Title: Dating With The Dark

Cast:

-Kim Ryeowook

-Kim Yesung

-Lee Donghae

-Choi Kyuhyun

-Lee Eunhyuk

-Yoona and other

Genre: Romance, little bit Crime

Disclaimer: Ini ff remake karya Santhy Agatha. Saya hanya memberikan beberapa perubahan seperlunya.

Summary: Ryeowook merupakan target pembunuhan oleh "Sang Pembunuh". Tapi bagaimana jika "Sang Pembunuh" itu adalah orang terpenting dalam hidup Ryeowook di masa lalu?

Warning: Genderswitch, Typho(s) bertebaran. Don't Like Don't Read, ok?

.

.

"Kenapa kau menggangguku, Yoona?" Yesung menatap marah ke arah Yoona yang sekarang berdiri di depannya, masih berpenampilan seksi, kali ini berpakaian serba hitam, rok mini hitam yang pendek dan atasan ketat senada. Perempuan ini bebas keluar masuk rumah Yesung karena seluruh penjaga mengira dia adalah orang kepercayaan Yesung. Tetapi mulai saat ini Yesung memutuskan bahwa hanya boleh masuk tanpa seizinnya, perempuan ini telah berani melanggar teritorial pribadinya dan mengganggunya.

Yoona sendiri menatap Yesung dengan tatapan mata merayu, dia tidak peduli dengan kegusaran di mata Yesung. Ketika dia datang tadi, salah seorang pengawal mengatakan bahwa Yesung sedang berada di kamar tempat dia menyekap Ryeowook. Perasaan cemburu langsung membakarnya, membuat kepalanya panas dan hampir gila ketika membayangkan apa yang dilakukan Yesung berduaan saja dengan Ryeowook di kamar. Dia tidak boleh membiarkan mereka berdua berasyik masyuk di dalam kamar! Dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Yesung adalah miliknya dan Ryeowook harus menyingkir jauh-jauh. Dan kalau rencananya berhasil, sebentar lagi Ryeowook akan terpisah jauh dari Yesung.

"Aku tidak ingin kau bersama perempuan itu di dalam." Yoona memajukan dagunya berani, "Kenapa kau menyibukkan dirimu dengannya Yesung, dia perempuan tidak tahu terima

kasih, seharusnya kau membunuhnya saja. Tidakkah kau lebih memilih bersamaku? Aku akan memberikan segalanya untukmu, Yesung."

Yesung langsung meradang melihat betapa tidak tahu dirinya Yoona. Dia menatap Yoona dengan pandangan jijik, memundurkan tubuhnya seolah perempuan itu adalah wabah, "Aku tidak pernah punya pikiran sedikitpun untuk membuang waktuku bersamamu, Yoona. Seharusnya kau sadar ketika aku mengungkapkan hal itu dengan halus, tetapi rupanya isyarat halus tidak berguna bagimu dan aku harus memperlakukanmu dengan lebih kasar, maafkan aku harus mengatakan ini, tetapi kau harus berhenti bersikap menjijikkan dan menggangguku."

Kata-kata kasar Yesung langsung membuat Yoona pucat pasi, dia membelalakkan mata, luka yang dalam tampak di sana, tetapi kemudian Yoona berhasil menguasai diri, dia malahan mendekati Yesung dan menyentuh lengan lelaki itu dengan menggoda, "Yesung, jangan menipu dirimu seperti ini, aku tahu beberapa kali kau melirik bagian tubuhku yang seksi ini, aku tahu kau seorang lelaki yang penuh gairah, dan mengingat sekian lama kau tidak melakukannya, kau butuh pelampiasan, dan aku ada disini, sangat bersedia menjadi pelampiasanmu."

Yesung menepiskan jemari Yoona dari lengannya, dan ketika perempuan itu terus mendekatkan tubuhnya, Yesung mencekal dagu Yoona dan merentangkan tangannya, mendorong perempuan itu menjauh serentangan tangan dengan jarinya masih mencengkeram dagu Yoona,

"Aku bukanlah hewan..." desis Yesung, "Yang melakukan seks hanya untuk melampiaskan

birahinya. Dan meskipun aku sedang bergairah..." tatapan Yesung menelusuri tubuh Yoona dengan melecehkan, "Kau sudah jelas bukanlah perempuan yang kubayangkan untuk memuaskannya."

