.
.
Naruto Fanfiction
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Rated: M
Genre : Romance, Fantasy, Angst
.
.
Sasori menatap Yahiko dengan tatapan cemas, pemimpin Akatsuki ini terlihat santai dengan seringai yang sangat percaya diri. Sebenarnya, apa yang dipikirkan pemimpinnya ini? Jelas-jelas datang surat resmi langsung dari Madara- pemimpin Goblin- yang memberitahukan tentang hubungannya dengan Sakura, adik kandungnya dan juga tunangan -mantan tunangan—Neji.
"Jika kalian menginginkan tergulingnya kekuasaan Madara, maka ikuti rencanaku. Bukan masalah jika adikmu itu menikah dengan Madara, karena ketika Madara berhasil kita kalahkan, otomatis adikmu akan selamat," ujar Yahiko sambil meminum araknya.
"Tapi sampai kapan?" tanya Sasori.
Yahiko menatap Sasori sinis, "Kau mau menyerangnya sekarang? Silakan, tapi itu hanya akan membuatmu mati konyol."
Sasori terdiam. Dan, apa yang Yahiko katakan memang benar, jika Sasori menyerang duluan dan sendirian, dia akan mati konyol. Dia membutuhkan ini semua, Sasori membutuhkan kekuatan dari Akatsuki. "Baiklah," jawab Sasori.
"Bagus." Yahiko bangkit dan menatap Neji, "akan kukirim elang milikku pada kediaman Hyuuga jika waktunya sudah tiba, kau boleh pergi, Hyuuga."
Neji mengepalkan kedua tangannya, rasa kesal menyelimuti dirinya karena diperintah seperti itu oleh Yahiko. Harga diri Neji terbilang cukup tingga, makanya, ketika Yahiko berada di atasnya, Neji merasa sangat terhina. Neji membungkukkan tubuhnya dan mulai pergi meninggalkan ruangan.
Ketika Neji akan menaiki kereta kudanya, langkahnya terhenti oleh panggilan seseorang.
"Neji!"
Sasori...
Neji menoleh, tidak menjawab apa-apa, hanya tatapan datar yang ia perlihatkan pada Sasori.
Laki-laki berambut merah itu menatap bingung pada sahabat... atau mantan sahabatnya?
"Apa kau tahu bagaimana kabar ras Haruno di desa?" tanya Sasori.
Ada jeda sebelum Neji menjawab, "Ya, mereka baik-baik saja."
Neji tidak menceritakan pada Sasori tentang kejadian ketika Sakura dan Madara berkunjung ke desa, dan bagaimana kondisi Sakura saat itu. Walaupun Neji tidak berada di sana, namun dari cerita Hinata, bisa sangat dipastikan saat ini ras Haruno memang tidak lagi menerima kehadiran Sakura. Jika Sasori mengetahui hal ini, bisa-bisa Sasori beralih mendukung Uchiha.
"Sungguh?" Sasori menatap curiga.
Neji mengangguk dan meneruskan langkahnya memasuki kereta kuda.
"Neji," panggil Sasori lagi, "perasaanmu pada Sakura, apakah masih sama seperti dulu?"
Neji menatap datar kemudian berubah menjadi senyuman sinis, "Menurutmu?" Neji sudah tidak bisa lagi menyembunyikan ambisinya yang ingin menjadi pemimpin dari semua Goblin.
Sasori masih menatap curiga sosok Neji yang kini sudah pergi. Sebenarnya, apa yang direncanakan oleh Neji?
.
.
Sakura menatap kolam yang dihiasi oleh ikan yang sangat cantik, wajahnya tersenyum... senyum yang sudah lama tidak pernah ia tunjukkan. Sasuke menatapnya dari kejauhan, dia berpikir bagaimana cara Madara membuat Sakura tersenyum seperti itu. Sasuke memutuskan untuk mendekat, namun langkahnya terhenti karena kehadiran sosok Madara yang memeluk Sakura dari belakang. Pemandangan itu... membuat Sasuke hancur.
"Madara..."
