Readers! Maaf karena update-an kali ini tidak sesuai jadwal biasanya huhu, ada bbrp urusan yg harus author selesaikan lebih dulu. Gomeen :( Author juga ingin mengucapkan terima kasih untuk reviewers yang terus memberi support utk penyelesaian fanfic ini. Terima kasih juga utk para readers yang tetap setia mengikuti cerita ini hehe. :)
Author baru aja selesai nonton The Disappearance of Conan Edogawa – The Worst Two Days in History. I have no idea itu DC Movie atau bukan karena gaada di list author hmm ada yg tau? Sedikit kesel sm endingnya, knp Conan a.k.a. Shinichi ga realise perjuangan Haibara a.k.a. Shiho selama Conan itu ngilang. Conan malah mohon mnt antidot ke Haibara supaya bisa nemuin Ran, padahal kan Haibara yg berjuang mati2an nyari Conan smp kecelakaan gitu... Poor Shiho :( Tapi di satu sisi, author ngeliat dr movie itu (kalau emang termasuk movie), Haibara emang bener-bener pantes jadi partnernya Conan. Hohohoho
Oke mulai gaje, balik ke story. For the first time, di chapter terbaru ini akan lebih dari 50% scene ShinShi hehe. Ada juga POV Shiho tentang perasaannya pada Shinichi. Jadi, untuk para fans mereka di manapun berada, bersenang-senanglah di chapter ini, tapi persiapkan diri utk bagian akhir chapter ini dan chapter-chapter selanjutnya (lholho emg knp?)
Btw, gimana chapter 6-nya? (mengalihkan pembicaraan) Sudah dapatkah kebenaran-nya? So, who is the Irene Adler menurut para readers? Siapa yg akan dipilih Shinichi? Hmm, lalu apa bener ending fanfic ini akan berakhir bahagia untuk ShinShi? Atau malah endingnya akan jadi ShinRan? Lalu, destiny-nya siapa yang dimaksud di chapter ini? Mari, silakan dilihat dan ditebak kelanjutannya mulai chapter ini sampai selanjutnya, 3 chapter terakhir dari Akhir Penantian(?) S2 series. Kalau readers sudah selesai baca, please review. Arigatou!
I don't own Detective Conan
All characters belong to © Gosho, Aoyama
CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series
AKHIR PENANTIAN(?) S2
CHAPTER 7
Because It's Not Our Destiny
Of course it hurts that we could never love each other in a physical way. We would have been far more happy if we had. But that was like the tides, the change of seasons – something immutable, an immovable destiny we could never alter.
Haruki Murakami
"Jadi begitu? Lalu apa yang akan kau lakukan?" tanya Sonoko mendengarkan curhat sahabatnya itu. Ran hanya menggelengkan kepala, "Aku tidak tahu." Sonoko ikut sedih melihat wajah sahabatnya itu. Ia pikir dengan kembalinya Shinichi akan membuat Ran ceria kembali, justru bebannya menjadi semakin berat. Ia benar-benar marah pada Shinichi yang telah menyakiti sahabatnya, tapi menunjukkan emosi itu di depan Ran saat ini tidaklah menyelesaikan masalah pikirnya.
"Sudahlah, Ran. Kalian pasti akan berbaikan kembali, aku yakin," Sonoko menenangkan. "Bagaimana jika dia bukan takdirku?" tanya Ran tiba-tiba. Sonoko terdiam, tidak punya jawaban ditanya seperti itu. "Bagaimana jika memang kami tidak seharusnya bersama?" tanya Ran lagi.
Love that once hung on the wall
Used to mean something but now it means nothing
"Kau menyesal telah menunggunya?" tanya Sonoko hati-hati. "Aku hanya menyesal karena terlambat menyadari perubahannya. Seharusnya aku sudah siap sejak pertama kali ia menghilang, aku harus sudah siap kalau ia tidak akan pernah kembali sebagai Shinichi yang sama," jawab Ran dengan suara yang mulai bergetar.
"Aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian," Sonoko memeluk sahabatnya itu.
xxx
"Jadi, sudah hari ke berapa pertengkaran kalian?" terdengar nada penyesalan di pertanyaan Shiho. "Kenapa nada bicaramu seperti itu?" tanya Shinichi bingung, meletakkan koran yang tadi dibacanya di samping tumpukan dokumen. "Tidak apa, aku hanya tidak suka melihat senyumnya hilang," kata Shiho mengalihkan pandangannya. "Aku selalu mengingat neechan tiap kali melihat sikap riangnya. Jika itu hilang, neechan benar-benar hilang dari hidupku," Shiho menambahkan dengan suara sangat pelan.
