"Maze"
.
.
A ChanHun Fanfiction by Halona Jill
.
.
.
Malam hampir sampai pada ujung waktunya, udara dingin berhembus siap menyerang siapa saja yang ada di luar ruangan hingga tubuh mereka menggigil dan gigi bergemeretuk. Dibalik indahnya salju yang akan turun nanti, atau betapa orang-orang di negara tropis mengidamkan musim dingin datang di negeri mereka. Manusia-manusia di sini berulang kali mengutuk hal yang sama; sifat jahat musim dingin.
Seorang pemuda diam di tempat yang sama hampir dua jam lamanya, mengabaikan napasnya yang mulai tersengal dan jemarinya yang menggigil dibalik saku parkanya yang cukup hangat. Menunggu seseorang yang tak kunjung tiba, sesekali menatap ke arah rumah di bagian paling atas, mendapati lampu-lampu di sana tidak menyala.
Chanyeol yakin Sehun belum pulang, tapi kemana perginya pemuda manis itu di jam-jam seperti ini. Jam dua pagi.
Apa dia benar-benar menghindari Chanyeol?. Bisa jadi. Chanyeol teringat Sehun di koridor tadi sore, dia berkata pada Chanyeol untuk tidak datang padanya. Jika itu memang serius diucapkan, Chanyeol mengerti kenapa sampai detik ini Sehun tidak terlihat juga.
Tapi apa ini masuk akal, hanya karena menghindari Chanyeol, Sehun tidak pulang ke rumah. Lalu di mana Sehun sekarang? Apa dia punya tempat lain untuk berlindung dari kejamnya udara dingin? Apa dia sudah terlelap dan tenggelam dalam mimpi?.
Terlalu banyak pertanyaan dan Chanyeol mengerang kesal menghadapi sekelumit benang kusut dalam kepalanya. Dia tidak pernah menyangka hubungannya dengan Sehun akan jadi serumit ini. Bukan hubungan seperti ini yang ada dalam bayangannya. Sekalipun mereka menghadapi masalah, dalam bayangan Chanyeol itu bukan karena kesalahan mereka berdua, tapi ketidaksetujuan keluarga.
Nyatanya hubungan yang sudah dibina empat bulan penuh gula-gula itu sirna seketika hanya dalam hitungan hari dan melebur nyaris tak bersisa.
"Hei nak! Sedang apa di situ?!"
Chanyeol tersentak dan secara spontan melindungi wajahnya dari lampu senter yang diarahkan seorang pria paruh baya padanya; mekanisme pertahanan diri yang lahir secara alami untuk melindungi matanya yang sedikit sensitif terkena cahaya berlebih, Chanyeol mengalami cacat mata di usia lima tahun, dan normal kembali setelah melakukan lasik beberapa tahun yang lalu.
"Kau pelajar? Untuk apa malam-malam masih berkeliaran?" dia seorang polisi. Chanyeol mengetahuinya dari seragam patroli yang dikenakan pria paruh baya itu.
"Menunggu temanku pulang, kami tinggal bersama di sana," Chanyeol menunjuk rumah sewa milik Sehun. "Mungkin anda melihat pelajar seusiaku di jalan saat patroli?"
Polisi itu berpikir sejenak, mencoba mengingat siapa saja yang ditemuinya saat patroli tadi. "Ah, ada—" ujarnya menggantung, Chanyeol tidak bisa menyembunyikan binar harapan di matanya. "Tiga orang, dan aku sudah menyuruh mereka untuk segera pulang," sebelum kalimat yang keluar dari mulut Polisi ini menenggelamkan harapannya.
"Baiklah, terima kasih," Chanyeol membungkuk memberi hormat. "Barangkali anda akan melanjutkan patroli? Maaf mengganggu waktu anda."
Polisi itu mengangguk, menyalakan kembali lampu senternya dan merapatkan jaketnya kemudian pamit untuk melanjutkan patrolinya. Meninggalkan Chanyeol sendirian, dan pemuda itu kembali melihat angka pada arlojinya.
02.38
Sehun belum datang.
.
Chapter 11 : Apakah Ini Akhir atau Awal Bagi Kita?
(Sorry for typos)
.
Sekolah jauh lebih menjemukan menjelang ujian akhir, itu adalah waktu di mana anak-anak peringkat atas akan semakin gila dengan buku dan berbagai teori yang mereka dapatkan dari hasil belajar di sekolah, di tempat les, dan di rumah. Sedangkan mereka yang kurang cerdas akan mulai sadar diri dan memenuhi perpustakaan untuk mengejar ketertinggalan.
Beda dengan apa yang dilakukan Chanyeol. Datang sebagai orang pertama di kelas, Chanyeol menghabiskan energinya dengan mengelilingi sekolah hanya untuk mencari Sehun, barangkali saja bisa menemukan pemuda manis itu di atap sekolah, tempat mereka sering menghabiskan waktu bersama dan bercumbu disana.
Tapi tempat itu kosong, hanya ada dua kursi kayu usang dan satu sofa panjang yang entah sejak kapan ada disana, mungkin pihak sekolah sudah tidak membutuhkannya hingga ada beberapa murid lain yang berinisiatif membawanya ke sini.
Menuruni tangga terburu-buru, kakinya yang jenjang membawa Chanyeol ke halaman belakang sekolah dan di sana dia hanya menemukan tukang kebun. Lapangan basket kosong sebelum akhirnya dipenuhi murid-murid tingkat dua yang akan memulai pelajaran olahraga di jam pertama. Ruang kesehatan, ruang klub musik, kantin sampai ruang ganti tim futsal yang terpencil pun ditelusuri, tapi Sehun tetap tidak ada.
