Fanfiction Akatsuki in Humor Season 2

Naruto Disclaimer Masashi Kishimoto

Akatsuki in Humor Season 2

Genre : Humor, Parody, Friendship, etc.

Type : Semi Canon

Rate : K/K+/T/M

Main Cast : Akatsuki and friends

Main Pair : None

Place : All places in Boruto (Naruto The Next Generation)

Warning : Oc, Ooc, Au, Ar, At, No EYD and GAJE story. Hahaha :D

.

.

Chapter 11 Rantang Kosong

.

.

Hari itu, hari yang cerah. Secerah tiga serangkai yang kehilangan satu tangkai.

(Apaan gak nyambung ya, hihihi)

Deidara dan Hidan masing-masing tengah asik membajak sawah dengan menaiki seekor kerbau. Mereka berjalan bak seorang pangeran dari lumpur hitam yang menunggangi kerbau hitam berbadan besar.

"MOOOOO"

Kerbau-kerbau yang ditunggangi mereka tampak gembira saat keduanya tiada berhenti bercerita. Maklum saja sang pemilik asli kedua ekor kerbau itu terkenal sangat pendiam dan jarang mengeluarkan suara, termasuk suara kentut sekalipun.

Di tengah-tengah sawah yang luas, mereka berdua menikmati pekerjaan setengah waktu yang diberikan oleh Pain sang ketua Akatsuki kepada mereka.

"Asik juga ya, bajak sawah naek kebo..." gumam Hidan sambil nyengir gak karuan.

"Tapi denger-denger bentar lagi kemarau Dan." Deidara menyahuti.

"Tenang aja Dei, ada Kisame. Tinggal di suiton bereskan irigasi." Balas Hidan sambil terus menikmati pekerjaannya yang terkesan santai.

"Lah piye Dan (pake logat Jawa), kalo kemarau dari mana Kisame dapet aer?" Deidara bertanya sambil menunggangi kerbau yang beriringan dengan kerbau yang ditunggangi Hidan.

"Dari lautlah teme!" Hidan menyahut seketika.

"Emang iso aer laut buat dipake irigasi?" Deidara bertanya lagi.

"Eh iya juga, bener apa kata loe Dei." Hidan membenarkan apa yang Deidara katakan.

"Duhh un, (kembali ke bahasa asal) loe jadi orang asbun sih. Gitu kan..." sindir Deidara sambil menggibas rambutnya ke arah sebelah kiri pundak.

"Asbun?" Hidan bingung.

"Iya, asal bunyi. Kuwakakakak..." Deidara tertawa gak jelas.

"Pft..." Hidan hanya menatap sinis si pria cantik yang berjalan menunggangi kerbau di samping kanannya.

.

.

.

Lain Deidara dan Hidan, lain pula Kisame dan Kakuzu.

Mereka berdua asik membuat kolam lele selebar 10x10 meter di bagi 5 meter.

(Pusing kan mikirinnya, hahaha)

Maksud author mereka berdua membuat kolam ikan selebar 20 meter (4×5)meter sebanyak 5 tempat.

Tentunya kolam lele itu tidak dapat menggunakan jutsu suiton Kisame. Karena ikan lele yang terkenal agresif memakan segala jenis bisa-bisa menelan tubuh Kakuzu yang terbuat dari jerami.

Mereka berdua sangat hati-hati, dan bolak balik memutari kolam saat memberi makan ikan-ikan lele.

"Pain kagak salah apa ya, ngasih gue kerjaan kayak begini. Penuh resiko." Gumam Kakuzu sambil memberi makan induk-induk lele.

"Mungkin Pain sedang lapar Zu, jadi dia asal sebut anggota." Kisame mengisi kolam dengan air ledeng menggunakan selang panjang berwarna biru.

"Yah mungkin saja, tapi gak habis fikir. Bisa-bisanya seorang ketua salah sebut." Gerutu Kakuzu.

"Ketua juga manusia kaleee Zu... hahaha..." Kisame tertawa memperlihatkan gigi-gigi runcingnya.

"Iya kali ya..." Kakuzu hanya melamuni nasib sambil tetap memberi makan induk-induk lele.

.

.

.

Itachi dan Sasori.

"Haduuuhhh...baka no Pain no gain..." keluh Sasori sambil duduk di bawah rindangnya pohon.

Itachi hanya diam sambil sesekali mengusap keringat di dahinya.

"Loe gak ngerasa aneh sama Pain tah Chi? Kok bisa-bisanya dia ngasih kerjaan misah duet kek gini.." Sasori nampak kelelahan sekali.

Itachi tidak menjawab, ia mengambil air di botol minum yang ia bawa lalu meneguknya.

