"Namaku adalah Tsunayoshi Sawada—Sky Guardian sekaligus Vongola Decimo," mengaktifkan cincin Vongola miliknya untuk menunjukkan glove yang mirip dengan milik Giotto hanya huruf I yang berubah menjadi X, "kami berasal dari masa depan…"
…
"Huh?"
Giotto menatap Tsuna, begitu juga dengan semua Primo Guardian yang menatap anak angkat mereka. Tsuna menutup matanya—tidak aneh melihat keterkejutan dari Giotto dan juga yang lainnya.
"Generasi ke sepuluh—Vongola bertahan hingga selama itu?"
"Maa—bukan itu masalah yang harus kita ketahui terlebih dahulu bukan?" Ugetsu mencoba untuk tenang, namun semuanya juga bisa melihat raut wajah bingung dan juga panik dari wajah Ugetsu.
"Apakah kalian yakin kalau kau akan percaya begitu saja dengan apa yang kalian—bocah 5 dan 6 tahun katakan?" Lampo menatap Tsuna yang tampak masih tenang, menutup matanya sejenak sebelum membukanya.
"Aku tidak memaksa kalian—karena aku tahu, ini semua tidak masuk akal—tetapi yang melakukan semua ini…"
"Kami yang melakukan semua ini—" suara itu, yang berat dan juga sangat dingin itu terdengar. Membuat semua yang ada di sana menoleh untuk menemukan dua orang Vendice yang dikenal sebagai Bermuda dan juga Jager muncul.
Title :Our True Fate
Rated :T
Genre :Friendship / Family
Disclaimed :
Our True Fate © Ciocarlie
KHR © Katekyo Hitman Reborn
—
Chapter 11, Fever Day
—
"Vendice, kenapa mereka ada disini!" Giotto dan juga yang lainnya segera bersiaga dan mencoba untuk melindungi para Guardian Decimo.
"Tenang saja Giotto-kun, aku kemari bukan untuk mencari gara-gara denganmu—"
"Akhirnya kau muncul juga Bermuda—" Tsuna berjalan dan mendekati Arcobaleno Vendice itu. Tidak ada ketakutan yang terpancar di wajahnya saat itu, "—aku butuh penjelasan dengan apa yang kalian lakukan pada kami…"
"Tsuna—" Giotto mencoba untuk menghentikan Tsuna sebelum ia menemukan tatapan Tsuna yang tampak dingin dan juga kosong.
"Sepertinya—orang yang cocok untuk kau tanyai adalah Cloud Guardianmu sendiri Decimo-kun," Tsuna mengerutkan alisnya dan menoleh kearah Kyouya yang hanya diam dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku tidak memiliki kewajiban untuk mengatakannya pada kalian—"
…
"Kalau begitu kukatakan satu hal—kami tidak melakukan kesalahan, begitu juga dengan kalian," Vendice menatap Tsuna dan juga Giotto, "masa lalu kalian berdua—dan juga darah yang mengalir di dalam tubuh kalian. Itulah yang menjadi kunci untuk menjawab pertanyaanmu…"
Sekali lagi Vendice melihat Hibari, dan juga Gokudera, serta Alaude—
"Walaupun beberapa dari kalian tampaknya sudah mendapatkan jawabannya meski masih ragu…" Gokudera yang mengerti apa yang dikatakan oleh Bermuda tampak hanya bisa diam dan mengalihkan pandangannya, "Hyper Intuitionmu sudah mengatakannya bukan Giotto-kun, kalau Sawada Tsunayoshi—adalah anak kandungmu…"
…
Giotto tidak bisa mengatakan apapun—dalam perjalanannya menuju ke kamar Tsuna bersama yang bersangkutan, keduanya hanya diam dan tidak mengatakan apapun. Tetapi keheningan itu terpecah karena Giotto yang tampaknya tidak kuat untuk menahan dirinya bertanya pada Tsuna.
"Tsuna—apakah kau mau menceritakan siapa dan bagaimana ibumu?"
…
"Kenapa papa mengatakan hal itu—" Tsuna yang tidak berubah menjadi HDWM lagi hanya memiringkan kepalanya dan tampak terlihat sangat lucu dengan postur seperti itu, "—mama adalah orang yang paling cantik yang pernah So—Tsuna temui. Rambut mama panjang dan berwarna cokelat seperti Tsuna. Dan—"
'Setelah flame di kepalanya menghilang, Tsuna kembali menganggap dirinya Sora dan melupakan semua yang dikatakan olehnya saat itu…'
"Papa?" Giotto tersadar dari lamunannya dan menatap kearah Tsuna yang tampak menatapnya, "—Tsuna tahu kalau papa tidak percaya dengan Tsuna, tetapi—apakah papa menyayangi Tsuna? Walaupun Tsuna tidak bisa menjadi Sora?"
"Tentu saja Tsuna—"
"Jadi, papa tidak akan marah lagi pada Tsuna?" menatap ragu pada Giotto yang ada di sampingnya. Bahkan Giotto sudah melupakan kalau keadaan mereka berdua sebelum ini cukup memburuk. Pemikirannya sekarang sepertinya sedikit teralihkan.
