Terima kasih buat semua yang telah mau meluangkan waktuny untuk membaca fic ini, dengan berat hati, fic ini harus saia akhiri *iy lah, masa sih gak ada tamatny?!* semoga untuk ke depanny, saia bisa membuat fic yang lebih bagus dari yang sekarang. See you in the next fic :)
Karakter original sepenuhny milik Koei...
Armada laut Wu bergerak seiring dengan hembusan angin, menuju ke daratan tempat berdirinya sebuah kastil yang maha kokoh. Bahkan dari kejauhan saja kastil itu benar-benar terlihat kokoh, seolah tidak ada yang bisa menembusnya.
"Hei Fei..." Ujar Sun Quan pelan.
"Lokasi pertarungan terakhir kita dengan Wei," Shang Xiang menatap kakaknya. "Apa dia akan ada di sana?"
"Tentu saja. Cao Pi yang akan kita hadapi di sini, pasti dia akan menyuruh Zong untuk berhadapan dengan kita di pertempuran terakhir ini. Sementara Master Zhuge Liang akan menghadapi Sima Yi di Wu Zhang Plains. Itu rencana kita."
"Serang Wei dari dua arah dalam waktu yang bersamaan!" Kata Ling Tong dengan penuh semangat.
"Jika kita berhasil, Wei akan menerima pukulan telak. Dan butuh waktu yang cukup lama untuk bisa kembali seperti semula. Dan itulah saat berikutnya bagi kita untuk menyerang," tambah Lu Xun. "Atau kita langsung serang Lu Jiang?"
"Idemu boleh juga," Sun Quan mengangguk setuju. "Kita rebut Hei Fei, kemudian kita akan menyerang Lu Jiang. Dari sana, kita akan menyerang Central Plains."
"Yang Mulia, sebentar lagi kita akan merapat." Seorang prajurit memberi kabar.
Sun Quan mengangguk. "Baiklah. Semuanya, bersiap! Ini adalah pertempuran terakhir kita dengan Wei, jadi kita harus menang! Ayo kita tunjukan kepada Wei kekuatan Wu yang sesungguhnya!"
Teriakan para prajurit Wu menggema.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Yang Mulia, pasukan Wu sudah terlihat." Seorang panglima perang berdiri di belakang Cao Zong.
"Huh, apa yang dilakukan Sun Quan? Sampai-sampai dia harus membuatku menunggu selama ini?" Cao Pi tersenyum kejam. "Kita lihat, apakah kali ini kau akan berhasil merebut Hei Fei dari Wei, atau Wu harus kalah untuk yang kedua kalinya di Hei Fei?" Ia berjalan oerlahan, berhenti tepat di sebelah Cao Zong. "Bunuh semua mereka! Jangan biarkan ada perwira Wu yang hidup!"
Teriakan prajurit Wei membahana ke seluruh sudut kastil Hei Fei.
"Dan aku harap, kau bisa membawa kepala Sun Quan kepadaku, Zong." Perintah Cao Pi disela senyum sinisnya.
"Tentu saja, Yang Mulia." Cao Zong memberi hormat.
Cao Pi bertolak pinggang, menatap penuh yakin kepada pasukannya. Jumlah pasukan Wu yang sekarang sedang berlayar menuju ke Hei Fei mungkin hanya setengah dari jumlah pasukan Wei yang ada di Hei Fei. "Dengan jumlah pasukan yang sedikit itu, kau berharap untuk bisa menang, Sun Quan? Hah, bahkan Zhuge Liang saja belum tentu bisa menembus pertahanan Hei Fei!"
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Gerbang utama Kastil Hei Fei ada dua, gerbang sampingnya juga dua. Wu membawa Ram untuk merubuhkan pintu gerbang, Ling Tong dan Gan Ning ditugaskan untuk melindungi Ram. Sementara Lu Xun bersama Zhu Ran memutar dari sisi barat, masuk dari tempat kapal bersandar, sedangkan Sun Shang Xiang yang ditemani oleh Zhou Tai menyerang dari sisi timur. Beberapa perwira lainnya menjaga Sun Quan.
"Apa kita bisa menang, Zhou Tai?" Tanya Shang Xiang ditengah gerakan menghindar dari serangan musuh.