"Badan gue ini udah kecil nambah kecil kalo di suruh nebangin pohon pisang berpuluh-puluh biji."

"Buah..." sela Itachi

"Sama aja Chi." Sasori menyahut seketika.

"Yang pakar nebang malah suruh naek kebo di sawah, seharusnya gue lah yang sama si uun itu ngebajak sawah. Loe sama Kisame buat kolam dan Hidan sama Kakuzu nebangin nih pohon.

Kebanyakan makan micin apa ya si Pain itu?" Sasori bertanya sendiri menjawab sendiri.

"Ya udahlah Sas, suka-suka dia mau nyuruh siapa. Ini kan bentuk kesolidan organisasi kita." Itachi berusaha menenangkan kekesalan temannya.

"Solid sih solid, tapi gak kayak gini juga keleeess..." Sasori kemudian melepas lelah dengan menelentangkan tubuhnya di bawah pohon yang rindang tepat di samping kanan Itachi.

Itachi kemudian menengok ke arah sebelah kiri, tepat di mana bertundun-tundun pisang tertata rapi seperti piramid Mesir.

'Emang cuma loe doank cuk yang kesel, gue juga. Tapi gue lagi gak mau ribut aja makanya Pain gak gue ladenin.' Bisik Itachi di dalam hati sambil mengaktifkan Mangekyo Sharinggannya.

.

.

.

Kembali ke area persawahan...

"Wuss..wuss.."

Angin itu menyapu terik panas matahari yang menyengat, sudah waktunya bagi Hidan dan Deidara menyantap makan siang, tapi hidangan itu belum juga datang.

Mereka duduk di sebuah gubuk yang ada di pertengahan sawah sambil meminum air dari botol minum yang mereka bawa.

"Huuh...lama amat si kurir nganterin nasinya..." gerutu Hidan yang sudah tidak sabar menunggu.

Deidara sendiri terlihat sibuk menata ulang rambutnya, kadang ia sanggul tapi ia uraikan lagi. Lalu ia kuncir kuda tapi ia lepas lagi kuncirannya, membuat Hidan nyeletuk aneh kepada anggota Akatsuki yang satu ini.

"Oooiiiii..."

Hidan mulai memanggil sang teman yang sibuk di hadapannya.

"Udah-udah lagi Dei, kalo cowok ya cowok aja. Cewek ya cewek aja. Punya rambut segitu aja loe repot banget sih!" Celetuk Hidan sambil terus mengipasi badannya.

Deidara pun melirik ke arah Hidan.

"Loe itu yang repot teme! Apa yang gue kerjain komentar aja!" Seru Deidara setengah kesal.

"Eh loe di kasih tau malah ngeyel!" Hidan ikut emosi.

Tiba-tiba seorang bocah autis datang sambil berlari-lari di pematang sawah.

"Senpai...senpai...!"

Tobi datang membawa sebuah rantang yang berisi tiga tingkat.

"Eh tuh si Tobi bawa rantang." Deidara segera berdiri melihat kedatangan Tobi.

"Hosh...hosh..." Tobi terlihat lelah sehabis berlari.

"Maaf senpai, Tobi telat nganterin nasinya. Tobi nganterin buat senpai yang lain dulu." Tobi segera menaruh rantang di atas gubuk kayu lalu membukanya satu persatu.

"Eeehhh..." Tobi bingung sendiri, Hidan dan Deidara kemudian ikut melihat isi rantang tersebut.

"Kok kosong Tobi!" Hidan menggerutu kesal.

"Un, loe gak salah ngambil rantang kan?" Tanya Deidara dengan pose cantik.

"Emm..." Tobi menggaruk-garuk kepalanya sendiri, ia pun bingung.

"Oiii baka! Cepet loe pulang lagi ke rumah ambil makan yang bener. Gue udah laper berat tau gak!" Seru Hidan yang sangat kesal karena lapar dan panas.

"Tapi senpai, tadi nasinya udah habis..." Tobi bercerita.

"Apa?!" Hidan langsung pusing tujuh keliling mendengarnya.

"Yang bener aja loe?!" Hidan masih tak percaya.

"Ho-oh." Tobi mengangguk mengiyakan.

"Kalo gitu gue makan gabah aja..." Hidan kemudian pingsan mendadak karena rasa lapar yang tak tertahan.

"Senpai...senpai..." Tobi panik bukan main sambil mengguncang-guncang tubuh Hidan yang jatuh di atas papan gubuk.

Deidara kemudian mengambil kipas yang tadi Hidan gunakan, kemudian ia berkata.

