ANOTHER ONE

REMAKE NOVEL CHANBAEK VERSION

Separuh Bintang By Evline Kartika

BYUNNERATE

Main cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol

Genre: Romance

Rated: T

Warning: Genderswitch! Typos!

Enjoy and Review Juseyooooo

.

.

.

.

"Masih nggak ada kabar, Baek?" tanya Xiumin dari balik buku sejarahnya.

Baekhyun melemparkan HP-nya ke kasur. "Nggak ada. Sama sekali nggak ada." Baekhyun melemparkan bukunya lalu tidur telentang di samping Xiumin.

"Ditelepon nggak dijawab. Ditelepon ke rumah juga selalu ngggak ada. Di-SMS nggak pernah dibales. Ilang aja lah sekalian," gerutu Baekhyun kesal. Baru kali ini dia melihat Jongin sekesal itu.

Iya sih, emang kemarin dia juga yang salah. Kalo dia nggak ngikutin ajakan Chanyeol yang konyol itu dan nggak bolos, Jongin juga nggak bakal semarah itu. Tapi kalo mau marah kan nggak perlu sampe segitunya.

Xiumin menutup buku sejarahnya. Keningnya berkerut tanda dia sedang berpikir. "Mungkin nggak ya... Kalo Jongin bunuh diri?"

"Heh!" Baekhyun melemparkan bantal tepat ke muka Xiumin, membuat cewek itu jatuh terlentang. "Kalo ngomong jangan aneh-aneh!"

"Lho?" Xiumin balik melemparkan bantal ke muka Baekhyun sambil membetulkan rambutnya yang kusut. "Siapa yang ngomong aneh-aneh? Itu kan cuma dugaan gue. Lagian elo juga siih."

"Lho?" Baekhyun melempar bantal lagi ke muka Xiumin. "Kenapa jadi gue yang salah?"

Xiumin mendesis, lalu melempar bantalnya ke lantai. "Semuanya tuh nggak bakal ruwet kayak gini kalo elo nggak plin-plan! Masalah sepele kok dijadiin susah."

"Ap..."

"Apa?" Xiumin memotong. "Mau bilang 'apa'? Hih... Gue nggak ngerti deh. Elo itu sebenernya pinter apa goblok sih? Apa sih, Baek, susahnya buat jujur sama diri lo sendiri? Apa sih susahnya ngakuin siapa yang yang bener-bener ada di hati lo saat ini? Jongin tuh udah cukup sabar buat nungguin lo! Lo mau dia nunggu berapa lama lagi? Asal lo tahu... Nunggu tuh bukan pekerjaan yang gampang. Menunggu itu melelahkan lho."

Baekhyun mendesah. "Lo nggak bisa nge-judge gue segampang itu. Semua tuh nggak segampang yang lo pikir. Nggak segampang yang semua orang pikir."

"Apa lagi? Gue tahu lo masih nggak biasa terima soal Sehun, tapi..."

"Xiumin!" ujar Baekhyun setengah teriak. "Gue udah bisa terima soal Sehun. Gue udah ngerelain semuanya. Tapi justru karena itu gue takut. Lo liat, semua orang yang gue sayangin itu pergi ninggalin gue. Mulai dari bokap gue, nyokap gue, Sehun, dan sekarang Jongin. Gue nggak mau semua itu berjanjut, Min. Gue takut ka..."

"Mau sampai kapan lo mikir konyok kayak gitu? Persoalah bokap lo, nyokap lo, dan Sehun, semua itu karena takdir, Baek. Bukan karena mereka sayang sama lol tapi justu karena sikap nggak jelas lo itu maka Jongin pergi! Liat gue! Apa karena gue sayang sama Jongdae terus dia bakal ninggalin gue? Nggak, kan? Menghadaplah ke depan, Baekhyun... Belajarlah untuk lebih berani! Dan elo bakal tahu... Segala sesuatunya pasti bisa menjadi jauh lebih baik."

.

.

.

.

Siluet waktu terpekur... Duduk bersila memandang angin...

