Disclaimer:

J.K Rowling

Pair:

DracoXHarry and Other

Rate:

T - M

Warning:

SLASH, Shonun-ai, Gaje, TYPO, Skip Time, Alur cepat, PLOT YANG MENGIKUTI IMAJINASI AUTHOR, OCC, OC, terkadang ada pengulangan kata

.

Don't Read, If You Don't Like

…artinya…

Jangan baca jika kamu tidak suka

.

Special Thanks for:

Rose, Kamiyama Yukii-chan a.k.a Sinta, Keylacortez, katskrom, Aihsire Atha, Blue Heart, Backtothe dian-san michiru, devil eye's, keiraluna, futari chan, hatakehanahungry, CcloveRuki, mmonie, Ro Taylor.

.

Dian Present:

.

-c.a.n.d.l.e-

"Heart and Blood"

Chapter 11: The Dark Heart

-o.c.t-

.

.

.

Chapter 11: The Dark Heart


Hogwarts

Para peserta mulai memasuki lorong Maze mereka. Harry sempat melihat tribun penonton dan matanya langsung menatap mata Severus. Walau samar Harry melihat adanya sirat kecemasan di mata Ayahnya, Harry tersenyum dan menganguk singkat seolah meminta izin untuk pergi pada Severus, dibalas anggukan oleh Severus dan dengan langkah mantap Harry berjalan memasuki lorong Maze miliknya.

Setelah Harry masuk, segera saja Maze itu menutup lorong tempatnya masuk. Harry berjalan cepat, Maze tempat tugas ketiga ini jelas bukan Maze biasa. Samar-samar ia dapat merasakan ada aura sihir Dark. Seeker Gryffindor itu lebih waspada dan pergerakan sekecil apapun di sekitarnya tak luput dari perhatiannya.

Semakin lama, dinding-dinding Maze yang ia lewati terasa semakin menyempit, saat ia menoleh ke belakang terlihat lorong Maze memang semakin merapat seakan siap menjepit setiap makhluk di depannya. Harry berlari, mencoba mencari lorong Maze yang cukup aman. Namun kecepatan pergerakan dinding Maze semakin cepat. Harry berpikir keras, saat di lihatnya ranting kecil tergeletak cukup jauh di depan, ia mengacungkan tongkatnya dan mentansfigurasi tongkat itu menjadi sapu terbang. Dengan refleks seeker yang tak di ragukan lagi keakuratannya, Harry meraih sapu itu dan dengan segera memposisikan dirinya menaiki sapu lalu melesat cepat meninggalkan Maze yang menghimpit itu.

Saat merasa cukup aman, Harry mengatur kecepatan sapu terbangnya menjadi kecepatan standar. Ia mencari-cari setiap kemungkinan di letakkanya Piala Api yang menjadi poin ujian kali ini.

"Help me..."

Terdengar suara rintihan tak jauh dari tempat Harry berada, ia segera mengarahkan sapunya untuk mencari asal suara itu. Fleur peserta dari Beauxbatons tergetak di tanah dengan luka yang mengerikan, dan mengalirkan darah segar berbau anyir. Tanpa Harry sadari ia menjilat bibirnya yang terasa kering. Matanya yang telah berubah sewarna Ruby menatap Fleur dengan pandangan lapar. Jiwa Vampire menguasai dirinya.

"Help me, please..." seru Fleur dengan tatapan memohon pada Harry, gadis itu terlalu sakit untuk melihat perubahan Harry.

Harry tersadar, ia segera mengarahkan tongkatnya ke atas dan memunculkan percikan api berwarna kemerahan, tanda bahwa peserta membutuhkan pertolongan. Lalu pergi begitu saja meninggalkan Fleur karena yakin panitia pasti akan datang menyelamatkan gadis itu.

Harry memegang dadanya dan mengenggam erat jubah yang ia kenakan, jantungnya terasa berdetak lebih cepat. Terakhir kalinya ia minum darahnya sendiri saat tugas ketiga selesai dilaksanakan. Nyaris saja Harry mengigit tangannya jika Victor tidak tiba-tiba muncul di depannya dan mengarahkan tongkatnya pada Harry.

