Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rate : T
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Pair : Itachi x Hinata
Sligth
Deidara x Ino
~ Please Look At Me ~
WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD amburadul, Penempatan tanda baca tidak sesuai, OOC, OC, CRACK PAIR, Alur cepat dan masih banyak kekurangannya.
Untuk Chapter ini dan mungkin beberapa chapter kedepan akan sedikit lebih fokus mengenai DeiIno.
DON'T LIKE DON'T READ
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X
Kuping Ino terasa panas juga pengang mendengar omelan serta nasehat panjang lebar dari kedua orang tuanya, khususnya dari sang ibu yang memarahinya habis-habisan karena pulang terlambat terlebih diantar oleh seorang pria bersurai kuning panjang dengan keadaan pingsan.
Entah siapa pria yang sudah mengantarkannya pulang, karena semalam keadaan Ino sedikit kacau akibat patah hati bahkan tadinya ia berniat untuk bunuh diri.
BRAKK!
"Katakan pada ibu Ino, siapa pria itu?! Apa hubunganmu dengannya?" Cecar wanita paruh baya ini.
Ino diam menundukkan wajahnya dalam enggan menatap kedua orang tuanya karena merasa bersalah juga takut tentunya pada sang ibu jika sedang marah.
Sruk
Diusapnya puncak kepala Ino dengan lembut oleh sang ayah membuat hatinya sedikit tenang dan nyaman.
"Angkat wajahmu Ino, ayah dan ibu hanya ingin bertanya padamu? Apakah pria itu yang sudah membuatmu sedih belakangan ini?" tanya sang ayah lembut.
Ino menggelengkan kepalanya pelan, "Bu-bukan ayah. A-aku juga tidak mengenalnya," jawabnya jujur.
Pria paruh baya bersurai kuning panjang ini terlihat menghembuskan nafasnya cepat lalu memijat-mijat keningnya pelan. Jadi pria yang semalam datang mengantarkan sang anak dalam keadaan pingsan bukanlah pria yang sudah membuat putri tercintanya itu bersedih sekaligus patah hati.
"Jadi ayah salah orang ternyata," gumamnya.
"Ma-maksud ayah apa?" tanya Ino bingung.
"Semalam ayahmu meminta pria yang mengantarkamu pulang untuk bertanggung jawab dengan menikahimu," jawab wanita paruh baya ini mewakili sang suami.
Kedua mata Ino membulat sempurna mendengarnya dan tidak menyangka kalau sang ayah akan berkata seperti itu. Dan menjadi tidak enak hati pada pria asing yang sudah menolongnya semalam padahal tadinya Ino berniat menabrakkan dirinya ke mobil pria bersurai kuning panjang itu tapi dirinya malah ditolongnya.
"Jadi siapa pria yang sudah membuatmu seperti ini Ino? Ayah akan memintanya untuk bertanggung jawab karena membuatmu patah hati dan bersedih," kata Inojin penuh amarah.
Ino diam seribu bahasa, bibirnya terkatup rapat tak bisa mengeluarkan sepatah katapun pada sang ayah juga ibunya yang duduk didepannya seraya memandangi tatapan serius.
Gadis cantik bersurai kuning panjang ini merasa bingung apakah harus menceritakan sosok Gaara pada sang ayah mengingat kalau mereka berdua menjalin kasih secara diam-diam karena permintaan Gaara.
"Jika kau tidak bisa menjawab pertanyaan ayah. Itu berarti kalau pria bersurai kuning itu-lah pria yang sudah me..."
"Cukup ayah! Sudah kukatakan tadi, kalau aku tidak mengenalnya sama sekali dan dia bukan kekasihku," sela Ino dengan nada sedikit tinggi.
Srek!
Ino langsung berdiri dari duduknya, "Aku akan kembali ke kamar untuk berisitirahat,"
"Ino, ibu dan ayah belum selesai bicara padamu. Duduk kembali ke sini dan dengarkan perkataan orang tuamu." Teriak sang ibu lantang.
Ino berusaha menulikan kedua kupingnya dan berjalan cepat menuju kamarnya.
BLAM!
Dibantingnya pintu kamarnya.
Bruk
Ino menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang kecilnya lalu memeluk erat bantal putih miliknya.
Tes
Tes
Tes
Buli-bulir air mata menetes dari iris hijaunya tak kala mengingat kembali kejadian kemarin yang menyayat hati.
"Hikss...Ga-Gaara-Senpai..." isak Ino lirih.
Diambilnya bingkau foto yang terpajang rapih disamping ranjangnya lalu dipandanginya lamat-lamat gambar dirinya bersama dengan Gaara didepan gerbang sekolah saat hari kelulusan satu tahun yang lalu. Air mata Ino semakin deras tak kala harus mengingat-ingat kembali kenangannya bersama sang kekasih. Padahal dulu Gaara adalah pemuda yang baik, ramah serta lembut tidak seperti Gaara yang dikenalnya sekarang.
BRAK
PRANG
Ino membanting bingkai foto ditangannya hingga kacanya pecah berkeping-keping demi meluapkan perasaan sakit hatinya.
"A-aku mem-bencimu...Gaara-Senpai..." ucap Ino penuh kebencian.
Ino menenggelamkan kepalanya dalam bantal besarnya lalu menangis kembali, dirinya merasa menjadi gadis paling menderita dan tersakiti. Seolah-olah kalau dirinya-lah orang yang paling menderita juga sedih padahal jika Ino mau membuka kedua mata serta pikirannya lebar-lebar masih banyak orang yang jauh lebih menderita serta terluka melebihi Ino sendiri tapi namanya juga gadis remaja labil baru merasakan putus cinta sudah merasa dunia akan runtuh dan merasa orang paling merana di dunia ini.
Jika saja Ino tahu apa yang tengah dialami serta dirasakan oleh Hinata saat ini pasti dirinya akan berpikir kalau kisah cinta dari sahabatnya itu lebih sedih dan memilukan darinya karena mencintai seorang pria yang tak bisa berpaling dari masa lalunya.
