―Tahukah kamu tentang 'Necroxirmus Project', yaitu proyek percobaan untuk membuat manusia berkuatan ganda yang gagal 200 tahun yang lalu? Proyek itu tidak gagal, melainkan ditindaklanjutkan di masa depan 800 tahun kemudian dan berhasil. Proyek itu kini melahirkan seorang 'manusia brutal' ke masa sekarang.―
.
.
.
"Dear, nanti kau akan menceritakannya padaku, 'kan? Tentang bagaimana asalmu, hm?" tanya Daigo dengan suara lembut, selembut pelukannya pada tubuh tunangannya. Leon terdiam sesaat, tapi kemudian ia membalas memeluk Daigo.
"Ya, tentu saja..."
Dan tanpa mereka sadari, dibalik jendela rumah mereka yang tak tertutupi tirai gorden, tampak seseorang yang sedang menatap sosok Leon. Maksudnya, sosok Xirmus-nya itu.
.
.
.
Necroxirmus
.
Necro Capitel 11.
.
Made By © Hyucchi (IllushaCerbeast / SakiGane).
.
Cardfight! Vanguard Not Ours.
.
Rate: M.
.
Pairing: KaiPsyAichi, minor DaigoLeon, RenAichi, RenKoutei, and another pairing (still secret).
.
Genre(s): Romance, Mistery, Crime, A bits Angsty.
.
WARNING(s): OOC, AU, Non-Canon, Misstypo, Fail Romance, Little Lime, Yaoi,Shounen-Ai, and all.
.
.
DON'T LIKE? JUST LEAVE.
Don't Like? Still stay here? Just go die :p
.
.
Enjoy reading~
.
.
Aichi menatap nyalang ke arah bawah, dimana ada tubuh pemuda yang terbaring tak berdaya disana. Keadaannya jauh dari kata baik, figur bersurai pirang itu baru saja memuntahkan darah segar dari mulutnya karena hantaman keras, yang bahkan sampai membuatnya terpelanting ke tanah hingga retak.
Aichi menyeringai sadis. "Rasakan itu, Tuan Stalker! Dan sebagai bonus, aku akan membunuhmu sekarang!" katanya tanpa peduli apapun lagi. Cambuk-cambuk hitam di punggungnya pun mulai bergerak lincah, kemudian memanjang dan menghampiri Miwa.
Miwa, dengan pandangan mata yang mulai mengabur, melihat ke arah atas, dimana Aichi yang masih melayang menyeringai penuh kemenangan ke arahnya. Juga cambuk-cambuk hitam yang mulai menghampirinya dengan kecepatan tinggi. 'Tidak, aku tidak... aku tidak akan mati disini, aku tidak boleh mati sebelum keinginan Jun-sama tercapai!'
"Ugh..." Miwa berusaha menggerakan badannya―entah berniat menghindar atau menangkis serangan Aichi―. Namun sudah jelas gerakannya kalah cepat, ia sudah terperanga begitu jarak cambuk itu dengan wajahnya tinggal sepuluh senti saja, sebelum―
TRANG.
―seseorang muncul dan menangkis cambuk Aichi dengan tongkat hitam yang ada di tangannya. Aichi membulatkan matanya syok, siapa lagi sekarang? Sosok berambut abu-abu kelam itu menangkis serangannya dengan muda sekali. Cambuk-cambuk hitam itu kembali ke punggung Aichi.
"Maaf mengganggu acara kalian," katanya dengan senyum tenang. Membuat Aichi semakin geram saja melihatnya. Orang ini, ia kenal betul siapa. Ia pernah bertemu dengannya. "Tapi dia propertiku, aku tak bisa membiarkannya mati sebelum ia memberiku apa yang kuinginkan,"
Miwa membulatkan mata peraknya. 'S-Suara ini, suara ini... Jun-sama...'
"Menyingkir, sebenarnya kalian ini siapa, hah!?" seru Aichi lalu turun kembali ke daratan. Bisa gawat kalau sosoknya yang sedang melayang terlihat oleh orang lain. Manik mata Jun yang begitu lentik pun mengerling senang.
"Kami? Hm, apa kau pernah mendengar Organisasi Akane?" sosok itu malah bertanya balik. Iris biru Aichi yang menajam karena pengaruh perubahan tubuhnya menautkan alisnya tak paham. Akane? Organisasi?
"Aku tak peduli, kalian mengangguku sejak aku bersenang-senang di bumi. Kalian sangat menyebalkan, Dasar Sampah!" teriak Aichi memaki kedua insan yang di matanya tak lebih dari serangga penganggu. Persetan dengan tahunya mereka mengenai sosok aslinya. Sekalipun mereka menangis di media massa, Aichi yakin tak akan ada yang percaya selama ia bisa menjaga wujudnya.
"Oh, apa kau trauma akan seranganku waktu itu? Sayang sekali, itu masih permulaan saja dari apa yang telah kami rencanakan. Aku, Mutsuki Jun, ketua dari Organisasi Akane, pasti akan mendapatkan apa yang kuinginkan, dan kau merupakan aset berharga untuk mencapai tujuan kami. Tapi sayangnya, kau masih hijau," kata pemuda bermata lentik itu dengan suara setenang mungkin―namun disisi lain terdengar mencekam.
Sial.
Aichi tahu kalau orang kedua yang muncul dihadapannya ini lebih kuat daripada Miwa. Dulu, saat ia berkencan dengan Kai, ia pernah dikecoh oleh ilusinya saat ia hendak ke toilet. Ilusi itu, ia tahu kalau ilusi ruang dan waktu tidak bisa dilakukan oleh makhluk biasa. Bahkan, saat itu Aichi kalah telak darinya. Kenyataan yang membuatnya kesal.