Dengan kasar Yesung melepaskan dagu Yoona dan melangkah mundur, tatapannya penuh ancaman. "Menjauhlah Yoona, sebelum aku melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal karena menggangguku." Yesung tidak main-main dengan perkataannya, dia akan membunuh Yoona kalau itu diperlukan. Dan kemudian, setelah melemparkan pandangan jijik sekali lagi kepada Yoona, Yesung membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi.

xXxXx

Yoona mengelus dagunya yang memerah karena cengkeraman Yesung dengan marah, matanya membara karena sakit hati, dan benaknya dipenuhi kebencian kepada Ryeowook. Yesung telah menolaknya dengan kasar, tetapi Yoona tidak akan menyerah, dia yakin bahwa di dalam lubuk hatinya Yesung tertarik kepadanya, lelaki itu hanya sedang teralihkan perhatiannya karena kehadiran Ryeowook.

Ryeowook... Dengan penuh kebencian, Yoona menatap ke arah pintu besar yang terkunci, tempat Ryeowook terkurung di dalamnya. Ryeowook adalah pengganggu. Satu-satunya halangan bagi Yoona untuk memiliki Yesung. Dan Ryeowook harus dilenyapkan!

xXxXx

"Saya mulai kuatir dengan keberadaan nona Yoona yang terlalu dekat." Kangin melirik ke arah layar-layar monitor yang menampilkan gambar-gambar dari kamera pengawas di rumah besar ini. Di salah satu layar tampak gambar di mana Yoona masih berdiri dengan seluruh tubuh menegang di depan pintu kamar Yesung, menatap penuh kebencian ke arah sana.

Yesung juga menatap ke arah layar itu dan mengedikkan bahunya, "Aku sudah berusaha menyadarkannya bahwa obsesinya kepadaku adalah harapan yang sia-sia, tetapi rupanya dia terlalu bebal untuk menerima kenyataan."

Kangin menganggukkan kepalanya dan menatap tuannya cemas, "Dia bisa membahayakan seluruh rencana."

"Maka suruh orang untuk mengawasinya, jangan sampai dia berencana sesuatu yang tidak kita ketahui."

Kangin menatap setuju, "Saya akan mengawasinya, saya berfirasat bahwa dia mempunyai rencana tidak baik."

Kemudian, di tengah keheningan yang tercipta di antara Yesung dan Kangin, suara telepon di meja itu berbunyi. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui nomor telepon itu, dan hanya berita pentinglah yang boleh di sampaikan melalui telepon itu.

"Ya." Yesung menjawab telepon itu dengan singkat dan waspada.

"Tuan Yesung." Itu suara Eunhyuk, salah satu anak buah Yesung, ahli menyamar dan memang sudah disiapkan sejak dini untuk menyusup ke agen pemerintah. Tidak pernah ada yang bisa menduga, bahwa Eunhyuk adalah agen ganda, dan perempuan inilah yang menjadi kunci penting langkah Yesung sehingga bisa lebih maju daripada Donghae.

"Apakah saluran yang kau pakai aman?" Yesung masih waspada.

"Aman, Tuan." Suara Eunhyuk merendah, "Saya rasa tuan harus bergerak sekarang, Donghae malam ini mengadakan rapat koordinasi mendadak dengan semua agen, saya rasa dia telah mendapatkan petunjuk yang menghubungkan Mr. Kangta dengan Ryeowook, dia memerintahkan pengawasan atas semua properti yang disewa atas nama Mr. Kangta, yang saya tahu, tempat anda sekarang masuk di dalam list yang Donghae bicarakan."

Yesung mengernyitkan keningnya. Kenapa Donghae bisa menghubungkan semuanya secepat itu? Dia pikir lelaki itu akan membutuhkan waktu lama untuk menghubungkan benang merahnya. Entah ini semua karena Donghae tidak sebodoh yang Yesung pikirkan, atau karena ada pengkhianat di lingkup dalam Yesung... Mata Yesung menyipit, mungkin saja firasat Kangin benar, bahwa Yoona benar-benar telah melakukan sesuatu yang buruk. "Ok. Siap. Terima kasih Eunhyuk." Lalu dia menutup teleponnya dan menatap Kangin yang masih di sana, menatapnya ingin tahu.

