Meskipun para dewa mungkin akan menghentikanku di tepi lautan yang lainnya

Ketika aku harus berdiri sendirian di medan perang yang jauh

Mimpi-mimpiku akan menjadi senjataku

Sementara luka yang aku bawa, akan menjadi medaliku

(鹿晗 - 勋章)

.

ALOHOMORA

.

HarryPotter!AU Fanfiction

.

WARNING : YAOI, Typo(s)

.

.

Happy Reading!

.

.

Chapter 10 : Medal

.

Baekhyun dan Kyungsoo menepuk bahu kawan mereka. "Selamat berjuang, Lu"

Kawan mereka yang bersurai merah muda itu menatap Baekhyun dan Kyungsoo bergantian. Setelah menganggukkan kepalanya dia melangkahkan kaki keluar dari kastil Kogwarts. Di tengah lapangan Kogwarts yang luas yang dikelilingi pepohonan berwarna oranye yang memulai berguguran, di bawah langit biru, dan ditemani angin semilir, namja itu berjalan mendekat ke arah seseorang yang sudah menantinya di sana.

Orang itu melemparkan senyuman simpul kepada Luhan. "Apa kau sudah siap?"

"Aku–" Luhan menatap orang itu, kemudian berbalik, menatap Baekhyun dan Kyungsoo yang sedang melambaikan tangan kepadanya. "–siap, profesor Heechul"

Heechul memberikan senyuman lagi. Kemudian matanya mengarah ke arah kastil Kogwarts yang berdiri kokoh di sana.

Angin membuat jubah yang mereka kenakan sedikit berkibar.

Seperti kobaran harapan dalam benak mereka.


Baekhyun memandang dengan malas tumpukan buku-buku di depannya. Biasanya jika mengerjakan tugas seperti ini, Luhan dan Kyungsoo akan menemaninya. Tapi karena Kyungsoo sedang asyik berduaan dengan anak Slytherin berkulit tan, dan Luhan sedang melakukan latihan pertahanan ekstra, mau tidak mau namja diva ini sendirian di perpustakaan seperti sekarang ini.

Kyungsoo, ugh, mereka belum jadian saja dia sudah melupakanku! Bagaimana kalau dia dan Jongin benar-benar menjadi sepasang kekasih?!

Baekhyun hanya kesepian. Dia tidak iri dengan Kyungsoo yang menemukan pasangan, sama sekali tidak. Lagipula kalau namja bermarga Byun ini memang iri, memangnya dia mau menjadi pasangan siapa?

Park Chanyeol?

UGH! KENAPA AKU HARUS MEMIKIRKAN YODA TELINGA ANEH YANG TINGGINYA KELEWAT BATAS DAN SANGAT MENYEBALKAN SEKALI SIH?!

Wah, pendeskripsian yang sangat detil, Byun Baekhyun.

"Memikirkanku?"

Andai Baekhyun tidak ingat dia berada di perpustakaan, bisa dipastikan objek yang mengagetinya akan menjadi objek lengkingan oktaf plus-plus miliknya. Jadi sebagai gantinya, namja bereyeliner itu hanya mengambil satu buku –yang kebetulan paling tebal– dan memukulkannya ke objek tersebut.

BUK.

"APAAN SIH KAU INI?! SAKIT TAHU!"

"SSSSTTTT!"

Park Chanyeol mau tidak mau langsung menutup mulutnya karena mendapat pandangan tajam dari seluruh siswa –dan penjaga perpustakaan. Sambil memandang tajam Baekhyun yang sedang mengeluarkan lidahnya untuk mengejek dirinya, Chanyeol mengelus-elus dahinya yang memerah karena buku tebal yang dipertemukan oleh Baekhyun.

"Makanya jangan menyebalkan"

Setelah mengatakan itu, siswa dari Gryffindor itu membereskan buku-bukunya, hendak mengembalikannya ke tempat semula. Chanyeol hanya mendengus dan mengikuti namja yang lebih pendek darinya itu di belakang.

Satu per satu buku sudah kembali ke tempatnya. Tinggal buku terakhir. Yang sialnya berada di rak baris tertinggi.

Baekhyun lupa bagaimana tadi dia bisa mengambilnya.

Oh, tadi dia kebetulan menemukannya di meja karena seorang siswa tidak mengembalikan ke tempatnya.

"Pft" di tengah usahanya berjinjit untuk meletakkan buku itu kembali, dia bisa mendengar suara tawa meremehkan tertahan. Tidak usah menoleh dia juga tahu suara berat ini milik siapa.

Dengan cemberut dia kembali berusaha, mengabaikan hinaan dari Chanyeol.

Sedangkan Chanyeol sendiri melipat kedua tangannya di depan dada, dan bersandar di salah satu rak. Melihat bagaimana lucunya namja bebek yang keras kepala ini.

Kalau saja bukan Chanyeol yang ada di dekatnya, misal saja itu Sehun, Jongin, atau namja tinggi lainnya, Baekhyun tidak akan segan-segan meminta –menyuruh– mereka yang meletakkan buku ini di tempatnya.

Tetapi karena ini Park Chanyeol, dia tidak akan sudi meminta tolong –menyuruh. Baekhyun pokoknya harus menunjukkan bahwa dia tidak butuh Chanyeol.

Entah apa alasannya.

