.

Stalker Conflict © AzuraLunatique

Brothers Conflict © Idea Factory & Otomate

Genres are Romance, Family, Humor, Slice of Life

Rate is T

.

I just own the story and few OCs.

Karena sedikitnya informasi mengenai season 2 broCon, fic StaCon berlanjut setelah… well, just read it!

Happy reading! XD

.

Chapter 11

Summer Plan

From : Natsume-niichan

Content : Aika-chan, saya butuh kamu.

BRUUUSSH!

Minuman yang baru masuk ke mulutku langsung tersembur dengan tidak elitnya.

"What with that face, Ai-chan?" tanya Rio, sepertinya bingung dengan wajahku yang sangat-shock-pake-banget. Rio tanpa menunggu jawabanku, kembali serius dengan masakannya yang sedang dimasaknya.

Aku membenarkan posisi dudukku di kursi. Aku menggeleng pelan. "No worries! I'm fine. It's just…" aku melirik lagi ke ponselku yang menampilkan email yang baru saja sampai. Dari Natsume-san.

Aku berpikir keras. Tangan kiriku menyapu rambutku yang saat ini pendek. Aku memotongnya karena musim panas kali ini cukup mengerikan. Rio sempat teriak-teriak pas melihat rambut pendek seleherku. 'You're so cu~te, Ai-chan!' teriaknya sambil loncat-loncat. Aku sampai harus memukulnya dengan sapu baru dia bisa diam.

Ah. Back to the topic.

Ada apa dengan Natsume-san? Apa suatu yang buruk banget sampai dia mengirim email seperti ini.

Tiba-tiba, ada panggilan masuk. Dari Ema-chan.

"Hello?" seruku setelah menekan tombol hijau.

"Ai-chan," suara di ujung sana bergetar.

"Kamu kenapa Ema-chan?" tanyaku khawatir.

"A-Aku…"

"Ya?"

"A-Aku… sudah menjawab…" jawab Ema dengan getaran suara yang lebih terdengar menyedihkan.

Deg!

Aku kembali teringat beberapa hari lalu, Ema curhat padaku. Subaru-san melamarnya. Tapi, ia masih ada rasa pada Natsume-san. Well, aku tau banget Natsume-san seperti apa, jadi aku mendukung Natsume-san. Subaru-san aku nggak terlalu dekat. Dia terlalu pemalu sih. Tapi, Ema lah disini yang menentukan. Aku pun memberi beberapa saran saja.

Sebenarnya aku cukup senang karena Ema mau bercerita padaku tentang masalahnya, padahal aku sudah lama meninggalkan jepang. Hmmm, hampir tiga tahun ya?

Aku mendesah panjang.

"Jadi? Kamu jawab apa?"

"A-Aku jawab… 'iya' pada Subaru-san."

Aku tersenyum kecut. Subaru-san toh yang terpilih…

"Lalu, kenapa kamu bersedih?"

"Aku hanya merasa bersalah pada Natsume-san."

Aku memutar bola mataku, sedikit kesal. "Listen to me, Ema-chan. Dalam percintaan, nggak semuanya indah. Apalagi dalam perebutan cinta. Pasti ada yang menang dan kalah. Natsume-san bakal ngerti kok kalau kamu lebih mencintai Subaru-san dari pada dia. Dan sekali lagi kuingatkan, hidup ini adalah milikmu. Pernikahan adalah sebagian dari hidup. Jadi jangan sampai kamu menyesal. Sakit memang, tapi itu memang yang seharusnya terjadi."

Hening.

Ema-chan tak berkata apa-apa di seberang telepon.

"Ema-chan," lanjutku, "Kamu sudah mematahkan 12 hati saudara laki-laki angkatmu loh. Masa yang satu ini kamu bingung sih?"

"Eeeh? Ja-Jangan bilang seperti itu dong!" serunya, malu.

Aku terkekeh. "Makanya, kamu yang kuat aja. Aku yakin semuanya bakal baik-baik saja."

"Benarkah?" tanya Ema-chan, dengan suara penuh harap.

"Iya dong! Kan instingku kuat! Percaya deh!"

"O-Oke!" Seruan Ema-chan kali ini terdengar ceria.

Aku menghela nafas panjang. Syukurlah Ema-chan nggak sedih lagi.

"Hei, Ema-chan. Ntar kalau sudah ada tanggal nikahnya, telepon aku ya!"

"Sip! Pasti aku akan nelpon kamu, Aika-chan."

Aku pun menutup sambungan telepon dan kembali membuka inbox email-ku. Aku kembali menghela nafas panjang.

Aku mengerti sekarang, kenapa Natsume-san mengirim email kayak orang sekarat gitu. Aku kembali teringat janjiku tiga tahun yang lalu.

Aku memutar badanku, menghadap Rio yang masih berkutat dengan kompor. "Rio!"

"What's wrong, darling?"

"Aku akan membatalkan short course-ku musim panas ini." Aku beranjak dari kursi, mendekati Rio. "There's a place that I have to go."

Rio mematikan api kompor lalu menoleh ke arahku. Ia tersenyum cerah. "Okay! Japan, right? I will buy the ticket right away."

"Thanks, Rio."

"Oh, but is it alright for you to cancel your short course?"

"Hm? Memangnya kenapa?"

"Ai-chan nggak bakal bisa lulus di waktu yang Ai-chan sudah tentukan, kan?"

Aku nyengir. "Ah, itu nggak masalah. Bisa diurus. Menambah beberapa bulan nggak masalah kok."

"I see."

"Aku mau mengepak koper dulu ya?" teriakku, lalu berlari ke kamarku.