"Kau harus mati, Harry Potter," serunya dengan suara yang serak dan bergetar.

Harry menyunggingkan seringai yang tampak mengerikan, "Kenapa aku harus mati, Victor Krum?"

"Kau harus mati di tanganku atau Kau-Tahu-Siapa akan bangkit dan membunuh semuanya," seru Victor dengan tatapan benci pada Harry.

Harry tertawa geli namun terdengar memilukan di telinga Victor, kemudian ia menyunggingkan senyum lembut yang membuat Victor terpana.

"Aku memang akan mati untuk membunuhnya, Victor. Sayangnya tidak sekarang dan bukan di tanganmu."

Harry mengarahkan tongkat Holy nya pada Victor dan sebelum Victor sempat melapalkan mantra untuk menangkis apapun serangan Harry, tubuhnya sudah terbujur kaku dan ambruk ke tanah. Sekali lagi Harry mengarahkan tongkatnya ke atas dan membuat percikan api untuk memanggil panitia.

Harry menambah kecepatan sapunya, ia harus cepat menyelesaikan tugas ini sebelum ia kehilangan kendali diri. Saat ia menikung tiba-tiba saja sesuatu menghantam tubuhnya dan membuatnya terpental dari sapu dan menabrak dinding Maze. Harry segera bangkit berdiri dan memposisikan diri siaga pada apapun yang membuatnya terpental dari sapu.

"Wuah, anak yang tampan ya," seru seorang wanita yang berjalan santai dan menggunakan dress hijau toska, serta memakai kerudung panjang yang menutupi rambutnya.

Harry menurukan tongkatnya walau tetap dengan kewaspadaan tinggi.

"Aku tak menyangka pihak panitia akan mengundang Medusa untuk memeriahkan acara ini," seru Harry dengan seringai yang lagi-lagi tampak begitu menakutkan.

"Ya ampun, untuk apa aku menyamar kalau kau langsung tahu siapa aku," seru Medusa itu dengan nada bosan, ia mendengus kesal, "Aku di kirim Pelahap Maut untuk menangkapmu dan kenapa kau bisa tahu siapa aku?" serunya dengan nada kekanak-kanakan berbeda sekali dengan penampilannya yang terlihat dewasa.

"Oh begitu. Ah itu mudah saja," Harry membungkukan badan hormat dan tersenyum ramah, "Kecantikan anda yang luar biasa dan aura sihir yang khas, membuat saya tahu siapa anda. Tentu saja itu berasal dari buku yang saya baca. Walau saya heran bukan kah seharusnya anda sudah tiada ribuan tahun lalu?"

Medusa mengangguk, "Ya, seharusnya aku sudah mati tapi Dark Lord membangkitkanku dari sisa kepala ku yang tersimpan di kuil Athena dan sekarang aku mengabdi pada Dark Lord. Ah sayang sekali kau musuh Dark Lord, pasti menyenangkan berteman denganmu."

Harry hanya tersenyum, "Sepertinya kemampuanmu berkurang Medusa. Tinggal rambut ularmu yang dapat merubah sesuatu jadi batu ya."

Medusa menyeringai, "Memang, tapi tenang saja kekuatan sihirku sudah cukup untuk menjatuhkanmu."

Medusa mengangkat kedua tangannya dan mengarahkannya pada Harry, kedua belah mata wanita itu bersinar terang lalu keluar ratusan ular dari kedua tangannya. Harry dengan kecepaan tinggi segera meraih sapu terbangnya dan melesat ke udara mengindari serangan ular itu. Saat ia melihat kebawah, tanah di Maze sudah di penuhi oleh ular-ular yang akan siap melahapnya bila ia turun.

"Refleks yang mengangumkan anak muda. Kau penyihir hebat."