Disaat Ino sedang meratapi kesedihannya karena putus cinta dengan menangis histeris didalam kamar. Gadis cantik bersurai kuning panjang ini tidak mengetahui kalau sang ayah Inoichi Yamanaka mencari keberadaan Deidara yang dianggap sebagai penyebab kesedihan dari Ino serta pria yang sudah menodai putri kesayangannya itu.
"Akan kuseret dan tarik pria itu untuk bertanggung jawab atas perbuatannya." Batin Inoichi geram.
.
.
.
Seorang pria bersurai kuning panjang dengan mengenakan kaos hitam lengan panjang dan celana jeans senada dengan sedikit robekkan dikedua lututnya terlihat berdiri didepan sebuah apartemen mewah dilantai delapan belas.
TING TONG...
Sudah beberapa kali pria tampan ini memencet bel pintu apartemen tapi pintu apartemen tak kunjung terbuka membuatnya kesal serta geram pada pemilik kamar ini. Karena kesal tidak dibukakan pintu, akhirnya pria tampan ini menggedor-gedor pintu apartemen membuat keadaan sedikit gaduh serta berisik disekitar koridor lantai delapan belas.
DORR!
DORR!
"Erika! Buka pintunya atau aku dobrak pintu ini!" Teriaknya penuh amarah.
Tak ada reaksi sama sekali dan hal ini benar-benar membuat pria tampan bersurai kuning panjang ini marah.
DUAGH!
Ditendangnya pintu apartemen dengan salah satu kakinya, padahal pintu apartemen ini terbuat dari kayu yang kokoh serta menggunakan sistem kata sandi yang memungkinkan kalau pintu ini sulit dirusak. Tapi tidak bagi pria tampan ini dengan mudah ia merusaknya, walaupun penampilan pria tampan bersurai kuning panjang ini tidak terlihat seperti pria gagah dan kuat tapi ia adalah mantan juara Judo dan Kendo tingkat Nasional juga Asia jadi kalau soal merusak atau menjebol pintu bukanlah hal yang sulit untuknya.
BRAAKK!
Pintu apertemen terbuka dan pria tampan ini langsung menghambur masuk kedalam tanpa ada perasaan bersalah atau-pun takut karena sudah merusak pintu masuk.
Saat masuk kedalam apartemen sang tunangan, kedua matanya tanpa sengaja melihat sepasang sepatu laki-laki tersimpan rapih dibawah undakan.
Senyum miris menghiasi wajah tampannya, "Jadi kau sudah berani mengajakknya kemari." Desisnya penuh amarah.
DRAP
DRAP
DRAP
BLAAMMM
Kedua matanya melebar sempurna saat membuka pintu kamar dari sang tunangan karena menemukan wanita bersurai cokelat panjang itu tengah terlelap tidur tanpa mengenakan busana sama sekali bersama seorang pria yang dikenalnya sebagai teman kantor sang tunangan.
GREP!
Ditariknya kuat tubuh pria bersurai hitam itu yang tertidur lelap disamping tunangan.
Karena tarikkan dari pria bersurai kuning panjang itu membuat pria bersurai hitam itu terbangun dari tidurnya termasuk Erika sang tunangan.
"Deidara!" Seru Erika kaget juga takut.
Pria bernama Deidara itu hanya tersenyum sinis lalu dengan cepat melayangkan tinjunya ke wajah selingkuhan Erika.
BUAGHH
BRUKK
Tubuh pria bersurai hitam itu jatuh tersungkur kebawah ranjang dengan posisi wajah duluan menyentuh lantai.
"AAAAA!" pekiknya kesakitan.
"Shino!" teriak Erika berusaha menjangkau tubuh pria pujaan hatinya tapi salah satu tangannya ditarik oleh Deidara.
"Aaaa! Le-lepaskan aku Deidara..." pekiknya.
"Beraninya kau mengajaknya kemari bahkan tidur dengannya!" teriak Deidara penuh amarah.
Erika menundukkan wajahnya dalam takut menatap Deidara yang terlihat begitu marah padanya karena memang benar apa yang dikatakan oleh tunangannya itu kalau selama satu tahun belakangan ini ia memang menjalin hubungan khusus dengan teman satu kantornya Aburame Shino yang menurut Erika, pria penyuka serangga itu sangat baik, lembut juga penuh perhatian tidak seperti Deidara yang tidak pernah ada waktu untuknya bahkan selalu menomor satukan Itachi juga pekerjaannya.
Erika juga butuh perhatian, kasih sayang dari Deidara bukan hanya barang-barang mahal, bermerek yang selalu diberikan untuknya tapi tak penah punya waktu untuknya.
Dan Deidara sudah mengetahui hal itu sejak dua bulan yang lalu saat tanpa sengaja pernah memergoki Erika tengah makan malam bersama Shino disebuah restaurant Perancis. Tapi Deidara tidak ambil pusing dan bersikap seolah-olah tidak mengetahui perselingkuhan Erika demi hubungan baik dengan keluarga Erika, mengingat mereka berdua ditunangkan oleh orang tua mereka dengan landasan bisnis semata.
PLAK!
Deidara menampar keras pipi kanan Erika, "Kau memang wanita murahan, aku tidak menyangka kalau kau bisa berbuat sehina ini," ujarnya sakartis.
Deidara benar-benar marah dan emosinya sudah meledak-ledak tak kala melihat tunangannya tidur dengan pria lain padahal Deidara sendiri tidak pernah sekali-pun menyentuh Erika karena menurutnya mengungkapkan sebuah perasaan cinta tak harus dengan melakukan hubungan badan.
Karena pada dasarnya Deidara adalah pria yang bertanggung jawab dan memiliki pemikiran jauh jika melakukan sesuatu.
Tes
Liquid bening mengalir deras dari kedua mata Erika, kedua pipinya terlihat memerah bekas tamparan dari Deidara, "Ma-maafkan aku..." isaknya.
Pria selingkuhan sang tunangan hanya bisa duduk diam melihat sang kekasih hati menangis dan menatap dingin juga tajam pada pria bersurai kuning panjang yang tengah berdiri menjulang di hadapannya, "Jangan sakiti atau salahkan Erika karena..."
DUAGH...