"Aku tak peduli pada organisasi tempat kau tinggal, maksudku kalian ini siapa?! Kalian pasti bukan manusia biasa―"
"Setidaknya kami bukan monster sepertimu," potong Jun cepat membuat Aichi tersentak. Lho, kenapa... kenapa hatinya jadi berdenyut sakit begitu dikatai seperti itu? Semua itu, semua itu benar, 'kan? Bahkan ia tak terpikir ide apapun untuk membalas sindiran itu.
Jun tertawa. "Ah, maaf, aku tidak bermaksud untuk mengataimu, Necro. Bisa dibilang, kami orang yang datang dari masa depan, masa dimana kau selesai dibuat," jelasnya singkat. Aichi langsung terperanga syok.
'O-Orang masa depan!? Ba-Bagaimana mungkin bisa―se-setelah Creator-ku, ternyata ada orang lain yang... Ta-Tapi tunggu, jangan-jangan mereka bersekongkol,' pikir Aichi dalam hatinya. Sepertinya sosok di hadapannya tidak bisa dipandang remeh. Sebisa mungkin ia harus menghindar pertarungan darinya. Ia tidak yakin bisa menang, sihir hitam adalah kelemahan dari dirinya.
Jun kemudian melirik pelan ke arah Miwa yang kesusahan untuk berdiri tanpa niat untuk membantunya. Ia kembali melihat Necro. "Terkejut, hm? Sebagai hadiah atas pertemuan kedua kita, bagaimana kalau kuberi sedikit informasi? Organisasi Akane, tempatku meniti karir, adalah..." katanya terhenti.
Dan kemudian, dapat Aichi lihat seringai menyeramkan sosok itu. "...organisasi kriminal yang paling melejit di masa depan, Zaman Auforhipea. Kami akan menghalalkan segala cara agar tujuan kami tercapai, entah itu membunuh ribuan nyawa manusia, atau menghancurkan satu kota, mencuri barang-barang berharga, dan bahkan..." ia menjedah ucapannya lagi, membuat Aichi sedikit penasaran dengan kelanjutannya.
"Membuat uji coba dengan manusia sebagai kelinci percobaan," kata itu membuat Aichi terperanga syok. Uji coba? Dengan manusia sebagai objeknya? Tidak, semua itu mengingatkannya pada masa lalu yang begitu mengerikan. Ia tak sanggup mengingatnya. Atau―jangan-jangan dia ada hubungan dengan uji coba Necroxirmus-nya dulu? Apa mungkin?
"Pekerjaanmu hina sekali," ledek Aichi tersenyum kecil, alibi untuk menutupi rasa takutnya akan masa lalu yang kembali menghantuinya. Kenangan buruk itu sungguh menyeramkan, dipaksa meminum larutan yang pahit, ditusuk jarum-jarum aneh di sekujur tubuhnya, direndam berbulan-bulan, ia tak sanggup membayangkannya.
Jun tersenyum seakan-akan ledekan Aichi adalah pujian. "Tapi aku menyukai pekerjaan ini, dan kini kami mendapat ide untuk membentuk proyek baru, kami akan sangat senang kalau monster sepertimu nanti mau melihatnya," katanya lagi, terdengar ambigu. Aichi mengernyitkan dahinya. Proyek baru? Persetan dengan itu, tapi apa tujuan mereka ke zaman ini? Dan gerak-gerik mereka yang mendekatinya belakangan ini?
Aichi berkeringat dingin. 'Jangan bilang kalau mereka menginginkanku untuk proyek aneh mereka...'
Jun menghela nafas. "Ya, sudah, mungkin itu dulu yang ingin kukatakan sekarang, aku tak ingin bertarung denganmu," ujarnya lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Miwa yang pada akhirnya berhasil berdiri dengan kedua kakinya yang patah.
"U-Ukh, J-Jun-sama, maaf..." katanya lemah, dengan penuh penyesalan. Tak pernah terpikirkan olehnya kalau ia akan kalah terang-terangan dihadapan bosnya. Miwa sungguh menyesal.
"Nanti pulang, aku akan menghukummu, Miwa. Ayo kita pergi," itulah kata terakhir yang Aichi dengar dari mulut Jun, sebelum akhirnya tubuh keduanya diselimuti gelombang hitam dan kemudian menghilang. Aichi pun tak berniat untuk menghentikan atau mengejar mereka. Mungkin apa yang dikatakan Jun ada benarnya,
Untuk sekarang, cukup seperti ini saja perkenalan mereka.
―NECROXIRMUS―
"Tiga hari lagi?"
Kai hanya mengangguk singkat seraya mengangkat roti panggang ke piring. Sudah lama ia tidak sarapan dengan roti, mungkin ia jadi sedikit rindu dengan rasa manisnya roti yang dipanggang. Kemudian Kai membawa dua piring roti panggang yang merupakan sarapannya dengan Aichi hari ini ke meja makan.
"Wah, aku tidak sadar kalau akan secepat itu," komentar Aichi lalu menyeringai kecil melihat Kai yang tampak berantakan. Bagaimana tidak, lagi-lagi Aichi mengerjainya di pagi hari. Pokonya begitu pemuda berparas dingin itu bangun dari tidurnya, ia sudah melenguh dan merasakan benda hangat yang sedang merajarela di selangkahannya.
"Makan sarapanmu," perintah Kai begitu merasa tidak nyaman dengan tatapan ambigu dari Aichi. Si bluenette tertawa mengejek, tapi kemudian ia pun menurut, memakan sarapan buatan kekasihnya.
