"Hiperemesis Gravidarum," Dokter Wilson menatap Yunho lurus, menelusuri kegusaran CEO muda itu.
"Gejala ini memang sangat mengganggu, selain Nyonya akan selalu mengalami mual muntah yang terus-terusan, Nyonya juga akan kehilangan nafsu makan, dan bahkan ketika ia sudah makanpun semua makanan itu akan kembali di muntahkan, ini memang sering terjadi pada ibu hamil di usia kehamilan dibawah 4 bulan. Tuan Jung tidak perlu khawatir, gejala ini bisa dihentikan, kami sudah memberikannya cairan infus untuk mengembalikan kondisinya, dan beberapa terapi juga sudah kami berikan untuk menghentikan mual muntahnya, dan dari hasil USG yang saya lakukan bayi Tuan dan Nyonya baik-baik saja. Yang perlu dilakukan sekarang adalah memberikan asupan makanan pada Nyonya, berikan Nyonya makanan yang tidak terlalu berbau tajam, dan tidak terlalu banyak rasa, bila perlu cari makanan kering seperti biskuit, dan jangan makan sekaligus dalam porsi besar, usahakan makan secara bertahap, sedikit-sedikit tapi sering," Jelas Dokter Wilson panjang lebar, Yunho menghela nafas lega, ia terdiam sesaat sebelum bicara
"Lalu kenapa, Jaejoong selalu mengeluh makanan yang ia makan tidak enak?" Tanya Yunho kemudian
"Oh karena kondisi itu, asam lambung Nyonya meningkat, produksi saliva Nyonya pun bertambah, dengan begini indera perasa Nyonya mungkin terasa lebih asam atau pahit, dan Nyonya mungkin tidak tahu cara menjelaskannya, jadi ia selalu menyalahkan makanan yang ia makan tidak enak, dan atau bisa juga karena nafsu makan yang kurang sehingga mempengaruhi psikologi Nyonya akan rasa makanan yang ia makan," Jawab Dokter Wilson pula, Yunho mangut-mangut mengerti
"Syukurlah," Yunho menghelan nafas lega
"Jangan terlalu khawatir Tuan Jung, kondisi Nyonya masih dalam batas normal untuk ibu hamil," Tukas Dokter Wilson, Yunho mengangguk mengerti
"Terima kasih Dokter, saya permisi dulu," Yunho bangkit dan mereka kemudian saling berjabat tangan.
OoooO
Yunho membuka pintu kamar Jaejoong perlahan, ia mengintip sedikit, melihat punggung Jaejoong yang membelakanginya, perlahan ia menghampiri Jaejoong yang terbaring dengan bahu bergetar, Jaejoong pasti sedang menangis, Yunho membungkuk mengelus rambut Jaejoong lembut, dan mengecup pipinya pelan. Jaejoong masih terisak dibelakang sana.
"Boo," Yunho menarik bahu Jaejoong, memaksanya untuk berbaring menghadapnya, meski Jaeojong tampak berontak dalam diam, namun perlahan ia juga akhirnya membalik tubuhnya, cepat-cepat ia menghapus air matanya dan memandang Yunho dengan matanya saya sayu.
"Menangis membuatmu tidak cantik,"Ucap Yunho sambil tersenyum lembut
"Hiks, Yunnie, aegya?" Tanya Jaejoong kembali meneteskan air mata
"Aegya, sedang tidak bisa tidur di dalam sana, ummanya berisik menangis terus," Jawab Yunho bijak, duduk di pinggiran tempat tidur sambil menggenggam tangan Jaejoong, Jaejoong tersenyum senang
"Hiks, syukurlah aegya baik-baik saja,"Ucap Jaejoong bahagia, Yunho mendekap Jaejoong erat
"Yunnie," Jaejoong menatap Yunho,
"Apa?"
"Maafkan Jongie nee, Jongie tahu Jongie sangat susah diatur, Jongie keras kepala, Jongie manja, dan Jongie merepotkan, tapi jangan benci Jongie nee, Jongie janji setelah ini Jongie tidak akan bikin Yunnie marah lagi,"Jaejoong mengedipkan kedua matanya polos, Yunho tersenyum simpul, sambil menarik nafas pelan ia berkata
"Maaf karena membentakmu kemarin," Tukas Yunho sambil mengecup pelan dahi Jaejoong...