Sampai bel masuk berbunyi dan Chanyeol mengumpat habis-habisan layaknya orang kesetanan, menendang loker di ruang ganti satu persatu kemudian berlari ke kelasnya dan mengambil tas. Tidak peduli Kyungsoo yang berteriak memanggil namanya, tidak peduli dengan wali kelasnya yang sudah ada di depan pintu tepat ketika Chanyeol membuka pintu kelas dengan tas tersampir di bahunya.
Karena tidak ada hal lebih penting menurutnya yang harus dilakukannya sekarang, selain menemukan Oh Sehun.
.
"Dia tidak pulang?" antara cemas dan kesal, Chanyeol mengusak rambutnya.
"Aku kurang tahu nak, Sehun selalu pergi pagi-pagi dan pulang larut malam saat kami sudah terlelap. Tapi aku yakin Sehun memang belum pulang."
"Baiklah bi, terima kasih, aku pamit dulu," Chanyeol membungkuk sopan sebelum berbalik.
Dia berjalan dengan langkah terburu-buru nyaris berlari hanya untuk mencapai halte terdekat. Kepalanya penuh dengan seorang Oh Sehun, terlalu cemas dan terlalu marah pada pemuda manis itu. Chanyeol menghubunginya berulang kali dan Sehun tidak pernah mengangkat panggilannya. Sebuah pelarian yang keterlaluan menurut Chanyeol.
"Bolos sekolah?" Chanyeol tersentak, kemudian menoleh pada seseorang di sampingnya.
Seorang gadis dengan rambut coklat dan ikal yang tergerai, wajah rupawan tanpa riasan berlebih dan penampilan yang sederhana. Untuk sejenak Chanyeol menahan napasnya sebelum ia dapat mengontrol dirinya sendiri dan menemukan kesadarannya lalu bergeser sedikit untuk menjaga jarak dengan gadis itu.
Bukan waktunya untuk melirik seorang gadis cantik saat Sehun tidak diketahui keberadaannya. Ya, Chanyeol mewanti-wanti dirinya sendiri. Dia hanya akan jadi orang brengsek jika mengabaikan Sehun saat ini. Perjuangannya selama ini akan luntur jika ia tergoda hanya karena satu senyum tipis yang diberikan gadis asing dalam sebuah bus umum.
"Astaga, anak muda zaman sekarang—" gadis itu berdecak, kemudian melirik Chanyeol dengan pandangan yang sinis. "Noona hanya bertanya."
Chanyeol tidak menanggapi, memilih untuk memasang earphone pada telinganya. Mendengarkan lagu yang setidaknya dapat menenangkan kepala dan hatinya yang gelisah kemudian terpejam. Beberapa menit lagi dia akan sampai pada tujuannya, tidak ada salahnya tidur sebentar.
Volume dari earphonenya tidak seberapa. Sayup-sayup Chanyeol mendengar seseorang menyebut nama Sehun, dan matanya terbuka seketika, hasrat untuk tidur itu lenyap begitu saja, ia menarik earphone dari telinganya dan menatap gadis yang duduk di sebelahnya.
"Kenapa? Apa aku mengganggu tidurmu?" tanya gadis itu sopan.
"Ah tidak, aku hanya mendengar nama temanku disebut."
"Oh," gadis itu mengangguk. "Tapi, omong-omong—" dia menatap Chanyeol lagi. "Apa kau mengenal Sehun? Seragam kalian sama, pasti satu sekolah?"
Seketika pertanyaan-pertanyaan muncul di kepala Chanyeol. Chanyeol tidak pernah tahu atau diberi tahu mengenai gadis ini, tapi gadis ini terdengar begitu mengenal Sehun. Berapa banyak lagi hal yang disembunyikan pemuda manis itu di belakang Chanyeol?.
"Sehun? Ah, Sehun yang manis itu? Kami satu kelas." kata Chanyeol.
Gadis itu menatap Chanyeol tidak percaya kemudian terkekeh. "Ya, katakan saja seperti itu. Dia memang manis tapi sangat menyebalkan," ujarnya. "Oh benarkah? Kalian pasti cukup dekat. Aku kerja di tempat yang sama dengan Sehun, kalau kau punya waktu mampir lah ke tempat kami, ayam goreng di sana yang terbaik."
"Omong-omong—" Chanyeol memberi jeda, berpikir ulang antara harus bertanya atau tidak sementara gadis di sampingnya menunggu. "Apa Sehun menginap di tempat kerja kalian semalam?"
.
Begitu gadis asing dalam bus itu menggeleng dan menjelaskan bahwa Sehun pulang lebih awal semalam, Chanyeol segera turun di halte berikutnya tanpa lupa mengucapkan terima kasih. Gadis itu terlihat heran tapi dia tersenyum juga dan mengucapkan sama-sama.
Dan sekarang Chanyeol terdampar jauh dari rumahnya, jauh dari Seoul. Tidak tahu kegilaan apa yang membawanya sampai ke Gangneung dan mengetuk pintu rumah orang tua Sehun dengan kepercayaan diri yang tinggi. Dia tidak peduli dengan isi dompetnya yang menipis karena harus membeli tiket bus, tidak peduli dengan apa yang akan terjadi jika Sehun ada di sini dan membukakan pintu untuknya. Atau malah orang tua Sehun yang muncul kemudian memukulnya karena Chanyeol tidak becus menjaga putra mereka.