"Keadaan darurat, jalankan rencana pembersihan." Gumam Yesung tenang, yang ditanggapi dengan anggukan kepala Kangin.

xXxXx

Di seberang sana, setelah menutup telepon, Eunhyuk menghela napas panjang dan menatap ke arah ke kantor tempat Donghae mengadakan rapat penting bersama semua agennya, dia tadi pamit dengan segera untuk meninggalkan meeting. Tidak ada satu m agenpun yang curiga karena dia pergi keluar mendadak di tengah meeting, malahan semua agen tampak mencemaskannya dan menyuruhnya pulang dengan segera. Eunhyuk memang telah menggunakan kepandaian beraktingnya untuk berpura-pura sakit dan izin meninggalkan meeting itu di tengah-tengah –di saat yang dia perkirakan sudah cukup untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Rupanya aktingnya berhasil, Eunhyuk tersenyum mengingat ekspresi cemas di wajah teman-teman agennya, dan terutama di wajah Donghae. Eunhyuk senang Donghae mencemaskannya.

Ketika Donghae memulai rapat rahasia itu dan membeberkan seluruh informasi yang didapatkannya, Eunhyuk benar-benar terkejut dan bertanya-tanya bagaimana bisa Donghae menemukan benang merah untuk mencari keberadaan Yesung. Dia sudah mengawasi Donghae dan memastikan semuanya, seharusnya tidak ada yang terlewat olehnya… Tetapi sekarang sudah terlanjur terjadi. Eunhyuk tahu dia harus memperingatkan Yesung, atasannya. Eunhyuk tentu saja sangat setia kepada atasannya itu, karena meskipun kejam, Yesung selalu berlaku baik kepada semua anak buahnya. Meskipun sekarang kesetiaan Eunhyuk sedikit ternoda oleh perasaan pribadinya yang bertumbuh begitu saja kepada Donghae. Tetapi tidak masalah, bukankah dengan melakukan ini dia bisa melakukan yang dikatakan pepatah, sambil berenang minum air?

Yesung bisa mendapatkan Ryeowook sesuai keinginannya, dan dengan begitu, akan memuluskan rencananya untuk… mendapatkan Donghae. Benaknya tiba-tiba saja membayangkan wajah Donghae dan kekecewaan yang akan terpatri di sana ketika dia datang dan menemukan bahwa dia sudah terlambat. Donghae pasti akan kecewa... tetapi mungkin hal itulah yang harus dialami oleh Donghae. Eunhyuk tidak mau Donghae menemukan Ryeowook, dia tidak mau Donghae berada di dekat Ryeowook lagi.

Selama ini perasaannya telah terpendam begitu lama, mencintai atasannya itu diam-diam, menahankan sakitnya ketika menyadari bahwa Donghae mulai melibatkan perasaannya dalam misinya menyangkut Ryeowook. Eunhyuk telah lama diam, tetapi sekarang dia tidak mau diam begitu saja. Ryeowook tidak boleh berada di dekat Donghae. Ryeowook punya tempatnya sendiri, dan itu semua ada di bawah kekuasaan Tuan Yesung.

xXxXx

"Ryeowook." Yesung setengah berbisik, sedikit mengguncang bahu Ryeowook yang tertidur, "Bangun Ryeowook."

Ryeowook membuka matanya, membutuhkan waktu sejenak untuk mengumpulkan kesadarannya, dan ketika kesadarannya kembali dia terkesiap kaget mendapati Yesung membungkuk di depannya berselubung bayangan gelap yang membuatnya tampak seperti siluet yang menakutkan. Dia hampir menjerit, tetapi Yesung menempatkan jemarinya di bibir Ryeowook,

"Stt..." Suaranya tajam, tegas dan tak terbantahkan, "Diam, jangan bersuara, kau akan ikut aku."

"Aku tidak mau." Ryeowook memekik, membuat Yesung langsung membekap mulutnya. Tetapi hal itu malahan membuat Ryeowook meronta-ronta, berusaha mengeluarkan suara jeritan protes. Dia tidak mau mengikuti kemauan lelaki ini, dia ingin pulang! Dia ingin lepas dari semua kepelikan ini dan kembali ke dalam kehidupan biasanya yang nyaman. Hidup tenangnya tanpa ada Kim Yesung di dalamnya!

Yesung sendiri merengut gusar karena Ryeowook terus menerus bergerak melawannya, dia menolehkan kepalanya ke arah Kangin yang dia tahu ada di sana, berdiri dalam kegelapan menatapnya, "Kangin." Yesung mengucapkan isyarat tanpa kata ke arah Kangin, pelayan setianya itu langsung mendekat.

