Author : Nakajima Hikari

Genre : Romance, Comedy, Mystery

Cast : Yamada Ryosuke, Arioka Daiki, Inoo Kei, Nakajima Yuto, Chinen Yuri, Yabu Kota, Marika (Yama-chan's nee-chan)

[Yamada's POV]

Akira… mengapa kejadian ini harus terjadi padamu? Maafkan aku, aku yang seharusnya bertanggung jawab atas kematianmu. Sungguh aku tak rela, mengapa kau harus pergi dari sisiku? Akira…

Jam alarmku berbunyi tiba-tiba yang akhirnya membuatku bangun dari tidurku. Tadi itu… mimpi apa? Mengapa semuanya gelap? Hanya ada aku yang sedang jongkok sambil menangis. Haah… aneh.

"Ohayou Yama-chan. Kau sudah bangun?" kulihat kak Inoo membuka pintu kamarku.

"Sudah. Doushita no, nii-chan?"

"Ano… mengenai kemarin. Sebaiknya kita berbicara lagi." Kemarin? Kemarin yang mana?

"Sebaiknya kita jangan berbicara di sini. Lebih baik kita pergi ke taman atau ke—"

"Kak Daiki? Bagaimana keadaannya? Aku ingin menengoknya."

"Dia baik-baik saja. Dia sudah siuman kemarin saat kau pulang."

"Aku ingin ke sana."

"Eh? Chotto… tapi—" tanpa mempedulikan kak Inoo aku pun bersiap-siap. Yokatta, kak Daiki sudah sadar. Semoga dia baik-baik saja. Aku cukup merasa bersalah. Lagi-lagi aku membuat korban, kemarin terjadi pada Akira, sekarang kak Daiki harus jadi korbannya. Cukup! Aku tak tahan dengan ini! Aku muak!

Tak lama kemudian aku dan kak Inoo berangkat menuju rumah sakit tempat di mana kak Daiki dirawat. Saat aku sampai di depan kamar kak Daiki aku pun mengetuk pintu. Kudengar suara kak Daiki dari dalam. Aku pun beranjak membuka pintu.

"Yama-chan…" kulihat kak Daiki sedang duduk di atas tempat tidurnya dan…

"Ohayou Yama-chan." Sapa nee-chan yang tiba-tiba datang dari belakangku. Aku pun tak menghiraukan nee-chan, aku pun langsung beranjak menuju samping kak Daiki.

"Nii-chan, daijoubu desuka?" tanyaku khawatir.

"Nah… daijoubu desu. Syukurlah kau baik-baik saja." Aku jadi ingin menangis ketika mendengar kata-kata tersebut keluar dari mulut kak Daiki. Semua karena aku, aku yang menyebabkan kak Daiki seperti ini. Aku yang bersalah.

"Gomenasai…"

"Huh? Nande?"

"Hontou ni gomenasai. Ini semua salahku." Sejenak ruangan terasa amat sunyi. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku, aku tak tega melihat wajah kak Daiki. Aku ingin menangis…

"Apa yang kau katakan barusan? Aku tak menger—"

"Maafkan aku! Ini semua salahku! Ini semua… ini semua…" aku tak mampu melanjutkan kalimatku. Air mataku sudah tak terbendung lagi. Aku menangis terisak-isak di depan kak Daiki. Maafkan aku nii-chan

"Yama-chan… jangan bersedih." Aku masih terus-menerus menangis, aku benar-benar masih tak menyangka kejadian ini akan menimpa kak Daiki. Kalau saja kejadian itu tak terjadi.

"Yama-chan." Tangan nee-chan tiba-tiba menyentuh pundakku. Aku pun langsung menghindar dan mendekat ke kak Daiki.

"Urusee!" aku masih terus menangis sambil mengusap-usap air mataku dengan tanganku. Tiba-tiba nee-chan menarik tanganku dan…

"Yama-chan, nee-chan ingin berbicara denganmu!" nee-chan pun menarikku dengan paksa keluar dan menuju taman rumah sakit. Baru kali ini nee-chan memaksaku lagi seperti ini setelah sekian lamanya.

"Apa yang mau kau katakan?" kataku sambil melepaskan tanganku dari nee-chan.

Plakk… tangan nee-chan pun tiba-tiba mendarat di pipiku.

"Ada apa denganmu? Daichan baru saja sadar dan tiba-tiba kau marah-marah."

"Ya! Ini semua salahku, kalau bukan karena aku tak mungkin kak Daiki akan seperti itu!"

"Yama-chan kau bodoh! Mana mungkin ini semua salahmu? Saat itu kau sedang tidur jadi kau tak tahu apa-apa."

"Aku tau segalanya! Aku melihat semua kejadia—"

"Cukup! Sekarang dengarkanlah nee-chan." Nee-chan menutup paksa mulutku agar aku tetap diam dan aku pun menahan amarahku.

"Sebaiknya kita duduk di bangku taman di sana." Nee-chan pun meraih tanganku dan dengan terpaksa aku pun mengikutinya.

[Yuto's POV]

"Kau ini. Benar-benar merepotkan." Jawabku.

"Ayolah, Yuto. Aku benar-benar bosan. Ayo kita pergi ke taman bermain. Aku ingin bermain di sana." Suara Chinen yang kini sedang menelponku. Seperti biasa.

"Hah, baiklah. Tapi kau yang menraktirku ya?" jawabku sambil tertawa ringan.

"Baiklah, kali ini kutraktir kau. Besok-besok kau harus menraktirku ok?"

"Ya ya ya. Baiklah."

