Minna~~ Genki ka? Kalian baik - baik saja kah? Author selalu berharap kalian baik - baik saja dimanapun dan kapanpun minna berada. Karena Author yakin minna udah pada penasaran dengan chapter ini, Author nggak akan banyak ngomong diawal. Selamat menikmati~

Warning : OC, karakternya OOC, banyak typo

Disclaimer : Diabolik Lovers bukan milik Author. Hanya pinjam untuk membuat fanfiction ini.


Identitas Tokoh Antagonis

"Tidak sebelum aku mengirimmu ke Dunia Bawah terlebih dahulu," seru Yuki.

"Apa maksudmu, Yuki-chan?" tanya Yui.

Yuki tak menjawab. Ia segera mendorong salah satu pintu ganda itu, menarik tangan Yui dengan kasar membuat gadis berambut pirang itu kini berada dibalik pintu besar itu. Ia bisa melihat hutan lebat yang gelap dan dapat dipastikan membuat semua orang akan ketakutan. Tapi, bukan waktu yang tepat untuk merasakan hal seperti itu. Ia harus memprioritaskan Yui agar gadis itu selamat dari kejaran para serigala. Firasatnya mengatakan untuk melindungi Yui dari siapapun yang memerintahkan para serigala itu. Lagipula, ia juga tak ingin Mukami bersaudara harus terluka demi menyelamatkan mereka berdua.

Ia tak ingin saudara-nya kembali terbunuh.

"Maafkan aku, Yui-chan. Tapi, saat ini aku harus melindungimu," ujar Yuki. "Aku yakin kau pasti akan bingung. Percayalah, Sakamaki bersaudara pasti akan melindungimu. Kau pasti bisa menemukan mereka."

"Tunggu, Yuki-chan," protes Yui. "Kau juga harus ikut denganku. Apa kau ingin membiarkan pengorbanan Mukami bersaudara menjadi sia – sia?"

"Tentu saja tidak!" tukas Yuki. "Tapi, aku sudah berjanji akan melindungi mereka. Melindungi Ruki nii, Kou-kun, Yuuma-kun, dan Azusa-kun adalah tugasku sejak dulu!"

Setelah itu, tanpa mendengarkan perkataan Yui, Yuki segera menutup pintu besar itu dengan susah payah. Lolongan serigala bergema dalam koridor sepi itu, membuatnya sedikit ketakutan. Namun, ia mengesampingkan sisi pengecutnya dan berlari menyusul tempat Mukami bersaudara berada. Ia tak bisa menemukan Azusa yang harusnya berada dibalik pintu jeruji tadi. Meski agak sulit, Yuki berhasil membuka pintu jeruji itu dan kembali berlari mencari mereka. Bercak darah dan kerusakan tersebar dalam mansion. Paru – parunya seperti terbakar karena terus berlari menyusuri mansion yang sialnya sangat luas hanya untuk mencari keberadaan Mukami bersaudara. Tak hanya itu, dadanya bergerumuh diselimuti dengan perasaan takut. Oh, jika saja Tuhan mendengarkan permintaan egoisnya, ia akan panjatkan harapan ini.

Jangan rebut kembali saudara-nya dari sisinya.

Kakinya sudah lelah berlari dan membawanya ketaman belakang, tempat semak tanaman mawar Yuuma dirawat. Iris birunya melebar melihat ketiga tubuh yang ambruk disana penuh luka. Yuuma yang masih sanggup berdiri pun terlihat akan tumbang jika mendapatkan satu serangan lagi. Tak jauh didepan cowok penyuka berkebun itu, ia melihat sosok cowok berambut cokelat muda memakai kacamata juga penutup mata dimata kirinya. Yuki membatu melihat cowok itu tengah menyeringai kepada Yuuma yang akhirnya tumbang. Ia ingat pernah melihat cowok itu disuatu tempat. Bukan, karena lebih tepatnya melihat cowok itu didalam mimpinya.