OoooO
Yunho berjalan mengitari ruangannya, telinganya mendengar dengan saksama pembicaraan melalui seluler itu, setelah merasa kondisi Jaejoong membaik Yunho memutuskan untuk kembali ke kantornya, memeriksa kantornya dan pekerjaannnya.
Yunho terlihat begitu serius, menggunakan bahasa Perancis yang fasih membuat Tiffany sekretarisnya agak kesulitan untuk berkonsentrasi, tidak karena bahasanya, tapi karena silau oleh pesona ketampanan Yunho dan kagum akan kecerdasannya. Yunho tak berdua saja denganTiffany masih ada Boa disitu, ikut menatap kagum Yunho hingga tak berkedip. Setelah cukup lama berbasa-basi di telepon, Yunho kemudian menutup teleponnya.
"Apa ada yang ingin dibicarakan Nona Kwon?" Yunho kembali duduk di sofa di depan Boa yang baru menutup mulutnya buru-buru, dan Tiffany yang juga buru-buru memegang penanya dengan benar.
"Emh, itu, paman menitipkan ini," Boa menyerahkan sebuah amplop coklat besar yang masih tersegel rapat
"Apa ini?" Tanya Yunho penasaran
"Tidak tahu, mungkin sebuah piagam," Jawab Boa asal, Yunho mengerutkan dahi bingung
"Paman, memang terkenal kejam oleh para entertainer, tapi dibalik itu semua, dia juga adalah paman yang konyol, Tuan Jung coba saja lihat dulu," Usul Boa setelah menjelaskan, Yunho menurut, membuka perlahan amplop itu
"Aaah.." Yunho menghela nafas sambil tersenyum simpul, kemudian menarik sebuah lembaran kertas tebal yang tampak terukir indah
"Ini?" Boa memandang kertas itu sama terkejutnya dengan Yunho bahkan Tiffany juga ikut-ikutan
"Karya anak-anak, ini untuk istriku" Yunho memamerkan sebuah lukisan pemandangan yang tampak childish namun indah
"Kenapa ada lukisan itu?" Boa kebingungan
"Ini milik Jaejoong, ia pernah ikut kegiatan amal dan melukis ini bersama anak-anak panti di pulau Jeju," Jawab Yunho kalem, Boa mengerdipkan matanya lucu, Jaejoong punya sense of art yang lumayan juga, Tiffany juga pasti beranggapan sama, bagaimanapun juga reputasi Jaejoong selama ini memang tidak pernah baik.
"Jaejoong?"
"Iya, ini hanya hadiah atas kehamilannya, Jaejoong akan senang dengan lukisan ini, terima kasih Nona Kwon," Yunho tersenyum hangat, Boa di buat salah tingkah olehnya,
"Heh, mereka bahkan tidak membingkainya," Batin Boa tergelak sendiri
"Emh, lukisannya sangat cantik, Nyonya ternyata berbakat lukis juga," Puji Boa hampir ikhlas
"Hahaha, jika ada satu hal yang bisa dia lukis, mungkin itu akan aku museumkan, sayangnya tidak ada," Ujar Yunho sambil tertawa renyah, Boa mengerutkan dahi bingung, Tiffany hampir tergelak saking lucunya, namun demi menjaga etikanya sebagai seorang sekretaris, ia harus memendam kuat hasrat ingin tertawanya.