Medusa menatap tajam Harry, merasa bahaya yang mengancam Harry memacu sapu terbangnya menjauhi Medusa. Medusa menarik kerudung yang menutupi kepalanya, tampak ular-ular bersisik hijau dengan mata merah 'hidup', perlahan ular-ular itu membuka matanya dan efeknya tak jauh berbeda ketika bisilik menatap lawannya. Jika tatapan basilisk membuat makhluk hidup menjadi batu maka tatapan ular-ular medusa membuat semua yang Medusa inginkandapat menjadi batu tak terkecuali dinding Maze yang berupa tumbuhan rambat. Harry semakin mempercepat laju sapunya sedangkan Medusa terus mengejarnya. Lari moster itu memang tidak seberapa tapi efek dari rambut ularnya yag membuat benda apapun dalam radius 50 meter menjadi batu membuat Harry setengah mati mengontrol sapunya agar dapat melesat seimbang dan dengan kecepatan semaksimal mungkin.

Tiba-tiba saja segerombolan ular melesat dan menyerangnya dari arah samping. Harry benar-benar lupa Medusa yang satu ini dapat memanggil ular dengan mudah. Karena menghindari serangan ular itu Harry kehilangan keseimbangan dalam mengontrol sapunya, membuatnya oleng dan menambrak dinding Maze. Tubuhnya terhempas keras ke tanah, menimbulkan bunyi tulang patah yang terdengar jelas. Pemuda itu meringgis, darah tampak mengalir di sudut bibirnya. Sambil memengang erat tongkat Holy-nya Harry mencoba bangkit dan bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang akan di dapatnya sebentar lagi. Tak lama tampak sosok Medusa yang berlari ke arahnya, dengan sigap walau diiringi nyeri pada lengan kirinya Harry mengarahkan tongkatnya ke depan serta mengucapkan mantra pelindung yang sekiranya cukup kuat untuk menahan sihir Medusa.

Saat moster itu telah sampai di depan Harry, ia menyeringgai dan memaksimalkan sihirnya unruk menyerang Harry. Dengan sisa kekuatan yang ada, Harry membentuk perisai hitam pekat yang melindunginya dari tatapan rambut ular medusa. Sayangnya itu tak dapat berlangsung lama karena perisai Harry mulai retak. Harry menghela napas panjang, menyiapkan hati bila ini akan menjadi akhir hidupnya. Tiba-tiba saja Harry merasakan aura sihir Medusa lenyap dan serangan Medusa tadi otomatis berhenti, ragu-ragu Harry mengayunkan tongkatnya dan menonaktifkan perisai miliknya. Di depannya tubuh Medusa telah tergeletak tak berdaya dengan kepala yang telah terpenggal sempurna, tak jauh dari mayat Medusa, Cedric berdiri tegap sambil menenteng sebilah pedang. Dengan langkah pasti Cedric berjalan mendekati Harry. Harry menatap Cedric dengan pandangan kagum yang tidak tertutupi dan saat Cedric berdiri tepat di depan Harry, pemuda pirang itu mengelus lembut pipi Harry.

"Kau baik-baik saja kan?"

Harry mengangguk lemah dan senyum tulus terukir di bibirnya.

"Thanks Cedric, aku berhutang nyawa padamu."

Cedric tersenyum lembut lalu mengenggam tangan kanan Harry.

"Kita harus cepat menyelesaikan tugas ini."

Harry menganguk dan membiarkan dirinya berjalan di bimbing oleh Cedric.

.

-o.c.t-

.

"Apa Harry akan baik-baik saja?" seru Hermione, dirinya sekarang sedang mondar-mandir di ruang rekreasi Gryffindor.

"Tenanglah 'Mione, Harry akan baik-baik saja lagipula kalau terjadi sesuatu padanya ia akan memanggil kita," seru Ron, dirinya tengah sibuk menulis entah apa, wajahnya tampak sangat serius seperi bukan dirinya yang biasa saja.

Hermione mengangguk dan duduk di sofa merah ranum yang menghadap perapian. Hanya ada mereka berdua di ruang rekreasi ini karena semua murid tengah sibuk menonton Turnamen Triwizard. Gadis berambut coklat mengembang itu mengambil salah satu buku yang tertumpuk di meja dan mulai membacanya. Matanya terbelalak saat menemukan kata yang tak asing di telinganya. Dengan tak sabar ia membolak-balik halaman lain yang ada kemungkinan mengandung kata yang sama.

