Benak Baekhyun berperan ketika sedang di dalam lift yang merangkak menuju lantai kantornya.

Kau melanggar semua aturan dengan pergi ke rumahnya Ingat mantramu datang, bercinta, lalu pergi. Setuju untuk membiarkan dia memasak dan menghiburmu jelas bukan bagian dari rencanamu. Kau akan menyesalinya! Dia telah menjadi musuh terburuknya sendiri.

"Cukup!" dia berteriak tepat pada saat pintu lift terbuka.

Dua orang wanita yang sedang menunggu memberinya tatapan aneh. Dia menundukkan kepala lalu berjalan cepat menuju kantornya. Menyambar dompet dan tasnya, kemudian membanting dan mengunci pintu.

Begitu sampai di bawah dia mondar-mandir di lobi. Saat Baekhyun berpikir untuk meninggalkan Chanyeol demi menjaga kewarasannya sendiri, dia muncul di depan Baekhyun.

"Maaf aku membuatmu menunggu."

"Tidak, tidak apa-apa."

Baekhyun mengikuti Chanyeol keluar melalui pintu samping ke arah gedung parkir. Ketika kunci remote di tangan Chanyeol membuat lampu sebuah Mercedes convertible hitam legam berkedip, Baekhyun bersiul rendah.

"Mobil yang bagus, Mr. Park."

Chanyeol terkekeh. "Terima kasih."

"Aku terkesan dengan semua kemewahan ini."

Dia menggeleng. "Kau mulai lagi dengan mulutmu itu."

Baekhyun melempar tasnya ke lantai mobil lalu meluncurkan pantatnya di kursi kulit. Selain fakta bahwa harga mobil ini dua kali lipat harga modilnya, seluruh bagian interiornya benar-benar bersih.

Tidak ada remah bahkan setitik debu yang dapat ditemukan, berbeda sekali dengan keadaan interior mobilnya yang bahkan bisa memberi makan sebuah desa kecil dengan sisa-sisa sarapan atau makan malamnya di jalan yang berceceran.

"Keberatan kalau aku menurunkan atapnya?"

"Tidak masalah. Ini hari yang indah."

Chanyeol menekan salah satu tombol, dan atap mulai tertarik ke belakang. Saat mereka keluar dari gedung parkir, Baekhyun merogoh tasnya mencari jepit rambut. Setelah menjepit rambut panjangnya ke belakang, dia menutup mata dan membiarkan angin meniup dirinya.

"Jangan bilang aku sangat membosankan sampai membuatmu mengantuk?"

Baekhyun terkekeh. "Maafkan aku. Aku hanya mengistirahatkan mataku sebentar."

Mereka tidak lama berkendara di jalan tol sebelum Chanyeol melajukan mobil keluar jalan tol. Ketika dia memasuki kawasan tua yang elite, Baekhyun sontak berpaling padanya.

"Kau tinggal di sini?"

Dia terkekeh. "Memang kenapa?"

Baekhyun mengedikkan bahu. "Aku tak tahu. Kurasa aku membayangkanmu tinggal di gedung apartemen khas bujangan yang elegan dan mewah."

"Jika kau ingin tahu, sebenarnya dulu aku terbiasa tinggal di sana, seperti yang kau katakan gedung apartemen yang elegan dan mewah di pusat kota. Tapi kemudian kakakku, yang merupakan agen real estate, meyakinkanku bahwa aku harus berhenti menghamburkan uang untuk membayar sewa dan mulai berinvestasi beberapa properti. Bagaimanapun dia berhasil membujukku untuk membeli rumah tetangga kakak kami." Dia melirik pada Baekhyun dan tersenyum.

"Aku pikir itu hanya akal-akalan mereka agar bisa mengawasiku, tapi sepadan karena aku bisa mendapat banyak makanan gratis." Dia menunjuk ke kiri pada sebuah rumah mewah dua lantai bergaya kolonial dengan sebuah teras depan melengkung.

"Itu rumahnya."

"Cantik."

"Terima kasih." jawab Chanyeol, lalu membelokkan mobilnya kembali.

"Dia membutuhkan rumah besar untuk mengurung monster itu tetap di dalam."

"Monster?"

"Tiga keponakanku."

Baekhyun tertawa. "Aku mengerti."

.

.

Chanyeol memasuki jalan masuk sebuah rumah bata berlantai dua dengan kolom putih. Baekhyun melongo menatap rumah yang modelnya sama sekali tidak sesuai dengan Chanyeol.