Merasa kasihan karena sepuluh menit berlalu dengan sia-sia, Chanyeol maju dan mendorong buku itu hingga dia berada pas di tempat yang memang seharusnya.

Masih dengan posisi yang sama, Chanyeol di belakang Baekhyun, dan punggung Baekhyun bersinggungan –menempel– dengan tubuh Chanyeol, Baekhyun hanya bisa menunduk untuk menyembunyikan rona merah di pipinya karena, sial sekali Park yoda Chanyeol ini malah sok membantunya.

Meskipun Baekhyun sudah berusaha, nyatanya Chanyeol bisa melihat semburat kemerahan itu di pipi namja pendek di depannya. Dengan kekehan kecil namja yang lebih tinggi menggerakkan tangannya ke depan, dan tanpa perlu susah payah Baekhyun sudah berada dalam pelukannya.

"Kenapa kalau kau seperti ini, kau manis sekali?"

Baekhyun ingin sekali mengumpat, memaki, mengata-ngatai Chanyeol karena seenaknya tangannya yang panjang itu melingkupi lehernya –membuatnya sesak napas dan jantungnya berdebar tidak jelas–, tetapi tidak satu pun kata bisa keluar karena lidahnya terasa kelu.

Yang ada malah wajahnya semakin memerah.

Apalagi posisi seperti ini membuatnya merasakan kehangatan yang terlampau berlebihan.

Apalagi napas Chanyeol menerpa kepalanya, dan dia bisa merasakan elemen udara itu dengan jelas.

"Aku tidak tahu kau ada sesuatu dengan Chanyeol, Baek"

Chanyeol dan Baekhyun segera menoleh ke arah suara, mendapati namja bermata burung hantu sedang menatap mereka dengan senyum menyebalkan dan kedua alisnya yang dinaikkan. "Seingatku, baru kemarin malam kau meneriakiku, mengatakan Slytherin itu bukan tipemu"

Ya, itu Kyungsoo. Kyungsoo datang kemari setelah selesai memasak bersama Jongin –yang masih kukuh ingin diajari memasak– karena dia tahu Baekhyun pasti akan menggerutu kalau ditinggal sendirian. Tetapi, ternyata kawannya itu tidak sendirian. Malah asyik berpelukan di perpustakaan.

Sungguh menarik.

Sementara itu, entah mendapat keberanian dari mana –mungkin demi harga dirinya–, Baekhyun langsung membebaskan diri dari kungkungan Chanyeol. "A–Aku memang tidak ada apa-apa dengan dia!"

Setelahnya dia langsung bergegas pergi dari sana, meninggalkan Kyungsoo yang terkekeh dan Chanyeol yang mendengus kesal karena rasa hangat dan mendebarkan sekaligus menenangkan tadi tiba-tiba lenyap begitu saja.

Tubuh Baekhyun yang pendek itu pas sekali dengannya yang kelewat tinggi. Jadi tadi itu posisinya sudah nyaman. Sebelum Kyungsoo mengganggu. Dimana sih si Kkamjong?! Kenapa Satansoo satu ini bisa berkeliaran di bumi dan tidak di neraka?!

"Tidak usah kesal seperti itu" Chanyeol menoleh ke arah Kyungsoo. Namja yang hobi memasak itu melanjutkan, "Tapi heran juga, selama liburan kau sudah setiap hari ke rumahnya, kenapa Baekhyun masih menganggapmu virus ya?"

"Kan baru selama liburan, kau dan Kai sudah dari kecil juga masih ada jarak saja" Chanyeol membalas sambil membentuk seringaian mengejek di wajahnya.

Kyungsoo hanya bisa menahan kata-kata kasar yang ingin dia keluarkan untuk namja bertelinga aneh di depannya. Namun, sejurus kemudian dia tersenyum. "Berarti kau mengakui kalau kau tertarik dengan Baekhyun?"

Tepat sasaran.

Kini giliran Chanyeol yang hanya bisa bungkam.

"Wah, ini akan sangat menarik" Kyungsoo memasang pose angkuh. "Dua siswa Slytherin yang anti muggle, kini tergila-gila dengan darah kotor dan darah lumpur. Bukankah karma itu kejam?"

Chanyeol membuang muka, tidak mau satan di depannya melihat dengan jelas wajahnya yang sudah kalah telak.

Tidak tahan dengan kekehan Kyungsoo, namja tinggi itu ikut pergi dari sana.

Memang benar kata Jongin, Kyungsoo adalah epitome dari setan.


"Berdirilah lagi"

Suara tegas itu mau tidak mau memaksa namja berambut pink untuk bangkit berdiri. Mengesampingkan beberapa luka ringan yang ada di tubuhnya.

Baru beberapa jam, dan dia sudah berkali-kali gagal menghindari sihir maupun merapalkan mantra dengan kuat untuk melawan profesor Heechul.

Heechul memandang siswanya dengan serius. "Bukankah profesor-profesor lain sudah memberi tahu dirimu?"

"Jika seorang penyihir merapalkan mantra kepadamu–" namja yang lebih tua mengacungkan tongkat sihir –lagi– ke depan wajah Luhan. "–pilihannya hanyalah menangkisnya dengan merapalkan mantra lain, atau menghindar dengan cepat"

Luhan ingat. Tentu dia sangat mengingat hal itu. Itu adalah pelajaran dasar yang dia terima di tahun pertama.