"Ron, dari mana kau dapat buku ini?" seru Hermione sambil menatap tajam Ron.

Ron mengalihkan pandanganya dari perkamen tadi, "Sirius yang memberikannya padaku."

Hermione mengangguk, "Di sini ada membahas mengenai benda-benda pusaka, aku rasa kita menemukan petunjuk penting tentang Hocrux."

Ron langsung berpindah posisi dan duduk di sisi Hermione, "Maksudmu kau menemukan petunjuk Horcrux berikutnya?"

Hermione tersenyum, "Bisa di bilang begitu, seperti kata Dumbledore kemungkinan Horcrux yang di buat Voldemort ada tujuh. Yang pertama buku diary Tom yang telah Harry hancurkan saat tahun kedua, lalu cincin Marvolo Gaunt yang telah di hancurkan Dumbledore walau batu kebangkitan tidak hancur sepenuhnya tapi kita tahu sihir hitam yang menyelubunginya telah lenyap. Yang terakhir kita tahu yaitu liontin Salazar Slytherin yang telah di hancurkan Regulus."

Ron mengangguk, "Lalu apa hubungannya dengan buku itu?"

"Bagaimana menurutmu dengan piala Helga Hufflepuff dan Mahkota Rowena Ravenclaw? Aku rasa ada kemungkinan dua benda pusaka itu juga di jadikan Horcrux. Kalau benar bearti kita telah mendapat 6 Horcrux milik Voldemort."

Ron mengambil buku yang berada di pangkuan Hermione itu, lalu ia kembali mengangguk, "Aku setuju, kau tahu di mana kita bisa mendapatkannya?"

"Tidak, tapi kita bisa mencari tahu."

.

-o.c.t-

.

"Aku rasa kau yang pantas mendapatkannya, Cedric."

Cedric menggeleng keras, "Kau yang lebih berhak menjadi pemenang."

"Dari mana kau dapat kesimpulan seperti itu? Kau sudah menyelamatkanku dan bagiku tidak masalah kalau aku kalah dalam turnamen ini."

"Bagaimana kalau kita pegang pialanya bersamaan saja?"

Harry tampak berpikir sejenak sebelum bibirnya menyunggingkan senyum dan mengangguk setuju, "Ok."

Secara bersamaan Cedric dan Harry memengang piala api itu, dalam sekejap tubuh mereka hilang di telan kegelapan yang pekat.

Cedric mengangkat tubuhnya yang terasa berat, rasanya baru saja ia dan Harry menyentuh piala api di Maze dan sekarang ia entah berada di mana. Cedric mengedarkan padangannya untuk melihat sekeliling. Tempatnya terjatuh ini tampaknya berada di padang rumput nan luas karena sejauh mata memandang hanya ada rumput yang terlihat. Langit tampak sangat mendung dan siap menurunkan hujan ke bumi. Saat Cedric membalikkan badannya ia mendapati reruntuhan altar, terlihat sangat tua karena lumut memenuhi dinding-dinding batu. Cedic segera berlari ketika matanya menangkap sosok Harry yang terduduk di salah satu pilar yag runtuh.

"Kau baik-baik saja, Harry?"

Harry tersenyum simpul, "Yeah, aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong kau tahu kita di mana?"

Cedric menggeleng, "Aku tidak tahu."

Harry mengangguk kemudian berdiri tegap, lalu dengan langkah perlahan ia menyelusuri tempat aneh ini. Matanya mencari-cari piala api yang menjadi pockey mereka.

"Cedric."

"Ya?"

"Berdiri di belakangku."

Cedric hanya menurut saja dengan perintah Harry dan matanya terbelalak saat tiba-tiba saja muncul seseorang dengan jubah hitam panjang dan dengan muka yang mirip tikus mengendong bungkusan kain hitam legam, satu persatu di belakang laki-laki tadi muncul orang-orang yang mengenakan jubah hitam yang sama tapi dilengkap dengan topeng tengkorak putih.

"Pelahap maut?" tanya Cedric.

Harry hanya mengangguk sambil mengenggam erat tongkat Holy-nya di tangan kanan dan sementara tangan kirinya yang patah ia paksakan untuk meronggoh saku celananya dan mengusap cincin yang tersembunyi di sana.

