Chapter 10: THE SUSPENSE

.

Motherfucker

An Action Fanfiction

.:o Yuri Masochist Presents o:.

"Are you ready to kill?"

A sequel of Welcome to Our Madness

.

.

.

Saat Junhong pulang, Daehyun—yang membuka pintu depan rumah bengkel mereka—terkejut dengan beberapa lebam di wajahnya. Dan juga sebuah luka gores di lengan atasnya.

"Astaga, Junhong. Apa yang terjadi padamu?"

Junhong memutar keduabolamatanya dan berjalan melewati Daehyun. "Kalau kau khawatir, aku yakin kau sedang kerasukan setan."

Daehyun menutup pintu tanpa membalas. Ia memperhatikan bagaimana Junhong berjalan ke ruang tengah dan duduk di salah satu sofa kosong, dimana Jongup, Youngjae dan Jungkook tengah menonton pertandingan sepakbola di televisi.

"Junhong, kau baik-baik saja?" pertanyaan yang Jungkook lontarkan membuat Youngjae dan Jongup tersadar akan kehadiran Junhong.

"Kau kacau sekali. Siapa yang membuatmu begitu?" tanya Youngjae.

Daehyun berdiri di belakang sofa yang di duduki Junhong.

"Ada hal menarik apa selama aku pergi seminggu kemarin?" Junhong mengalihkan pembicaraan setelah memutar keduabolamatanya. "Apa Jungkook semakin baik?"

"Dia sudah lebih baik." suara Yongguk dari arah dapur menarik perhatian mereka. Lalu Yongguk muncul sambil menggenggam bir kalengan yang baru saja diteguknya. "Besok kita ke lapangan."

"Apa?" Junhong mengurungkan niat untuk bersandar. "Dia akan bertemu Sehun besok?"

"Oh, tidak." Yongguk tertawa dan menghampiri sofa kosong samping Jongup. "Dia akan melewati pelatihan terakhir." Lalu duduk di sampingnya.

Junhong menggerenyitkan dahinya.

"Kenapa?"

Junhong berniat untuk tidak peduli dengan cara mengalihkan perhatiannya pada televisi.

~..o..~

MEI 29

Jungkook selesai mandi dan sudah mengenakan pakaiannya. Ia keluar dari kamarnya bersama Youngjae dan mendapati Junhong tengah duduk di sofa sambil mengelap papan skate-nya. Jungkook tersenyum tipis dan duduk di sampingnya.

"Ingat saat kau mengajarkan aku menggunakan papan skate dulu?"

Junhong tidak terkejut dengan kehadirannya.

"Aku jatuh beberapa kali dan kau kesal karena hal itu." Jungkook terkekeh pelan saat mengenang masa lalu. "Kau ingat saat aku memutuskan untuk membeli papan skate tapi kau melarangnya?"

"Karena aku berniat membelikannya sebagai kado di hari ulang tahunmu." Junhong menambahkan. Tapi matanya tetap terfokus pada papan skate-nya.

"Haha, dan aku masih menyimpannya dengan rapi. Aku tidak tahu masih bisa menggunakannya atau tidak."

"Kurasa tidak."

Jungkook agak aneh dengan respon itu.

"Setiap orang memiliki kelebihannya masing-masing. Dan kau tidak baik untuk papan skate."

"Mungkin kau benar. Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasa memainkannya." Jungkook menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Aku baik dalam hal lain."

"Apa? Bertarung?" Junhong mendecih. "Pecundang sepertimu bisa apa?"

Jungkook menatapnya.

"Kau pikir apa yang bisa dilakukan oleh seorang mantan narapidana?" Junhong mengangkat alis dan menatapnya.

Sejujurnya kalimat itu cukup memancing emosi Jungkook. Tapi ia sadar, Junhong telah membantunya selama ini. Lagipula, Jungkook adalah tipe orang yang menghargai pertemanan.

"Aku masih bisa hidup." Jungkook mengangkat bahu. "Sudah kujawab."

Junhong masih menatapnya dalam beberapa detik sebelum mengembalikan perhatiannya pada papan kesayangannya. "Kapan ke lapangan?"

"Nanti malam."

"Kau tahu kau harus apa?"

Jungkook menggeleng. "Tidak."