Bisingan suara masuk secara paksa kedalam telinganya. Yuki menutup kedua telinganya, berharap dapat mengurangi suara bising itu yang pada akhirnya percuma. Pandangannya sedikit kabur akibat genangan air yang membasahi pelupuk matanya. Tapi, satu hal yang bisa ia pastikan adalah taman Yuuma telah berubah menjadi sebuah gedung tua yang terlihat tak pernah digunakan. Sosok seorang wanita cantik berambut ungu panjang tengah menyeringai kearahnya. Ketukan halus sepatunya bergema, membuat tubuhnya yang sudah gemetar semakin gemetar hingga jatuh berlutut dilantai dingin. Wanita itu mengangkat dagunya, memaksa Yuki untuk melihata wajah cantik yang mengerikan itu.

Dendam... Takut... Hanya kedua perasaan itu yang bergejolak dalam dadanya.

"Itoshii musume... watashi no ...ki..."

Entah mendapat kekuatan dari mana, Yuki menepis tangan wanita itu dan segera menjauh. Matanya menangkap sebuah pisau yang nampaknya terbuang. Dengan cepat, ia meraih pisau itu dan menerjang wanita itu. Seperti sudah memperkirakan gerakan Yuki, wanita itu menghindar dengan hebat layaknya seorang petarung padahal dirinya memakai gaun ungu panjang. Yuki terus menerjangnya dengan pisau. Namun, gerakannya terpaksa berhenti karena ia mendapatkan serangan dari beberapa ekor serigala.

Saat itulah semuanya kembali seperti semula. Sosok wanita mengerikan itu berubah menjadi seringaian mengejek dari cowok berambut cokelat tadi. Akibat serangan yang ia dapatkan, tubuh Yuki terkulai diatas rumput. Darah keluar dengan deras dari lukanya. Tak hanya itu, ia juga harus menerima injakan dari cowok itu tepat dikepalanya.

"Apa – apaan cewek manusia ini?" sindirnya. "Apa kau tidak sadar akan perbedaan kekuatanmu dengan kekuatanku, seorang First Blood?"

"First... Blood...?" tanya Kou disela – sela kesadarannya.

Cowok itu mendecih. "Jadi, dimana kalian sembunyikan cewek itu?" tanyanya. Ia kemudian menarik rambut hitam Yuki dengan kasar dan mengacungkan pedangnya keleher gadis itu. "Cepat jawab atau nyawa cewek ini akan melayang."

Yuki akui, ia sudah tak memiliki tenaga untuk berbicara. Bahkan menggerakkan jarinya saja nampaknya sangat sulit. Ia hanya bisa melihat Yuuma yang berusaha bangkit untuk menghajar kembali cowok yang berada dibelakangnya ini. Seorang cowok berambut putih mendadak muncul dihadapan mereka semua, entah dari mana. Tangan kanannya terangkat sedikit, seolah menyuruh cowok yang mengancamnya untuk melepaskan Yuki. Dengan malas dan kesal, ia melempar Yuki kesisi tubuhnya. Tak lupa juga menendang perutnya, membuat Yuki memuntahkan sejumlah darah.

"Itu peringatan karena kau telah berani menantang First Blood," ujarnya.

Kemudian, kedua cowok itu menghilang bersamaan dengan serigala yang sejak tadi bertindak sesuka hati didalam mansion. Dengan sisa tenaganya, Yuuma bangkit menghampiri tempat Yuki terbaring. Begitu juga dengan Kou yang membantu Ruki untuk memapah Azusa yang sudah tak sadarkan diri.

"Dimana dia?" tanya Yuuma pada Yuki.

Yuki tak bisa menemukan suaranya yang hilang, hanya bisa menggerakan bibirnya dan berharap Yuuma dapat mengerti. Detik berikutnya, pandangannya berubah gelap. Ia memang masih bisa mendengar suara Yuuma meski samar dan merasakan tubuhnya yang seperti diangkat. Tapi, semua itu nampak tak ia pedulikan. Dirinya hanyut kedalam kegelapan yang kini menyelimutinya.

xxx

"Cih! Padahal tinggal sedikit lagi kita mendapatkan cewek itu," gerutu seorang cowok berambut cokelat pendek yang tengah mengelap pedagnya. "Dan lagi apa – apaan cewek manusia tadi?! Berani sekali menantangku yang seorang First Blood ini?!"

