Difficult

文豪 ストレイドッグス Bungou Stray Dogs © Asagiri Kafka/Harukawa35

Original fanfiction by satsuki grey

.

.

.
[Pairing]

Dazai Osamu x Nakahara Chuuya

[Rated]

T (16+)

Sei-ai. Alternative Universe. Slash of Love. Alternative FANON Soukoku DARK ERA.

[Warning!]

Gaje berlebihan. Typo bertebaran. OOC itu mutlak. Mengandung unsur percintaan sesama jenis/LGBT yang tidak masuk di akal. Kebaperan yang mengerikan harap di depak jauh jauh, dan EYD tak sesuai hukum.

[Summary]

Double Black di kenal sebagai senjata andalan milik Port Mafia, Dazai Osamu dan Nakahara Chuuya, walaupun begitu mereka juga memiliki kehidupan pribadi mereka di balik eksetensi dan cerita yang ada, dan itu menjadi sebuah rahasia yang sulit, di tambah dengan anak kecil dari panti asuhan yatim piatu. (AU DARK ERA SOUKOKU)

[Genre's]

Drama. Tragedy. Hurt/Comfort. Dark Romance. Familly. Slice of Life.

Bungou Stray Dogs

Indonesia Facfiction. Soukoku fanfiction-serial, Dazai Osamu x Nakahara Chuuya

.

Saya tidak mengambil keuntungan material atau apapun dari fiksi ini.

Fanfiksi ini hanyalah karya fiktif belaka, jika ada kejadian yang sama atau apapun hanya sebuah kebetulan belaka.

.

.

Chap. 11 La Lune (Bulan)

.

.

Bulan melotot pada lautan luas dan para hunian di bumi. Menyapa malam agar tak sepi akan cahaya. Fyodor dengan nafas sedamai lautan membalas tatapan sang raja malam. Menggenggam buku dengan isi satu-satunya alasan dia hidup sampai sekarang.

Bahkan pria yang perkasa bisa berlutut pada kekuatan cinta. Cinta itu luar biasa, ya?

Perasaan sentimentil tanpa alasan yang tepat. Terkadang di perlukan dan tidak. Bagaikan racun jika berlebihan. Itu cinta.

Fyodor bergegas menuju kapal pesiar yang disiapkan oleh Fitzgerald, di kemudikan menuju lautan lepas, menuju daratan utama Inggris. Matanya melirik kebelakang sekilas pada kota Yokohama, yang pernah memberinya luka dan juga kenangan.

.

.

"Kita tidak bisa menemukan keberadaannya. Nakahara Chuuya seperti di telan bumi tanpa jejak," salah satu agen dari pengumpul informasi Port Mafia berkata demikian.

"Tidak ada jejak, tidak ada rekaman yang bisa di lacak, tidak ada saksi mata. Ini akan sulit dan memakan waktu banyak jika-"

"Tidak mungkin Nakahara-san menghilang begitu saja! Dia di tahan oleh sekelompok organisasi pengguna kekuatan! Apa kita harus diam saja saat salah satu dari eksekutif di tangkap hidup-hidup!?" Akutagawa membentak. Semua orang menatap padanya. Termasuk ketua Port Mafia, Mori yang sedang duduk tenang di kursi jati yang di pahat antik.

"Apa kau punya sesuatu untuk membantu, Akutagawa-san?" ucap sang agen menegaskan. Membuat Akutagawa kalah debat.

"Ya, tentu saja kehilangan salah satu eksekutif kita adalah hal yang memalukan. Lagi pula, satu-satunya saksi di sini adalah Dazai. Bagaimana menurutmu?" tanya Mori mempersilahkan pria yang terduduk lemas di ranjang kamar rumah sakit. Matanya sangat sayu untuk menatap sekitar karna baru terbangun dari mimpinya.

Dazai dengan tubuh seperti kristal yang dapat hancur jika di biarkan mendengarkan perkataan yang bermaksud menimpahkan seluruh kasus ini padanya. Dan dia mengambil tantangan ini tanpa pikir resiko.

Dazai berpikir sejenak, menghela nafas sebisanya, menggeretakkan bibirnya dan berkata, "Pelabuhan, coba periksa pelabuhan. Kemungkinan Chuuya ada di sana."

"Itu masih kemungkinan Dazai-san," jawab sang agen muda dengan tanggas.

Mata Dazai menajam, "Oh, aku sudah tau dunia ini lebih lama darimu agen muda. Jika kau menemukan sesuatu di pelabuhan, maka kau akan tau kotamu dalam bahaya. Lagi pula prediksiku tidak pernah salah," ucap Dazai dengan mimik wajah datar.

Agen muda terdiam, dia mengambil langkah agar tetap percaya diri.

"Baiklah, akan saya periksa dan akan saya kabari secepatnya. Permisi Tuan." ucapnya lalu berbalik arah.

Mori berdiri dan berkata, "Mata tidak akan berbohong pada orang yang pintar Dazai-kun. Kau lupa mengatakan point yang penting, bukan?"

Dazai mengambil nafas sejenak. "Iya," lalu menatap Mori tanpa berkedip. Ia sangat tau kalau bos Mafia ini sangat susah untuk di kelabuhi.

"Dostoyevsky dalangnya," jawab Dazai dengan intonasi datar.

Mori diam mencerna perkataan Dazai, "Apa kau yakin Dazai-kun?" tanya Mori memastikan.

"Iya," balas Dazai.

Mori diam menatap kilatan mata Dazai yang tegas. Dan Mori hanya berseringai akan itu.

"Aku kira, kau sudah membunuhnya," ucap sang Tuannya sambil melipat tangannya. Pertanyaan jebakan yang akan di permasalahkan kedepannya pasti.

"Aku juga berpikir begitu," balas Dazai dengan seringai.

Mori menghela nafas, terdengar kewalahan, "Kalau ini ulah Dostoyevsky. Ini akan menjadi sesuatu yang sulit."