Japan! Wait for me. I'll be there!

Ah, but Fuuto's in America. Sayang sekali.

.

.

.

Panas.

Panaaas.

PUANAASSS!

Gila ya, musim panas di Jepang. Mengerikan. Tiga tahun di London, aku jadi lupa betapa panasnya musim panas di Jepang. Aku memberikan uang ke sopir taxi yang sedang menurunkan koperku dari bagasi.

Setelah mengatakan terima-kasih, taxi itu pun pergi dari depan apertemen yang salah satu kamarnya dihuni oleh Natsume-san. aku menyeka keringat dari dahiku. Aku bersyukur karena aku sudah memotong rambutku. Aku merapikan baju musim panasku dan membenarkan sabuk di celana pendek sepahaku.

Setelahnya, aku langsung melangkah masuk menuju apertemen Natsume-san.

Ting tong!

Aku memencet bel pintu apertemen Natsume-san dengan perasaan berdebar. Aku nggak bisa menghilangkan rasa excitement aku karena bisa ketemu muka lagi dengan Natsume-san.

Ckreeek!

Dan tampaklah wajah Natsume-san ketika pintu terbuka dengan sempurna. Wajahnya Natsume-san tampak.. cengo?

"Konnichiwa, Onii-cha~n!" sapaku, sambil langsung memeluk erat Natsume-san.

"Aika-san?"

Aku melepaskan pelukanku lalu terkekeh geli. "Wah, jangan-jangan Onii-chan beneran nggak percaya kalau aku bakal langsung terbang kesini kan?"

"Eh, ah, itu…" Natsume-san tampak bingung juga malu.

"Izinkan aku masuk dulu dong!" pintaku.

"Ah, ya, masuk aja ke dalam, Aika-san."

"Ojamashimasu!"

.

.

.

Setelah mandi dan berganti baju, aku langsung melompat ke sofa hijau. Untuk beberapa malam ini aku berencana menginap di apertemennya Natsume-san. Awalnya Natsume-san nggak mau, tapi akhirnya, dengan kemampuan puppy-eyes-ku, Natsume-san menyerah. Sampai saat ini aku belum berbicara apapun mengenai Ema-chan. Kami mengobrol seperti biasanya. Hal-hal tak penting.

"Jadi, Onii-chan masih kerja di perusahaan game itu?" tanyaku sambil menekan tombol next channel di remote televisi.

"Iya. Aika-san disana juga jadi penulis?" tanya Natsume-san, sedang sibuk dengan sesuatu di lemarinya.

"Nope. I'm sincerelly studying."

"Oh."

Aku melihat satu-satu channel di televisi. "Onii-chan~! Nggak ada apa acara bagus malam ini?"

"Sebentar! Ini saya lagi nyari CD film yang bagus."

"Asik! Oh, Onii-chan!"

"Apa lagi?"

"Aku lapar."

"Haa? Bukannya tadi baru makan malam?"

Aku mengedikkan bahuku. "Entahlah. Sepertinya perjalanan London-Tokyo cukup melelahkan. Mana sekarang musim panas. Bawaannya lapar."

Natsume-san mengambil duduk di sampingku lalu menunjukkan beberapa CD. "Mau yang mana?"

Aku meneliti setiap judul film yang diperlihatkan Natsume-san. "Ah, yang horor ini aja! Di internet katanya seru."

"Aika-san suka horor?"

Aku menggeleng kepala kuat-kuat. "Takut banget! Nggak berani nonton sendiri."

"Loh, kok?"

"Mumpung ada Onii-chan disini, aku pengen nonton."

Natsume-san memandangku dengan tatapan heran.

"Aku penasaran!" seruku lagi, menegaskan.

"Baiklaaah."

"Ada snack nggak Onii-chan?"

"Ada di lemari atas kompor. Aika-san mau makan jam segini? Nggak takut gendut?"

Aku langsung beranjak ke dapur. "Nggak dong! Aku kan ajaib!"

Film pun dimulai. Aku memegang snack potato chips-ku erat-erat. Aku bisa merasakan tatapan geli Natsume-san yang ditujukan padaku. Film dimulai dengan tampilan suasana sebuah sekolah. Ada seorang siswa disitu yang tampak tersesat. Waktu sudah menunjukkan tengah malam. Keringat berucucuran di pelipis siswa itu. Wajahnya menampakkan ketakutan. Tiba-tiba, yang awalnya ada suara musik sekarang menghilang. Sunyi dan-

Sebuah kepala dengan wajah hancur belur penuh darah muncul di bahu siswa itu.

"KYAAAAAAAAAAA~!" teriakku, bersamaan dengan teriakan siswa itu. Aku bisa merasakan sudut mataku yang basah. Snack yang kupegang sudah berhamburan di lantai.

"Baru awal gini udah takut. Mau ganti film?" tawar Natsume-san, sesekali diselingi kekehan.

"Nggak!" jawabku, keras kepala. "A-Aku mau nonton ini."

"Yakin?" goda Natsume-san, masih dengan kekehannya.

"YAKIN! Udah deh, sekarang temenin aja aku," ucapku sambil melingkarkan tanganku di lengan kiri Natsume-san.

"Iya, iya."

"Onii-chan," panggilku, sedikit berbisik.

"Apa, Aika-san?"

"Nanti malam tidur bareng ya? Lucy nggak kubawa kesini." Aku terdiam sebentar. "A-Aku… ehem, takut…" aku menatap mata Natsume-san dengan tatapan memohon, "Takut sendirian…"

Sebuah kekehan kembali terdengar.