Cowok berambut putih yang berdiri tak jauh dari cowok berambut cokelat itu hanya diam memandangi kota. Otak cerdasnya tengah memproses semua hal juga serangan yang telah dilakukan demi mendapatkan apa yang menjadi tujuan mereka. Ia yakin, para vampire itu akan melarikan diri ke Dunia Bawah mencari perlindungan Karl Heinz. Begitu juga dengan target mereka yang pastinya akan dilindungi dengan ketat. Tapi, tak apa. Justru itu akan sangat menguntungkan mereka jika para vampire itu berada di Dunia Bawah.

"Tapi, para vampire itu bodoh ya nii-san," olok cowok berambut cokelat. "Padahal jangka waktu gerhana bulan didunia ini dan Dunia Bawah sangat lama. Tapi, mereka tetap pergi kesana."

"Mereka berpikir, jika dalam perlindungan Karl Heinz tak akan ada yang bisa menyakiti mereka."

Cowok berambut cokelat itu berdiri, ikut menatap kota dibawah bukit tempat mereka berada. "Jadi, sekarang kita harus bagaimana? Apa mengejar mereka ke Dunia Bawah?"

"Tidak. Kita tunggu keadaan sejenak," jawab si cowok berambut putih. "Jika langsung menghabisi mereka, itu tidak menyenangkan bukan?"

"Ho... benar juga. Menghabisi mereka yang sedang sekarat akan sangat membosankan karena terlalu mudah."

Cowok berambut putih menganggukkan kepalanya sedikit. "Lagipula, ada yang ingin kuselidiki terlebih dahulu mengenai gadis manusia yang menyerangmu."

Suasana si cowok berambut cokelat itu langsung berubah. "Harusnya, aku langsung membunuh cewek itu tadi," sesalnya.

xxx

Yuuma meringis ketika luka – lukanya tersentuh oleh cairan alkohol. Awalnya ia sama sekali tak membutuhkan pengobatan. Ia berpikir, untuk apa melakukannya karena dia seorang vampire. Toh, luka itu akan cepat sembuh tanpa harus diobati. Tapi, perintah adalah perintah. Meski ia tak mau, ia harus berdiam diri sambil menahan perihnya alkohol sialan itu. Setelah ditutupi oleh perban, ia baru boleh keluar dari ruangan mengerikan itu. Untunglah Karl Heinz mau memberikan perlindungan kepada mereka di Dunia Bawah. Dirinya dan Kou terluka cukup parah akibat pertarungan itu, bahkan Azusa dan Ruki sampai tak sadarkan diri.

"Apa yang kau lakukan disini Kou?" tanya Yuuma, menyadari kehadiran Kou yang sedang duduk disofa panjang dikoridor.

Kou melirik kearah Yuuma, kemudian menghela napas. Ia menyandarkan kepalanya kedinding dibelakangnya, menatap langit – langit mansion milik Karl Heinz. "Rasanya menyebalkan dikalahkan seperti ini," gerutunya. "Terlebih, gerhana bulan masih berlangsung disini membuat mood-ku semakin buruk."

Yuuma ikut duduk disebelah Kou. "Da na," ucapnya setuju.

"Emuneko-chan, daijoubu ka na?" gumam Kou.

"Aku tidak mau mengakuinya, tapi dia pasti baik – baik saja bersama Sakamaki bersaudara," jawab Yuuma. "Mereka pasti akan melindungi mangsanya."

Kou tersenyum, menyetujui ucapan Yuuma.

"Aitsu wa?" tanya Yuuma.

"Aitsu? Aa... Yuki-chan? Tenang saja. Karl Heinz-sama sedang merawatnya."