MAU tahu dua kata yang membuat semua masalah menjadi setenang Malam Kudus? Yaakkk, betul! Ulangan Umum! Ya... Kecuali untuk murid-murid yang tidak bisa melaksanakan profesionalnya sebagai pelajar dan berniat menghabiskan jatah uang lebih demi kembali mendekam di bangku kelas yang sama. Ibaratnya, semua masalah cinta segi empat yang memusingkan itu sedang diawetkan. Menunggu lagi saat yang tepat untuk kembali dicairkan.

Dan saat ini benar-benar seperti neraka buat Chanyeol. Udah ulangan umum, diajarin dengan omongan Kris yang masih suka berlepotan, dan yang paling parah... Rasanya benar-benar aneh tanpa Baekhyun. Memang sih saat ini ada Kyungsoo yang selalu ada di sampingnya. Tapi tetap saja rasanya tidak sama. Kyungie terlalu lembut. Nggak pernah ngomel, nggak pernah protes, nggak pernah minta macem-macem. Chanyeol sendiri juga bingung... Kenapa dia malah lebih suka kalo ada cewek yang suka protes, suka ngomel, sama suka minta macem-macem ya?

Sebenarnya sih Chanyeol nggak perlu sampe sebegitu kehilangannya. Toh mereka masih bisa ketemu di sekolah. Hanya saja... Alasan pertama: tempat duduk. Chanyeol membelalakkan matanya ketika melihat denah kelas yang disusun untuk ujian. Pengen nyontek, tapi dia benar-benar sudah terbiasa setiap kali membalikkan badannya, akan ada sosok Baekhyun di sana. Tapi sekarang, setiap kali membalikkan badannya, dia malah menemukan sosok Danny yang ukuran tubuhnya segede kingkong.

Alasan kedua: Xiumin. Chanyeol baru saja mau menghampiri Baekhyun saat mendapati cewek itu baru datang bersama Xiumin. Tapi...

"Baekhyun... Kita duduk di sana aja yuk. Di sini panas." Xiumin sudah lebih dulu memboyong Baekhyun jauh-jauh.

Alasan ketiga: Jongdae dan Kris. Baekhyun masuk ke kelas. Dan Chanyeol hampir saja berteriak gembira karena mendapatkan cewek itu tanpa Xiumin.

Tapi...

"Chanyeol, ngapain lo di sini? Ayo ke kantin. Ngisi perut dulu sebelum berjuang buat ujian."

Jongdae dan Kris sedah lebih sulu menyeretnya secara paksa. Hiks...

Alasan keempat: Jesse. "Jesse, sebenarnya cowok lo ngapain sih?" tanpa Chanyeol ketika tanpa sengaja melihat Jessica sedang duduk di lapangan tenis seusai ujian.

Tapi...

"Hei! Kris..." Jesse malah berlari menghampiri Kris, bahkan tanpa melambaikan tangan ke arah Chanyeol.

Alasan kelima: no SMS , no calling-calling.

Dan kalau Chanyeol mencoba menghubungi Baekhyun lewat SMS, balasannya pasti:

Chanyeol, ini Xiumin. Baekhyun lagi bljr. Jngn ganggu yah! Ntar Jongdae+Kris dtg kok ke sana.

Kalau telepon: "Hei, Chanyeol. Apa apa? Ini Xiumin. Baekhyun lagi mandi tuh. Besok aja ya ketemu di sekolah."

Tut... tut... tut... Telepon ditutup.

Alasan terakhir:

Ya Tuhaaaannnnn!

Baekhyun sendiri masih mendekam di rumah Xiumin. Sebenarnya, dia ingin sekali pulang. Tapi Xiumin selalu mendapatkan alasan yang membuat Baekhyun terpaksa mengangguk kalau Xiumin melarangnya kembali ke rumah Chanyeol.

Xiumin terkadang suka tersenyum puas setiap Baekhyun ngomel-ngomel kalau Xiumin membalas SMS atau mengangkat telepon dari Chanyeol tanpa izin. Walau samar, Xiumin bisa melihat dengan jelas adannya sisi gelisah di sana.

Sementara Kyungsoo sibuk dengan pementasannya akhir bulan ini.

Sebenarnya begini... Ada satu sekolah musik yang tertarik dan bersedia menjadi sponsor tunggal konser pianonya. Hanya saja, parahnya, Kyungsoo harus memainkan lima belas lagu klasik yang harus dihafalkan. Satu lagu kira-kira berdurasi tiga menit, yang kalau diinterpretasikan dalam bentuk partitur, akan berdurasi sebanyak tujuh lembar. Dengan kata lain itu berarti dia akan memainkan setiap lagu sebanyak empat belas halaman! Diulang ya, EMPAT BELAS HALAMAN!

