap Rovine.
"Yeah tentu saja. Dia anakku." Ucap Tristan bangga.
"Wow! Aku baru tau kau sudah punya anak." Ucapnya sambil mengelus kepala anak Tristan.
"Yeah, kita kan hampir 5 tahun tidak saling mengontak. Dan juga aku ingin menyusulmu. Hahaha." Godanya.
"Grr, siapa namamu tampan? Dan berapa umurmu?" Tanya Rovine ramah kepada anak berambut blonde seperti ayahnya itu.
"Prince Gogh, ma'am. Umurku 5 tahun." Jawab anak itu dengan tegas. 'Prince? Oh ya, seperti nama ibu Severus.' Pikirnya.
"Aha, nama yang cocok untuk anak setampan kau." Balas Rovine sambil mengusap kepala anak itu. Anak itu hanya cekikikan.
"Kau mau pesan sesuatu?" tawar Tristan.
"Tidak, terima kasih. Mungkin pangeran kecilmu mau." Ucapnya.
"Kau mau pesan apa, Prince?" Tanya Tristan.
"Es klim." Ucapnya.
"Baiklah, tapi tidak boleh banyak-banyak ya, agar tidak batuk, oke?" Tanya Tristan.
"Oke pa!" ucap Prince.
"Jadi, apa yang ingin kita bicarakan disini?" Tanya Tristan langsung.
Rovine menghela nafas panjang. "Dia, Sherina, sekarang ia menjadi seorang Co-Healer di Hogwarts." Ucapnya.
"Apa? setelah sekian lama ia akhirnya mencari mu sampai disini? Ya Tuhan!" ucapnya berlebihan.
"Kau tetap berlebihan seperti dulu, Tristan!" goda Rovine.
"Yah, maaf. Agak sulit merubah sifat lama." Ucap Tristan menyengir.
"Hmm, aku sendiri tidak menyangka jika ia akan bertindak sejauh ini." Ucap Rovine.
"Lalu, apakah Profesor Snape tau mengenai ini?" jawab Tristan hati-hati.
"Ya, dia tau. Aku dan dia bersama sekarang." Ucap Rovine agak berbisik.
"Apa? Kau-?" ucap Tristan mulai lagi.
"Huh, kau mulai lagi. Aku bersama Severus sejak beberapa hari yang lalu. Ia sangat terpukul dengan ini semua." Ucap Rovine lirih.
"Yah, bagaimana wajahnya?" Tanya Tristan lagi.
"Ia sangat cantik. Ia memiliki mata hitam dan perawakan seperti Severus. Tinggi dan tegap." Ucap Rovine.
"Wah, aku jadi penasaran dengan dia." Ucap Tristan.
"Aku kepikiran beberapa hal beberapa hari ini." Ucap Rovine.
"Apa itu?" Tanya Tristan.
"Pertama, ia menjadi anggota orde seperti aku. Dan dia, dia menyelamatkan nyawa Severus saat itu. Aku khawatir dengan dia. Aku khawatir dia akan diapa-apakan oleh Dark Queen." Ucap Rovine lirih.
"Oh, percayalah. Dia tidak akan kenapa-kenapa. Ia pasti seorang penyihir yang hebat seperti ayah dan ibunya. Percayalah denganku." Ucap Tristan sambil menenangkan Rovine.
"Iya, aku mengerti. Hanya saja aku khawatir dengannya. Aku juga khawatir dengan Severus. Penyamarannya sudah terbongkar." Balas Rovine lirih.
"Maksudmu?" Tanya Tristan penasaran.
Rovine menghela nafas panjang agak lama. "Saat itu, orde menyerang markas Dark Queen. Draco, Ron dan Hermione di Sandra oleh para Death Eaters. Sherina berhasil lolos dari kepungan Death Eaters, lalu, Severus awalnya akan menyerang Antonin, tetapi meleset terkena kaki Sherina. Sherina berpikir jika Severus akan membunuhnya. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia malah member kutukan Stupefy kepada dua death eaters dan membantu Sherina lolos dan menyelamatkan diri." Ia terhenti dan menghela nafas lagi.
Tristan dengan sabar menunggu.