"Iya. Ditonton tuh film-nya. Jangan malingin muka mulu."

"Iyaaa~ berisik ah!"

"Hehehe… Aika-san manis banget deh."

Deg!

Aku melirik Natsume-san, ingin mengatakan sesuatu tapi terpotong oleh-

"Aika-san! Lihat itu!" Natsume-san menunjuk televisi dengan wajah kaget.

"Apa?" aku menolehkan wajahku lalu mendapati-

Rombongan hantu mengejar siswa dengan sangat mengerikan.

Aku melotot kaget. Terlalu syok. Aku terpaku tak bisa bergerak.

"Aika-san?" tanya Natsume-san heran.

"KYAAAAAAAAAA~!" teriakku akhirnya. Aku langsung memeluk erat-erat tubuh Natsume-san. Aku mencakar-cakar punggung Natsume-san, berusaha menghilangkan image menyeramkan tadi.

Uuuuh, Natsume-san kejam. Yang tadi seram banget.

Seram banget.

Seram.. huhuhu…

Aku takuuut…

.

.

.

Ah, cahaya matahari pagi benar-benar menyilaukan. Aku menyipitkan mataku. Aku mengangkat tubuhku lalu bersila di atas futon. Aku menghela nafas lega ketika melihat cahaya matahari itu. Aku kembali mengingat film hantu yang tadi malam kutonton. Aku langsung geleng-geleng kepala.

"Lupakaan. Lupakaan," ucapku, komat-kamit.

"Aika-san? Sudah bangun?" tanya sebuah suara dari luar ruangan.

"Udaaah!" balasku.

Aku langsung beranjak berdiri, melipat futon yang kupakai, lalu berlari ke dapur. Di dapur, aku melihat Natsume-san sedang menyiapkan sesuatu.

"Mau kubantu?"

"Tolong siapin mejanya ya?" pinta Natsume-san, tangannya sibuk dengan menggoreng ikan.

"Oke Boss!"

Aku langsung menarik meja rendah dan meletakkannya di tengah ruangan. Setelahnya aku mengambil dua mangkuk lalu mengisinya dengan nasi. Tak lupa dua pasang sumpit.

Persiapan sarapan pun selesai. Aku duduk menghadap Natsume-san. Sarapan pagi ini adalah ikan dan sup juga karaage.

"Itadakimasu!"

"Itadakimasu," ucap Natsume-san mengikutiku.

"Munch… Onii-chan… munch… kerja hari ini? Munch," tanyaku disela-sela mengunyah.

"Aika-san nggak berubah juga ya. Ngomongnya setelah makanannya ditelan." Natsume-san menggeleng-gelengkan kepalanya.

Aku menelan makanan dengan cepat. "Hehe, habisnya udah keburu penasaran."

"Dimakan supnya."

"Iya, Onii-chan"

"Saya kerja hari ini. Rencana Aika-san gimana?"

"Hmmm… karena Fuuto pergi ke Amerika," aku terdiam, berpikir keras, "Yuusuke juga katanya masih ada kuliah. Hmmm… bingung."

"Ke Sunrise Mansion aja. Mungkin ada seseorang disana. Sekalian berkunjung. Orang-orang disana pasti juga senang kalau bisa melihatmu lagi."

"Oh, ide bagus."

"Nanti setelah kerja saya jemput."

"Asik!" aku menggoyang-goyangkan tubuhku, bahagia.

"Habiskan dulu makanannya."

"Okay." Aku menghentikan goyangku. "Tapi nggak apa Onii-chan jemput aku?"

"Kenapa memangnya?"

Aku memainkan sumpitku. "Kan ada Ema-chan disana."

Natsume-san terdiam sesaat lalu melanjutkan makannya. "Saya tidak apa-apa."

Aku menatap tajam Natsume-san, tak percaya.

Natsume-san tiba-tiba mengulurkan tangannya dan mengacak-ngacak rambutku. "Kan sekarang udah ada Aika-san!"

"Eh? Bagus deh!" seruku, ikut tersenyum. Tapi aku yakin, Natsume-san masih sakit hati.

Ah, yang penting Natsume-san merasa lebih baikan. Aku melanjutkan makanku sambil berpesta ria di dalam hati. Syukurlah aku datang ke Jepang. Dibutuhkan orang itu memang menyenangkan.

.

.

.

Aku menatap takjub pohon yang ada di tengah halaman Sunrise Mansion. Pohon ini makin terlihat angker saja. Euh.

Aku menatap halaman dengan perasaan campur aduk antara kagum dan rindu.

"Ada yang bisa dibantu?" tanya sebuah suara dari belakangku.

Aku langsung membalikkan badanku dan-

"Tsubaki-san?"

"Eh?" Tsubaki-san menyipitkan matanya lalu tampak kaget. "Aika-chan?!"

Aku terkekeh bangga. "Yes! It's me!"

"Aika-chaaan!" Tsubaki-san tiba-tiba memelukku erat.

Aku balas memeluk Tsubaki-san. "Tsubaki-saaaan! Kangeeen!"

"Aku jugaaa!"

Kami pun melepaskan pelukan lalu tertawa geli.

"Aika-chan nggak berubah. Berubah sih, rambutnya doang."

"Masa? Hm, Tsubaki-san berubah loh."

"Berubah?"

"Iya. Tambah ganteng."

Tsubaki-san tertawa senang. "Wahaha, tentu saja. Aika-chan juga tambah imut. Apalagi potongan rambutnya kayak gini. Imut banget!"

"Iya dong."

"Tapi Aika-chan kok tambah pendek ya?"

Aku memonyongkan mulutku. "Aku nggak tambah pendek! Tsubaki-san yang tambah tinggi!"