Zhou Tai menebas prajurit yang menyerangnya dari belakang. "Kita harus menang, Lady Shang Xiang."
"Ya, kau benar!" Shang Xiang melempar Chakram miliknya. "Semoga kita bisa menembus gerbang utama dengan cepat. Agar pertempuran ini bisa selesai, dan tidak perlu ada prajurit yang tewas lagi..."
"Ling Tong! Apa kau mau mati di sini?!" Teriak Gan Ning setelah menangkis beberapa anak panah yang diarahkan ke Ling Tong. "Apa kau tidak melihat anak panah itu melayang ke dirimu?"
"Maaf," Ling Tong tertawa. "Terima kasih, Gan Ning. Aku tahu kalau kau akan menyelamatkanku."
Gan Ning terdiam beberapa saat. "Huh, dulu kau membenciku setengah mati. Sekarang malah berterima kasih kepadaku. Dasar aneh."
"Oh, jadi kau tidak mau kalau aku berterima kasih kepadamu?!" Hardik Ling Tong. "Dasar tidak tahu diri!" Ling Tong memukul-mukul Gan Ning menggunakan Nunchaku.
"Uwaaa, maaf-maaaf." Gan Ning melindungi kepalanya. "Seharusnya kau menyerang musuh, bukannya aku! Nanti Ram kita hancur kalau kita bercanda!"
"Aku tidak bercanda, dasar menyebalkan!" Ling Tong makin marah.
Sementara para prajurit, baik prajurit Wei mau pun Wu hanya bisa saling pandang melihat tingkah laku Ling Tong dan Gan Ning.
Lu Xun berdiri tegak di barisan paling depan, "Pemanah, serang!"
Bersamaan dengan teriakan Lu Xun, anak panah yang dilapisi api berterbangan ke arah gerbang di depan mereka. Api dengan cepat menjalar karena tiupan angin. "Bagus," Lu Xun tersenyum senang. "serang!"
Baru beberapa langkah para prajurit Wu maju, batu besar menghantam mereka. Dari dinding kastil, terlihat sebuah capalut terlihat di sana. Melempar batu-batu berukuran besar. Lu Xun yang tidak menduga akan hal ini panik, dengan segera dia menyuruh pasukan untuk mundur.
Disaat yang bersamaan, seseorang membuka gerbang utama di kastil Hei Fei. Ling Tong dan Gan Ning sampai berhenti bertengkar karena terkejut. Setelah saling pandang beberapa lama, mereka memimpin pasukan untuk menyerang ke dalam.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Ada seseorang yang membuka gerbang Hei Fei dari dalam?" Sun Quan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Pasukan kita yang berada di tengah sudah masuk ke dalam, Yang Mulia. Sementara Lady Shang Xiang baru tiba di depan gerbang di sebelah timur, Lord Lu Xun memutuskan untuk kembali ke sini dan membantu penyerangan dari tengah."
"Kita harus memanfaatkannya sebaik mungkin, Yang Mulia! Kita harus menyerang Wei!" Seru salah satu panglima Wu.
"Ya, tapi bagaimana jika ini adalah jebakan..." Sun Quan terlihat ragu.
"Tenang saja, Lord Sun Quan. Ini bukan jebakan." Suara seorang pria terdengar dari belakang.
"KAU!" Mata Sun Quan membesar karena tidak percaya dengan penglihatannya.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Sun Shang Xiang masih memacu kudanya secepat mungkin. Saat ia tiba di depan gerbang, ternyata gerbang sudah terbuka. Bukan hanya itu, prajurit Wei yang berjaga di sana juga telah tewas semuanya. Wajah Shang Xiang berubah menjadi pucat. "Siapa yang melakukan ini...?"
Ia turun dari kuda, di belakangnya menyusul Zhou Tai. Shang Xiang melihat sosok perempuan berlari ke dalam kastil.
"Dia..." Shang Xiang ingin mengejarnya, namun Zhou Tai menahan Shang Xiang.
"Jangan, Yang Mulia. Ini bisa saja jebakan musuh!"
