11. SOSOK LAIN

Aku rela membuang siapa jati diriku...

Asalkan aku bisa bersama denganmu...

Aku sama sekali tidak keberatan...

Malah, aku sangat mengharapkannya...

Vanitas berlari keluar dari kamar Xion dan dengan cepat turun ke bawah. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa juga yang menyebabkan suara pecah sekeras itu? Selagi memikirkannya dengan rasa gundah, Vanitas akhirnya dapat mengetahui jawabannya. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang terjadi ketika dia melihat dari lantai dua. Cloud, Roxas, dan Sora sedang berhadapan dengan sosok bertudung yang tengah memegang beberapa lembar kartu di kedua tangannya. Sementara Tifa, Namine, dan Kairi berdiri di belakang. wajah mereka terlihat agak ketakutan.

Meskipun tudungnya tidak dibuka, tetapi Vanitas sudah tahu siapa yang menyerang rumah dan keluarganya. Kartu itu... kartu yang berwarna silver itu... adalah ciri khas salah satu pengawal raja selain Demyx. Pengawal yang memiliki sikap dewasa dan tenang, tanpa adanya rasa terburu-buru dalam mengerjakan sesuatu. Namun dibaliknya, tersimpan sikap licik yang menakutkan. Kemampuannya dalam mengendalikan kartu menjadikannya salah satu pengawal terkuat.

Membuka tudung jubah hitamnya, kini Vanitas dapat melihat wajah sang ahli kartu sepenuhnya. Rambutnya pendek berwarna pirang. Sementara di mulutnya terdapat kumis yang menyambung dengan jenggot, warnanya senada dengan warna rambutnya. Lima tahun sepertinya memang terlalu sebentar untuk vampir. Karena semua atribut-atribut di tubuhnya benar-benar masih sama dengan terakhir kali mereka saling bertatap muka.

Luxord.

Entah apa maksud kedatangannya kemari.

"Mau apa kau kemari, Luxord?" tanya Cloud.

"Ah... aku hanya mau menemui teman lama yang kabur meninggalkan kampung halamannya. Tidak apa-apa kan?"

Cloud mengerutkan keningnya. "Jangan bercanda, Luxord. Katakan niatmu yang sebenarnya."

"Aku tidak bercanda, Cloud. Apalagi, setelah raja memberikan kami kekuatan dan kebebasan untuk menjelajah, aku langsung datang kemari."

Memberikan kebebasan? Sepertinya opini dan dugaan yang mereka diskusikan tadi ada benarnya.

"Kau tidak perlu menghancurkan rumahku kalau begitu. Aku tahu kartumu sangat kuat, tapi tolong jangan buat keributan di sini. Ada manusia lain yang takutnya terganggu."

Mendengar kata 'manusia', Luxord langsung tertawa sekencang-kencangnya. Sepertinya maksud dari tawanya sama dengan tawa Demyx. Dia pasti menganggap bahwa tindakan Cloud sekeluarga sungguh menjatuhkan harga diri kaum vampir. Rasanya Vanitas ingin sekali membungkam vampir 400 tahun itu dengan menghajarnya habis-habisan. Meski rasanya tidak mungkin. Mengingat perbedaan usia serta pengalaman mereka yang terpaut lebih dari 200 tahun.

"Kau membela manusia? Ya ampun, kita ini vampir! Vampir, Cloud!" teriak Luxord.

"Aku baru tahu kau bisa berteriak, kukira kau adalah pribadi yang tenang."

"Tak mungkin aku tenang, apalagi ketika mengetahui bahwa kau begitu peduli pada manusia," jawab Luxord. "Mengapa juga kau lebih memilih untuk tinggal di dunia ini? Dunia vampir sudah sangat cocok untukmu."

"Tidak semenjak Xehanort berubah."

"Hoo... ternyata kau termasuk pemberontak ya?"

Luxord membentangkan kedua tangannya. Dan entah darimana, muncullah sebuah barisan kartu yang sangat rapi. Kartu-kartu itu bukanlah kartu biasa. Vanitas yakin, pasti kartu itu yang juga digunakan Luxord untuk menghancurkan jendela rumahnya. Kartu yang memiliki kekuatan penghancur yang sangat besar.