Aichi terkejut dengan rasa manis yang mulai dikecap lidahnya. "Manisnya, aku suka roti ini, Kai-kun!" seru Aichi tampak senang, pandangannya menatap roti panggang isi coklat di genggamannya dengan berbinar. Tanpa sadar Kai pun tersenyum melihat kekasihnya menyukai sarapan buatannya.
"Kalau suka, cepat habiskan lalu mandi, jangan sampai terlambat ke sekolah," kata si brunet lalu juga melahap sarapannya. Bedanya, makan Kai jauh lebih cepat. Dalam hitungan detik pun, roti berbentuk persegi itu sudah habis dimakannya. Ia memang sudah terbiasa makan cepat. Entah di rumah atau di sekolah.
Aichi sedikitnya kagum dengan makan kekasihnya yang cepat. Berbeda dengan dirinya yang setengahnya pun belum ditelan. Tapi mendengar kata mandi, iris birunya mengerling nakal. "Kai-kun, bagaimana kalau nanti mandi bersama supaya lebih cepat?"
Kai membulatkan matanya, menatap horror ke arah Aichi yang sudah menyeringai iblis. "Kita, 'kan, sesama laki-laki, jangan pasang wajah seperti itu, deh," komentarnya lalu dengan cepat memakan roti yang menurutnya manis. Agar ia bisa cepat-cepat mandi dan mengerjai lagi kekasihnya.
Kai merengut, ia tahu Aichi memiliki niat tersembunyi dari kemauannya. "Tak mau," tolaknya dingin. Membuat Aichi hampir tersedak rotinya. Lho, jadi Kai menolaknya, nih?
"Hu―uh, Kai-kun jahat! Kau sudah bosan melihat tubuhku?" rengek Aichi meminta penjelasan membuat Kai mengheningkan cipta. Bukannya bosan, justru sebaliknya, ia tidak tahan melihat tubuh seksi kekasihnya. Kai yang dingin dan beku ini tak sanggup menahan nafsu birahinya kalau dengan Aichi.
"Bukan begitu," katanya pelan, lalu masih dengan wajah datar kebanggaannya, Kai pun melangkah menuju wastafel dapur untuk mencuci piring makannya tadi. Aichi memasang wajah senang.
"Lalu, ayo mandi bersama! Lubangku sudah rindu dengan milikmu yang besar ituu~," oh, akhirnya Aichi sendiri yang membuka kedok alibinya. Kai sudah menduga, pasti anak itu meminta bercinta dengan modus mandi bersama. Tapi, walau Kai sangat ingin, ia tidak ingin terlambat sekolah karena asyik menumbukan miliknya ke dalam Aichi.
Jadi―
"Mandi, Aichi. Bukan bercinta," kata Kai, berhasil menolak. Membuat Aichi menggerutu kesal. Pemuda manis itu sudah membaca isi hati Kai dan tahu kalau tidak mau terlambat sekolah merupakan alasan utama Kai menolaknya. Hah, apa boleh buat, akhirnya Aichi mengalah, toh tadi pagi juga sudah sukses mengerjainya, bukan?
―NECROXIRMUS―
Sesosok figur pemuda tampak menatap malas ke arah layar hologram di hadapannya. Sejak kemarin, ia tidak menemukan perubahan sama sekali dalam proyek kebanggaannya. Entah secara eksternal maupun internal. Sementara bawahan setianya, Taishi Miwa, hanya mampu diam melihat raut wajah bosnya.
Miwa menundukan kepalanya sejenak, wajahnya tampak kesal. 'Andai saja aku tidak cacat seperti ini, andai saja aku lebih kuat, te-tentu saja Jun-sama tidak akan kecewa seperti ini!' sergahnya dalam hati. Ia ingin bergerak untuk memata-matai objek penting dari proyek mereka, tapi sayangnya, kondisi tubuhnya sama sekali tidak mendukung untuk itu.
Necro lebih kuat dari bayangannya. Lihat, bahkan kedua kakinya sampai patah dan butuh perawatan rutin agar bisa sembuh total. Ya, memang, dengan teknologi zaman depan, luka patah tulang seperti ini saja bisa ditangani hanya dalam kurun waktu dua bulan. Patahnya tulang pun bisa dipulihkan kembali tanpa bersisa cacat sedikit pun.
Tapi...
Bagi Miwa, dua bulan itu lama! Dan kalau seperti ini, bagaimana kepercayaan Jun padanya selama ini? Ia takut dicampakan, ia tidak mau dibuang!
"Miwa..." Diselah-selah frustasi Miwa dalam hatinya, tiba-tiba Jun memanggilnya. Si rambut pirang langsung mengangkat wajahnya, memasang ekspresi seakan-akan ia tidak memikirkan hal apapun.
"Ya, Jun-sama?" tanyanya balik, siap dengan apapun permintaan maupun argumen yang akan bosnya lontarkan. Jun yang duduk membelakangi Miwa menghela nafas sejenak sebelum kembali berkata.
"Apa persiapan alat di gereja itu sudah siap? Tiga hari lagi, study tour di sekolah Nethelbell akan dilaksanakan, aku harap segala persiapan sudah beres sebelum mereka tiba," ucapnya dengan nada lesuh, dan Miwa sedikit memucat mendengat itu. Bukan, bukannya ia takut persiapan yang ia buat dengan anak buah lainnya tidak beres, hanya saja... ia takut kalau bosnya terlanjur kecewa padanya.
"Tenang saja, Jun-sama, semuanya dalam kendali. Teknologi yang diambil dari kemampuan Emerald di masa depan akan membuat semuanya menjadi praktis, anda tidak perlu khawatir," jawab Miwa masih dalam kekhawatirannya. Dan walau hanya mendengar, kini Jun sadar kalau bawahan setianya itu tampak cemas.