Profesor Heechul melangkahkan kakinya mendekat, membuat ujung tongkat sihirnya menyentuh ujung hidung Luhan. "Kau tidak terlalu bisa menghindar dengan cepat"

Namja itu menggigit bibirnya. Profesor Heechul benar. Dia tidak bisa menghindar dengan cepat. Tetapi itu merupakan hal yang wajar. Hanya sedikit sekali orang atau bisa dikatakan hanya orang yang beruntunglah yang bisa dengan cepat menghindar dari aliran sihir yang keluar secepat kilat setelah mantra dirapalkan.

"Berarti satu-satunya cara hanyalah kau harus bisa menangkis mantra yang ditargetkan untukmu dengan mantra lain"

"Sayangnya kau masih belum terlalu percaya kau bisa melakukannya. Padahal kunci utama dalam menggunakan sihir adalah keyakinan" lanjut Heechul, mengutarakan penilaiannya setelah beberapa jam ini mengajak Luhan berduel.

Namja berusia 12 tahun itu menunduk. Semua yang dikatakan gurunya adalah benar. Dia memang masih tidak yakin dia bisa menjadi penyihir yang hebat.

Melihat wajah lesu muridnya, profesor Heechul meletakkan satu tangannya di bahu namja itu. "Apa alasanmu mau bersekolah di Kogwarts?"

Luhan menatap manik gurunya. "A–Aku menyukainya. Aku suka merasakan dunia yang belum pernah aku rasakan. Aku suka mendapat pengalaman baru"

"Bagaimana dengan dirimu dan sihir?"

Luhan menunduk, jari telunjuknya saling bergulat. "A–Aku ingin menjadi penyihir hebat seperti para penyihir legendaris"

"Lalu apa yang menjadi masalahmu?"

Siswa Gryffindor itu semakin menundukkan kepalanya. "Aku ... hanya muggle"

Profesor Heechul mengeluarkan kekehan. "Sepertinya kau harus minta pertanggungjawaban kepada Sehun"

Luhan mengangkat kepalanya, memandang gurunya dengan heran.

"Karena dia sudah membuatmu terlalu terikat dengan titel muggle" jawab Heechul untuk menghilangkan raut bertanya Luhan.

Heechul duduk di rerumputan, dan menepuk bagian di sampingnya, tanda agar Luhan duduk di sana. Dengan perlahan namja bermata rusa itu duduk di tempat yang ditunjuk oleh Heechul.

Heechul memandang langit biru di atasnya. "Menjadi penyihir hebat atau tidak, tidak ditentukan oleh darahmu. Itu ditentukan oleh usahamu"

Angin melewati mereka, memainkan anak-anak rambut berwarna merah muda milik Luhan dan helaian rambut panjang Heechul.

"Aku pernah mengenal seorang muggle yang sangat kuremehkan" Heechul mengawang-awang menembus awan putih yang berarak di langit biru yang ia tatap. "Dia muggle, dia tidak berasal dari Korea, dan dia berasal dari keluarga yang sangat sederhana"

Heechul tersenyum membayangkan orang yang sedang dia bicarakan itu. "Kogwarts adalah tempat insan-insan yang ditakdirkan menjadi penyihir kelas atas. Dan menurutku semua muggle tidak pantas berada di Kogwarts. Apalagi muggle satu itu"

"Dia suka sekali menyampurkan sihir dengan hal ilmiah di dunia muggle. Seperti gaya gravitasi, tekanan, Archimedes ... sungguh menyebalkan. Tidakkah dia mengerti semua itu bisa disangkal dengan sihir? Hal itu membuatku semakin jengah dengan dirinya dan merasa bahwa dia terlalu muggle untuk bisa menjadi penyihir hebat"

Luhan memejamkan mata, merasakan angin yang kembali berhembus. Cerita profesor Heechul benar-benar menarik. Dia ingin mendengar akhirnya. Siapa yang dimaksud profesor Heechul? Apakah sekarang dia menjadi penyihir legendaris?

Heechul menghembuskan napas, memandang sekilas wajah damai Luhan sebelum melanjutkan ceritanya. Cerita nostalgianya.

"Tapi dia berhasil menguasai sihir dengan sangat baik. Dan entah bagaimana pengetahuan mugglenya tentang hukum-hukum tidak penting itu membantunya dalam berinovasi menciptakan mantra-mantra atau ramuan yang unik" Heechul terkekeh, mengingat bagaimana dia sangat kesal karena subjek pembicaraannya ini berhasil membuat mantra dan ramuan. "Dia mungkin tidak masuk dalam penyihir legendaris karena sihir atau inovasinya tidak terlalu hebat untuk dunia sihir, tetapi bisa membuat mantra atau ramuan, itu hal yang sulit dilakukan"

Luhan membuka matanya. Menatap gurunya yang sedang bercerita dengan pandangan penuh kekaguman.

Orang seperti apa yang bisa membuat profesor Heechul kagum seperti ini?

"Namun yang membuatnya hebat sebenarnya–" Heechul menoleh, membuat pandangan mereka bertautan. "–adalah dia merelakan nyawanya demi membela kebenaran. Demi melindungi orang-orang yang dia sayangi ... meski itu sendirian"

Siswa itu memandang Heechul, meminta penjelasan lebih.