Shang Xiang hanya bisa mengamati sosok perempuan itu dari kejauhan hingga ia tidak terlihat lagi.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Yang Mulia, Wu sudah memasuki wilayah kastil! Seseorang membuka pintu gerbang dari dalam!"
"Cih, ada pengkhianat rupanya..." Cao Pi mengibaskan jubahnya. "Siapa yang bertanggung jawab atas hal ini?!"
"Aku..."
Sebuah langkah kaki terdengar, Cao Pi berhenti memberikan perintah kepada prajuritnya. Beberapa dari mereka mundur ke belakang, memberi jalan untuk seorang pria yang tadi menjawab. Dia membawa giant sword.
"Apa yang kau lakukan di sini, Zong? Aku kira aku sudah memerintahkanmu untuk memenggal kepala Sun Quan."
Teriakan para prajurit di waktu yang bersamaan, disusul bau darah yang amis membuat Cao Pi terkejut. Ia pun melihat ke belakang, dan mendapatkan Cao Zong berdiri di antara tumpukan mayat para prajurit Wei. Darah segar menetes dari ujung giant sword miliknya.
"Kau...apa yang kau lakukan?!" Teriak Cao Pi. "Apa kau marah karena aku menyuruh Zhen bunuh diri?!"
Cao Zong menatap sinis ke arah Cao Pi. "Tentu saja tidak, ini tidak ada hubungannya dengan Zhen. Tapi karena kau mengungkit hal itu, yah, aku rasa aku marah kepadamu karena telah membunuh Zhen." Cao Zong mengarahkan senjatanya ke Cao Pi. "Tapi ketahuilah, aku melakukan ini, hanya karena sebuah misi. Bukan karena dendam pribadi, walau sekarang, aku sedikit marah kepadamu. Anggap saja aku bisa menuntaskan dua tugasku dengan sekali tebas. Rencana menghancurkan Wei dari dalam, serta balas dendam karena kau telah membunuh Zhen."
Cao Pi mengambil pedangnya. "Cih, dari awal aku memang tidak pernah percaya kepadamu. Bagaimana mungkin seorang pria yang dikatakan paling setia di seluruh daratan bisa berpaling ke Wei? Hanya karena ia bernama Cao. Ternyata ini trik kalian..."
"Tidak, Wu tidak tahu menahu mengenai hal ini."
Cao Pi mengeritkan kening sambil terus waspada. "Jangan bilang... Ini ide Zhuge Liang?"
Cao Zong tersenyum. Semenjak kepindahannya ke Wei, baru kali ini ia tersenyum begitu bahagia dan lepas.
"Zhuge Liang... Ular tua yang menyebalkan! Bahkan dia mampu mengendalikanmu!" Cao Pi berlari menyerang Cao Zong. Pria itu bukan tandingan Pi, hanya dengan satu kali tebasan, Cao Pi terjatuh. Pundaknya terluka parah.
"Aku tidak mau membuat Rui bersedih. Dia sudah kehilangan ibunya, dan aku tidak mau menjadi orang yang merampas ayahnya dari dia. Aku mengizinkanmu pergi dari sini dalam kondisi hidup, asal kau mau menyerah kepada Wu." Katanya dengan dingin. Sedingin tatapannya yang menatap Cao Pi tepat ke bola matanya.
Cao Pi tertawa terbahak-bahak. "Kau itu, sungguh naif. Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa begitu naif seperti dirimu? Aku tidak akan..."
"Yang Muliaaaa..." Teriakan Xu Zhu menghentikan kalimat Cao Pi. Pria bertubuh gemuk itu terkejut melihat kondisi Cao Pi, tanpa pikir panjang ia pun menyerang Cao Zong. Mereka berdua terlibat dalam pertempuran sengit, hingga sosok Deng Ai muncul.
"Yang Mulia, Lord Sima Yi melakukan pemberontakan di Xu Chang setelah dia dikalahkan oleh Zhuge Liang!" Selesai menyampaikan berita tersebut, Deng Ai baru menyadari bahwa ada hal yang tidak beres. Cao Pi tergeletak dalam keadaan terluka, Cao Zong bertarung dengan Xu Zhu. "Ada yang terjadi di sini?!" Serunya. Cao Zong dan Xu Zhu pun berhenti bertarung.