"Wah, kalau begitu Aika-chan nggak tambah tinggi ya?" goda Tsubaki-san, sambil nyengir lebar.

"Aku tambah tinggi kok!" seruku, membela diri.

"Oh ya? Berapa?"

"0.8 sentimeter!" seruku bangga.

Tsubaki-san terdiam. Mengedipkan matanya beberapa kali lalu-

"Hahahahaha!" tawa pun pecah dari mulutnya.

"Kok malah ketawa?" tanyaku, kesal. Aku kembali memonyongkan mulutku.

"Hahaha! Adu-duh.. gomen, Aika-chan," lirih Tsubaki-san meminta maaf di sela tawanya. "Masuk ke dalam yuk! Di luar panas," ajak Tsubaki-san akhirnya.

Aku mengangguk dengan malas. "Aku mau es krim. Kalau nggak, aku nggak bakal maafin Tsubaki-san."

Tsubaki-san tertawa geli. "Es krim ada. Banyak. Ambil aja."

"Asik. Beneran kuambil banyak loh!"

"Ambil aja!"

Dan aku pun masuk ke Mansion bersama Tsubaki-san yang masih tertawa geli.

Ah, memangnya aku punya bakat nge-badut apa?

Aneh.

.

.

.

"Enak es krimnya?" tanya Tsubaki-san sambil menatapku lekat-lekat. Tsubaki-san yang duduk di sampingku sesekali terkekeh tatkala menatapku.

"Enak. Tsubaki-san nggak makan es krimnya?" tanyaku heran. Karena daritadi, pria berambut putih itu hanya menatapku saja.

"Ngeliatin Aika-chan aja udah cukup kok!" ujar Tsubaki-san dengan nada menggoda.

Aku menaikkan alisku. "Kalau nggak mau buat aku aja!" sambil menyodorkan wajahku mendekat ke es krim yang dipegang Tsubaki-san.

"Wo-Woah! Ini punyaku!" seru Tsubaki-san sambil menjauhkan es krimnya dari wajahku.

Aku nggak mau kalah. Entah kenapa, aku pengen banget makan punya Tsubaki-san. Aku terus menyosorkan mulutku ke es krim Tsubaki-san. Aku meletakan satu tanganku di pundak Tsubaki-san agar bisa meraih es krim yang pegangannya ditinggikan oleh Tsubaki-san. Tsubaki-san menarik tangan kanannya yang memegang es krim ke belakang, mejauhi wajahku. Aku terus mendorong pundak Tsubaki-san, menjadikannya tumpuan. Sedikit lagi aku bisa menjilat es krim Tsubaki-san. Sedikit lagi. Sedi-

BRUAKK! –kami jatuh dengan diriku menindih Tsubaki-san. Entah bisa disebut beruntung atau tidak, kami jatuh ke atas sofa, bukan ke lantai.

"Aw!" rintihku, juga Tsubaki-san.

Es krim yang kupegang tadi sudah tak lagi ditanganku. Mataku yang terpejam tadi membuka perlahan dan-

"Eh?"

Jarak wajahku dan wajah Tsubaki-san tak lebih dari 10 sentimeter. Aku sekarang mengerti kenapa aku tak begitu kesakitan. Ternyata Tsubaki-san menjadi bantalan yang cukup empuk. Dengan posisi ini, aku dapat meneliti detail wajah Tsubaki-san yang tampan. Mata yang bersinar, hidung mancung, bulu mata lentik, beberapa helai rambut yang menutupi sebagian wajahnya juga bibirnya yang sedang mengaduh kesakitan. Suaranya yang mendesis itu begitu indah untuk didengar. Aku mengerti mengapa ia menjadi seiyuu yang benar-benar terkenal.

Aku menelengkan wajahku, mencari es krimku yang jatuh entah kemana. Aku akhirnya melihat es krimku tak jauh dari tanganku. Es krim itu sudah terbelah dua dan meleleh, mengotori sofa. Aku memonyongkan mulutku.

"Es krimkuuuu!" rengekku sambil memukul pundak Tsubaki-san, kesal.

Tsubaki-san yang tadinya masih mengeluh kesakitan dan keberatan langsung tertawa ketika mendengar rengekanku.

"Kalian sedang apa?" sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku dan Tsubaki-san.

Aku langsung turun dari atas badan Tsubaki-san dan melihat dua sosok pria. "Ukyo-san! Kaname-san! Lama nggak ketemuuuu!"

"Aika-chan?" seru mereka, langsung menghampiriku.

Aku langsung memeluk Ukyo-san. Setelah memeluk Ukyo-san aku menoleh ke arah Kaname-san yang sedang merentangkan tangannya dengan wajah berbinar. Ugh. Bulu kudukku sedikit berdiri ketika berhadapan dengan pria yang punya gelar playboy. Tapi, demi kesopanan, aku memeluk Kaname-san. Kaname-san balas memelukku dengan erat.

"I miss you, darling," ujar Kaname-san.

"I… don't miss you," desisku, sambil memonyongkan mulutku.

Kaname-san hanya tertawa ketika mendengar balasanku.

"Aika-chan tambah pendek ya?" tanya Ukyo-san, tiba-tiba.

"Iya ya. Kamu kok menciut Aika-chan?" Kini Kaname-san juga ikut-ikutan bertanya.

"Aku nggak tambah pendek!" seruku, kesal dengan pertanyaan yang sama.

"Yakin?" goda Kaname-san.

"Yakin! Aku tambah tinggi tau! 0.8 sentimeter!" seruku, bangga.