Heechul tersenyum kecil. "Dan karena itulah, aku akan melindungi apa yang dia lindungi"

Ya, aku akan melindungi apa yang Hangeng lindungi.

"Aku akan menunjukkan kekagumanku, sekaligus sebagai permintaan maaf telah meremehkannya dan tidak berbuat baik kepadanya selama ini, dengan melindungi apa yang dia titipkan kepadaku"

Hangeng mempecayakanmu padaku.

"Karena itu berusahalah, dan yakinlah kalau kau bisa melakukannya"

Aku akan melindungimu, Luhan.


Kyungsoo baru saja keluar dari kamar mandi terdekat dari aula utama ketika dua orang dengan jubah Slytherin dengan sengaja sekali masuk sembari menyenggol bahunya dengan keras.

Namja bermata burung hantu itu tidak suka ribut, jadi tidak seperti Baekhyun yang akan langsung memaki siapapun yang mengganggunya, namja itu hanya menoleh dan memandang kesal mereka berdua.

Sementara kedua siswa Slytherin yang ditatap seperti itu hanya tertawa mengejek.

Kyungsoo hendak melanjutkan kembali keinginannya untuk berbalik ke aula utama sebelum suara itu tertangkap indra pendengarannya. "Apa kau tahu siswa bernama Do Kyungsoo lahir dari Ayah dan Ibu yang berasal dari Slytherin?"

Mendengar hal yang menyangkut dengan dirinya, Kyungsoo secara alami menghentikan langkahnya.

"Oh, tentu aku tahu, ckckck, dia adalah kegagalan bukan? Orangtuanya pasti malu sekali saat anaknya memasuki Gryffindor"

Bibir yang membentuk hati jika tersenyum itu kini tertahan oleh gigi-gigi dengan erat.

"Ya, mau bagaimana. Mana ada siswa Slytherin yang hobi memasak. Seperti yeoja saja"

Slytherin akan memasuki Slytherin dan bersikap seperti Slytherin, dan itu adalah kebanggaan. Kyungsoo benci prinsip itu.

"Hahaha, kegagalan berturut-turut. Aku kasihan dengan tuan dan nyonya Do"

Tangan itu mengepal dengan erat.

Tanpa membalikkan badan, namja itu mengeluarkan senyuman meremehkan. "Toilet ini bahkan lebih bersih daripada mulut kalian berdua"

Kedua siswa Slytherin itu menatap punggung Kyungsoo dengan tidak suka. Yang satu segera menarik bahu Kyungsoo agar menghadap ke arah mereka, membuat namja itu sedikit goyah, tapi dengan cepat Kyungsoo menyesuaikan diri sehingga dia bisa memutar tanpa terjatuh.

"Kenapa?" kini mereka bisa melihat Kyungsoo yang semakin tersenyum mengejek. "Apa kalian iri karena orangtuaku adalah orang yang dihormati di dunia sihir?"

"Sebagai anak yang meleset jauh dari ekspektasi, kau sombong sekali, ya"

Kyungsoo menggendikkan bahu. "Aku punya hak untuk menjadi sombong"

Anak-anak itu semakin menatap Kyungsoo dengan tidak suka, namun Kyungsoo balas menatap mereka dengan pandangan menghina. "Aku berasal dari keluarga Do yang terhormat, aku memiliki kemampuan sihir di atas kalian, dan yang terpenting aku memasuki Gryffindor, asrama terbaik yang ada di dunia sihir"

"KAU–"

Salah satu siswa yang sudah terbakar emosi mengeluarkan tongkat sihirnya dan mengarahkannya ke arah Kyungsoo, Kyungsoo juga tak gentar. Dia dengan gesit mengarahkan tongkatnya ke siswa itu.

"Conjuncti"

"Expelliarmus!"

Kyungsoo membelalakkan matanya melihat tongkat milik lawannya terseret jauh begitu saja. Dia tadi terlambat mengucapkan mantra, jadi bisa dipastikan seharusnya matanya bermasalah jika mantra itu benar-benar mengenai dirinya.

Namja itu mengarahkan pandangannya ke orang yang baru saja menyelamatkannya.

Dan itu tidak membantunya, malah membuatnya semakin terkejut.

Sejak kapan dia ada di sini?

"Kurasa kalian harus menarik kata-kata kalian kembali" suara itu terdengar sangat serius dan mematikan. "Aku juga suka memasak ... apakah kalian mau menyebutku kegagalan bagi keluarga Kim juga?"

"Jo–Jongin" salah seorang yang lain dengan lirih menyebutkan nama orang itu. Dengan menunduk dia menarik kawannya –yang juga tiba-tiba kaku, mengambil tongkat itu, dan secepatnya pergi dari sana.

Suasana hening sejenak. Hanya ada tetesan air dari keran yang belum mereka tutup secara sempurna. Jongin berjalan mendekati wastafel dan mengencangkan putarannya, agar tetesan air itu berhenti.

Dari cermin di depannya dia melihat Kyungsoo yang masih saja diam dan menatap lantai dengan kesal sekaligus ... sedih.

Sebagai anak dari keluarga yang dekat dengan keluarga Do, Jongin tentu tahu bahwa di kalangan petinggi dunia sihir, tuan dan nyonya Do sering dibicarakan karena kendati mereka berdua berasal dari Slytherin, entah bagaimana Kyungsoo memasuki Gryffindor.