"Iya, Tuan. Dia masih dendam padaku," Dazai terkekeh rendah. "Aku jadinya juga akan dendam padamu" balas Mori dengan senyuman tipis.

Dazai terkekeh lagi namun kali ini sedikit kuat intonasinya, "Firasatku berkata kalau Chuuya dalam posisi yang tidak bagus sekarang. Kemungkinana di tahan, atau sejenisnya." ucap Dazai. "Pengguna kekuatan hanya bisa di kalahkan dengan pengguna kekuatan," sambungnya dengan senyum tipis pada Mori.

"Tentu Dazai-kun. Semua orang dengan kekuatan spesial juga tau itu." Mori memasukkan kedua tangannya ke dalam saku mantel hitamnya yang terlihat baru.

"Aku juga tidak tau kekuatan milik Fyodor sampai sekarang, apa anda tau sesuatu?" tanya Dazai.

Mori diam lalu menjawab, "Tidak."

Suasana hening sejenak. Dazai kembali pada lamunanya. Dia menghela nafas panjang. Dan entah berapa banyak ia menghela nafas sampai detik ini.

"Tenang saja Dazai-kun. Aku tidak bisa melupakan penghinaan yang dia lakukan terhadap kita," ucap Mori memberikan senyum tipis. Dia berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Dazai.

Setelah semuanya pergi dan hanya menyisakan Dazai dan Akutagawa di ruangan tenang itu. Denting jam yang terasa hampa mengisi setiap detik di sana. Tetes demi tetes cairan impus juga tak terasa tercampur di dalam tubuh kurus Dazai.

Dazai merasa aneh dengan tempat tidurnya dan dengan cepat ia menyibakkan selimutnya. Atsushi kecil sedang tertidur pulas di sampingnya. Di dalam selimut sambil meringkuk agar hangat. Dazai menatap sosok itu dengan tatapan iba. Tangan Dazai perlahan mengusap kepala Atsushi. "Apa yang harus ku katakan padanya. Dulu Chuuya sempat hilang ingatan. Sekarang hilang? Sungguh payah aku ini," ucapnya pada diri sendiri dan tersenyum tipis, senyum yang menyedihkan.

Akutagawa merasa empati pada Dazai dan berkata dengan tegas, "Saya akan pergi mencari Chuuya-san, Dazai-san!"

Dazai mengeluarkan senyum, seperti terpaksa, "Tidak perlu. Kau-"

"Aku merasa tidak berguna jika hanya diam saja dan menerima semua ini. Setidaknya, aku ingin melihat anda bahagia. Dan saya akan menjaminnya. Saya akan membawa kembali Chuuya-san pada anda!" ucap Akutagawa, dari sorot matanya dia terlihat sangat yakin dan percaya diri.

Dazai setengah tertawa, "Kau seperti pangeran di negeri dongeng saja. Lucu sekali. Bahkan kita tidak punya informasi apapun tentang musuh, Akutagawa-kun."

Tiba-tiba pintu terbuka lebar dan Dazai dengan cepat menutupi tubuh atsushi tanpa gerak-gerik mencurigakan. Lalu bibir Dazai tersenyum lebih ceria. "Angoo" ucap Dazai.

"Yo, Dazai. Aku yakin kau masih bodoh dan ceroboh seperti biasa," balas Angoo dengan nada bicaranya yang biasa, mengancungkan jari tengahnya sekilas dan memasuki ruangan.

"Ya, tentu saja. Itulah aku, sobat," Dazai tertawa kecil dan merasa terhomat.

"Tentang Nakahara istrimu itu. Aku mendapat titik terangnya" ucap Angoo sambil menunjukkan sebuah map berwarna hitam pekat.

Mata Dazai berbinar mendengar perkataan Angoo. "Sungguh?"

"Ya. Dermaga kedatangan kapal pesiar kelas atas tanpa di ketahui siapa pemiliknya. Kemungkinan adalah organisasi yang pernah aku katakan padamu dulu. Aku mendapat informasi dari agen lainnya, kalau itu benar," Angoo menarik kursi, menunjukkan map dan isinya. Sebuah foto-foto dermaga. Kapal pesiar kelas kakap. Potret keadaan lainnya saat itu.

Dazai memperhatikan dengan seksama. Lalu berucap, "Mereka datang untuk siapa?"

"Kau tak perlu menanyakan itu," ucap Angoo sambil mengambil handphonenya dari saku jas dalamnya.

"Pagi ini aku menemukan rekaman cctv. Dan kau tau siapa ini," Angoo menunjukkan gambar dan Dazai sangat kenal sosok itu. Dia memerat seprai dan matanya kembali tajam pada sosok di dalam gambar tersebut.

"Fyodor Dostoyevsky. Berjalan menuju pelabuhan Yokohama. Membawa koper dan sebuah buku," ucap Angoo dan menyimpan kembali handphonenya.

"Itu dia!" Dazai berusaha bangkit namun luka-luka di tubuhnya terasa sangat nyeri untuk bangun. Akutagawa menahan tubuh Dazai agar tidak bergerak berlebihan. "Aku sudah yakin kalau mereka berada di pelabuhan, ukh..." Dazai memegang lukanya yang terasa nyeri.

"Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?" tanya Dazai dengan tatapan memelas secara tak langsung pada Angoo. Membuat Anggo menghela nafas.

"Sayang sekali Dazai. Aku hanya pengumpul informasi dan negosiator. Senjata bukan bidangku." Balas Anggo dengan senyum iba pada Dazai.

"Aku akan pergi," Akutagawa berkata cepat. "Apa kapal itu sudah berangkat?" tanya Akutagawa.

"Menurut informasi yang aku dapatkan. Mereka akan berangkat 30 menit lagi. Bulan purnama memunculkan pasang laut dan mereka tidak bisa pergi saat malam hari." ucap Angoo.