Sedetik kemudian, dengan ahli, Yesung menyentuh saraf di titik penting Ryeowook, membuatnya pingsan, tubuhnya langsung jatuh lemas, tenggelam dalam ketidaksadaran. Yesung setengah menopang tubuh Ryeowook, lalu menatap Kangin yang berdiri di dekatnya. "Siapkan dia. Aku sendiri akan bersiap-siap, ingat, tidak boleh ada seorangpun yang tahu tentang recana ini, kita harus sangat berhati-hati."

Salah seorang anak buahnya yang disusupkan ke dalam kantor tempat Donghae bekerja telah memberikan informasi rahasia barusan, bahwa Donghae mulai mencurigai motivasi Mr. Kangta menjalin kerjasama dengan perusahaan yang kebetulan merupakan tempat Ryeowook bekerja. Dan saat ini dari hasil pencariannya, Donghae telah berangkat bersama agen-agen paling kuatnya untuk datang dan mengawasi rumah ini.

Sebelum itu terjadi, Yesung harus membawa Ryeowook pergi dari rumah ini.

Sebelum pergi, Yesung menekan nomor Kangta, Meskipun pertemanan mereka bisa dikatakan sangat kompleks, lelaki itu adalah mentor sekaligus temannya yang setia, dan Yesung akan selalu bisa mengandalkannya dalam kondisi seperti ini.

"Ada apa Yesung?" Kangta mengangkat teleponnya, suaranya serak, seperti baru saja terbangun dari tidurnya.

"Aku membutuhkan bantuanmu lagi, Kangta." Yesung mengucapkan serangkaian instruksi. Setelah selesai, dia menutup percakapan dan senyum tipis terkembang di bibirnya, membayangkan betapa gusarnya Donghae nanti ketika Lelaki itu datang ke rumah ini dan menyadari bahwa Yesung sudah selangkah lebih maju.

xXxXx

Kyuhyun menerima telepon mendadak dari Yesung barusan dan setuju untuk menyiapkan semuanya meskipun lebih cepat satu hari dari yang direncanakan. Dia menutup teleponnya dan mulai menghubungi nomor yang sangat dihapalnya.

"Kyuhyun." Suara di seberang sana terdengar dalam, suara yang sangat dikenal oleh Kyuhyun.

"Yunho ahjussi, Maafkan saya menelepon selarut ini." Kyuhyun merasa tidak enak, pasti dia telah mengganggu istirahat malam Yunho ahjussi dan isterinya, tetapi dia harus melakukan pemberitahuan supaya tidak ada kesalahpahaman ke depannya, "Tamu saya membutuhkan pulau itu sekarang, untuk ditempati malam ini."

"Oke. Lakukan saja Kyuhyun, pulau itu bebas digunakan selama musim ini, aku dan Jaejoong belum berencana mengunjunginya lagi."

"Terima kasih ahjussi." Setelah mengucapkan salam dan sedikit berbasa-basi, Kyuhyun menutup pembicaraan, kemudian dia tercenung. Memikirkan tentang Yunho ahjussi, sahabat ayahnya yang sangat baik hati itu.

Kyuhyun mengernyit ketika bayangan akan tragedi yang menimpa keluarga Junho terbersit di benaknya, dia sangat mengagumi kekuatan cinta Yunho ahjussi dan isterinya Jaejoong sesudahnya yang mampu bergandengan tangan dengan kuat, dan menghadapi seluruh cobaan yang menguras emosi itu. Kalau saja Kyuhyun yang berada di posisi Yunho ahjussi, dia pasti tidak akan kuat...

Tiba-tiba saja seberkas pengetahuan melesat dan menusuk ingatan Kyuhyun. Jantungnya langsung berdebar.

Oh Astaga...sepertinya dia telah menemukan jawaban dari rasa penasarannya selama ini. Kyuhyun menyentuh dagunya dengan dahi berkerut, berpikir dalam. Tetapi apakah itu mungkin? Bukankah itu terlalu kebetulan?

xXxXx

Mereka keluar dari rumah itu dalam kegelapan, dalam mobil hitam yang tidak kentara. Suasana sekitar perumahan mewah itu masih lengang. Yesung sendiri memangku Ryeowook yang masih pingsan dengan kepala di pangkuannya. Kangin ada di kursi depan, duduk di sebelah supir. Jemari Yesung mengelus dahi Ryeowook dengan lembut, kemudian menundukkan kepalanya dan mengecup dahi Ryeowook pelan. Sebentar lagi mereka tidak akan hidup dalam pelarian lagi. Hanya tinggal sebentar lagi, setelah semua dokumen siap dan Yesung bisa meninggalkan negara ini dan kembali ke Italia. Mobil-mobil lain yang juga berwarna hitam bergabung dari segala penjuru jalan, mobil-mobil itu dikendarai oleh pengawal dan orang-orang kepercayaan Yesung, meskipun begitu mereka tetap menjaga jarak agar iring-iringan mobil mereka tidak kentara.