"Oh." Junhong berdiri dan beranjak menuju kamarnya. Namun langkahnya terhenti sebentar saat ia mengatakan sesuatu. "Kalau kau masih hidup, aku menantangmu untuk melawanku."

Jungkook hanya tidak mengerti apa yang membuat Junhong berubah.

~..o..~

Malam menjelang turun. Itu pukul sebelas lewat jika Jungkook tidak salah lihat ketika mereka berangkat. Dan perjalanan sudah berlangsung sekitar tigapuluh menit lebih.

Ia berada di dalam mobil bersama Himchan dan Junhong. Sedangkan yang lain berada di mobil lainnya, yang jika Jungkook tidak salah sudah tidak mengikuti mobil mereka. Jadi sebenarnya kemana mereka akan pergi.

Jungkook memperhatikan sekitarnya saat Himchan memperlambat laju kendaraannya. Mereka berhenti di sebuah gedung tua yang terabaikan di pinggiran kota.

Himchan keluar dari mobil terlebih dahulu, Junhong dan Jungkook menyusulnya. Dari luar terlihat jelas bagaimana kondisi gedung itu. Sudah banyak dinding yang rubuh, sehingga bagian dalam bisa tampak dari luar. Hanya tiang penyangga yang masih terlihat kokoh di beberapa bagian. Banyak coretan-coretan dinding, catnya sudah memudar, bahkan warnanya di dominasi oleh abu-abu dan hitam. Beberapa hanya tersisa rangkanya. Mungkin memang sudah lama ditinggalkan.

Mereka melangkah masuk ke dalam gedung itu dengan penerangan samar, lalu menaikinya ke lantai dua. Himchan mendekat pada Junhong dan membisikkan sesuatu yang membuat Junhong agak terkejut, namun akhirnya ia mengangguk.

Junhong mendahului langkah mereka sebelum Jungkook bisa menebak-nebak. Ia berjalan melalui sesuatu yang ditutupi kain hitam, menatapnya sebentar lalu menghilang dari pandangan Jungkook karena Himchan mengambil perhatiannya.

"Kau sudah disini sekarang." kata Himchan.

Jungkook mengangguk pelan lalu melirik ke arah dimana Junhong berada tadi, namun benar, ia sudah menghilang.

"Ini tes lapangan, tapi ini berbeda dari sebelumnya."

"Apa yang membuatnya berbeda?" tanya Jungkook hati-hati. "Apa karena kita berada di… luar?"

Ia yakin itu pertanyaan konyol, tapi raut wajah Himchan tidak berubah sama sekali. Himchan benar-benar namja satu ekspresi yang pernah ditemuinya seumur hidup.

"Karena kali ini kita tidak peduli kau berakhir hidup atau mati." Himchan berjalan ke arah sesuatu yang ditutup oleh kain hitam setinggi dada itu. "Itu pilihanmu untuk bertahan dan melawan."

Mungkin Jungkook mengerti maksudnya, dan diperkuat saat Himchan menarik kain itu.

Tampaklah seorang gadis dalam keadaan diikat di kursi tidak sadarkan diri. Ada kain yang melingkari mulutnya. Tubuhnya sedikit lebam, bibirnya berdarah.

Himchan membuang kain itu menjauh. "Kau ingat dia?"

Jungkook menggerenyitkan dahinya.

"Dia satu angkatan denganmu saat SMA."

Agak tidak peduli karena Jungkook sendiri tidak tahu siapa dia. Yang dia herankan adalah karena melibatkannya.

"Ada apa dengan dia?"

Himchan melirik arloji yang melingkar di lengannya dan mendekat ke arah Jungkook, lalu menepuk bahunya.

"Bantuan dalam permainan," Himchan berbisik. "Namanya Choi Jinri. Selanjutnya lakukan sesuai setting." Kemudian berjalan melewati Jungkook menuruni tangga dan menghilang dari pandangannya.

Jungkook berniat bertanya, tetapi ia yakin Himchan tidak akan memberinya jawaban. Jadi dia memilih untuk mendekati gadis bernama Jinri yang masih tidak sadarkan diri.

Ia memperhatikan sekitar, lalu mengusap wajahnya sampai terdengar sebuah rintihan halus. Jungkook mengalihkan pandangannya pada Jinri yang mulai sadar.