"Kalau begitu, aku harus menghukummu."

Luxord mengayunkan tangannya ke depan dan kartu-kartu itu langsung menerjang ke arah Cloud. Sesaat sebelum kartu paling depan mengenai Cloud, Vanitas langsung berubah dan melindungi ayahnya dengan menggunakan sayapnya. Sial... dengan sayap saja masih terasa begitu sakit. Padahal kekuatan sayap Vanitas termasuk salah satu yang paling kuat diantara anggota keluarganya. Kekuatan Luxord sungguh hebat. Seandainya Vanitas tidak berubah, pasti dia akan terluka parah, atau mungkin... mati.

Rasa sakit bagaikan tersengat tiba-tiba terasa begitu kuat di kedua sayap Vanitas. Kakinya menjadi begitu lemas sehingga dia tidak bisa menopang tubuhnya. Seluruh tubuhnya seperti kesemutan, sangat sulit untuk digerakkan. Dan pandangannya semakin lama semakin kabur. Apa? Apa yang terjadi dengannya? Kenapa tiba-tiba dia menjadi seperti tidak berdaya? Sementara Vanitas menjadi semakin lemah, Luxord hanya memperlihatkan senyum liciknya.

"Oh ya, aku lupa memberitahumu," kata Luxord. "Kartu yang kugunakan tadi adalah kartu pelumpuh."

Vanitas kembali ke wujudnya semula, dan dia langsung pingsan seketika. Sebelum tubuhnya membentur lantai, Roxas dan Sora berlari dan segera menahan tubuhnya. Wajah Cloud yang tadinya tenang menjadi marah ketika melihat anaknya diserang dan dilumpuhkan pada saat yang bersamaan. Luxord hanya tersenyum melihat perubahan ekspresi Cloud yang memang terlihat begitu jelas. Dia terlihat begitu puas karena berhasil membuat Cloud marah.

Sora dan Roxas menyerahkan Vanitas yang tidak sadar kepada ibunya. Setelah bertatapan sesaat, mereka saling mengangguk dan berjalan ke samping Cloud. Mereka bertiga langsung berubah wujud dan bersiap-siap untuk menghadapi Luxord. Normalnya, orang pasti akan mengatakan bahwa mereka bertiga sungguh pengecut karena melawan satu orang dengan tiga orang. Tetapi kali ini kasusnya berbeda. Apalagi yang dihadapan mereka bukanlah orang, melainkan vampir. Vampir dengan kekuatan dan pengalaman yang sangat tinggi.

Luxord mengangkat tangan kanannya, dan kartu-kartu yang menancap di punggung Vanitas tercabut lalu kembali ke tangan tuannya. Wajahnya sama sekali tidak terlihat takut ataupun khawatir meskipun di depannya sudah ada tiga vampir yang bersiap untuk menghabisinya. Dia bersikap tenang, seolah-olah tahu bahwa bertigapun tidak akan mampu mengalahkan dirinya. Dengan sekali gerakan tangan, ada banyak sekali kartu yang berkeliaran di sekelilingnya. Mungkin tiga kali lebih banyak daripada saat menyerang Vanitas. Tifa, Kairi, dan Namine melihat mereka dengan rasa khawatir ketika melihat kartu-kartu itu mulai mengelilingi Luxord.

"Hentikan, Luxord."

Sebuah cermin ungu tiba-tiba muncul di samping Luxord dan muncul sosok bertudung hitam lain. Anehnya, wajah Luxord berubah menjadi agak ketakutan meskipun wajahnya tidak terlihat karena tertutup kerudung. Mungkin bukan takut, tetapi lebih menunjukkan rasa... segan. Dan sepertinya tidak hanya Luxord, Cloud juga menunjukkan ekspresi yang tidak kalah kagetnya. Roxas dan Sora menatap ayah mereka dengan pandangan bingung.

"Kau... kenapa kau ada di sini?" tanya Luxord. "Memangnya apa kesalahanku?"