"Apa dia mempermasalahkan kita?" tanya Shiho kini menunduk. "Kenapa kau selalu mengaitkan apa yang terjadi dengan dirimu? Tidak semua hal merupakan kesalahanmu, Haibara-san," kata Shinichi kesal. "Berhenti memanggilku seperti itu," Shiho tidak kalah kesal.
"Huh, apa Sato-san cerita macam-macam hingga kau berpikir seperti itu?" tanya Shinichi.
"Kurang lebih,"
"Dia hanya memerlukan perhatian lebih dariku, mungkin belakangan aku terlalu sibuk–" jawab Shinichi berkilah, "–walaupun sebenarnya mungkin memang benar seperti katamu."
"Kurangi saja efek murder magnet-mu itu agar kau tidak sibuk, tantei-kun," cibir Shiho. "Kau pikir aku bisa mengontrolnya?" Shinichi menggerutu.
Shiho's POV
Sato-san menceritakan kerenggangan Kudo-kun dan Mouri-san saat ia menjemputku tadi pagi, news flash katanya. Huh, dia sempat saja bercanda saat menceritakan itu. Dia pikir mungkin aku akan senang mendengar berita itu. Sebaliknya, aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka lagi. Sudah cukup aku merebut kekasihnya sementara waktu selama menjadi Ai Haibara.
Apa ia tidak mengerti kalau aku juga tidak ingin Mouri-san bersedih? Ia benar-benar seperti reinkarnasi Akemi-neechan. Aku tergelak, "Rye pasti akan terkejut melihat kemiripan Mouri-san dengan neechan," pikirku. Aku tidak boleh membiarkannya bersedih. Aku harus bisa memberikan kebahagiaan pada Kudo-kun dan Mouri-san, bahkan meski itu akan menyakitkanku. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Itu satu-satunya cara membalas budi untuk apa yang sudah Kudo-kun berikan selama ini.
"Hei, tantei-kun," panggilku. "Huh?" Kudo melongok dari balik korannya. "Kau harus berbaikan dengan tuan putrimu itu," kataku. "Aku tahu–" sahutnya malas. "–tapi setelah keadaannya membaik," tambahnya lagi. Aku memutar bola mataku, "Jelaskan bagaimana cara agar keadaan membaik tanpa kalian berbaikan terlebih dahulu, Kudo-kun." "Masih banyak kasus yang perlu diutamakan, Miyano-san," Kudo menutup korannya dan beralih ke tumpukan dokumen-dokumen itu.
Aku menarik tangannya cepat sebelum ia membuka map-map itu. "Kau. Harus," kataku dengan penegasan. Ia hanya menampilkan wajah bingung. "Kau harus berbaikan dengannya, Kudo-kun, secepat mungkin. Kau tidak boleh membiarkannya dalam kesedihan terus-menerus. Bayangkan berapa lama ia sudah bertahan menunggumu dan kini ini bayaranmu bagi penantiannya?" kataku dengan nada marah.
Yah, nada itu memang selalu berhasil membalikkan pikiran ataupun argumen dari Tuan-Sok-Tahu-Dan-Selalu-Benar-Menurutnya itu. "Um, baiklah kalau kau ingin seperti itu. Tapi aku belum memikirkan caranya," akhirnya. "Oh ayolah! Tidak usah memikirkan alasan untuk menolaknya!" pikirku.
"Aku sudah memikirkannya, kau kan lemah dalam hal seperti ini," kataku cepat sebelum ia memberikan alasan selanjutnya. "Ayo, kita pergi," aku segera menariknya berdiri dan mengambil kunci mobil di mejanya.
xxx
"Oi oi, kau menculikku," katanya dengan nada kesal. "Aku anggap kau sukarela sejak kau menyetujuinya tadi," bantahku. Ia mulai menggerutu dan aku segera memotongnya sebelum itu semakin parah, "Berhenti menggerutu, Kudo-kun! Kau akan berterimakasih nantinya karena aku bukan hanya memberi saran, tapi akan membantumu mewujudkannya."