Deidara menendang dinding disebelah wajah Shino seraya menatap tajam dan membunuh para pria bersurai cokelat itu, "Aku sudah tidak peduli dan membutuhkan wanita itu lagi,"
Erika duduk diam menundukkan wajahnya dalam dan air matanya masih menetes membasahi lantai karpet dikamarnya.
Deidara melirik tajam Erika, "Sebaiknya aku membatalkan pernikahan kita, lagi pula kau dan aku dijodohkan juga tak ada perasaan cinta diantara kita berdua. Terlebih kau sangat mencintai pria itu," lirik Deidara tajam pada Shino dengan penuh kebencian.
"T-tidak...aku tidak mau..." tolak Erika histeris karena tidak mau kehilangan Deidara yang merupakan sumber uang untuknya.
Kling...
Sebuah cincin emas putih bertahtakan berlian kecil diatasnya menggelinding ke arah Erika.
"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi dan mulai saat ini juga seterusnya kita sudah tidak ada hubungan lagi." Kata Deidara dingin.
"A-aku mohon padamu Deidara, jangan lakukan ini," Erika mengiba pada Deidara agar dimaafkan atas kesalahannya.
"Tidak. Aku akan membatalkan pertunangan serta pernikahan kita. Tak ada yang bisa dipertahankan lagi dalam hubungan ini, aku sudah terlalu lelah dan muak dengan semua sikapmu," ujar Deidara sendu.
GREP
Erika memegangi tangan Deidara, "Aku mohon jangan lakukan itu, aku a..."
"Hentikan Erika! Jangan bersikap seperti ini, kau terlihat seperti seorang pengemis cinta," sindir Deidara.
"Aku tidak peduli, asalkan kau tidak membuangku. Maafkan aku Deidara..."
Deidara mengepalkan kedua tangannya, "Apapun yang kau lakukan dan perbuat aku sudah tidak peduli lagi karena aku tidak mencintaimu. Berbahagialah dengan pria itu karena kebahagianmu bukan bersamaku," Deidara melepaskan cengkeraman tangan Erika lalu berjalan cepat meninggalkan kamar.
"Deidara!" jerit Erika pilu.
Erika menangis histeris melihat kepergian Deidara sementara Shino diam seribu bahasa karena bagaimana-pun dirinya memang salah juga menjadi orang penyebab hancurnya hubungan antara Erika dan Deidara yang sudah terjalin hampir lima tahun bahkan tahun depan Deidara berencana untuk menikah dengan Erika tapi sepertinya ia harus membatalkan rencana pernikahan dengan sang tunangan.
TAP
Deidara berjalan keluar meninggalkan sepasang kekasih itu dengan perasaan hancur, terluka serta sedih. Ternyata rasanya patah hati dan terkhianati adalah seperti ini, jadi pantas saja jika diluar sana banyak orang yang ingin mengakhiri hidupnya hanya gara-gara patah hati. Tiba-tiba saja Deidara teringat pada gadis bersurai kuning panjang yang beberapa hari lalu hampir ditabraknya karena berniat bunuh diri.
"Hahahaha..." Deidara tertawa lebih tepatnya mentertawakan dirinya sendiri karena harus merasa sedih dan terluka seperti ini.
"Sial!" racaunya dengan kedua mata berkaca-kaca.
X0X0X0X0X0X0X0X
Saat ini Hinata tengah merasa tegang, bingung juga takut. Bagaimana wanita cantik bersurai indigo ini tidak merasa seperti itu jika dalam posisi terjepit seperti ini. Dimana dirinya tengah duduk diapit oleh ketiga pria berbeda usia dan warna rambut yang satu sama lain saling memandang tajam dan mengitimidasi
Dan kejadian menegangkan ini bermula dari satu jam yang lalu saat Hinata hendak pergi menjenguk Ino dirumahnya karena sudah beberapa hari sahabatnya itu tidak masuk sekolah sejak kejadian didekat pertokoan waktu itu. Awalnya Hinata pergi diantarkan oleh Jugo ke rumah Ino tapi tiba-tiba Sasuke ikut masuk kedalam mobil dan berkata ingin menemani Hinata dengan beralasan kalau pemuda bersurai raven itu ingin menjaganya mengingat saat ini Hinata tengah hamil.
Awalnya Itachi yang merupakan suami Hinata, terlihat biasa saja dan tidak peduli jika Sasuke ikut menemani Hinata menjenguk teman sekolahnya. Tapi saat Sasori sang Sensei tampan yang diam-diam menyimpan perasaan khusus pada Hinata juga akan ikut pergi menjenguk Ino bersama Hinata membuat pria bersurai hitam panjang ini akhirnya memutuskan untuk ikut menemani sang istri menjenguk Ino bahkan Itachi duduk disamping Hinata dan yang menyupir adalah Jugo.
Hal hasil selama didalam perjalanan menuju rumah Ino, suasana dingin mencekam sangat terasa didalam mobil karena kedua kakak beradik ini saling melirik tajam dan Hinata hanya bisa menunduk diam melihat tingkah mereka berdua.
Kedua orang tua Ino sangat senang dengan kedatangan Hinata ditambah ditemani oleh kedua bersaudara Uchiha yang sangat terkenal di kota ini. Mereka bertiga disambut hangat juga ramah oleh kedua orang tua Ino dan saat masuk kedalam rumah, Hinata melihat Sasori sudah duduk nyaman dikursi ruang tamu.
Hinata duduk didekat Sasori tapi tanpa diduga sama sekali kalau Sasuke juga ikut duduk disebelah Hinata sedangkan Itachi memilih duduk disamping Sasori seraya memperhatikan setiap gerak gerik mereka berdua.
"Silahkan diminum tehnya," ujar seorang wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung dari Ino, sahabat baik Hinata disekolah.
"Te-terima kasih bibi," sahut Hinata gugup.
Saat Hinata hendak mengambil gelas kecil berisikan teh hijau, tangan Sasuke sudah lebih dulu mengambilnya dan terlihat hendak meminumkannya pada Hinata.
Kedua pria dewasa yang sama-sama duduk didekat Hinata menatap tajam juga dingin pada Sasuke, tapi pemuda bersurai raven ini terlihat cuek saja dan tidak mempedulikannya sama sekali bahkan terlihat santai meminumkan teh hijau kedalam mulut Hinata.