Meski tuan dan nyonya Do tidak mempermasalahkan dan tetap menyayangi Kyungsoo tanpa cacat, tidak di dunia muggle, tidak di dunia sihir, akan ada pihak-pihak lain yang mempemasalahkannya.

Jongin, Chanyeol, Sehun, dan Joonmyeon, sebagai orang-orang yang sudah mengenal Kyungsoo sejak kecil, tidak pernah merasakannya. Ayah Jongin, Sehun, dan Chanyeol berasal dari Slytherin dan Ibu Jongin berasal dari Hufflepuff, Ibu Sehun berasal dari Gryffindor, dan Ibu Chanyeol berasal dari Ravenclaw. Sementara kedua orangtua Joonmyeon memang berasal dari Gryffindor, sehingga pertanyaan semacam Kenapa dia bisa berbeda dari Ayah dan Ibunya? tidak pernah diberikan kepada mereka.

Tidak seperti Kyungsoo yang selalu mendengar pertanyaan dengan niat dirahasiakan tetapi diutarakan dengan keras oleh orang-orang yang terlalu ikut campur.

Bahkan mereka memberinya label sebagai anak yang gagal.

Bukankah itu terlampau kejam?

Namja berkulit tan itu mendekati namja yang masih betah berdiam diri di tempatnya, seakan kakinya telah mendapat mantra untuk mengeras seperti batu.

Siswa Slytherin itu mengusap rambut Kyungsoo dengan perlahan.

Mendapat kontak langsung, reseptor di tubuh Kyungsoo segera mengirim sinyal ke otak, membuatnya tersadar. Dan langsung menoleh ke arah Jongin yang masih mengelus kepalanya dengan senyuman manis.

"Kau bukan kegagalan" namja itu berbicara dengan lembut tanpa ada yang meminta. "Tidak ada kegagalan yang bisa membuatku ingin pingsan setelah memakan makanannya"

Mata bulat itu memandang iris di depannya dengan lekat. Mencari, entah apa, yang bisa membuatnya yakin.

Dan dia mendapatkannya.

Sebuah keyakinan.

Kyungsoo jarang menangis. Bahkan dia tidak pernah menangis. Menurutnya menangis itu hal terbodoh dan terabsurd yang pernah ada.

Karena ... apa yang memangis bisa lakukan? Apa keuntungannya?

Mereka bilang kita akan lega ... tapi seusai menangis, jika masalah atau kesedihan itu masih ada, benarkah kita lega?

Tidak.

Menangis bukanlah jawaban. Menangis hanyalah pelarian rasa sedih sebelum kita benar-benar menyelesaikannya.

Namun, bagaimanapun juga, Do Kyungsoo adalah seorang makhluk hidup yang memiliki perasaan juga.

Yang bisa lelah. Yang bisa muak. Yang bisa sedih jika masa lalu kelam yang sudah lama tidak ia dengar, diperdengarkan kembali untuknya dengan paksa.

Jadi boleh kan, dia menangis kali ini saja, karena seseorang yang mengetahui masalahnya –yang bahkan tidak berani ia ceritakan ke Baekhyun atau Luhan yang dia anggap dekat karena tidak mau Baekhyun dan Luhan terlibat–, membelanya?

"Tentu saja kau pingsan" mata bulat itu tertutup, Kyungsoo terkekeh, meski bulir-bulir air mata bodoh itu tidak mau dibendung lagi. "Setelah makan, aku kan memukulmu karena kau pasti memakan makanan itu dengan mencurinya terlebih dahulu"

Jongin ikut tertawa kecil, kedua ibu jarinya berpindah dari surai Kyungsoo dan menjadi wadah bagi bulir-bulir tidak tahu diri itu, lalu mengusapnya ke samping, menghilangkannya sebelum dia mengalir jauh ke pipi atau dagu Kyungsoo seperti bulir-bulir sebelumnya.

"Ya, atau kau membiarkanku makan karena sebelumnya kau sudah memberi ramuan untuk pingsan, bahkan mungkin pingsan selamanya"

Kyungsoo tertawa keras, masih dengan air mata yang mengalir. "Itu ide bagus. Aku tidak pernah terpikir melakukannya"

"Kuharap kau tidak melakukannya, karena, siapa yang akan menjadi muridmu nanti kalau aku tidak ada?" tanya namja yang lebih tinggi, bermain-main.

Kyungsoo mendelik, tidak peduli dia baru saja menangis. "Maaf, ya, tuan Kim Jongin, kau memaksa menjadi muridku. Bukannya aku yang menginginkanmu"

"Ya, ya, ya" Jongin menyerah. "Apapun kata Satansoo adalah sabda yang tersahih"

Mendengar ejekan Jongin, Kyungsoo langsung mengarahkan tongkatnya ke arah namja berkulit tan itu. Jongin memandang Kyungsoo dengan ngeri. "Yak! Yak! Beginikah caramu membalas kebaikanku?!"

Kyungsoo menyeringai. "Aku tidak pernah meminta kau berbuat baik–"

"–Lagipula kalau kau tulus, kau tidak akan berharap aku membalasnya. Hoho"

Dan kemudian itulah bagaimana Jongin dan Kyungsoo berlari-larian di sepanjang kastil Kogwarts.