Ia diam. Oke, aku bisa melanjutkan rencananya. "Jadi, seperti ini, kau harus mulai mengontak Mouri-san. Mungkin bisa dengan e-mail kalau kalian masih canggung untuk bertemu langsung atau berbicara lewat telepon," perintahku. Shinichi mengangguk mengerti. "Oh syukurlah dia tidak membantah lagi," batinku. "Lalu, kau harus mengajaknya bertemu untuk makan malam," perintahku lagi. Wajahnya menunjukkan ekspresi antara kaget dan tidak setuju. "Kau harus, Kudo-kun," kataku sebelum ia membantah. "Kau akan melamarnya," tutupku. Ekspresi kaget itu semakin menjadi di wajahnya.
"Me-la-mar?" Kudo menekankan kata-kata itu, tidak percaya aku akan mengucapkannya. "Ya, me-la-mar," aku balas menekankannya. "Kalian sudah menjadi sahabat sejak kecil, saling memendam perasaan, dan kini telah saling mengakui perasaan itu dan bersama dalam suatu hubungan beberapa tahun belakangan. Ini sudah saatnya membawa hubungan kalian ke level lebih tinggi, Kudo-kun," jawabku. "Kenapa kau jadi mirip Sato-san atau Yumi-san?" ia mengejek. "Mungkin karena sekarang aku mencoba lebih peka?" kilahku.
"Di saat seperti ini?" tanyanya lagi masih tidak percaya. "Justru hasilnya akan lebih baik," kataku. "Apa kau yakin?"
Pertanyaan terakhir itu menggangguku. "Apa aku yakin?" Ya, aku sangat yakin kalau Mouri-san akan menerima lamarannya. Aku sangat yakin kalau itu bisa mengembalikan senyuman Mouri-san. Aku sangat yakin kalau itu akan membuat mereka kembali bahagia. "Tapi, apa aku yakin bahwa aku akan baik-baik saja melihatnya?"
"Hei! Awas!" teriakannya kembali menyadarkanku. Aku segera membanting setir ke tepi jalan karena mobilku hampir menyerempet mobil dari arah berlawanan. "Haibara-san, kau baik-baik saja?" tanyanya. Aku mengumpulkan kembali konsentrasiku, menghela nafas, dan menjawab pertanyaannya, "Ya, aku baik-baik saja."
"Mau kugantikan menyetir?" ia menawarkan. "Tidak, terima kasih," jawabku. "Kau akan membantu jika tidak terlalu banyak bertanya," tambahku lagi.
xxx
"Check list pertama, kau akan memberikan cincin untuk Mouri-san," kataku menggiringnya ke toko perhiasan. Percayalah, menggiring penjahat yang sudah menyerah jauh lebih mudah dibandingkan ini. "Konnichiwa," sapa pelayan di dalam dengan ramah. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Konnichiwa. Kami ke sini mencari cincin untuk lamaran," kataku juga ramah, sepertinya Kudo terkejut aku bisa seramah ini. "Huh, kau pikir aku ini apa?"
Wajah pelayan itu sumringah saat ia mendengar tentang lamaran. Aku tidak memedulikannya dan menuju ke etalase kalung. "Bagian cincin sebelah sini, nona," kata pelayan itu lagi ramah. "Oh, aku hanya menemaninya. Ia ingin mencari untuk kekasihnya," kataku sambil menunjuk Kudo. Wanita itu sepertinya malu mengetahui kekeliruannya. Aku mengabaikannya dan kembali mengamati dengan antusias perhiasan-perhiasan di sana, "Seandainya dia sedang mencarikannya untukku."
Aku mencuri pandang ke arahnya yang mengamat-amati tawaran pelayan itu dengan tidak antusias. "Hei, Miyano-san, maukah kau membantu?" ajaknya. Aku menghampirinya dengan malas, "Kupikir kau sudah cukup dewasa untuk memilih sendiri, apa kata kekasihmu nanti kalau dia tahu aku yang memilihkan?" Ia hanya mengangkat kedua alisnya. Aku mengamati pilihan-pilihan pelayan itu, tidak terlalu buruk pikirku. "Kupikir ini terlihat serasi untuk Mouri-san," kataku sambil mengangkat sebuah cincin dari emas putih yang beraksen sederhana. Mouri-san bukan orang yang suka terlihat glamour.