"A-aku bisa minum sendiri Sasuke-kun," Hinata memegangi pinggiran gelas kecil yang tepat berada didepan mulutnya.
"Tapi..."
"Hinata bukan anak kecil Sasuke dan dia punya tangan untuk bisa minum sendiri tehnya," sela Itachi dingin.
Hinata diam mendengar perkataan sang suami dan dengan sedikit menundukkan wajahnya ia merebut cangkir tehnya dari tangan Sasuke kemudian meminumnya cepat tapi saat diminum ternyata tehnya masih panas dan reflek membuat Hinata mengeluarkan kembali air teh yang tadi diminumnya.
"Panas!"
"Hati-hati Hinata," ucap Sasori seraya membersihkan sisa air teh di sekitar mulut Hinata menggunakan sapu tangannya.
"I-iya," cicitnya.
"Hey, apa yang kau lakukan?!" lirik Sasuke sinis.
Pats...
Sasuke menepis kasar tangan Sasori dari wajah Hinata, "Jangan sentuh Hime-ku dengan tangan kotormu," ujarnya ketus.
Hinata terdiam lebih tepatnya syok begitu pula dengan kedua pria dewasa didekat Hinata yang ikut kaget dengan pernyataan Sasuke.
"Aku hanya sedang membersihkan wajah Hinata s..."
SREK!
Tiba-tiba Hinata berdiri membuat Sasuke dan Sasori menengadahkan wajahnya melihat sosok Hinata yang berdiri menjulang didekat mereka berdua.
"Bibi, bisa antarkan aku ke kamar Ino-chan,"
"Ya, akan bibi antarkan,"
Sasuke terlihat hendak berdiri dan mengikuti Hinata ke kamar Ino.
"A-anda disini saja, jangan ikut ke kamar Ino-chan denganku," ujar Hinata tegas tanpa menolehkan wajahnya.
Sasuke-pun duduk kembali di kursinya dan mengurungkan niatnya untuk menemani Hinata. Setelah kepergian Hinata dan ibu Ino, suasa tegang, dingin juga mencekam sangat terasa diruang tamu keluarga Yamanaka saat ini. Ketiga pria dewasa ini saling pandang satu sama lain dengan pandangn tajam, mengitimidasi satu sama lain terlebih dengan Sasuke yang secara terang-terangan menunjukkan sikap tak sukanya pada Sasori.
TOK
TOK
TOK
"Ino, buka pintunya nak," teriak sang ibu dari depan pintu kamar.
"A-aku sedang ingin sendirian ibu. Pergilah!" usir Ino.
"Ino-chan, ini aku Hinata. Buka pintunya dan biarkan aku masuk," ucap Hinata lembut.
Saat tahu kalau yang datang adalah Hinata dengan cepat Ino langsung meloncat turun dari kasurnya lalu membuka pintu kamarnya.
CKLEK
GREP
Ino langsung memeluk erat tubuh Hinata kemudian menangis kembali. Sang ibu hanya diam melihatnya dan memilih meninggalkan Ino bersama dengan temannya.
Ino mengajak Hinata untuk duduk dipinggir ranjang. Cairan bening masih terlihat deras membasahi kedua pipinya, wajah Ino terlihat kusut, berantakan bahkan kedua matanya sembab dan merah mungkin karena terlalu banyak menangis.
"Kau seperti bukan Ino-chan yang aku kenal sebagai gadis ceria, kuat dan tegar," Hinata menatap lembut wajah Ino, "Jangan bersedih lagi Ino-chan, aku yakin kau akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari Gaara-Senpai,"
"Ta-tapi..."
"Aku percaya kau bisa melewati ini semua," diusapnya jejak air mata di kedua pipi Ino, "Buktikanlah pada Gaara-Senpai kalau kau bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik darinya, bukannya dengan menangis meratapi keadaan seperti ini. Karena aku yakin Ino-chan yang aku kenal bukanlah gadis lemah," Hinata tersenyum lebar menatap Ino.
Gyut~
Ino memeluk erat Hinata, "Terima kasih Hinata,"
"Sama-sama, itulah gunanya seorang sahabat untuk saling membantu satu sama lain. Aku yakin pasti sudah seharian ini kau belum makan, ayo kita makan Ino-chan karena ibumu sudah membuatkan masakan yang enak," ajak Hinata seraya menarik Ino keluar dari kamar.
Berkat nasehat dari Hinata akhirnya Ino bisa membuka hati serta pikirannya karena apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu ada benarnya. Buat apa dirinya menangis meratapi perpisahan dengan Gaara sedangkan pemuda bermata Jade itu tengah bersenang-senang dengan kekasih barunya tanpa peduli atau mau tahu dengan keadaannya saat ini.
Ino sudah memutuskan akan membalas perbuatan Gaara dan akan membuktikan pada sang mantan kekasihnya itu kalau dirinya bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik segala-galanya dari Gaara.
Saat berjalan ke ruang makan Ino melihat ketiga pria dewasa tengah duduk di meja makan, "Sensei! Itachi-sama dan..." Ino menatap heran pemuda tampan bersurai raven yang tengah duduk santai disamping Sasori.
"Namanya adalah Sasuke dia..."
"Aku tunangannya Hinata," sela Sasuke memperkenalkan diri pada Ino.
Kedua mata Hinata melebar sempurna mendengarnya begitu pula dengan Itachi dan Sasori. Kedua pria berbeda warna rambut ini tidak menyangka juga mengira kalau Sasuke akan memperkenalkan diri sebagai tunangan Hinata padahal sudah jelas-jelas kalau Hinata adalah istri sah dari Itachi, kakak kandungnya sendiri.
"Apa maksud perkataanmu tadi?" tanya Sasori dengan nada sedikit tinggi.
Dari nada bicaranya terlihat jelas kalau Sensei tampan bersurai merah ini tidak suka dan terima dengan pernyataan dari pemuda bersurai raven itu.
"Itu memang benar adanya kok, bukankah begitu Aniki?" lirik Sasuke seraya menyeringai.
"Aku..."
"Bukankah kau tidak menyukai Hinata dan masih terus tenggelam dalam masa lalu juga cinta lamamu, Konan." Kata Sasuke dingin.
