Cahaya matahari memasuki celah-celah kamar Gempa, begitu pun dengan alaram Gempa sudah berbunyi berulang kembali namun selalu Gempa abaikan, sebenarnya Gempa sudah bangun sejak subuh namun ia putuskan untuk tidur kembali.

Setelah mematikan alarm Gempa berniat akan meneruskan tidurnya, namun sayang semua itu hanya rencana.

"GOMEN HALI NII-CHAN (Maaf kak Hali) !" teriak Taufan memohon pada Halilintar yang kini sedang menarik tangan Taufan kebelakang.

Mau tidak mau Gempa harus bangun untuk melerai keduanya, mau bagaimana lagi ?

Air masih tertidur di kamar.

Api tidak akan berani menghadapi Halilintar yang sedang mengamuk, atau bisa saja ini ulah Taufan dan Api namun Api dapat meloloskan diri sedangkan Taufan tidak.

Gempa memijit keningnya sebentar, setap pagi ia selalu mendengar teriakan ampun dari Api dan Taufan, terkecuali saat Api dan Taufan bangun kesiangan.

Perlahan Gempa melangkahkan kakinya ke arah kamar Halilintar untuk memisahkan keduanya, namun, baru saja ia keluar dari kamarnya, Gempa melihat Api yang sedang bersembunyi di balik sofa dengan menahan tawa.

Gempa menatap Api dengan bingung.

"Api"panggil Gempa pelan.

Namun Api hanya mengisyaratkan agar Gempa tidak berisik, Gempa menghembuskan nafasnya pelan lalu kembali berjalan ke kamarnya Halilintar sebelum mendengar tawa kecil Api.

Gempa membuka pintu perlahan, seperti dugaannya kini Halilintar sedang memberi pelajaran terhadap adik kesayangannya, Taufan yang melihat Gempa langsung berbinar senang karna menemukan sang penyelamat, sedangkan Halilintar langsung menatap tajam Gempa.

"Hali nii-chan, lepaskan Taufan nii-chan !" pinta Gempa sambil memohon.

Halilintar hanya membuang muka kesal, lalu dengan berat hati melepaskan Taufan, dengan cepat Taufan langsung memeluk Gempa dengan erat.

"Taufan nii-chan" panggil Gempa pelan, untuk menyadarkan Taufan karna memeluknya sangan erat hingga sulit bernafas.

Taufan yang menyadari sang adik mulai kehabisan oksigen, dengan cepat melepas pelukannya dan langsung terkekeh pelan.

"Gomen (Maaf) Gempa" pinta Taufan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.

"Tapi kau penyelamat hidupku !" seru Taufann senang lalu memeluk Gempa kembali.

Gempa kembali kehabisan oksigen, unung saja ini hanya pelukan singkat, Taufan langsung tertawa dan melepaskan pelukannya lalu tersenyum jahil.

"Jaa (Sampai jumpa) adikku yang manis" ucap taufan sambil mengedipkan matanya kearah Gempa.

"Jaa (Sampai jumpa) kakakku tersayang" ucap Taufan sambil tersenyum lebar kearah Halilintar dan memberikan kiss byenya.

"TAUFAN !"

"TAUFAN NII-CHAN !"

Teriak Gempa dan Halilintar bersamaan, dengan cepat Halilintar melemparkan bantal kearah Taufan, namun sayang, Taufan lebih dulu Kabur sebelum lemparan bantal itu terjatuh kebawah dan tidak mengenai wajah Taufan, namun siapa sangka ?

Saat Air berjalan di ruang tengah sebuah bantal mendarat di kepalanya, ternyata yang terkena lemparan bantal Halilintar adalah Air yang baru terbangun dari tidurnya dan berniat akan mandi.

Air pun terjatuh dan bantal itu ada di atasnya, Air terdiam lalu mencoba duduk karna jatuh tidak elitnya yanitu terbaring diatas lantai, kini Air mulai berfikir.

Tidak mungkin sebuah bantal jatuh dari langit ? baiklah ini adalah pertanyaan polos yang ada dipikiran Air.

Tak lama Air mendapat Gempa menuruni tanggan dengan terburu-buru, untuk melihat siapa yang kali ini kena sasaran amukan Halilintar, ia idak mau kejadian minggu lalu terulang kembali.

-Flash back-

"AWAS KAMU TAUFAN !" teriak Halilintar sambil melempar sandal kearah Taufan dengan penuh kasih sayang, namun dengan cepat Taufan menghindar dari lemparan Halilintar yang penuh kasih sayang.

Dan hasilnya, guru yang datang bersama Gempa baru saja memasuki rumah, namun sayang, sang guru sudah disambut dengan lemparan sandal kasih sayang dari Halilintar.