"Ngh…"

Jungkook hanya memperhatikan bagaimana gadis itu mengerjapkan matanya dan tersadar bahwa ia dalam keadaan terikat. Namun sontak Jinri kaget melihat Jungkook berdiri di hadapannya. Mata dan tubuhnya bergetar, Jungkook tidak mengerti.

Jarinya menurunkan kain dari mulut Jinri perlahan.

"J—Jung...kook…"

Oh, dia mengenalnya.

Jungkook tidak menjawab, sampai sebuah suara muncul dari balik tubuhnya.

"Hadapi aku, Brengsek!"

Ia berbalik, dan mendapati ada lima orang berdiri tak jauh dari tangga. Dua diantaranya membawa tongkat baseball di tangannya.

Jungkook melirik ke belakang—pada Jinri—kemudian kembali pada kelima orang itu. Ia mengerti. Dia dijadikan kambing hitam untuk, well, mungkin penyekapan Jinri. Setidaknya yang dia mengerti sekarang, maksud pelatihan lapangan berarti berlatih dengan menggunakan objek nyata. Artinya, boleh ia bunuh, bukan, orang asing ini?

Jungkook merenggangkan otot lehernya.

Salah satu dari mereka berjalan mendekat dengan perlahan. "Apa maksudmu melakukan ini?"

"Bermain." Jungkook tidak tahu harus menjawab apa sebenarnya.

Dia berdecak, lalu melirik sedikit ke belakang, pada dua orang yang masing-masing memegang tongkat baseball. "Seungyoon, Seunghoon." Panggilnya pelan sambil memberi aba-aba untuk mengepung.

"J-Jinwoo-oppa…"

Jungkook melirik pada Jinri yang merintih, lalu kembali pandangannya kepada namja bernama Jinwoo ini.

"Kau yang menginginkannya." Jinwoo mengangkat bahu dan menyuruh dua lainnya—Minho dan Taehyun—pergi ke sudut lainnya. "Pengecut sepertimu yang menyiksa seorang gadis."

"Atau," Jungkook mengangkat satu alis. "Pengecut seperti kalian yang datang keroyokan?"

Hal itu memancing emosi Jinwoo. Dia menggeram lalu menerjangnya dan berniat memberi sebuah pukulan di rahang, namun Jungkook berhasil menahannya. Jungkook tersenyum puas—entah gejolak apa yang merasuki jiwanya—dia menendang perut Jinwoo hingga tersungkur menjauh.

Seunghoon datang dari arah lain, melayangkan pukulan memakai tongkat baseball, tapi Jungkook bisa menghindar. Seungyoon datang dari belakang dan melakukan hal yang sama namun Jungkook bisa mengatasi keduanya.

Taehyun dan Minho tidak tinggal diam, tapi Jungkook memberi keduanya pukulan skakmat pada kepala mereka, yang membuat keduanya merintih di tanah.

Semua latihan ini berguna.

Jungkook mendekat ke arah Jinwoo dan menendang tubuhnya yang terkapar di tanah. "Sudah menyerah disaat kita belum mulai?"

Dan Jinwoo tidak terima. Dia memukul lutut Jungkook dengan lengannya, membuatnya sedikit kehilangan keseimbangan lalu terjatuh saat Jinwoo memukul kepalanya.

Itu pukulan pertama yang Jungkook dapat.

Dia merasakan seseorang menahannya dari belakang. Jungkook tidak peduli siapa, tapi dia mencoba menjauh. Dia memutar tubuhnya dengan kuat sambil melayangkan sebuah tendangan tinggi, tepat pada leher Minho.

Seunghoon mendekat, membawa tongkat baseball-nya dan melayangkannya pada Jungkook, mengenai lengannya. Jungkook meringis, melangkah mundur saat pukulan kedua di layangkan. Seunghoon menggeram, tapi Jungkook menendang dadanya, membuatnya jatuh. Dari belakang tubuhnya, Taehyun berniat memukul, tapi Jungkook menangkisnya. Lalu ia kembali pada Seunghoon dan menginjak kepalanya keras berulang kali sebelum mendapatkan seluruh perhatiannya untuk Taehyun.

Pandangannya melirik sedikit ke arah Seungyoon yang melepaskan ikatan pada Jinri, tapi Jungkook sama sekali tidak peduli.