Akutagawa langsung bergegas, "Aku akan pergi! Tidak perlu basa-basi lagi"

Tiba-tiba seseorang yang lebih tua menahan jalan Akutagawa. Itu Odasaku. Salah satu teman minum Dazai di bar langganannya. Odasaku berdiri di kusen pintu. Akutagawa menatapnya dengan kesal karena menghalangi jalannya.

"Minggir," ucap Akutagawa sengit dan tajam.

"Aku tak yakin kau bisa mengendarai kapal, anak muda?" Odasaku tersenyum tipis.

Dazai berbinar atas kedatangan para sahabatnya di saat dia benar-benar memerlukan sebuah uluran. Jika semua rencana ini berhasil mungkin dia akan mentraktir mereka whiesky berkelas seperti koleksi Istrinya sendiri.

Akutagawa mengangguk dan mereka berdua berlalu begitu saja dari ruangan Dazai. Meninggalkan Angoo dan Dazai berdua. Angoo memijit pelipisnya. Merasa sangat pusing dengan semua pekerjaanya.

"Aku tak tau kalau bajingan rusia itu dalangnya," ucap Angoo melepas kacamatanya sejenak lalu mengelapnya dengan lap kacamata miliknya.

"Mengejutkan bukan?" Dazai melipat kedua lengannya sambil berpikir. "Dia balas dendam padaku tadi malam. Semoga saja mereka berhasil menjemput Chuuya," balas Dazai dengan sedikit seringai sinis.

"Ya, sangat mengejutkan," ucap Angoo memasang kembali kacamatanya.

"Dan aku harap kau tak melupakan infromasi rahasia yang dulu aku katakan padamu," Angoo berdiri dari tempat duduknya. Lalu menatap Dazai tajam. Dan Dazai hanya tersenyum lemah menanggapi ucapan sahabatnya yang cerdik ini.

.

.

Cahaya matahari hangat memasuki ruangan dengan arsitektur klasik tersebut. Fyodor yang menatap panorama laut dari jendela sambil berharap semuanya berjalan sesuai rencana. Tapi dia tidak mengharapkan itu utuh. Seorang awak kapal mengetuk pintu. Datang menyampaikan kapal sepuluh menit lagi akan berangkat. Dan Fyodor hanya menganggukan pernyataan itu.

Lalu dirinya kembali melamun. Tangannya mengusap buku yang ada pada pangkuannya. Berharap si mafia mungil itu bisa keluar dengan cepat. Dan Fyodor bisa menebak kalau dia akan di tinju sekuatnya jika Chuuya bisa keluar secepatnya.

"Mungkin terdengar gila jika aku mengatakan ini. Tapi, aku merindukanmu, Chuuya," ucap Fyodor dengan senyuman menyedihkan dan siapapun akan merasa iba padanya.

Setelah beberapa detik Fyodor mengatakan itu, sesuatu terjadi. Buku tersebut bersinar lalu bergetar, kemudian terbuka. Mengeluarkan sosok Chuuya dari dalam sana. Fyodor sedikit terpukau akan sosok berambut senja itu yang terkena kilatan efek cahaya kekuatan. Lalu Chuuya berdiri dengan sedikit linglung. Memegang kepalanya.

Tak butuh waktu lama, Fyodor dengan sigap mengambil alat bius yang di cipatakanFitzgerald. Fyodor menolak tubuh Chuuya ke tempat tidur. Lalu dengan sigap sebelum Chuuya menyadari dirinya ada di mana, Fyodor menyuntikannya. Chuuya berusaha melawan namun obat bius itu tak butuh waktu 10 detik efeknya. Langsung bisa bekerja pada Chuuya. Chuuya tertidur. Fyodor sedikit kewalahan karna memakan tenaga juga melawan kekuatan Chuuya. Entah dia menggunakan kekuatannya atau tidak.

Fyodor menatap sosok Chuuya. Tertidur pulas dengan anggun. Rambut panjang jingganya yang nampak lembut tergerai. Bibirnya yang merah muda tanpa pewarna buatan. Lalu sedikit rona pipinya yang membuatnya nampak sangat manis. Lehernya yang nampak menggoda dengana choker yang sangat Fyodor ingat itu adalah ciri khas Chuuya. Seluruh tubuhnya nampak sangat sempurna. Fyodor menggeleng kepalanya cepat. Ia tak mau berpikir banyak hal yang bisa membuat dirinya sinting berlebihan.

Dengan sigap ia mengangkat dirinya dari atas Chuuya. Berdehem kencang, lalu memperbaiki pakaiannya yang sedikit berantakan. Menatap Chuuya sebentar. Lalu mengambil kursi, menempatkannya di depan tempat tidur sejauh satu meter. Menjaga sosok itu dan mengamatinya. Dia tersenyum, "Tidur yang nyenyak sebentar. Dan kau akan lupa mimpi buruk yang melandamu, Chuuya."

.

.

Akutagawa dengan cepat melompat keluar dari mobil yang di kendarai Odasaku. Dia mencari kapal yang di maksud itu. Namun sayang, kapal itu sudah berlayar pergi. Nampak dari objek kapal itu yang perlahan mengecil.

"Sial!" teriak Akutagawa sekerasnya. Bagaimana dia mengatakan pada Dazai kalau dia gagal.

Odasaku menyusul Akutagawa, menatap pria muda itu yang nampak putus asa. Lalu menghampirinya. Menatap sosok Akutagawa yang sudah menyerah akan kejadian di depannya.

"Apa yang harus aku katakan pada Dazai-san…?" ucapnya lemah.

Odasaku menyambungkan hate di telinganya. "Ya, Angoo?"

"Aku baru memeriksa cctv di kawasan sana. Mereka baru saja berangkat sekitar 5 menit yang lalu ke lautan lepas. Kalian masih bisa menyusulnya. Gunakan kapal cepat yang ada di sana," ucap Angoo dari hate tersebut.

Odasaku memegang pundak Akutagawa, "Ini belum berakhir."

.

.

