Preator Family Trivia part 7 (end)
Oracle, Seungkwan
General
Name : Seungkwan Fieve Honeyswan
After name : Seungkwan Lux Preator
Nationality : Caratia
Age : 234
Hair-Eyes : Dark blue-brown
Hoby : Playing around
Special thing(s) : Charm
Specific
Know as : Master of Asmodeus, The Gift of Uriel
Spark : Asmodeus, Uriel, Satan
Role : Oracle
Guard : Hansol (Spark of Asmodeus, Devil of Lust)
Weapon : Gun
Speciality : Future vision, Love by Light
Mother : Minki Revi Honeyswan sebelumnya Ren Revi Honeyswan
.
.
.
.
.
.
.
.
Mingyu terlelap di ranjang king size yang empuk. Benar-benar nikmat. Ia bahkan tak memperdulikan Minghao yang melayang kesana-kemari di dalam kamar itu.
Baik Mingyu, Seokmin, dan Wonwoo mendapat masing-masing satu kamar. Hal itu membuat mereka dapat menikmati waktu dengan sebaik-baiknya.
Minghao bermain dengan keping-keping uang yang muncul saat ia menjentikan jarinya. Ia keluar dari kalung hanya agar tidak bosan. Mungkin bertarung bersama Mingyu akan menghentikan kebosananya, tapi Mingyu malah tertidur dengan nyenyaknya.
Minghao masih melayang kesana-kemari kala sebuah hentakan di kepalanya ia rasakan. Ia langsung menatap ke arah Mingyu yang tiba-tiba mendudukan tubuhnya, oh Mingyu terbangun.
"Master…"
.
.
.
.
.
.
.
.
Seokmin melakukan sebuah pertarungan kecil di tengah kamarnya dengan Chan. Sebagai Guardian, sudah sepatutnya ia melindungi keluarganya. Maka Seokmin terus berlatih dengan giat walau ia memang sudah amat sangat mahir.
"Kau harus kalah, Chan-ah." Ucap Seokmin dengan senyum lebarnya.
Senyuman Seokmin akan terlihat menyenangkan disaat biasa, namun mengerikan ketika ia memegang pedang dan aura membunuh berada di sekitarnya.
Pedang itu bergesekan sehingga menghasilkan percikan logam dan suara yang menyilukan telinga.
Kala Chan akan menyerang, ia tiba-tiba menghentikan pergerakannya seolah ada yang menghentikannya.
Begitu dengan Seokmin yang memegang kepalanya. Kepalanya terasa berat. Seolah ada sensasi meledak di dalam sana.
"Master…"
.
.
.
.
.
.
.
.
"Junhwi, berapa sumber kehidupan yang aku miliki? Apa ada batas?" Tanya Wonwoo yang tengah meminum teh bersama Junhwi yang duduk di hadapannya.
Junhwi tersenyum kecil lantas ikut meminum teh beraroma bunga Seren, bunga khas negara Serenityan.
"Kau memiliki batas master. Batasmu adalah tujuh kali tujuh anggota keluargamu. Energimu perlahan pasti terisi kembali. Namun ketika engkau berada di posisi yang membuatmu harus mengeluarkan energimu terus-terusan dan kau sudah pada batasmu, aku yang akan mengantikan batas sumber kehidupanmu."
"Maksudmu?" Tanya Wonwoo. Ia perlu penjelasan yang lebih detail.
"Untuk menyelamatkanmu dan anggota keluarga yang lain, kau harus hidup. Ketika sumber kehidupanmu habis, maka kau akan mati. Ketika itu terjadi, aku yang akan menukarkan nyawaku untuk menghidupkan kristalmu."
Wonwwo tersedak tehnya. Wajahnya yang cenderung datar menunjukan emosi tak suka.
"Tolong jangan lakukan itu! Berjanjilah." Ucap Wonwoo.
Deg.
Mereka berdua berpandangan.
"Apa sebenarnya yang terjadi?" Tanya Wonwoo dengan suara kecil.
"Junhwi, kembali lah."
Junhwi yang mengerti langsung menghilang dari pandangan Wonwoo. Wonwoo meletakan cangkir tehnya lalu menuju pintu.
Sepertinya ia harus membicarakannya dengan Mingyu dan Seokmin.
Brak…
Mereka bertiga sama-sama keluar dari pintu dan saling menatap satu sama lain. Sinkronasi macam apa ini?
Pada akhirnya mereka berkumpul menjadi satu di lorong hotel.
"Jangan bilang kalian….." Ucap Seokmin ragu.
Mingyu mengangguk mengiyakan ucapan Seokmin.
"Kau merasakannya juga Seokmin? Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Wonwoo.
Cring…
Secara tiba-tiba kalung hexagram mereka bersinar. Sesaat kemudian kalung itu melayang, seolah menarik mereka.
Baik Seokmin, Mingyu, dan Wonwoo menyeritkan dahi mereka. Mereka saling berpandangan lalu mengangguk, berlari mengikuti arah kalung mereka menarik mereka.
Mereka melewati lobi hotel yang entah mengapa lumayan sepi. Sampai di luar hotel Seokmin dan Mingyu sama-sama mengeluarkan sayap iblis mereka.
Mingyu dengan sigap menggendong Wonwoo di kedua lengannya.
"Astaga… Kemana mereka akan membawa kita…" Keluh Seokmin kala kalungnya tak juga berhenti di suatu tempat.
Mereka bahkan sudah menyebrangi sebuah pegunungan, sebuah sungai, dan sebuah danau. Mereka terbang bermil-mil jauhnya.