Grep!
Itachi diam seribu bahasa seraya mengepalkan kedua tangannya menahan gejolak emosi hati serta amarahnya, bagaimana-pun ia tidak boleh hilang kendali pada sang adik. Itachi tidak ingin berdebat dengan Sasuke mengenai masalah ini mengingat pernikahannya dengan Hinata dirahasiakan demi kebaiakan Hinata dan setelah sang istri lulus sekolah Madara akan mengumumkan status Hinata kepada publik sebagai menantu keluarga Uchiha dan istri sah dari Itachi pewaris utama sekaligus kepala keluarga utama Uchiha.
"Itachi-sama." Batin Hinata seraya memandang sendu wajah sang suami.
Hinata hanya bisa diam dan tak bisa berbuat apa-apa dengan pernyataan dari Sasuke karena pria bersurai hitam panjang itu terlihat diam tak berkata sepatah kata-pun menanggapi membuat hati Hinata sedikit sakit juga sedih karena secara tak langsung Itachi tak mau mengakui kalau ia adalah istrinya lain hal dengan Sasuke yang terang-terangan mengatakan sebagai tunangan Hinata walaupun itu semua adalah kebohongan semata. Entah ada niatan apa Sasuke pada Hinata dengan mengatakan hal itu.
Ibu Ino mengajak Hinata dan yang lainnya untuk makan malam mengingat saat ini sudah memasuki jam makan malam.
Hanya hidangan rumahan yang sederhana tapi masakan dari ibu Ino membuat Hinata senang sekaligus rindu pada masakan mendiang sang ibu.
Hinata makan dengan lahapnya tapi karena saking lahapnya tanpa sengaja ia tersedak makanan yang tengah dinikmatinya.
"Uhuk..uhuk..." Hinata terbatuk-batuk tersedak makanannya.
Sruk
Dengan lembut Itachi mengusap-usap punggung sang istri, "Pelan-pelan Hime, ini minumlah," ucapnya lembut seraya memberikan segelas air putih.
Blush
Seulas rona merah menghiasi kedua pipi gembil Hinata, "Te-terima kasih,"
"Makanlah dengan pelan-pelan dan jangan terburu-buru mengunyahnya agar makananmu bisa tercerna dengan baik di perut." Ujar Itachi penuh perhatian.
Hinata mengangguk pelan kemudian memakan kembali makanannya dengan pelan-pelan sesuai dengan perkataan Itachi.
Diam-diam Ino yang berada didepan Hinata dan Itachi melirik heran pada kedua pria yang berada didekatnya yang wajahnya terlihat cemburu dan tak suka tapi Ino baru pertama kalinya melihat wajah Hinata merona seperti itu. Dan instingnya sebagai sesama wanita mengatakan kalau Hinata memendam perasaan pada Itachi tapi sayangnya kini ia sudah bertunangan dengan Sasuke ditambah diam-diam Ino juga tahu kalau Sensei tampan disekolahnya itu juga memendam perasaan yang sama pada Hinata.
"Sungguh beruntung sekali Hinata. Dicintai oleh ketiga pria tampan, keren juga kaya seperti mereka." Batin Ino iri.
Tapi jika dipikir-pikir kembali tidak enak juga rasanya jadi Hinata karena dicintai sekaligus oleh ketiga pria seperti mereka karena nantinya Ino akan merasa bingung harus memilih yang mana. Mengingat ketiga pria dewasa didepannya ini super keren dan tampan.
"Terima kasih atas hidangannya bibi dan Ino-chan jangan bersedih lagi ingat kau harus semangat," ujar Hinata lembut.
"Ya," sahut Ino.
"Hati-hati dijalan dan terima kasih atas kedatanganya. Lain kali datang dan berkunjung kemari ya Hinata,"
"Ya, bibi dan sampaikan salamku untuk paman. Kami pamit pulang," Hinata membungkukkan tubuhnya begitu pula dengan Itachi, Sasori dan Sasuke.
Baru juga Hinata merasa lega karena bisa segera pulang kerumah dan beristirahat tapi lagi-lagi keadaan tegang terasa kembali saat Sasori ikut pulang menaiki mobil Itachi mengingat arah rumahnya satu arah dengan kediaman Uchiha ditambah ban motornya kempes.
Mau tidak mau Itachi memberikan tumpangan dan mengijinkan Sensei tampan itu untuk ikut walaupun awalnya Sasuke menolaknya tapi setelah Hinata yang meminta akhirnya Sasuke memperbolehkannya untuk pulang bersama tapi dengan catatan harus duduk disamping Jugo.
"Huaam..." Hinata menguap lebar rasa kantuk mulai menderanya.
"Apakah kau mengantuk Hime?" tanya Itachi lembut.
Hinata mengangguk pelan dan kemudian menguap kembali.
"Tidur bersandar saja padaku Hinata," Sasuke meraih kepala Hinata untuk bersandar di pundaknya.
Tapi Hinata menolaknya dengan halus karena Hinata tidak suka mencium aroma parfum yang dipakai Sasuke dan tanpa diduga-duga kalau Hinata menyandarkan kepalanya dipundak sang suami yang menurutnya terasa lebih nyaman terlebih aroma parfum yang dipakai Itachi sangat menenangkan juga memabukkan untuk Hinata dan tak hanya itu saja Hinata bergelayut manja di lengan kiri Itachi dan hal ini membuat sang suami kaget sekaligus senang.
Diam-diam Itachi tersenyum super tipis saat melihat sikap sang istri dan merasa menang dari sang adik.
Sasuke mendengus sebal melihatnya dan membuang muka melihat keluar jendela mobil tak mau melihat adegan romantis disampingnya itu lain hal dengan Sasori yang memandang penuh iri pada Itachi karena bisa berdekatan dengan Hinata.
"Terima kasih atas tumpangannya dan selamat malam." Ucap Sasori.
"Sama-sama. Jugo ayo jalan." Ujar Itachi datar.
Mobil mewah berwarna hitam itu-pun pergi melaju meninggalkan kawasan apartemen mewah itu.