Mata dengan warna sebening lautan terbuka secara perlahan. Ia menatap sekitar. Menyadari tangannya di ikat lalu kakinya juga. Dia menatap sekeliling dengan panik. Tubuhnya sangat lemah untuk bergerak dan keringat mulai menyusuri punggung Chuuya. Kepala yang terasa berdenyut liar dan linglung. "Dimana ini?" tanya Chuuya.

"Kau sudah sadar?" Fyodor sedikit takjub akan tubuh Chuuya yang sanggup mengambil efek bius tak terlalu lama. Memang Monster Port Mafia.

Chuuya tanda suara itu, lalu menatap sosok Fyodor dengan emosi.

"Kau, aku akan menghajarmu!" teriak Chuuya penuh amarah dan menggeliat berusaha melepas ikatan di tubuhnya.

"Oh, jangan begitu Chuuya. Aku tau caraku sedikit kasar. Tapi jangan begitu," ucap Fyodor berusaha menenangkan Chuuya dengan senyum yang di anggap si Mafia mungil ini sungguh bajingan.

"Cih. Apa maumu!?" teriak Chuuya.

Fyodor menindih Chuuya dengan tetiba. Lalu mengangkat dagu Chuuya, dengan lurus. Menatap dalam mata cobard blue itu. Chuuya terdiam dengan tindakan tersebut. "Kau," ucap Fyodor serasa menusuk jantungnya. Chuuya terdiam. Tidak tau ingin mengatakan apa.

"Apa? Kenapa?" ucapnya sinis.

"Aku mencintaimu, Chuuya," balas Fyodor tanpa senyuman apapun.

"Tidak. Aku tidak. Tidak, tidak, tidak," Chuuya menggeliat dari tindihan tersebut. Namun lehernya dengan sangat tiba-tiba di pegang Fyodor. Terasa mencekik dan sangat sesak.

"Kenapa? Kau mencintai Osamu itu?" ucap Fyodor datar.

Chuuya memerah sejenak, lalu meludah ke arah Fyodor, "Ini tak ada hubungannya denganmu!" Chuuya memberontak kasar.

Fyodor mengelap pipinya, lalu tersenyum layaknya juara. "Kekuatanmu tak akan bekerja. Aku menyuntikkanmu sebuah obat jadi kau tidak bisa menggunakannya dalam waktu 2 jam ke depannya," ucap Fyodor mengeratkan pegangannya pada leher Chuuya. Merasa tercekik.

"Sekarang, apa yang harus aku lakukan padamu, hm?" Fyodor dengan mata dominasi menatap Chuuya layaknya tikus dalam perangkap. Merasa menang pada keadaannya sekarang ini.

Chuuya menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha memberontak, ia menggeliat dan berusaha berguling. Sementara Fyodor masih keras kepala. Cekikan itu bertambah kuat sehingga Chuuya sesak nafas dan terengah. Hingga Fyodor menatap sosok Chuuya yang sedikit takut dan gemetaran. Chuuya menatap Fyodor dengan wajah kesakitan dan memelas. "Kenapa... kau... melakukan ini?" tanya Chuuya dengan suara pelan.

"Kenapa? Kau tanya kenapa? Tentu karna aku mencintaimu!" teriak Fyodor layaknya bocah yang ingin di dengarkan. Dan tampak menyedihkan dari raut wajahnya.

"Bukan begini caranya…" Chuuya menutup matanya dan masih terengah karena cekikan.

"Memangnya cara seperti apa yang bisa ku pakai kalau tidak dengan semua ini!?" Fyodor berteriak kembali. Tangannya semakin kuat mencekik leher Chuuya.

"Kau... berubah drastis Fyodor. Kau yang aku kenal orang yang sangat baik…" Chuuya menutup matanya rapat dan sebuah tetes air mata mengalir. Fyodor terdiam mendengar perkataan Chuuya, perlahan tangannya melepas genggaman kasar tersebut. "Kau selalu ada saat aku bimbang dulu. Kenapa kau menjadi seperti ini?" Chuuya terengah dan menatap Fyodor iba, benar-benar menyedihkan pria Rusia ini di matanya.

Fyodor diam sejenak. Perlahan matanya melembut dari kelam masa lalu. Ia menyingkir dari Chuuya. Lalu duduk di sampingnya. "Aku juga tidak tahu. Tapi hasrat untuk memilikimu itu sampai sekarang masih ada," ucapnya seolah-olah suaranya hampir habis.

Chuuya diam menatapnya. Menatap punggung tinggi dan sedikit tegap dari postur tubuhnya. Dia mendengar hela nafas Fyodor yang panjang dan berat.

"Aku bimbang setelah keluar dari Port Mafia. Kebingungan. Kesepian. Aku menjadi gila. Tak mengerti semuanya. Semua hal, aku selalu mencari jawaban atas semua hal yang aku lakukan. Bertanya-tanya banyak hal. Lalu aku sadar kalau aku ini, hanya marah. Hanya marah, karena tidak bisa mendapatkanmu…" Fyodor mengusap wajahnya dan menunduk. Masih tak mau menatap Chuuya di belakangnya.

"Aku mengelilingi dunia. Menjual banyak senjata. Menjadi bawahan beberapa organisasi lainnya sejenak. Lalu mengembala lagi. Aku tak tau, semuanya nampak sangat pudar di mataku-," Fyodor berhenti sejenak. Perlahan ia berbalik, menatap Chuuya di belakangnya. "Karnamu... Chuuya," mata berwarna ungu tua itu mengkilat akan emosi yang di tahannya selama ini. Dan suaranya menipis.

Chuuya diam menatap matanya, ia tak berkata apapun. Hanya menatap Fyodor yang rapuh. Sangat rapuh. Perlahan Fyodor membuka seluruh tali yang mengikat tubuh Chuuya. Chuuya masih memperhatikannya.

Fyodor tersenyum, senyuman tipis bahagia dan sedih di saat bersamaan. Chuuya diam, tidak bicara, tidak bertanya, tidak berpekik sekalipun. Perlahan Fyodor menyandarkan wajahnya pada pundak Chuuya. Pundak kecil nan hangat.

