Part 10: Cinta yang Aku Inginkan

Length: Chaptered

Rating: PG13

Genre: Romance, Angst, Friendship

Main Cast:

Uzumaki Naruto

Hyuuga Hinata

Inuzuka Kiba

Enjoy!

Kiba sedang duduk di meja makannya, lengkap dengan semangkuk sereal di hadapannya. "Aku bertaruh kau sedang memikirkan sesuatu, ya kan?" suara seorang gadis membangunkan Kiba dari lamunan singkatnya. Kiba mendongak dan melihat kakaknya sedang tersenyum.

Wanita muda itu menarik sebuah bangku ke samping adiknya dan duduk. "Kau tampak tidak begitu baik, aneki." bocah itu terkekeh sebelum menyendokkan serealnya, mengunyahnya perlahan. "Kau terlihat tidak kalah buruknya, Kiba." jawab kakaknya tak mau kalah, mendesah keras-keras dan merebut sereal Kiba.

"Aku baru pulang dari Paris dan itu yang kau katakan padaku? Benar-benar adik yang baik," protes si gadis sambil mengunyah sarapan adiknya. "Diamlah, Hana-nee," gerutu Kiba pada kakak perempuannya. "Kau tidak merindukanku? Maksudku kita bahkan tidak bertemu saat tahun baru kemarin," omel Hana. Sang adik hanya tersenyum menyeringai, dan memperoleh sebuah pukulan di jidat dari sang kakak.

Kiba berdiri, memakai sepatunya dan membanting pintu rumahnya – bukan cara terbaik untuk keluar dari rumah di Sabtu pagi yang indah. Kiba memasukkan tangannya yang tergenggam ke kedua saku celana jeansnya dan berjalan sambil menunduk, memandangi sepasang sneaker Nike yang dibelikan kakaknya selama bekerja di Paris sebagai desainer pakaian.

"Kakak dan hadiahnya yang bodoh," Kiba diam-diam mengumpat, namun tiba-tiba berhenti. Ia mendongak dan melihat seorang bocah dengan sepasang mata biru safir dan rambut pirang menatapnya tajam. Tubuhnya yang kurus tampak jelas dibalik kaus berwarna oranye itu, dan rompi hitam itu tak bisa menyembunyikan tubuhnya yang kecil dan kurus. Celana jeans panjangnya bahkan terlihat agak kebesaran, dan satu-satunya hal yang pas untuknya adalah sneaker hitam yang dikenakannya.

Naruto, dengan tangki penyiram yang ada di tangannya, menatap tajam langsung ke mata Kiba sebelum kembali menyiram bunga merah yang ada di hadapannya. Kiba ingin membiarkan bocah ini dan langsung ke tujuannya semula – rumah Hinata – namun sepertinya ia tak bisa melewatkan pertemuan yang satu ini.

"Naruto," panggil Kiba, dan melihat bocah pirang itu mendongak sebentar, sebelum kembali menunduk untuk menyiram bunga merah itu. "Apa yang terjadi dengan kita?" tanya Kiba, kakinya yang panjang melangkah ke seberang menuju rumah temannya itu. Naruto hanya menggeleng dan langsung melanjutkan aktifitasnya.

"Jadilah seorang pria dan berhenti menghindariku, dasar pengecut!" umpat Kiba, kata-katanya seperti racun untuk Naruto. Naruto tertawa kecil sebelum ia menempatkan tangki penyiram metal itu di tanah dan menatap Kiba. "Bagaimana kabar pacarmu yang cantik? Apakah baik-baik saja? Masih suka berlaku mesra dan mengirimimu bunga?" Naruto tersenyum menyeringai seraya ia menunduk, poninya yang berantakan menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.

Kiba bisa melihat Naruto yang tersenyum mengejek, dan merasa terhina akan kata-kata dan gerakan tubuhnya. "Apa maksudmu, hah?" tantang Kiba, membuka pintu gerbang putih itu dengan kasar lalu menghampiri laki-laki yang dulunya sempat menjadi sahabatnya itu. "Beritahu aku, Kiba. Kapan kalian berdua mulai berkencan?" tanya Naruto, bibirnya masih menyeringai.

"22 Desember," jawab Kiba sebelum melanjutkan, "Dengar, itu tidak masalah bukan? Kupikir kita sudah melupakan masalah ini! Bukankah sudah jelas tentang siapa yang ia cintai, benar kan?" Naruto menggeleng kepalanya setelah mendengar jawaban temannya lalu mendongak, akhirnya matanya bertemu dengan mata Kiba.

"Ia datang padaku pada tanggal 23 Desember dan kami berciuman," balas Naruto, seraya mengangkat alisnya. Kiba tampak kesal atas kepribadian Naruto yang berubah dan fakta yang baru saja dinyatakan olehnya. Ia ingin percaya bahwa kalimat yang diutarakan Naruto barusan hanyalah bohong, namun tak bisa melupakan saat-saat itu begitu saja – saat Hinata dengan enggan menciumnya, saat gadis itu merasa tak nyaman ketika ia memeluknya, dan saat Hinata menarik tangannya di saat ia menggandengnya.