"Jadi maksud Tuan Jung..." Boa tidak meneruskan ucapannya
"Jaejoong hanya bertugas mewarnainya," Jawab Yunho tertawa pelan, Tiffany dan Boa hampir di buat melongo
"Sudah kuduga..." Batin keduanya hampir bersamaan
OoooO
Sementara itu di rumah sakit
"Sudah kukatakan, pasti akan kejadian," Kyuhyun berdiri menantang bertolak pinggang di depan Jaejoong
"Aku juga tidak ingin sakit," Kesal Jaejoong
"Maksudku bukan itu, tapi kejadian kau kabur dari bodyguard, astaga Jae, bersikap dewasalah," Marah Kyuhyun, Jaejoong mempoutkan bibirnya sebal, sementara Junsu duduk disampingnya meraih pundak Jaejoong dan mengelusnya, dan Ryewook mengambil posisi sisi lain, sambil menggenggam tangan Jaejoong lembut
"Sudahlah yang penting dia tidak apa-apa," Junsu coba menenangkan
"Heh, kalian selalu saja memanjakannya,dia bukan anak kecil lagi, bakal menjadi umma, dan tingkahnya masih saja seperti itu," Kyuhyun masih berapi-api
"Kyu sudah, kau membentaknya terlalu keras, dia sedang hamil," Ryewook membela
"Itulah kenapa aku lebih khawatir Wookie," Kyuhyun membela diri, Jaejoong terdiam
"Kyu sudahlah, Jae juga, jangan ulangi lagi nee, paling tidak jangan saat hamil," Usul Junsu sedikit kurang cerdas, mata Jaejoong langsung membulat berbinar dibuatnya
"Iya ya benar juga," Jaejoong semangat sekali, Kyuhyun menghela nafas berat, begitu juga Junsu dan Ryewook
"Seharusnya aku tidak bicara begitu," Sesal Junsu
OoooO
3 hari kemudian Jaejoong sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah, kondisinya sangat jauh lebih baik, dan nafsu makannya juga sudah kembali. Mereka di sambut suka cita oleh para maid dan butler.
"Nyonya lapar? Kami sudah menyiapkan makan siang untuk Nyonya," Ujar maddy menyambut sang Nyonya
"Emm," Jaejoong mengangguk semangat, dengan dituntun Yunho dan beberapa maid lainnya Jaejoong pun menuju ruang makan, dan terperangah saking senangnya saat melihat begitu banyaknya makanan yang tersedia di meja.
"Wah, banyak sekali, semua makanan kesukaan Jongie, Gomawo," Ucapnya penuh haru
"Ayo Nyonya harus makan yang banyak, biar aegyanya sehat," Jaejoong menurut dan mulai melahap makan siangnya dengan rakus.
Yunho sebal sendiri, Jaejoong tak hanya menghabiskan makan siangnya dengan rakus, tapi Jaejoong membuat dirinya sendiri kekenyangan sampai berjalan saja ia hampir tak mampu.
"Wah keyang sekali," Kata Jaejoong puas, mereka baru di ambang pintu, Yunho masih menuntunnya berjalan.
"Wah..!" Jaejoong membelalakkan matanya, di depannya, diatas kasur king size mereka, ia melihat 2 benda empuk berbentuk beruang putih dan coklat duduk manis bersandar pada bantal.
"Connie, dan Bro..wn," Jaejoong langsung berlari memeluk benda empuk itu.
"Yunnie, benar-benar mendapatkannya," Jaejoong menatap Yunho kagum, sementara Yunho balas menatapnya dengan tatapan biasa
"Kau harus membayar mahal untuk ini," Bisik Yunho seduktif, sampai Jaejoong di buat merinding olehnya.
"Ah dan satu lagi," Yunho menunjukkan dengan dagunya kearah sudut lain dari kamar mereka
"Em... Aaaahhhh," Jaejoong terpekik melihatnya, lukisan childish yang hampir terlupakan olehnya, kini berada di kamarnya, lukisan yang tidak begitu indah namun penuh kenangan.
"Ini, bagaimana bisa ada disini?" tanya Jaejoong penasaran
"Kwon Boa-shii menyerahkannya, itu dari Tuan Kwon, kurasa Tuan Kwon baru pulang dari Jeju, dan bertemu anak-anak di panti asuhan," Jelas Yunho singkat
"Jongie jadi kangen anak-anak," Jaejoong meraba lukisan yang kini sudah berbingkai itu, matanya tampak berkaca-kaca. Yunho mendekat dan memeluknya dari belakang
"Kalau aegya sudah lahir, kita kesana lagi ya," Bisik Yunho pelan, sambil mengusap cepat air mata yang hendak menetes, Jaejoong menganguk senang.