"Papa tidak pernah marah padamu—maaf karena sudah menjatuhkan kue yang kau belikan Tsuna," menepuk kepala Tsuna sebelum mendapatkan balasan senyuman dari Tsuna. Matanya tertuju pada wajah Giotto saat itu, "ada apa Tsuna?"
"Kenapa wajah papa merah? Apakah papa demam?"
"Eh—" walaupun tidak sadar, sepertinya wajah Giotto memang sedikit memerah, "—begitukah? Tetapi papa tidak apa-apa kok, sebaiknya Tsuna tidur saja dulu—papa tidak akan apa-apa."
"Baiklah—" sedikit khawatir tetapi pada akhirnya kantuk menguasainya sebelum matanya sedikit demi sedikit tertutup dan pada akhirnya tertidur. Giotto yang melihat itu hanya tersenyum sebelum menarik selimut Tsuna sedikit ke atas.
…
'Sebaiknya aku memang tidak terlalu memikirkan hal itu didepan Tsunayoshi…' "Uhuk…" terbatuk pelan dan mencoba untuk memegang dahinya, 'sepertinya aku benar-benar demam…'
…
"Aku bisa sendiri, kau tidak perlu membantuku kakek tua!" Hayato tampak berjalan bersama dengan G menuju ke kamarnya. Yah, Giotto menyuruh semua guardiannya untuk lebih memperhatikan anak-anak mereka dan disinilah ia berada sekarang.
"Jangan bersikap seperti orang dewasa—dan jangan harap kami percaya begitu saja dengan apa yang dikatakan oleh Vendice itu tentang kalian," menekan kepala Hayato dan mengacaknya, "dan sekarang aku harus lebih mengawasi kalian karena tugas dari Giotto—" bersin sekali.
…
Menoleh pada G, Hayato menyadari kalau sedaritadi pria di sampingnya ini sudah beberapa kali bersin di sampingnya. Semburat merah tampak di pipinya juga, tentu saja bukan karena malu—demi tuhan pria itu bukanlah seorang Pedophil.
"Oi-oi, jangan-jangan kau sakit kakek tua?"
"Haa? Tentu saja tidak—" menatap kearah Hayato sambil mengusap hidungnya. Pandangannya sedikit kabur saat melihat ke bawah. Yah, sepertinya ia memang sedikit demam entah karena apa—mungkin karena pekerjaan dan fikirannya akhir-akhir ini yang membuatnya tidak menjaga kesehatannya.
"Kalau begitu bukan aku yang harus diantarkan—" berdecak kesal sambil menggaruk kepala belakangnya, "ayo kekamarmu saja!"
"Hei sudah kubilang aku tidak apa-apa!"
"Bagaimana kau bisa menyelesaikan semua permasalahan Vongola kalau keadaanmu seperti ini—" hela nafas panjang dan menarik tangan G menuju ke kamarnya. Sampai di kamarnya, Hayato membuka pintu dan mendorongnya masuk ke dalam, "—entah siapa yang lebih tua disini sebenarnya. Istirahatlah!"
"Tidak perlu kau perintahkan—kau harus tidur denganku malam ini, Giotto sudah menyuruh semuanya seperti itu—" melepaskan jasnya dan melonggarkan sedikit kemeja putih yang ia gunakan.
"Ya-ya, aku mengerti—" hela nafas dan segera berganti pakaian tidurnya. Berbaring dengan segera di tempat tidur, sedikit berjauhan dengan posisi G yang ada di ujung tempat tidur lainnya.
…
"Oi—"
"Tidurlah kakek tua—" berdecak kesal dan menutup matanya, ia membelakangi posisi dari G yang ada di sampingnya, "—menyerah saja kau itu sedang sakit."
"Ceritakan tentang—Lavina…"
Matanya terbuka begitu saja setelah nama ibunya disebutkan. Ia masih tidak percaya dengan apa yang ada di sekelilingnya—dengan apa yang dikatakan oleh para Vendice itu. Karena—iapun tidak begitu mengetahui bagaimana ibunya.
"Aku tidak banyak ingat tentangnya—tetapi, yang kutahu ia adalah seorang perempuan yang sangat cantik dan manis. Permainan piano ibu benar-benar indah, walaupun aku hanya bisa mendengarnya tiga kali dalam satu tahun—" menghela nafas, sedikit kesal karena mengingat semua itu.
"Tiga kali setahun?"
"Ayah hanya mengizinkan ibu untuk menemuiku tiga kali sehari, kudengar karena aku adalah anak yang lahir bukan dari pernikahan ayah yang sebenarnya—awalnya bahkan aku tidak tahu kalau dia adalah ibuku," G menatap punggung Hayato, walaupun tidak bisa melihat apa yang ditunjukkan oleh Hayato ia tahu kalau bocah itu benar-benar tidka ingin membicarakannya.