Gempa yang melihat sebuah sandal terkena muka sang guru langung terkejut, dan seketika guru itu pingsan ditempat dan dibawa kerumah sakit karna tidak sadarkan diri.

-Flash back off-

Gempa menggeleng keras saat meningat kejadian itu dan kembali melihat siapa yang kena sasaran Halilintar kali ini.

"Do shita no (Ada apa) Gempa nii-chan ?" Tanya Air polos sambil membawa sebuah bantal di pelukannya.

"Nandemonai (Tidak ada) Air" jawab Gempa sambil tersenyum.

Gempa kembali melihat Air yang kini dengan masih memakai baju tidurnya dan sebuah bantal.

"Air, kamu mengigau ?" Tanya Gempa bingung sambil memperhatikan Air dari atas sampai bawah.

Air menggeleng pelan lalu mengusap matanya pelan.

"Lalu, itu ?" Tanya Gempa sambil menunjuk sebuah bantal.

"oh ini ? bantalnya jatuh dari atas" jawab Air polos.

Gempa mengerti sekarang, ternyata kali ini yang menjadi korban adalah Air, Gempa menghembuskan nafasnya lega, setidaknya insiden minggu lalu tidak terulang kembali, namun sepertinya Air baru bangun tidur dan mendapatkan ucapan selamat pagi dari sebuah bantal.

"Itu bantal Hali nii-chan, kamu taruh saja dikamarnya" jawab Gempa sambil menunjuk bantal yang dibawa oleh Air.

"Baiklah" jawab Air polos lalu menuju kamar Halilintar.

Sedangkan Gempa menuju dapur untuk membuat sarapan.

"Segarnya" ucap Api senang sambil mengeringkan rambutnya.

"Api" panggil Gempa pelan.

"Ohayou Gempa nii-chan" sapa Api dengan ceria lalu menunjukkan giginya yang putih dan rapih.

"Dimana Taufan nii-chan ?" Tanya Gempa sambil melihat sekeliling.

"Taufan nii-chan mandi" jawab Api lalu menuju jemuran untuk menjemur handuknya yang berwarnya jingga kemerahan.

Sedangkan Gempa hanya merespon dengan mengangguk pelan.

Saat Gempa sedang memotong sayur dan bahan-bahan yang akan dimasak, Taufan keluar dari kamar mandi dengan wajah tanpa dosa.

"Menyenangkan sekali tadi" ucap Taufan senang.

"Menyenangkan ?" tnya Gempa yang kini tiba-tiba di depan Taufan dan pisau masih di tangannya.

Taufan yang melihat Gempa langsung terkejut, ditambah Gempa kini sedang membawa sebuah pisau di tangannya pikiran Taufan kini melayang jika Gempa adalah psikopat, dan akan membunuh Taufan dengan memotong-motongnya lalu merebusnya karna selalu membuat keributan dan masalah.

"GOMEN GEMPA !" teriak Taufan histeris dan menyentuh tangan Gempa yang kosong dengan erat.

Gempa yang melihat kakaknya bertingkah aneh hanya menatap bingung.

"Do shita no (Ada apa) Taufan nii-chan ?" Tanya Gempa polos sambil mengangkat pisau itu kehadapan Taufan.

"IIE (Tidak) !" teriak Taufan histeris dan langsung berlari menjauh dari Gempa.

Gempa menatap punggung Taufan yang mulai menghilang di balik dinding dengan heran.

Tak lama Halilintar melewatinya.

"Hali nii-chan" panggil Gempa sambil membawa pisaunya.

Halilintar menatap horror kearah pisau yang sedang di bawa Gempa.

"Apa kau kini mejadi seorang psikopat, Gempa ?" Tanya Halilintar.

Gempa menggeleng pelan.

"Sore wa (Itu) ?" Tanya Halilintar sambil menunjuk pisau yang sedang di bawa Gempa.

"Oh ini, hehehe aku sedang memotong sayur dan tanpa sadar membawa pisau kesini, dan ini saus sambal Hali nii-chan, aku bukan psikopat tidak mungkin kan adimu yang imut ini seorang psikopat ?" Tanya Gempa dengan mata puppy eyesnya.

"Terserah" jawab Halilintar singkat lalu menuju kamar mandi.

Gempa hanya menatap heran sang kakak lalu kembali melanjutkan pekerjaanya.

-Rumah Yaya-

Yaya terdiam saat melihat catatan sang ibu yang sedang pergi dan meninggalkan sarapan untuk Yaya di atas meja makan.

"Oka-san" panggil Yaya pelan.

Perlahan Yaya menuju meja makan dan memakan sarapannya.

'Sepertinya sangat sibuk' gumam Yaya dalam hati.