Kekurangan dari rumah itu hanya pagar kayu putih dan mainan-mainan berserakan, dan Chanyeol akan terlihat seperti seorang suami dan ayah di sebuah kota pinggiran pada umumnya.

Setelah Baekhyun keluar dari mobil, dia berjalan keluar dari garasi dan matanya melebar menatap pada rumput sehijau zamrud dan bunga beraneka warna.

"Kau melakukan semua ini?" tanyanya sambil menunjuk ke halaman yang terjaga rapi.

Chanyeol mendengus. "Tidak. Aku tidak bisa menumbuhkan apa pun kecuali sedikit jamur di kulkas. Ayahku adalah salah satu yang ahli dengan tanaman. Tidak hanya itu, tapi dia sudah pensiun, jadi berkebun di halaman rumah anak-anaknya adalah misi terakhir hidupnya."

"Dia benar-benar manis." Baekhyun mengikuti Chanyeol menaiki tangga teras depan menuju ke dalam rumah.

Dia menekan kode ketika alarm mulai berbunyi. Baekhyun berusaha untuk tidak menunjukkan keterkejutannya ketika dia melangkah ke dalam ruang tamu yang luas dan terbuka.

Jendela-jendela yang lebarnya dari lantai ke langit-langit membuat ruangan bermandikan cahaya, serta pilar-pilar kayu yang tinggi berselang-seling hingga menyentuh langit-langit.

Mengingat kesan pertamanya tentang Chanyeol, dia mengharapkan furnitur yang fungsional, modern, namun dingin. Bukannya kursi empuk yang hangat, sofa dua dudukan atau selimut antik yang menyelimuti sofa.

"Apakah kau memiliki dekorator?" tanyanya sambil mengikuti Chanyeol menuju dapur.

"Tidak, aku melakukan semuanya sendiri. Kakak-kakak perempuanku ikut membantu tentu saja. Mereka mengambil kesempatan untuk memanjakanku di semua area domestik."

Chanyeol berbalik dan mengamati ekspresi Baekhyun.

"Jadi apa kau menyukai rumah ini?"

"Suka? Aku mencintai rumah ini. Kau hanya berpikir tentang investasi properti. Tapi ini adalah sebuah rumah yang akan membuat siapa pun merasa bangga."

Senyum lambat mengembang di wajah Chanyeol. "Terima kasih. Pujian yang datang dari seseorang sepertimu benar-benar sangat berarti."

"Seseorang sepertiku?"

Chanyeol melarikan jari-jarinya ke rambut, berhenti menarik-narik tengkuknya.

"Oh kau tahu, seseorang yang nyata seseorang yang menghargai rumah sebagai tempat yang nyaman untuk dihuni."

Baekhyun membuka mulutnya hendak menjawab, tapi bunyi gedebuk keras menyela mereka.

Chanyeol memutar bola matanya. "Mungkin aku harus memperingatkanmu tentang Toben."

"Kau punya teman sekamar?"

Dia terkekeh. "Tidak, kecuali kalau kau menganggap anjing Labrador hitam seberat delapan puluh pound yang menggigitku baik di dalam maupun luar ruangan dan mendengkur lebih keras dari beruang adalah teman sekamar."

"Kau memiliki anjing!" pekik Baekhyun.

Chanyeol memberinya tatapan aneh. "Sial, aku tidak berpikir kau akan kegirangan tentang Labrador tuaku yang bau."

Dia menyeringai. "Kau tidak tahu betapa aku mencintai anjing. Aku sudah lama ingin punya satu, tapi jadwalku benar-benar gila, aku takut akan meninggalkannya lama sendirian."

"Aku mengerti. Aku sebenarnya menitipkan Toben ke Penitipan Anjing beberapa hari dalam seminggu."

"Kau melakukannya?" tanya Baekhyun, berjuang untuk mencegah sudut-sudut bibirnya tersenyum.

Baekhyun berjinjit untuk mengacak rambut Chanyeol. "Aku pikir kau manis melakukan itu untuk Toben."

Baekhyun menggeser tangannya ke dada Chanyeol. "Dan itu menunjukkan apa yang selama ini aku percaya bahwa kau mempunyai hati di dalam sini."

"Aku senang kau sedikit terkesan padaku. Aku benci kalau anak-anak kita kelak akan ketakutan karena ibunya mengira bahwa ayahnya adalah seorang bajingan seks yang tidak berperasaan."

Wajah Baekhyun merengut saat dia menyentak tangannya menjauh dari dada Chanyeol.

Chanyeol menatapnya malu. "Aku tidak bermaksud membuatmu kesal dengan menyebutkan bayi."