Jadi, intinya, Kyungie harus memainkan lagu yang berdurasi empat belas halaman dikali lima belas lagu! Kalau ditotal, keseluruhan lagu yang harus dia bawakan berdurasi DUA RATUS SEPULUH halaman! Perlu diulang? DUA RATUS SEPULUH HALAMAN!

Tunggu dulu! Bukan cuma itu. Kalau siangnya Kyungsoo sibuk latihan, malamnya dia selalu menyempatkan diri "menemani" Chanyeol. Menemani belajar lah, menemani ngobrol lah, menemani makan lah, menemani nonton lah, menemani apa aja. Mungkin kalau Baekhyun melihat semua itu, dia pasti tidak akan segan untuk berkata, "Kenapa nggak nemenin tidur sekalian?"

Tapi di balik semua itu, justru yang paling parah capeknya dalam minggu ini adalah Jongdae dan Kris. Bayangin aja! Masih dengan muka kuyu habis berjuang buat ulangan umum, mereka langsung cabut ke rumah Xiumin.

BRUKK!

Baekhyun menumpukkan setumpuk buku ke hadapan Jongdae dan Kris. "Sekarang, buka halaman 22. Besok kemungkinan bab ini bakal keluar. Sekarang lo berdua dengerin gue... pokoknya, apa pun yang gue bilang, elo mesti nyampein sama persis ke Chanyeol berikut titik komanya!" ujar Baekhyun sambil membetulkan kacamatanya.

Jongdae mengernyit ke arah Xiumin sambil menggerak-gerakkan bibir tidak jelas. Sedangkan Xiumin membalas tingkah Jongdae itu hanya dengan cengiran.

Ampun deh!

Dan waktu di rumah Chanyeol, Jongdae dan Kris masih harus berjuang keras membuat Chanyeol mengerti apa yang mereka ucapkan dengan otak yang berkadar pas-pasan. Untung aja Kyungsoo suka menemani mereka belajar.

"Walaupun capek, lumayan ada pemandangan cewek bagus," ujar Jongdae pada Xiumin yang melahirkan sebuah tamparan.

Plak!

.

.

.

.

Baekhyun melepas kacamatanya, mencoba menghilangkan penat yang menggantung di kepala. Ujuan full dua minggu ini benar-benar menguras tenaganya sampai titik akhir. Jangan ditanya deh capeknya kayak apa. Mending kalo cuma capek badan. Lah ini mah... udah capek badan, capek otak... capek hati pula...

Maih tersisa satu hari lagi menjelang selesainya ulangan umum. Dan selama di rumah Xiumin, Baekhyun semakin menyadari benar-benar ada yang luruh jauh di dalam hatinya. Luruh untuk meninggalkan semua sisi ego dan angkuhnya. Luruh untuk berpaling dari sisi hatinya yang selama ini tertidur di antara kenangan.

"Gila..." Jongdae merentangkan tangannya lebar-lebar. "Akhirnyaa... Yes! Besok ulangan terakhir! Tengkyu banget loh, Baek, buat bimbingannya selama ini," ujar Jongdae sambil membereskan bukubukunya.

Kris menyisir rambutnya dengan tangan. Dia masih tidak mengerti apa yang Baekhyun ajarkan tadi. Tapi kalo diliat dari tampangnya, sepertinya Kris udah nggak sanggup membahas lebih lanjut. Iyalah... Kertas lecek aja lebih bagus daripada tampangnya sekarang.

Jongdae terkekeh menepuk bahu Kris. "Kenapa lo? Mabok ya? Ya udah, tenang aja. Gue deh yang ngajarin Chanyeol."

"Jongdae!" mendengar itu Kris berteriak semangat. "Elo memang teman yang pengertian! Gue ke rumah Jesse aja ya? Ntar maleman deh gue nyusul ke rumah Chanyeol."

Jongdae mendelik. "Gue tampar mau lo?"

Baekhyun tersenyum melihat tiga orang itu beranjak ke luar kamar Xiumin. "Balik ya, Baek," kata Jongdae dan Kris sambil melambaikan tangan.