Lagi-lagi ia hanya mengangkat kedua alisnya! "Tidak mau? Hmm, bisakah aku melihat yang ini?" kataku meminta pelayan itu mengeluarkan salah satu dari koleksinya yang kutunjuk. Ia memberikannya kepada Kudo dan lagi-lagi Kudo mengamati dengan tidak tertarik. Aku mulai kesal tapi tidak boleh terpancing dengan gelagatnya, aku harus membuat ini tetap berjalan sesuai rencana. Kudo berdiri dari bangkunya dan melihat-lihat ke sisi etalase yang lain. Pelayan itu hanya memandang dengan bingung. "Dia hanya sedang tegang," kataku mencoba mencairkan suasana, pelayan itu tertawa kecil. Beberapa saat kami membiarkan Shinichi melihat-lihat sementara pelayan itu mempersilakan aku mencoba beberapa koleksi di sana.
Shinichi berhenti dan mengambil sebuah pamflet koleksi terbaru toko itu. "Apakah ini koleksi terbaru?" katanya sambil menunjuk sebuah kalung emas putih dengan liontin permata yang artistik dan sangat elegan. Aku terpana melihat kalung itu. Aku berani mengeluarkan uang berapapun untuk membelinya! Eh, selama limit kartu kreditku cukup mungkin.
"Anda sangat jeli, tuan. Itu salah satu koleksi terbaru kami, dan termahal," kata pelayan itu. Shinichi terlihat sedikit kesal, mungkin karena pelayan itu tidak menunjukkannya dari awal? Pelayan itu lalu mengambil dari etalase yang lain, sebuah kalung beserta liontin yang sangat cantik dan sebuah cincin bertahtakan berlian yang sangat berkilau. Bahkan itu terlalu glamour untuk seorang Mouri-san yang sederhana, pikirku. "Apa Mouri-san akan menyukainya?"
"Kalung itu sepasang dengan cincin ini, tuan. Lihatlah, sangat serasi bukan?" wanita itu meyakinkan. Aku memberi isyarat agar Shinichi menolaknya, menurutku itu sangat tidak cocok untuk Mouri-san, lagipula harganya... Aku yakin itu akan menguras lebih dari limit kartu kreditnya.
Pupus harapanku saat melihatnya tersenyum puas. Ia mengangguk setuju kepada pelayan itu, "Baiklah, saya akan membungkuskannya untuk Anda." Yah tapi semuanya terserah Kudo kan. Mungkin aku hanya tidak tahu kalau Mouri-san menyukai benda yang berkilauan. "Apa kau yakin itu cocok untuk Mouri-san?" kini malah aku yang ragu. Ia hanya mengangkat kedua alisnya (lagi!), aku memutar kedua bola mataku dan memutuskan menjauh ke arah pintu, mengamati perhiasan yang lain.
- End of Shiho's POV
Shinichi's POV
Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan rencana yang dijalankan Haibara. Apa ini benar-benar solusi yang tepat? Bahkan aku tidak tahu apa respon Ran jika aku melakukannya. Terlebih, apa benar ini yang aku ataupun Ran inginkan? Aku saja belum mampu menganalisis keinginan hatiku sendiri. Dan lagi, bukankah ini akan membuat ia sendiri tersakiti? Aku benar-benar tidak bisa menerka pikirannya.
Ditambah lagi, pelayan ini daritadi menunjukkan koleksi yang membosankan menurutku. Siapa yang mau menerima lamaran dengan perhiasan yang tidak menarik ini? Apa pin kepolisian di kerah jaketku ini membuatku terlihat tidak mampu membayar?
Aku berdiri dari kursiku, mengitari sisi etalase yang lain. Mataku terpaku pada sebuah pamflet dan aku membukanya. Koleksi terbaru perhiasan mereka. Kenapa ia tidak menunjukkannya dari awal? Aku terpana melihat sebuah kalung dengan liontin yang sangat indah. "Sejak kapan aku menyukai model perhiasan yang sangat artistik dan fashionable begini?" pikirku. Yah, mungkin ini terlalu berkilau untuk Ran dan lagi bukan sebuah cincin, tapi...
"Apakah ini koleksi terbaru?" kataku menunjukkan pamflet itu. "Anda sangat jeli, Tuan. Itu salah satu koleksi terbaru kami, dan termahal," jawabnya. "Huh, kenapa tidak daritadi," aku mendengus kesal. Ia buru-buru mengambilnya dari etalase sebelah belakang. Oh, bahkan itu sepasang dengan sebuah cincin berlian yang sangat indah! Tapi, apa itu cocok untuk Ran? Aku sendiri mulai ragu.