"Baiklah, kalau begitu tinggal mencari Xirmus saja. Biar aku yang mencarinya, kau beristirahatlah," ucapnya dengan senyum lalu membalikan kursinya agar ia bisa melihat sang kaki tangan setia. Ia tahu, kondisi Miwa semakin memburuk. Dan tidak seharusnya sekarang ia tetap berdiri di belakang Jun dan menemaninya.
Miwa membulatkan mata, jadi artinya ia harus duduk manis, sementara bosnya mencari susah payah keluar? Tidak, ia tidak akan membiarkan Jun melakukan itu. "Ja-Jangan, aku bisa mencarinya―"
"Dengan kondisi tubuh mirip rongsokan itu?" potong Jun menyindir. Miwa pun tersentak dan tidak mampu berbicara lagi. Ya, benar, dengan kondisi tubuhnya yang babak belur seperti ini, upaya untuk mencari Xirmus pun kecil. Miwa terlihat tak bisa dihandalkan sekarang.
"Cukup turuti perintahku, Miwa. Atau kau ingin cambuk api kemarin kembali menghukummu?" kata Jun terdengar mengancam dan tidak mau menerima toleransi apapun lagi. Baiklah, walau berat hati, akhirnya Miwa mengangguk patuh. Kembali membalikan kursinya ke hadapan layar hologram, senyum menyeramkan terpancar di wajahnya.
'Tinggal sedikit lagi, upayaku untuk menguasahi segala dimensi dan zaman pun tercapai, aku akan berjaya di abad dan zaman apapun!'
―NECROXIRMUS―
"Ngh..."
Sementara itu, di dalam sebuah mobil Lamborghini yang tengah melaju di jalanan Tokyo, tampak seorang pemuda bersurai pirang yang mengguman nyaman. Tidurnya terlalu nyenyak sejak kemarin malam, sampai akhirnya indera pendengarannya menangkap suara mobil. Lho, memangnya sejak kapan ranjang tidurnya ada ringtone laju mobil?
'Hah? Sejak kapan aku naik mobil?' pikirnya. Jangan-jangan dia diculik? Langsung saja kedua iris violetnya membelalak lebar. Begitu matanya terbuka, yang pertama kali dilihatnya adalah jalanan kota Tokyo yang bergerak ke belakang.
Kemudian kepalanya membelok ke arah stir mobil, dimana terlihat Daigo sedang menyetir mobil kesayangannya itu. "D-Daigo?" panggilnya pelan sembari mengusap-ngusap matanya. Sedangkan pemuda yang lebih tua darinya itu langsung meliriknya dengan senang.
"Eh, kau sudah bangun, Dear? Bagaimana tidurmu?" lalu pandangannya kembali terfokuskan ke depan, berhubung ia sedang menyetir. Jangan sampai ia asyik memandangi wajah tunangannya yang baru bangun lalu mobil Lamborghini-nya malah melesat keluar jalan dan tertabrak.
"Kenapa aku naik mobil? Memangnya kita akan kemana?" tanyanya tampak kebingungan. Ia butuh penjelasan. Masa' bangun-bangun sudah di dalam mobil yang melaju kencang. Sedangkan ia masih ingat terakhir kali membuka mata adalah dimana Leon ingin tidur.
Daigo tertawa pelan. "Tentu saja bekerja, ini masih hari Jum'at, lho..." katanya dengan nada super santai. Leon mengernyitkan dahinya. Ia tahu kalau ini hari Jum'at, tapi kenapa bangun-bangun ia sudah...
"Tapi, tapi..." Leon sendiri kebingungan mau bertanya bagaimana. Ia terus melirik kiri dan kanan, sampai pandangannya tertujuh pada tubuhnya. Nah, lho, pakaiannya sudah terganti menjadi seragam favoritnya saat bekerja, yaitu setelan putih yang menyerupai jas. Rambutnya juga sedikit basah, tubuhnya pun tak terasa lengket lagi.
Ia menatap tajam ke arah Daigo. "Jelaskan apa maksudnya ini," katanya tajam. Ia menebak kalau kondisi tubuhnya ini setelah mandi. Tapi, ia tidak pernah ingat menyentuh kamar mandi setelah tidur kemarin malam. Daigo bergidik ngeri, tatapan Leon yang mengintimidasinya itu sungguh menyeramkan.
"Te-Tenang, aku tidak melakukan sesuatu yang buruk, kok," sahut Daigo berharap kalau Leon tak akan berperasangka buruk kepadanya. Leon merengut kesal, pasti ada sesuatu.
"Cepat katakan apa maksudnya ini, atau kau akan kutendang dari rumahku!" bentaknya kesal. Sepertinya Daigo menyembunyikan sesuatu darinya dan ia tak suka itu. Apa sekarang ia mulai berani melakukan lebih padanya selain ciuman dan peluk?
"A-Aish, jangan begitu, dong. Tadi pagi, aku hanya iseng tidak membangunkanmu dan memandikanmu untuk membuatmu kaget, hehehe. Tapi ternyata kau tidak bangun-bangun juga selama aku memandikanmu, jadi langsung kubawah ke dalam mobil saja," jelasnya dengan wajah tanpa dosa. Kini giliran Leon yang membatu di tempatnya duduk. Di-Dia dimandikan? Dimandikan? Itu artinya, pemuda yang dengan seenaknya menjabat menjadi tunangannya itu dengan seenak jidat membuka bajunya, menyentuh tubuhnya, dan―
JREK.