OoooO
Beberapa hari setelah kepulangannya, Jaejoong terbangun sedikit lebih awal, dan hari ini dia harus bersiap-siap untuk acara peresmian taman permainannya. Sementara itu Yunho masih tertidur pulas di sampingnya. Melihat kondisi tak memungkinkan itu, Jaejoong jadi tidak tega membangunkannya. Ia bergegas mandi, dan mulai menggerutu sendiri, kebingungan harus menggunakan gaun yang mana. Berkutat dengan pikirannya sendiri dan sampai beberapa menit kemudian ia bahkan belum menemukan gaun yang pas, Jaejoong malah berhasil membangunkan Yunho dengan semua ocehannya.
"Berisik sekali,"Kesal Yunho yang masih terbaring lemas di tempat tidurnya.
"Yunnie, Jongie bingung, hari ini Jongie harus pakai gaun apa?," Jaejoong panik, Yunho mengucek matanya pelan, kemudian berganjak dari tempat tidur dan menghampiri Jaejoong.
"Dasar bodoh," Omel Yunho, memukul pelan kepala istrinya, kemudian mengambil ponselnya dan mulai menekan beberapa nomor tujuan.
"Halo," Yunho bicara begitu telepon sudah tersambung, beberapa saat kemudian ia kembali menyahut.
"Aku ingin bicara dengan manager kalian," Beberapa menit kemudian ia kembali berkata
"Aku ingin yang khusus," Setelah bicara sesingkat itu ia kemudian menutup telepon.
"Apanya yang khusus?"Tanya Jaejoong heran, Yunho tak menjawab "Morning my lovely wife," Yunho melingkarkan lengannya dari belakang dan mencium pipi Jaejoong sekilas, kemudian melenggang ke kamar mandi
"Yunnie sepertinya kurang tidur," Gumam Jaejoong pelan menyimpulkan seenak jidatnya, saat sang suami sudah menghilang di balik pintu kamar mandi meninggalkan Jaejoong yang masih mematung di depan lemari. Mungkin sangat sulit untuk orang yang tidak berselera tinggi seperti Jaejoong, bahkan sejak menikah dengan Yunho ia hanya mengoleksi gaun-gaun itu, namun tak pernah menggunakannya. Terlebih lagi gaun itu semuanya adalah pilihan Ibu mertuanya ataupun Yunho sendiri.
Masih berkutat dengan kesibukan tak jelas itu, tiba-tiba sebuah ketukan terdengar dari balik pintu kamarnya. Jaejoong bergegas membukakan pintu.
"Calita, ada apa?" Tanya Jaejoong, melihat salah satu dari dua maidnya yang paling muda itu berdiri segan di depan kamarnya
"Ada yang ingin bertemu Nyonya," Jawab Calita gugup, temannya di sampingnya tak kalah gugup, maklum maid baru
"Em, baiklah aku akan segera menemuinya." Ujar Jaejoong kemudian
"Tidak usah, Jenny suruh mereka menunggu di ruang istirahat," Tiba-tiba Yunho datang memberi perintah lain, masih dengan handuk sepinggang, tanpa atasan, dengan rambut hitamnya yang basah, Yunho terlihat menantang, seksi dan rupawan, Calita dan Jenny dibuat blushing dan meneguk ludah beberapa kali, sebelum sadar, Jaejoong sedang memperhatikannya dengan polos.
"Kalian kenapa? Sakit?" Tanya Jaejoong heran, Calita dan Jenny buru-buru mengalihkan pandangannya dan beralih menatap istri majikannya yang sedang menatapnya dengan mata bulat bak boneka, baik Calita maupun Jenny termangu dalam keindahan itu.
"Hah, apa yang sudah kulakukan, aku merasa bersalah sekali dengan Nyonya polos ini," Batin Calita frustasi, sementara Jaejoong masih mengerdipkan matanya lucu
"Hah Ya Tuhan, Nyonya, astaga, dia cantik sekali," batin Jenny kagum
"Emh, tidak," Calita menggelang cepat, diikuti Jenny
"Ayo," Yunho menarik Jaejoong keluar kamar, Calita dan Jenny menyingkir sedikit, kini Yunho sudah memakai handuk kimono, menggandeng Jaejoong menuju ruang istirahat, Calita buru-buru menutup pintu kamar pasangan Jung muda itu dan mengikuti mereka ke ruang istirahat.