Aku melihat Haibara yang memasang ekspresi tidak percaya kepadaku. Aku tersenyum puas melihatnya, aku tahu apa yang akan kulakukan dengan benda-benda itu. Aku menganggukkan kepalaku tanda setuju kepada pelayan itu. "Baiklah, saya akan membungkuskannya untuk Anda."
"Apa kau yakin itu cocok untuk Mouri-san?" tanya Haibara masih tidak percaya dengan tindakanku. Aku hanya mengangkat kedua alisku dan ia berjalan menjauh. "Apa Anda mau menggabungkannya ke kotak yang sama?" tanya pelayannya. "Oh, tidak, bungkuskan saja cincinnya," kataku yang membuat pelayan itu bingung. Aku memasang ekspresi Jangan-Banyak-Tanya-Lakukan-Saja pada pelayan itu.
"Kalungnya, tuan?" pelayan itu menyodorkan kalungnya dengan wajah bertanya-tanya akan kuapakan kalung itu. "Haibara-san, kemarilah sebentar," panggilku. Ia memasang wajah kesal. Aku tahu ia paling tidak suka dipanggil dengan nama itu, apalagi di depan orang lain seperti ini. "Apa?" ia menggerutu, padahal ia yang mengajakku tadi huh. "Duduklah sebentar," ia tampak bingung tapi menurut saja kali ini.
Aku membuka kaitan kalung yang baru saja kubeli dan mulai melingkarkan di lehernya. Aku merasa tanganku sedikit bergetar dan wajahku memanas saat melakukannya. Aku tidak berani memandang wajahnya atas tindakanku. Aku mengalihkan pandanganku ke pelayan itu yang kini sudah tersenyum gembira entah untuk apa. "Anda harus melihat ke arah nona itu jika ingin memasangkannya dengan benar," kata pelayan itu kini.
Ia baru saja mengajarkanku apa yang tidak ingin kulakukan! Aku melihat pantulan wajah Haibara di cermin di depan. Kini mata kami saling menatap pada pantulan itu. "Apa yang kau lakukan, Kudo-kun?" tanyanya dingin, tapi matanya seperti mengatakan sesuatu yang lain. Sebuah rasa tidak percaya, keterkejutan, atau malah... Kesedihan? Entahlah, aku tidak bisa menganalisis perasaannya. Kenapa ya? Seharusnya aku bisa, aku hanya tidak bisa menganalisis hati seseorang yang... Ah! Sudahlah, mungkin itu hanya perasaanku.
"Aku baru ingat Ran tidak suka yang terlalu berkilau," kilahku. "Jadi, aku memberikan kalung ini untukmu dan Ran akan mendapat cincinnya," tambahku lagi. Ekspresinya tetap datar saat menghardik, "Kau bohong."
"Sungguh. Aku hanya sayang karena sudah terlanjur membelinya. Lagipula lebih murah jika sepaket seperti ini daripada dibeli terpisah," aku berusaha meyakinkannya. Ia tidak berkata apa-apa saat mengangkat rambutnya untuk memudahkanku melingkarkan kalung itu di lehernya. Entah ia mempercayai kata-kataku atau tidak.
Saat selesai, aku melihat pantulannya di cermin. Ia benar-benar terlihat menawan dengan kalung itu. "Benar kalau orang-orang organisasi itu bilang ia seperti ibunya, seorang malaikat. Kau benar-benar malaikat, Haibara-san," tanpa sadar wajahku bersemu kemerahan menatapnya. Ia kemudian berdiri dari tempatnya dan keluar mendahuluiku. Aku melihat bulir air mata di pinggiran matanya sebelum ia menunduk dan menyekanya tadi. Pelayan yang melihat kejadian itu juga jadi terlihat canggung menyaksikan kami.
"Ini cincin Anda, Tuan," pelayan itu menyodorkan kotak yang telah terbungkus rapi. "Kupikir ia calonnya," wanita itu berkata dengan hati-hati, aku membalasnya dengan sebuah senyuman. "Semoga kebahagiaan selalu bersama Anda," katanya lagi sebelum aku meninggalkan toko itu.