"Sedang apa kau di sini?" tanya Madara yang makin mempererat pelukannya.
Sakura memeluk tangan Madara yang melingkar di perutnya, "Pemandangan di sini sangat indah, andai di pojok situ ada tumbuhan merambat pasti akan lebih indah."
Madara terdiam sejenak kemudian melepaskan pelukannya, tangannya memanggil pengawal, "Kau carikan tanaman merambat lalu tanam di pojok situ."
Sakura reflek menoleh dengan mata terbelalak, "Ma-Madara..."
"Ta-tanaman merambat..." terlihat sang penjaha kebingungan, Sakura menghela napas, dia sangat paham, tanaman merambat adalah hal yang sangat langka.
"Tidak perlu, tidak usah kau cari," ucap Sakura pada sang pengawal.
"Tapi..."
"Madara, tanaman merambat sangat sulit ditemukan, kau memerintahkan pengawal untuk mencarinya, sama saja kau mencari jarum dalam jerami," ucap Sakura pada Madara.
Ketika melihat Madara akan kembali protes, Sakura memotongnya lagi, "Ah! Aku tahu, bagaimana kalau aku bertanya pada Rin dimana tanaman merambat itu berada, sepertinya dia tahu banyak."
"Rin?"
Sakura memutar kedua bola matanya, sudah diduga bahwa Madara tidak hapal siapa saja yang pernah dibawa oleh ras Uchiha ke dalam istana untuk dijadikan budak.
"Aku ke tempat para pelayan dulu, aku ingin menanyakannya pada Rin," ujar Sakura.
"Jangan lama-lama," ucap Madara yang sekaligus memberi isyarat pada beberapa pengawal untuk menjaga Sakura.
Sakura berjalan menuju kediaman pelayan, semua pelayan menunduk begitu Sakura lewat. Perasaannya jadi canggung, karena pertama kali Sakura dibawa paksa ke istana ini, di sini lah Sakura tidur. Sakura mencari Rin namun tidak juga ketemu, sampai dia menyapa salah satu pelayan yang sedang menjemur kimono, "Ng... anu, apakah kau meliat Rin?"
"Ma-Maaf nona Sakura, saya tidak melihatnya."
"Oh begitu,baiklah aku akan cari dia lagi, terima kasih yaaa." Sakura bergegas mencari Rin, dia tidak memperhatikan ekspresi pelayan yang tadi ia tanya, pelayan itu menatap Sakura dengan tatapan kagum. Walaupun sudah diangkat derajatnya oleh Madara, Sakura masih tetap ramah dan sopan pada pelayan.
Sakura mencari di taman belakang, gudang, maupun kamar tidur, namun Rin tidak ketemu juga. Beberapa pengawal pun mencarinya, sampai Sakura teringat sesuatu ketika malam itu, pertama kali dia bertemu dengan Obito. Tempat rahasia mereka, Sakura bergegas menuju tempat itu, dan benar saja dia melihat Rin sedang menyiram tanaman yang sebentar lagi tumbuh bunganya.
"Rin!"
Rin menoleh pada suara yang memanggil dirinya, "Sakura-saaan!" sapanya balik dengan nada gembira, "ya ampun, apa kabar?"
Sakura memeluk Rin tiba-tiba dengan sangat erat, "Ada apa, Sakura-san?"
Sakura menggelengkan kepalanya sambil memeluk Rin, "Rasanya lega sekali melihatmu."
Rin tersenyum lembut dan menepuk punggung Sakura, "Ada apa? Ayo cerita pelan-pelan."
Sakura dan Rin memutuskan untuk duduk di pinggir kolam teratai, Sakura menceritakan semua yang telah menimpa dirinya, mulai dari keluarga yang membuangnya, sampai Madara yang melamarnya. Ekspresi Rin saat ini sangat bisa dimengerti oleh Sakura.
"Oh, waw... aku tidak tahu harus berkata apa..."
Sakura tersenyum lemah dan menggenggam tangan Rin, "Aku sudah tidak apa-apa kok. Ada yang ingin kutanyakan padamu."
"Ng? Apa itu?"
