Sebelumnya ...
"Selamat siang, Sehun-ssi"
Suara berat tak dikenal menghentikan makan siang keduanya.
Lima orang asing masuk dan salah satunya menawan MinAh yang berjalan pelan dibawah ancaman pistol yang mengarah ke kepalanya.
"Eom-ma!", pekik keduanya.
'Gwen-cha-na' jawab MinAh berisyarat dengan air mata yang menggenang tertahan.
"Lepaskan ibuku!", seru Sehun lantang.
Sungguh dia tak rela sosok yang disayanginya diperlakukan seperti itu.
"Calm down anak muda. Saat ini Kau tidak dalam posisi bisa memerintahku. Duduklah! Habiskan makan siangmu. Tak baik menyia nyiakan pemberian Tuhan".
Pria tinggi besar itu tersenyum sinis pada Sehun yang terus menatapnya tajam.
Chanyeol hanya bisa memandang penuh khawatir pada ibunya yang bergetar ketakutan.
Sedangkan Sehun masih setia berdiri mematung dengan kebencian yang mendalaim pada sosok yang akhirnya dia ingat, pria yang menyerangnya kemarin.
Aku harus melakukan sesuatu, batinnya.
Sehun melirik sekilas Cutlery box di meja makan dan menemukan yang benda yang bisa membantunya.
Sreett
"Sekali lagi aku minta, Lepaskan ibuku!" Sehun mengarahkan pisau ke lehernya sendiri.
"Aku yakin bos mu menginginkanku hidupkan?"
Pria itu tetap memasang raut dingin namun kerutan halus di keningnya tak bisa menutupi keresahannya.
"Cepat lepaskan! Atau-..." Sehun menekan pisau di leher jenjangnya menimbulkan luka sayat yang segera memerah darah segar berlomba merembes keluar.
"Tunggu! Aku bebaskan."
Pria itu menjentik jarinya memberi kode pada anak buahnya untuk melepas MinAh yang segera lari berhambur dalam pelukan Chanyeol.
"Ayo anak muda, ikut aku", paksa pria itu mendorong tubuh Sehun keluar ruang makan.
Plok Plok Plok
Suara tepuk tangan menandai kehadiran empat orang namja yang tak terduga datangnya.
"Ada tamu tak di undang rupanya", ujar seorang namja berparas imut.
"Sepertinya mereka merindukan 'sentuhanmu' Xiumin hyung, Lay hyung", ucapnya pada dua namja yang serius mengacungkan senjata api pada lawannya.
"Apa kali ini moodmu bagus, Baekhyun hyung?", tanya namja berkulit tan.
"Hmm kurasa tak ada salahnya bersenang senang, Choco Boy. Let's party!"
Bag-Big-Bug !
Tendangan dan pukulan bertubi tubi dilancarkan Trio Flower Boys plusKai "Choco Boy" tanpa memberi kesempatan lawannya menggunakan senjata api maupun menangkis serangan mereka.
Tak butuh waktu lama 'pesta' berakhir meninggalkan empat orang namja babak belur yang tergeletak pingsan.
"Menyerahlah! Lepaskan adikku", perintah Chanyeol tegas.
Pria yang menjadi ketua penculikan itu mengeratkan cengkramannya pada Sehun yang tak berkutik di bawah todongan pistol di pelipisnya. Tak ada raut ketakutan di wajah dinginnya yang berhias smirk tipis.
"Anak ini MATI bila kalian berani mendekat", ancamnya memaksa Sehun mengikuti langkahnya yang bergerak mundur menuju pintu keluar.
"Hunnie...", panggil MinAh lirih. Airmata yang sedari tadi tertahan akhirnya tumpah berderai di pipinya.
MinAh menangis meratap.
Sehun terpana.
Tujuh tahun hidup bersama sosok pengganti ibunya, tak pernah sekalipun dia melihatnya selemah itu.
Kemarahan seketika menyelimuti hati Sehun.