- End of Shinichi's POV
Shiho menunggu di luar toko dengan menghadap ke jalan, memperhatikan setiap mobil yang hilir-mudik di tengah lalu-lintas Tokyo yang cukup padat siang itu. "Aku sudah selesai di sini," kata Shinichi menghampirinya. "Selanjutnya kita akan memesan restoran," jawab Shiho tanpa ekspresi. Pintu mobil baru saja dibuka saat teriakan mengejutkan mereka. "Kau...," Shiho memberikan deathglare ke Shinichi. "Gomen...," sahut Shinichi dengan nada menyesal. "Saatnya bertugas," lanjutnya lagi berlari menuju ke sumber teriakan itu.
xxx
Penyelidikan usai. Shinichi dan Shiho menyerahkan pelakunya untuk dibawa dan dimintai keterangan lebih lanjut di markas. Shinichi keluar dari TKP sambil terus memandangi layar HPnya. "Bagaimana? Ada balasan?" tanya Shiho. Shinichi menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, kita akan memesan tempat untuk lusa malam. Kau punya waktu sehari untuk meyakinkannya," kata Shiho lagi. Shinichi tidak merespon apa-apa perintah Shiho tadi. "Hei, kau mendengarkan tidak?" tanya Shiho dengan nada kesal. "Kita akan memesan tempat di mana?" tanya Shinichi mengalihkan. "Beika Center Building? Itu paling bergengsi di sini, bukankah kalian juga pernah makan malam di sana?" jawab Shiho acuh.
"Huh, aku meninggalkannya terakhir kali aku mengajaknya ke sana," sahut Shinichi dengan nada penuh penyesalan. "Bagaimana kalau Hotel New Beika? Kudengar ada restoran Perancis baru di sana, Shiratori-san merekomendasikannya beberapa hari lalu," katanya lagi. "Terserah kau, kau yang akan makan malam kan," masih dengan nada acuh Shiho yang kemudian mengarahkan mobil yang ia kemudikan ke Hotel New Beika.
"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang waitress di depan pintu restoran dengan ramah. "Kami ingin memesan tempat," jawab Shiho sopan. Waitress itu kemudian menyadari siapa yang sedang berbicara dengannya. "Ah, Anda Shiho Miyano-san dan... Shinichi Kudo-san! Benar kan?" tanyanya sangat excited. "Saya sangat mengidolakan Anda berdua. Kalian benar-benar pasangan serasi, terutama dalam menangani kasus-kasus sulit. Tidak menyangka bisa bertemu dengan kalian secara langsung," masih lanjut waitress itu, "Jadi, Anda ingin memesan tempat untuk makan malam ya? Untuk sekarang atau...?"
Shinichi terlihat sedikit terganggu dengan tingkahnya. "Ya, kami ingin memesan untuk lusa malam," jawab Shinichi. "Baiklah, lusa malam untuk 2 orang. Atas nama Shinichi Kudo-san dan Shiho Miyano-san," kata waitress itu. "Tidak–" potong Shiho dengan cepat, "–Shinichi Kudo-san dan Ran Mouri-san. Bukan aku pasangannya."
"Benarkah?" tanya waitress itu bingung, "Kupikir Anda berdua– Ah maafkan jika saya lancang, saya akan mencatatnya sesuai permintaan."
"Kau orang kesekian yang mengatakan itu sepanjang hari ini," kata Shinichi kepada pelayan itu dengan sangat pelan tanpa terdengar Shiho. "Apakah kami terlihat seperti itu?" tanyanya lagi yang hanya dijawab senyuman malu dari waitress tersebut.
xxx
Ran menatap kembali isi pesan masuk dari Shinichi kemarin. Ajakan untuk bertemu sekaligus makan malam – jika ia menyetujuinya. Ia memandang ke langit yang terlihat muram pagi itu. Apakah semesta ikut merasakan apa yang ada di dalam hatinya?
Do you feel the way I do right now?
I wish we could just give up
Cause the best part is falling
Ia memutuskan untuk merapatkan jaketnya dan mengambil payung untuk pergi menemui Sonoko, sahabatnya. Ia harus. Sebelum ia mengambil langkah yang tidak akan pernah bisa ia sesali. Sebuah keputusan yang menentukan arah hidupnya, masa depannya. Ia membutuhkan Sonoko untuk menentukan yang terbaik. Setidaknya sampai sejauh ini, Sonoko tidak pernah mengecewakannya.
Di kafe itu, Sonoko hanya memandang tidak percaya saat Ran menceritakan segalanya. Sonoko semakin terkejut saat Ran menceritakan keputusan dan rencananya. "Kau yakin, Ran?" tanya Sonoko penuh keraguan. Ran memantapkan hatinya, terlihat dari ekpresinya saat menjawab pertanyaan Sonoko, "Aku yakin. Sangat yakin, Sonoko."