Alis Yuuma bertaut. "Untuk apa Karl Heinz-sama merawatnya? Bukankah dia bisa menyuruh tsukaima-nya?"

Kou mengedikkan pundaknya, tak tahu. "Katanya, jangan kunjungi kamar Yuki-chan sampai kita dapat perintah."

Yuuma semakin bingung. Kalau saja ia tidak ingat akan posisinya saat ini, ia pasti sudah menerobos masuk kamar Yuki. Bukannya ia khawatir pada gadis menyebalkan itu atau pun curiga dengan penyelamatnya. Tapi, tetap saja hal ini terasa aneh. Ia tak perlu menjadi Ruki untuk merasakan keanehan ini. Karena, bagaimana mungkin manusia biasa macam Akatsuki Yuki mendapat perhatian khusus dari raja para vampire di Dunia Bawah, Karl Heinz.

"Yuuma-kun."

Mata cokelatnya sedikit melebar ketika melihat anak perempuan yang berdiri didepannya, tersenyum lebar. Ia tak bisa melihat wajahnya karena tertutup rambut depannya yang berwarna hitam. Kemudian anak perempuan itu berlari, meninggalkan Yuuma yang sudah berdiri karena terkejut membuat Kou bingung. Tanpa mendengarkan ucapan Kou, Yuuma langsung berlari mengikuti anak perempuan tadi. Setiap kali ia berlari dan kehilangan jejak, sosok anak perempuan itu pasti muncul mendadak dibelakangnya. Lalu kembali berlari dan terus – menerus menghilang, seolah mempermainkan Yuuma. Ia mulai merasa bodoh karena mengikuti anak perempuan itu. Ketika ia bermaksud untuk kembali kekamarnya, ia mendengar suara teriakan.

"Apa itu?" tanya Yuuma pada dirinya sendiri.

Biasanya ia langsung berlari jika merasa aneh, apalagi dengan teriakan yang terus bergema dilorong tempatnya berdiri. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya tak bisa menggerakan tubuhnya sendiri. Teriakan itu begitu kencang, terdengar sangat kesakitan dan penuh dengan rasa takut.

"Yuuma-kun," sahut seseorang yang membuatnya terkejut. Yuuma segera berbalik dan mendapati orang yang paling ingin ditemui tapi juga tak ingin ditemui saat ini. Tapi, Yuuma bukanlah tipe orang yang sabar akan sesuatu. Oleh karena itu, ia akan bertanya apa yang mengganggu pikirannya.

"Kenapa kau mau repot – repot mengurusi cewek manusia itu?" tanya Yuuma tanpa basa – basi.

Orang itu sempat terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Yuuma. Namun, raut itu langsung digantikan dengan senyuman lebar khas orang itu. Ia menepuk pelan pundak Yuuma, mencoba agar cowok itu tidak terlalu khawatir. Kemudian ia berjalan melewati Yuuma, membisikinya sesuatu yang membuat mata cokelat itu sedikit melebar. Yuuma hanya bisa memicingkan mata cokelatnya, menatap punggung yang tertutupi oleh rambut putih perak panjangnya.

"Sebenarnya, siapa kau?" bisik Yuuma pada lorong sepi dihadapannya.

xxx

Hal pertama yang ia terpantul bola matanya adalah langit – langit kamar yang tak pernah ia lihat. Ia mencoba bangun dari tidurnya, namun tertahan oleh rasa sakit dipunggungnya. Iris birunya melihat kanan kirinya, mencoba mencari dimana ia berada sekarang. Sebuah kamar yang cukup luas, mungkin sedikit lebih luas dibandingkan dengan kamarnya dimansion Mukami. Derik pintu yang terbuka membuat perhatiannya terhadap kamar itu teralihkan. Pemuda berambut putih tersenyum kearahnya yang sudah siuman dari alam bawah sadarnya. Telapak tangan pemuda itu yang terbalut sarung tangan putih menyentuh keningnya dengan lembut. Awalnya ia merasa waspada akan kehadiran pemuda yang tak ia kenal maupun jumpa. Mungkin karena sensasi dingin yang ia rasakan lewat keningnya, rasa kewaspadaan itu menghilang dan digantikan dengan raut lega diwajahnya yang sedikit pucat. Sungguh aneh sebenarnya ia bisa merasakan sensasi dingin itu karena pemuda yang sudah duduk ditepi ranjangnya mengenakan sarung tangan.