"Lalu—bagaimana keadaan Lavina sekarang… kenapa ia tidak terkirim ke masa ini oleh mumi-mumi itu?"
"Saat usiaku 4 tahun—ibu tewas karena kecelakaan," menyerengitkan matanya, G tampak sedikit terguncang karena itu, "tetapi—yang kudengar dari aneki adalah, ibu memiliki penyakit yang parah sejak dulu. Walaupun tidak tewas dalam kecelakaan itu usianya tidak akan lama…"
…
'Jadi itu yang kau sembunyikan sejak dulu dariku—Lavina?'
"Apalagi yang kau ketahui dari—" suara dengkuran kecil terdengar membuat G tampak menghentikan pembicaraannya. Baru saja akan bergerak saat tubuh Hayato berguling dan berada di sampingnya. Tampak tertidur dengan sangat nyenyak, "—dasar bocah…"
Menghela nafas, mengeratkan selimut Hayato sebelum menutup matanya perlahan dan ikut tertidur.
…
"Siapa yang mengajarimu pedang Takeshi?"
Berbeda dengan yang lainnya—sepertinya Ugetsu dan juga Takeshi memutuskan untuk berlatih pedang bersama-sama. Dan ternyata, sepertinya Ugetsu benar-benar mengagumi bagaimana permainan pedang yang dilakukan oleh Takeshi.
"Oyajii mengajarinya padaku saat bertarung dengan Squallo—setelah itu bertarung beberapa kali bersama dengan Reborn-san dan juga yang lainnya membuatku semakin menyukai permainan ini—"
"Sepertinya kau sudah sangat lama mempelajarinya—" sekali gerakan dan kembali mereka berlatih dengan pedang mereka masing-masing. Yamamoto hanya tertawa datar mendengarkannya.
'Bagaimanapun sudah hampir 10 tahun aku mempelajarinya—' suara batuk ringan tampak terdengar membuatnya sedikit tersentak. Melihat gerakan Ugetsu yang sedikit aneh, Takeshi hanya mengerutkan dahinya.
"Otou-san, aku sudah mengantuk—apakah sebaiknya kita tidur?" menurunkan pedangnya dan tampak menggaruk kepala belakangnya. Sebenarnya tidak mengantuk sih, tetapi sepertinya Ugetsu sendiri tidak sehat dan membuatnya sedikit khawatir.
"Oh, baiklah—kalau begitu ayo!"
…
Hening saat berada di salah satu kamar yang ada di ujung lorong. Kyouya sedang duduk di samping tempat tidur dan menatap datar kearah ranjang yang ada di hadapannya.
…
"Bukankah sudah aku katakan ayah—lukamu tidak akan sembuh begitu saja," menatap Alaude yang terbaring diatas tempat tidur saat itu, "dan sekarang kau demam karena luka tembak itu—" hela nafas, ia sebenarnya merasa sedikit bersalah karena ialah yang menembak Alaude saat itu.
"Diamlah Kyouya, ini hanya luka kecil, sebaiknya kau tidur saja—"
"Aku akan memanggil herbivore itu—" berjalan keluar tidak mengindahkan apa yang dikatakan oleh Alaude untuk tidur. Yah, setidaknya mungkin ia bisa menyembuhkan luka dari ayahnya itu dengan bantuan—
…
"Ia juga sakit?" mengerutkan alisnya saat mendengarkan perkataan dari pemuda berambut putih itu—Sasagawa Ryouhei. Inginnya memintanya atau Knuckle untuk mengobati ayahnya, siapa yang menyangka kalau yang diminta sudah sibuk dengan orang lain.
"Begitulah, itupun karena flameku menyusut membuatku tidak bisa menggunakan kekuatanku hingga penyembuhan sempurna," Ryouhei menghela nafas dan menatap pada kamar yang ada di belakangnya. Menutupnya agar Knuckle bisa beristirahat.
…
"Sudahlah—"
…
"Dan kau masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Vendice?" kalau bisa dikatakan, yang paling terkejut diantara Daemon atau Mukuro—tentu saja itu adalah Mukuro. Yang paling bingung—masih tetap Mukuro.
"Jangan salah sangka, satu-satunya orang yang tidak bisa dan tidak akan bisa kupercaya adalah orang-orang itu—" Spade menatap Mukuro dengan tatapan bingung. Bahkan sebenci apapun ia dengan Spade, raut wajahnya tidak sekesal itu. Tetapi dengan keadaan seperti itu—tidak stabil dan sepertinya tidak berkonsentrasi dengannya mudah untuk Spade memasuki alam fikirannya.
"Apa yang kau—" Mukuro menatap kearah Spade saat kedua bahunya dipegang untuk menemukan kesadarannya menurun dan Spade yang masuk ke dalam fikirannya.
…
'Apa yang sebenarnya—' Spade yang masuk ke dalam fikirannya mencoba untuk melihat apa yang terjadi selama ini ketika Mukuro berada di masa depan. Suara teriakan terdengar membuatnya menoleh. Menemukan tempat yang lebih mirip seperti penjara, dengan beberapa anak kecil yang tampak disandera.