"Tak hanya itu, saat berada dalam Sel Draco, Ron dan Hermione. Ia dikepung oleh Lucius dan Barty. Tetapi lagi-lagi Severus menyelamatkannya." Ucap Rovine.
"Apa ini ada hubungannya dengan Draco bukan anak kandung Lucius?" tanyanya.
"Tentu saja. Itulah alasan kenapa Draco menjadi Sandra. Itu untuk memancing Potter dan Orde untuk menyerang." Balas Rovine.
"Lalu, kau bilang Sherina menyelamatkan Profesor Snape. Itu bagaimana ceritanya?" Tanya Tristan semangat.
"Oh maaf aku lupa. Jadi begini, saat para Sandra berhasil dilepaskan. Sherina dan Severus berlari menuju pos orde terdekat. Saat menuju kesana, ia dan Rovine dikepung oleh segerombolan Death Eater, dan disana ada Bell—maksudku Dark Queen. Ia memberi kutukan Cruciatus tertinggi untuk Severus. Lalu Severus tergeletak tak sadarkan diri. Tapi, Sherina melawan Dark Queen sebisanya. Saat ia sudah terpojok, ia mengeluarkan sebuah mantra seperti Patronus. Hanya saja ini berwujud nyata singa putih dan membawa Severus ke penginapannya. Ia berusaha mengobati luka Severus menggunakan bahan yang tak biasa. Aku tak mengenalinya. Tetapi ia kualahan dan akhirnya menghubungi Profesor Dumbledore dan ia datang bersama Tom membawa Severus ke Hogwarts." Jelansnya.
"Wow, dia sangat heroik. Kau tau itu! Baru saja terlintas dikepalaku jika, Severus sudah merasakan sebuah hubungan yang erat dengan Sherina sehingga ia mau mengorbankan nyawanya untuk orang yang baru ia kenal."
"Aku juga berpikir demikian. Dan satu lagi, bagaimana jika ia akan mendatangi Willem?" Tanya Sherina gelisah.
"Willem ya.. eh, mungkin Willem akan mengatakan jika aku adalah orang tua kandungnya. Bukankah saat itu kau hanya memberikan identitasku sebagai ayahnya? Dan Willem menyetujui untuk tidak mencantumkan namamu disana?" ucapnya.
"Maaf sudah merepotkanmu sejauh ini, Tristan. Cepat atau lambat, ia akan menemui mu dan menganggapmu sebagai ayahnya." Balasnya.
"Yah, kau benar. Kau tidak merepotkanku. Bukankah aku yang meminta untuk member identitasku saja? Apapun yang terjadi akan kita hadapi." Ucap Tristan.
"Baik, terima kasih Tristan."
"Sma-sama. Sebelumnya, tolong beritahu Profesor Dumbledore dan Profesor Snape mengenai ini semua. Secepatnya. Aku dan istriku akan menyususun rencana untuk ini." Ucap Tristan.
"Tidak, jangan libatkan orang lain lagi. Aku punya ide, bagaimana jika kita membujuk Willem agar tdak memberitahu yang sebenarnya?" balas Rovine.
"Ide bagus. Aku akan siap dengan apapun resikonya." Sahut Tristan.
"Kau yakin?" Tanya Rovine.
"Tentu saja. Kapan kita akan ke Willem?" Tanya Tristan.
"Besok pagi bisa? Aku akan menunggumu di Port key nomer 7."balas Rovine.
"Baik." Ucap Tristan.
Mereka hening beberapa saat, hanya terdengar suara celotengan Prince yang sedang menyendok es krimnya.
"Oh iya, siapa istrimu?" Tanya Rovine.
"Penny Carlton. Kau tau dia kan?" Tanya Tristan sambil menyeringai.
"Tentu. Si Ravenclaw yang kutu buku itu kan?" Tanya Rovine.
"Ya, tepat sekali."
"Kau tak salah pilih. Dia tak hanya cantik, tapi juga pintar dan baik." Ucap Rovine.
"Haha, tentu saja." Ucap Tristan bangga.
"Oh, kurasa aku harus kembali ke kastil. Kau mau ikut?" tawar Rovine.
"Tidak, aku juga akan ke rumah Bill Weasley untuk suatu urusan." Balas Tristan.
"Baiklah, aku duluan ya?" ucap Rovine.
"Siip" balasnya.