"Hahahaha~!" sontak kedua pria itu tertawa.

Aku memonyongkan mulutku, sebal dengan reaksi Ukyo-san dan Kaname-san yang sama persis seperti Tsubaki-san.

"Kapan Aika-chan sampai di Jepang?" tanya Ukyo-san sambil tersenyum sangat manis. Pria dengan tampang lembut itu masih sama seperti dulu.

"Kemarin."

"Loh, nginap dimana?" tanya Kaname-san. Aku sempat tertegun saat menyadari penampilan Kaname-san. Ia sedikit memotong rambutnya. Kini ia tampak lebih rapi. Kini, ia juga mengenakan baju kerja.

"Emmm, di apartemennya Onii-chan," jawabku.

"Onii-chan?" seru keduanya bingung.

"Si Natsume," jelas Tsubaki-san sambil melap tangannya dengan tisu yang baru diambilnya. "Kenapa si Natsume kamu panggil 'Onii-chan', Aika-chan?"

Aku menggaruk tanganku, lupa kenapa aku memanggilnya begitu. Kalau tidak salah…

"Hemmm. Dia udah kayak kakak bagiku. Sering banget nolong aku. Dan aku memang nggak punya kakak, jadi aku meminta Natsume-san untuk jadi kakakku."

"Aku juga mau dong," ucap Kaname-san dengan pandangan yang agak aneh.

Aku mengernyitkan keningku. "Mau apa? Es krim?"

Kaname-san terkikik geli. Tsubaki-san juga. Sedangkan Ukyo-san memukul kepala Kaname-san pelan.

"Maksudku, aku pengen Aika-chan manggil aku 'Onii-chan' juga."

"Oooh, itu. Ogah ah. Aku nggak mau punya kakak yang playboy."

"Eeeh? Kejam. Aku nggak playboy kok. Udah nggak lagi."

"Oh ya?"

Kaname-san mengangguk. Wajahnya terpampang senyuman ceria.

"Kaname-san sedikit berubah ya? Udah nggak jadi pendeta lagi ya?" tanyaku sambil menatap Kaname-san dari ujung kepala ke ujung kaki.

"Kok tahu?" tanya Kaname-san, kaget.

"Nebak aja. Kenapa berhenti jadi pendeta?" tanyaku, penasaran.

Kaname-san menyeringai. "Menurut Aika-chan kenapa?"

"Emmm, karena Kaname-san mau membangun rumah tangga?"

"Ping pong!" seru Kaname-san tampak senang. "Instingmu ternyata masih sekuat dulu. Kereeen!" Kaname-san tiba-tiba mengacak-acak rambutku.

"Uwah! Kaname-san! Hentikan!"

"Kamu ini makin imut aja! Seharusnya makin dewasa!"

"Kaname-san! Hen-Hentikan!" seruku sambil mengibas-ngibaskan tanganku. Tapi, Kaname-san tak menghentikanku. Aku melirik Ukyo-san yang biasanya tanggap dalam hal ini, tapi ternyata Ukyo-san sedang sibuk dengan ponselnya. Bahkan Ukyo-san terlihat sedang berteriak-teriak kesal pada seseorang yang berada di seberang ponselnya. Dan mungkin karena teriakan itu, Kaname-san berhenti merusak rambutku dan menoleh ke arah Ukyo-san.

Ukyo-san menekan suatu tombol di ponselnya lalu memasukkan ponselnya ke saku celananya. Ukyo-san menggerutu lalu menarik nafas dalam-dalam. Aku memandang Ukyo-san dalam diam. Sedikit terpukau dengan tingkah Ukyo-san yang tidak biasa.

"Tadi itu Tuan Putri ya?" tanya Kaname-san, sebuah cengiran geli tersampir di bibirnya. Ada nada menggoda disuara bass-nya.

Alis Ukyo-san sedikit berkedut. Ia menghela nafas panjang. "Aku akan ke bawah dulu. Makan malam hari ini sudah dipesan Masaomi-niisan." Setelahnya, Ukyo-san langsung pergi dengan langkah terburu-buru.

Aku menoleh ke arah Kaname-san. "Siapa itu Tuan Putri?"

"Tuan Putri itu wanita manis yang baru-baru ini ngontrak apartemen di lantai dua," jawab Kaname-san sambil duduk di sofa. Ia menyenderkan punggungnya. "Sofa ini masih empuk ternyata."

"Oh. Apa ada hubungan spesial di antara mereka?" tanyaku, penasaran.

Raut wajah Kaname-san sedikit mendung. "Ukyo-nii itu pengacara keluarga si Tuan Putri. Ceritanya panjang dan sedikit tak menyenangkan untuk dibahas. Tapi, kuharap Aika-chan mau berteman dengan Tuan Putri."

Tsubaki-san tersenyum. "Meski Tuan Putri itu sedikit unik, tapi dia wanita yang baik."

Aku menganggukkan kepalaku dengan semangat. "Pasti! Kalau wanita itu bisa membuat Ukyo-san jadi kayak orang kebakaran, pasti wanita itu menarik!"

Kaname-san terkikik. "Kamu juga menarik loh, Aika-chan."

"Tentu saja! Kalau tak menarik, hidup bakal membosankan."

"Tadaima!"seru sebuah suara dari arah tangga.

"Okae- Masaomi-san!" sapaku sambil menghampiri Masaomi-san lalu memeluk pria dengan rambut karamel itu erat-erat. "Apa kabar, Masaomi-san?"

"Sehat. Aika-chan?" tanya Masaomi-san balik, sambil mengusap kepalaku lembut.

"Sangat sehat!" jawabku sambil merentangkan kedua tanganku.