"Apa kau tahu dimana letak tanaman merambat yang mempunyai daun berwarna biru?" tanya Sakura.
"Ng... oh! Bukankah itu tanaman obat langka?" tanya Rin balik.
"Sssttt." Sakura berbisik, "kalau menyebarm bisa-bisa tanaman itu akan punah karena dicabuti, aku hanya ingin mengambil bibitnya, apa kau tahu dimana letaknya?"
"Sakura-san, tanaman itu terdapat di bukit tinggi dan di dalam gua, apa kau yakin ingin ke sana?" jawab Rin.
"Bukit tinggi?"
"Dan hanya darah Uchiha yang bisa masuk ke gua itu," kata suara yang tiba-tiba muncul.
Sakura dan Rin menoleh ke arah suara tersebut, wajah Rin terlihat merona melihat sosok yang datang, "Obito..."
"Obito, maksudmu dengan darah Uchiha?" tanya Sakura.
"Gua itu diciptakan oleh Indra, leluhur kami, di situ memang terdapat beberapa macam tanaman obat, salah satunya yang kau cari itu, untuk Madara 'kan?" tebak Obito.
Wajah Sakura memerah sebelum dia menjawab pertanyaan Obito, "Harus Uchiha ya?" gumam Sakura.
"Mau kutemani?" muncul suara baru yang membuat Sakura menoleh.
Sakura mengerutkan alisnya, "Kenapa satu persatu kalian datang di saat yang tidak enak, kupikir hanya akan ada aku dan Rin saja, hanya dua wanita yang saling berbagi cerita. Kau mengganggu, Shisui."
"Hahaha." Shisui mendekati Sakura dan mencubit pipi wanita yang diam-diam ia sayangi ini, "sudah lama tidak bertemu, kau malah judes."
Sakura menjulurkan lidahnya, "Kau mencariku?" tanya Sakura.
"Tidak, Cuma kebetulan aku mendengar suaramu, jadi kuikuti dan sampailah aku di sini, kau ingin pergi ke bukit Uchiha?" tanya Shisui balik.
"Apa itu memungkinkan?" Sakura memposisikan dirinya bersender di pilar bangunan, "aku ingin menyembuhkan penyakit Madara."
"Madara? Sakit?" tanya Shisui bingung.
"Eh?" Sakura bingung dengan reaksi Shisui, "kau tidak tahu?"
"Madara terserang penyakit yang membuat dirinya batuk darah, penyakit langka dan dia adalah satu-satunya Goblin yang terserang," jawab Obito menjelaskan.
Shisui mengernyitkan alisnya, "Aku tidak pernah tahu Madara sakit."
"Dia menyembunyikannya, namun tubuhnya tidak kuat lagi sejak kepergian Izuna, seolah... dia kehilangan separuh semangat hidupnya," jawab Sakura dengan wajah sendu.
Shisui tidak suka melihat ekspresi wajah Sakura yang sedih seperti itu. Laki-laki yang satu-satunya ramah pada Sakura sejak awal ini menepuk kepala Sakura, "Mari kita cari bersama, akan kubawa kau ke bukit Uchiha."
Wajah Sakura terlihat bersemangat kembali, Rin dan Obito saling melemparkan pandangan lembut satu sama lain.
"Ngomong-ngomomg, Obito... kenapa kau bisa tahu tentang penyakit Madara?" tanya Sakura.
"Oh, saat beliau memanggilku untuk menjalani pelatihan, aku melihatnya muntah darah, namun dia menyembunyikannya, tapi aku tahu betul dia sakit," jawab Obito.
"Oh, wow... aku tidak menyangka dia tipe yang menyimpan semuanya sendirian," ujar Shisui dengan senyum lembut.
"Kapan kita akan pergi?" tanya Sakura.
"Besok aku masih ada urusan, bagaimana kalau lusa?" jawab Shisui.
Sakura berpikir sejenak, alasan apa yang harus ia berikan pada Madara nanti, bagaimana jika Madara menawarkan diri untuk menemaninya? Tidak, Sakura tidak bisa mengizinkan Madara keluar terlalu jauh dari istana, apalagi sejak malam itu Madara berubah menjadi aneh, "Lusa, baiklah."