Jinri berlari terpincang ke arah tangga dan menuruninya secepat yang ia bisa.

Taehyun mengambil aba-aba, bersama Jinwoo yang mulai siaga.

Ada tiga lagi yang belum lumpuh, setidaknya perlakuannya tadi bisa membuat dua dari mereka meratapi sakit di tanah.

Jungkook menggeram sambil berlari ke arah mereka lalu melayangkan sebuah pukulan pada Jinwoo. Taehyun menahan satu tangan Jungkook dari belakang, tapi Jungkook berusaha memutarnya, membalikkan keadaan sehingga ia yang berkuasa, lalu menendang pada wajahnya. Dari arah lain Seungyoon mendekat dengan tongkat yang diacungkan, lalu melayangkannya ke arah Jungkook. Jungkook menendang tongkat dari genggamannya sekuat yang ia bisa sehingga terhempas jauh, kemudian ia pukul tengkuk bagian punggungnya—berniat mengenai tengkuknya namun meleset.

Dari semuanya hanya Jinwoo yang terlihat masih bisa bangkit dan menantangnya.

Jungkook menatapnya tanpa takut.

"Kemari dan hadapi aku."

"Sebenarnya apa maumu, Brengsek?!" jerit Jinwoo ketika ia berlari menuju Jungkook sambil melayangkan sebuah pukulan, yang lagi-lagi bisa Jungkook hindari.

Jungkook memukulnya di perut. Membuat Jinwoo merintih, namun tak sampai sedetik ketika ia membalas pukulan Jungkook di area yang sama.

Keduanya sama-sama mengejar napas.

"Aku bahkan tidak mengenalmu… hhh… apa yang salah dari Jinri?"

Jungkook tidak tahu harus menjawab apa, lagipula ia ingin cepat mengakhirinya. Dia tidak menjawab, namun menerjangnya dengan sebuah pukulan. Tapi tak disangka, Jinwoo menahan pukulan itu dengan tangannya lalu menendang Jungkook hingga tersungkur sampai mendekati ujung bangunan.

Saat ia bergegas untuk bangkit, Jinwoo telah lebih dahulu mencekik lehernya dan membawanya berdiri. Kedua mata Jinwoo terlihat nyalang, jelas sekali Jinri adalah seseorang yang cukup penting untuknya. Jungkook pernah melewati detik-detik seperti ini. Mempertaruhkan nyawa untuk seseorang yang cukup berarti—teman-temannya.

"Kkh…"

Mata Jungkook membulat seiringan dengan kuatnya cekikan itu. Tangannya berusaha menggapai untuk melepaskan.

Ia sadar, ia akan jadi olokan jika tidak bisa melalui semua ini. Apalagi karena ia belum bertemu dengan Sehun.

"MANUSIA BRENGSEK SEPERTIMU SUDAH SEHARUSNYA MATI!"

Dan teriakan itu bersamaan dengan terlemparnya tubuh ke bawah, pada tumpukkan besi di tanah.

Dari balik reruntuhan, tak jauh dari kursi yang sebelumnya di duduki Jinri, Junhong terdiam.

~..o..~

Pintu diketuk. Luhan yang tidak sengaja tertidur di sofa ruang tengah segera terkesiap dan melirik jam dinding yang menunjukkan pukul duabelas malam lewat. Luhan segera berdiri dan beranjak menuju pintu yang masih di ketuk.

Dia membukanya dan mendapati Jongdae sudah berdiri disana.

"Ah, Jongdae," Luhan mencoba merenggangkan lehernya yang kaku. "ada apa malam-malam sekali?"

"Aku hanya disuruh untuk mengantarkan laporan ini padamu."

"Ya—apa?" Luhan membuka pintu lebih lebar. "Masuklah dulu."

Jongdae melangkahkan kakinya masuk dan Luhan menutup pintunya. Mereka berjalan menuju ruang tengah dan duduk di sofa yang berhadapan.

"Kau lembur?"

Anggukan itu menjawabnya. Jongdae menaruh berkas yang sejak tadi dipegangnya ke meja. "Mereka memintamu ikut turun ke Australia. Untuk mengurusi kerja sama dari majalah kita dengan majalah paling terkenal disana."