Chanyeol mengetuk lagi untuk yang ketiga kalinya. Dia mulai tidak yakin ada orang di rumah. Semua jendela tertutup dan keadaan di sekitarnya benar-benar sunyi. Chanyeol nyaris kehilangan harapan. Ini benar-benar akhir dari hubungannya dengan Sehun. Rasanya seperti sudah terlambat untuk memperbaiki semuanya.
"Chanyeol?"
Untuk sesaat Chanyeol seperti berhalusinasi melihat Sehun yang membawa beberapa kantung bahan makanan, memakai pakaian orang desa dengan sebuah syal berwarna abu-abu menutupi separuh wajahnya.
Tentu saja itu bukan Sehun. Siapa lagi kalau bukan Ibu Sehun. Chanyeol menghela napasnya, sedikit banyak ia merasa kecewa. Sehun sungguh mirip dengan Ibunya dan menatap wanita ini hanya membuat rasa bersalah dan rasa cemasnya bertambah. Sehun sudah pasti tidak ada di sini. Chanyeol bisa menebaknya sekarang.
"Ibu," Chanyeol beranjak untuk memeluk wanita itu dan membuang rasa lelahnya di bahu sempit itu. "Maaf."
"Kenapa tiba-tiba minta maaf?" wanita itu menjauhkan Chanyeol dari bahunya kemudian menatap wajah rupawan di hadapannya dan tersenyum. "Kau datang bersama Sehun? Dimana dia?—" Nyonya Oh menatap kesana kemari dan tidak menemukan siapa-siapa selain Chanyeol. "Dia pasti memilih untuk tidur daripada menyambut Ibunya, anak itu benar-benar."
"Aku tidak bersama Sehun," Chanyeol menjawab, membungkuk untuk meminta maaf sekali lagi. "Maaf karena ketidakbecusan ku untuk menjaga Sehun. Kami terlibat beberapa masalah dan Sehun tidak pulang ke rumahnya semalam."
Terlalu berlebihan untuk menganggap Sehun hilang, tapi anak itu memang tidak ditemukan di tempat manapun yang menurut Chanyeol akan menjadi tempat pelariannya untuk semalam. Sehun tidak punya banyak teman, tidak mungkin menginap di rumah teman. Satu-satunya tempat Sehun pergi menginap adalah rumah Chanyeol.
Meski pun sauna bisa masuk daftar pencarian. Chanyeol tidak mungkin mengunjungi sauna di Seoul satu persatu dengan jumlah yang banyak itu.
Maka, respon pertama yang diberikan Nyonya Oh adalah terkekeh tidak percaya. "Sehun mungkin pergi menginap di tempat lain, tidak apa-apa. Ibu akan menghubunginya nanti, sekarang masuklah. Kau ingin makan apa? Akan Ibu buatkan."
"Chanyeol, Sehun tidak akan pergi jauh-jauh, dia pasti akan pulang."
"Tidak Ibu, Sehun pergi. Dia benar-benar menghindariku. Aku mencarinya kemana-mana hari ini, rumahnya, tempat kerja, aku berulang kali menghubungi ponselnya, dan sekarang ponselnya tidak aktif. Sehun tidak baik-baik saja, dia pergi karenaku."
Wanita itu terlihat sedikit terkejut dengan pengakuan Chanyeol, tapi sebaik mungkin menyembunyikannya dan tidak ingin terlihat panik, dia bergegas menaruh kantung-kantung bawaannya dan kembali lagi menghampiri Chanyeol, menepuk pundak kekasih anaknya mencoba menegarkan, meskipun tangannya sendiri bergetar dan hatinya mulai cemas.
"Pulanglah, Ibu akan menghubungi Sehun. Dia pasti baik-baik saja."
"Aku tidak tahu harus mencari Sehun ke mana lagi," keluh Chanyeol frustasi.
Dia ingin menangis, tapi Chanyeol terlalu malu karena ia seorang laki-laki. Betapa irinya dia saat melihat Sehun yang begitu mudah mengekspresikan perasaan, marah, menangis, senang, sedih, Sehun tidak pernah menahannya. Dan Chanyeol pun sebenarnya ingin begitu. Ada kalanya masalah begitu menjemukan, sesuatu yang tidak bisa dipecahkan oleh otak cerdasnya dan kuasanya.
"Astaga—" wanita itu menghela napas. "Putraku pasti sangat menyusahkanmu di sana, terimakasih sudah mau mencemaskan Sehun," dia menarik tangan Chanyeol dan menggenggamnya dengan jemari lentik yang hangat. "Pulanglah, orang tuamu akan cemas. Pokoknya, Ibu akan menghubungi Sehun dan memaksa dia untuk pulang, jangan kuatir."
Satu pelukan lagi dilakukan Chanyeol. Dan sejenak ia merasa rindunya untuk memeluk Sehun sedikit terobati.
.
-00-
.
Ada puluhan panggilan dan ratusan pesan yang tidak terbalas. Sekali lagi dengan cemas dan penuh harapan Chanyeol menekan sebuah tanda hijau dalam ponselnya, jika setelah ini dia masih mendapati ponsel Oh Sehun tidak aktif atau Sehun tidak menjawabnya, demi Tuhan Chanyeol berjanji akan menghubungi polisi untuk mencari Sehun.
Tapi panggilannya kali ini terhubung. Dan beberapa detik kemudian terdengar suara lirih menyapa gendang telinganya.
"Sehun? Kau dimana? Kau baik-baik saja?"