Malam yang pekat dan jalanan yang sepi memudahkan perjalanan menuju bandara, ketika mobil berhenti, Kangin melangkah keluar duluan dari mobil dan mengambil kursi roda lipat di bagasi, Yesung kemudian keluar, dan meletakkan Ryeowook dari gendongannya ke atas kursi roda, tubuh Ryeowook terkulai di sana, dan kemudian tanpa kata, Yesung mendorong Ryeowook memasuki lobby bandara diikuti oleh Kangin dan orang-orangnya.

Mereka memasuki pintu samping, untuk area jet pribadi yang sudah menunggu di sana. Di dekat landasan, Kyuhyun telah menunggu, lelaki itu memakai mantel hitam yang tebal, karena angin begitu kencang berhembus, menggerakkan helaian-helaian rambutnya yang kecoklatan. Lelaki itu melirik ke arah Ryeowook dan menatap Yesung, "Pesawat sudah menunggu, aku sudah mencoba membuat semuanya serahasia mungkin sehingga tidak terlacak."

"Terima kasih." Yesung menganggukkan kepalanya, "Kami akan berangkat sekarang."

Mata Kyuhyun tidak pernah lepas dari Ryeowook, "Kapan kau berencana berangkat ke Italia?"

"Segera setelah seluruh dokumen beres, aku sudah membuatnya lebih cepat dari yang direncanakan, mungkin dalam dua minggu lagi atau kurang."

Kyuhyun menarik napas panjang, "Aku harap aku bisa bertemu denganmu sebelumnya, ada yang

ingin aku bicarakan, menyangkut Ryeowook."

Mata Yesung langsung menyambar Kyuhyun dengan waspada. Dua lelaki tampan itu saling bertatapan dalam kediaman yang penuh makna. Sampai akhirnya Yesung mengangkat bahunya, "Silahkan Kyuhyun." Dia menepuk pundak sahabatnya itu, "Terima kasih atas bantuanmu, gerakanku agak terbatas di negara ini. Nanti kalau sudah di Italia, aku akan lebih leluasa karena berada di daerah kekuasaanku sendiri." Matanya menatap serius ke arah Kyuhyun, "Kapanpun kau nanti ke italia, kau bisa mencariku."

Kyuhyun terkekeh mendengar kata-kata Yesung, dia mengangkat alisnya penuh arti, "Tetapi bagaimanapun juga, kau sudah terikat dengan negara ini, Yesung." Gumamnya dalam tawa, menyimpan makna yang mendalam.

xXxXx

Aroma wangi yang khas, membuat Ryeowook menggeliatkan tubuhnya, dia mengerjapkan matanya dan entah kenapa seluruh badannya terasa sakit, seperti habis melakukan perjalanan panjang. Dia berada di atas ranjang... Ingatan Ryeowook berusaha menelaah dan kemudian dia teringat betapa dia telah bergulat di atas ranjang mencoba melawan kehendak Yesung yang ingin membawanya ke suatu tempat. Dia ingat bahwa Yesung membekap mulutnya, tetapi setelah itu Ryeowook tidak ingat apa-apa lagi.

Jemarinya bergerak mengusap sprei di bawah tubuhnya dan Ryeowook menyadari bahwa kain sprei ini berbeda dengan yang bisanya. Ryeowook terkesiap dan membelalakkan matanya, mencoba menembus kegelapan yang melingkupi ruangan ini. Ini bukan kamar tempat dia ditempatkan sebelumnya, ini kamar yang berbeda! Ryeowook terduduk dan menatap sekeliling, segera setelah matanya beradaptasi dengan kegelapan, dia bisa menatap sekeliling yang remang-remang. Dia ada di mana lagi sekarang?

Ryeowook mulai panik, dia bangkit dari ranjang, samar-samar mendengar suara aneh di kejauhan, suara deburan ombak... Suara deburan ombak? Berarti Ryeowook ada di tepi pantai? Dekat dengan lautan?