Yang terjadi hari ini membuat wanita yang disayanginya ketakutan dan bersedih.
Tiba tiba saja Sehun berontak, merebut pistol dari tangan penyanderanya dan menohok keras dadanya.
Gerakan tak terduga Sehun membuat pria itu terkesiap tak sempat melawan.
Pistol di tangannya terlepas, tubuhnya terhuyung mundur merasakan sensasi nyeri yang tak tertahan.
Sehun gelap mata menyerang membabi buta tanpa memberi jeda lawannya tuk membalas.
JANGAN! ... Bugh... SENTUH! ...Bugh... KELUARGAKU!
Pria itu akhirnya menyerah jatuh terkapar tak berdaya.
Seakan belum puas melampiaskan kemarahannya, Sehun terus menendang tubuh tak berkutik itu hingga MinAh menghentikan aksinya.
"Hunnie, tenanglah."
MinAh berusaha menenangkan dengan menangkupkan kedua tangannya pada wajah putranya yang memucat.
"Eomma baik saja, sayang. Sstt... tenanglah" MinAh mengusap lembut pipi Sehun, dan melihat luka di leher sehun yang tak berhenti mengeluarkan darah.
"Channie, ambilkan obat adikmu. Dan Kai-yah, tolong ambilkan es batu dan handuk di atas kulkas, ne", titah MinAh yang langsung dikerjakan keduanya.
"Eom-ma..."
Sehun menghentikan ucapannya untuk mengatur deru nafasnya yang memburu, berusaha tetap berdiri di saat sendi sendi tubuhnya tiba tiba melemas.
Brugh
"HUN!", pekik MinAh tak mampu menahan tubuh Sehun yang mendadak luruh duduk bersimpuh di lantai dengan kepala tertunduk.
Sehun menangis.
"Maafkan Hunnie, Eomma. Ma-af-", isak Sehun penuh penyesalan.
"Sstt, Gwenchana Hunnie. Gwenchana"
Peluk MinAh menenangkan.
Diusapnya punggung Sehun yang berguncang meluapkan emosinya.
"Bibi, biar kubantu Sehun duduk di sofa", ujar Lay menawarkan diri menolong.
"Kau masih kuat berdiri, Hun?" tanya Lay mengulurkan kedua tangannya.
Sehun mengangguk tersenyum menerima uluran tangan Lay dan berusaha bangkit.
"Aakh", rintihnya meraba perut.
"Kenapa Hun?", tanya MinAh cepat. "Apa masih terasa sakit lebamnya?"
"Hanya sedikit nyeri, eomma. Aku baik saja."
Lay memapah Sehun menuju sofa panjang di ruang keluarga diikuti Minah di belakangnya.
Baekhyun dan Xiumin membereskan kekacauan dengan menelfon pihak kepolisian, mengikat lima namja penculik itu dan mengurungnya di gudang sebelum polisi datang membawa mereka.
"Ini obatnya."
Chanyeol datang membawa dua botol obat, membuka satu yang berwarna coklat dan mengeluarkan sebutir pil putih lalu menyerahkan pada adiknya yang duduk bersandar.
Sehun menerimanya, menyesap obat sejenis beta blocker yang akan membantu irama jantungnya itu kembali normal.
"Jangan", larang MinAh pada Chanyeol yang bersiap memberi pil berwarna biru pada Sehun.
"Darahnya takkan berhenti bila minum obat itu", jelasnya menunjuk luka di leher Sehun.
Chanyeol mengangguk teringat kejadian beberapa hari lalu saat adiknya itu terkapar dalam keadaan mimisan dengan luka di kepalanya yang tak berhenti mengeluarkan cairan merah.
Pil biru ini salah satu penyebabnya.
Warfarin, obat pengencer darah yang seperti dua mata sisi uang yang tak terpisahkan.
Berperan sebagai penyelamat sekaligus pengkhianat untuk tubuh Sehun.
"Ini, eomma"
Kai datang dengan gumpalan handuk berisi es di dalamnya.