Dan dua puluh menit kemudian mereka bertiga sampai di kediaman megah keluarga Uchiha, saat Itachi hendak menggendong tubuh Hinata, Sasuke menyelanya dengan menggendongnya duluan keluar dari dalam mobil ala bridalstyle.
"Aku yang akan membawanya ke kamar," ujar Sasuke dingin.
"Terserah padamu saja," sahut Itachi malas.
Itachi berjalan mengekor dibelakang Sasuke yang tengah menggendong Hinata ke dalam kamar lalu membaringkannya diatas kasur.
"Sasuke," panggil Itachi sesaat sebelum Sasuke hendak melangkah keluar kamar.
Pria tampan bersurai raven ini melirik sang kakak, "Ada apa?"
Itachi berdiri dihadapan Sasuke dan memadang sang adik dengan wajah serius, "Apa maksud dan tujuanmu dengan mengatakan Hinata adalah tunanganmu?" tanyanya penuh selidik.
Sasuke tersenyum tipis mendengar pertanyaan sang kakak, "Aku hanya berkata yang sejujurnya," jawabnya santai.
"Tapi Hinata adalah istriku dan saat ini ia tengah hamil anakku," jelas Itachi berharap sang adik mengerti.
"Lalu apa masalahnya? Bukankah kau akan menceraikannya," Sasuke tersenyum sinis menatap sang kakak.
"Tidak, aku tidak akan pernah menceraikannya sama sekali," tolak Itachi keras.
Sasuke tertawa kecil mendengarnya, "Kau egois sekali Aniki," Sasuke menatap penuh arti pada sang kakak, "Aku ingin bertanya padamu, apakah kau mencintainya? Apa perasaan cintamu itu sedalam dan sebesar seperti kau mencintai Konan?!" tanya Sasuke sinis.
"Ya, aku mencintainya dan a..."
"Cinta atau hanya sebatas rasa tanggung jawab semata, Aniki?" sela Sasuke sinis.
Itachi diam seribu bahasa dan bibirnya terkatup rapat dengan kedua tangan mengepal erat disamping tubuhnya.
TAP
Sasuke berjalan mendekat pada sang kakak lalu memegangi pundak kanan Itachi, "Aku tahu kalau kau sangat mencintai Konan melebihi siapapun di dunia ini dan tak ada satu-pun wanita yang bisa menggantikan sosok Konan dihatimu. Jangan hanya karena janin yang ada didalam rahim Hinata, kau bisa dengan mudah mengatakan kalau kau mencintainya," Sasuke memandang sinis pada sang kakak, "Jangan sama ratakan rasa tanggung jawab dengan perasaan cinta, karena itu sangat berbeda, Aniki,"
"Tidak! Perasaan ini bukan hanya rasa tanggung jawab semata. Aku mencintainya sebagai wanita dan menganggapnya seorang istri, tidak akan kuserahkan Hinata kepada siapapun termasuk kau Sasuke," ujar Itachi dengan nada sedikit tinggi.
Sasuke menyeringai mendengarnya, "Benarkah?! Apa kau yakin dengan perkataanmu itu?"
"Ya,"
"Baiklah kalau begitu aku ingin melihat sebesar dan sedalam apa rasa cintamu pada Hinata dan apakah kau mampu mempertahankannya di sisimu, karena aku akan merebutnya darimu." Kata Sasuke dingin.
"Sasuke ka..."
"Huaammm...Aku mengantuk dan hari juga sudah malam, aku akan kembali ke kamar. Selamat malam Aniki dan jaga Tuan putriku dengan baik." Sela Sasuke seraya pergi keluar kamar Itachi dengan perasaan senang karena sudah membuat sang kakak marah juga mengungkapkan perasaan hatinya yang sebenarnya.
Dengan begini rencana Sasuke dan sang kakek akan berjalan lancar juga sukses karena diam-diam Sasuke memiliki niatan tersendiri dengan menerima permintaan sang kakek menerima tawarannya untuk menikahi Hinata setelah bercerai dengan sang kakak.
Bruk!
Sasuke menghempaskan tubuhnya ke atas kasur lalu dipandanginya langit-langit kamarnya yang di dominasi warna biru, "Akan kubuat kau merasakan apa yang pernah kurasakan, Baka Aniki." Gumam Sasuke.
.
.
.
Seorang pria dewasa bersurai kuning panjang dengan mengenakan stelan kemeja rapih berwarna biru dongker telihat duduk jenuh dan bosan di salah satu sudut kursi didalam sebuah cafe dekat stasiun. Diliriknya terus jam tangan mewah ditangannya melihat waktu karena sudah hampir satu jam ia duduk ditempat ini tapi orang yang ditunggunya belum juga tiba padahal sudah dua gelas cangkir capucino yang dipesannya dan sepotong kue keju sudah tandas habis dimakannya demi menikmati waktu menunggu.
TAP
TAP
TAP
"Haah~~Ma-maafkan...a-aku Tuan karena terlambat," ujar seorang gadis bersurai kuning panjang dengan diikat satu keatas dengan nafas sedikit terngeah-engah karena berlari. Dari pakaian yang dikenakan gadis cnatik ini terlihat jelas kalau ia masih duduk dibangku SMA.
Pria bersurai kuning ini hanya melirik malas gadis cantik itu lalu mempersilahkannya untuk duduk didepannya.
"Kau mau minum apa?" tawarnya.
"Orange jus,"
Pria tampan ini langsung memanggil pelayan cafe dan memesan minuman yang di inginkan oleh gadis cantik didepannya. Gadis cantik bermata hijau ini duduk diam seraya sedikit menundukkan wajahnya, malu menatap pria tampan juga berwajah cantik menurutnya.
"Kata Hinata ada hal yang ingin kau sampaikan padaku?" tanyanya membuka pembicaraan.
"I-tu.." ujarnya gugup.
Diremasnya kuat kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih karena malu serta gugup.
"Hei, jangan tundukkan wajahmu jika sedang berbicara dengan orang itu karena itu tidak sopan, kay tahu," omelnya.
"I-iya, ma-maafkan aku Tuan,"
"Jangan panggil aku Tuan. Aku punya nama, panggil saja aku Deidara dan siapa namamu Nona muda?" tanya Deidara datar.
"Ino Yamanaka." Jawab Ino cepat.