"Berikan aku darahnya!" Perintah seseorang yang Harry sangat yakin ia bukan salah satu dari Pelahap Maut yang berdiri di sana.

Seorang Pelahap Maut menyerang Harry, membuat pemuda berambut hitam itu tersungkur jatuh. Cedric yang mencoba menolong Harry dengan mudah dapat di singkirkan pelahap maut dan berakhir dengan tubuhnya yang tergolek lemah di tanah.

Tubuh kecil Harry di angkatnya kasar dan dia lemparkan di altar batu. Harry meringgis ketika punggungnya menabrak batu altar yang keras. Pelahap Maut itu menggenggam pisau kecil di tangannya dan dengan kasar melukai tangan Harry. Membuat dagingnya terkoyak dan terasa sangat menyakitkan.

Pelahap Maut itu mengambil koyakan daging Harry dan memasukannya ke alam kuali yang entah sejak kapan diletakkan di situ.
"Masukan aku!" perintah suara tadi dan laki-laki bermuka tikus dengan hati-hati memasukan bungkusan hitam di tangannya ke dalam tungku. Beberapa pelahap maut maju dan mengucap mantra secara bersama-sama. Tiba-tiba saja asap keungunan mengepul dari kuali itu dan muncul sesosok makhluk berkulit putih pucat mengerikan dengan mata beriris merah darah dan tanpa hidung.

Seluruh pelahap Maut berlutut menghormatinya. Makhluk itu menyeringai menatap para pengikutnya, lalu menatap tajam Harry.

"Akhirnya kita bertemu, Harry Potter."

Seorang pelahap Maut berjalan mendekati mahkluk itu.

"My Lord," serunya sambil berlutut dan menyerahkan sebatang tongkat sihir.

Voldemort dengan sosok barunya mengambil tongkat sihir itu dan segera saja mengayunkanya ke arah Harry. Harry dengan sigap membentuk perisai menahan sihir Voldemort. Harry menyerang Voldemort, dan hanya dengan memiringkan kepalanya sedikit, Voldemort dapat menghindari serangan Harry.

"Harry," seru Cedric yang bangun dari pingsannya. Ia berusaha bangun dan kemudian melancarkan kutukan pada Voldemort.

"Crucio," seru seorang Pelahap Maut pada Cedric.

"Protego," seru seseorang di belakang Cedric. Reflek Cedric berbalik dan menyiagakan tongkatnya.

Muncul beberapa orang yang mengenakan jubah kehitaman dan topeng berwarna keemasan. Orde Phoenix telah datang.

"Kau tak apa, Harry?"

Harry tersenyum, "Aku baik-baik saja Candy. Untuk pockey-nya benar-benar bekerja."

Candy yang tak lain adalah Hermione yang berseragam Orde tersenyum di balik topengnya. Bersama Ron yang juga mengenakan seragam Orde mereka berdua membantu Harry berdiri.

Salah seorang pasukan Orde maju, "Kau sudah bangkit rupanya, Voldie."

Voldemort menggeram marah, "Bunuh mereka semua!"

Para Pelahap Maut serentak mengacungkan tongkatnya pada pihak Orde, pertarungan pun terjadi. Lemparan mantra bertabrakan di padang rumput itu, perlahan rintik hujan membahasahi bumi tapi kedua belah pihak berlawanan itu tampak tak perduli. Begitupun Harry yang terluka cukup parah, ia berusaha dengan gigih melancarkan kutukan pada seorang Pelahap Maut di depannya.

Semakin lama hujan yang turun semakin deras, menyisakan pertarungan untuk mereka berdua yang entah sejak kapan terpisah dari medan perang. Pelahap Maut itu mentrasfigurasi ranting pohon disampingnya menjadi sebilah pedang, Harry yang langkahnya terbatas ikut mentransfigurasi ranting yang terdekat dan merubahnya pedang. Keadaan Harry terdesak karena kondisinya yang tidak prima, ia jatuh telentang saat kakinya di sihir sang lawan. Pelahap maut itu mengangkat pedangnya dan mengarahkannya tepat ke wajah Harry, Harry hanya mampu membelalakan matanya menatap hal itu. Namun bukannya membunuh Harry, Pelahap Maut itu malah menancapkan pedangnya tepat di sisi kepala Harry. Dan hanya diam dengan posisinya yang berada di atas Harry.