"Yaay! Arigatou, Yuto! Kutunggu kau di gerbang taman bermain jam 10 nanti ok?"

"Ya ya. Awas saja kalau kau telat."

"Haha, tak akan." Aku pun menutup telpon. Seperti biasa Chinen selalu menelponku pagi-pagi buta, kali ini dia mengajakku untuk pergi ke taman bermain. Haah, ada-ada saja si Chinen ini. Aku merasa kalau sekarang aku berperan sebagai kakaknya dan Chinen adalah adiknya. Yah, semacam bermain menjadi 'keluarga'.

Jarum jam di jam tanganku pun menunjukkan pukul 10 lebih 5 menit dan akhirnya Chinen pun sampai di taman bermain.

"Kau bilang aku tak boleh telat, sekarang liat dirimu. Kau sendiri yang telat." Ucapku sedikit kesal.

"Gomenne… aku ada urusan sedikit tadi." Ucapnya dengan gaya seperti anjing kecil yang meminta susu. Dasar Chinen, terkadang aku memikirkan Chinen itu lucu, tapi juga harus hati-hati kalau dia sudah marah dia bisa mengeluarkan taringnya. Hiii…

"Sudahlah. Sekarang kita mau kemana?"

"Hmm… kita ke sana kita ke sana!" jawabnya sambil menunjuk roller coaster yang ada di belakang sana.

"Kau yakin?" tanyaku heran.

"Ada apa? Memangnya tak boleh? Ayo kita ke sana!" tanpa menungguku menjawab dia langsung menarik tanganku dan berlari menuju roller coaster. Aku hanya bisa menggeleng-geleng. Biarlah, untung hari ini dia janji menraktirku, jadi aku tak usah khawatir untuk segala macamnya. Ya asal kalian tau, Chinen adalah orang yang yah bisa dikatakan kaya.

[Marika's POV]

Aku pun menarik tangan Yama-chan dan memilih untuk duduk di bangku taman di dekat kolam. Sesaat suasana sangat hening. Kuakui, mungkin Yama-chan masih belum bisa menerima kenyataannya. Haah, aku harus berbuat apa sekarang? Sebaiknya aku menanyakan yang ada dipikiranku dulu.

"Yama-chan, ada apa denganmu akhir-akhir ini?" Yama-chan hanya terdiam dan menunduk.

"Yama-chan?" ucapku pelan. Yama-chan masih juga terdiam.

"Haah, kau sendiri diam. Bagaimana aku bisa mengerti masalahnya di sini? Aku bingung harus bagaimana. Yama-chan, jangan buatku pusing seperti ini. Apa kau tak mau membantu kakakmu? Daichan masih terbaring di sana, kau tak mau membantunya?" aku jadi ingin menangis. Aku tak mengerti, ada apa dengan adik-adikku selama aku tak berada di rumah? Apa, aku lah yang menyebabkan mereka seperti ini? Aku pusing…

"Nee-chan…" aku pun tersentak, tiba-tiba Yama-chan akhirnya mengeluarkan suaranya. Yokatta…

"Ya? Ada apa? Nee-chan akan mendengarkanmu. Bicaralah." Jawabku pelan.

"Ano…" kulihat Yama-chan melirik ke kiri dan ke kanan. Aku pun semakin penasaran.

"Doushita no? Apa ada sesuatu?" tanyaku heran.

"Iie. Nandemonai."

"Ahh, wakatta. Jaa, kau ingin bicara apa?" tanyaku sekali lagi. Kucoba untuk bersabar agar Yama-chan bisa menjelaskan semuanya. Ya, mungkin aku bisa tau penyebab Yama-chan akhir-akhir ini berubah.

"Aku… tidak. Aku ingin tanya pada nee-chan. Nee-chan akan menjawabnya bukan? Tapi aku mohon jangan kasih tau ini ke siapa-siapa." Aku pun mengangguk setuju dan bersiap mendengarkan Yama-chan. Kulihat dia melirik ke kanan dan ke kiri sekali lagi dan menarik nafas panjang-panjang dan menghembuskannya. Aku semakin tak sabar.

"Ano… sejak kapan nee-chan kenal dengan Yabu-san?" tanya Yamada pelan.

"Hee? Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba—"

"Iie. Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tau. Sudah berapa lama nee-chan menikah dengannya?" aku semakin bingung, tapi biarlah.

"Hmmm, yah sekitar setahun yang lalu. Tapi kami sudah saling mengenal sekitar 2 tahun yang lalu."

"2 tahun yang lalu?"

"Ya." Jawabku tegas. Kulihat raut muka Yama-chan mulai berubah. Aku semakin bingung dengannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan adik-adikku selama aku tak ada di rumah?

"Doushita no?" tanyaku pelan. Yama-chan hanya terdiam. Dia tampak sedang memikirkan sesuatu. Aku semakin penasaran.

"Yama-chan?" kali ini Yama-chan tersentak lalu melirik ke kanan dan ke kiri.

"Nee-chan… apa ada yang ingin nee-chan tanyakan?" aku pun langsung tersentak.

"Ya. Ada apa kau dari tadi? Kenapa kau melirik ke kanan dan ke kiri?" jawabku heran. Kulihat Yama-chan mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.

"Baiklah, tapi nee-chan janji tak akan menceritakannya ke siapa-siapa?"

"Ya, I promise." Jawabku semakin penasaran.

"Jadi beginilah…" ceritapun dimulai. Yama-chan akhirnya menjawab pertanyaanku yang selama ini membuatku pusing…

to be continued...