Kedua mata Masaomi-san meneliti tubuhku. "Aika-chan."

"Ya?"

"Kamu tambah pendek ya?"

Aku cengo.

Masaomi-san memiringkan kepalanya. "Kok bisa ya?"

Di belakangku, Kaname-san, Ukyo-san dan Tsubaki-san langsung tertawa terbahak-bahak. Aku memonyongkan mulutku. Kenapa sih dengan mereka? Masa aku beneran tambah pendek? Dulu Yuusuke juga pernah menanyakan pertanyaan yang sama. Apa aku beneran tambah pendek? Atau itu memang pertanyaan andalan Asahina Bersaudara?

Tau ah.

Nyebelin. Nyebelin. Nyebelin.

Aku mendecih kesal.

"Masaomi-san nyebelin!"

"Eeeh?"

.

.

.

Makan malam terasa begitu menyenangkan. Hampir semuanya hadir kecuali Ema dan Subaru-san yang lagi wisata berdua. Iori-san, Azusa-san, Hikaru-san dan Fuuto juga tidak hadir karena pekerjaan. Yuusuke juga tidak ada. Katanya mau nginap di rumah temannya. Bah, dasar Yuusuke. Dia nggak kangen apa sama aku?

Aku mengunyah dengan lahap Toriyaki yang terasa sangat enak dan crunchy di mulut. "Munch… ini… munch… enak…"

"Aika-san, makan jangan sambil ngomong! Kebiasaan!" Natsume-san menegurku sambil menatapku tajam.

Aku mengangguk cepat sambil jari-jariku membentuk sandi 'oke'.

"Aika-neechan makan kayak anak kecil!" seru Wataru, sambil terkekeh geli. Aku melirik bocah yang kini sudah jauh lebih tinggi dan lebih keren dari tiga tahun yang lalu.

Setelah mulutku kosong, aku langsung mengambil gelas air putih dan meneguknya hingga habis tandas. "Habis makanannya enak. Di London, aku jarang makan makanan Jepang. Rio nggak bisa masak makanan Jepang dan meski aku bisa tapi nggak jago. Jadi, makan malam hari ini terasa begitu enak!"

"Benarkah?" tanya Wataru sambil menatapku takjub.

Aku mengangguk cepat. "Yeps."

Ukyo-san menyodorkan sepiring udang goreng ke hadapanku. "Kalau begitu makan yang banyak ya."

"Okee! Akan aku habisin sampai nggak bersisa."

Louis-san yang ada di seberang mejaku juga menyodorkan sepiring makanan. "Ini.. enak loh."

"Arigatou, Louis-san."

"Aika-chan nggak takut gendut?" tanya Tsubaki-san.

"Aika-san perutnya ada lubang hitamnya. Aku bahkan nggak yakin Aika-san bisa gendut. Makannya kayak kuli tapi tubuhnya gitu-gitu aja," jawab Natsume-san, mewakiliku. Aku hanya mengangguk setuju karena mulutku penuh oleh makanan.

"Wah, kalau begitu," Ukyo-san tampak berpikir, "suami Aika-chan harus punya banyak uang. Kalau tidak, Aika-chan bisa mati kelaparan."

"Wah itu benar banget!" seru Kaname-san sambil tertawa dengan puasnya.

Aku memonyongkan mulutku. "Kayaknya aku nggak bakal punya suami untuk waktu dekat."

"Eh? Kenapa?" tanya Tsubaki-san, tampak penasaran. Yang lainnya juga menatapku heran.

Aku mengidikkan bahuku. "Pemuda yang jadi target sedikit susah untuk ditaklukan. Dan kalau misalnya aku gagal, aku nggak yakin bisa move-on dengan cepat."

Semuanya tak ada yang berbicara untuk beberapa detik. Aku melanjutkan makanku.

"Memangnya siapa sih, yang Aika-chan suka?" tanya Tsubaki-san, dengan raut wajah yang amat jelek. Bibirnya manyun dengan tidak elit.

Aku memandang satu-persatu wajah yang semuanya kini menatapku dengan pamdangan penasaran, kecuali Natsume-san yang sedirinya asik menatap piringnya. Aku menghela nafas panjang.

"Kalau aku kasih tahu, kalian harus bantuin aku ya!" ucapku, memberi syarat.

"Tentu saja!" seru Tsubaki-san. "Tapi kalau cowok itu pantas buat Aika-chan. Kalau enggak, bakal aku sasak sampai dia pantas."

Aku terkikik. "Wah, jangan dong."

"Apa kami kenal?" tanya Masaomi-san.

"Kenal. Banget."

Semua mata yang ada di ruangan melebar. Mereka tampak sedang menebak-nebak siapa gerangan gebetanku.

"Fuuto."

"Si-Siapa?" tanya Tsubaki-san dengan wajah pucat.

Aku menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. "Aku suka Fuuto."

"EEEEEEEHHHHH?!" semuanya serempak menjerit. Kemudian…

Hening.

Tampaklah wajah-wajah kaget nan bingung. Aku jadi bingung sendiri. Kenapa sih mereka? Apa ada yang salah kalau aku suka Fuuto?

"Kenapa kamu bisa suka Fuuto, Aika-chan?" tanya Kaname-san. "Aika-chan tahu sifat Fuuto kan?"

"Tau."

"Dia itu menyebalkan loh!" seru Tsubaki-san. "Bocak tengik. Sombong. Pokoknya sangat menyebalkan meski kadang dia bisa sangat lucu."