"Bos memintaku?" Luhan mengerjap sebelum mengambil berkas itu dan memeriksanya. "Siapa saja?"

"Kau, Yuri, Tiffany dan Heechul-hyung."

Luhan mengiyakan sambil membaca deretan kalimat dari lembaran yang sedang ia lihat.

"Well, aku hanya ingin tahu saja, apa Sehun memang sering berkeliaran malam hari?"

Perhatian Luhan teralihkan pada Jongdae.

"Kau tidak tahu?"

"Dia tadi…" Luhan melirik sebentar ke arah tangga. "pamit pergi ke minimarket untuk membeli rokok. Kurasa dia sudah… kembali."

"Kau bisa mengeceknya."

Dihantui rasa takut atas kejadian beberapa tahun silam, Luhan memang membatasi pergerakan Sehun. Ia segera menaruh berkas itu dan bangkit dari duduknya, lalu berlari ke lantai dua melewati tangga. Jongdae hanya perlu menunggu kurang dari satu menit sampai Luhan kembali dengan wajah yang agak panik.

"Dia tidak ada…"

"Karena kulihat dia sedang mengamati sesuatu di jalanan. Entah pada orang, entah pada mobil, entah pada apa. Yang pasti ia menghilang dari pandanganku saat akan kuhampiri—aku menggunakan mobil, jadi agak kesulitan."

Luhan mendekat dan kembali duduk. "Kau yakin itu Sehun?"

"Aku melihatnya dari depan, mana mungkin aku salah. Dan aku tidak berniat membuatmu cemas. Memangnya dia pergi pukul berapa?"

"Sekitar…" Luhan mengamati jam dinding. "pukul sebelas."

"Coba kau hubungi."

Luhan menunjuk ke arah dua smartphone di meja—miliknya dan milik Sehun.

Jongdae menghela napas. "Tidak akan ada hal buruk."

"Aku hanya takutkan hal dulu terulang."

"Pikir yang baik, mungkin dia mampir ke rumah temannya."

Tak disangka suara Luhan agak meninggi. "Teman-temannya sudah mati karena ulahnya! Dia sudah tidak punya siapapun!"

Jongdae mengatupkan bibirnya rapat.

"Antarkan aku ke tempat dimana kau melihatnya."

Jongdae menggeleng.

"Jongdae… kumohon…"

~..o..~

Jungkook mengejar napasnya.

Pandangannya terarah ke bawah, dimana ia berhasil memutar tubuh Jinwoo dan melemparkannya ke bawah. Jungkook tidak berniat membuatnya mati, tapi ia tidak menyangka tumpukkan besi itu berada disana.

Ia berbalik dan cepat bereaksi sehingga bisa menghindar saat Taehyun menerjangnya dengan sebuah pukulan. Taehyun menggeram marah, terlihat dari caranya menatap Jungkook dalam kegelapan malam, yang hanya ditemani oleh cahaya rembulan.

Dari belakang tubuhnya Minho menendangnya, membuat Jungkook tersungkur jatuh. Dan tak sempat bangkit saat Minho menginjak punggungnya berkali-kali. Jungkook meringkuk, berusaha melawan sakit dan mencoba untuk bangun. Namun Taehyun memukul kepalanya, dan jika Jungkook tak salah lihat, Seungyoon maupun Seunghoon mulai bangkit dan membantu untuk memukulinya.

Beberapa pukulan dan tendangan di dada, perut, punggung bahkan kepala membuat semuanya terasa berat. Pandangan Jungkook mengabur. Dia tertawa dalam hati jika ia kalah hari ini. Tapi rasanya terlalu sulit untuk melawan.

Sampai akhirnya sebuah rintihan lain terdengar—bukan miliknya—tendangannya agak sedikit berkurang. Ada bermacam-macam geraman marah lalu suara pukulan, tapi semuanya terasa terdengar singkat di kala Jungkook berusaha memastikan tubuhnya bahwa ia baik-baik saja.

Ia terbatuk berkali-kali, mencoba bangkit dan melihat apa yang terjadi saat semua tendangan dan pukulan itu berhenti.

Dan cukup terkejut saat pandangannya menangkap sosok Junhong yang terengah, di saat tangannya menggenggam sebuah tongkat besi berlumuran darah.