"Jangan membuat gerakan yang terlalu mencolok," jawabnya. "Apa kau mau kalau keberadaan kita bisa diketahui manusia lainnya?"

"Cih."

"Tujuan kita kemari bukanlah untuk bertarung dengan mereka. Kau tahu sendiri kan?"

"Huh, terserah apa katamu," kata Luxord. "Lalu apa maumu kemari?"

"Raja memerintahkanku untuk memanggilmu. Dia bilang, ada perubahan rencana terhadap dunia manusia."

"Dunia manusia?" tanya Cloud. "Mau kalian apakan dunia manusia?"

"Bukan urusanmu, Cloud Strife," jawab sosok bertudung itu. "Pengkhianat."

Sora segera maju ketika dia mendengar kata 'pengkhianat', tetapi Cloud langsung menahan Sora dengan sayapnya. Dia tahu betul kalau anaknya bukanlah tandingan yang tepat untuk mereka. Bahkan Cloud sendiri juga ragu apakah ia bisa mengalahkan salah satu dari mereka atau tidak. Cloud tidak ingin Sora menjadi seperti Vanitas. Tetapi Cloud sungguh penasaran dengan rencana terhadap dunia manusia yang barusan mereka katakan.

"Kembalilah, Luxord. Apa perlu aku memanggil Xaldin untuk menyeretmu ke sini?"

"Tutup mulutmu."

Sebuah cermin ungu muncul di samping Luxord dan ia segera masuk ke dalamnya. Tidak lama kemudian, sosok bertudung yang satu lagi melakukan hal yang sama. Cloud, Roxas, dan Sora segera kembali ke wujud semula mereka ketika mengetahui bahwa situasi sudah aman kembali. Sial, entah kenapa keadaan menjadi sangat membingungkan semenjak kedatangan Demyx.

Vanitas masih tidak sadarkan diri ketika Cloud menghampirinya. Badannya gemetaran, begitu juga dengan mulutnya. Di kulitnya yang pucat ada semacam garis berwarna ungu. Sementara dari mulutnya perlahan mengalir keluar darah sehingga membuat mereka semua terkejut. Cloud yakin, pasti Luxord tidak hanya melumpuhkan Vanitas dengan serangannya. Tapi dia juga menggunakan semacam racun pada kartunya. Sialan kau Luxord.

"Cloud," kata Tifa dengan wajah khawatir.

"Aku tahu."

"Tou-san, kita harus segera mengobatinya! Dia bisa mati!" teriak Sora.

...

Rasa khawatir masih belum hilang dari hati Xion. Sejak dia mendengar suara kaca yang pecah, Vanitas langsung pergi meninggalkannya dan turun ke bawah. Terdengar suara memang, hanya saja samar-samar karena terhalang pintu kamarnya yang bisa dibilang tebal. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa suasana rumah ini menjadi berubah drastis semenjak vampir yang bernama Demyx menyerangnya? Siapa sebenarnya dia? Kelihatannya dia bukan sekedar vampir biasa. Lalu, apakah yang menyebabkan keributan tadi adalah Demyx juga? Untuk saat ini, Xion tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. Apalagi Vanitas masih terkesan ragu dalam memberitahukan hal yang sebenarnya. Mungkin jika Vanitas sudah kembali, dia akan menanyakan hal ini lebih lanjut. Salah satunya adalah mengenai siapa Demyx itu.

Sayangnya, Vanitas belum juga kembali sampai detik ini. Mungkin sudah sekitar satu jam lebih semenjak dia keluar. Hal ini membuat Xion semakin khawatir dan rasa ingin tahunya juga semakin besar. Xion ingin turun ke bawah dan menemui mereka semua, tetapi tangan dan kakinya masih terasa lemas. Kalau dia memaksakan diri, bisa-bisa dia jatuh dari tangga dan luka-lukanya menjadi semakin parah. Oh, kenapa dia jadi seperti orang lumpuh saja? Karena luka-luka ini, dia seperti dibuat tidak bisa apa-apa. Kapan ya luka-lukanya bisa sembuh sepenuhnya? Semoga saja besok. Xion tidak mau merepotkan keluarga ini lebih jauh lagi, terutama Vanitas.