MinAh dengan telaten mengompres luka Sehun yang tidur berbantal pahanya.
Wanita cantik itu menghembus nafas lega saat darah tak lagi mengalir.
"Hun...", panggilnya.
Rupanya tidur. Kau pasti terguncang dengan kejadian ini. Untunglah, jantungmu baik saja sayang.
MinAh mengecup lembut kening Sehun dan memandang wajah tenang putranya.
Kau harus bertahan, nak. Eomma sangat menyayangimu.
"Bagaimana keadaannya, Bi ?" tanya Xiumin yang melihat kehadiran MinAh di ruang tamu.
"Syukurlah, Sehun baik saja. Dia tertidur", jawab MinAh dan duduk di sebelah Chanyeol.
"Mana Kai?"
"Dia sudah pulang. Katanya ada urusan", jawab Chanyeol.
MinAh mengangguk paham.
"Oya, Bibi penasaran, darimana kalian tahu kami dalam bahaya?", tanya MinAh menatap tiga tamunya meminta penjelasan.
"Apa bibi lupa? Rumah ini dilengkapi IP Camera. Kami bisa mengakses kondisi rumah ini dari apartemen atau dimanapun kami berada lewat smartphone", jawab Baekhyun,
"Ahh, Bibi gaptek. Apa sebaiknya kalian tinggal saja di sini bersama kami. Bibi yakin mereka tak akan berhenti meneror sampai mendapatkan Sehun."
"Ide yang bagus Eomma. Ayolah, hyungdeul. Ada banyak kamar kosong di rumah ini", pinta Chanyeol.
"Baiklah. Mulai malam nanti kami tinggal disini"
==========dby==========
Siang berganti sore.
Cahaya lembayung senja menerobos jendela menghadirkan warna jingga yang syahdu.
MinAh terjaga dari tidur singkatnya, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruang keluarga.
Chanyeol tertidur di karpet beralaskan tangannya sebagai bantal.
Sehun? Dia tak menemukannya di sofa.
Mungkin dikamar, batinnya.
Entah kenapa hatinya tak tenang.
Otaknya memerintah kakinya untuk melangkah ke lantai atas menuju kamar Sehun.
"Hunnie, apa kau di dalam?" Kosong tak ada jawaban.
Pandangannya tertuju pada selembar kertas di atas meja.
...
... ...
HUNNIE!
Mianhe Eomma...
Mianhe Hyung...
Aku tak mau kalian dalam bahaya karenaku.
Lebih baik aku pergi.
Jaga diri kalian.
SARANGHAE...
Chanyeol meremas surat dari Sehun dengan emosi yang membuncak.
BODOH KAU HUN!
Dia bahkan tak membawa obatnya.
Hunnie, di mana kau.
==========dby==========
Di sudut jalan, seorang pria berkaca mata hitam sedang mengamati remaja yang berdiri gelisah di tepi jalan mengetuk ngetukkan sepatunya ke aspal sambil sesekali melirik ke handphonenya.
Sebuah taksi berhenti tepat di depan pemuda berkulit putih pucat, dan nampak sang supir tersenyum ramah menyapa dari balik jendela.
"Sehun-ssi?"
"Ya, itu aku"
"Saya Chen dari Brand Taxi."
Sehun dengan segera masuk dalam taksi yang sudah dipesannya beberapa saat setelah meninggalkan rumah.
"Kemana Sehun-ssi?", tanya Chen sang supir taksi dengan senyum ramahnya.
Sehun menghela nafas kasar.
Jujur namja labil ini tak tahu hendak ke mana.
Hatinya pilu harus meninggalkan dua orang terkasihnya namun nurani lainnya berontak menyindir betapa egoisnya dia membiarkan orang orang terdekatnya dalam bahaya hanya untuk melindunginya.
Memangnya siapa kau Soo Sehun?!
"SEHUN-SSI"
"Maaf"
Sehun tersadar dari lamunannya berpikir cepat ke mana dia akan pergi.