"Tidak apa-apa. Aku terlalu emosional hari ini. "

Chanyeol menangkup dagu Baekhyun lalu memberinya senyum menenangkan.

"Itu akan terjadi, Baekhyun. Mungkin bulan depan atau tahun depan, tetapi kau tetap akan hamil."

Air matanya jatuh. "Terima kasih."

"Bahkan pada saat kita mati saat mencoba, kita akan tetap mewujudkannya."

Baekhyun tertawa. "Kadang aku berpikir kau akan menikmati bagian kematian dikarenakan oleh seks."

Matanya tertutup karena kebahagiaan yang luar biasa. "Aku tidak bisa membayangkan hal lain yang lebih baik."

Mereka terinterupsi oleh lolongan rendah bersemangat dari pintu basement.

"Kurasa sebaiknya aku membiarkan Toben keluar sebelum sarafnya terganggu." kata Chanyeol.

Dia memutar kenop, dan Toben menerjang keluar. Anjing itu segera menerjang lutut Baekhyun, tapi Baekhyun hanya tertawa. "Turun Toben! Jangan lompat!" teriak Chanyeol.

"Tidak apa-apa" kata Baekhyun tepat saat Toben menyapukan lidah merah mudanya di pipi Baekhyun. "Dia hanya senang melihat orang."

"Dia produk gagal dari sekolah kepatuhan," gumam Chanyeol.

"Aku yakin dia anjing terbaik di seluruh dunia iya kan, sayang?" kata Baekhyun, suaranya naik satu oktaf.

Toben menggoyangkan ekornya menyambut perhatian yang diberikan Baekhyun, ekornya bergoyang di antara kaki Chanyeol. Dia melayang ke surga anjing ketika Baekhyun mulai menggaruk-garuk belakang telinganya, mendengus dan akhirnya duduk diam.

"Oke, waktunya ke luar."

Toben menolak untuk menjauh dari Baekhyun. Chanyeol memutar bola matanya dengan putus asa. "Keluar. Sekarang!"

Baekhyun mencium puncak kepala Toben lalu bangkit berdiri. "Kau lebih baik keluar sebelum menyebabkan kita berdua dalam masalah." katanya sambil menunjuk pintu belakang.

Toben dengan enggan melintasi dapur, cakar-cakarnya mengetuk lantai kayu. Chanyeol membuka pintu dan membiarkannya menuju halaman belakang. Dia menggelengkan kepalanya ketika Toben berlarian mengejar kupu-kupu.

"Hebat. Dia benar-benar sudah jadi patuh padamu."

"Aku tidak bisa mencegah semua orang, bahkan binatang, mencintaiku," canda Baekhyun.

Chanyeol berbalik padanya dan tersenyum lebar. "Ada yang sombong malam ini." Matanya melebar saat melihat kaki Baekhyun. "Aku minta maaf."

Baekhyun menatap ke bawah dan melihat lubang compang-camping di stokingnya karena cakar Toben.

"Bukan masalah besar."

"Kau ingin ganti?"

Baekhyun mengangguk. "Ya, terima kasih."

"Ikut aku."

Baekhyun mengikuti Chanyeol menyusuri lorong. Dia tidak terlalu senang dengan kemungkinan masuk kamar tidur utama bersama Chanyeol, jadi dia berhenti di depan dinding yang penuh foto.

"Apa ini semua foto keluargamu?"

Chanyeol berbalik lalu mengangguk. "Ya, kakakku yang melakukannya. Dia punya semua foto keluarga saat bersama kemudian mengatur foto-foto itu untukku sebagai hadiah pembukaan rumah."

"Dia melakukan pekerjaan hebat." Ketika Chanyeol masuk ke dalam kamar tidur, Baekhyun terus menatap foto-foto. Chanyeol mirip sekali dengan mendiang ibunya. Ada beberapa foto orangtua mereka saat masih muda hingga tua.

"Aku suka salah satu foto orangtuamu saat di ulang tahun pernikahan mereka. Ibumu sangat cantik." serunya.

"Terimakasih."

"Ayahmu juga tampan."

"Aku kan sudah bilang kalau aku mewarisi ketampanan dari mereka!" Baekhyun memutar bola matanya terhadap kesombongan Chanyeol.

"Ayahmu terlihat benar-benar manis dan baik."

Chanyeol melongokkan kepalanya dari pintu kamar tidur. "Kenapa?"