Tok tok

Tiba-tiba terdengar suara ketukan. Apakah Vanitas sudah kembali?

"Xion, boleh aku masuk?" tanya Kairi dari luar. Oh, ternyata bukan Vanitas.

"Em, silahkan."

Pintu kayu itu terbuka perlahan dan memperlihatkan sosok Kairi yang kelelahan. Rambutnya terlihat berantakan sampai Kairi merapikannya sendiri ketika ia berjalan ke samping Xion. Wajahnya juga tidak menunjukkan dirinya yang biasanya. Dia tidak terlihat ceria seperti saat dia selalu bertemu dengannya. Malah, wajahnya lebih terlihat sedih dan khawatir.

"Bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah lebih baik?" tanya Kairi sambil duduk di kursi.

"Justru aku ingin menanyakannya padamu juga."

"Maksudmu?"

"Maksudku..." Xion memperbaiki posisi berbaringnya. "Apa yang terjadi di bawah?"

"Oh... maksudmu yang tadi? Yah, bukan sesuatu penting kok."

"Kalau begitu jawab aku."

"Kau tidak akan mengerti, Xion."

"Jawab saja, kumohon. Aku akan mendengarnya pelan-pelan."

Mendengar Xion berkata begitu, Kairi langsung menghembuskan napasnya. Sepertinya dia menyerah, apalagi ketika melihat tatapan mata Xion yang begitu serius.

"Baiklah, aku akan memberitahumu," kata Kairi. "Tadi kami diserang oleh pengawal raja."

"Diserang... pengawal raja?"

"Iya, pengawal raja."

"Vani memang pernah bilang kalau kalian meninggalkan tempat tinggal kalian karena raja kalian tidak adil. Lalu, apa mereka datang karena ingin membawa kalian kembali?"

"Awalnya kukira begitu, tetapi sepertinya bukan."

"Kenapa kau berpikir begitu?"

"Kalau niat mereka memang begitu, kenapa mereka tidak membawa paksa kami saja tadi? Kekuatan mereka bisa dibilang hebat loh, mungkin Cloud kalah."

Xion menelan ludahnya. "Sebegitu hebatnya?"

"Begitulah. Bahkan Vani sampai sekarang masih belum sadar."

Mata Xion melebar ketika mendengar nama Vanitas disebut. Jadi ada sebabnya mengapa Vanitas tidak kembali sampai sekarang. Apa yang terjadi dengannya?

"Vani diracuni oleh vampir yang tadi, sekarang Cloud sedang merawatnya bersama Tifa," kata Kairi seolah bisa membaca isi hati Xion.

Vanitas diracuni? Xion seolah-olah tidak mempercayai apa yang baru saja dia dengar. Oh Tuhan, bagaimana keadaannya sekarang? Apakah dia baik-baik saja atau mungkin dia tidak berdaya? Xion ingin sekali menjenguknya, tetapi tentu saja tidak bisa dengan kondisi tubuhnya yang juga masih sangat lemah. Atau mungkin... berhubung Kairi ada di sini, minta tolong dia untuk memapahnya saja? Kairi vampir juga kan? Tenaga serta kekuatannya pasti melebihi manusia.

"Sekarang Vani ada di mana?"

"Di kamarnya, kenapa?"

"Bisakah kau memapahku ke sana?"

Kairi mengernyitkan dahinya, tetapi setelah itu dia berkata 'oh' pelan. Garis bibirnya yang semula menunjukkan ekspresi datar langsung berubah menjadi sebuah senyum. Sepertinya Kairi mengira yang aneh-aneh terhadap permintaannya. Dasar, rugi ternyata Xion mengkhawatirkannya. Karena dalam sekejap, dia sudah kembali ke dirinya semula. Xion memalingkan wajahnya sambil membisikkan kata 'dasar'. Tetapi meskipun hanya bisikan, Kairi pasti masih bisa mendengarnya.