.
.
Itachi membuka kertas gulungan panjang di kamarnya, dengan Karin yang sedang berkunjung dan menemani dirinya belajar.
"Kau sudah sembuh total, Itachi?" tanya Karin dengan tatapan ragu.
Itachi tidak menoleh, "Ya, Sakura sangat mahir dalam pengobatan."
"Hm, begitu..."
Sunyi.
Mereka kembali tidak berbincang-bincang, hanya Karin yang memandangi Itachi membaca di kamar itu.
"Apakah kau ada rencana untuk berkunjung ke istana kami?" tanya Karin lagi, kini dengan nada yang ceria.
"Aku tidak tahu, Sakura bilang aku masih harus banyak istirahat." Lagi, Itachi menjawab tanpa menoleh pada Karin.
Karin tersenyum pahit di belakang Itachi, sudah hampir dua jam mereka seperti itu.
"Apa malam ini kau ada acara?" tanya Karin kali ini dengan nada bosan.
"Sakura ingin mendiskusikan sesuatu padaku tentang-"
"Ah sudahlah! Sakura! Sakura! Sakura terus yang kau ucapkan dari tadi," protes Karin yang beranjak dari duduknya, "aku sudah bosan seperti ini, terserah kau saja Itachi, aku sudah malas menanggapimu yang seperti ini."
Karin berjalan melewati Itachi yang tanpa Karin sadari, anak sulung dari Mikoto dan Fugaku itu menyeringai kecil dari tadi. Itachi menahan lengan Karin dan meletakkan kertas gulung di atas meja, "Kau cemburu?"
Wajah Karin merona merah, "Enak saja! Hanya buang-buang waktu jika aku harus cemburu pada-emph!"
Itachi mencium bibir Karin. Ciuman yang sangat lembut, membuat Karin memejamkan kedua matanya dan menaikan kedua lengannya untuk dilingkarkan pada leher Itachi. Laki-laki itu melepas ciumannya sebentar hanya untuk melihat reaksi wanita yang ia cintai itu, seringai kembali muncul di wajah tampannya. Karin memalingkan wajahnya, namun tangan Itachi berhasil mencegahnya, "Tatap aku."
Suara berat Itachi membuat Karin meleleh, bagaimana bisa dia menatap mata laki-laki yang sudah sangat lama ia cintai ini, "Karin, tatap aku."
Dengan rasa malu yang luar biasa, Karin menatap Itachi, laki-laki itu tersenyum bangga dan kembali mendarat kan ciuman, "Gadis pintar." Itachi melanjutkan ciumannya.
.
.
Sakura berjalan di lorong menuju kamar Madara, langkahnya terhenti ketika dia merasakan sesuatu yang aneh pada dadanya. Rasa bahagia campur hasrat yang tinggi menyelimutinya. Wajah Sakura memerah, dia menutup bibirnya sendiri kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri, "Itachi..." gumam Sakura dengan wajahnya yang merona, "dengan siapa dia bercinta?"
Sakura memasuki kamar Madara dengan wajah merona mereah, melihat calos istrinya bersemi membuat sang raja memiringkan kepalanya bingung. "Ada apa denganmu?"
"Ng?" Sakura menggelengkan kepalanya dan memeluk lengan Madara, "bukan apa-apa."
Madara hanya membelai kepala Sakura dan mencium kening wanita itu.
Sakura mendongakan wajahnya dan menatap kedua mata onyx milik Madara, "Madara, besok apakah aku boleh pergi bersama Shisui?"
Wajah Madara mulai terlihat tidak senang, sebelum dapat protesan dari sang raja, Sakura kembali berucap, "Tidak akan lama, aku janji."
Madara menghela napasnya kemudian mengangguk. Mendapat persetujuan dari sang raja membuat Sakura senang sehingga reflek memeluk Madara lagi. Sakura memang sangat senang memeluk, kebiasaan buruk yang Madara khawatirkan jika tidak ada dia Sakura akan memeluk siapa saja. Sakura melepas pelukannya dan memergoki ada kain putih dengan banyak darah yang seperti disembunyikan di bawah bantal. Kedua mata Sakura menyipit untuk memperjelas benda apa itu.