"Jenny bawa gaun baru Nyonya turun," Perintah Yunho pada Jenny
"Ya tuan," Jenny menurut dan bergegas ke atas lagi untuk mengambil gaun baru yang dibelikan Yunho siang tadi.
"Emm gaun baru?" Jaejoong mengerutkan dahi bingung, namun Yunho jangankan menjawab menoleh saja tidak, ia masih menggandeng Jaejoong membawanya ke ruang istirahat
"Yunnie, Jongie kan masih memakai piyama," Jaejoong menjelaskan, mengingat tidak sopan sekali menemui tamu dengan piyama, tapi Yunho tampaknya tidak begitu peduli, karena saat ini dia juga sedang memakai kimono. Meskipun begitu Jaejoong masih tetap mengikuti Yunho.
Mereka tiba di ruang istirahat, dan Jaejoong dikagetkan dengan kehadiran sepuluh ahli kecantikan yang Jaejoong kenal sebagai langganan mertuanya, berdiri mematung tersenyum manis menyambut kehadirannya.
"Yunnie," Jaejoong memelas, tahu akan apa yang sedang direncanakan suaminya, tapi Yunho mengacuhkannya
"Jangan membuatnya terlihat mengerikan," pesan singkat Yunho pada sepuluh orang itu, dan mereka tersenyum geli kemudian mengangguk mantap.
"Yunnie,"Jaejoong ingin memprotes, tapi kemudian Yunho tiba-tiba menciumnya, tepat di bibir, Jaejoong tidak fokus pada ciuman itu, karena pandangannya teralih pada sepuluh ahli kecantikan yang semua wajahnya memerah melihat mereka.
"Yunnie mereka melihat kita," Bisik Jaejoong malu, setelah berhasil mendorong Yunho menjauh
"Perawatan spesial untuk hari yang spesial, kalau kau protes lagi, aku akan menciummu di depan mereka seperti tadi," Ancam Yunho
"Dasar mesum," Jaejoong mencibir kesal, dan akhirnya menurut juga. Tanpa membuang banyak waktu, Jaejoong mulai di dandan.
OoooO
"Emm, kau sangat berhasil? Atau?"
"Cantik sekali..."
"Sekarang aku merasa ngeri,"
"Tuan Jung akan sangat senang,"
"Dia sangat... astaga aku merinding,"
"Dia sangat sempurna, aku iri,"
"Kalian kenapa? Apa aku sudah selesai?"Tanya Jaejoong polos, ia mematut wajah polosnya menatap kaca besar di depannya, mengenakan gaun merah semata kaki, bermotif permata halus, rambutnya di biarkan terurai berwarna almond, lurus sedikit ikal, dengan riasan tipis, namun tegas, membuat mata indahnya memancarkan pesona lainnya, perutnya yang belum besar, membuat tubuhnya masih terlihat ramping, semampai, dengan warna kulit putih pucat, Jaejoong terlihat jauh lebih sempurna, para stylish yang mendandaninya sendiri bahkan sampai tak berkedip menatap keindahan di depannya.
"Apa aku sudah selesai?" Tanya Jaejoong lagi, bingung tak mendapat respon apapun dari orang-orang dibelakangnnya yang terpaku menatapnya.
"Emm, su.. sudah Nyonya, Nyonya sudah siap," Jawab salah satu dari mereka, dan membantu Jaejoong merapikan rambutnya sedikit.
"Nyonya cantik sekali," Salah satu stylish tersebut berujar bangga, Jaejoong langsung bersemu merah
"Benarkah?" Tanyanya tak percaya diri
"Sangat cantik," Jawab para stylish mantap, Jaejoong tersenyum malu. Dengan di tuntun para stylish itu, Jaejoong melangkah keluar ruangan, bergerak pelan, sebisa mungkin untuk tetap anggun. Begitu melihat kehadiran istrinya, Yunho tersenyum tipis, hampir tanpa ekspresi, apalagi saat istrinya menuju kearahnya.