Baekhyun mengedikkan bahu. "Aku tidak tahu. Kurasa aku membayangkan ayahmu mirip Hugh Hefner, dan kau mewarisi jejaknya."

Chanyeol tertawa sambil menyerahkan sweat pants biru dan t-shirt putih.

"Percayalah, ayahku beda jauh dengan Hef. Orangtuaku adalah pasangan kekasih sejak SMA. Aku tidak tahu apakah dia pernah tidur dengan orang lain selain dengan Ibuku. Ibuku sudah meninggal lima tahun yang lalu, dan ayah tidak berkencan sekalipun."

"Itu sangat romantis." sembur Baekhyun.

"Ya, tapi dia kesepian. Jika tidak menggangguku dia akan mengganggu salah satu saudara perempuanku, dia selalu meneleponku, mendesak untuk mengunjunginya. Aku tahu dia ingin seseorang berada di sampingnya sepanjang waktu, tapi dia tidak bisa melupakan Mom. Aku terus mengatakan kepadanya untuk melanjutkan hidupnya, tapi dia menolak."

Baekhyun mulai jengkel mendengar nada bicara Chanyeol. "Mungkin dia belum siap. Mungkin perasaan cinta yang begitu besar di antara mereka tidak mudah untuk berakhir seperti yang kau pikirkan." sahut Baekhyun.

"Kurasa juga begitu. Tapi ya Tuhan, dia perlu mengenyahkan harapan bahwa aku harus selalu menelepon dan berada disampingnya."

Baekhyun mengangkat tangannya putus asa, tidak mampu menahan amarahnya lagi. "Apakah dia telah menjadi ayah yang baik bagimu atau tidak?"

"Ya, tentu saja dia baik."

"Jadi seharusnya dia tidak perlu menelepon untuk memaksamu datang. Kaulah yang seharusnya menelepon ayahmu dan bertanya bagaimana keadaannya. Membalas sebagian pengorbanan yang dia lakukan saat kau sedang tumbuh dewasa."

"Aku tahu, itu hanya—"

"Percayalah padaku Chanyeol, dia tidak akan berada di dunia ini selamanya. Aku telah melakukan semua yang aku mampu untuk ibuku ketika dia masih hidup, namun kadang rasa bersalah masih melingkupi perasaanku. Aku tidak ingin nantinya kau dihantui perasaan menyesal."

"Sialan, Baekhyun kau membuatku merasa seperti seorang bajingan."

Seiring dengan kemarahannya menguap, tiba-tiba Baekhyun merasa malu karena memarahi Chanyeol. Baekhyun menundukkan kepala.

"Maafkan aku. Aku hanya tahu kau memiliki hati yang benar-benar baik itu saja. "

"Kalau kau benar-benar percaya padaku, aku akan berusaha berbuat lebih baik, oke?"

Baekhyun mengintip Chanyeol melalui bulu matanya dan tersenyum. "Oke."

Dia berdeham dan menunjuk seberang lorong. "Kau bisa mengganti pakaian di kamar mandi."

"Terima kasih. Aku mungkin juga perlu mencuci wajah setelah mengomel dan menangis seharian. Aku mungkin berantakan."

"Apa kau ingin mandi sekalian sementara aku menyiapkan makan malam?"

"Kau menyindirku bau ya?" tanyanya, sambil menyeringai.

Chanyeol terkekeh. "Tidak, aku hanya berpikir mungkin itu akan membuatmu merasa lebih baik. Kalau kau mau, kau bisa berendam di bak Jacuzzi."

Baekhyun memejamkan mata dan menghela napas. "Sempurna."

"Ayo."

.

.

Baekhyun mengikutinya ke kamar tidur. Dindingnya berwarna biru muda dan putih cerah, membuat ruangan itu terasa lapang dan nyaman. Dia menahan dorongan untuk tertawa karena telah membayangkan penutup ranjang berbahan sutra, cermin di atas tempat tidur, dinding bercat hitam atau merah.

Kamar ini justru sebaliknya. Sebuah ranjang besar dan mewah berada di tengah ruangan. Satu-satunya hal yang mencuri perhatiannya adalah segala sesuatu begitu rapi.

"Kau pasti harus mengeluarkan banyak uang untuk pengurus rumah tangga," renungnya.

"Aku tidak punya pengurus rumah tangga."

"Kau melakukan semua ini sendiri?"

"Ya, aku suka bersih-bersih."

Setelah mengintip kamar mandi, Baekhyun merenung, "Kau penggila kerapian, ya?"

"Aku hanya ingin menyimpan segala sesuatu secara rapi."

"Oh."