Tiba-tiba saja terdengar suara klik pintu yang terbuka, Ryeowook terlompat kembali ke ranjang, menarik selimut sampai ke bahunya dan berbaring dengan tegang, berpura-pura tidur. Napasnya terengah, tetapi Ryeowook berusaha mengaturnya agar terdengar teratur. Dia memutuskan untuk berpura-pura tidur dulu agar bisa mengukur keadaan. Pintu terbuka dan kemudian terdengar ditutup lagi dan dikunci. Langkah-langkah yang tenang mendekati ranjang, kemudian ranjang bergerak karena sosok itu duduk di tepinya, di dekat Ryeowook. Apakah itu Kim Yesung?

Tanpa bisa ditahan, jantung Ryeowook mulai berdebar, dia ingin menahan debaran jantungnya itu, tetapi Ryeowook tidak bisa mengontrolnya, yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa supaya sosok itu siapapun dia tidak menyadari bahwa Ryeowook sudah terjaga. Jemari yang kuat, tiba-tiba menelusuri pipi Ryeowook, begitu lembut, seperti perlakukan kepada sang kekasih. Tiba-tiba saja Ryeowook merasa nyaman, semakin nyaman ketika jemari itu mengusap dahinya, membelainya dengan penuh kasih sayang. Dia benar-benar menjadi rileks, debaran jantungnya merada berganti menjadi perasaan familiar yang menyenangkan... Perasaan disayang dan dicintai.

Kemudian bibir yang hangat mengecup pipinya, lembut dan penuh sayang. Aroma jantan yang khas, kayu-kayuan bercampur dengan musk melingkupinya, dan sosok itu berbisik lembut, "Ryeowook..."

Debaran di dada Ryeowook kembali lagi mendengar suara itu, Itu adalah suara Kim Yesung. Dipenuhi oleh kerinduan yang mendalam berbalur dengan kesedihan yang tersembunyi. Kesedihan seorang kekasih yang telah sekian lama menahan rindu dan kesepian.

xXxXx

Donghae mengawasi rumah mewah yang tampak lengang itu, sepertinya tidak ada sesuatupun yang aneh di sana, dia mengernyitkan keningnya. Tetapi dia berfirasat bahwa ada sesuatu di sini, dan frasatnya kadang kala tidak bisa disepelekan. Sudah hampir empat jam, dari jam empat pagi dia mengawasi, dan dia mulai merasa lelah.

Tetapi kemudian, duduknya tegak dan waspada, begitupun agen-agen yang berada di mobil lain yang diparkir di sisi lain dengan tak kentara.

Dilihatnya sebuah mobil mewah berwarna hitam meluncur memasuki gerbang rumah itu. Mobil mewah itu tak sendiri, di belakangnya ada serombongan mobil lain yang mengikuti pelan. Sepertinya itu Mr. Kangta, lelaki itu memang terkenal suka membawa banyak pengawal kemana-mana. Sepertinya di usianya yang semakin tua, Mr. Kangta mulai paranoid dengan keselamatan hidupnya. Tanpa sadar Donghae mencibir, buat apa hidup kaya kalau kemudian hanya dikejar oleh ketakutan?

Mobil itu memasuki gerbang diikuti mobil pengawalnya, lalu pintu gerbang tertutup dan

suasana menjadi hening. Donghae menunggu lama, tetapi kemudian dia memutuskan, mereka tak bisa menunggu terus-terusan seperti ini, mereka harus berbuat sesuatu. Dia menelepon atasannya, mengkonfirmasikan persetujuan untuk mengunjungi Mr. Kangta dengan berbagai alasan. Mr. Kangta adalah warga negara asing, tindakan apapun yang sekiranya menyinggung dan tidak terbukti, bisa menimbulkan permasalahan internasional pada akhirnya. Donghae harus benar-benar berhat-hati dalam melangkah. Atasannya pada akhirnya menyetujui langkah Donghae, hal itu membuat Donghae menghela napas lega.

Setelah menutup teleponnya, Donghae menoleh kepada Eunhyuk yang dari tadi duduk di sebelahnya di dalam mobil itu. "Bagaimana keadaanmu, Eunhyuk? Sakitmu sudah baikan?" Donghae teringat Eunhyuk tampak begitu sakit ketika izin untuk meninggalkan rapat penting mereka kemarin, "Seharusnya kau tidak perlu masuk."

"Aku sudah baikan, sudah minum obat." Eunhyuk tersenyum, dia diinstruksikan untuk selalu mengawasi Donghae, jadi pagi-pagi sekali dia datang dan memaksa Donghae untuk ikut mengawasi, semula lelaki itu menolak mentah-mentah dan menyuruh Eunhyuk untuk pulang dan beristirahat, tetapi untunglah Eunhyuk berhasil meyakinkan lelaki itu bahwa dia sudah baikan.