Kiba tak bisa menahan amarahnya lagi. Dalam sekejap mata, tangan kanannya sudah menggenggam erat ujung kerah kaus oranye Naruto. Otot Kiba tampak jelas terlihat dan ia bisa merasakan panas menjalar ke pipinya. "Beraninya kau bicara begitu tentang pacarku," ancamnya.

Naruto hanya menatap Kiba dengan wajah tanpa ekspresi sementara Kiba masih menggenggam kausnya. Amarah makin membakar Kiba saat ia menatap wajah Naruto, dan ia mendorong Naruto sekuat tenaga karena emosi. Ia mengumpulkan segenap tenaga yang ada di dalam dirinya dan mendorong Naruto begitu kuat – dan bocah pirang yang kurus itu terjerembab ke tanah.

Naruto terjatuh di atas sebuah pot bunga miliknya, dan berat badannya cukup berat untuk memecahkan pot itu. Ia bisa merasakan pecahan keramik itu menusuk telapak tangannya. Naruto berdiri, memandangi kedua telapak tangannya dan meringis – terasa begitu perih karena luka yang terbuka dan darah yang mulai mengalir dari luka itu.

Kiba yang merasa panik langsung menghampiri mantan sahabatnya itu dan mencoba meraih pergelangan tangannya untuk melihat luka Naruto. Ia tak tahu apa yang merasukinya, dan ia benar-benar merasa menyesal. Ia tahu bahwa Naruto adalah seorang yang begitu rapuh – saat mereka dulu bermain sepakbola di sekolah dasar, Naruto akan menangis saat melihat darah setelah ia jatuh terpeleset, dan Kiba yang akan merawat luka-lukanya.

"Jangan sentuh aku,"

Kiba mendongak dan melihat Naruto yang menarik tangannya dari genggaman Kiba. Ia tak menatap mata Kiba, tapi malah berjongkok untuk membersihkan sisa-sisa potnya. Naruto mendongak untuk menatap Kiba.

"Kau harus pergi, aku tidak ingin Hinata khawatir gara-gara kita bertengkar karena urusan sepele," Naruto menarik napas panjang, berdiri lalu berjalan masuk ke rumahnya. Kiba menoleh ke jalanan, dan mendapati Hinata yang tampak sangat khawatir dan lelah menghampiri rumah Naruto.

Mereka berdua melihat sosoknya yang bagaikan bidadari berlari ke arah mereka, tubuhnya yang mungil tampak seperti melayang. Naruto hendak masuk sebelum gadis itu sampai, namun Kiba meraih pergelangan tangannya – tak ingin Naruto masuk.

Betapapun kuatnya Naruto, ia bukanlah apa-apa dibandingkan Kiba – bagaimana bisa seorang bocah yang kurus melawan bocah yang lebih besar dan berotot?

"A-apa yang kau lakukan disini? Dan apa yang terjadi?" Hinata menarik napasnya saat ia berhenti tepat di depan gerbang rumah Naruto, tidak masuk. "Aku, tidak, kupikir kami butuh penjelasan darimu," jawab Kiba singkat – bibirnya tersenyum meskipun ia sedang menghadapi cobaan yang berat.

Jantung Hinata seakan langsung berhenti berdetak mendengarnya. Ia tak membayangkan Kiba, maupun Naruto, untuk menginginkan sebuah penjelasan darinya. Ia hanya berencana untuk bertemu Kiba dan minta dihibur, setelah kemarin melalui malam yang cukup berat untuknya setelah dihabiskan untuk mengenang masa lalu. "Bukan aku, dia yang minta," Naruto menggertak dengan kasar, mencoba untuk melepaskan cengkeraman Kiba.

"P-penjelasan apa?" tanya si gadis muda, namun sebenarnya mereka bertiga tahu apa yang harus dijelaskan olehnya.

"Siapa sebenarnya yang kau cintai? Aku, atau dia." tanya Kiba, senyum yang lembut masih terpajang di wajahnya. Ia tahu kalau Naruto, meskipun penampilannya tampak lembut, merupakan orang yang keras kepala. Di tambah Hinata yang masih kekanak-kanakkan yang mudah marah. Kiba harus jadi pihak yang berkepala dingin disini.

"A-a-aku-," Hinata gemetar, mulai melangkah mundur dari gerbang. Ia tak tahu apa yang harus dikatakan. Ia tahu bahwa penjelasannya akan melibatkan tiga orang pria paling penting dalam hidupnya – yang pertama sudah pergi dan membawa serta hatinya, yang kedua yang dapat menghiburnya, dan yang terakhir yang paling spesial.

Yang terakhir begitu spesial untuknya, namun ia tak tahu mengapa. Hinata tahu bahwa dia adalah orang yang tepat untuknya, namun ia mencoba untuk menghindarinya. Ia tahu bahwa yang terakhirlah yang bisa membuatnya bangkit, menambal lukanya, dan menanam cinta di hatinya.

Yang terakhir yang bisa menyembuhkannya dari semua kesedihannya.

"Naruto,"

TBC

Note:

Konnichiwaaa!

Gomen ne, dengan sangat menyesal saya katakan bahwa saya akan hiatus selama sebulan atau lebih ^^ (read: sampai selesai unas)

Arigatou Gozaimasu,

Bakaprincess

Nb: Terimakasih sudah menanggapi FFku. Review kalian sungguh berharga!