Dengan teriakan kesal Jongin dan tawa Kyungsoo yang menggema.

Melupakan makan malam di aula utama.

Karena siapa di antara mereka yang akan peduli dengan makan malam di aula utama Kogwarts jika kemudian mereka berdua memakan masakan Kyungsoo di depan pintu gubuk, dengan memandangi bintang-bintang di langit malam?


Butiran hasil kristalisasi terus menerus dimuntahkan oleh langit ke dunia sihir. Butiran kristal yang menumpuk di seluruh objek yang dia kenai itu sudah seperti jamur, menutupi lapangan, atap, dan juga pepohonan Kogwarts. Hanya saja, jamur ini berwarna putih dan merupakan elemen abiotik.

Di menara lonceng, dua orang melihat ke arah lapangan, dimana terlihat dua orang sedang berlatih sihir, tanpa mempedulikan rendahnya suhu.

"Sudah beberapa waktu ... apa kau pikir dia sudah lebih kuat?"

Rekan yang diajak berbicara mengesampingkan majalah muggle yang berisi katalog tas khusus prianya, dan ikut memandang dua orang yang kini saling melemparkan mantra –terlihat dari adanya kilatan sinar di antara keduanya.

"Belum cukup untuk melawan, tetapi, ya, dia lebih kuat daripada sebelumnya" mata panda itu mengalihkan tatapan dinginnya kembali ke arah majalah yang dia pegang. "Mungkin jika ini terus berlanjut, dia bisa lebih kuat daripada aku, bahkan dirimu"

Namja berambut pirang itu memasukkan kedua tangannya ke dalam celananya. Mata tajamnya dengan serius melihat ke arah namja berambut merah muda yang ada di bawah.

"Aku tidak yakin dia akan senang mendengar hal ini"

Namja berambut hitam legam itu menutup majalahnya, tiba-tiba merasa tidak tertarik lagi dengan segala item gucci yang terpampang di sana. Pertanyaan dari namja tinggi itu mengganggunya juga.

"Siapa saja di dunia ini tentu tidak akan senang mengetahui musuhnya bertambah kuat, ge" namja itu menatap objek bersurai pink itu dengan dingin, lagi. "Tapi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kita, maksudku kau, kau pasti bisa melaksanakan tugasmu"

Kris menatap Tao sekilas, sebelum kembali memandang ke arah lapangan karena seseorang membuat ledakan di sana.

Luhan.


Namja yang sudah nyaris berusia kepala lima itu membuka sebuah ruangan yang tidak pernah dia gunakan sebelumnya.

Pria itu melangkahkan kakinya memasuki sebuah kamar yang lantainya mulai berdebu itu. Berisi sebuah lemari yang juga sudah ditemani debu dan sarang laba-laba.

Bapak itu mendekatkan diri ke lemari besar yang ada di sana, dan kedua tangannya menggenggam kedua gagang lemari, lalu membukanya.

Menampilkan beberapa barang antik dengan corak unik, yang sangat jelas sekali bukan corak khas Korea.

"Kenapa kau ada di sini?" sebuah suara lembut meggetarkan rumah siput di telinganya, membuat namja itu menoleh ke arah istrinya di ambang pintu.

"Kau selalu marah jika ada yang berani mendekat kemari" istrinya menatap seluruh sudut ruangan yang sudah tujuh tahun lamanya terbengkalai ini. "Bahkan kau meminta arsitek kita merancang dinding palsu tipuan agar Luhan tidak pernah tahu ruangan ini pernah ada"

Laki-laki itu mengeluarkan sebuah boks, yang berisi surat coklat yang sudah usang. Dia membuka surat itu. Membacanya dengan hati-hati.

KOGWARTS SCHOOL of WITCHCRAFT and WIZARDRY

SOUTH KOREAN BRANCH OF HOGWARTS

Kepala Sekolah: Yoochun

Dear Mr Lu Cha

Dengan senang hati kami memberitahukan bahwa Anda telah diterima pada sekolah sihir Kogwarts. Dimohon untuk memenuhi semua buku dan peralatan yang diperlukan sesuai daftar terlampir yang ada.

Semester dimulai pada 1 September. Kami menunggu burung hantu Anda selambat-lambatnya tanggal 31 Juli.

Dengan Hormat,

Changmin

Wakil Kepala Sekolah

"Keluargaku selama lebih dari satu abad menghindari semua ini, bahkan Baba membawaku pindah ke Korea karena menghindari hal ini" pria itu kemudian mengeluarkan dompetnya, menatap sebuah foto dimana seorang anak berambut merah muda sedang tersenyum karena menikmati es krim yang dia makan.

Anak semata wayangnya, Luhan.

Istrinya mendekat, ikut bersimpuh di samping suaminya. Menatap foto anak mereka yang sangat mereka sayangi. "Tetapi sekeras apapun menghindari takdir, pada akhirnya kita tetap tidak bisa melepaskan belenggunya, bukan?"

Pria itu mendesah pelan. "Kalau saja aku tidak sependapat dengan Baba, mungkin bukan Luhan yang akan terlibat kembali dengan hal berbau sihir seperti ini"

Wanita berumur empat puluhan itu tahu benar suaminya sedang menyalahkan dirinya sendiri karena membuat anak kesayangan mereka terlibat dengan apa yang keluarga mereka sudah hindari selama satu abad lebih. Wanita itu memeluk suaminya.