"Nama yang indah, dan ada apa kau ingin menemuiku?"
Ino membuka tas sekolahnya lalu memberikan ponsel milik Deidara, "Ini sepertinya tertukar dengan punyaku dan aku juga ingin meminta maaf atas perlakuan serta sikap ayahku pada anda saat mengantarkanku pulang," Ino sedikit membungukkan tubuhnya.
"Jangan dipikirkan, aku mengerti kalau ayahmu bersikap seperti itu karena terlalu menyangimu dan aku juga ingin memberikan ini padamu," Deidara memberikan sebuah tas kecil yang berisikan sebuah ponsel canggih keluaran terbaru pada Ino.
"Apa ini Deidara-sama?"
"Dua hari yang lalu aku tanpa sengaja sudah merusak ponselmu dan itu adalah ganti ponselmu yang rusak,"
"Ini terlalu bagus dan pasti harganya sangat mahal, kenapa anda tidak menggantinya seharga ponsel yang anda rusak?" tanya Ino.
Deidara tertsenyum kecil mendengarnya, dari pengalamannya biasanya para gadis akan senang jika diberikan benda-benda mewah dan bermerek contohnya seperi mantan tuangannya, Erika. Tapi lain hal dengan gadis manis bermata hijau satu ini yang malah memarahinya karena menggantikan ponselnya dengan ponsel yang lebih mahal.
"Kau sangat lucu sekali, Nona," kekeh Deidara.
"Apa yang lucu dariku?" tanya Ino bingung.
Deidara hanya tersenyum lebar menatap Ino, "Kau sangat polos dan sangat mudah untuk dibohongi oleh orang lain termasuk kekasihmu," ujar Deidara yang tanpa sadar membuat hati Ino sedih kembali karena harus mengingat lagi perbuatan buruk Gaara padanya.
"Begitukah?!" ujarnya sendu.
"Hey, jangan murung seperti itu nanti wajah cantikmu akan berubah menjadi jelek," goda Deidara yang sukses membuat kedua pipi Ino merona merah.
"Sepertinya urusan kita sudah selesai, aku harus kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dan sebaikanya kau cepat pulang agar kedua orang tuamu tidak khawatir lagi," Deidara beranjak bangun dari duduknya.
Ino-pun ikut berdiri, "Sekali lagi terima kasih dan maaf sudah membuat anda repot waktu itu." Ujar Ino seraya membungkukkan tubuhnya.
Sruk
Deidara mengusap lembut puncak kepala Ino, "Sudah kubilang jangan dipikirkan, lain kali jika kau ada masalah jangan berbuat hal nekat dan bodoh lagi. Karena kau tidak sendiri ada keluarga dan teman-temanmu yang akan membantu dan menemanimu." Deidara tersenyum lembut menatap Ino dan tanpa sadar Ino-pun ikut tersenyum menatap Deidara.
Saat hendak keluar dari dalam cafe lalu tanpa sengaja juga diduga sama sekali kalau ia akan berpapasan dan bertemu dengan Gaara bersama dengan sang kekasih barunya, Matsuri.
Tubuh Ino menegang dan langsung kaku bak patung melihat pemuda pujaan hatinya berada didepannya tengah menggandeng mesra seorang gadis.
Ino berusaha bersikap tegar dan biasa saja tapi tidak dengan Matsuri kekasih baru dari Gaara.
"Ino!?" seru Gaara kaget.
Pemuda tampan bersurai merah ini melirik tajam kearah Deidara yang masang wajah tak suka, "Apakah ini pacar barumu?" tanya Gaara sinis seraya memperhatikan penampilan Deidara dari atas sampai bawah..
Bibir Ino terkatup rapat dan tubuhnya menegang saat ditanya oleh Gaara.
"Jangan lari Ino, hadapi pemuda itu dan tunjukkan padanya kalau kau bukan gadis lemah." Bisik Deidara lembut.
Ino meremas erat tangannya lalu dihembuskan cepat nafasnya.
GREP
Ino menarik wajah Deidara agar lebih mendekat padanya.
CUP
Bibir Ino mencium lembut bibir tipis milik Deidara selama beberapa detik dan membuat Gaara terpana kaget juga syok melihatnya.
Ino menatap tajam pada sepasang kekasih didepannya saat ini, "Dia adalah kekasih baruku, pria yang jauh lebih baik darimu dan setia tidak sepertimu." Kata Ino dengan nada sedikit tinggi kemudian menarik pergi Deidara dari dalam cafe.
DRAAP
DRAAP
Setelah berlari cukup jauh, Ino berhenti dengan masih menggandeng tangan Deidara.
"Hey.." ucapan Deidara terhenti saat melihat pundak Ino gemetaran karena menangis.
"Apa kau menangis?" tanya Deidara lembut seraya memutar tubuh Ino agar menghadap kearahnya.
"Ma-maafkan aku...hiks...Deidara-sama...hikss..." ucap Ino dengan terisak.
"Sudah jangan menangis apalagi mengeluarkan air matamu untuk pria brengsek seperti dia," Deidara menghapus lelehan air mata dipipi Ino.
"Te-terima kasih.." Ino berusaha tersenyum lebar menatap Deidara.
Memang benar apa yang dikatan oleh Deidara untuk apa dia harus menangis untuk pria tak berguna seperti Gaara. Karena hanya akan membuang-buang waktu serta tenaga.
"Sekali lagi maafkan aku karena sudah berani men-men-ci-cium anda..." ucapnya dengan wajah tertunduk malu.
Sruk
Deidara mengusap lembut rambut Ino, "Sudah jangan dipikirkan. Yah, walaupun awalnya aku sempat kaget dicium olehmu," aku Deidara jujur.
Setelah keadaan Ino tenang dan tidak menangis lagi, Deidara berniat untuk mengantarkannya pulang kerumah. Tapi dengan halus Ino menolaknya karena takut jika sang ayah akan salah sangka lagi dengan Deidara. Dirinya sangat berterima kasih pada Deidara karena sudah menolongnya juga membalaskan perbuatan Gaara dan kekasihnya.