"Di rumah. Maaf membuatmu cemas, ponselku kehabisan daya—"
"Apa kau baik-baik saja? Aku ada di dekat rumahmu, aku akan berlari dan cepat sampai, tunggu aku, ok?"
Chanyeol bisa mendengar Sehun terkekeh di seberang sana dan pemuda manis itu menjawab. "Ok. Jangan sampai jatuh, hati-hati—" ada jeda sejenak sementara Chanyeol berlari, matanya sudah menangkap tujuannya dan beberapa meter lagi ia akan sampai. "Aku merindukanmu, Chan."
Dan panggilan itu berakhir setelah Chanyeol mengetuk pintu rumah Sehun. Perasaannya membuncah, menjadikan dirinya gelisah dan gemetar hanya karena tidak kuasa menahan rindunya pada Sehun. Kepalan tangannya mengetuk lagi berulang kali, mengeluh karena pemilik rumah tak kunjung membukakan pintu dan menyambutnya dengan pelukan hangat.
"Sehun! Se—" pintu terbuka dan Chanyeol menemukan pujaanya tersenyum hangat. "Hun? Ada apa dengan wajah mu?"
"Aku baik-baik saja," Sehun menepis pelan tangan dominannya yang terangkat untuk menyentuh lebam di sudut bibirnya. "Aku diserang preman, mereka minta uang dan aku tidak memberi."
"Lalu kemana perginya kau semalaman ini? Aku nyaris gila karena tidak bisa menemukanmu, ku pikir kau pulang ke Gangneung, menghindar dariku atau semacamnya," Chanyeol mengeluh frustasi, membiarkan dirinya terlihat kacau di depan Sehun kemudian menatap pemuda manis di hadapannya. "Jangan seperti ini lagi, ok?"
Sehun mengangguk, tersenyum pada Chanyeol dan menghempaskan dirinya sendiri pada dekapan hangat yang selama ini dirindukannya. "Terimakasih sudah ada untukku, Park Chanyeol."
"Jadi, apa kita sudah berdamai?" Chanyeol tersenyum menatap Sehun yang mengangguk lagi. "Jadi, hari ini akan kita habiskan berdua untuk menyembuhkan luka-luka di wajahmu."
"Sebenarnya bukan di wajah saja," tutur Sehun pelan, tangannya menyingkirkan tangan Chanyeol yang memeluk pinggangnya terlalu erat. "Punggung dan perutku juga," lanjutnya.
Chanyeol menghela napas. "Baiklah, wajah, punggung dan perutmu. Apa ada yang lain? Apa aku perlu membawamu ke klinik atau semacamnya?"
"Tidak perlu," Sehun mengecup bibir Chanyeol, hal yang sudah lama dirindukannya selain berada dalam dekapan Chanyeol adalah mencecap hangat dan manisnya bibir Chanyeol. "Tetap di sini, dan temani aku."
.
"Pelan-pelan! Kau sengaja menekan memarnya, kan?!"
Chanyeol hanya terkekeh sedangkan tangannya menekan memar di pinggang Sehun. Kali ini ia lebih hati-hati, setiap Sehun meringis maka Chanyeol akan berhenti menekan kain kompresnya dan menunggu Sehun mengangguk atau mempersilakannya lagi untuk melanjutkan, luka yang di derita Sehun tidak sedikit dan Chanyeol sedikit curiga.
"Kau benar-benar dipukuli preman? Lalu dari mana obat-obatan ini?" Chanyeol menunjuk segala macam barang medis untuk luka memar dan satu kantong obat di sampingnya. "Kau tidak berbohong padaku, kan?"
Sehun meringis, menahan tangan Chanyeol kemudian menurunkan kaosnya lagi dan menatap pemuda itu. "Benar, aku tidak bohong," jawabnya yakin. "Lihat mataku, apa mataku mengatakan sesuatu seperti aku berbohong?"
"Matamu mengatakan kalau kau berbohong," kata Chanyeol diakhiri helaan napasnya dan sebuah senyuman.
Sehun tahu, berbohong pada Chanyeol tidak ada gunanya. Pemuda Park di depannya seolah-olah dianugerahi kemampuan membaca isi hati atau pun pikiran seseorang. Jujur memang pilihan terbaik, tapi Sehun selalu teringat ancaman berandal itu, Sehun selalu ingat malam di saat Chanyeol menggantikan dirinya yang seharusnya terkena pukulan botol kaca dari tangan sang Ayah.
Jika kali ini Sehun yang terkena imbasnya, Sehun rasa tidak apa-apa. Semua ini tidak sebanding dengan apa yang sudah dilakukan Chanyeol untuknya. Dan satu-satunya cara untuk membalasnya adalah dengan melindungi Chanyeol.
Kejadian kelam ini hanya antara Sehun dan berandal-berandal sial itu yang tahu.
"Aku tidak bohong, serius," Sehun menghela napasnya kemudian menghempaskan kepalanya sendiri pada bahu Chanyeol. "Apa aku harus menceritakannya secara rinci supaya kau benar-benar percaya?"
"Ceritamu tidak akan mengurangi kecurigaanku Oh Sehun," sahut Chanyeol pelan, tangannya terangkat untuk mengusak rambut Sehun. "Kau harus banyak belajar untuk menipuku."
"Ah, terserah—" Sehun berdiri dan melemparkan bantalnya pada wajah Chanyeol kemudian berlalu menuju kamarnya. "Pulang saja sana! Kau benar-benar menyebalkan dan tidak pernah berubah sejak dulu."