"Oh iya, salam untuk Penny ya..?" tawar Rovine.
"Oke."
Rovine pun menghilang bersamaan dengan api hijau besar di perapian.
-Sementara itu-
Hermione tertidur di sofa, ia bermimpi jika Lucius akan kembali mencelakai dirinya lagi.
Draco berada di Malfoy Manor, tetapi, saat itu ia berada di tempat yang tak seharusnya ia berada. Ia berada di penjara bawah tanah dirumahnya sendiri.
Ia tidak sendiri, ia bersama Granger tau segala itu. Hanya mereka berdua.
"Ayo kau darah Lumpur, keluarlah. Kau akan di korbankan untuk Dark Queen." Ucap Lucius yang sedang menarik tangan Mione.
"O..o..o.. tidak secepat itu Lucy. Langkahi dulu mayatku sebelum kau ingin mengambil dia." Tantang Draco kepada ayahnya.
"Berani sekali kau menantang ayahmu sendiri." Ucap Lucius keji.
"Bukankah kau sudah tak menginginkanku lagi? Ayo kita bertarung selayaknya pria, tanpa sihir." Tantang Draco lagi.
"Baik jika itu mau mu!" ucap Lucius mengepalkan tangannya.
Mereka berdua saling memasang kuda-kuda dan siap menyerang. Lucius Nampak ingin sekali memukul leher Draco, tetapi tak mungkin Karena Draco membuat pasang untuk menutupi dada dan leher.
Mereka masih belum saling menyerang, tetapi pada akhrnya Lucius menyerang terlebihh dulu. Ia mengepalkan tangannya dan berusaha menonjok muka Draco. Tetapi dengan mudahnya ditangkis oleh draco menggunakan pergelangan tangannya. Tangan kanan Lucius berada tepat didepan mata Draco. Dan tangan kirinya ia gunakan untuk memukul perut Draco, dan lagi lagi berhasil ditangkap.
Kedua tangan Draco memegangi kedua tangan Lucius, ini adalah kesempatan untuk Draco untuk menyerangnya.
Bukkk….
Kaki kanannya berhasil menendang perut Lucius dan membuatnya terlempar kebelakang.
Lucius belum terjatuh, ia masih mencoba menyerang Draco bertubi-tubi. Draco terlihat kualahan, tetapi ia berhasil membuat Lucius terlempar dan terjatuh dengan sabetan kaki kirinya yang mengenai lutut Lucius.
Tangannya menggenggam kerah Lucius dan tangan satunya menggenggam siap untuk memukul.
"Ampun tolong.. jangan sakiti aku." Ucap Lucius.
"Tidak, aku hanya ingin tongkat kami kembali." Ucap Draco sarkas.
"Ini, ini dia." Ucap Lucius ketakutan.
Draco mengambil dua batang tongkat yang diserahkan Lucius kepadanya. Draco mem-pingsankan ayahnya agar ia bisa melarikan diri.
Draco menghampiri Mione yang sedang ketakutan. "Ini punya mu." Ucap Draco.
"Sekarang, ayo kita pergi dari sini." Ucap Draco memandang Hermione.
"Kau menyelamatkan aku." Ucap Mione gemetar.
Draco hanya tersenyum. "Ayo pegang tanganku. Kita akan keluar dari sini secepatnya." Ucap Draco.
Tanpa banyak cincong lagi, Mione memegang tangan Draco dan ber dis apparate di Godric Hollow.
"Kau aman disini." Ucap Draco dan berbalik akan meninggalkan Mione.
"Draco, tunggu…" ucap Mione.
"Ya.. Ada App…" ucapan Draco terhenti karena Mione sudah membungkamnya dengan bibirnya.
Draco sedikit canggung dengan itu, tapi akhirnya ia menikmatinya.
"terima kasih, Draco." Ucap Mione.
Draco hanya tersenyum dan mengangguk kecil. Lalu meninggalkan Mione disana.
"MERLIN! MIMPI GILA APA BARUSAN!" ucap Mione yang barusaja terbangun dari tidurnya.
.
.
.
TBC
.
.
.
A/N : Hmm, maaf kalau ada kesalahan.
Kalau ada pertanyaan mengenai Fic ini silakan PM saya. Insya allah akan saya balas.
So, Review?