"Lain kali jangan memaksakan dirimu, Oke? Kondisi tubuh kita yang paling penting, apalagi sebagai seorang agen kita harus siap sedia untuk menghadapi apapun yang mungkin terjadi." Donghae tersenyum, dia sudah beberapa lama bersama Eunhyuk yang menjadi anak buahnya, meskipun bertubuh mungil dan wajahnya lumayan cantik, Eunhyuk ternyata merupakan salah satu anak buahnya yang paling kompeten dalam melaksanakan tugas.

Pekerjaan mereka sudah membuat mereka begitu dekat, Donghae menyayangi Eunhyuk tentu saja, perempuan itu sudah seperti adiknya sendiri. Di lain pihak, Eunhyuk merasa dadanya mengembang hangat penuh rasa bahagia akibat perhatian dan kelembutan yang diberikan Donghae kepadanya, benaknya berkelana membayangkan, seandainya Donghae menjadi kekasihnya, dia tentu akan dihujani dengan lebih banyak perhatian dan kelembutan. Eunhyuk menghela napas panjang, matanya bersinar penuh tekad. Semua hal dalam benaknya itu, membuatnya semakin bertekad untuk menjauhkan Donghae dari segala sesuatu yang berhubungan dengan Ryeowook.

Donghae sendiri masih mengawasi rumah besar itu beberapa lama, lalu dia mengambil keputusan, "Oke. Sepertinya sudah saatnya. Kita akan mengunjungi Mr. Kangta sekarang."

Tanpa menanti tanggapan Eunhyuk, Donghae melajukan mobilnya dan mendekati pintu gerbang yang tinggi itu, di depan sana ada dua orang berpakaian khas pengawal Mr. Kangta, jas hitam dan wajah datar tanpa emosi.

"Ada yang bisa saya bantu?" salah seorang pengawal sedikit menundukkan tubuhnya dan mengawasi Donghae yang membuka jendela mobilnya dan duduk di balik kemudi.

Donghae menunjukkan lencana agen pemerintahnya dan menatap pengawal itu dengan tatapan tegas. "Aku tahu tuanmu ada di sini. Ini urusan pemerintahan. Katakan aku ingin bertemu

dengannya."

Pengawal itu terdiam lama dan mengawasi Donghae dalam-dalam, kemudian dia melempar pandang kepada rekannya yang langsung menelepon untuk menghubungi bagian dalam rumah. Sejenak kemudian, pengawal itu menganggukkan kepala kepada rekan pengawalnya, lelaki itu langsung bergerak memencet tombol, dan pintu gerbang itupun terbukalah. Donghae melajukan mobilnya memasuki rumah mewah itu.

xXxXx

"Tidak saya sangka akan menerima tamu di sini, ada apa gerangan?" Mr. Kangta, lelaki tua dengan rambut yang sudah berwarna putih itu melangkah menuruni tangga dan menyambut Donghae yang berdiri waspada bersebelahan dengan Eunhyuk yang mendampinginya.

"Saya hanya melakukan pengecekan seperti biasa, Mr. Kangta." Donghae berusaha tampak datar, mengimbangi sikap ramah Mr. Kangta.

Lelaki ini tampak santai dan tidak menyembunyikan sesuatu, apakah firasat Donghae yang salah? "Saya belum berkenalan dengan anda." Mr. Kangta tampak fasih berbahasa Korea meskipun logatnya terdengar sedikit aneh, lelaki itu mengulurkan tangannya kepada Donghae yang langsung dibalas Donghae dengan tegas,

"Saya Donghae, dan ini rekan saya, Eunhyuk." Donghae mengedikkan bahunya ke arah Eunhyuk yang berdiri diam sambil melipat tangannya, "Seperti yang saya katakan tadi, saya adalah agen pemerintah yang khusus mengurusi hal-hal yang berhubungan dengan pertahanan negara, menyangkut hubungan luar negeri." Donghae menatap Mr. Kangta dalam-dalam, "Saya hanya melakukan pengecekan rutin."

Mr. Kangta mengangkat alisnya, "Pengecekan tentang apa?"

"Kami biasanya mendata properti setiap warga asing di negara ini secara berkala. Kami menemukan kejanggalan bahwa anda menyewa dua rumah besar secara bersamaan dan hanya

menempati salah satunya, agen saya melapor bahwa rumah yang ini tidak dilaporkan sebagai

kediaman tetap anda, anda menempati rumah lainnya di lokasi yang lain."