Dominannya terkekeh lagi sebelum menyusul Sehun ke kamar. Sehun sudah kembali sepenuhnya, Sehun yang manja, mudah merajuk dan menggemaskan. Sehun yang selalu bersikap menolak, malu-malu tapi sebenarnya mau. Chanyeol seperti kembali ke masa-masa awal hubungan mereka dan rasanya begitu sesak karena dia tidak bisa menahan kebahagiaan serta rindu yang membuncah.
"Apa aku harus pulang sekarang?"
Sehun menyingkap selimutnya dan mendapati Chanyeol berbaring disampingnya, tubuhnya direngkuh oleh satu lengan hangat yang saat ini tengah mengusap punggungnya. Sementara Chanyeol hanya tersenyum sambil menatapnya, iris hitam kelam itu terasa meneduhkan. Sehun merindukan saat-saat seperti ini, saat dirinya bisa menatap wajah Chanyeol dari dekat. Satu minggu lebih tanpa pemandangan indah ini rasanya hampa sekali.
Dan Sehun menggeleng, bibirnya terbuka mengatakan. "Tetap di sini."
Kemudian merengkuh Chanyeol. "Aku merindukanmu," mengecup kening Chanyeol. "Sangat rindu padamu," mengecup kelopak mata Chanyeol. "Jadi jangan pergi kemana-mana hari ini," mengecup pipi Chanyeol. "Dan maafkan aku, Chan."
Sehun yang memulainya, ciuman kali ini Sehun yang memulainya. Dan Chanyeol menyukai bagaimana submisifnya menguasai ciuman mereka. Membiarkan Sehun memagutnya penuh ketidaksabaran namun juga penuh kehati-hatian. Mengulum bibir dominannya tanpa jeda, jemari lentiknya bermain diantara rahang Chanyeol, melukiskan gelenyar-gelenyar panas dan sel-sel di tubuh mereka mulai bergejolak riuh.
Sebuah ciuman telah berubah menjadi kecupan-kecupan basah dan panjang. Menimbulkan sengatan-sengatan menyenangkan saat bibir mereka bertemu. Dan saat seorang submisif berpasrah, saat itulah dominan mengambil langkah.
Turun perlahan pada rahang kekasihnya yang tipis, Chanyeol mengecupnya disana, membiarkan bibirnya menyentuh memar yang terlukis disana hingga sampai ke lehernya. Terus mengecup; panjang dan basah, menenggelamkan wajahnya sendiri pada ceruk leher pemuda di bawahnya, mengabaikan Sehun yang tersengal dan gelisah dengan jemari kaki yang terus menerus mengusak sprei dibawahnya.
Chanyeol berhenti sejenak, bibirnya basah dan ia terlihat puas dengan perbuatannya. "Apa aku harus mengecup semua memarnya?" dia memberikan tatapan menilai pada bahu Sehun kemudian menatap pemuda yang sedang kacau di bawahnya.
"Lakukan saja semaumu, tidak perlu banyak tanya," keluh Sehun. Wajahnya merah padam, terbakar oleh nafsu dan rasa malu.
"Baiklah.. Lagipula kapan lagi aku dapat jackpot seperti ini," Chanyeol terkekeh.
Bukan sebuah sinyal untuk menyerang, tapi yang terjadi berikutnya adalah Chanyeol yang tiba-tiba mengulum bibir Sehun membuat pemuda manis itu tersentak dan tanpa sengaja mencengkram bahu Chanyeol. Rasanya lebih menyenangkan dari yang pertama, Sehun begitu terpesona hingga tak sadar Chanyeol sudah mengambil banyak dari tubuhnya, beberapa kancing kaos v-necknya terbuka, dan Sehun hanya bisa pasrah saat ciuman itu terlepas karena Chanyeol lebih tertarik pada tulang selangkanya.
Mengecup, menjilat dan menggigit kecil disana. Jeda sejenak hanya untuk menanggalkan kaos tipis itu dari tubuh pemiliknya, dan Chanyeol harus menahan napasnya. Ini bukan pertama kalinya dia melihat Sehun tanpa pakaian –sebuah atasan maksudnya-, berpuluh-puluh kali Chanyeol melihat Sehun berganti pakaian atau sebaliknya, tapi sensasi kali ini berbeda. Dan Chanyeol tidak sabar untuk memiliki semuanya.
Bibirnya menyentuh hampir setiap bagian dari tubuh Sehun, sementara Sehun mendesah dibawahnya, mengeluh saat Chanyeol terlalu menekankan bibir atau lidahnya pada beberapa memar di sekitar perut dan pinggangnya.
"Chan—" Sehun tersengal, tidak mampu mengimbangi kegilaan Chanyeol di atasnya, tangannya meraih bahu Chanyeol, menarik kekasihnya ke dalam dekapannya. "Berhenti sebentar," bisik Sehun lirih. Tangannya bergetar saat terangkat untuk menyelipkan jemarinya di antara helai rambut Chanyeol.
"Ada apa? Apa kau ragu-ragu lagi? Apa kita tidak perlu melanjutkannya?"
"Tidak, bukan begitu—" Sehun mengeratkan pelukannya. "Aku— aku, aku hanya senang memilikimu kembali di sisiku. Aku hanya ingin memelukmu sebentar, sebentar saja. Aku harus yakin bahwa ini memang dirimu, dan kau kembali padaku."