"Apa mengecewakan?" Tanya Jaejoong masih tidak percaya diri, Yunho menatapnya dalam, kemudian tersenyum
"Hampir," Jawab Yunho tak serius, Jaejoong tergelak pelan
Tanpa menunggu waktu mereka dengan diampingi bodyguard seperti biasanya segera menuju tempat acara.
OoooO
Mereka tiba tak lama kemudian, dan disana Jaejoong disambut mesra oleh para tamu yang hadir, respon mereka tak kalah terkejut dari para stylish tadi. Jaejoong memang sangat senang, tapi juga resah, ia merasa begitu gugup. Tapi Yunho yang tahu akan ketakutan istrinya tak pernah sedetikpun melepaskan genggaman tangannya. Yunho dan Jaejoong menyapa para tamu dengan sangat ramah, sambil menunggu acara peresmian dimulai, Jaejoong dan Yunho ngobrol sebentar dengan beberapa tamu.
"Hari ini Nyonya cantik sekali," Istri Kwon Young Min yang juga hadir diacara itu, memuji Jaejoong,
"Ah terima kasih, Nyonya juga sangat cantik," Jaejoong balas memuji, mereka sama-sama tertawa pelan, Boa juga terlihat diantara kerumunan orang-orang berada itu, tapi ia tak menyapa bahkan tak menghampiri Jaejoong sama sekali, namun matanya yang dingin selalu melirik dengki kearah Jaejoong. Sementara tiga sahabat Jaejoong juga turut hadir.
"Sesuai yang diharapkan Nyonya Jung," Puji Kyuhyun kali ini terlihat sangat feminine
"Terima kasih," Jaejoong tersipu
"Ayo,"Bisik Yunho membawa Jaejoong, mereka kemudian berkumpul di depan gerbang taman permainan itu, tepat di depan seuntai pita merah.
Setelah menunggu beberapa menit, acara inti pun dimulai, diawali dengan pemotongan pita merah, dan taman permainan seluas 4 hektar itupun resmi di buka. Kini acara berlangsung di lingkungan taman permainan. Beberapa wahana mulai beroperasi namun masih belum di buka untuk pengunjung, dan beberapa staff juga sudah mulai bekerja, rencananya taman permainan yang diberi nama "YUNJAE LAND" ini akan dibuka untuk umum beberapa hari kemudian.
"Indah sekali," Gumam Ryewook terharu, terharu akan cinta Yunjae, dan terharu atas keberadaan taman indah itu
"Pasangan bahagia,"Gumam Hyun Joong pelan yang saat itu ia juga menghadiri acara tersebut.
"Nyonya Jung saya Fedrie Allicio," Fedrie laki-laki paruh baya ini menyalami Jaejoong dan Yunho, wajahnya begitu merah dan tampak sangat sumringah.
"Oh ya, dia Manager yang sudah kutunjuk untuk menjalankan taman permainan ini," Yunho memperkenalkannya pada Jaejoong
"Saya akan melakukan tugas saya dengan sebaik mungkin Tuan, Nyonya," Kata Fedrie optimis
"Terima kasih, saya yakin Tuan Allicio bisa," Jawab Jaejoong antusias
"Hei hei hei, pasangan suami istri yang romantis ini," Tiba-tiba seseorang berteriak pada mereka
"Paman Cello," Jaejoong sangat kaget melihat seorang ahjussi lainnya yang ia kenal saat mereka berbulan madu di Perancis setahun lalu.
"Paman apa kabar?" Tanya Jaejoong
"Baik, sangat baik, kalian?" Sang paman balas bertanya
"Sangat baik," Jawab Jaejoong
"Bagaimana dengan orang tua kalian apa mereka sehat? Apa mereka ada disini," Tanya sang paman, Paman Cello adalah salah satu kerabat Yunho yang sangat ramah terutama pada keluarga Jaejoong
"Mereka baik, kami ingin mengajak umma dan appa di Korea, tapi mereka bilang, mereka tidak bisa pergi, mama dan papa di Italy, mama bilang dia harus ikut papa ke Venice, mereka semua sangat sibuk," Jelas Jaejoong
"Begitu ya. Hei Yunho bagaimana Jaejoong? Apa dia istri yang baik?" Tanya sang paman pada Yunho yang dari tadi hanya diam mendengar celotehan istrinya.