"Apa ini?" tanya Sakura sambil menyambar kain putih yang berlumuran darah, kedua mata Sakura terbelalak kemudian menoleh pada Madara yang berwajah datar, "Madara..."
"Jangan berlebihan, beratus-ratus tahun aku mengalaminya, hal seperti itu tidak akan membunuhku," ucap Madara dengan tenang.
"Tapi ini..."
"Hanya batuk darah biasa," potong Madara.
"Apa tidak ada tabib yang bisa-"
"Karena itu kubantai mereka semua."
Sakura menutup mulutnya, dia lupa kalau Madara sangat kejam. Dan wanita berambut merah muda ini kemudian tersadar akan sesuatu, "Madara... apakah itu alasannya aku dibawa paksa ke sini?"
Madara terdiam, dia tidak mau menjawab pertanyaan yang satu itu.
"Madara!"
"Jangan kelewat batas, jaga nada bicaramu padaku." Madara seketika berubah menjadi dingin.
Sakura menyambar belati miliknya dan akan menggoreskannya pada pergelangan nadi tangannya, melihat tindakan ceroboh itu, Madara syok dan reflek memukul tangan Skaura.
"APA-APAAN KAU?!"
Tubuh Sakura gemetar, mendapat bentakan Madara dan pukulan yang lumayan sakit itu, namun dia kesampingkan dulu rasa takutnya saat ini, "Minum darahku, kumohon~"
"Jangan konyol, setengah darahmu nanti kubutuhkan untuk membangkitkan Indra jika keadaan mulai kacau dan aku mulai tidak bisa melindungimu," jawab Madara.
Wajah Sakura terlihat syok mengetahui rencana Madara, "Jadi... maksudmu kau akan..."
"Kaupikir aku siapa? Aku tidak akan semudah itu mati," ucap Madara yang melipat kedua tangannya dibalik jubah.
Sakura mengangguk, wajahnya masih terlihat sangat cemas, namun cemas pun percuma, jika percakapan ini dilanjutkan bisa-bisa hanya debat kusir yang tercipta diantara mereka.
.
.
Di perjalanan Sakura terlihat murung, di dalam kereta kuda Shisui menatap Sakura dengan lembut, "Hei, ada apa?"
Sakura melirik Shisui dan menghela napas, "Hhh, apa kau tahu tentang... Madara yang selalu muntah darah?"
Shisui menatap nanar pada Sakura. Wanita ini, baru saja menemukan cintanya namun sudah harus dihadapi oleh kenyataan yang pahit. Shisui berusaha tetap tenang dan tersenyum, "Yaa, beliau walaupun sadis, tapi tidak pernah mau menunjukkan sisi lemahnya, batuk darahnya itu sudah terjadi begitu lama, tapi dalam keadaan seperti itu pun Madara-sama masih bisa menghabisi ribuan musuhnya dalam sekejap, jadi kau tidak perlu khawatir, Sakura."
Sakura tersenyum lemah, "Tetap saja, ada cara pintas untuk menyembuhkan dirinya."
"Dengan meminum darahmu? Setelah kau memberikan darahmu pada Itachi dengan jumlah yang lumayan banyak, bisa-bisa kau mati. Siapapu tidak mau hal itu terjadi," jawab Shisui.
Ketika sunyi menyelimuti mereka, Shisui merogoh tas kecilnya dan menyerahkan sesuatu pada Sakura. Sakura menoleh pada Shisui yang menyodorkan tangannya, "Apa ini?"
"Dari Sasuke, buka lah." Shisui menjawab.
Sakura menerima beda bulat itu, ketika dibuka bungkusan itu, sebuah kalung cantik berwarna merah muda berbentuk bunga Sakura, "Cantiknyaaa..."
"Dia sedang dalam pelatihan, sebenarnya dia ingin sekali ikut dan menyerahkan langsung padamu, hadiah pernikahan kalian," ujar Shisui.