"Walau hanya sesaat. Sebentar saja, tolong temani aku seperti dulu," Chuuya hanya diam tanpa harus menjawab apapun. Merasakan pundaknya lembab, mendengar desir nafas yang terputus-putus.

.

.

Kapal yang di kendarakan Odasaku secepat angin dan desir ombak menyusul kapal pesiar tersebut. Tanpa aba-aba Akutagawa mengeluarkan Rashomonnya ke salah satu pembatas pagar di kapal. Menarik dirinya ke atas sana. Odasaku memperhatikan, "Dasar anak muda," pekiknya melihat tindakan tidak sabaran tersebut.

Beberapa awak kapal mendatangi pria bermantel hitam ini. Mereka mengarahkan senapan mereka pada Akutagawa. Tak butuh waktu lama suara tembakan bertubi-tubi terdengar. Akutagawa dengan santainya mengeluarkan tameng Rashomon penahan peluru miliknya.

Peluru-peluru timah itu sia-sia di tembakkan padanya, dan dengan sekali hempasan Rashomon milik Akutagawa dia layangkan pada orang-orang tersebut. Simpahan darah menetes dan nyawa terbuang sia-sia. Akutagawa berlari mencari Chuuya di seluruh kapal. Ia mengarahkan amukan Rashomonnya pada orang-orang yang menghalanginya. Hingga salah satu dari mereka tertawa.

"Port Mafia memang tak perlu di pertanyakan kemampuan mereka, namun aku tak bisa membiarkan kau berkeliaran seenaknya, tikus kecil," pria dengan rambut panjang pirang lemon tertawa padanya. Wajah dengan tampang western dan gelak tawa percaya diri.

"Namaku Ivon Goncharov, aku akan membiarkanmu bersenang-senang dengan tuanku Dostoyevsky namun…" Akutagawa merasakan getaran di tempatnya berdiri. Dan dengan sangat tiba-tiba. Besi runcing keluar dari lantai. Akutagawa melompat mundur.

Menatap lawannya, dan kali ini dia harus mengambil serius tantangan di depannya.

.

.

Getaran yang sangat kuat mengguncang kapal yang di tumpangin Fyodor. Seketika ia sadar pada nyamannya pundak yang menopangnya. Ia menatap ke langit-langit. "Dazai memang tidak pernah menyerah," ucapnya dengan kekehan kecil. Fyodor bangkit dari ranjang nyaman tersebut dan mengambil mantelnya.

"Dazai?" ucap Chuuya. Merasa tercerahkan dengan nama tersebut. Dan Fyodor menatap pada matanya yang berharap. Kilauan yang di benci Fyodor seumur hidupnya.

.

.

Akutagawa melompat, menghindari setiap serangan yang di arahkan padanya. Hingga lawannya tertawa. "Apa itu saja kemampuanmu? Bocah mafia?"

Dan tatapan sengit ia berikan pada Ivon yang bangga akan kemampuannya. "Kalau begitu akan ku habisi kau!" teriaknya lalu mengarahkan seluru serangan pada Akutagawa. Getaran kapal itu semakin kuat dan bunyi ledakan tak terelakan.

Odasaku menatap kumpulan asap yang mengepul ke udara. Lalu meneteskan keringat dari pelipisnya.

Ivon tertawa terbahak-bahak. "Jangan pernah meremehkan orang dewasa bocah!" teriaknya.

"Aku tak peduli apapun hinaanmu padaku. Hanya saja…" suara Akutagawa memberat.

Ivon merasa gemetar dengan tulang rusuk belakangnya. Merasakan aura kejam di belakang punggungnya. "TAK AKAN KU BIARKAN KAU MENGALANGIKU DEMI DAZAI-SAN!" dan dengan pukulan milik Akutagawa yang di lapisi Rashomon miliknya ia menghajar Ivon dengan satu pululan.

Ivon terpental, terlempar ke air lautan. Akutagawa mengambil nafas dengan terengah. Lalu dengan cepat ia berlari menuju ruang tengah di dalam kapal. Dengan mudah ia menghindari tembakan-tembakan yang melesat padanya. Dan menghabisi nyawa-nyawa di depannya. Akutagawa tak peduli seberapa pentingnya dirinya di kata Dazai. Dia hanya ingin Tuannya bahagia. Hanya itu.

Hingga ruangan dengan pintu kayu dan ukiran-ukiran membuat kesannya mewah ia tatap. Akutagawa berdiri tegap. Melayangkan Rashomon untuk mendobrak pintu tersebut. Ia masuk dengan tenang ke ruangan tersebut.

Dostoyevsky masih tenang duduk di kursi. Mengahalangi sosok Chuuya di ranjang belakangnya. Fyodor tersenyum pada Akutagawa. "Kau benar-benar bernafsu seperti Tuanmu ya," ucap Fyodor.

Tanpa aba aba Rashomon yang tajam mengarah pada leher Fyodor. Akutagawa diam dan menatap mata ungu yang licik itu. "Lepaskan Chuuya-san," ucap Akutagawa.

Fyodor tertawa rendah. Menatap remeh pada Akutagawa dan berseringai. "Untuk apa ku lepaskan Chuuya?" tanya Fyodor.

"Kau tak takut akan kematian?" Akutagawa sengaja menggesekkan ujung Rashomon yang tajam itu ke leher Fyodor. Membuatnya berdarah sedikit.

"Aku sering berhadapan dengan kematian di depanku, kenapa harus takut?" balas Fyodor sengit.

"Hantikan, Akutagawa!" teriak Chuuya. Fyodor melirik sejenak.

Chuuya bangkit dari ranjang tersebut. Lalu mendekati Fyodor. Fyodor terheran, sebelum sempat ia bertanya dengan kuat Chuuya memukul rahang pipinya. Membuat pria Rusia tersebut terbanting ke lantai. Akutagawa terkaget, begitupun Fyodor. "Hentikan semua kekonyolanmu, Fyodor!" Chuuya berteriak.