Ia ingin bertanya sesuatu, tapi suaranya tak mau keluar. Serak menggerogoti tenggorokannya entah karena apa. Pemuda itu tersenyum mengerti dan segera menyodorkan segelas air putih padanya. Dengan lembut, ia membangunkan dirinya agar dapat meminum air itu. Oh, betapa segar air putih yang ia terima karena dalam sekejap suaranya sudah kembali. Yah, meski agak serak ketika ia mulai membuka mulutnya, mengucapkan terima kasih. Tangan pemuda itu membelai lembut puncak kepalanya. Senyum tak pernah hilang dari wajahnya yang entah kenapa terlihat cukup muda.

"Tenanglah. Kau sudah aman dimansion ini," ucap pemuda itu lembut.

Ia membuka mulutnya kembali, bertanya sesuatu. Aneh. Padahal ia tadi bisa mendengar suaranya. Tapi, kali ini tak ada suara yang keluar. Meski begitu, pemuda itu nampak mengerti akan pertanyaan yang ia lontarkan.

"Tenang saja. Mereka baik – baik saja," jawab pemuda itu. "Kau pasti mengerti kalau mereka itu kuat."

Ia mengangguk pelan. Mendadak rasa kantuk menyerangnya. Ia sebenarnya masih ingin bertanya lebih lanjut. Tapi nampaknya tidak bisa karena kelopak matanya terasa sangat berat. Pada akhirnya, ia mengalah pada kantuk itu dan kembali menutup iris birunya. Sentuhan lembut dipuncak lembutnya masih terasa meski ia sudah terlelap.

"Istirahatlah yang cukup, Lucifer-ku," bisik pemuda itu. "Kau masih dibutuhkan."

xxx

Sudah hampir dua minggu mereka berada di Dunia bawah, namun belum ada tanda – tanda akan berakhirnya masa gerhana bulan. Hal itu membuat Mukami bersaudara sedikit kesal, karena luka mereka tak kunjung sembuh. Terlebih untuk Kou dan Yuuma yang harus merasakan perihnya cairan alkohol untuk membersihkan lukanya. Jika sudah waktunya untuk mengobati luka, mereka pasti akan kabur atau mengunci diri dikamar masing – masing. Itu jelas merepotkan tsukaima yang diperintahkan untuk merawat mereka. Beruntung ada Ruki yang mau menyuruh mereka patuh, tentunya dengan diberikan tatapan tajam tanpa ampun pada mereka berdua. Yuki yang melihat aktifitas Mukami bersaudara selama berada dimansion, tak tahu milik siapa, hanya bisa menggelengkan kepalanya.

"Kalian berdua tidak kapok ya terus seperti itu," sindir Yuki yang kembali membawa makanan kecil untuk mereka berempat. Ia segera memberikan cangkir teh yang sudah disediakan untuk Ruki dan Azusa. "Aku sampai bosan melihatnya."

"Ini bukan urusanmu!" seru Yuuma. "Lagipula, kenapa kau sembuh lebih cepat padahal lukamu juga pa-! Tte itte yo kora!"

Yuki menyeringai lebar. Ia menepuk pelan dadanya, bangga akan dirinya sendiri. "Asal kalian tahu, tubuhku cukup kuat."

Ia memberikan secangkir teh pada Kou yang sudah selesai mengganti perban lukanya. "Kou-kun, daijoubu?" tanyanya khawatir. "Aduh, padahal wajahmu sangat berharga untuk pekerjaanmu, ya."