"Apa yang kalian lakukan!" suara yang Spade kenal membuatnya menoleh untuk menemukan sosok Mukuro yang masih berusia 4 tahun itu dibawa oleh beberapa orang yang berada disana, "lepaskan aku!"
"Kau adalah eksperimen nomor 69; namamu adalah Rokudo Mukuro—"
"Apakah kalian fikir aku akan percaya begitu saja?! Lepaskan aku brengsek!" mencoba untuk melawan, namun tidak bisa melakukan apapun, "walaupun aku tidak ingat apapun—aku tidak akan sebodoh itu untuk percaya dengan kalian!"
"Kau tidak memiliki pilihan lain—" mendorong Mukuro hingga berbaring di atas meja besi yang ada di dekat sana. Menahan dengan beberapa orang dan tampak siap untuk menyuntikkan sesuatu—yang bahkan sudah bisa dilihat kalau itu adalah hal yang buruk, "—kau tidak memiliki siapapun disini. Karena itu kau berakhir disini—"
Matanya membulat, mencoba untuk bergerak namun tidak bisa. Dan saat suntikan itu diberikan padanya, hanya ada suara teriakan yang menggema di ruangan itu.
'A—apa…' Spade melihat bagaimana saat Mukuro diberikan beberapa alat yang terpasang di tubuhnya. Cairan-cairan yang tampak memasuki tubuhnya disertai dengan teriakan yang memekikkan telinga dari tubuh kecil itu.
Bahkan melihatnya sudah cukup untuk membuat tubuh Spade gemetar—tidak ada hari-hari yang terlihat saat itu tidak diiringi dengan teriakan baik dari Mukuro atau anak-anak lainnya. Banyak dari mereka yang tewas, dan Mukuro tampaknya cukup beruntung bisa bertahan hingga sekarang.
'Apa yang mereka lakukan—ini terlalu—' Spade melihat gambaran saat Mukuro terlihat lebih tenang—entah sudah berapa hari atau bahkan minggu dan mungkin bulan setelah percobaan pertama.
"Mata itu bereaksi dengannya—kita akan berhasil kali i—UAGH!" suara itu—membuat Spade lagi-lagi menoleh untuk menemukan Mukuro yang entah bagaimana membawa sebuah trident di tangannya dan tampak berdiri perlahan.
Sementara pria yang tadi berada di dekatnya sudah tidak sadarkan diri—bahkan mungkin sudah tewas.
"A—apa yang kau lakukan?!" Mukuro berdiri, tersenyum dingin sebelum melepaskan perban yang menutupi mata kanannya. Menatap pada beberapa orang disana sebelum matanya berubah menjadi kanji 1 dan membuat beberapa orang melihat ilusi mengerikan karena itu.
Teriakan kali ini bukan berasal dari anak-anak yang selamat saat itu—tetapi dari beberapa ilmuan yang tampak satu per-satu tumbang hingga hanya menyisakan tiga orang anak saat itu.
"Ka—kau…" salah satu dari mereka tampak menatap Mukuro, dan Mukuro tampak hanya diam dan tersenyum kearah anak itu.
"Kau akan ikut denganku bukan? Keluar dari tempat ini—" pemandangan tiba-tiba saja berubah saat itu, membuat Spade sedikit tersentak dan melihat keadaan di sekelilingnya menjadi sebuah tempat yang lebih pantas disebut sebagai reruntuhan bangunan.
Tetapi bukan itu yang membuatnya terkejut—tetapi melihat sosok Mukuro yang sedang bertarung dengan seseorang. Tsuna—dan disana tampak Kyouya, Takeshi, dan juga Hayato yang tumbang tidak sadarkan diri.
Pertarungan mereka tampaknya cukup seimbang—namun lama kelamaan sepertinya Tsuna semakin menguasai pertarungan dan hingga akhirnya Mukuro kalah dan dibawa oleh—
"Vendice?!"
'Satu-satunya orang yang tidak bisa dan tidak akan pernah bisa aku percaya hanyalah orang-orang itu…'
Dan pemandangan yang ada saat itu hanyalah Mukuro yang terkurung di tabung air dengan beberapa alat di mulut dan tubuhnya. Itu adalah penjara air Vendice. Namun, sepertinya Mukuro meminta bantuan dari seorang perempuan untuk berhubungan dengan dunia luar.
'Ia membantu Sawada Tsunayoshi yang sebelumnya membuatnya terkurung di Vendice?' Spade mengerutkan alisnya saat melihat Mukuro yang tampak membantu Tsuna beberapa kali. Beberapa memori tentang masa depan yang tidak ia mengerti—dan hingga akhirnya saat mereka melawan Shimon Famiglia.
"Shimon—" tentu saja Spade mengetahuinya—bagaimanapun ia yang menghancurkan mereka agar Vongola menjadi kuat dan membalaskan dendam Elena. Tetapi yang membuatnya terkejut adalah saat dirinya muncul saat itu dan mengendalikan gadis yang berhubungan dengan Mukuro saat itu.