Dengan sekali tarik ia menarik kerah pakaian Fyodor. Mengarahkan pandangannya pada mata ungu itu. Sangat tajam. "Aku benci pada manusia yang menerima segalanya di bumi ini tanpa harus berbuat apa-apa!" teriak Chuuya.

Fyodor diam menerima teriakan tersebut. "Aku tanya padamu, kalau kau benar-benar mencintaiku saat itu. KENAPA KAU TIDAK BERJUANG SEDIKIT PUN UNTUK MENDAPATKANKU MALAH MEMBIARKAN SI BAJINGAN DAZAI MENGAMBILKU KEPARAT!" Chuuya berteriak lalu memukul sekali lagi pipi Fyodor.

"Kalau kau benar-benar seorang pria sejati, kau takkan takut akan persaingan sedikit pun! Kalau kau sungguh serius akan perasaanmu saat itu, kau akan memperjuangkan seluruhnya! " Chuuya mengepal tangannya dengan kuat. "Aku benci mengatakannya-," Chuuya tertawa rendah dan merasa bersemangat. "-aku ini mahal untuk di dapatkan," dia berseringai pada lawannya yang tunduk di hadapannya.

"Bajingan Osamu itu setiap hari melakukan hal-hal aneh demi mendapatkan perhatianku dan aku membencinya. Namun aku mengakui perjuangannya," dia menatap pada Fyodor. Iba dan juga jengkel, "Tapi tidak denganmu," ucap Chuuya. Akutagawa yang tidak paham pembicaraan mereka hanya diam.

"Berhentilah menangis, Fyodor. Aku tak suka laki-laki lemah," ucap Chuuya. Lalu memberikan uluran tangan pada Fyodor. "Aku tahu kau pria yang baik, dan aku memaafkan semuanya," ia tersenyum pada Fyodor. Senyuman tipis nan hangat. Memberikan sebuah pencerahan pada dirinya agar berhenti meratapi masa lalu. Fyodor mengambil uluran tangan tersebut.

Dan guncangan terjadi di kapal. Mereka semua kehilangan keseimbangan, dan berusaha bertahan dengan tempat mereka berdiri. "Apa yang terjadi?" tanya Chuuya.

"Ah, orang yang bernama Ivon itu membuat kerusakan di kabin," jawab Akutagawa.

"Kita harus segera pergi dari sini," ucap Chuuya. Ia menatap ke arah Fyodor. "Kau ikut denganku Fyodor, aku ingin memarahimu sepanjang hari ini," Chuuya mengeluarkan ekspresi kesal pada Fyodor. Dan berlalu dari ruangan tersebut. Akutagawa menyusul, mengikuti langkah Chuuya. Fyodor hanya tersenyum sekilas dan menuruti perkataan Chuuya.

Odasaku yang mengikuti kapal tersebut dari sisi kanan kapal mengawasi perihal di sekitar. Dan dengan tiba-tiba suara ledakan dashyat terdengar. Odasaku menjauh sedikit. Lalu terdengar suara siulan, memanggilnya untuk mendekat. Pria berambut merah itu mengemudikan kapalnya dekat dengan tubuh kapal. Akutagawa, Chuuya dan Fyodor lompat ke atas kapal. Lalu dengan cepat Odasaku menjauh dari kapal yang sebentar lagi hancur itu.

Odasaku melihat dari sisi kemudi kapal cepat, ada Chuuya dan Fyodor. Dia terheran sejenak, kenapa musuh ada di atas kapal mereka. Lalu akutagawa masuk ke ruangan kemudi. "Kenapa bisa?" tanyanya pada Akutagawa.

"Keinginan Chuuya-san," ucap Akutagawa. Lalu ia menghela nafasnya. "Mungkin mereka ingin membicarakan sesuatu," sambung Akutagawa menyandarkan punggungnya di dinding kapal karena lelah. Dan Odasaku paham langsung akan keadaan. Lalu ia tersenyum, "Kau tak akan paham romansa di umur belasan Akutagawa," dan yang di panggil hanya mengedikkan bahunya.

.

.

Setelah mereka sampai pada dermaga, Chuuya berjalan-jalan sejenak dengan Fyodor yang mengikutinya. Ia memperhatikan sang rambut jingga itu berjalan. Hingga Chuuya menghentikan langkahnya. Ia menatap Fyodor. Diam dan datar ekspresinya.

"Bodoh!" ucap Chuuya pada Fyodor. Dan yang ajak bicara tak paham maksudnya.

"Aku tak paham kenapa ada saja manusia bodoh di dunia ini, dan aku tak mau kau menjadi salah satu di antaranya," ucap Chuuya datar. Fyodor hanya tersenyum pahit sambil tertawa rendah.

"Maafkan aku, aku hanya bimbang saat itu. Dan aku juga memikirkan kebahagiaanmu. Ku lihat kau lebih bahagia dengan si keparat perbanan, dan aku mundur," ucap Fyodor menatap Chuuya masih dengan senyumannya. Dan dia bisa tenang mengungkapkan seluruh perasaanya. Chuuya melipat kedua lengannya di depab dadanya. Dan menatap Fyodor seolah-olah memiliki dendam berkarat.

"Apa? Siapa yang kau sebut bahagia jika pagi siang sore dan malam manusia tolol itu datang mengusikku?" Chuuya semakin memasang wajah masam dan meludah tak terima.

Fyodor tertawa melihat ekspresi Chuuya, "Yah, aku tau kau tak mengatakan hal yang tidak sebenarnya,"

"Apa!?" Chuuya melotot sengit pada Fyodor. Lalu menghela nafas dan tertawa. "Ya, dia memang menyebalkan tapi…" Chuuya diam sejenak.

Lalu matanya menatap mentari yang hampir terbenam di lautan. "Aku sudah mencintainya dari dulu," sambung Chuuya dengan tawa kecilnya. Nampak sangat bahagia walau sekilas. Dan Fyodor paham ia harus berhenti mengejar tujuan masa lalunya.