"Benar. Aku pasti akan membalas perbuatan mereka padaku," sumpah Kou pada dirinya snediri.

"Dengan keadaan kita yang seperti ini, kurasa mustahil bisa melawan mereka," tandas Ruki. Ia meletakkan cangkir tehnya diatas meja kecil disamping kursi tempat dirinya duduk. "Lawan kita adalah First Blood, ingat?"

"Douzo, Yuuma-san," ucap Yuki sembari memberikan cangkir teh pada cowok tinggi itu. "Mereka benar – benar kuat?" tanyanya pada Ruki.

"Kau tidak ingat?" Yuuma balik bertanya pada Yuki. "Mereka dengan mudah melemparmu bahkan menendangmu."

Alis Yuki bertaut. "Eh? Benarkah? Aku tidak ingat," ujarnya. "Yang kuingat tahu – tahu diriku sudah berada dikamar tempatku dirawat."

Yuki terdiam, mencoba mengingat ketika penyerangan itu terjadi. Mereka semua berada diruang keluarga, asyik berbicara mengenai macam hal meski jelas terlihat bahwa kondisi Mukami bersaudara sangat tak baik. Kemudian tiba – tiba serigala menyerbu masuk secara paksa dan menyerang mereka semua. Ditengah kepanikan yang melanda, Yuuma menyuruh Azusa untuk membawa Yui dan Yuki keruang bawah tanah. Awalnya Yui menolak untuk melarikan diri karena tak tega meninggalkan Ruki, Kou, dan Yuuma yang menjadi umpan. Tapi, Yuki berhasil menarik gadis berambut pirang itu untuk kabur dari sana. Harusnya Azusa juga ikut melarikan diri dengan mereka berdua. Namun, cowok itu menolak karena tak ingin meninggalkan saudaranya. Maka dari itu, ia menyuruh Yui dan Yuki untuk pergi ke Dunia Bawah, berharap Sakamaki bersaudara akan menolong mereka berdua.

Setelah itu, semuanya terlihat samar dalam ingatannya. Ia memijit pelipisnya yang sedikit sakit karena memaksa otaknya untuk mengulang kejadian itu. Apa yang terjadi setelah itu sebenarnya. Mengapa Yuuma berkata bahwa ia sempat menyerang si penyerang walaupun pada akhirnya bisa dikalahkan karena dirinya seorang manusia.

"Ah iya, bagaimana dengan Yui-chan?!" seru Yuki yang tersadar. "Dia baik – baik saja, kan?"

"Eve... baik – baik saja..." jawab Azusa. "Ia... berada... dimansion milik... Sakamaki bersaudara..."

Yuki menghela napas lega. Jika terjadi apa – apa dengan Yui, maka percuma saja ia melindungi gadis itu. Karena merasa Mukami bersaudara butuh istirahat, Yuki segera undur diri dari ruangan tersebut. Dirinya tak langsung pergi ketika sudah berada diluar ruangan, melainkan merapatkan punggungnya kedaun pintu. Ia meringis kesakitan ketika lukanya tersentuh. Bohong sebenarnya jika ia mengatakan bahwa lukanya sudah sembuh. Karena ia masih bisa merasakan luka sengit dipunggungnya yang acapkali menganggunya ketika tidur, meski ranjang dikamarnya super duper lembut. Pernah ia ingin melihat luka dipunggungnya, namun dihalang oleh pelayan yang merawat lukanya. Pelayan itu mengatakan bahwa luka ini tak pantas dilihat karena terlalu mengerikan. Tapi, sudahlah. Ia akan menurut dan menunggu sampai dirinya benar – benar sembuh. Walaupun kata menurut sebenarnya tak pernah ada dikamusnya.