-Rumah Boboiboy-

"Tadi itu sangat menyenangkan Api" ucap Taufan semangat.

"Tapi, tadi kamu kemana Api ?" Tanya Taufan sambil menatap Api curiga.

"Di belakang sofa" jawab Gempa.

"Curang !" ucap Taufan tidak terima karna hanya dia yang mendapatkan pukulan dari Halilintar.

Seketika sendok yang di pegang Halilintar kini melayang ke arah Taufan.

"Aw, ittai (Sakit)" gerutuh Taufan sambil menyentuh keningnya yang terkena sendok.

"Berhentilah mengoceh !" perintah Halilintar sambil menatap Taufan tajam.

Sedangkan Taufan hanya mengembungkan kedua pipinya kesal.

"Aku akan keluar" ucap Gempa pelan.

Kini semua mata menatap ke arah Gempa.

"Gempa, kamu tidak akan pulang malamkan ?" Tanya Taufan.

"Iie (Tidak)" jawab Gempa singkat sambil menuju kearah cucian piring dan mencuci piringnya sendiri.

"Aku hanya ingin berjalan-jalan ke perpustakaan" ucap Gempa lalu menaiki tangga.

"Aku akan dikamar saja hari ini" ucap Air sambil menguap lalu mencuci piringnya.

"Ayo Api ! kita lanjutkan pertarungan kita !" ucap Taufan dengan semangat, dengan cepat menuju ruang tengah bersama Api meninggalkan dua piring kotor di atas meja.

Halilintar yang melihat perlakuan kedua adiknya mentapa kesal, dengan terpaksa ia mencuci piring-piring kedua adiknya.

Langit begitu cerah pagi ini, biru bercampur dengan kuning cerah, begitu pun dengan kicauan burung di pagi hari dan angin berhembus dengan perlahan meniup daun-daun yang berguguran.

"Hah" hela nafas Yaya pasrah dan mulai putus asa.

Gempa yang tidak sengaja mendengar hela nafas seseorang langsung melihat asal suara.

"Apa aku tidak dapat mengingatnya ?" Tanya Yaya bingung sambil menatap langit.

"Memangnya apa yang kamu lupakan ?" Tanya Gempa yang kini duduk disamping Yaya, sambil menopang dagunya menatap Yaya.

"HUAAA !" teriak Yaya sambil terjauh dengan tidak elitnya.

Gempa yang melihat Yaya terjatuh langsung terkejut dan langsung membantu Yaya berdiri kembali, dengan kekehan kecil.

"Daijobu (Kamu tidak apa-apa) ?" Tanya Gempa pelan yang kini berada dihadapan Yaya dengan kekehan kecilnya.

Yaya yang melihat Gempa hanya mengembungkan pipinya kesal.

"Gomen (Maaf) Yaya" pinta Gempa sambil tersenyum.

Entah mengapa Yaya sedikit mengingat senyuman Gempa, Yaya hanya terdiam saat melihat senymannya tersebut, sedangkan Gempa kini menatap Yaya dengan heran.

"Yaya" panggil Gempa pelan.

"Eh" gumam Yaya yang sadar dari lamunannya.

"Kamu melamun, kau tahu itu tidak baik" ucap Gempa sambil tersenyum lalu melihat kesekitarnya.

Sedangkan Yaya hanya tertawa pelan.

"Apa itu ?" Tanya Gempa sambil mengamati sebuah tempat.

"Rumah kaca" jawab Yaya sambil menatap tempat yang ditunjuk oleh Gempa.

"Rumah kaca ?" Tanya Gempa meyakinkan.

"Iya, ad ataman bunga di dalamnya" ucap Yaya dengan tersenyum.

"Kamu ingin kesana ?" Tanya Gempa sambil tersenyum.

"Ha I (Iya)" jawab Yaya dengan semangat.

Gempa tersenyum melihat sikpa Yaya yang selalu semangat, dan tidak pernah berubah.

-Rumah kaca-

Yaya menatap bunga-bunga dengan mata berbinar, langsung saja ia menuju bunga mawar dengan perlahan.

"Yaya, kamu menyukai bunga ?" Tanya Gempa sambil jongkok di samping Yaya.

"Ha I (Iya)" jawab Yaya dengan tersenyum senang.

"kalau begitu, apa kamu mau jalan-jalan nanti sore ? ada suau tempat yang ingin ku perlihatkan padamu Yaya"

Yaya pun mengangguk perlahan sambil menatap bingung, lalu kembali melihat bunga-bunga yang berada disekitarnya.

Tanpa sadar mereka menghabiskan banyak waktu di rumah kaca tersebut, kini langit berubah menjadi kuning bercampur dengan jingga cerah.