"Aargh! Sa-Sakit! Ampun, Dear―a-aku 'kan tidak salah apa-apa, memangnya kenapa dengan memandikanmu, hah?" ringis Daigo dengan tatapan tak berdosanya. Tangan kanan Leon yang sudah bersarang di rambutnya kini semakin menarik helaian coklatnya dengan kencang.
"Huh, kau mau tahu apa salahmu, Brengsek? Kau sudah seenaknya menyentuh tubuhku, dan sekarang kau masih bertanya apa salahmu?" tanya Leon balik dengan nada kelam dan sadis. Oke, tingkat kesabaran Leon sudah minus, ternyata sosok di hadapannya ini betul-betul semakin berani padanya.
"A-Ampun, aku tidak akan melakukannya lagi, Dear. Tolong lepas jambakanmu, aku jadi tidak bisa menyetir, nih..." melasnya meminta pengampunan. Leon menatapnya dengan datar. Sebetulnya ia ingin menjambak rambut coklat yang halus itu sampai putus sebagai ungkapan kekesalannya. Tapi berhubung Daigo sedang menyetir, akhirnya ia melepaskan tangannya.
"Kumaafkan," tuturnya dingin lalu melipat kedua tangannya dan membuang muka. Daigo menghela nafas, untung saja rambut kesayangannya itu tidak benar-benar gundul oleh Leon. Walau di dalam hatinya sedang senang setengah mati karena ini pengalaman pertamanya menyentuh tubuh tunangannya itu.
"Ne, Dear..."
"Apa lagi?" tanya Leon dengan ketus, tanpa niat untuk memalingkan mukanya ke arah Daigo.
"Lihat, 'kan, kotak coklat yang ada di depanmu?" tanyanya, membuat Leon yang sedari tadi memejamkan mata pun mulai melihat ke arah pangkuannya. Benar, ada kotak―semacam kotak bekal di pangkuannya. Si pirang mengambil kotak makan itu.
"Ini..." belum sempat Leon bertanya, Daigo sudah dulu memotong ucapannya.
"Sarapanmu, tadi 'kan tidak mungkin aku menyuapimu yang sedang tidur, jadi kubawa itu untuk kau makan saat bangun. Ayo sarapan dulu, nanti keburu dingin," kata Daigo perhatian walau pandangan matanya tetap terfokus ke depan. Ia tidak menyadari kalau wajah datar Leon kini mulai muncul semburat merah di pipinya.
Tlek.
Leon membuka kotak berwarna coklat itu, dan ternyata di dalamnya sudah ada sebuah roti bakar yang masih hangat. Entah kenapa, hatinya yang dingin itu berteriak bahagia melihatnya. Sudah sejak Daigo tinggal di rumahnya, ia memang terbiasa memakan sarapan buatan Daigo karena pemuda itu lebih cepat bangun daripada dirinya. Tapi ini... Sekalipun tadi ia sudah melakukan tindakan yang termasuk pelecehan pada Leon, ternyata Daigo masih memikirkan makannya.
"Terima kasih,"
"Eh? Apa? Kau bilang apa?" tanya Daigo yang merasa suara Leon tadi terlalu kecil untuk berucap. Ia tak mendengar jelas apa yang diucapkan tunangan kesayangannya itu. Leon merengut kesal, dan tanpa sadar wajahnya semakin memerah.
"Kubilang, terima kasih," ulang Leon, kini suaranya lebih tegas dari yang tadi. Mungkin ia gengsi untuk berterima kasih pada orang yang hampir dicap-nya mesum itu. Daigo tertawa ringan mendengarnya.
"Sama-sama, Dear..." balas Daigo tersenyum tulus.
―NECROXIRMUS―
Aichi memasuki kelasnya begitu selesai diantar Kai. Fiuh, untungnya ia tidak datang terlambat. Guru yang mengajar pun belum tiba, hanya saja seluruh murid kelas itu hampir utuh. Dengan langkah santai, 'perempuan' manis satu ini pun berjalan menuju tempatnya duduk. Iris birunya yang lembut melirik ke murid-murid sekitarnya,
"Heh?" sampai pandangannya tertuju pada kursi milik Taishi Miwa yang kosong, Aichi pun menyeringai sadis. "Khihihi, serangan kemarin rupanya memberi pelajaran bagus untuknya, semoga saja ia cepat mati!" umpatnya dengan suara kecil. Ia tahu kalau murid misterius itu ditempatkan di kelas yang sama dengannya―entah kebetulan atau ia membawa pengaruh sihir hitamnya―.
"Hah, kalau seperti ini, kehidupanku jadi damai..." keluh Aichi kemudian bertopang dagu. Ya, senang, sih, stalker dari masa depan itu sudah berhenti―untuk sementara―membuntutinya. Tapi pemuda berwajah manis ini sebetulnya bosan dengan hidup monoton. Apa mungkin ia sengaja berbuat onar di sekolah saja supaya lebih asyik? Tidak, ia lebih terlihat seperti anak yang cari perhatian dan Aichi tak suka itu.
WHING.
Pintu automatic kelas kembali terbuka, membuat seluruh murid yang telah mengisi ruangan pun memandangi seorang guru―beserta sekretarisnya―masuk ke dalam kelas. Beberapa murid wanita yang diam-diam mengidolakan guru muda itu pun menjerit tertahan.
"Morning, all!" sapa guru bersurai coklat itu ramah. Dan murid-murid disana pun menyapanya balik dengan formal. Pandangan Aichi tertuju pada si sekretaris yang berwajah datar, yang sekarang berjalan menuju meja guru untuk meletakan tumpukan kertas yang entah apa itu. Kakak kembarnya, yang kini hanya bisa dipandang Aichi dari kejauhan.