Cao Zong menatap Cao Pi yang masih tergeletak tidak berdaya di lantai. "Kau sudah dengar? Lebih baik kau kembali ke ibu kota dan mengurus Sima Yi. Aku akan melepaskanmu hidup-hidup."
"Kau..." Cao Pi berusaha menggenggam pedangnya.
"Kau sudah kalah. Apa kau juga ingin kehilangan kerajaanmu dalam waktu yang bersamaan?" Tanya Cao Zong. "Dan kau harus merawat Rui sebaik mungkin. Camkan itu." Cao Zong memunggungi Cao Pi.
Dengan susah payah, Cao Pi bangun dibantu Xu Zhu. Setelah ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri, Cao Pi kembali menyerang Cao Zong. Belum sempat pedangnya menusuk Cao Zong dari belakang, sebuah anak panah telah menancap di pundaknya yang terluka.
"Kau payah, kak. Kau harus lebih berhati-hati," Cao Fan berkata dengan lega. Dia tidak terlambat untuk menyelamatkan kakaknya.
Cao Zong tersenyum. "Aku tahu. Dan aku juga tahu kau di sini, jadi aku tidak perlu khawatir."
"Huh, membebankan adiknya sendiri." Cao Fan menggeleng. Wajahnya terlihat bahagia.
Xu Zhu hendak menyerang Cao Zong, namun suara Cao Zong menghentikannya.
"Jika kau menyerangku, panah Cao Fan yang selanjutnya akan menghujam tepat di jantung Cao Pi, dan aku tidak mau hal itu terjadi. Bawa dia keluar dari sini. Kalian masih harus menghadapi Sima Yi ketika tiba di Xu Chang, simpan tenaga kalian untuk pertempuran itu."
Deng Ai menepuk pundak Xu Zhu, memberi tanda untuk mundur.
"Tapi saya tidak menyangka, Lord Cao Zong. Bahwa anda berhasil melakukan ini semua, dan tidak menimbulkan kecurigaan sedikit pun." Puji Deng Ai. "Anda, benar-benar hebat."
"Deng Ai, bolehkah aku meminta satu permintaan?"
"Ya, Lord Cao Zong?"
"Tolong jangan katakan mengenai hal ini kepada Rui. Katakan, aku tewas ketika melindungi ayahnya."
Deng Ai tertawa. "Anda ingin saya berbohong kepada calon Kaisar Wei?"
"Iya."
Deng Ai menghela nafas. "Baiklah, aku akan melakukannya."
"Terima kasih, Deng Ai."
"Nah, misimu sudah selesai kan?" Suara Cao Fan memecahkan keheningan yang sempat tercipat beberapa saat setelah Deng Ai pergi. "Ayo pulang. Aku ingin melihat rumah impian kita."
Cao Zong tersenyum. "Apa kau mau meninggalkan Shu?"
"Hei, ayolah. Wei sudah kalah, rasanya Cao Pi butuh waktu yang lama untuk sembuh, dan kembali menyerang kita." Cao Fan berjalan ke arah kakaknya. "Jadi, selama China masih damai, kenapa kita tidak memanfaatkannya dengan bersantai sejenak?"
Cao Zong tertawa mendengar ucapan adiknya. "Kau, dasar aneh."
"Kalau aku aneh, berarti kakakku juga aneh, dong."
Tawa Cao Zong semakin keras, dirangkulnya sang adik dan mereka berjalan keluar dari kastil Hei Fei.
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Master Zhuge Liang, kenapa anda ada di sini?" Tanya Sun Quan dan Shang Xiang bersamaan.
Yang ditanya tersenyum. "Nampaknya pertempuran di Wu Zhang Plains berakhir lebih cepat dari yang saya perkirakan. Oleh sebab itu, saya memiliki waktu untuk membantu anda."
"Ya tapi..."
"Yang Mulia!" Zhu Ran berlari ke arah tenda tempat para petinggi Wu berkumpul. "Wei sudah mundur! Kabarnya Cao Pi terluka parah, dan Master Cao Zong berkhianat dari Wei!"
"Zong berkhianat lagi?!" Shang Xiang tidak percaya dengan berita yang baru saja ia dengar.