Xiumin melompat dari duduknya. "Gue nganter dia dulu ya... lo tiduran aja. Ntar gue minta pembokat gue buat ngambilin es krim cokelat. Okayyy!"

Tepat saat pintu ditutup, bunyi HP membuat Baekhyun beranjak...

Dan senyum tipis menghiasi wajahnya saat melihat nama yang tertera di sana.

"Hei...," ujar Baekhyun.

"Akhirnyaa... bisa denger suara lo juga. Ada siapa di sana?" Chanyeol bernapas lega dari seberang.

"Nggak ada." Baekhyun tertawa kecil.

"Baru aja Kris sama Jongdae mau jalan ke rumah lo. Xiumin lagi nganter mereka ke bawah."

"Baekhyun...," kata Chanyeol lirih. "Lo ngapain sih betah banget di sana? Ayo, pulang!"

Baekhyun tertawa. "Kenapa? Kangen sama gue?"

"Iya!" teriak Chanyeol, membuat Baekhyun harus menjauhkan HP dari telinganya.

"Gue kangen sama lo! Cepet pulang!"

"Tadi..." Baekhyun tercenung. "Lo bilang kangen sama gue ya?"

Kali ini hanya terdengar dengusan pelan. Baekhyun membayangkan dengusan itu sebagai arti bahwa Chanyeol tersipu-sipu. Chanyeol? Tersipu-sipu? Iih, amit-amit...

Baekhyun tertawa kecil. "Udahlah... Tadi bilang kangen, kan? Dasar playboy... belajarlah berbicara dari lubuk hati, bukan cuma ngomong yang manis-manis doang."

"Heh!" bentak Chanyeol. "Gue beneran kangen sama lo!"

Tawa Baekhyun lenyap. "Eh! Mana ada orang kangen ngomongnya kasar begitu?"

Chanyeol mendesis. "Ya udah deh. Gue nggak jadi kangen! Gue tutup ya..."

"Eh!" ujar Baekhyun buru-buru sebelum Chanyeol menutup telepon. "Mana bisa kangen dibungkus lagi?" Baekhyun terkekeh.

"Iya deh, gue juga kangen kok sama lo."

.

.

.

.

Kyungsoo tercenung di balkon kamar Chanyeol. Sementara backsound cuap-cuapnya Jongdae masih merajalela. Kalo Kris jangan ditanya. Dari dua jam yang lalu, dia udah teler, ngegabruk di kasur Chanyeol dan langsung tidur.

Desau angin mengalir pelan. Membuat Kyungsoo sedikit terusik sejenak dari semua lamunannya. Lamunan yang membuat harapannya jauh menerawang. Seakan ingin menembus batas cakrawala dan menyeret semua waktu.

"Yap... Ngerti kan, Yeol?" tanya Jongdae sambil membereskan kertas-kertas coretan. Tidak ada jawaban.

"Yeol..." panggil Jongdae lagi. Masih tidak ada jawaban.

Jongdae akhirnya mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas yang berserakan. Dilihatnya Chanyeol sedang bengong. Sambil mesem-mesem tepatnya.

"Heh! Bocah!" teriak Jongdae. "Ngapain lo senyum-senyum?!"

Chanyeol yang tersandar ada orang yang mencoba merusak lamunannya, memberengut kesal ke arah Jongdae. Kata-kata Baekhyun yang terakhir masih terngiang dengan sangat jelas.

"Elo kenapa sih?!" desak Jongdae ketika Chanyeol kembali tidak mendapatkan jawaban. Tapi Chanyeol hanya tertawa kecil.

Jongdae mengerutkan dahi. "Daripada lo cengengesan nggak jelas kayak gitu, mendingan lo urusin tuh!" Jongdae menunjuk ke arah Kyungsoo.

"Bisa sakit tunagan lo kalo dia terus-terusan di luar kayak gitu. Lo mau nggak jadi tunangan?" ujar Jongdae ngakak.

"Cerewet!" Chanyeol mengumpat pelan. "Tidur aja sana!"

Jongdae mendesis. "Nggak usah disuruh juga gue emang udah mau tidur. Nggak liat sekarang udah jam berapa?" dia menunjuk jam dinding yang menunjukkan pukul satu pagi, lalu beranjak ke balik selimut sambil masih terkekeh.