Pertarungan akhir hingga Spade mengendalikan Mukuro—
"Aku akan mengalahkannya—tetapi aku ingin kalian membebaskan Mukuro dan juga yang lainnya," mendengar perkataan dari Tsuna membuatnya sadar apa yang membuat Mukuro sampai sekarang masih bersedia menjadi salah satu guardian dari Tsuna.
…
Baru saja ia akan melihat kelanjutan dari pertarungan itu—saat tiba-tiba saja pemandangan di sekelilingnya menjadi gelap. Saat ia mencoba untuk mencari tahu, sebuah pukulan telak mengenai pipinya.
Suara desahan nafas terdengar, dan saat ia menoleh terlihat sosok Mukuro yang berusia 26 tahun itu mengepalkan tangannya. Sudah dipastikan kalau yang memukulnya tadi adalah Mukuro.
"Brengsek—apa yang kau lakukan…"
"Itu—yang menyebabkanmu membenciku?" Spade berdiri begitu saja dan tidak tampak ia kesakitan ataupun yang lainnya. Mukuro yang menyadari kalau tidak ada yang bisa ia lakukan hanyalah terdiam dan menurunkan tangannya.
"Kau sudah mengetahuinya bukan? Karena tidak mengetahui siapa orang tuaku—Esterno Famiglia menjadikanku bahan percobaannya entah sudah berapa lama hingga aku mendapatkan mata ini." menatap benci kearah Spade yang hanya diam mendengarkannya, "dan kau yang sudah seenaknya menguasai tubuhku, mengganggu Nagi—dan sekarang kau mengatakan kalau kau adalah orang tuaku?!"
…
"Tch, yang benar saja—aku tidak pernah memiliki orang tua. Mereka sudah membuangku hingga aku mendapatkan apa yang kudapatkan selama ini—" Mukuro tampak memalingkan wajahnya dan menatap kearah lainnya. Sebelum tiba-tiba sepasang tangan melingkari bahunya—dan tentu apa yang ia lihat membuatnya terkejut.
Spade melingkarkan tangannya di bahu Mukuro dan menutup matanya.
"Maafkan aku—" berbisik sangat pelan hingga hanya Mukuro yang mendengarnya, "—sungguh, maafkan aku Mukuro. Aku tidak pernah ingin membuangmu—bagaimana mungkin kau, satu-satunya hal yang ditinggalkan oleh Elena… bagaimana mungkin aku mau membuangmu?"
Mata Mukuro yang membulat tampak sedikit melembut walaupun rautnya masih terlihat kesal. Menutup matanya, hingga sosoknya yang tadi kembali menjadi asalnya sekarang menjadi sosok usia 6 tahunnya.
Dan perlahan, kabut itu menghilang—sebelum kegelapan menguasainya.
…
Membuka mata, melihat kalau ia kembali ke ruangannya—menoleh sekeliling sebelum menemukan sosok Spade yang berbaring begitu saja di atas lantai. Melihat tangannya, masih merasakan pelukan itu dan ucapan itu—meskipun itu hanya diucapkan dalam alam fikirannya saja.
'Bagaimana mungkin kau, satu-satunya hal yang ditinggalkan oleh Elena… bagaimana mungkin aku mau membuangmu?'
…
"Oi—" mencoba untuk mendekati Spade yang masih berbaring seolah tidak sadarkan diri, menggoyangkan tubuh Spade yang tidak bergerak itu dengan kakinya. Tidak perduli apakah pria itu akan marah setelah bangkit atau tidak, "—mau sampai kapan kau tertidur disana!"
Hening—membuat dahinya berkerut.
"Hei, kau tidak apa-apa?"
…
"Haaah? Jadi—sekarang mereka semua tumbang karena sakit?!"
Pagi hari, saat semua anggota Vongola Decimo berkumpul, semuanya memberikan kabar kalau Giotto dan juga yang lainnya sakit. Tidak ada satupun yang tersisa selain Lampo.
"Tuan muda sekalian jangan masuk ke dalam kamar mereka dulu atau anda akan tertular," Ralf yang tampak baru saja keluar dari kamar terakhir—Spade tampak tersenyum dan menepuk kepala Hayato dan juga yang lainnya.
"Ceh, sudah kuduga tadi malam ia sakit—" Hayato tampak berdecak kesal.
"Maa—maa, aku juga melihat ada yang aneh dengan otou-san sejak berlatih semalam."
"Ia memang sudah diperingatkan kalau akan sakit karena luka itu," Kyouya tampak menyenderkan tubuhnya di dinding dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Knuckle-san sudah cukup baik setelah kupakai flameku untuk menyembuhkannya—" Ryouhei yang tampak berada disana juga tampak hanya mengangguk-angguk. Mukuro hanya bergumam dan mengangguk-angguk—sementara Tsuna hanya diam dan tampak cemas.
"Juudaime, kau tidak apa-apa?"
"Apakah papa tidak akan apa-apa?" menatap cemas kearah Hayato dan juga yang lainnya. Sebelum sang kepala pelayan kembali untuk memberikan obat di kamar Spade.