"Sebetulnya, Tuan Puteri," Zhuge Liang bersuara. "Master Cao Zong..."
"Dia tidak pernah berkhianat dari Wu, Tuan Puteri." Lu Xun memotong kalimat Zhuge Liang. Mengingat bahwa dialah orang pertama yang memberi tahu kepada Shang Xiang bahwa Cao Zong berkhianat, dia merasa bahwa dia harus menjadi orang yang mengatakan bahwa hal itu tidak benar.
"Ap-apa...?" Shang Xiang menatap Lu Xun dan Zhuge Liang dengan bingung.
"Biar saya yang menjelaskan..." Zhuge Liang mulai bercerita...
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Satu tahun setelah penyerangan Kota Jian Ye
"Maafkan adik saya, dia memang selalu begitu." Cao Zong meminta maaf setelah Cao Fan masuk ke dalam kamar Shang Xiang.
"Tidak apa-apa, saya bisa memahaminya."
Musim sudah berganti ke gugur sekarang, daun-daun berguguran. Zhuge Liang berhenti sejenak untuk mengamati dedaunan yang terjatuh ke sebuah kolam.
"Master Cao Zong, apakah anda mau berkhianat dari Wu?"
Wajah pria yang ditanya terkejut bukan main, mulutnya terbuka lebar. "Master Zhuge Liang! Saya harap anda bercanda, dan sayangnya ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda!"
Zhuge Liang menggeleng. "Tidak, ini bukan bahan candaan, Master Cao Zong. Saya ingin anda menyelinap ke Wei, dan menghancurkannya dari dalam, di waktu yang tepat."
Cao Zong mengeritkan kening. "Dan kenapa anda memilih saya? Apakah Shu tidak memiliki perwira yang tidak bisa dipercaya untuk melakukan misi ini? Setahu saya, Shu memiliki soerang perwira yang sangat dikagumi oleh Cao Cao. Master Zhao Yun. Atau anda tidak mau melepaskan Master Zhao Yun ke Wei demi melaksanakan misi ini?"
Zhuge Liang menghela nafas. "Jika saya melakukannya, mungkin Lord Cao Cao akan senang pada awalnya. Namun beliau bukan orang bodoh, dia tahu, dan sadar bahwa loyalitas Master Zhao Yun kepada Shu tidak akan berubah. Apa jadinya jika Master Zhao Yun tiba-tiba menjadi sangat setia kepada Wei? Bukankah itu mencurigakan?"
Zhuge Liang ada benarnya juga. Cao Cao bukan orang bodoh, pasti dia akan menyadari rencana Zhuge Liang, cepat atau lambat. "Lalu, apa alasannya anda meminta saya untuk melakukannya?"
"Pertama, anda bermarga Cao, itu sebuah keuntungan tersendiri." Zhuge Liang menghadapkan tubuhnya ke Cao Zong. "Kedua, sama seperti Zhao Yun, loyalitas anda kepada Wu tidak perlu dipertanyakan lagi – tapi anda pernah mengabdi kepada Shu, meski hanya sesaat."
"Aku mengabdi kepada kalian hanya karena Shang Xiang pergi bersama Liu Bei ke Shu!" Ralat Cao Zong. "Tidak pernah, barang sedetik pun, aku berpikir bahwa aku bisa berkhianat dari Wu."
"Tentu saja. Dan itulah kenapa saya katakan, itu keuntungan anda yang kedua. Lord Cao Cao tidak segan-segan menunjuk perwira musuh yang ia rasa memiliki keahlian yang bagus, dan dia akan sangat senang jika perwira itu bisa bergabung dengannya. Anda yang bermarga Cao, perwira musuhnya, pernah disanjung tiga kali oleh beliau, pasti Lord Cao Cao akan dengan senang hati menerima anda."
"Tapi Cao Cao bukan orang bodoh! Anda sendiri bilang seperti itu, dan kita semua tahu akan hal itu! Cao Cao terlalu pintar untuk dikelabui seperti itu! Hanya karena aku bermarga sama dengannya, lalu aku pindah ke Wei? Ya, kenapa aku tidak melakukannya dari dulu?!"