Mr. Kangta tiba-tiba saja terkekeh, membuat Donghae menatap bingung dan jengkel atas reaksi tak terduga dari lelaki ini, "Maafkan saya, bukan maksud saya tertawa." Mr. Kangta masih saja tersenyum lebar, "Saya hanya sedikit kagum betapa rincinya penelitian yang kalian lakukan kepada saya." Lelaki itu lalu menatap ke arah salah seorang pengawalnya yang berdiri di dekat tangga, "Panggilkan Victoria kemari, biarkan kami menjawab pertanyaan tuan Donghae ini. Sehingga dia tidak bertanya-tanya lagi."

Pengawal itu mengangguk dan melangkah menaiki tangga, menghilang di ujung atas, sementara itu Donghae mengerutkan keningnya, Victoria? Siapa yang dimaksud dengan Victoria?

xXxXx

"Aku tahu kau sudah bangun." Suara Yesung dalam, sedikit geli, membuat Ryeowookterkesiap dan tiba-tiba merasa malu karena ketahuan. Pipinya merona merah, untunglah mereka berada di kegelapan sehingga Yesung tidak akan bisa melihat Ryeowook merona.

Dengan pelan Ryeowook membuka matanya, menemukan sosok lelaki tampan itu duduk di tepi ranjangnya. Ruangan ini gelap, dan Ryeowook masih sedikit pusing karena tertidur entah berapa lama. Tetapi dalam kegelapan itupun dia menyadari betapa bayang-bayang bukannya membuat sosok Yesung menjadi menakutkan melainkan malah mempertegas garis wajahnya menjadi begitu tampan.

Yesung lelaki yang sangat tampan tentu saja, meskipun gelap, Ryeowook bisa membayangkan lelaki itu sedang menatapnya dengan mata cokelatnya yang dalam. Tiba-tiba benaknya berkelana mengingat perasaan terpesonanya ketika pertama kali bertemu dengan Yesung di jalanan yang gelap itu, saat lelaki itu menyelamatkannya dari gangguan para berandalan. Saat itu Ryeowook terpesona, pun ketika dia menemukan Yesung adalah pengawal Mr. Kangta... dan sampai saat makan malam mereka yang menyenangkan, Ryeowook masih terpesona.

Tiba-tiba benaknya bertanya-tanya. Seandainya saja keadaan berbeda, seandainya saja Yesung bukanlah pembunuh menakutkan yang diyakininya dikirim untuk membunuh

ayahnya dan dirinya, bisakah Ryeowook jatuh cinta kepada Yesung?

Ryeowook memejamkan matanya atas pengetahuan yang mendalam yang diakui oleh hatinya, tetapi ditolak oleh otaknya. Ya... Dia bisa mencintai lelaki ini, seandainya keadaan berbeda... Perasaan itu menakutkannya, membuat Ryeowook beringsut menjauh dari tepi ranjang dan menatap Yesung dengan waspada.

"Apakah kau akan memaksakan kehendakmu kepadaku?" Mata Ryeowook berputar ke sekeliling ruangan, mencari jalan menyelamatkan diri, atau setidaknya mencari alat perlindungan yang mungkin bisa digunakan untuk melindungi dirinya dari pemaksaan kehendak yang mungkin akan dilakukan oleh Yesung.

Sementara itu Yesung hanya diam, ketika dia berbicara suaranya terdengar geli, "Apakah kau ingin aku melakukannya?"

"Tidak! Tentu saja Tidak!" Ryeowook langsung berteriak waspada, ketakutan. Lelaki ini tampaknya kejam dan suka bermain-main dengan korbannya sebelum melahapnya, Ryeowook harus berhati-hati.

"Percuma melawan Ryeowook, kau bahkan sudah menjadi milikku tanpa kau menyadarinya." Yesung menegakkan punggungnya dengan tegas, "Dan aku akan membuatmu menyadarinya, sekarang, di sini, tidak akan ada lagi yang bisa menghentikanku." Yesung mendekat, membuat Ryeowook panik. Tetapi kemudian ponsel di saku lelaki itu berbunyi, membuat wajahnya mengerut marah karena terganggu, ekspresinya berubah ketika melihat siapa yang menelepon, "Ya?" diangkatnya telepon itu, menunggu kabar yang sudah di antisipasinya.

TBC

Hai, update kilat nih...

Makasih ya buat yg udah support ff ini...