"Mereka tidak akan apa-apa, tetapi tuan Lampo tidak akan bisa menyelesaikan semua tugas mereka hari ini—" tampak bingung dan juga cemas, Hayato dan yang lainnya hanya diam dan menatap bingung kearah kepala pelayan itu, "—beberapa laporan dan juga pertemuan penting mereka. Beberapa famiglia juga tampaknya akan datang untuk melakukan perjanjian."
…
Saling bertatapan, Hayato dan juga yang lainnya tampak memikirkan hal yang sama saat itu.
…
"Haah, kita bisa saja menyelesaikan laporan tertulis mereka—" Hayato dan juga yang lainnya memutuskan untuk mengumpulkan semua dokumen (secara diam-diam) di ruangan Giotto—karena Tsuna tidak mungkin mengerti apa yang akan mereka lakukan—dan melihat keseluruhan, "—apa yang ada di laporan itu hampir sama dengan laporan masa kita."
"Tetapi untuk pertemuan dan yang lainnya—kita tidak mungkin menggantikan mereka bukan?"
"Kalau saja kita kembali ke usia kita yang sebenarnya—kita bisa saja menggantikan mereka," Mukuro juga tampak mencoba untuk menyalurkan ide sambil melihat beberapa laporan di tangannya. Semuanya tampak mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Mukuro.
…
"Tidak ada yang bisa kita laku—"
BLAR!
Suara ledakan yang cukup keras membuat mereka tampak menoleh kearah jendela. Asap putih mengepul, terlihat familiar untuk mereka semuanya—baru saja akan bergerak saat seseorang tampak melompat dari asap itu menuju ke pohon yang berada di dekat ruangan tempat mereka berada.
"Sudah kuduga kalau mereka akan ada disini…"
Hayato dan juga yang lainnya tampak mencoba untuk melihat lebih jelas siapa yang ada di hadapan mereka, sebelum matanya membulat sempurna.
"Ka—kau?!"
…
G tampak berjalan walaupun tubuhnya masih terasa lemas karena demam yang ia derita. Ia tidak mungkin tinggal diam saat mendengar apa yang dikatakan oleh beberapa maid yang ia temui tadi, saat ia bangun—ia menyadari waktu menunjukkan pukul 1 siang dan yang ia fikirkan adalah pertemuan penting hari ini.
"Bagaimana aku bisa sakit disaat seperti ini…" berjalan dengan cepat menuju ke ruangannya, dan membukanya dengan segera untuk menemukan dua orang sudah berada disana dan sedang membelakanginya.
"Hanya tinggal—" suara yang terdengar dari orang yang membelakanginya saat itu terdengar familiar untuknya. Menoleh saat mendengar pintu ruangan terbuka, dan menatap kearah G yang baru masuk.
"Kau—"
…
Alaude tampaknya memiliki fikiran yang sama dengan G saat ia bangun dan melihat jam menunjukkan pukul 1 siang. Saat membuka pintu ruanganpun—sepertinya Alaude juga menemukan tiga orang berada di ruangannya.
"Siapa kau—" sudah siap dengan borgolnya, saat sosok yang membelakanginya itu kini menoleh dan menatapnya. Membuat matanya membulat sempurna saat itu, "—kau…"
…
"Sepertinya aku mengerti kenapa Takeshi menyelesaikan latihannya saat itu," mencoba untuk tertawa walaupun sedikit panik melihat jam saat itu menunjukkan pukul 1 siang. Ia harus menyelesaikan beberapa laporan walaupun pertemuan sudah pasti terlewat karena ia bangun terlalu siang.
"Ah, kenapa semua orang tidak membangunkanku—" menghela nafas dan membuka pintu geser itu perlahan. Menemukan tiga orang yang sudah berada disana—seperti yang ditemukan G dan juga Alaude, mereka membelakanginya.
"Siapa—" mengerutkan alisnya dan menatap kearah sosok yang tampaknya menyadari kehadirannya itu dan menoleh ke belakang. Senyuman itu tampak terlihat familiar di mata Ugetsu saat itu, "e—eh kenapa…"
…
Knuckle saat itu merasakan seseorang berada di dekatnya—beberapa pergerakan dan juga percakapan yang tidak bisa ia dengar dengan jelas itu tentu saja mengganggunya. Alisnya sedikit berkedut, dan kali ini ia mencoba untuk mengerjapkan matanya.
"Ia sudah sadar—" suara dari seseorang terdengar—bayangan dua orang yang masih belum jelas terlihat. Mengerjapkan matanya beberapa kali untuk mendapatkan kesadarannya kembali.
"Ah benar!"
…
"E—eh, kau…"
…
Spade benar-benar tidak ingat apa yang terjadi padanya setelah melihat kenangan Mukuro di dalam fikirannya. Yang ia tahu, tubuhnya berat dan tidak bisa digerakkan—hingga saat ia sadar, ia berada di atas tempat tidurnya dan waktu menunjukkan pukul 1 siang.