"Gajah di pelupuk mata enggak keliat, semut di seberang samudra keliatan. Gitu tuh..." ucap Deidara sambil mengipasi rambutnya.

"Eeerr..." Tobi jadi bingung sendiri.

.

.

.

Malam harinya...

Seluruh anggota Akatsuki terlihat berkumpul mengelilingi Hidan yang tiada kunjung tersadar dari pingsannya. Membuat Pain sang ketua Akatsuki kebingungan mencari solusi. Padahal Hidan sudah diberi aroma terapi berupa kaos kaki yang sudah berminggu-minggu tak dicuci untuk menyadarkan dirinya. Tapi sayang sang pria berwajah maskulin tak kunjung sadarkan diri.

"Gimana ini Pain?" Tanya Konan yang khawatir.

"Iya, loe sih ngasih job yang gak sesuai keahlian. Tewas kan ini anak!" Kakuzu ikut ngedumel.

"Apalagi gue Zu, udah badan kecil suruh nebangin pohon pisang yang berpuluh-puluh. Makin kecil aja badan gue..." gerutu Sasori sambil memasang wajah kesalnya.

"Huuffft..." Pain ikut merasa bersalah atas insiden ini.

"Maksud gue kan biar kamuorang berbaur gak sama setim aja gitu. Eh malah kayak gini..." Pain pasrah pada akhirnya.

"Un...un...ini gak ada hubungannya sama pisah tim, si Hidan itu kelaperan tapi gak dikasih makan. Jadinya yah gini..." ucap Deidara sambil mengipas-ngipas rambutnya.

"Errr...Tobi no baka, emang gak loe bawain nasi tadi?" Nagato ikut bertanya.

"Tobi bawa ko senpai, cuma rantangnya doang tapi sih. Isi di dalemnya gak ada." Sahut Tobi dengan polosnya.

"Lha kok bisa?" Sasori ikut bertanya.

"Iya kan nasinya habis, lauknya habis. Tadi itu Tobi anter terakhir buat senpai Hidan dan senpai Deidara. Kirain masih ada, taunya habis." Tobi ikut menyesal.

"Oooaaalllaaahh Tob, yang dibutuhin itu isinya bukan covernya. Loe gimana sih?!" Kakuzu ikut menyahuti.

"Hem...yah gimana ya... daripada Tobi gak dateng." Ucap Tobi sambil menarik-narik ujung jubah Akatsukinya.

"Yah udah Chii, kesalahan emang sama kita bertiga sebagai tukang masaknya. Sekarang loe masak gih siapa tau si Hidan siuman nyium bau masakan loe." Pain memberi keputusannya.

"Haahh...baiklah..." Itachi kemudian berdiri lalu menuju dapur untuk masak.

Sesampainya di dapur yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berkumpul mengelilingi Hidan, Itachi terkejut melihat sesuatu yang tak ada.

"Oooiii Pain! Beras aja kagak ada apa yang mau gue masak?!" Itachi sweatdrop melihat pendaringan (tempat menaruh beras) tidak ada isinya sama sekali.

"Wohhh loe Pain bikin kesel..." gerutu Kakuzu yang mendekati Pain.

"Lempar batu sembunyi upil." Sasori kemudian mengeluarkan kugutsunya.

"Huffttt...gue juga ikut kesel, gak makan seharian!" Deidara mulai membuat peledaknya.

"Pasti duit beras dikorup buat beli kaset icha-icha series." Kisame ikut mengompori.

"Eh...kamuorang mau ngapain?" Pain beranjak mundur dari tempat yang ia dududki.

Satu...

Dua...

Tiga...

"Serrbuuu...!" Teriak Deidara memulai pertarungan.

Pain pun dilempari bom atom kecil oleh Deidara.

"BOOM! BOOM!"

"Rasain loe Pain, sekali-kali kena bom gue, hehehe..." Deidara tertawa lepas.

Pain hanya berlari-lari gak jelas di seputaran rumah. Sementara Sasori dan Kakuzu ikut menyerang dengan boneka dan topeng jeraminya.

"AAAAA...AMVUUUN...ane mintaa mangaaapp...eh minta maaaff..." teriak Pain berusaha menghindar dari serangan anggotanya.

Konan dan Nagato hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah konyol anggota Akatsuki yang lain. Tak lama Zetsu pun datang membawakan bunga cammomile untuk dihirup Hidan. Alhasil Hidan yang mencium aroma terapi langsung siuman dan segera melahap bunga cammomile yang Zetsu bawa.

"Beras tak ada bunga pun jadi..." ucap Hidan saat rasa laparnya kembali menyerang.

.

.

.

Tbc