Senyum lembut terukir di wajah Aichi, tidak seperti biasanya yang memasang senyum mengintimidasi. Ia senang melihat Leon yang terlihat sehat-sehat saja, sejujurnya Aichi sudah khawatir setengah mati kemarin-kemarin saat insiden di cafe waktu itu. Tapi sekarang, walau Leon sepertinya menghindari kontak mata dengannya, Aichi sudah bersyukur pemuda itu baik-baik saja.
Ia memang masih belum menguak misteri akan perbedaan waktu mereka datang, dimana hal tersebut adalah alasan utama Leon menjauhinya. Tapi cukup seperti ini saja, si bluenette sudah senang. Aichi berharap ia bisa menggali misteri-misteri yang terkubur akan Necroxirmus, lalu suatu hari bisa hidup bahagia dengan Leon, dunianya, juga...
...kekasihnya, Kai Toshiki.
―NECROXIRMUS―
Klik.
Aichi, aku ada rapat. Jadi jangan datang ke kelasku.
Kai.
Aichi cemberut begitu memandangi pesan singkat di ponsel birunya. "Haah, kenapa Kai-kun harus rapat segala, sih, aku 'kan jadi tidak bisa mendekatinya," gerutu Aichi dengan suara kecil. Ia tengah bersender pelan di koridor sekolah yang ramai karena jam istirahat. Tadinya, pemuda bersurai biru ini sudah siap berjingkrat-jingkrat ke kelas Kai tahu jam istirahat sudah tiba. Tapi begitu keluar kelas, ia pun menerima pesan itu.
Pesan yang seakan menertawainya karena sekarang Aichi terlihat menganggur dan sendirian. Hei, Aichi benci menganggur seperti ini. Dapat Aichi rasakan tatapan aneh dari beberapa murid wanita yang berlalu lalang di koridor, yang hanya dibalas dengan tatapan tajam Aichi. Hei, sepopuler apa, sih, Kai di sekolah ini? Sampai-sampai ia selalu menjadi bahan pembicaraan murid Nethelbell sampai sekarang.
'Fuh, aku ke taman belakang saja, deh. Lagipula disana sepi dan aku bisa menyendiri,' batin Aichi kemudian memasukan ponsel itu ke saku rok hitamnya. Dan kemudian berjalan cepat menuju taman belakang sekolah―sekalipun itu jauh berhubung Nethelbell sangatlah luas.
Ia berjalan riang menelusuri tangga untuk turun ke lantai bawah, baru kemudian ke taman sekolah yang berjarak tiga puluh meter dari tangga tempatnya naik. Tapi begitu berbelok, tanpa sadar iris Aichi tertuju pada punggung seseorang yang sedang berjalan jauh di koridor lantai bawah. "Heh? Itu, 'kan..."
Kemudian mata Aichi membulat horror. Punggung yang ditutupi rambut merah panjang itu, sepertinya ia tidak asing. Juga mendadak suasana disekitarnya menjadi mencekam. Seumur-umur, Aichi tahu kalau rambut merah itu hanya milik...
"C-Creator-sama!" seru Aichi pelan sembari menutup mulutnya. Ternyata, ternyata surat pemberitahuan yang diberitahukan pemuda waktu itu tidak salah. Aichi bisa merasakannya sendiri, tidak salah lagi. Orang yang tengah berjalan membelakanginya itu adalah pembuatnya. Langsung saja kedua kaki mungil Aichi yang berbalut sepatu wanita berlari untuk mengejarnya.
'Kenapa Creator-sama bisa disini!? Ja-Jangan-jangan Kenji yang waktu itu adalah bawahannya? Lalu ia memberitahukanku yang merupakan karyanya ini kalau dia datang!?' berbagai pertanyaan mulai hanyut dalam pikiran pemuda berbusana wanita itu. Ia merasa kakinya yang sekuat besi ini lemah untuk mengejarnya. Jarak mereka tetap tidak mengecil. Padahal figur berambut merah itu berjalan saja.
Tap. Tap. Tap. Tap.
'A-Aku harus menemuinya! Aku harus menanyakan kebenarannya! Kenapa aku dan Xirmus datang ke zaman ini dalam waktu yang berbeda, ya, dia pasti tahu semua itu!' seru hati Aichi bertekat kuat. Kini dilihatnya rambut merah itu menghilang di belokan. Beruntung Aichi masih berkonsentrasi untuk melihatnya. Tanpa pikir panjang, ia pun langsung berlari ke belokan itu agar tidak kehilangan jejak.
Tap. Tap. Tap. Tap.
Tidak dipedulikannya tatapan aneh dari sekitar, Aichi terus berlari. Berhasil, ia masih tidak kehilangan jejak pemuda yang cukup tinggi itu. Tapi belum sempat bersorak, sekarang wujud itu kembali menghilang di bekolan berikutnya―yang terpaut cukup jauh. 'Sial, cepat sekali larinya!' umpat Aichi sedikitnya lelah.
Tep.
Langkah Aichi pun terhenti begitu selesai mencapai tikungan lorong dimana tadi sang Creator menghilang. Pemuda berambut manis itu menarik nafas dalam-dalam. Pandangan birunya melihat ke depan, dimana sosok yang dicarinya ternyata berdiri di depan pintu besar menuju halaman belakang. Senyum terpancar di wajahnya.
Kaki Aichi kembali melangkah, apalagi sosok berambut merah itu berhenti berjalan dan terus diam disana. Jadi ia tidak perlu berlari susah payah seperti tadi agar tidak kehilangan jejak. Dan sekarang jarak mereka semakin menipis, Aichi sudah tidak sabar untuk bertanya banyak padanya.