Dia menatap Chanyeol sambil mengedipkan mata dengan ancungan jempol yang diputarnya ke bawah. Kalau Jongdae tidak cepat-cepat mengganti gerakan tangannya menjadi telunjuk yang menjelaskan tempat keberadaan Kyungsoo, Chanyeol pasti masih terpikir untuk menonjoknya.

.

.

.

.

"Lagi ngapain?" Chanyeol duduk di samping Kyungsoo lalu menunjuk langit. "Liat Bintang?"

"Bintang?" mengernyitkan keningnya. "Apa bagusnya bintang? Bintang kan nggak sering keliatan.

"Aku lagi liat bulan." Kyungsoo mendorong tangan Chanyeol yang masih mengarah ke langit agar bergeser sedikit ke kanan.

"Liat! Bagus, kan? Kalo bulan kan lebih keliatan. Lebih besar, lebih terang, lebih bagus." Chanyeol terdiam, dia memandang Kyungsoo.

Antara bulan dan bintang... Bulan... dengan sinarnya yang lebih terang. Dengan kepastian yang akan selalu terlihat tanpa melalui alat bantu. Dengan keberadaannya yang jauh lebih dekat. Dengan sisi misterius yang selalu membuatnya terlihat sangat indah.

Sementara bintang... Dengan penampilan tidak lebih dari sekadar titik sederhana. Dengan sinar yang timbul-tenggelam. Dengan keberadaan yang terkadang serasa tidak terjangkau. Dengan sisi yang polos tanpa pantulan cahaya.

Tapi pernahkah sedikit terpikir... Hanya karena bulan lebih tepat berada di hadapan, adakalanya kita tidak menyadari masih ada bintang di luar sana...yang mungkin jauh lebih bersinar tanpa harus memantulkan cahaya. Hanya saja...bintang itu berada pada tempat yang berbeda, dan pada waktu yang berbeda.

"Kyung...," panggil Chanyeol.

"Hmmm?" "Lo kok dulu nggak pernah ngubungin gue lagi?" Chanyeol melipat kedua tangannya di depan dada saat angin malam meluncur menerpa tubuhnya. "Kita udah lama banget nggak kontak-kontakan. Gue pikir lo udah lupa sama gue. Dan gue pikir lo nggak bakal pulang lagi."

Kyungsoo tersenyum. "Kamu sendiri?" Kyungsoo memandang Chanyeol. "Kamu juga kenapa dulu nggak pernah hubungin aku lagi? Justru malah aku yang mikir kalo kamu udah lupa sama aku. Aku pikir kamu udah nggak mengharapkan aku pulang lagi."

"Gue nggak ngelupain lo!" sergah Chanyeol. "Gue tiap hari ngarepin lo pulang. Sampe bosan rasanya."

"Sampe bosan dan akhirnya ngejar cewek-cewek cantik?" Chanyeol memamerkan wajah jeleknya mendengar perkataan Kyungsoo tadi.

Kyungsoo tertawa. Dia tahu, mendengar perkataan Chanyeol tadi, ada sisi di hatinya yang sedikit merasa lebih lega dibandingkan hari kemarin.

"Aku juga nggak pernah ngelupain kamu."

Kyungsoo menyibakkan rambutnya lalu menatap Chanyeol. "Aku tiap hari mikirin kamu. Kamu lagi ngapain, kamu makan apa, kamu latihan lagu apa hari ini. Sedetik pun aku nggak pernah berhenti mikirin kamu. Aku juga selalu ngebujuk Mama dan Papa buat balik lagi ke sini." Kyungsoo mengembuskan napas panjang, lalu bangkit dan beranjak ke pagar teras, menyandarkan badannya di sana menatap kolam renag.

"Tadinya Mama nggak mau bilang soal pertunangan kita. Mama maunya bilang kalo kita udah siap. Tapi karena sikap manjaku, aku yang ngerengek terus pengen balik, akhirnya Mama nyerah. Mana akhirnya pulang bilang kalo kita udah ditunangin. Jadi kapan pun aku balik, aku pasti bisa ketemu kamu."