"Wah, Fuuto ya? Sedikit terkejut karena sejauh yang saya liat Aika-chan jarang ngobrol dengan Fuuto." Masaomi-san mengerutkan keningnya. Terlihat sekali kalau pria itu bingung.

"Aku dan Fuuto memang jarang ngobrol kalau ketemu di Mansion ini. Tapi kami sering ngobrol di sekolah atau di tempat syuting."

"Oh…" Louis-san tampak teringat sesuatu. "Aika-chan manager Fuuto… di sekolah kan ya?"

Aku mengangguk, membenarkan.

"Kalau Aika-chan kenal sekali dengan Fuuto," mata Ukyo-san menatapku lekat, "memangnya kelebihan apa yang disukai Aika-chan dari Fuuto?"

Aku terkekeh. "Aku juga pengen tahu. Suka ya suka. Aku juga sempat membencinya tapi itu membuatku menyadari kalau aku jatuh cinta padanya. Dan itu sangat menyebalkan."

Hening sesaat.

"Aika-neechan suka Fuutan sejak kapan?" tanya Wataru setelah sedari tadi hanya menatapku takjub. "Aika-neechan awalnya fans ya?"

Aku menggeleng. "Aku sebenarnya sudah suka jauuuh sebelum Fuuto jadi idola."

"Oh ya?" Ukyo-san tampak terkejut.

"Waktu kecil, aku sempat datang ke Jepang. Dan di saat itulah aku bertemu dengan Fuuto. Waktu itu aku dan Fuuto masih sangat kecil. Kami kenalan lewat boneka salju. Waktu itu, aku bahkan belum bisa bahasa jepang tapi kami tak mempermasalahkan itu." Tanpa bisa kutahan, bibirku membentuk sebuah senyuman. "Saat itu aku sedang sedih, tapi pas ketemu Fuuto, semuanya terasa lebih ringan. Sayangnya, aku hanya bersamanya untuk satu malam saja karena besoknya aku sudah harus balik ke London."

"Tu-Tunggu dulu!" wajah Masaomi-san terlihat berbinar. "Aika-chan waktu kecil dipanggil Ai-chan ya?"

Aku terkekeh. "Yeps. Masaomi-san akhirnya ingat aku juga."

Mulut Masaomi-san menganga. Mulutnya seperti mau mengatakan sesuatu.

"Ada apa Masaomi-san?" tanyaku, sebal karena Masaomi-san tak kunjung bicara.

Masaomi-san menggeleng sambil tersenyum lebut. "Tidak. Hanya… kalau Aika-chan itu Ai-chan, itu pasti benar banget. sama-sama imut."

"Hehe. Makasih."

"Ah!" teriak Ukyo-san, mengagetkanku. Ukyo-san menoleh ke arah Masaomi-san dengan semangat yang membuat keningku berkerut. "Masaomi-niisan! Ai-chan itu yang musim dingin waktu itu kan? Yang untuk pertama kalinya Fuuto…" tiba-tiba Ukyo-san terdiam. Tidak melanjutkan ucapannya.

"Eh? Eh? Fuuto apa?" tanyaku, penasaran setengah mati. Fuuto kenapa?

"Aaah!" kali ini Natsume-san juga Tsubaki-san berteriak dengan nada yang menandakan kalau mereka teringat sesuatu. Setelahnya mereka tersenyum-senyum kayak orang gila.

Kaname-san mencolek bahu Ukyo-san. "Ngomongin apa sih?"

"Itu.." Ukyo-san membisikkan sesuatu.

"Aaaah… yang itu…" Kaname-san mangut-mangut lalu tersenyum-senyum seperti yang lainnya.

Hanya Louis-san dan Wataru yang sama cengonya dengan aku. Aku menggeram kesal. Apa-apaan ini? Konspirasi macam apa ini? Aku pengen tahu! Apa pun yang berhubungan dengan Fuuto, aku pengen tahu!

"Katakan! What are you guys talking about! I'm seriously dying here!" teriaku, frustasi.

"Gunakan insting Aika-chan saja!" saran Kaname-san, masih dengan senyumannya yang menyebalkan.

Aku menggeram. "Aku nggak dapat apapun!"

"Maksudnya?" Tsubaki-san tampak bingung.

"Itu nggak bisa disengaja. Tiba-tiba saja datang tanpa diminta! Dan kalau yang berhubungan dengan diriku sendiri, itu nggak pernah terjadi!"

"Eeeeeeeh?" semunya ber-sweatdrop ria.

"Jadi, katakan! Fuuto kenapa?" tanyaku, maksa.

"Tanya Fuuto saja. Ya?" ucap Masaomi-san sambil tersenyum.

Aku menatap satu-satu pria yang kuyakini tahu apa jawaban yang aku cari tapi semuanya tutup mulut dan entah kenapa aku yakin kalau tak ada satu pun dari mereka yang mau memberitahuku.

Argh! Sial.

Aku menggeram frustasi.

Konfrontasi menyebalkan.

"Ya sudah. Aku tanya Fuuto aja. Meski entah kenapa aku ragu kalau idola-bodoh satu itu mau memberitahuku."

Kaname-san, Tsubaki-san dan Louis-san masih cengar-cengir dengan menyebalkannya.

"Aika-chan!" panggil Masaomi-san.

"Ya?" jawabku, malas. Ceritanya, aku masih ngambek.

"Aika-chan bakal sampai akapn di Jepang?"

"Aku bakal pulang ketika musim panas berakhir."

"Oh. Terus selama musim panas tinggal dimana?" lanjut Masaomi-san.

"Sekarang di apartemen Onii-chan. Tapi aku sedikit ragu kalau aku bakal dibolehin tinggal selama musim panas." Aku melirik Natsume-san, dan ternyata Natsume-san juga sedang menatapku.