Ia memutuskan untuk keluar mansion, mencari udara segar sekaligus melihat kondisi gerhana bulan yang tak kunjung berakhir. Sampai ditaman belakang yang kelewat luas, iris birunya menatap bulan yang bersinar merah. Warna merah pada bulan itu membuatnya tak nyaman jika boleh berkata jujur. Secara tak langsung, alam bawah sadarnya seperti menyuruhnya untuk mengingat hal yang tak ingin ia ingat. Angin kencang mendadak berhembus, membuatnya harus menutup matanya agar debu tidak masuk menyakiti matanya. Ketika kelopak matanya ia buka kembali, iris birunya melebar melihat dua sosok asing berdiri tak jauh dari sana. Tak bisa juga dibilang asing, karena ia pernah melihat dua orang itu dalam mimpi anehnya.

"Uwah ternyata benar ucapanmu nii-san, cewek ini ada di Dunia Bawah juga," puji si cowok berambut cokelat muda yang mengenakan kacamata.

Cowok berambut putih disebelahnya tak menanggapinya. Tapi, Yuki yakin sekali bahwa cowok itu mendengus seolah memang dirinya itu benar.

"Siapa kalian?" desis Yuki, bersiaga karena merasakan ancaman dari kedua cowok didepannya.

"Berani sekali kau menantang kami berdua," tukas cowok berambut cokelat muda. Ia kemudian mengacungkan pedangnya kearah Yuki. "Yah, karena mood-ku sedang bagus saat ini akan kuberitahu siapa kami, manusia."

Yuki segera menoleh kebelakang, mendapati tiga ekor serigala yang menggeram padanya.

"Namaku Tsukinami Shin," ucap cowok berambut cokelat muda itu memperkenalkan diri. "Dan ini adalah kakakku."

"Tsukinami Carla da," sahut cowok berambut putih singkat.

"Kami berdua adalah First Blood, pendahulu sekaligus pemimpin Dunia Bawah yang sebenarnya."


Itoshii musume watashi no : Anak kesayanganku

Da na : Benar juga

Emuneko-chan, daijoubu ka na : Emuneko-chan, apa baik - baik saja ya

Aitsu wa : Kalau dia

Aitsu : Dia

Ttte itte yo kora : Sakit sialan

Douzo :Silahkan


Author : #terkapar dilantai yang diselimuti aura gelap dan jamur dimana - mana

Yuki : Huwah... kasian aku melihat Author-san begini. Nggak tega buat bangunin dia padahal harus membalas review dari minna. Yah, sudahlah. Tak ada salahnya aku sendiri yang membalas review ini sekaligus meramaikan Author Note ini.

#berdeham. Hai hai minna. Lama nggak jumpa dengan ya. Udah sampai chapter 10, ada yang udah kebayang konfliknya bakal kayak gimana? Kalo udah ada yang tahu, sst ya. Biarkan Author-san yang bekerja dengan menyelesaikan fanfic ini. Okeh, aku akan membacakan review dari Waow! Banyak banget review kali ini. #balik badan kearah Author. Author-san! Sugoi yo kore! (ini keren loh!). Review-mu membludak dari minna. Pada penasaran katanya karena sekarang udah sekali sebulan doang udpate-nya.

Author : #menyuruh Yuki mendekat dan berbisik sesuatu.

Yuki : Humu humu, wakatta. Kata Author, "Terima kasih atas review yang berisikan semangat untuk Author. Tidak ada yang lebih bahagia punya minna yang sangat pengertian. Dan maaf jika harus update sebulan sekali perkara Author yang sudah semester akhir dan harus ditugaskan magang kerja untuk syarat lulus. Author minta maaf dari lubuk hati yang paling dalam."

#liat kearah Author yang aura gelapnya makin keluar. Kemudian menepuk pelan kepala Author. Sabar dan semangat ya Author-san. Okeh kita kembali pada balasan review dari minna.

Chastray Artyu : Yep. Para Tsukinami udah muncul dichapter ini meski porsinya masih sedikit. Waduh, aku diperebutkan mereka? Wah wah wah #speechless

Shinozaki Karen : Terima kasih atas semangatnya Eren-chan. Author-san pasti senang banget deh kalo baca review dari Eren-chan. Hahaha, ini belum apa - apa dibandingkan dengan konflik yang akan datang pastinya. Tetap ditunggu aja. Dan makasih untuk salamnya, akan kusampaikan ke yang lain. Salam balik buat Eren-chan.