Chanyeol tercenung. Jadi selama ini hanya dia yang bingung sendiri. Apa hanya dia yang merasa tidak akan pernah bertemu lagi dengan cinta pertamannya? Kenapa semua jadi terlihat tidak adil? Kyungsoo bisa dengan sabarnya menunggu karena telah tahu tentang pertunangan ini.

Tapi Chanyeol? Chanyeol sama sekali tidak tahu apa apin. Dia hanya tahu Kyungsoo telah menghilang dari hadapannya dan menyisakan lembar demi lembar kenangan yang Chanyeol sendiri tak mengerti kapan bisa menjilid lembaran itu menjadi sebuah bukuu dengan cerita yang telah usai. Lalu, siapa yang salah sebenarnya?

Chanyeol menatap Kyungsoo. "Maksudnya saat yang tepat itu...," tanya Chanyeol. "Saat ini?"

Kyungsoo mengangkat bahi. "Mungkin iya, dan mungkin nggak..."

Chanyeol mengerutkan kedua alisnya, lalu menggeser duduknya ke samping Kyungsoo. "Maksudnya?"

Kyungsoo melipat bandannya, ikut berjongkok di samping Chanyeol. "Kamu tahu apa salah satu alasan aku nggak nyari kamu?"

Chanyeol menggeleng.

"Karena perkataan kamu yang terakhir... Saat di bandara, tepat sebelum aku pergi, kamu pernah bilang kalo kamu bakal nungguin aku. Dan aku percaya itu... Dan saat itu aku juga bilang aku akan balik lagi. And here I am..." Kyungsoo menusukkan telunjuknya di bahu Chanyeol.

"Kamu justru yang membuat saat yang tepat itu menjadi 'mungkin- saat yang tepat."

Kyungsoo memberikan penekanan pada kata mungkin. "Kamu tahu kenapa?" Kyungsoo memandang Chanyeol. "Karena kamu telah merusak kepercayaanku dan kepercayaanmu..."

.

.

.

.

Dan ketika embusan cahaya tergapai... Mulai terhampar selembar kenyataan...

"NIH..." Baekhyun menempelkan sekaling Pocari dingin di pipi Chanyeol, membuat cowok itu sedikit terperanjat.

"Makasih...," ujar Chanyeol ngengir sambil mengelap keringat di dahinya dengan handuk biru kecil. Suara pantulan bola basket dan teriakan semangat murid-murid dari pinggir lapangan samarsamar melingkupi mereka saat ini.

"Meski udah bukan jadi pacar bohongan lo, gue masih mesti beliin minuman ya?" gerutu Baekhyun sambil duduk di samping Chanyeol di ujung kantin yang mengarah ke lapangan basket, mengamati Xiumin yang sedang memasukkan bila ke dalam ring. Sekarang giliran murid-murid cewek class meeting.

Salah satu kebiasaan di sekolah ini adalah class meeting langsung diadakan seusai ujian akhir.

Jadi, biasanya sih murid-murid lebih menantikan class meetingnya daripada ujiannya. Jadi, biasanya guru-guru menempatkan cuma satu pelajaran yang diujikan di hari terakhir. Kalo nggak, nilainya bisa jeblok semua. Itu juga alasannya pelajaran bahasa Indonesia dijadikan ujian akhir.

Karena murid-murid di sini menganggap pelajaran bahasa Indonesia paling gampang. Masa orang Indonesia nggak bisa bahasa Indonesia? Kesian amat...

Nah, gara-gara anggapan yang sudah sangat berbudaya ini jugalah banyak guru bahasa Indonesia minggat lantaran nggak betah. Iyalah... tiap kali pelajarannya nggak ada yang mau dengerin.

Malas sempet ada satu guru yang yang nangis gara-gara nggak ada yang mau memperhatikan pas dia ngajar. Padahal gurunya cowok lho.

"Lo kenapa nggak main?" tanya Chanyeol menunjuk murid-murid cewek yang sedang berteriak-teriak berebut bola lalu membuang kaleng kosong ke tong sampah di pinggirnya.

"Takut matahari, ya?" Chanyeol mencibir. "Kalo lo ngedekem di rumah-berhari-hari, tuh kulit bakal jadi putih!"

"Cerewet!" dengus Baekhyun. "Males tau! Olahraga tuh cuma buang-buang tenaga aja. Mendingan tidur di rumah."