Tanpa menjawab permintaan Xion, Kairi langsung menggendong Xion dengan gerakan cepat tanpa membuat selang infusnya tercabut. Bagi Kairi, Xion begitu ringan. Jika diibaratkan dengan manusia, mungkin seperti membawa sebuah boneka beruang ukuran sedang untuk anak-anak. Tanpa menunjukkan kesulitan sama sekali, Kairi berlari ke ruangan yang ada di pojok kiri. Yang juga adalah ruangan Vanitas dirawat. Xion sebenarnya ingin berterima kasih pada Kairi, tetapi dia langsung mengurungkan niatnya ketika melihat bagaimana cara dia digendong. Dia digendong ala bridal style! Memangnya Kairi kira dia ini apa? !

"Kau tidak suka digendong begini?" tanya Kairi usil.

"Kita ini sama-sama cewek, Kairi. Gaya menggendongmu seolah-olah kita ini... yah, kau tahu sendiri maksudnya."

"Oh, kalau begitu aku minta maaf tuan puteri. Pengawal Kairi akan membawamu ke pangeran pujaanmu?"

"Pangeran pujaan?"

"Yep, kau menyukai dia kan?"

Muka Xion langsung menunjukkan semburat merah ketika Kairi menanyakan hal itu. Dalam hati, Xion bersumpah kalau dia akan menghajar Kairi seandainya dia bukan vampir alias manusia. Sayangnya, itu hanya 'seandainya', realitanya sungguh terbalik karena Kairi adalah vampir. Tetapi... menyukai Vanitas? Apa iya dia menyukai Vanitas? Tiba-tiba saja, momen ketika Vanitas mencium keningnya berputar kembali di otaknya. Membuat wajah Xion yang sudah merah, menjadi semakin merah. Kairi tak kuasa lagi menahan tawanya.

Pintu di depan mereka tiba-tiba saja terbuka dan terlihat sosok Sora yang agak kaget. Kaget karena melihat Xion yang sedang digendong oleh kekasihnya. Dibalik tubuh Sora, Xion dapat melihat Roxas yang sedang merangkul Namine, serta Tifa yang wajahnya menunjukkan ekspresi cemas. Sementara di ranjang, terlihat Vanitas yang sedang berbaring dan tidak sadarkan diri, ditemani Cloud yang sedang duduk di sisi ranjang. Kairi menurunkan Xion secara perlahan, dan memapahnya masuk ke dalam. Suasana dalam kamar ini sungguh awkward alias canggung. Tidak ada yang memulai pembicaraan sampai Cloud menyadari kalau Xion sedang berjalan ke arahnya.

"Kau sudah tidak apa-apa?" tanya Cloud sambil tersenyum.

"Begitulah," jawab Xion. "Bagaimana keadaan Vani?"

"Kau tahu darimana soal Vani?"

"Em, aku bertanya pada Kairi."

Cloud menatap Kairi sesaat, dan kemudian pandangannya kembali lagi ke Xion. "Dia sudah tidak apa-apa, keadaannya sudah jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Mungkin besok dia baru siuman."

"Boleh... boleh aku duduk di sampingnya?"

"Tentu, silahkan. Kebetulan aku sedang ingin membicarakan sesuatu dengan keluargaku di luar. Kau bisa menjaganya juga, kan?"

Xion mengangguk. Dan dengan gerakan cepat, hanya tersisa Xion dan Vanitas berdua di ruangan ini. Xion mengalihkan pandangannya ke Vanitas dan tersenyum mengetahui bahwa dia sudah baik-baik saja. Dengan tangannya, ia mengelus wajah Vanitas yang terlihat begitu pucat dan tenang. Garis-garis keunguan terlihat di kedua pipinya, tetapi garis itu juga menghilang perlahan-lahan. Sepertinya pengobatan yang diberikan Cloud sungguh manjur.

"Cepatlah sembuh, Vani," kata Xion sambil tersenyum.


Oke, mohon read and review ya. Makasih buat yang udah ikutin fic ini dalam bentuk apapun. Maaf kalau kurang bagus atau ada typo, sampaikan aja lewat review. Terus, mohon doanya semoga saya lulus. Terima kasih.