"Anda baru memiliki alasannya sekarang," Zhuge Liang berhenti menggerak-gerakan kipasnya. "Kematian Lord Liu Bei membuat Lady Shang Xiang bersedih hati, dan Lady Shang Xiang mengacuhkan anda. Membuat anda tidak tahan berada di Wu..."
"Memangnya Cao Cao tipe orang yang akan menangis mendengar cerita seperti itu?!" Potong Cao Zong. "Ide anda terlalu buruk, Master Zhuge Liang! Walau Cao Cao adalah tipe pria yang sanggup mencetuskan sebuah peperangan hanya demi wanita, tapi bukan berarti dia akan percaya dan kasihan mendengar cerita seperti itu dariku!"
Zhuge Liang tertawa. "Nampaknya anda mengerti Lord Cao Cao. Jadi, bagaimana ide anda?"
"Aku... Saya akan mengatakan, bahwa saya tidak bisa berada d Wu lagi, karena Wu mau berdamai dengan Shu, yang notabene mencuri sebagaian daratan Wu. Dan untuk membuat bahwa saya serius ingin bergabung dengan Wei, saya akan membantu Wei untuk menyerang Jian Ye. Untuk membalaskan dendam mereka setelah kalah dari Chi Bi."
"Dan ketika penyerangan kota Jian Ye itu, anda akan berkhianat?" Zhuge Liang memastikan.
"Iya..." kata Cao Zong dibarengi dengan hembusan nafas. "Aku tidak percaya kalau aku setuju untuk melakukan rencana anda..."
"Maafkan saya, Master Cao Zong. Tapi hanya anda yang cocok untuk melakukan tugas ini.'
Cao Zong mencibir. "Semoga saja aku tidak benar-benar berkhianat ke Wei."
"Jika demikian, maka rencana saya gagal. Dan Wu akan kehilangan perwira terhebatnya." Zhuge Liang tersenyum. "Namun saya percaya, bahwa anda bukan tipe orang yang mudah menelantarkan keluarga anda."
"Tidak ada yang boleh tahu mengenai hal ini," ujar Cao Zong. "Baik Shang Xiang, Fan, mau pun seluruh perwira d Wu dan Shu. Hanya kita berdua yang mengetahui hal ini."
Zhuge Liang mengangguk. "Tapi, apa anda siap? Anda mungkin melakukan ini karena ingin menyerang Wei dari dalam. Tetapi, bagi mereka yang tidak mengetahuinya, akan terlihat seperti pengkhianatan pada umumnya. Apa anda siap, dicap sebagai pengkhianat? Mengkhianati keluarga anda sendiri?"
"Harus ada yang melakukannya," Cao Zong mengepalkan kedua tangannya. "Jika bukan saya, saya ragu ada orang lain yang sanggup melakukannya."
Zhuge Liang melipat tangannya didepan dadanya. "Semoga anda beruntung, Master Cao Zong. Saya akan memberi kabar kepada anda mengenai kapan harus menyerang. Dan selama itu, jadilah perwira Wei yang baik."
"Aku tahu..."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
"Jadi selama ini..." Shang Xiang terjatuh di atas kedua lututnya. "Aku membenci Zong, untuk sesuatu yang tidak pernah dia lakukan..."
Sun Quan menepuk keningnya. "Dia melakukan misinya dengan baik, sangat baik malah. Aku bahkan tidak menyadari apa pun."
"Sebelumnya, saya minta maaf karena telah membuat rencana semacam ini tanpa berunding dengan perwira Wu yang lain. Tapi itu adalah permintaan Master Cao Zong, dan saya harus menghormatinya." Zhuge Liang mengepalkan kedua tangannya didepan dadanya. "Jika bukan karena Master Cao Zong, saya tidak akan mendapatkan data yang lengkap mengenai kondisi prajurit Wei setiap kali kami akan bertarung, dan mungkin sekarang, kita tdiak bisa menang."
"Dan kenapa Lu Xun bisa tahu?" Sun Quan bertanya.
"Ketika kami pergi ke Chang Sha, saya merasa bahwa sudah waktunya ada perwira Wu yang tahu. Jadi saya memutuskan untuk memberi tahu Master Lu Xun."