Sehun bisa merasakan getaran kecil di bahunya. Chanyeol yang tertawa. "Sejak kapan Sehunku jadi melankolis seperti ini? Hmm?" dan mengusak hidungnya pada leher Sehun. "Aku memang selalu milikmu sayang, sekalipun kau mengacuhkanku, membenciku atau apapun itu. Aku akan tetap milikmu, jadi, kau boleh datang dan minta apapun padaku, ok?"
Sehun mengangguk, rengkuhannya perlahan melemah lalu terlepas. Chanyeol bisa mengangkat tubuhnya dan menatap jelas wajah Sehun yang sedang tersipu dan tersenyum malu-malu. Bibirnya merekah dan iris coklat terangnya menyatakan beribu kebahagiaan serta rasa lega. Dia seperti sebuah kembang gula yang siap disantap, Chanyeol yakin manisnya akan lebih dari itu.
"Ah—" Chanyeol menghela napas. "Aku sudah mengharapkan adegan ranjang panas di kepalaku, tapi sepertinya kau malah memikirkan adegan romantis penuh air mata. Ya, kan? Aku benar, kan? Kau pasti sering nonton drama."
Satu pukulan ringan mendarat di kepala Chanyeol, dan pelakunya menatap kesal wajah pemuda di atasnya. "Yang sering nonton drama itu dirimu, Park Chanyeol. Aku tidak punya waktu untuk nonton TV sekalipun."
"Benarkah?" Chanyeol memicingkan matanya. "Kalau begitu... lakukan ini lain kali saja, kita nonton drama sekarang."
"Tidak!" sedetik kemudian Sehun membekap mulutnya. "Maksudku, aku tidak mau nonton drama."
"Tidak mau nonton drama atau tidak mau melakukan ini lain kali?"
"Tidak mau nonton drama," jawab Sehun ketus.
"Serius? Kalau begitu aku akan pulang, ada jadwal les hari ini," tuturnya sambil beranjak. "Dan aku bolos sekolah karena mencarimu kemana-mana. Kau perlu tahu, aku pergi ke Gangneung untuk mencarimu dan menemui Ibu mertua."
Sepasang lengan melingkar di pinggangnya. Chanyeol tersenyum penuh kemenangan namun dia tetap menahan egonya, berbalik dan menunjukkan wajah penuh kekecewaan pada pemuda manis yang sedang mengharap belas kasihnya.
"Apa lagi Oh Sehun?"
"Jangan pergi Chanie," Sehun mengeluarkan jurus andalannya, dan tersenyum saat menyadari Chanyeol mengumpat karena tidak bisa melawan lagi. "Jangan pergi sayangku, Sehunie sangat kesepian."
"Kau terdengar seperti pekerja seks yang kurang belaian pria, tahu tidak?" Chanyeol melepaskan dua lengan Sehun dari pinggangnya. "Tapi tenang saja, aku tidak akan pergi kemana pun. Tidak selama ada submisif manis yang bersamaku di sini, dan siap mendesah di bawahku."
"Kau mesum seka—"
Kalimat Sehun tidak akan pernah tuntas karena Chanyeol terlebih dahulu membungkam bibirnya, tangannya perlahan mendorong bahu Sehun hingga pemuda itu terlentang sementara Chanyeol menaunginya dengan satu lengan yang lain bergerak lincah di permukaan halus kulitnya, menggoreskan gairah dan memercikan api nafsu yang membakar tubuh Sehun hingga darahnya terasa mendidih dan meletup-letup.
"Bagaimana dengan prinsip seks di usia dua puluh tahun-mu itu?" tanya Chanyeol di sela-sela kesibukannya mengulum puting Sehun.
"Apa itu penting sekarang?" tanya Sehun, tersengal. "Ya Tuhan! Jangan mengigit disana Park— jangan disitu juga!"
"Jangan berteriak, kau mau semua tetangga mendengar?" tanya Chanyeol sambil berdecak di atas kulit halus itu.
Bibirnya membulat sempurna, meraup puting kecil menggemaskan ke dalam mulutnya seolah-olah sedang menyusu. Jemarinya tidak bisa diam dan menjalar ke segala arah, menyusur dari dada pemuda itu hingga lekukan pinggangnya, berhenti sejenak hanya untuk mengusapnya penuh sensualitas disana dan turun kembali hingga mencapai pangkal paha submisifnya, hanya diam disana, mempermainkan Sehun dengan tidak menyentuh apa yang seharusnya disentuh.
Sehun menahan napasnya seketika, tercekat, dia tidak sanggup mendesah. Kenikmatan yang dirasakan hanya disalurkannya lewat remasan sensual pada rambut dominannya, atau sedikit nafas panjang yang keluar lewat celah bibirnya, tubuhnya bergerak gelisah begitu pula jemari kakinya.
"Chan—" panggil Sehun lirih, matanya sayu, menatap Chanyeol yang semakin turun mengecup perutnya hingga bagian itu terlihat mengilat, lembap panas dan penuh bercak.
"Jangan ganggu aku," sahut Chanyeol sebelum mendaratkan kembali bibirnya pada perut submisifnya dan mengecupnya beberapa kali disana.
Sehun bungkam, merasa jalan terbaik untuk protes adalah dengan menarik rambut Chanyeol atau berteriak alih-alih memanggilnya dengan nada yang seolah-olah meminta agar semua dosa ini dihentikan.
"Apa aku boleh membuka celanamu?" tanya Chanyeol, kepalanya mendongak, menatap wajah Sehun yang masih merah padam.
"Kenapa harus bertanya lagi?! Lakukan saja! Jangan banyak tanya! Aku tidak sanggup bilang apa-apa!"