"Bagaimana jika kita pulang ? dan sore nanti, aku akan kerumahmu Yaya" ucap Gempa sambil melihat langit yang sudah terik oleh matahari.

"Baiklah Gempa" jawab Yaya dengan tersenyum.

-Rumah Boboiboy-

"Huft, Gempa nii-chan lama sekali !" gumam Api kesal.

"Benar, aku lapar" jawab Taufan sambil bersender pada sofa.

"Aku juga" jawab Api lemas dan mulai kehabisan tenaga.

"Berhenti mengeluh !" bentak Halilintar kesal sambil menutup bukunya kesal lalu menaruhnya diatas meja.

Seketika Taufan dan Api hanya dapat terdiam.

'Krek'

"Gempa nii-chan belum pulang ?" Tanya Air sambil mengucek kedua matanya.

"Kau tidur Air ?" Tanya Api bingung.

"Hn" jawab Air singkat.

"Air, beruntung kamu tidak ketahuan Gempa jika ketahuan…"

"Naze (Apa) Taufan ?" Tanya Gempa yang kini berada dibelakang Taufan.

"Ketahuan.. HUAAAA GEMPA !" teriak Taufan tidak jelas dan langsung terjatuh dengan tidak elit saat melihat Gempa yang berada dibelakangnya.

"Satu kampung bisa mendengar suaramu Taufan !" ucap Halilintar kesal sambil melemparkan bantal kearah Taufan, dan kali ini kena sasaran, yaitu wajah Taufan.

"Habis Gempa mgujatkanku" jawab Taufan sambil cemberut kesal.

"Berhenti bersifat kekanak-kanakkan !" perintah Halilintar lalu kembali ke kamar.

"Taufan nii-chan" panggil Air pelan.

"Jika ketahuan Gempa kenapa ?" Tanya Air polos.

"Ketahuan aku ?" Tanya Gempa yang kini menatap Air bingung.

"Nandemonai (Tidak ada) hehehe" ucap Taufan sambil lalu tertawa pelan.

"Api ayo kita lanjutkan permainan tadi !" seru Taufan tiba-tiba.

"Eh ? permainan ? permainan ap.. HUAAAA" seketika Api langsung ditarik oleh Taufan menuju kamar.

"Ada apa dengan Taufan ? aku merasa sedikit curiga" gumam Gempa bingung.

"Entah" jawab Air lalu menguap.

"Sebaiknya aku masak untuk makan siang" ucap Gempa lalu menuju dapur.

"Gempa nii-chan" panggil Air pelan.

"Do shita no (Ada apa) Api ?" Tanya Gempa bingung.

"Aku boleh bantu masak ?" Tanya Air pelan.

"Ha I (Iya)" jawab Gempa dengan tersenyum.

-Rumah Yaya-

Yaya menatap langit-langit kamarnya bosan, ibunya sudah mulai sibuk dengan pekerjaanya sekarang begitu dengan sang ayah yang tidak pernah pulang dan selalu berkerja.

Yaya kembali menuju ruang tamu namun, seketika langkahnya berhenti saat menemukan sebuah pintu yang asing untuknya.

'Krek'

Perlahan Yaya memasuki ruangan tersebut, disana terlihat rapih namun sayang, tempat itu penuh dengan debu dan banyak buku-buku dan barang yang tidak terpakai kembali.

"Aku akan membersihkan tempat ini !" gumam Yaya semangat dengan tersenyum lalu keluar ruangan untuk mengambil sapu dan kain untuk membersih benda-benda diruangan tersebut.

Yaya terenyum karna ia menemukan sebuah ruangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, Yaya mulai membersihkan tempat itu, mulai dari menyapu dan mengepel, lalu membersihkan benda-benda tersebut.

Dan pekerjaannya berhenti saat ia melihat sebuah kerdus berukuran sedang diatas meja.

"Kerdus ?" Tanya Yaya bingung.

Perlahan Yaya membuka kerdus tersebut, sesekali ia bersin karna debu yang terdapat di kardus lumayan banyak.

"Ini…" ucapan Yaya terputus dan masih bingung apa yang dilihatnya sekarang.

Tbc

Yo aku kembali ^^ #dilemparpanci

Ok, aku udah putusin sekarang.

Api : Putus ? kamu putus pacaran Farida ?

Air : Farida, kamu punya pacar ?

Halilintar : Akhirnya ada yang mau juga dengan kau

Gempa : Farida, kamu sudah besar

HUAAAAAAA BUKAN ITU MAKSUDKU !

Taufan : lalu ?

Aku udah putusin jika selang-seling updatenya –" sekarang yang ini, nanti kalau update cerita yang satunya hadeh,, pada negative thinking nih.

Okay, see you next chapter ^^