Sakura tersenyum lembut dan menggenggam erat kalung itu, "Pulang nanti aku akan berterima kasih langsung padanya, aku akan mendatangi tempat pelatihannya."
Shisui menyeringai, namun dalam hati dia merasa kasihan pada Sasuke yang benar-benar berusaha merelakan Sakura.
Mereka sampai di bukit Uchiha. Sakura melihat pemandangan yang sangat luar biasa indahnya. Melihat Sakura terpana membuat Shisui terkekeh pelan, "Kau benar-benar gampang terpesona oleh keindahan ya. Pantas saja kau terpesona oleh Madara-sama."
"Heii! Wajar daja 'kan?" gerutu Sakura dengan wajahnya yang merona.
"Ayo ke sini," ajak Shisui mengulurkan tangannya, "kalau tidak pegangan, kau bisa jatuh, dan percayalah, kau tidak akan selamat."
Sakura mengangguk dan memegang tangan Shisui.
Bukti itu sangat tinggi, dan tempat mereka berjalan pun sempit. Kemungkinan jatuh ke jurang sangat besar, tentu saja Sakura tidak berani melihat ke bawah. "Sakura, lihat punggungku, atau pundakku, jangan lihat ke bawah," ucap Shisui yang bisa merasakan tangan Sakura sangat bergeringat dan gemetar karena takut.
Setelah perjalanan yang lumayan panjang, mereka sampai pada tujuannya. Gua yang sangat besar dan terlihat gelap. Shisui melangkah lebih dulu dan melukai jarinya sampai darah menetes di depan gua tersebut. Laki-laki yang terkenal dengan keramahannya itu mencoba mengulurkan tangannya, memastikan tidak ada perangkap atau apapun itu yang tidak terlihat mata.
Merasa ama, Shisui menoleh ke Sakura dan tersenyum, "Aman, ayo."
Sakura mengangguk dan mengikuti Shisui. Begitu mereka sampai di dalam gua, terdapat beberapa macam tumbuhan langka, banyak... ini banyak sekali. Sakura mendekati ke tanaman menjalar yang sangat ia cari, ini yang dia butuhkan untuk Madara. Sakura memetik beberapa tanaman tersebut dan memasukannya pada kantong kecil. Begitu Sakura selesai memetik, dia melihat ada bunga berwarna ungu yang benar-benar langka diantara tanaman lainnya. Wajah Sakura terlihat tercengang dan langsung menghampiri tanaman tersebut.
"Shisui-san! Bisakah aku mengambil tanaman ini?" tanya Sakura dengan tatapan yang masih tercengang.
"Ambil apapun yang kau mau," jawab Shisui.
Sakura tersenyum, kedua matanya berkaca-kaca," Darah Nii-san bisa kembali normal, syukurlah tanaman ini benar-benar ada." Sakura bergumam kecil.
"Sudah selesai?" tanya Shisui.
"Ng."
Begitu mereka membalikkan tubuh, ada tiga sosok yang menghalangi mereka. Sosoknya tidak terlalu kelihatan karena cahaya yang berlawanan arah. Shisui menarik Sakura ke belakang tubuhnya. Yang Shisui heran, kehadiran mereka tidak terasa olehnya, apakah Shisui lebih fokus pada Sakura sehingga ada orang asing yang masuk tidak terditeksi olehnya?
"Siapa kalian?" tanya Shisui.
Salah satu dari sosok itu menyeringai licik, "Ingat, bos bilang, bawa yang wanita hidup-hidup, bunuh yang laki-lakinya."
Sakura mencengkram jubah Shisui.
"Sakura-san, kami diperintahkan untuk menjemputmu," ujar Salah satu sosok tersebut, terdengar suara wanita.
-TBC-
A/N : Maaf ya pendek hehehe, aku masih banyak kesibukan di real lfe, jadi bisa update segini pun syukur alhamdulillah T^T
sampai jumpa di cahpter depan yang entah kapan updatenya T^T
XoXo
V3 Yagami