"Dan apa maksudnya itu?" tanya Chanyeol, seraya meletakkan tangannya di pinggul.

"Tidak."

"Biar kutebak. Kau mengambil beberapa mata kuliah psikologi di perguruan tinggi, dan para ahli mengatakan bahwa seringkali penderita obsesif kompulsif disebabkan oleh kondisi emosional mereka yang kacau?"

"Aku tidak bilang begitu."

Setelah menutup pintu, Baekhyun menyalakan air. Sambil melepas pakaian, dia mencoba untuk mengenyahkan stres. Menyelinap ke dalam air panas dan mendesah penuh kepuasan. Dia baru saja menyandarkan kepala ketika pintu tiba-tiba terdorong terbuka.

Sambil menjerit, dia bergegas untuk menutupi payudara dengan tangannya. Chanyeol terkekeh.

"Ya Tuhan, Baekhyun tidak perlu panik. Aku sudah pernah melihat semua yang ada di dirimu, ingat? "

Kehangatan merambat ke pipinya. "Aku tahu. Kau mengejutkanku, itu saja. "

Dia mengangkat dompet Baekhyun. "Kau meninggalkan ini di dapur, kupikir kau mungkin membutuhkannya."

Baekhyun mengangguk. "Terima kasih."

Chanyeol meletakkan dompet di konter. "Oke, kali ini aku benar-benar akan pergi, dan berjanji akan meninggalkanmu dalam damai."

Baekhyun terkikik lalu kembali berendam setelah Chanyeol menutup pintu. Dia mungkin bisa tinggal di sini selama berjam-jam, tapi ketika jari-jarinya mulai keriput dan aroma wangi mulai lenyap, dia pikir sudah waktunya untuk keluar.

Setelah mengeringkan diri, dia memakai baju Chanyeol lalu mengikat rambutnya menjadi ekor kuda. Ketika dia meraih dompet, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Irene.

Aku belum melihatmu sejak makan siang. Kuharap kau baik-baik saja – Irene

Baekhyun berjuang menahan isak tangis nya. Dengan jari-jari gemetar, dia mengirim SMS balasan pada Irene.

Aku sedang datang bulan. Aku di rumah Chanyeol. Aku telepon besok – Baekhyun

Hanya butuh sedetik bagi Irene untuk membalas.

Aku benar-benar menyesal. Aku di sini untukmu. Aku selalu mendukungmu - Irene

.

.

Ketika dia sampai ke ruang tamu, dia bisa mendengar Chanyeol bersenandung bersama dengan radio dapur. Dia mengintip di sudut dan menyaksikan dengan takjub saat Chanyeol masak.

Chanyeol memergokinya menatap, dan Baekhyun tersenyum malu-malu padanya saat dia melangkah bertelanjang kaki ke dapur. dia menarik napas dalam.

"Sesuatu berbau menakjubkan."

Sebuah ekspresi senang tumbuh di wajah Chanyeol. "Aku memutuskan memasak scampi. Aku pikir kita bisa makan di teras jika tidak apa-apa?"

Baekhyun mengangguk. "Kedengarannya bagus."

Chanyeol membuka pintu belakang, dan Baekhyun keluar. Toben datang berlari mendekatinya.

"Turun boy! Jangan pernah berpikir tentang itu!" teriak Chanyeol.

Toben enggan menyenggol kaki Baekhyun. "Anak Baik," jawabnya, memberinya hadiah dengan garukan di belakang telinga. Saat dia menatap sekeliling teras dan halaman belakang, matanya melebar saat melihat kolam di tanah.

"Ini semua begitu indah."

"Terima kasih."

Chanyeol mengulurkan sebuah kursi untuknya, dan dia bergeser ke meja. Dia sudah mengatur untuk mereka lengkap dengan serbet kain. Baekhyun melirik piringnya yang penuh scampi mengirim bunyi keroncong perutnya. Ketika Chanyeol duduk, dia tersenyum padanya.

"Aku tidak bisa cukup berterima kasih untuk mandi dan pakaian. Aku merasa seperti orang baru."

"Sama-sama."

Setelah mengigit sepotong pasta, dia mendongak dan menemukan Chanyeol sedang menatap dadanya. Secara sadar, dia menyilangkan lengannya di atas dadanya, berusaha menyembunyikan fakta bahwa mereka mengetat pada kainnya. Dia berdeham, dan Chanyeol cepat-cepat membuang muka.

"Chanyeol, apa kau menatap payudaraku seperti anak remaja terangsang?"

.

.

Sampai disini dulu ya .