"Tidak sanggup bilang apa-apa, ya benar. Tapi kau baru saja sanggup untuk berteriak memaki-maki pacarmu," Chanyeol terkekeh, mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir Sehun. "Kau benar-benar unik."
"Unik?" Sehun menaikkan satu alisnya, melingkarkan lengannya pada leher Chanyeol dan menarik ciuman malas dari bibir kekasihnya. "Amatir maksudmu?"
"Bukan, sayangku," jawab Chanyeol lembut. "Unik. Kita berdua amatir disini, ok? Jadi jangan merasa terbebani sedikit pun."
Sehun mengangguk, mengecup dan menghisap bagian dari leher kekasihnya, meninggalkan bercak merah disana dan ia merasa puas. "Kita belajar sama-sama, ok?"
"Ok," Chanyeol mengecup bibirnya sekali lagi lalu melepaskan rengkuhan Sehun dan menjauh. "Tapi tidak hari ini, kau masih cidera dan sebenarnya kita masih SMA, belum cukup dewasa untuk tahap yang lebih lanjut."
"Ah, kenapa?" Sehun terlihat kecewa. "Dasar bajingan! Kau sudah melepas pakaianku, aku siap melepaskan celanaku dan kita melakukannya, kenapa tidak sekarang?"
"Astaga," Chanyeol terkekeh lagi, Sehun terlalu menggemaskan baginya, dan ia tidak yakin sanggup menahan hasrat untuk mengurung pemuda manis ini satu malam dalam kamar sambil mencumbu setiap inci tubuhnya. "Lihat siapa yang paling semangat sekarang?"
Ia kembali mendekati Sehun, memakaikan kaos milik Sehun kembali pada pemiliknya dengan hati-hati meskipun dibalas dengan dengusan kesal dari Sehun. "Apa kepalamu terbentur sesuatu setelah preman itu memukulimu? Atau kau sedikit bingung dan hilang kesadaran karena aku begitu seksi hari ini?"
"Tidak dua-duanya. Sana! Aku tidak mau melihat wajahmu malam ini."
"Baiklah, aku akan memakai topeng hantu sepanjang malam, aku menyimpan satu dalam lemari pakaianmu. Jadi kau tidak bisa melihat wajahku, kan?"
"Sialan. Kau bajingan terkutuk. Tunggu saja, aku akan menolakmu secara sadis kalau suatu hari nanti kau minta kita melakukan hal semacam ini lagi, aku akan menolak pelukanmu, kecupanmu, ciumanmu, pokoknya aku akan menolak tipu muslihat dari bajingan semacam—"
Mungkin membungkam bibir Sehun dengan bibirnya saat pemuda manis itu mulai rewel adalah salah satu hal yang termasuk dalam daftar hobi milik Chanyeol. Pemuda itu kembali mengulum bibir kekasihnya, kali ini lembut tanpa nafsu. Chanyeol memagutnya perlahan, membiarkan rasa manis meleleh perlahan meresap hingga ujung syarafnya. Baru ia akan melepaskannya, dan tersenyum melihat wajah kekasihnya.
"Kau tidak menolak ciumanku," kata Chanyeol; Sehun terlihat ingin protes, tapi Chanyeol lebih dahulu menutup bibir itu dengan dua jari menjepitnya. "Pergi mandi, bersihkan wajahmu, tubuhmu, dan urus itu," tutur Chanyeol sambil melirik pangkal paha Sehun. "Aku akan pergi membeli makanan."
Chanyeol mengecup keningnya.
"Dengar kata-kataku, dan aku akan kembali lagi."
.
Sehun tidak bisa makan dengan benar, kepalanya penuh dengan Chanyeol dan kegiatan panas mereka yang bahkan belum genap dua jam yang lalu. Tapi, selain dari itu Sehun mencurigai sesuatu. Chanyeol tidak pernah melepas ponselnya semenjak sampai di rumah, dan terakhir menerima panggilan yang entah dari siapa, pemuda Park itu menjauh dari Sehun.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
"Kau tidak selingkuh, kan?"
"Pemikiran macam apa itu?" Chanyeol mendengus, menghampiri Sehun kemudian merengkuh pemuda manis itu ke dalam pelukannya, mulutnya terbuka minta disuapi, dan Sehun berbaik hati memberikan satu sendok nasi beserta lauknya.
"Kau tidak selingkuh, kan?"
"Astaga—" Chanyeol menelan, kemudian membuka mulutnya lagi, kali ini Sehun tidak memberinya makanan. "Baiklah, baiklah.. aku tidak selingkuh, yang tadi meneleponku itu Baekhyun, sudah puas Tuan Muda Oh Sehun?"
"Baekhyun? Kenapa harus sembunyi-sembunyi dariku?"
"Karena kita membahas cewek-cewek seksi, jadi aku harus sedikit menjaga jarak denganmu," jawab Chanyeol bergurau. "Tidak, sebenarnya kami membahas tentangmu. Baekhyun bilang kau jadi menyebalkan belakangan ini, tapi aku jawab tenang saja, karena Sehun yang manis sudah kembali."
"Aku tetap curiga, Park."
Chanyeol menghela napasnya. "Ya, terserah kau saja. Kau bisa menanyakan pada Baekhyun besok di sekolah, atau kau bisa meneleponnya sekarang juga."
"Tidak perlu—" Sehun menyimpan mangkoknya kemudian balas memeluk Chanyeol. "Aku percaya padamu, hehe."