"Aku harus meminta penjelasan kenapa aku tidak dibangunkan," hela nafas dan tampak kesal—ia tidak suka kalau sampai melewati beberapa pertemuan yang bertujuan untuk membangun Vongola lebih besar, "pertemuan itu tidak boleh sampai gagal…"
Membuka pintu dengan segera sambil menggerutu.
"Ah, ia sudah datang—" suara dengan nada yang khas itu terdengar membuat Spade mengerutkan alisnya dan menatap ke depan. Empat orang sudah berada disana, dan salah seorang yang membelakangi mereka tampak menoleh kearahnya.
…
"Apa?!"
…
Giotto tampak terbangun dengan rasa pusing yang membuatnya tidak bisa bangun dengan benar. Nafasnya masih memburu karena demam dan keringat dingin masih bercucuran di tubuhnya. Melihat jam besar di kamarnya, menunjukkan pukul 1 siang.
'Tunggu, harusnya aku punya pertemuan penting pukul 8 pagi dan juga 11 pagi—lalu laporan yang harus kuselesaikan hari ini,' memegangi kepalanya yang berdengung dan mencoba untuk berdiri, "apa yang harus kukatakan pada G untuk alasan ini…"
Berjalan kearah luar dan mencoba untuk memakan mantelnya, bertemu dengan beberapa pelayan yang entah kenapa menatapnya heran.
"Primo, anda tidak apa-apa? Bukankah harusnya anda—" mendengar perkataan dari salah satu maid membuat Giotto mengerutkan dahinya.
"Bukankah aku kenapa?"
"Sa—saya melihat anda di—" membulatkan matanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh maid itu dan segera berjalan kearah suatu tempat di dekatnya saat ini—ruangan kerjanya. Membuka dengan segera, dan melihat seseorang—tidak tiga orang sudah berada disana.
"Siapa—"
"Fufufu~ sepertinya Primo-chan sudah bangun dari tidurnya~" suara itu tampak terdengar dari salah satu dari mereka bertiga. Seorang pria berambut putih dengan mata berwarna ungu dan juga tattoo di bawah mata kirinya.
"Kau belum selesai menceritakannya padaku—tetapi sepertinya itu bisa ditunda," suara lainnya tampak terdengar dari seseorang bertopi fedora yang duduk dengan santai di salah satu sofa disana.
"Byakuran, Reborn—tidak seharusnya kalian mengatakan itu dengan nada santaikan?" tampak seseorang yang terdengar menghela nafas berat. Ia yang duduk dengan kursi yang membelakangi pintu masuk itu segera berbalik. Pemuda berusia 20-an tahun yang tersenyum kearahnya—berjalan kearanya.
"Maaf karena mereka berbuat seenaknya—otou-san…" tersenyum, yang Giotto lihat saat itu tentu saja sosok Sawada Tsunayoshi—Vongola Decimo yang tampak berusia 24 tahun, bersama dengan Reborn sang Sun Arcobaleno dan juga Byakuran Gesso.
…
Sementara G yang tampak berada di ruangannya menatap dengan tatapan terkejut kearah pemuda yang ada di depannya. sosok pemuda berambut perak dengan mata berwarna hijau, bersama dengan pemuda berpakaian cina mirip dengan Alaude dan juga seorang pemuda lainnya berambut hijau.
"Kalian—"
"Wan-an, G-san…"
"Kau terlambat bangun—kakek tua…" menghela nafas dan menatap kearah pria di depannya itu sambil menggaruk kepala belakangnya.
"Ha—yato?"
…
Ugetsu yang menghadapi tiga orang di depannya itu tampak masih mematung—bingung dengan keberadaan ketiganya itu. Pemuda dengan sebuah helm di kepalanya, pemuda berambut blonde dengan headband army dikepalanya—dan yang lebih membingungkan adalah pemuda berambut hitam di depannya saat ini.
"Kau belum menyelesaikan ini Skull?! Dan kau—yang itu masih ada yang kurang Kora!"
"Tu—tunggu sebentar Colonello-san," pemuda itu tampak sedikit panik saat pemuda blonde itu tampak tidak sabar. Menoleh kembali pada Ugetsu sebelum mendekatinya.
"Otou-san, bagaimana keadaanmu?" tersenyum kearah Ugetsu, nada dan juga kata-katanya membuatnya menyadari siapa yang ada di depannya. tetapi—sosoknya terlihat lebih dewasa, lebih seperti seorang pemuda berusia 24 tahun.
"Takeshi?"
…
"Sebaiknya kau tidak bergerak dulu paman Knuckle, aku sedang mencoba menghilangkan demammu!" suara, volume, nada, dan juga wajah dari pemuda yang ada di depannya itu tampaknya sudah cukup membuatnya sadar siapa yang ada di hadapannya.
"Maaf kalau kami mengganggumu Knuckle-san," menoleh sedikit, menemukan seorang gadis berambut hitam dengan tanda bintang di bawah mata kanannya. Tersenyum kearahnya—ia tidak tahu siapa gadis itu, tetapi ia tahu siapa pemuda itu.
