Warning : BoyxBoy, Typo bertebaran, tidak sesuai EYD, dll.
xxMstxx
.
.
.
Suara electrocardiography yang memperlihatkan detak jantung dari seseorang yang terbaring di atas tempat tidur itu menguasai ruangan serba putih tersebut. Desiran nafas yang terdengar tenang juga ikut meramaikan yang sepi. Jarum jam dinding menunjukkan pukul 2 pagi waktu setempat. Dengan sabar Sehun –yah, Sehun. Kalian tidak salah membaca- menunggu terduduk di samping tempat tidur yang menidurkan Yixing dengan tenang.
Mata cokelat gelapnya tidak lepas dari sosok Yixing yang menutup matanya. Satu tangannya menggemgam erat tangan kanan Yixing, menyalurkan kehangatan. "Cepat bangun." 2 kalimat itu selalu ia katakan dengan lirih, berharap setelah mengatakannya Yixing akan terbangun. Sudah hampir sebulan tetapi Yixing belum memberikan tanda-tanda akan membuka matanya. Bisa dikatakan ini salah Sehun tapi kenapa Sehun juga yang merasa bersalah. Dia sendiri yang mengatakan melakukannya dengan sengaja dan menginginkan Yixing mati. Sstt. Itu semua benar. Dan Sehun tahu itu. Tetapi sesuatu –yang Sehun sendiri tidak tahu- menyentuh hatinya. Seperti tidak tega melihat Yixing yang terkapar tidak berdaya waktu itu. Tangannya terulur untuk membantu Yixing. Dan di sinilah dia sekarang. Sampai saat ini pun tidak ada yang tahu kebenaran mengapa Yixing bisa ditemukan tidak sadarkan diri dan bersimbah darah di sekolah. Hanya Sehun dan Tuhan yang tahu. Setiap harinya, sehabis sekolah, Sehun selalu menjenguk dan menunggu Yixing. Kata dokter, Yixing mungkin saja kehabisan darah dan nyawa-nya tidak akan selamat. Beruntung stok darah di rumah sakit itu mencukupi. Sekarang hanya keajaiban yang bisa membantu Yixing.
The things I couldn't do, I wanna show. Open your eyes, please.
.
.
.
.
Sehun terduduk di atas rumput, belakang sekolah. Perlahan, ia menutup kedua matanya sembari mengandahkan kepalanya ke langit. Tangannya terulur seperti ingin menangkap semilir angin yang menerpa wajah yang mendekati sempurna itu. Mulutnya menyandungkan sebuah lagu yang hanya Sehun yang tahu. Pikirannya melayang kepada kejadian sebulan lalu. Saat dirinya berubah seperti monster yang sangat mengerikan. Memukul Yixing, padahal ia tahu tentang penyakit Yixing. Haemophilia.
Getaran halus terasa dari saku depan seragam miliknya. Sehun perlahan membuka matanya sembari tangannya mengambil ponsel di dalam saku. Tertera nama ayah Yixing di sana.
"Sehun?"
"Ini aku, ahjussi. Ada apa?"
"Yixing,"
Setelah mendengar kabar itu, Sehun langsung menyambar ranselnya dan berlalri keluar dari perkarangan sekolah. Dengan cepat ia melaju menuju rumah sakit dimana Yixing dirawat.
Words saying, I'm sorry, I love you, please believe in me like you do now.
.
.
.
.
.
Dengan senyum yang tidak hentinya terpapar di wajah tampannya, Sehun tetap berlari memaksa kaki jenjangnya sampai ke ruangan Yixing di lantai 2.
"Yixing sudah sadar."
Terlihat Luhan dan Kyungsoo berdiri di depan ruangan Yixing seperti menunggu kedatangan Sehun. Setelah mengatur nafasnya, Sehun perlahan berjalan ke arah mereka berdua.
"Ahjussi," Luhan yang pertama kali membalikkan punggungnya.
Sebuah senyum tesungging di wajah Luhan. "Akhirnya, Yixing sudah sadar. Selama ini kamu yang menjaganya. Kamu mau melihatnya?" tanya Luhan sambil membuka pintu ruangan serba putih itu lebih lebar, mempersilahkan Sehun untuk masuk.
Senyum Sehun semakin lebar. Dengan hembusan lega ia melangkahkan kakinya masuk ke tempat dimana yixing tertidur. Matanya langsung menangkap sosok Yixing yang terduduk di atas tempat tidur.
"Yixingie?"
Panggilan lembut itu menyadarkan Yixing dari lamunannya. Dia putar kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya dengan nama sayang nya itu. Matanya seketika melebar. Tangannya meremas selimut dengan kencang. Mulutnya terkatup rapat, tidak tahu harus berkata apa lagi. Pikirannya melayang ke kejadian yang membawanya tidak sadarkan diri. Dan dengan gamblang-nya orang yang melakukan itu masuk dengan senyuman yang sangat...bahagia.
"U-untuk apa kamu..."
"Kamu sudah sadar? Akhirnya." Sehun perlahan mendekat ke arah Yixing.
Dengan sigap Yixing menjauhkan tubuhnya sedikit menjau dari tempat tidurnya. "Kamu...ingin membunuhku disini?" tanya Yixing panik.
Bola matanya tidak fokus seperti berusaha mencari bantuan. Seperti ada beribu jarum menusuk ulu hatinya. Kalau diingat, ini memang salahnya. Murni salahnya. Dan bisa saja setelah ini Yixing melaporkannya ke polisi. Sehun menggemgam kedua tangannya.
"Tidak. Aku ingin kamu hidup," Dengan pasti Sehun menatap Yixing, berusaha membuat kontak mata cokelat terang milik Yixing.
Yixing terdiam setelah mendengar kalimat Sehun barusan. Badannya seketika terpaku di tempat. Matanya melihat mata Sehun. 'Tatapan itu...dia takut denganku.' Batin Sehun sembari menyunggikan senyum tipis.
"Jangan memulai permainanmu lagi, Sehun. Kalau memang kamu mau aku ma..."
Sehun berlari ke tempat Yixing sebelum bibir tebal itu mengucapkan satu kalimat yang bisa membuat Sehun lemah. Tangan besar milik Sehun menangkup wajah Yixing. Kedua matanya terutup sebelum memiringkan kepalanya dan menempelkan bibir tipis miliknya di atas bibir Yixing.
Freeze.