"Tapi mungkin kau tidak akan bertemu denganku bukan? Dan mungkin Luhan yang kita sayangi itu tidak pernah ditakdirkan ada karena garis takdir sudah berubah jika kau yang terlibat dengan sihir"

Suaminya tersenyum kecil. Merasa bersyukur menikahi seorang wanita yang bisa menenangkan hatinya seperti ini. Merasa bersyukur jika mengingat selama ini anaknya baik-baik saja di sana.

"Aku hanya khawatir" pria itu menatap kembali foto anaknya. "Sesuatu yang berhubungan dengan sihir tidaklah pernah berakhir baik bagi kita, karena keberadaan generasi pertama kita saja sudah merupakan hal yang tak lazim"

Istrinya mendengar dengan baik apa yang dicurahkan oleh suaminya.

"Aku hanya berpikir ... kalau memang hal tidak baik terjadi, bukankah lebih baik itu terjadi padaku yang tidak se–" pria itu menggantungkan kalimatnya.

Istrinya tersenyum kecil. Mengerti apa yang hendak dikatakan suaminya.

"Tidak serapuh Luhan, kan?" melihat pria itu hanya menunduk, istrinya mengambil dompet itu, mengeluarkan foto Luhan dari dompet itu.

"Aku pernah mendengar kekuatan keyakinan mengalahkan segalanya" wanita itu menautkan kedua jemarinya, mendekam foto kecil tersebut dalam lipatan tangannya.

Matanya memejam, kepalanya menunduk, seperti sedang berdoa. Bedanya, dia sedang tidak berdoa. Melainkan menyalurkan keyakinannya ke Luhan lewat foto tersebut.

"Bukankah dia anak kebanggaan kita?"

Pria itu menggenggam kedua tangan istrinya yang masih saling mengepal. "Ya, dia anak kita"

Mengabaikan surat yang tadi dia genggam. Sebuah surat undangan Kogwarts untuk dirinya, di masa mudanya.

Keduanya kemudian menutup kembali lemari itu, mengunci ruangan tersembunyi ini, dan menutupinya kembali.

Mereka berharap tidak akan ada hal buruk yang terjadi–

–tetapi tanpa mereka tahu, hal buruk sudah di awal terjadi pada Luhan.

.

To Be Continued

Thanks for Reading

.


Guys, tolong percaya sama Hunhan ya T^T

Kalau kalian penasaran kenapa saya tiba-tiba berkata seperti ini, ini semua hanya karena saya masih dalam euforia super senang bahagia karena YUNJAE AKHIRNYA KETEMU! Dan MEREKA PELUKAN! NGOBROL! WOAH! SAYA SAMPAI NYARIS TERIAK DI PERPUSTAKAAN KAMPUS, BRUH, pas awal berita itu keluar.

Butuh waktu 6 tahun buat mereka bisa berinteraksi secara buka-bukaan setelah mereka berpisah. Dan aku pingin kita para Hunhan shipper bersabar menunggu bahkan jika itu memakan waktu lebih dari 6 tahun. Kita masih ada harapan karena LayHan aja masih ada dengan jelas, Tao juga bilang dia masih kontakan sama Luhan. Sedangkan dulu Yunjae ... dulu Yunjae ... begitulah.

For me, 6 years or more, will always be worth waiting since it's Hunhan.

Tapi ngga bisa memungkiri sih aku suka galau gaje karena Hunhan. Temen-temen tuh galaunya galau hubungan mereka atau karena jomblo, aku doang yang nggalauin hubungan orang lain QwQ DAN SAKING KANGEN HUNHAN YA, aku baca Hanzi lagunya Luhan yang "Xun Zhang (Medal)" jadi "Shi Xun (Se Hun)" karena Hanzi Xun di Xun Zhang sama kayak Hanzi nya Xun di Shi Xun TwT delusion in selusion emang ini mah

Btw ini lagunya Luhan sesuai banget sama chapter ini. Baik dari segi kisah hidup Luhan yang tidak yakin, Hangeng yang diremehkan sama Heechul, maupun Kyungsoo yang meskipun darah murni juga memiliki masalah.

Dan aku ngga tahu nama bapaknya Luhan siapa. Tapi karena Luhan marganya Lu, jadi Lu Cha aja, versi cadelnya kata "rusa", mwahahahaahahahahahahaha.

Dan oh ya, Yoochun sama Changmin di sini beda angkatan sama YunJae ya. Kalau YunJae sepantaran lah ama baba Luhan. Jadi ketika Yunjae siswa Kogwarts, emang si Yoochun sama Changmin udah bapak-bapak. Kalau sekarang mungkin kakek-kakek kayak Dumbledore atau udah ngga ada. Ya begitulah deh.