Sonoko memandang wajah sahabatnya itu tersenyum, "Kau benar-benar tegar, Ran. Aku mendukung apapun keputusanmu, demi kebaikanmu." Mereka berdua kemudian saling berpelukan, tanpa terasa air mata menetes membasahi wajah keduanya.
xxx
Sore itu Shinichi sudah berganti pakaian mengenakan salah satu jas terbaiknya. Ia benar-benar terlihat sangat rapi hingga mengundang rekan-rekannya untuk menggodanya. "Kau benar-benar terlihat tampan dengan setelan itu, Shinichi-kun," kata Megure sambil senyum-senyum. "Lamarankah?" goda Shiratori lagi. "Kau sudah jauh lebih dewasa ya sekarang," tambah Sato.
Shinichi hanya tertawa tidak jelas mendengar perkataan senior-seniornya itu. Ia kemudian berpaling melihat Shiho yang sedang bersiap-siap untuk pulang. "Kenapa dia terlihat cuek? Bukankah biasanya dia selalu di barisan pertama untuk mengejek atau menggodaku?" batinnya. "Hei, kau sudah mau pulang?" tanya Shinichi sambil menghampirinya. Shiho terlihat acuh dengan pertanyaan itu, ia terus menyibukkan diri dengan merapikan barang-barangnya. "Hei, Miyano-san, aku sedang bertanya," ulang Shinichi lagi.
"Oh, ya, menurutmu sedang apa lagi?" sahut Shiho. "Biar aku mengantarmu dulu," jawab Shinichi seraya mengambil kunci mobilnya. "Tidak perlu," sahut Shiho. "Aku bisa pulang sendiri. Lagipula kau punya urusan lain yang lebih penting," tambahnya lagi. Shiho kemudian melepas blazernya dan mengganti dengan sebuah cardigan Marks&Spencer keluaran terbaru. "Good luck, Kudo-kun," kata Shiho sambil memberikan kedipan pada Shinichi dan sebuah senyuman. Ya, sebuah senyuman yang bahkan sama sekali tidak mengekspresikan kebahagiaan.
Sato menepuk bahu Shiho yang sedang berjalan keluar ruangan. Shiho terhenti sebentar memandang mentornya itu, ia memberikan sebuah senyuman lagi lalu melangkah pergi. Sato berjalan kembali ke mejanya melewati Shinichi sambil membisikkan sesuatu. Wajah Shinichi kini sedatar Shiho, tetapi matanya memandang jauh seperti pikirannya yang kini mengawang jauh entah ke mana.
Know your destiny well. Kata-kata yang barusan dibisikkan oleh seniornya itu.
Shiho's POV
Langkah demi langkah yang kutempuh rasanya semakin berat. Aku berjalan cepat menyusuri jalanan yang mulai semakin gelap. Hari sudah hampir malam, ditambah lagi matahari yang tidak juga tersenyum sejak pagi hingga ia tenggelam sebentar lagi. Seolah matahari tidak diberi kesempatan untuk memancarkan kebahagiaannya hari ini, bahkan hingga waktunya habis.
Aku melewati Hotel New Beika dan memandangnya. Di tempat ini sebentar lagi Kudo-kun akan memutuskan takdirnya. Ya, bersama Mouri-san. Mereka pantas mendapatkannya. Mouri-san pantas mendapatkannya karena ia telah menanti kekasihnya itu dengan sangat sabar walaupun tanpa kepastian selama ini. Kudo-kun pantas mendapatkannya karena ia benar-benar telah melakukan tugasnya dengan baik untuk melindungiku. Membantunya untuk mendapatkan Mouri-san adalah salah satu caraku mengucapkan terima kasih kepadanya.