Jarak mereka tinggal satu meter, tapi sepertinya sosok itu tidak menyadari keberadaan Aichi di belakangnya. Ia terus diam di posisinya. Aichi meneguk ludah. Padahal sekarang ia tinggal memanggil dan bertanya. Tapi entah kenapa jantungnya berdebar kencang. Hatinya tanpa sadar menjadi takut.
'Duh, Aichi, kenapa kau jadi pengecut seperti ini, kau cukup panggil dia sekarang―ukh,' Aichi malah berdebat dengan pikirannya sendiri. Tangan kanannya yang bergetar terulur perlahan-lahan, berupaya untuk menyentuh bahu orang itu sebagai pengganti suaranya yang tak mau memanggil.
Tuk.
Jari telunjuk Aichi menyenggol bahu pemuda itu yang berbalut seragam hitam Nethelbell. "Anu," dan sekarang mulut mungil Aichi berhasil berujar. Rambut merah panjang itu bergerak sedikit mengikuti gerakan pemiliknya. Dan sekarang sosok itu berbalik.
Deg.
Jantung Aichi berdegup kencang begitu tubuh yang lebih tinggi darinya lima belas sentimeter itu berbalik. Dan kini iris bluenette-nya bertubrukan dengan iris crimson sang Creator. Wajah itu, ya, Aichi tidak asing lagi.
"E-E..." belum sempat Aichi berujar, sosok itu menggaruk belakang kepalanya lalu tersenyum ramah kepada Aichi, membuat pemuda manis ini salah tingkah.
"Lama tidak berjumpa, Necro, maha karyaku yang cantik," katanya dengan senyum manis yang tak lepas dari bibirnya. Bukannya membalas senyuman itu, Aichi hanya memasang wajah datar untuk menutupi kegugupannya.
"C-Creator-sama," ucap Aichi pelan. Senyum ramahnya tak pernah berubah sejak pertama kali Aichi membukakan mata, saat Aichi selesai dibuat dan resmi menjadi Necroxirmus.
"Eh, jangan formal seperti itu, ne, Necro. Panggil saja aku Ren," katanya lalu menarik pergelangan tangan Aichi menuju taman belakang sekolah yang memang sepi sekali―sekalipun itu jam istirahat―. Aichi sendiri bingung harus bersikap seperti apa, pada akhirnya ia mengikuti tarikan Ren pada tangannya menuju salah satu kursi taman yang kosong.
"Duduklah, kita berbincang sebentar sebagai pertemuan kedua kita, hehehe," ujar Ren begitu mempersilahkan Aichi untuk duduk. Sedangkan pemuda manis yang tak kenal kata romantis itu hanya duduk sekenannya. Ren pun menyusul duduk di samping Aichi.
"Kenapa Anda kesini? Maksudku, ke zaman ini?" tanya Aichi to the point. Ia tak mau membuang banyak waktu seperti berbasa-basi atau sejenisnya. Lagipula ia terlanjur penasaran, rasa gugupnya perlahan mencair karena sikap ramah Ren padanya.
Ren pun memalingkan wajahnya ke arah Aichi, pujaan hatinya. "Ahahaha, sepertinya banyak yang ingin kau tanyakan padaku, ne? Dan juga, banyak hal yang ingin kuceritakan padamu, Necro," ucap Ren dengan nada lembut, membuat Aichi membulatkan matanya. Oh, ternyata, tanpa perlu dipancing, ikan besar sudah ia dapat.
Aichi memasang raut wajah serius ke arah Ren. "Kumohon ceritakan padaku, banyak hal yang tidak kuketahui selama ini," katanya tak main-main. Si crimson yang melihat keseriusan di wajah sang pujaan hati pun menghentikan senyumannya sejenak.
"Tentu saja,"
Dan tanpa disadari Aichi, kalau mereka berdua justru ketahuan oleh orang-orang yang tidak mengenakan. Beberapa pasang mata wanita menatap tajam ke arah dirinya, dari jarak yang cukup jauh.
"Huh, kau lihat itu? Pacar Kai Toshiki rupanya wanita jalang, dan sekarang ia sedang menjual dirinya pada orang lain, hahahahaha!"
"Apa-apaan, sementara pacarnya tidak ada, dia justru bermesra-mesraan dengan Suzugamori-kun!"
"Apa boleh buat, Suzugamori-kun 'kan murid baru yang juga diidolakan, pantas saja wanita murahan itu mengincarnya, hahahaha!"
Dan kemudian wanita-wanita licik itu terdiam. Mereka memandang satu sama lain bergantian dan menyeringai sadis.
"Ayo kita laporkan pada Kai Toshiki," katanya, lalu sekumpulan gadis-gadis itu menghilang di tengah kerumunan siswa yang berlalu lalang.
―NECROXIRMUS―
Tidak hanya wanita, melainkan pemandangan Ren dan Aichi itu juga disaksikan oleh orang lain. Dan orang itu tengah melihat keduanya dari ruangannya yang sepi. Leon meletakan permukaan tangan kanannya pada kaca jendela, tanpa sedetik pun melepas pandang pada objek yang sedang dilihatnya. Pembuatnya, juga adik kembarnya, keduanya sedang berbincang di taman belakang sekolah.
Dan entah mengapa pemandangan itu membuat si pirang sedikit geram.
Krrt.
Suara cakaran yang ditimbulkan dari kuku-kuku tangan Leon dan kaca itu menciptakan bunyi yang tidak mengenakan. Sementara sepasang violetnya menatap kosong ke luar jendela. Rupanya benar, sang Creator sama sekali tidak mempedulikannya, ia hanya karya gagal yang dibuang, atau bahkan dimanfaatkan Ren untuk ambisinya.