Chanyeol hanya mendesis melihat kelakuan cewek yang satu ini. "Bilang aja nggak bakat olahraga. Pake bilang males segala," ujar Chanyeol geli.

Baekhyun itu emang punya trademark nggak becus olahraga. Tiap kali main basket, kalo nggak keseleo, pasti keserimpet dribelannya sendiri. Akhirnya malah jatuh di tengah-tengah lapangan. Nggak usah main basket deh, lari aja bisa kesandung.

Dan satu hal paling spektakuler yang pernah dilakukan Baekhyun adalah mementalkan sepatunya sendiri ke belakang ketika sedang lomba lari seratus meter!

"Ketawa aja terus!" sungut Baekhyun sambil memukul kepala Chanyeol dengan handuk. Chanyeol terkekeh.

"Heh," Baekhyun memyenggo bah Chanyeol.

"Lo, beneran kangen sama gue ya?" Chanyeol melongo.

"Emang gue pernah bilang?" Baekhyun mendesis.

Dasar cowok ini! Baekhyun jadi menyesal kemaren bilang kangen juga.

"Iya, kangen!" Chanyeol tertawa melihat muka cemberut Baekhyun. "Rumah sepi banget nggak ada lo." Baekhyun mencibir.

"Nggak ada gue kan ada Kyungie. Lagian ntar gue malah jadi nyamuk lagi di rumah." Chanyeol tersenyum tipis mendengar ocehan Baekhyun.

"Hari ini pulang, kan?" Baekhyun mengatupkan bibirnya lalu mengangguk kecil.

Pulang. Satu kata itu sudah sangat jarang dia perhatikan. Dulu, dia cinta sekali kata "pulang". Buat Baekhyun, kata "pulang" bisa berarti banyak hal. Setiap kali bel sekolah usai, kata "pulang" selalu terbayang di benaknya. Lari ke kelas Sehun, beli jajanan di kantin, lari ke mobil Jongin, ketemu Mama di rumah, tidur di kamar kesayangan, nunggu Papa pulang, sampe akhirnya nyusup ke kamar Sehun buat ngobrol sampe pagi.

Tapi sekarang... apa iya dia masih bisa pulang? Atau kata "pulang" itu sudah berubah menjadi sebuah formalitas?

"Baek..." Chanyeol menepuk bahu Baekhyun.

"Kenapa?" Baekhyun menatap Chanyeol, tersadar dari lamunannya barusan.

"Nggak apa-apa kok. Oya, tapi gue pulang nggak bareng lo. Tadi akhirnya Kai SMS gue. Dia bilang hari ini mau ngajak gue pergi."

"Mau kemana?" Baekhyun mengangkat bahu. "Nggak bilang. Katanya penting. Jadi... ya udah, sekalian gue mau minta maaf soal tempo hari."

"Minta maaf?" Chanyeol mengernyitkan dahi.

"Bolos aja mesti minta maaf sama dia? Emangnya dia siapanya lo? Ada juga lo mesti minta maaf sama bokap gue. Yang ngebayarin lo sekolah kan bokap gue, kenapa mesti minta maaf sama dia?"

Baekhyun mendecakkan lidahnya. "Perhitungan amat sih! Ntar juga gue minta maaf sama bokap lo! Lagian soal bolos tempo hari itu, bokap lo juga nggak tau. Dia lagi sibuk ngurusin pertunagan lo tau!" semprot Baekhyun lalu bangkit menuju lapangan basket.

"Eh!" tahan Chanyeol sebelum Baekhyun sempat melangkah. "Jangan pergi!"

Baekhyun berbalik, memandang Chanyeol heran. "Gue cuma mau ngambil tas di lapangan basket. Bentar lagi kan Kai dateng. Abis ngambil tas gue balik lagi. Tas lo mau gue ambilin nggak?"

Chanyeol mengangguk kecil, melepaskan tangan Baekhyun perlahan. "Dasar!" gerutu Baekhyun sambil berlari ke lapangan basket.

Chanyeol memandang punggung Baekhyun dari kejauhan sembari mendesah kesal. "Maksud gue jangan pergi sama Jongin, bodoh. Kalo lo pergi, gue takut lo nggak bakal pulang lagi."

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

.