Lightning Shun : Halo Light-san dan #natap datar Naoto. Halo juga Naoto-san. Waduh, kalo buka lowongan OC, aku nggak tau ya. Soalnya, yang punya nih fanfic kan Author-san. Dan berhentilah bertengkar disini, Light-san! Naoto-san!

Noctis-san, harusnya kau tidak perlu meminta maaf untuk kelakuan Light-san dan Naoto-san, tapi terima kasih. Oh tenang saja. Itu hal wajar kalo nulis fanfic bikin orang penasaran. Hmm... aku nggak tau Author-san udah melakukan apa yang Noctis-san minta, semoga aja puas ya. #menerima mawar. A-arigatou gozaimasu, Noctis-san. Author-san, kau dapat bunga mawar dari Noctis-san.

Okeh, mari lanjut ke review selan-! #Yuki menghilang karena diculik Naoto.

... krik ... krik ... krik ...

#Yui datang, memeriksa keadaan Author Note. Eh? Kok Yuki-chan hilang? Siapa yang akan melanjutkan Author Note kali ini?

Author : #manggil Yui buat mendekat dan membisikkan sesuatu. Un, wakatta. #berbalik menghadap minna. Karena Yuki-chan tiba - tiba menghilang yang sepertinya diculik dan Author-san sedang tak bisa berbuat apa - apa saking lelahnya, kali ini biar aku yang membalas review dari mina-san.

Etto, U.S : Ini sudah diupdate kok U.S-san, tetap ditunggu review buat nyemangatin Author-san.

Rukiracun : Wah... makasih ya udah menyempatkan diri baca fanfic milik Author-san ini, ditambah langsung mengenal semua karakternya. Terharu rasanya. Okeh, nanti akan kusampaikan saran dari Rukiracun-san untuk adegan itu. Okeh. Tetap setia menunggu update fanfic ini ya. Hehehe, silahkan saja diterror, biar Author-san ingat terus kerjaannya belum kelar.

yuuki kagami : Terima kasih yuuki-san atas dukungan dan semangatnya. Entah Yuki-chan akan dipasangkan ama siapa itu pilihan Author-san. Tapi, yuuki-san juga berpikir begitu kan. Mereka berdua tuh cocok sekali kalo dijadikan pasangan hehehe

Christy : Tenang Christy-san, ini udah diupdate. Dan tentu saja Mukami bersaudara nggak kenapa - napa. Kalau kenapa - napa, nanti yang ada ceritanya nggak akan lanjut hehehe.

Diandra88 : Udah diupdate kok Diandra88-san. Nggak akan ada yang mati kok. Ya kan Authot-san? #balik menghadap Author yang saat ini ditimbun jamur dkk. Aduh, kok keadaannya makin mengenaskan sih.

Silent Reader : Mukami bersaudara nggak akan mati, karena kalau iya ceritanya nggak akan berlanjut. Dan untuk Yuki-chan yang memiliki hubungan atau tidak dengan para serigala, sabar aja ya. Author-san pasti akan kasih penjelasan.

Guest : Untuk mina-san yang memakai akun Guest, chapter baru sudah diupdate. Selamat menikmati ya~

Phew... begini saja cukup kan, Author-san? #nggak ada jawaban. Kelihatannya cukup segini dulu. Catatan yang diberikan oleh Author-san juga sampai membalas review dari mina-san doang. Ah iya, untuk yang mereview di fanfiction Eternal Nightmare : Side Story, terima kasih atas reviewnya. Kelanjutannya, tentu saja kalau fanfiction ini sudah selesai. Jadi, harap bersabar saja ya.

Baiklah, kurasa tugasku sudah selesai disini. Kalau kebanyakan Author Note, nanti mina-san nya malah pusing sendiri membacanya.

Okeh, sampai jumpa dichapter selanjutnya~