"Oh, jadi ini pembicaraan penting waktu itu?" Ling Tong menggaruk-garuk dagunya. "Seandainya waktu itu aku mendengar percakapan ini, kira-kira akan bagaimana yah akhirnya?"
"Yang pasti tidak akan seperti sekarang." Balas Gan Ning.
"Di... Dimana Zong sekarang?" Tanya Shang Xiang dalam isaknya.
"Anda tahu dimana dia berada, yang anda perlu lakukan adalah pergi ke sana sekarang." Jawab Zhuge Liang.
Sun Shang Xiang menghapus air matanya, berjalan keluar dari tenda. Beberapa inci sebelum keluar, Shang Xiang berhenti lalu menatap Zhuge Liang. "Oh ya, anda tidak lihai meniru tulisan tangan Liu Bei. Surat yang waktu itu Fan berikan, itu tulisan tangan anda, bukan?"
Zhuge Liang mengangguk.
"Kenapa anda berbohong?"
"Saya tidak berbohong. Surat itu memang dari Lord Liu Bei, yang meminta saya untuk menuliskannya, sebab beliau tidak bisa bergerak lagi. Maka dari itu, yang ada disurat tersebut adalah tulisan tangan saya asli, bukan tulisan tangan Lord Liu Bei, atau tulisan tangan saya yang berusaha memalsukan tulisan tangan Lord Liu Bei."
"Jadi begitu rupanya..." Shang Xiang tersenyum lega. "Syukurlah, aku kira kau mengarang seluruh isinya. Terima kasih, Master Zhuge Liang."
x=*=*=*=*=*=*=*=*=*=*=x
Dua minggu kemudian...
Cahaya matahari sore jatuh menyinari daun-daun yang sudah mulai berubah warna menjadi kuning, hembusan angin menggugurkan daun. Sudah mulai masuk musim gugur. Seorang pria duduk sendiri ditepi sebuah danau sembari memainkan sebuah flute.
"Permainanmu indah." Puji seorang wanita.
Pemain flute tadi mencari sumber suara. Dia kaget, dan tidak berhasil menyembunyikan keterkejutannya. "Shang Xiang..."
"Aku..." Shang Xiang menghela nafas panjang sebelum bicara. "Aku minta maaf. Karena telah membenci dirimu, untuk sesuatu yang tidak pernah kau lakukan..."
"Aku melakukannya, Shang Xiang. Aku berkhianat ke Wei. Aku pantas mendapatkannya."
Shang Xiang menggeleng cepat. "Master Zhuge Liang sudah menjelaskan semuanya."
"Aku tahu..."
"Kenapa kau tidak pernah mengatakan apa-apa?"
"Aku hampir mengatakannya kepadamu, dua kali." Cao Zong berdiri. "Pertama, ketika kita bertarung di Hei Fei, dan terakhir, setelah aku membeli rumah ini."
"Jadi itu arti tatapanmu.." Shang Xiang terkekeh. "Aku mencintaimu, Zong..."
Cao Zong menjatuhkan flute berwarna biru dengan sentuhan warna emas tersebut. "Kau... Apa...?"
"Aku mencintaimu, dari kita kecil dulu. Tapi melihat reaksimu yang biasa-biasa saja, aku, aku mulai membuang perasaan itu. Hingga aku bertemu dengan Liu Bei, aku mencintainya. Tapi kemudian aku kehilangan dia, dan kau hadir kembali."
"Shang Xiang..."
"Jika aku tidak mencintaimu, mana mungkin aku mau kau cium dua kali!" Shang Xiang memalingkan wajahnya yang memerah.
"Dan kau menciumku sekali..."
Shang Xiang tertawa malu. "Ya, kau benar..."
Cao Zong berjalan mendekati Shang Xiang, mengelus dagunya dengan lembut. "Aku juga mencintaimu, Shang Xiang... Dari dulu, sampai sekarang..."
"Terima kasih... Karena masih tetap mencintaiku sampai sekarang."
Satu ciuman lembut mendarat dibibir Cao Zong. Ciuman kali ini berbeda dengan yang sebelumnya, sebab sekarang mereka berdua sudah mengetahui perasaan masing-masing. Bahwa mereka saling mencintai...