Fyodor hanya diam tanpa menjawab perkataan Chuuya. Lalu ia mendekat ke arah Chuuya, Chuuya menatapnya. "Apa kau tak mau ikut denganku, Chuuya?" sekali lagi Fyodor menawarkan.

Chuuya menggeleng pelan. "Tidak, di sini rumahku. Dan di sinilah tempat di mana aku bisa pulang," ucap Chuuya dengan senyuman hangat.

Dan dia mengehla nafas, menatap Fyodorbsekali lagi, "Lagi pula, ada seseorang yang menungguku," ucapnya pada Fyodor. Dengan senyum mans nan hangatnya. Dan Fyodor paham maksudnya.

"Tapi, aku mengajakmu mengobrol empat mata karena aku perlu bantuanmu, Fyodor," ucap Chuuya dengan mata tajam. Dan Fyodor paham ini topik yang penting dari ekspresi Chuuys.

Setelah mereka berdua selesai mengobrol, Chuuya mendatangi Odasaku dan juga Akutagawa.

"Chuuya-san, di mana si sialan Fyodor!?" ucap Akutagawa melihat Chuuya datang sendirian.

"Aku membiarkannya pergi. Dia membuat perjanjian untuk pergi meninggalkan Jepang dengan suatu syarat," ucap Chuuya sambil merenggangkan tubuhnya.

"Syarat apa?" tanya Odasaku.

"Kau tak perlu bertanya hal tak penting, kau pasti sudah paham maksudku, ayo kembali," ucap Chuuya berjalan menjauh dari tepi pelabuhan dan Odasaku hanya mencerna perkataannya. Akutagawa mengekor dan di susul Odasaku.

.

.

Perlahan mata Dazai terbuka memandang sekitarnya. Di lihatnya Chuuya yang sedang mengupas apel duduk di sebelah kasur. Matanya melebar, merasa tak percaya pada yang di lihatnya. Sosok indah itu masih santai sekali dengan apel dan pisau yang di tangannya. Chuuya menatap Dazai sekilas.

"Tidurlah Dazai, kau terluka cukup parah," ucap Chuuya masih santai dan meletakkan piring penuh potongan apel di atas meja. Dia tersenyum pada Dazai.

Dazai bangun dan duduk, ia menatap Chuuya. Chuuya menatapnya. Lalu Dazai langsung memeluk Chuuya karena rasa rindunya yang bergelonjak. Chuuya hanya mengusap punggung kurus dan kokoh itu dengan lembut. Menghirup bau Dazai yang tercampur obat-obatan. Namun tetap nyaman.

"Kau baik-baik saja?" tanya Dazai lalu menatap Chuuya dengan lekat.

"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan, aku baik dengan seluruh anggota tubuhku," Chuuya tersenyum.

Dazai tertawa pelan dan mengusap wajah Chuuya dengan lembut dan perlahan mencium bibirnya. Chuuya diam saat bibirnya di kecup lembut oleh Dazai. Dazai menciumnya dengan lembut. Mengecup bibir manis itu dengan pelan dan sangat gentle. Mereka bertatapan sangat lekat.

"Aku sangat khawatir kau akan pergi lagi," ucap Dazai. Masih memeluk kekasihnya itu.

"Aku tak akan pergi. Sampai kapanpun," ucap Chuuya. Menenangkan kekhawatiran Dazai yang berlebihan.

"Kau tahu kalau aku sangat mencintaimu Dazai," ucap Chuuya seperti berbisik. Dan Dazai hanya tersenyum membalas ucapan manis tersebut.

Pintu kamar terbuka, mereka menatap sosok Atsushi dengan senyum bahagianya. Lalu berlari menuju Chuuya dan Dazai. Chuuya menggendongnya, membuat Atsushi duduk di pangkuannya. Anak manis itu memeluk kedua orang tua angkatnya. Tawa girang polosnya menjernihkan kekhawatiran dan kesedihan.

Lalu Dazai menatap Akutagawa, mengulurkan tangannya pada Akutagawa. Dazai tersenyum, begitupun Chuuya dan Atsushi. Dan Akutagawa kaget akan di terimanya dirinya oleh Dazai dan bahkan lebih dari sekedar orang biasa. Dia sangat senang. Sangat bahagia bisa menganggap Dazai layaknya pengganti seorang ayah.

"Terimakasih untuk semuanya, Akutagawa," ucap Dazai. Dan Akutagawa hanya tersenyum bahagia menjawab ucapan Dazai, setetes air mata jatuh karena bahagia.

.

.

"Maaf kalau ini merepotkanmu Akutagawa," ucap Chuuya setelah memberikan uang belanja ke mini market untuk cemilan.

"Atsushi, ikutlah bersama Kak Ryu, Ayah dan Ibumu perlu bicara berdua." ucap Dazai lalu menyeruput tehnya.

Atsushi mengangguk lalu pergi bersama Akutagawa saling bergandengan tangan. Setelah Dazai tahu ruangan sudah sepi, ia menatap Chuuya dan sorotannya menajam.

"Aku tahu tatapanmu itu, tapi percayalah aku tak di sentuh oleh Fyodor," ucap Chuuya. Berbohong.

Dazai masih menjaga pandangan dominasinya, "Kau tahu Chuuya, kau bukan pembohong yang baik." ucap Dzai dengan senyuman dingin. Chuuya berusaha mengabaikan sifat protektif milik Dazai.

"Dari pada itu, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu," ucap Chuuya menatap Dazai masih tenang. Mengunyah apel yang manis dan Dazai menggaruk belakang kepalanya. Sesuatu yang nampak penting karena raut si rambut coklat itu datar dan dingin.

"Begitupun aku," ucap Dazai.

"Port Mafia, mereka mencari pengguna kekuatan yang bisa merubah dirinya menjadi seekor harimau. Dan itu atsushi. Dan Angoo mengatakan, kalau Mori mengutuskan satu dari anggota eksekutif untuk mencarinya. Dan aku tak tau siapa dia sampai sekarang." ucap Dazai menopang dagunya dengan tangannya.