Memikirkan itu, hati Leon kembali dingin seperti mesin. Bisa dilihatnya Ren tertawa ramah ke arah Aichi, memperlakukannya seakan-akan ia adalah permata yang istimewa dan sangat berharga. Lalu, apa Leon yang juga karyanya tak lebih dari sampah? Walau tidak ingin, hatinya menjadi kacau dan benci.
Tok. Tok. Tok.
"Hah?" Leon kembali tersadar dari pikirannya begitu mendengar suara ketukan pintu di ruangan―milik Daigo lebih tepatnya―itu. Ia melirik datar ke arah pintu automatic lalu mengernyit dahinya sebal. Biasanya Daigo akan langsung masuk ke ruangannya tanpa ketuk atau salam terlebih dahulu. Lalu apa sekarang anak itu mau menjahilinya lagi?
"Masuk saja," kata Leon tak minat lalu kembali menghadap ke arah jendela ruangan yang memang sangat besar.
WHING.
Indera pendengarannya pun mendengar suara pintu terbuka, dan langkah orang masuk ke dalam ruangan. Tapi mendengar langkah itu, Leon merasa ganjil. Ia hafal betul langkah-langkah orang di sekitarnya secara detail, dan sekarang ia bisa merasakannya dengan jelas...
CKLEK.
...ini sama sekali bukan langkah kaki Daigo, bukan langkah kaki kepala sekolah maupun guru, juga bukan langkah kaki semua muridnya. Wajahnya memucat, dengan perlahan ia membalikan badannya kembali, dan disana ia menemukan seorang pria dengan mata lentik yang menatapnya dengan tenang.
"Siapa kau!?" seru Leon sedikitnya terkejut begitu menemukan pria asing masuk ke ruangan ini. Seingatnya, ia tidak pernah mendapat tugas dari kepala sekolah kalau ada klien seminar dari sekolah lain. Lantas siapa pemuda di depannya ini?
"Santai saja, aku bukan orang jahat," katanya lalu tersenyum tenang. Leon semakin curiga padanya, walau tak seharusnya ia seperti itu―barangkali dia adalah tamu dadakan?
"Ada keperluan apa kesini? Kalau kau ada perlu dengan Daigo-san, dia sedang tidak ada disini," kata Leon pelan, masih dengan wajah datarnya. Kini giliran pemuda di hadapan Leon yang mengacungkan jari telunjuknya.
"Ck, ck, ck, tidak, aku tidak ada keperluan apapun dengannya, justru orang yang ingin kutemui ada di hadapanku," katanya lalu memainkan sebentar rambut kelabunya. Leon menautkan alisnya. Maksudnya yang ingin ditemuinya itu Leon? Tapi seharusnya Leon tak mengurus apapun soal tamu karena jabatannya yang sudah turun.
"Maksudmu?" tanya Leon to the point. Dan sekarang dilihatnya pemuda yang lebih tua darinya itu maju mendekatinya.
"Aku ingin bertemu denganmu, Souryuu Leon―ah, bukan, maksudku, Xirmus," katanya dengan senyum ramah. Dan hal itu membuat Leon syok seketika di tempatnya berdiri. Reaksi yang ditunggu Jun―si pemuda bermata lentik―, dan ia tersenyum puas dengan reaksi Leon.
"Aku tidak mengerti sama sekali apa yang kau bicarakan," balas Leon berusaha untuk tenang dan kembali pada wajah stoic-nya. Persetan dengan orang di hadapannya ini, bagaimana bisa ia tahu kalau Leon adalah―tidak, si pirang sama sekali tidak mau mempercayai ini.
"Ayolah, jangan mengelak lagi, Xirmus. Berita tentang Necroxirmus itu sangat populer, kau tahu? Aku mencari-carimu dan ternyata kau ada di zaman kuno ini," kata Jun menyeringai senang. Leon pun berkeringat dingin. Otaknya sedang berpikir dan menganalisa darimana asalnya orang ini. Dilihat dari pakaiannya, juga kalimatnya barusan...
Leon memicing matanya tajam. "Kau... orang masa depan?" tebaknya dengan penuh keyakinan. Dan kini giliran Jun yang tersenyum kecil dan meraih dagu Leon lalu mengangkatnya pelan.
"Benar sekali, Xirmus..."
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
A/N: Here is it, fanfict yang update-nya paling terakhir dari semua jadwal update, maafkan keterlambatan update kami, oke? :D Karena yang buat chapter ini itu hanya Saki, jadinya shounen-ai/yaoi-nya nggak berasa sama sekali, maaf ya bagi yang nungguin lemon. Nanti saya (Saki) tagih ke gane, deh :p *geplaked*. Karena Ren-chii dan Ai-chii belum pernah ketemuan, finally akhirnya di chapter ini mereka ketemu jugaaa! *dibanting Kai* Terima kasih atas dukungan kalian semua lewat review, tanpa kalian, fanfict ini pasti tidak ada apa-apanya X-) *smilee*
Kepada semua reviewers, terima kasih banyak ne! Saya senang sekali membaca respon-respon dari kalian, hehehe! Gomenasai, saya tidak bisa balas satu-satu karena jadwal kuliah yang tidak mendukung, tapi semoga update-nya fict ini bisa membuat kalian semua senang! Jangan sungkan review lagi, ya? *smile*
Special Thanks
Bluegirl02. Reini, Shiranui, Watanabe Mayuyu, Crucraker, Koteul, Wenda, Yuuyuuyuu, Yun Mei Ho, Rafa' Ranmaru, Snowy Coyote, Kiriyuu Natsume, Rikagii Fujiyama, Laruku tsuyumu, Springers, Aichi Marronver, dan kamu-kamu yang sudah baca! ;)