"Kalung ini berhenti menarik kita. Apa kita harus turun?" Tanya Wonwoo.
Mingyu mengangguk.
Sesaat kepakan sayap mereka berhenti.
"Sejenis dengan kastil kerajaan di pusat Serenityan." Ucap Seokmin dengan sedikit rasa takjub.
"Sepertinya ini yang ditunjuk oleh kalung kita." Kata Wonwoo yang tak bisa menyembunyikan wajah terkesannya.
Sebenarnya dimana mereka?
Jawabannya adalah mereka sampai di kanopi sebuah mansion yang bercorak khas kemegahan Serenityan. Dengan warna pastel dan putih yang menghiasi seluruh mansion. Aura disini amat sangat sejuk. Mungkin karena tempat ini terletak di sekitar hutan dan Serenityan terkenal akan cuacanya yang memang sejuk.
Mereka disambut oleh pasukan penjaga serba hitam, beberapa maid, dan beberapa butler.
Tepat saat Mingyu, Seokmin, dan Wonwoo menapakan kaki mereka-
"Semuanya!"
-sosok Jisoo melayang dengan cepat menuju mereka.
Sebuah pelukan super erat diterima oleh Seokmin setelahnya.
"Aku dan Jeonghan sudah bertemu dengan Jihoon juga Seungkwan." Kata Jisoo dengan semangat, menyisakan tiga orang yang menatapnya dengan bingung.
"Jihoon?"
"Seungkwan?"
"Ah, maksudku dua anggota keluarga kita yang tersisa. Kalian tahu, mereka itu sangat ramah. Akhirnya kita menjadi keluarga yang utuh." Jelas Jisoo penuh dengan kebahagiaan.
Mingyu mengangguk mengerti.
Mereka mulai berjalan ke depan pintu utama yang sudah terbuka dengan lebar. Terdapat banyak pelayan yang berdiri di sisi pintu memberi hormat ke arah mereka.
Sayap mereka yang masih membentang kini menghilang.
"Jeonghan hyung?" Tanya Mingyu.
Jisoo menunjuk ke atas.
"Mereka ada di lantai atas. Ayo ikuti aku."
Mereka melewati ruang tamu yang amat besar. Ruang tamu itu dihiasi oleh beragam pigura yang terbuat dari logam.
Mata ketiganya memandang deretan foto orang yang terus mengalami evolusi dari tata cara pakaiannya. Dari hitam putih hingga berwarna seperti yang jaman ini miliki.
Setelah perjalanan yang cukup panjang, mereka akhirnya sampai di sebuah pintu besar yang tertutup. Pintu berwarna putih dengan aksen emas di mana- mana.
Jisoo membuka pintu itu dan sebuah ruangan besar dengan berbagai macam ornamennya tertata dengan rapi.
"Jeonghan hyung…" Panggil Mingyu.
Jeonghan meletakan gelas tehnya lalu menolehkan kepalanya.
"Gyu-ah, Seokmin-ah, Wonwoo-ya, kemarilah." Kata Jeonghan.
Mereka semua kini duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu.
Hanya ada sosok Seungkwan dan Jeonghan yang duduk disana sedangkan Jihoon tengah sibuk mempersiapkan teh di troli makanan yang terdiam di samping sofa utama yang diduduki Seungkwan.
Senyum mengembang khas anak kecil dikeluarkan Seungkwan. Kakinya ia gayung-gayungkan sambil menatap kedatangan tiga orang lainnya.
"Kwanie, Jihoonie. Perkenalkan, ini tiga anggota keluarga kita." Kata Jeonghan memperkenalkan Mingyu, Wonwoo, dan Seokmin.
"Mingyu Knight, Seokmin Guardian, dan Wonwoo The Important." Ucap Seungkwan.
Perkataan Seungkwan membuat beberapa orang kagum.
"Melihat dari apa yang kau katakan, kau ini pasti Oracle bukan?" Tanya Seokmin.
Seungkwan tersenyum lebar sambil menganggukan kepalanya.
"Berkat aku dan Jihoon hyung yang bertemu dengan Jeonghan hyung, aku sudah mendapatkan kekuatanku sepenuhnya." Kata Seungkwan.
"Seungkwan, bukankah lebih baik kau mengenalkan dirimu dulu?" Tanya Jihoon sambil meletakan beberapa cangkir keramik di meja.
Bersamaan dengan duduknya mereka semua disana, Jihoon menuangkan teh ke cangkir yang tertata di meja.
"Perkenalkan semuanya. Dulu namaku Seungkwan Fieve Honeyswan. Tapi sekarang namaku menjadi Seungkwan Lux Preator. Panggil saja aku Seungkwan. Aku 234 tahun, jadi aku adalah si bungsu." Kata Seungkwan dengan riangnya.
"Dan aku Jihoon. 384 tahun. Centerku adalah Center." Kata Jihoon sambil tersenyum.
"Aku Mingyu, Knight, 334 tahun."
"Aku Seokmin, 284 tahun. Aku Guardian."
"Perkenalkan, aku Wonwoo. 434 tahun. The Important."
"Senang bertemu dengan kalian semua. Oh ya Jeonghan hyung, bukankah saatnya ritual?" Ucap Jihoon.
Seluruh pasang mata kini menatap Jeonghan. Jeonghan menghela nafasnya pelan sambil mengangguk.
"Baiklah. Jihoon, dimana kita dapat melaksanakannya?" Tanya Jeonghan.
Jihoon tersenyum lalu berdiri.
"Ikuti aku…"