"Bisa kau antar aku ke Daejeon?"
Ya, rumahnya. Hanya tempat itu yang berkelebat dalam pikirannya.
"Daejeon? Baiklah. Kita akan menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam", jawab Chen.
Taxi-pun melaju dengan kecepatan normal membelah keramaian kota Seoul menuju Daejeon kota terbesar ke lima di korea selatan.
Sehun merapatkan diri ke jendela mobil, menempelkan dahinya di kaca menatap jalanan kota dengan pandangan kosong.
Eomma, salahkah yang kulakukan ini? Maafkan aku...
#Chen, Taxi driver pov
Jadi anak ini yang bernama Sehun? Seperti yang mereka gambarkan.
Baiklah Chen. Smangat! Lakukan tugasmu dengan baik.
Tunggu! Mobil itu- sepertinya mereka menguntitku.
Astaga! Apalagi ini.
Tak bisakah kujalankan tugasku tanpa gangguan apapun?
Sinar matahari kuning keemasan telah beralih sepenuhnya memerah jingga.
Sesaat lagi kegelapan malam merajai bumi ini.
Pusat kota Seoul telah terlewati.
Taxi yang membawa Sehun melaju menyusuri kawasan yang sepi.
Hanya beberapa kendaraan saja yang lalu lalang di jalan ini.
Tiba-tiba mobil sedan di belakangnya menyalip cepat dan memblokir laju taxi.
Ciiiitttt!
Chen refleks menginjak rem dengan kuat membuat tubuhnya dan Sehun terhempas ke depan.
Untunglah Seat belt yang terpasang menahan keduanya.
"Shitt! Siapa mereka", umpat Chen kasar.
"Tenanglah Sehun-ssi. Aku tak kan biarkan siapapun melakukan hal buruk pada customerku. Penumpang adalah raja. Oya, panggil aku Chen hyung saja. Ok?"
"Baiklah hyung. Panggil juga aku Sehun tanpa embel embel lainnya", balas Sehun.
Sehun mengamati sekitarnya.
Pintu sedan terbuka, keluarlah empat orang bertubuh kekar dengan angkuhnya.
Di belakang taxi, sebuah Jeep terparkir melintang turut memblokade.
Salah seorang namja menunjuk ke arah taxi memberi tanda untuk keluar.
"Hyung, jangan keluar. Kita tunggu apa mau mereka", saran Sehun cepat.
Chen memandang Sehun dari kaca spion tengah dan tersenyum.
"Tenanglah. Aku punya ide untuk keluar dari masalah ini."
Tok! Tok! Tok! KELUAR KALIAN!
Mereka mulai berteriak mengetuk kaca jendela maupun body taxi memerintah penghuni di dalamnya keluar.
"Pegangan yang kuat!", titahnya pada Sehun.
Chen menginjak kopling, memindahkan posisi persneling ke gigi R membuat mobil mundur dengan cepat dan menghantam Jeep di belakangnya.
Segerombolan namja jahat itu terkesiap kaget menghindari taxi.
Dengan segera Chen mengubah gigi persneling, memutar stir kekanan melajukan mobilnya cepat menabrak sedan yang menghalang dan tetap menginjak dalam pedal gas membuat sedan bergeser memberi celah taxi untuk lewat dan kabur.
"Daebak! Kau hebat hyung!" puji Sehun senang.
Ini adalah kali pertama Sehun merasakan sensasi berkendara ala Fast and Furiuos salah satu film favoritnya yang selama ini hanya bisa dilihatnya di layar kaca.
Namun kelegaan itu hanya sesaat saat dilihatnya dua mobil itu terus menguntit dengan kecepatan tinggi.
BRAKK
Jeep itu menabrak dari belakang dengan kecepatan tinggi membuat Taxi yang juga melaju cepat menabrak separator. Kuatnya benturan membuat taxi terpelanting berguling sekali dan mendarat keras.
BRUGHH!
Tbc
Makasih reader semua