Aku berjalan cepat melewati gedung itu, secepat keinginanku untuk melalui semua yang akan terjadi malam ini. Aku melanjutkan langkah kakiku pulang. Saat tiba di pintu depan rumah, aku merasa benar-benar lelah. Mungkin tidak seharusnya aku berjalan kaki dari markas MPD ke rumah, pikirku. Atau ada hal lain yang membuatku merasa lelah? Aku tidak langsung masuk ke rumah dan duduk di tepi pekarangan rumah, memandang langit yang begitu gelap tanpa adanya bintang satupun.
xxx
"Ini sudah berakhir," pikirku. Sudah lebih dari sejam aku termenung di sini, Kudo-kun pasti sudah melamar Mouri-san. Aku bisa membayangkan kebahagiaan yang memancar dari wajah mereka berdua saat Kudo-kun berlutut melamarnya. Aku memetik setangkai bunga di pekarangan dan memainkan kelopaknya. Memikirkan bagaimana bunga itu akan layu tak lama setelah aku mencabutnya. Saat bunga itu dicabut, ia tidak akan lagi mendapat pasokan zat-zat yang penting bagi hidupnya. Air, zat hara, oksigen.
"Apakah hidupku akan seperti itu? Menjadi layu setelah dicabut dan dijauhkan dari hal-hal berharga di hidupku?"
"Yang terpenting, kau tetap melihatnya hidup, Shiho–" kataku kepada diri sendiri, "– dan bahagia." Hidup dan bahagia. Itu jalan terbaik untuk menjauhkan Kudo dari kematian. Cukup kedua orangtuaku, oneechan, dan Hakase. Aku tidak mau lagi. Lagipula bukankah itu juga lebih dari cukup untuk memenuhi janjiku kepada Yukiko-nee? Rasanya saat ini aku lega karena sudah tidak berhutang apapun lagi.
And I will make sure
to keep my distance.
Sejak aku melihat komitmennya untuk melindungiku di pembajakan bus itu. Sejak aku melihat Mouri-san yang melompat melindungiku dari Vermouth. Sejak saat itu aku bersumpah untuk mewujudkan kebahagiaan bagi mereka di atas kebahagiaanku. Bahkan meskipun rasa sakit yang kurasakan.
"Semoga kau bahagia, Kudo-kun. Kau harus bahagia," kataku lagi. Kebahagiaannya adalah satu hal yang paling ingin kulihat di dunia ini. Setelah tidak ada lagi orang yang kucintai yang tetap tinggal di dunia ini, yang kebahagiaannya juga menjadi kebahagiaanku, ia satu-satunya yang tersisa. "Aku pasti akan bahagia. Aku akan berusaha bahagia untukmu, untuk kalian." Aku terdiam, merenungkan kata demi kata yang baru kuucapkan.
Say "I love you"...
Aku masih di luar saat angin mulai bertiup semakin kencang. Aku memandangi ujung jariku yang sudah dipenuhi tanah. "Aku mencintaimu, Kudo-kun–" kataku dengan air mata yang mulai membasahi wajah. "–tetapi aku tahu ini bukan takdir kita." Kebahagiaan Kudo berseberangan dengan kebahagiaanku. Kebahagiaan Kudo-kun adalah saat ia bersama Mouri-san dan sebaliknya, bukan saat bersamaku. "She's your destiny." Aku mencoba memaksakan kebahagiaan mereka menjadi kebahagiaanku juga. "Karena aku tidak bisa mengubah takdir, aku harus mendamaikan diriku dengan takdir."
Aku tahu ini sesuatu yang salah. Aku tahu tidak seharusnya aku berharap kepada takdir yang tak mungkin kuraih. Hidup kami ibarat dua buah garis sejajar yang selalu berdampingan, tapi tak pernah bertemu. Aku dan Kudo-kun seperti menjalani rel kereta yang saling bersisian, melalui stasiun demi stasiun berdampingan, tanpa pernah bersatu. Seringkali aku menyesali perasaan ini. Aku sudah mencoba, aku sudah mencoba untuk menghapusnya tapi selalu gagal. Mencintai dalam diam. Mencintai tanpa bisa memiliki. Mencintai tanpa tahu apa yang ia rasakan tentangku. "That's my destiny."
when you're not listening.
Rintik-rintik hujan mulai berjatuhan membasahi bumi. "Mengapa kau ikut menangis?" tanyaku sambil memandang langit yang terus meneteskan air hingga semakin deras. Aku memandang tulisan-tulisan yang kubuat dengan jariku di atas tanah, hasil tanganku saat termenung selama lebih dari sejam tadi. Air hujan jatuh di atasnya membuat huruf-huruf itu jadi tidak berbentuk lagi dan lama-kelamaan tulisan-tulisan itu akan hilang dengan sendirinya. "Kuharap itu juga menghapusnya dari hatiku."
- End of Shiho's POV
to be continued...