Entah mendapat keberanian dari mana, Harry mengangkat kedua tangannya dan dengan pelan ia membuka topeng sang Pelahap Maut.

"Draco," serunya dengan suara serak saat menatap wajah Pelahap Maut itu.

Draco segera merampas topengnya dan dengan cepat memasangnya kembali lalu bangkit dan menjauh dari Harry. Sedangkan Harry dengan susah payah ia bangkit berdiri dan menatap Draco dengan pandangan tak percaya.

"Maaf," seru Draco dengan suara lirih dan meskipun hujan deras menguyur mereka, Harry dapat mendengar suara orang yang di cintainya itu dengan sangat jelas.

"Crucio."

Entah untuk keberapa kalinya hari ini, Harry jatuh tersungkur. Harry merasakan nyeri di tubuhnya tapi ia tak perduli, hatinya terasa sangat sakit. Perlahan kesadarannya menipis dan air mata mengalir indah dan berbaur dengan derasnya hujan saat itu.

.

-c.a.n.d.l.e-

.

Grimmauld Place

Harry membuka matanya yang terasa berat, ia menatap sekelilingnya dengan pandangan heran. Dia mengenali ruangan ini, ini kamarnya di Grimmauld Place di rumah Sirius dan Regulus. Tapi kenapa ia berada di sini, ia ingat terakhir kalinya ia masih di padang rumput bertarung dengan Draco. Mengingat tentang Draco, wajah Harry mengeras, dan pandangannya menjadi dingin dan tajam serta kosong. Ia duduk dan kemudian berjalan ke arah jendela. Di bukanya daun jendela besar itu lalu melangkahkan kakinya di ambang jendela dan melompat.

Sebelum dirinya terhempas ketanah dari lantai 3 itu, tubuhnya telah berubah kewujud Vampirenya. Ia menembus lapisan pelindung yang memisahkan rumah ini dari dunia muggle. Ia tetap berjalan, walau gelapnya malam menyelubunginya, walau tanpa alas kaki dan walau ia masih mengenakan piyama.

"Sedang apa gadis cantik sepertimu di sini?" seru pemuda bertampang preman menghadang Harry.

"Wuah, cantik sekali," seru temannya yang tampak sama brengseknya dengan teman satunya.

Dan ternyata mereka bukan hanya berdua karena di belakang mereka masih ada lima orang lain yang sedang minum-minum dan menatap Harry dengan pandangan lapar.

Harry hanya menatap kosong pada mereka dan melanjutkan perjalanannya. Preman tadi menarik lengan Harry dan memeluk tubuh munggilnya. Kemudian meraba-raba dada Harry, memerasnya dan menjilati lehernya dengan rakus.

"Rock, kau curang main sendiri. Kami juga mau ikut," seru teman-temannya yang ikut mengelilingi Harry dan menyentuh tubuh gadis itu.

Harry hanya diam dan tak bereaksi apapun walau tubuhnya telah di nodai. Matanya hanya memandang lurus dan kosong.

"Dia tak bereaksi apapun."
"Bagaimana kalau kita 'masuki' saja sekalian. Pasti menyenangkan dengan tubuhnya yang seseksi ini."

Preman-preman itu kompak mengangguk dan membawa Harry masuk ke markas mereka yang berada jauh di dalam gang sempit yang kumuh.

Tubuh Harry di hempaskan di salah satu sofa usang yang berada di tengah ruangan.

"Siapa yang kalian bawa?"

Seseorang dengan peacing yang terpasang di seluruh wajahnya masuk ruangan. Ia menatap semua preman-preman di sana yang sekarang menunduk hormat padanya.

"Hanya seorang gadis cantik, Boss."