"Jun…hong…"

"Kau… hhh… tidak bisa mati sekarang, Jungkook."

Jungkook mengambil posisi duduk secara perlahan sambil menekan dadanya yang sakit. Ia terbatuk kembali, memuncratkan sedikit darah dari dalam mulutnya.

"Mereka bilang akan keluar saat keadaan sudah tidak terkendali, walau mereka mengatakan padaku untuk membiarkan kau mati jika kau memang tipe orang lemah yang tidak bisa melawan… hhh… tapi tidak bisa kubiarkan itu…"

Jungkook menatapnya sambil menyeka darah dari bibirnya. "Terima kasih… hh… Junhong…"

Clap! Clap! Clap!

Sebuah tepukan dari arah tangga mengalihkan perhatian keduanya. Dalam pencahayaan yang samar—dari beberapa lampu di luar bangunan—mereka bisa melihat seseorang berjalan mendekat. Ia terkekeh, seperti merendahkan sampai akhirnya mereka bisa melihat siapa orang itu dengan jelas.

"Sungguh, aku terkesan dengan pertunjukkan ini."

Dia Sehun.

Berdiri dengan angkuhnya, menatap keduanya dengan dagu terangkat.

Jungkook bangkit perlahan, memegangi perutnya yang terasa sakit, sementara Junhong memperkuat genggamannya pada besi di tangannya.

"Aku hanya tidak menyangka, seseorang yang ingin menjadi temanku ternyata membantu musuh abadiku." Tatapan yang semula untuk Junhong, kini beralih pada Jungkook. "Apa ini tentang pembalasan dendam, Jungkook? Hm?"

Terlihat seperti satu melawan dua.

"Dan juga tidak kusangka, kau membunuh kecoa-kecoa ini demi menyelamatkan Jungkook?" Sehun terkikik. "Bisa kau jelaskan semua ini, Junhong?"

Jungkook melirik Junhong yang menatap tajam ke arah Sehun.

"Awalnya aku berpikir, mungkin kau memang bisa kugunakan untuk membantuku membunuh Jungkook. Tapi ternyata, tsk, senjataku melawan penggunanya."

"Mari kita luruskan hal ini," Junhong membuka suara. "aku berdiri atas kemauanku sendiri. Aku tidak berada di pihak siapapun."

"Oh, kau tidak mau membantu si Lemah Jungkook?"

"Berhenti berbasa-basi…" Jungkook berucap dan mencoba berdiri tegak. "ini masalah tentang kita. Tidak ada hubungannya dengan siapapun."

"Kau mau melindungi Junhong?" Sehun tertawa.

"Ini semua tidak ada urusan dengannya."

Tawa Sehun semakin keras.

Junhong mendecih dan menatap Sehun dengan menantang. "Aku tidak keberatan untuk bergabung."

"Junhong…" Jungkook meliriknya.

Sehun membunyikan sendi di jarinya dan tersenyum. "So, let's play."

~..o..~

HOLLLLLLLLLAAAAAAAAA

Maaf minggu kemarin tidak muncul hehe :3

Nah, tanpa banyak basa-basi, saya hanya mau memberitahu untuk yang bingung membaca ff ini. FF ini sebenarnya sekuel, sudah dituliskan sebelumnya, dari ff Welcome to Our Madness (bisa dilihat di list fanfic). So, harus membaca ff itu dulu sebelum melanjutkan kemari :D

Saya hanya mau menjawab, yups, benar sekali. Junhong itu sekarang kuat fisik tapi lemah mental, jadinya labil dimana gitu /?

Jangan salahkan Junhong mengapa dia seperti itu wkwk

Dan sekarang apa yang akan terjadi ketika Sehun dan Jungkook sudah dipertemukan? Dengan kondisi dimana Sehun kecewa pada Junhong yang membantu Jungkook. Lalu Jungkook yang bertekad untuk melindungi Junhong. Dan Junhong yang berdiri atas kemauannya sendiri.

Semuanya akan di kupas tuntas di chapter selanjutnya mwahahaha

Maka, kalau kalian jadi silent readers, dijamin lanjutan ff ini bakalan lama banget banget bangeeeeeeeet

So, ditunggu reviewnya :3

Love you, all. XOXO