"Anak ini—" Chanyeol memutar bola matanya lalu menarik hidung Sehun. "Tidurlah, kau harus cepat sembuh, ujian akhir sebentar lagi dan kau tidak bisa menghadiri ujian dengan wajah babak belur seperti ini."
"Hmm. Aku tahu Park, kau juga harus tidur. Dan ganti pakaianmu itu."
.
-00-
.
Gelap dan dingin, itulah yang dirasakannya saat pertama kali membuka mata dan tersadar. Perpaduan yang tidak baik, dan Sehun membenci dua hal ini. Matanya mengerjap beberapa kali, memastikan bahwa penglihatannya baik-baik saja, dia tidak buta ataupun cacat. Sebuah lampu di ujung jalan yang terombang-ambing karena angin jadi jawabannya, Sehun masih bisa melihatnya dengan jelas.
Permukaan tempatnya berbaring terasa begitu dingin, tangannya terangkat, merayap mencari tumpuan karena kakinya terasa begitu lemah untuk sekedar menekuk atau menahan beban tubuhnya sejenak sebelum berdiri.
Nyeri menggerayangi segenap tubuhnya, entah dari mana datangnya luka-luka lebam dan goresan tipis pada tubuhnya. Bibirnya terbuka, melafalkan nama seseorang, lirih dan serak. Sia-sia karena suaranya hanya akan hilang tersamarkan oleh deru angin.
Tapi takdir tidak ada yang tahu, siapapun tidak bisa menebak. Tidak ada yang menyangka jika suara lirih itu akan terbawa angin dan angin membisikannya pada seorang pemuda yang sedang duduk termanggu di antara undak-undakan yang lembap dan dingin.
Derap langkah terdengar, dan Sehun semakin sering melafalkan nama itu. Nyeri di rahang dan bibirnya diabaikan, dia hanya berusaha untuk memanggil orang itu. Sampai seorang pemuda dalam bayangan muncul menghampirinya.
Terkejut mendapati seseorang sekarat di lorong sempit dengan sekujur luka di tubuhnya.
"Chan—" Sehun mengangkat tangannya. "Chanyeol..."
Pemuda itu menghampiri Sehun, samar-samar Sehun dapat menangkap bayangan wajahnya, rahangnya tegas dan hidungnya mancung, figur milik seorang Park Chanyeol.
"Sehun-sshi?"
Dia bukan Chanyeolnya.
Sementara pemuda yang dicarinya sedang menatapnya, dan memalingkan wajah saat Sehun menyadari keberadaannya lalu memanggilnya.
"CHANYEOL!"
Sehun terbangun dengan nafas memburu dan peluh membanjiri pelipisnya, mengalir turun hingga tetesannya mengenai bantal di bawahnya. Matanya membola dan bergerak liar untuk menangkap sosok Park Chanyeol yang pada kenyataannya sedang tertidur sambil memeluk pinggangnya.
Napas pemuda di hadapannya teratur, begitu pula detak jantungnya, yang berarti Chanyeol tidur dengan nyenyak. Sehun menghela napas dan mengusap wajahnya, merasa sedikit lega setelah tahu bahwa semuanya hanya mimpi.
"Ada apa?"
"Astaga! Sejak kapan kau bangun?!"
Chanyeol mengusak matanya. "Sejak kau berteriak memanggil namaku sebenarnya, maaf, aku terlalu nyenyak ya?"
"Tidak apa-apa, maaf juga karena mengganggu tidurmu," Sehun mengecup kening Chanyeol. "Tidurlah, aku ingin keluar dan minum air sebentar."
Setelah Chanyeol mengangguk sebagai jawaban dan terlelap kembali ke alam mimpinya, Sehun keluar kamar. Entah kenapa kakinya terasa lemas, ia bertumpu pada tembok menuju dapur kemudian mengambil air minumnya dari kulkas.
Mimpinya terasa tak asing. Tapi bukan karena mimpi itu tak asing. Bagian akhir dari mimpi itu lah yang membuat Sehun cemas, mengapa Chanyeol harus memalingkan wajah saat Sehun menatapnya, mengapa Chanyeol harus berbalik dan menulikan telinga saat Sehun memanggil namanya.
Itu semua hanya mimpi, kan? Kita akan baik-baik saja, kan? Chanyeol?
.
.
TBC
.
.
A/N
Hallo, Aloha! I'm back yehet!
Gimana gaes?! Greget?! Pengen nabok gue? Atau Chanyeol? Atau Sehun? Atau yang lain? Wkwk.
ChanHunnya udah banyak kaaaan? Apa kurang? Kurang overdose kah? Udah ah segini aja, gue gakuku mau negtik yang ekstrim-ekstrimnya hahaha xD.
Btw, 'adegan' di atas spesial untuk yang nanyain kapan ada scene rate M. Ini aku kasih padamu dear, biarpun belum nyampe itu, ampuni saya T.T pokoknya thx banget karena dirimu rajin nagih dan gak patah semangat ngadepin orang macem aku ini. I love u :'v. dan terimakasih untuk Oh Sehoon-nim yang sudah berbagi cerita absurd tentang ChanHun dll kepada saya, you da real MVP :'v.
And as always, terimakasih banyak buat yang sudah review, fav, dan follow. I LOVE YOU. Buat yang cuma baca juga terimakasih, tapi alangkah lebih baik kalo kalian meninggalkan review bukan?
Udah si, kali ini itu aja, lagi dikejar deadline, ada yang tahu cara kabur dari hal menyeramkan satu itu? T.T
.
.
Halona Jill
Review ya..