Seorang yang di panggil Boss itu mengangguk, lalu memperhatikan Harry dari atas sampai ke bawah. Tubuhnya hampir terpapang jelas karena piyama yang ia kenaka sudah terkoyak-koyak, sungguh tampak seksi dan merangsang gairah sang Boss.

"Aku ingin bermain dengannya dulu."

Mereka mengangguk patuh lalu berjalan mundur dan merampat ke dinding. Mereka semua sama sekali tidak ada yang pergi dari ruangan itu. Boss mereka yang melakukan seks di depan mereka sudah menjadi tontonan biasa.

Boss itu menatap Harry dengan pandangan lapar yang hanya di balas Harry dengan tatapan kosong. Ia membuka piyama Harry dengan tidak sabaran, dan mulai bermain dengan tubuh gadis itu. Sayangnya apapun yang dilakukan Boss itu tetap saja tidak menimbulkan reaksi apapun pada Harry membuat si Boss jengah dan marah.

"Ia meraih botol kaca yang tergeletak di atas meja lalu melemparnya tepat di tangan kiri Harry. Darah segar mengalir dengan deras dari lengan kirinya. Dan membuat sang Boss menyeringai karena melihat raut wajah kesakitan Harry. Ia mencium gadis itu dengan ganas, sedangkan kedua tangannya kembali meraba-raba tubuh Harry.

Perlahan-lahan iris mata Harry yang semula Ruby berubah cemerlang menjadi semerah darah yang mengucur dari lengan kirinya. Taringnya tampak semakin jelas dan seringai mengerikan tersungging di bibir munggilnya.

Ia mengenggam kedua lengan Boss dengan keras, membuat Boss menghentikan kegiatannya dan meringgis kesakitan. Harry meraup lehernya dan menghisap darahnya dengan cepat hingga Boss preman itu mati kehabisan darah.

Semua yang melihat kejadian itu ketakutan dan dengan cepat lari berusaha menyelamatkan diri. Sayangnya Harry jauh lebih cepat kerena dengan mudah ia dapat mengejar seluruh preman yang melarikan diri dan menghisap darah mereka hingga mati. Ia mengambil kembali piyamanya yang terkoyak-koyak dan kembali ke Grimmauld Place.

.

-o.c.t-

.

Serius berjalan mondar-mandir di kamar Harry, sementara Regulus duduk di sofa tunggal sambil memijat pelipisnya.

"Tenang Sirius, Harry pasti kembali."

"Tapi, Regulus, ini sudah pukul 03.00 dini hari. Kemana ia pergi, lagi pula harusnya badannya masih lemah kan?"

BRAK

Refleks mereka berdua menoleh ke jendela saat seseorang membukanya dengan kasar. Dan terbelalaklah mereka berdua saat melihat keadaan Harry sekarang, piyama compang-camping dan dengan darah yang di sekitar bibirnya, di tambah darah yang mengucur dari lengan kirinya. Belum lagi ia sekarang dalam wujud perempuannya yang seorang vampire.

"Kau dari mana Harry!" seru Sirius yang tanpa sadar meninggikan nada bicaranya saat melihat kondisi Harry.

Harry menyeringai, "Aku baru selesai makan. Dan kau tahu Sirius, mereka mati, preman-preman itu mati di tanganku," matanya berubah sendu namun dengan cepat berubah tajam dan kejam, "Hihihihi, sekarang aku sama saja dengan Voldemort, aku membunuh. Ahahahahaha."

"Stupefy."

Harry jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Sedangkan Sirius menatap tajam Regulus.

"Apa yang kau lakukan padanya?"

"Membuatnya tenang. Entah apa yang terjadi padanya," seru Regulus sambil berjalan mendekati Harry kemudian menggendongnya dan memberingan gadis itu ke kasur.

"Sirius, lihat ini."

Sirius mendekat dan matanya terbelalak saat mengamati tubuh Harry yang penuh bercak kemerahan.

"Apa yang sebenarnya terjadi padanya?"


TBC


A/N

m(_ _)m *Nunduk-nunduk

Maaf, maaf. Jangan bunuh saya karena alurnya jadi begini.. Ok?

Kaaabbuuuurrr... Review yaaaaaaaaaaaaaaaaaa...