"Saya nggak masalah kok," ujar Natsume-san dengan santai. Aku tersenyum. Natsume-san tampaknya tak menganggapku beban.

"Eeeh? Aika-neechan tinggal disini aja!" seru Wataru tiba-tiba.

"Betul sekali! Tinggal disini aja!" seru Tsubaki-san, dengan wajah berbinar kayak anak kecil.

"Ada satu ruangan kosong di lantai dua. Kamu bisa tinggal disitu," usul Masaomi-san, sambil mangut-mangut, tampak sedang mengagumi ide briliannya.

"Iya! Kami juga mau ngobrol dengan Aika-chan," Tsubaki-san menoleh ke arah Natsume-san. "Natsumeee, kamu jangan memonopoli Aika-chan sendirian dong."

Natsume-san memutar bola matanya. "Aku nggak memonopoli Aika-san. Lagian, dia kesini karena aku yang minta. Jadi wajar kalau dia tinggal sama aku."

"Eh? Beneran itu?" tanya Tsubaki-san, menoleh ke arahku.

Aku mengangguk.

"Curaaang!" pekik Tsubaki-san.

"Kalau begitu, mulai minggu depan, aku boleh tinggal di mansion? Aku suka makanan disini sih. Hehehe…"

"Tentu saja!" koor para Asahina, kecuali Natsume-san yang sedang meneguk air minum.

"Asik! Kalau begitu minggu depan ya! Awas kalau nanti aku malah diusir."

"Kalau kamu diusir," Kaname-san mencondongkan badannya ke arahku, "Aika-chan boleh tinggal di kamarku."

"Nggak mau. Mending balik ke apartemen Onii-chan."

"Uah. Kejam."

Aku memeletkan lidahku. "Dunia emang kejam, Kaname-san."

Tiba-tiba, Kaname-san mengacak-acak rambutku. "Kamu iniii…"

"Uwah! Kaname-san! Hentikaaaaan!"

Argh. Pria playboy ini menyusahkan!

Rambutkuuu…

.

.

.

Nit… Nit... Nit... –sebuah bunyi mesin terdengar.

Gelap.

Ah. Aku tidak membuka mataku. Pantas saja.

Dengan sekuat tenaga, aku berusaha membuka mata. Rasanya sakit tapi aku tak ingin berada di kegelapan ini. Aku juga bahkan tidak bisa menggerakkan badanku. Setidaknya, aku harus membuka mata. Serangan cahaya yang tiba-tiba membuatku kembali menutup mata tapi setelah kepalaku yang pusing sedikit tenang, aku mulai kembali membuka mata.

Hal yang pertama kulihat adalah putih.

Ah. Aku tahu aku ada dimana.

"Ai-chan!" sebuah suara mendengung dengan keras di sampingku. "Ai-chan!" suara itu terdengar lagi, tapi kini ada getaran kesedihan di suara itu.

Beberapa detik kemudian, sesosok pria dengan rambut pirang juga mata biru yang indah masuk dalam area pandanganku.

"Ai-chan!" seru pria itu lagi. Air mata mengalir dari kedua matanya yang indah. Pria itu tiba-tiba memelukku dengan erat. "Ai-chan… I beg you… please… don't leave me… don't choose died… I beg you… I beg you… I will protect you… I will make you happy… so please… stay with me… I need you…"

Deg.

Sebuah kehangatan yang terasa aneh muncul dan menjalar ke seluruh tubuhku. Tanpa kusadari, aliran air mata mengalir di kedua pipiku.

"I'm… sorry…"

I'm sorry…

I'm sorry…

I just felt lonely…

I just felt betrayed…

I'm sorry…

I'm sorry…

I also… need you… Rio…

Thank you…

Thank you for need me in your life…

Thank you…

.

4429 words.

July 21rd 2014.

.

To be continued…

.

Author's Note : (Nama Lain : Curhat Author)

Haloha! Apa kabar?

Chapter ini dimulai dengan jarak tiga tahun dengan chapter sebelumnya. Awalnya mau diceritakan bagaimana kisah Aika di London tapi kalo nggak ada Asahina Bersaudara, rasanya kurang gimanaaa gituh. Dan berbahagialah saya karena akhirnya Ema sudah memilih pasangannya. Aseeek. Fuuto, Yuusuke dan Natsume juga Asahina yang lain kini single(single dalam artian tak lagi jadi love hunters yang memburu Ema yang manis). Muahahaha…

Semoga readers nggak bosan dengan chapter kali ini. Yah, pembukaan memang bertele-tele apa lagi sifat daku yang suka manjang-manjangin plot. Duh. Tenang saja, mulai chapter berikutnya, semuanya akan menjadi sangat ricuh hingga, jujur saja, saya sampai pusing apa chapter berikutnya nggak terlalu aneh.

And thank you for all of you who has support me through your reviews, follows and faves. Muach!

Final pairing sudah saya tentukan sejak beberapa chapter sebelumnya. Meski harus mengarungi laut galau nan gundah, akhirnya saya mengetuk palu. Moga readers menerima pair ini.

Oh ya. Bagi readers yang belum baca Best Friend Conflict dan Celebrity Conflict, jangan sungkan-sungkan, langsung aja ke profile saya atau ke searchtools. Semoga kedua fic saya itu makin memperjelas kisah Aika.

Also, it's really suck when FFnet is being blocked by Tel****** and T**. X'(

Dan tentu saja, saya tunggu masukan kritik juga saran yang membangun!

So stay tune.

See you! #bow