Chuuya diam sejenak, masih menatap Dazai dalam bimbang. Dazai berpikir banyak hal, lalu Dazai mengeluarkan ekspresi kaget seperti syok. Dia menatap Chuuya.

"Jangan bilang padaku kalau firasatku itu selalu benar Chuuya," dan Chuuya heran dengan maksudnya.

Dazai berusaha bangkit dari tempat tidurnya dan langsung di tahan oleh Chuuya. Chuuya menopang dadaya. "Ada apa!?" dan Chuuya bisa merasakan kekhawatiran Dazai saat menatap matanya yang mengkilat.

.

.

Dalam perjalanan kembali ke rumah sakit, kedua saudara angkat tersebut bergandengan tangan. Atsushi berjalan dengan girang sambil memegang roti melonnya. Anak kecil itu sangat aktif, Atsushi melepas genggaman Akutagawa dan berlari lari kecil sambil mengejar kucing yang tadinya tengah menjilati bulu putihnya yang tampak lembut.

"Jangan lari-lari Atsushi," ucap Akutagawa.

Handphone milik Akutagawa berdering, ia mendapatkan mail. Akutagawa berhenti berjalan, ia diam sejenak lalu menatap Atsushi yang masih tampak girang memakan roti melonnya. Kembali di masukkannya handphonenya pada saku mantelnya.

"Atsushi, mau ikut menemaniku ke apartemenku sejenak? Aku lupa ada barang yang harus ku bawa," ucap Akutagawa memanggil Atsushi yang sedang jongkok dan mengusap-usap kepala kucing liar di depannya.

"Wah, kita ke rumahnya kak Ryou!? Boleh kak!" ucapnya girang. Berbalik badan kecil Atsushi dengan cepat. Dan mereka berjalan bergandengan menuju apartemen milik Akutagawa.

Tak butuh waktu lama sampai ke apartemen Akutagawa, karena jaraknya beberapa blok dari tempat mereka sebelumnya. Akutagawa membuka pintu di susul Atsushi masuk duluan. Perlahan derit pintu terdengar menutup. Ia menyusul Atsushi yang menatap seluruh isi apartemennya yang gelap.

"Kenapa apartemennya kakak gelap sekali?" tanya Atsushi.

Akutagawa diam tak menjawab membuat Atsushi heran. Sang pemakai jubah hitam ini masih berdiri di depan pintu, membuat Atsushi heran. Perlahan dia menatap Atsushi dengan tatapan tajam dari balik pundaknya.

"Maafkan aku Atsushi…" ucap Akutagawa dan dia langsung mengeluarkan Rashomon untuk menangkap kaki Atsushi. Atsushi terdiam dan sedikut menjerit.

Perlahan langkah kakinya mendekati Atsushi yang nampak ketakutan akan sosok Akutagawa Ryounosuke milik Port Mafia. Kelam, dan sadis dari caranya menatap Atsushi yang tunduk di hadapannya. Akutagawa mengeluarkan box kecil berisi suntikan dan cairan bius.

"Maafkan aku Atsushi," ucap Akutagawa mengusap kepala Atsushi, dan perlahan mengarahkan jarum suntik tersebut ke leher Atsushi. Obat bius itu masuk ke darah si kecil berambut putih dan tak butuh waktu lama untuk membuat biusnya bekerja. Atsushi pingsan dan di tangkap oleh Akutagawa.

"Alasan aku bergabung pada Port Mafia karena adikku yang sakit. Namun ia sudah tiada… Aku tak pernah memiliki tujuan hidup. Jikala ada, semua itu sudah pupus," ucapnya terdengar serak.

Dari suaranya ia merasa tak tega dan sangat terluka. Bahkan air matanya pun menetes karena emosinya yang meluap. Namun ini sudah menjadi tugasnya. Tugasnya untuk menyelidiki Manusia Berkekuatan Transformasi Harimau. Dia mengusap kepala kecil Atsushi dan mencium keningnya yang lembut. Perlahan Akutagawa menggendong tubuh Atsushi, dan meletakkannya di dalam tas yang besar. Cukup untuk ukuran tubuh anak kecil.

Dan Akutagawa pergi meninggalkan apartemennya.

.

.

To be countinued.

.

.

Omake

Its been so long not write this trashy fiction. Do you know why i call it trash? Because to many words not really important to write. I make it simple and to the point. Just need 2 chapter and it will end soon.

Anyway, i want to say somethin… i'm a man. Honestly. I m good trap ehehe

Tapi ini beneran:) dan gua bukan cowo uke anj- /tabok.

Maaf udah lama ga muncul gan. Ya gua sibuk sih. Di rl. Udah kuliah juga akunya. Dan sekarang lagi kerja. Ouh, aku kuliah di jurusan DKV. Mungkin ada yang mau belajar menggambar? Sini sini:v gift pulsa dulu tapi:"v

Gua main mobalog yang bikin gua mager ngetik. I m sorry i m not playing bang bang. Moba kok plagiat mulu uh (gausah ngebait gblk).

And also, gua lagi garap fiksi buatan sendiri dan isinya itu OC. Ceritanya tentang duyung ama pangeran saling jatuh cinta. Dan ceritanya di jaman kerajaan klasik. Masih aku garap 3 chapter. Cek wattpad nama pena 'satsukigrey'. Judulnya Once Upon A Dream. Mungkin ada yang kangen ama fiksi buatan aku bisa mampir kalau ada waktu senggang, thanks.

And of course i always write boys love uhuk. Dan lagi pengen fokus ke sini. Dan ini dark romance gua usahain. Dan… saya cinta Merline melebihi Chuuya /didemo.

Udah sih ya itu aja. Cuma mau kasih kabar ehehe. Makasih udah baca sampai chapter ini. Maaf nunggu hampir satu tahun penuh untuk kelanjutan cerita. Ya namanya juga kang php aku:v

See yaa~

-satsuki grey 2019-