"Terima kasih banyak atas semuanya Deidara-sama dan maafkan atas perbuatan lancangku tadi. Anda juga jangan khawatir karena saya bisa pulang sendiri dengan selamat." Ujar Ino meyakinkan Deidara.
"Baiklah kalau itu mau mu, berhati-hatilah saat pulang."
"Ya, kalau begitu sampai jumpa lagi Deidara-sama." Ino-pun berjalan menuju halte bus.
Sedangkan Deidara masuk kedalam mobilnya dan melajukannya ke arah kantor. Sepertinya nanti Itachi akan memerahinya karena pergi terlalu lama dari kantor dan meninggalkan pria bersurai hitam itu sendirian di dalam kantor dengan tumpukkan dokumen.
Pertemuan Deidara sore ini dengan Ino meninggalkan kesan tersendiri dihatinya, ternyata Ino adalah gadis yang kuat walaupun sebenarnya hatinya lemah juga lembut.
"Ino Yamanaka, gadis yang sangat menarik dan penuh kejutan." Gumam Deidara seraya tersenyum kecil.
TBC
A/N : Fic ini lebih dari 5000 kata dan sebagian isi Fic ini seharusnya ada di chapter depan tapi biar Fic PLAM (Please Look At Me) ini cepat selesai jadinya setiap chapternya tulisannya akan lebih panjang jadinya pas bagian TBC jadi agak nanggung^^
Untuk semua Fic milik Inoue yang lainnya akan di update bulan depan dan semuanya sedang dalam proses pengetikan tapi jika ada waktu luang yang banyak serta mood bagus Inoue pasti mengupdate.
Saya akan membalas Riview yang masuk dan mohon maaf jika ada kesalahan pengetikan nama karena saya ngetik Fic ini ngebut dan tidak sempat saya teliti dan edit karena keterbatasan waktu.
bebek kuning : Sedikit demi sedikit Itachi bakalan agresif^^ Hinata mau pilih siapa tergantung dari mereka bertiga bagaimana menunjukkan perasaan cintanya.
Guest : Saya juga senang anda mau membaca Fic ini^^
Hee-chan : Shion kan istrinya Sasori dan Inoue buat sudah wafat di Fic ini, ada Pair Sasusaku atau ga tergantung kebutuhan cerita tapi saya sudah pikirkan dengan siapa Sasuke akan berpasangan.
geminisayanksayank : Kalau Sasuke itu? Masih rahasia tapi seiringnya berjalannya Fic akan terungkap kok apa motif dan tujuan dari Sasuke jadi terus baca Fic ini ya#Maksa^^
Revirshaz Hyuuga : Terima kasih sudah bilang Fic ini keren. Sasuke bakalan terus menggencarkan seranganya pada Hinata tapi endingnya? Rahasia^^
Virgo24 : Maafkan kecerobohan saya -
sushimakipark : Sasuke serius bahkan menggebu-gebu untuk menikahi Hinata dan Tunangan Deidara di chapter ini dijelaskan kok dan Deidara suka atau tidak sama Ino akan terungkap dengan seiringnya berjalannya Fic
kensuchan : Kalau soal typo maafkan saya karena tidak terlalu teliti dalam menulis^-^ terima kasih atas semangatnya.
idhafauzia1: Semoga suka dengan kenlanjutannya.
Mell Hinaga Kuran : Terima kasih dan semoga suka dengan kelanjutannya^^
yuu zari-himeChan : Nasib Sasuke di Fic ini tidak seperti itu kok, sitampan Uchiha ini tidak dimanfaatkan sama Madara malah sebaliknya dia yang memanfaatkan keadaan.
nadya ulfa : Yap, anda benar sekali^^
honeyz1999 : Terima kasih dan semoga suka dengan kelanjutannya.
Dwi341 : Sudah saya lanjutkan semoga suka dengan kelanjutannya.
nana : Lebih tepatnya memberikan sedikit pelajaran pada Itachi agar mau mengakui perasaannya pada Hinata. Kalau Sasuke dekati Hinata itu ada niatan tersendiri.
Adel : Maafkan saya baru bisa update sekarang.
hyuga ashikawa : Rahasia, biar jadi kejutan di Fic ini.
HinaTama : Rahasia, lihat dan baca saja kelanjutan Fic ini karena Sasuke punya niatan tersendiri mendekati Hinata.
Hanayuki no Hime : Salam kenal juga, Sasuke bakalan suka atau tidaknya Inoue tidak bisa menjawabnya karena itu tergantung dengan jalan cerita. Maaf baru bisa update karena saya juga sedang sibuk-sibuknya di dunia nyata dan jika punya waktu luang saja bisa mengetik Fic dan semoga suka dengan kelanjutannya.
Ade854 : Maafkan saya karena baru bisa update.
Kuro-san : Terima kasih sudah menyukai Fic ini, mungkin Fic ini bisa lebih dari 20 chapter atau kurang tergantung jalan cerita Fic ini saja^^ jadi terus baca dan nantikan Fic ini ya.
flo : Terima kasih^^
afifahfebri235 : Terima kasih atas semangatnya.
me : Ini sudah Inoue lanjutkan dan terima kasih sudah bilang Fic ini bagus.
Hime Cassi Dy : Terima kasih atas semangatnya dan ini saya sudah update juga lanjutkan.
Hime Chan : Ini sudah saya lanjutkan, terima kasih banyak karena bilang Fic ini bagus. Sasuke mendekati Hinata memang di minta oleh Madara juga atas keinginannya sendiri. Mohon maaf saya baru bisa melanjutkan Fic ini karena bagaiaman-pun saya juga memiliki kesibukan di dunia nyata, hanya jika ada waktu luang saja Inoue mengetik Fic dan mohon sabar menantikan kelanjutan Fic ini bagaimana-pun saya akan bertanggung jawab dengan mengupdate Fic ini sampai tamat walaupun butuh waktu yang lama^^
Saya ucapkan terima kasih banyak atas semangat dan dukungannya untuk Fic ini. Untuk kelanjutan Fic ini saya tidak bisa update cepat mungkin jika tidak ada halangan, waktu serta otak sedang encer, mood bagus saya akan mengupdate kelanjutannya bulan depan.
Jika berkenan Read and Riviewnya.
Inoue Kazeka