"Ryouhei?!"
…
"Jadi benar yang ada di dokumen Alaude-san itu?" Alaude tampak menatap sosok lain di ruangannya, seorang perempuan berambut hitam panjang dengan luka di wajahnya saat itu. Seorang laki-laki berambut hitam pendek tampak meletakkan laporan yang seharusnya miliknya itu.
"Begitulah—kau sudah tidak apa-apa, ayah?" nada datar dan juga tatapan yang dingin namun terlihat tidak mengintimidasi itu sudah cukup untuk membuatnya mengenali siapa di depannya itu—walaupun dalam sosok pemuda berusia 26 tahun.
"Kyouya—"
…
"Benar-benar mirip dengan master—" pemuda berambut hijau dengan topi apel di kepalanya tampak berjalan dan mengintari Spade yang masih bingung dengan apa yang ada di sekelilingnya. Ia tahu siapa yang ada di depannya sekarang ini dari ingatan semalam yang ia lihat.
"Kufufu, Fran—menjauh darinya," pemuda berambut biru itu tampak menatap tajam bocah itu sebelum bocah itu tersentak dan segera mengangguk cepat dan berlari mendekati sang master.
"Muu, aku akan meminta bayaran dari Vongola Primo untuk semua ini—boss pasti marah padaku," seseorang memakai hoodie dan juga sesuatu yang melayang diatas kepalanya itu hanya menatap bosan kearah Spade.
"M—Mukuro-sama…" melihat Spade yang datang, satu-satunya gadis yang ada disana tampak segera mendekati pemuda berambut biru disana dan siap dengan trident di tangan.
"Kufufu~ tenang saja Nagi—ia tidak akan berani melakukan apapun padamu," menepuk kepala gadis itu sebelum menoleh pada Spade. Siapa yang tidak bisa mengenal sosok yang baru saja ia temui malam itu di alam fikiran Mukuro? Sosok Mukuro berusia 26 tahun saat itu tampak berdiri dihadapannya.
"Kau lemah sekali bisa tumbang hanya karena demam…"
"Muku—ro?"
…to be continue…
LOL! XD
Siapa yang menyangka kelanjutannya akan seperti ini? kemunculan beberapa orang dan juga sosok mereka itu—yah semuanya sudah tahu siapa yang ada di tempat itu bukan? XD
Kenapa mereka bisa ada disini? Akan dijelaskan chapter selanjutnya~ (mungkin)
Makasih banyak buat semua yang review dan fave ataupun Follow, ga nyangka banyak yang suka TwT
Tunggu chapter selanjutnya ya~ XD
Q & A
Skylark-kun - pertanyaan anda—apakah terjawab? XD
DemonIB - itu aja dibilang bosen kan? :-? Semoga aja yang ini ga ya XD
Runriran - sudah diupdate, maaf lama (_ _)
King of Tuna - karena saya ga ada ide mbak =w=a dan apaan itu nenek?! OAO
Dee Kyou - maaf lama ya (_ _) tapi sudah di update ini :'D
Kitsunebi Kuro Hyuuga - sudah di update ' '
Hana 'natsu' Mitsuzaka - gpp, maaf juga karena lama update ya ._. Krisis ide nih…
Kitsune Syhufellrs - makasih XD ini sudah update :3
Ace-Aihara - maaf kalau ngebosenin Dx me krisis ide ini… ;w; dan gimanapun me coba baca komik cowo tetep aja ga tahan XD me terlalu ga suka XD
Widi orihara - makasih ^w^ ini sudah update walaupun lama =w=
Demon D. Dino - ahahaha XD kayaknya banyak yang suka adegan itu ya XD mungkin HDWM Tsuna bakal lebih muncul di chapter selanjutnya~
Shizuo miyuki - yang itu bakal diceritain nanti-nanti XD #plak
Oh Se In - sudah lanjut~
Bluelup28 - Eh cukup lama ya? Me kira malah terlalu singkat ._.
Kikiki - H—hint G27?! XD ini bukan cerita Yaoi apalagi pedo XD
Shirufitto Shiroyuki - Mama Elena disinikan sudah mati .w. makasih pemberitahuan typonya XD #heh
Mamitsu27 - i—iya #orz itu HDWM #plak salah nyingkatin.
Hikari Vongola - sudah updetto XD
Hisawa Kana - yup XD
X-Eddreine-X - Dino akan dibantu guest-guest baru ini tentu saja~ kemunculan mereka bukan tanpa alasan~
Mutsumi Ayano - Hm, masih ragu buat digituin, but—me coba fikirkan lagi ' '
A/N (lagi)
Me ga nyangka yang review banyak QAQ makasih ya, apalagi lihat kalau Favoritnya 45 Followernya 19 TwT itu benar-benar… sesuatu.
Dan yang ada ide—sumbang dong .w. boleh lewat Review, tapi PM lebih dianjurkan. Mau scene mereka ngapain, nanti me coba buat XD