Jawaban pertanyaan :

SEMUANYA RAHASIA #ditampar

- Xiao Lu yang bikin tongkat Cervorum? Luhan titisan/reinkarnasi Xiao Lu? - jawabnya ada di ujung langit~ #nyanyiOSTDragonBall yang jelas Luhan 100% muggle kok. Jangan lupa yang menentukan muggle atau enggak adalah orangtua penyihir atau enggak lho ya, hohoho
- Sejauh ini Baba Mama Luhan tahunya Luhan aman-aman saja~
- Sehun baru tahap curiga sama Kris ... karena Sehun kan belum punya bukti yang kuat kalau Kris dibalik kah atau tidak kah dari semua ini
- Luhan itu bisa sihir sebenernya (dia kemarin nyiram Sehun, eh, nyiram api naga pake sihir kan, terus juga nyerang topeng kucing di gua itu pake sihir), cuma kepercayaan dirinya kurang aja gitu hohoho. Ini salah Sehun *dibakar Sehun*
- Baba Mama Luhan itu Baba Mama kandung kok, percayalah! Percayalah! (semacam promosi ya)
- 15 tahun lalu itu meninggalnya hantu Yoona, bukan awal mula semuanya terjadi. Awal mula semua terjadi ketika ... (sebagian teks hilang)


Special

Don't be afraid my fellow shippers!

Aku mungkin ngga bisa memenuhi ekspetasi update lancar karena mencari masalah buat skripsi itu bermasalah... tapi aku berani janji FF ini dan FF-ku yang lain (First and Second udah update btw) TIDAK AKAN PERNAH DISCONTINUED. Setiap chapter sampai chapter terakhir udah aku tulisin kok poin-poinnya, tinggal ngembangin kerangka itu. Jadi jangan khawatir, aku sendiri ngga suka ff discontinued.

Dan karena vyincapella minta, ini AIDI LAIN (diilangin ama situs ini nih kalau nulis yang bener) : vandatfa, barang kali ada yang mau seperti fururu fuyu yang rajin ngingetin update X'D Dan sebenernya semua medsos saya (fb, askfm, dll) itu bernama vandatfa atau Vanda Tfa atau semacamnya ... jadi gampang bagi kalian untuk menemukan saya X'D


SEKALI LAGI MAKASIH BUAT REVIEWER, FOLLOWER, DAN FAVORITER FF NEWBIE YANG GAJE, TELATAN, DAN BANYAK TYPO INI!

And ... thank you very much for your reviews; praises; thanks; supports; and thoughts, my reviewers!

XD (itu Chanbaek udah peluk-memeluk, Kaisoo udah hibur-menghibur)| exostbabyz (merakit pc? Woah. Aku bongkar pasang kipas angin aja masih bingung X'D )| DEERHUN794 (cium-cium bagian lainnya nanti ya hoho) | Kyuminjoong (X'D btw YANG DI PROMISES INI MAKIN EMESH MUKANYA)| hunna1220 (makasih~! Ini lanjut)| 2103 | gimme | aesthic | fururu fuyu (mwehehe ngga papa curcol, aku juga sering curcol di catatan author X'D iya dia yang sering aku tulis ada dia si pemimpin penjahat sama dia yang jadi penyusup hohoho, tapi toh dua-duanya juga rahasia, hohoho)| Bottom-Lu (makasih~!)| bru nmu | hanhyewon357 (makasih~!)| Ludeer (iya maafkan daku ya harus hiatus hiks)| Alohamora | Oh Luhan | BigSehun'sjunior (iya yang di Indonesia namanya Indonegwarts X'D)| Potterhead | baru baca males login - zytsx wakak (selamat datang~! makasih~!)| hunhan | juniaangel58 | WindaYusw | Balqis | luhen | guest (translate bahasa Jepang - Indonesia hehe)| HunHanCherry1220 (selamat penasaran hoho)| deerhanhuniie (masih SMP kelas 1-an sih TwT)| watashiwaoi (KRIS VERSI BOTAK TAPI ALIS TEBEL ANGRY BIRD ITU BIKIN NGAKAK SUMPAH. APALAGI EKSPRESINYA DIA NGGA PERNAH NYANTE DAN KOCAK BANGET. NGAKAK AKU LIHAT GIF-GIFNYA DIA)| Lee Ha Ni (makasih~!)| herzana00kurnia (masih penasaran kah X'D ?)| tnp nma | deerwinds947 (tapi di chapter ini engga ada hunhan TwT *yang bikin siapa sih*)| munakyumin137 (karena fokus ke konflik juga, dan iya masih 12 tahun juga, jadi dikit QwQ maaf)| DeathSugar (makasih~! Iya dari lahir, keturunan nyonya Byun sih hohoho makasih lho lambaian kolornya X'D)| lolamoet (selain karena masih 12 tahun, memang biar pada histeris karena ternyata nempelin bibirnya di pipi hoho)| pooarie3 (masalah Luhan adalah dia terlalu imut X'3)| gagagag | asdfghjkl | nananana (iya saya multi-fandom)| Uchiharuno Rozu | kxmbab (makasih~!)| vyincapella (makasih~!)| ForVictoRi90 (boleh itu ramuan dipake X'D)| Y (makasih banyak X3)| Bubblebee (selamat datang~! makasih banyak n(_ _)n request ff hunhan gimana? udah ada First and Second, kalau berkenan bisa lihat. Dan setelah Alohomora selesai memang rencana mau bikin fic xxx!AU lainnya hehe)| SebutLuhan3x (Luhan, Luhan, Luhan)

Dan semua reviewer/PMer/chatter(?) yang mengingatkan saya untuk update, you're the real MVP!

Full Hunhan,

See ya~~~

Last,

Review?