"Dia sangat nakal, paman," Jawab Yunho bercanda, Jaejoong nyengir
"Emm, kudengar Jaejoongie akan jadi umma? Jangan nakal lagi nee, kasihan suamimu, dia tampak kurus," Paman Cello menggoda, Jaejoong tersipu dibuatnya. Beberapa tamu mulai menghampiri mereka, tak butuh waktu lama dan mereka sudah terlibat obrolan seru dan menyantap hidangan serta cemilan yang disediakan.
OoooO
Jaejoong berbaring dalam pelukan hangat Yunho di kamar mereka, menjadikan lengan Yunho bantalannya mereka berdua terdiam cukup lama menekuri langit-langit kamar.
"Lama sekali perut Jongie besar, Jongie sudah tidak sabar," Ucap Jaejoong pelan setelah mereka berdua lama terdiam, Yunho tersenyum tipis,
"Menjadi umma harus belajar bersabar," Jawabnya singkat
"Hemm, Nee Yunnie, kalau aegya namja, Jongie pingin dia setampan Yunnie, pingin sepintar Yunnie, pingin setinggi Yunnie, pingin sekeren Yunnie," Ujar Jaejoong semangat, Yunho tak merespon
"Emm, kalau begitu Jongie mewariskan apa ya?" lanjutnya sambil tampak berpikir sebentar
"Em tidak, jangan, jangan wariskan apapun padanya," Potong Yunho cepat, mendengar penuturan aneh itu Jaejoong cemberut dan buru-buru menatap Yunho sinis
"Kau saja sudah cukup merepotkan," Tutur Yunho cepat, Jaejoong melipat kedua tangannya di dada
"Tidak adil, Jongie menginginkan semua hal yang ada pada Yunnie untuk aegya, tapi Yunnie tidak ingin apa-apa dari Jongie," Sebal Jaejoong
"Heh, kau boleh mewariskan kecantikanmu, kalau aegya kita yeoja," Yunho melingkarkan lengannya di pinggang Jaejoong merayunya, Jaejoong tersenyum
"Benarkah? Hmm jadi Jongie cantik ya," Jaejoong tersenyum menggoda
"Tentu saja, apa menurutmu seleraku buruk,"
"Hmm, Yunnie baik sekali, jadi Jongie cantik ya," Jaejoong mulai menggumam sendiri, membiarkan Yunho yang hanya tersenyum melihat tingkahnya dan mulai memejamkan mata.
"Ah, Yunnie, Yunnie, bangun," Jaejoong mendadak panik mengguncang-guncang tubuh Yunho
"Ada apa? Sudah tidur saja," Yunho yang hampir terlelap itu malah membalik tubuhnya memeluk Jaejoong
"Yunnie, ayo bangun," Jaejoong masih keukeh membangunkan suaminya
"Hah, ada apa?" Yunho pasrah membuka matanya malas
"Jongie memikirkan anak-anak panti, Yunnie bagaimana kalau kita mengirimkan sesuatu untuk mereka bagaimana?" Usul Jaejoong semangat
"Kau ingin memberikan apa?" Tanya Yunho
"Jongie pingin mereka punya restoran cepat saji sendiri di panti, otte," Usul Jaejoong
"Itu tidak sehat Boo," Yunho menasehati dengan sabar
"Hmm, iya juga ya, ah, bagaimana kalau kita membuatkan game center untuk mereka," usul Jaejoong lagi
"Jangan konyol, jangan samakan mereka dengan kau, sudah tidurlah, besok aku akan menelpon Ishida, aku akan menyuruhnya membuat ruang komputer dan internet untuk anak-anak," Yunho akhirnya memutuskan sesuatu yang lebih bijak, senyum Jaejoong langsung merekah
"Kyaaa, jeongmal? Yunnie memang yang terbaik," Jaejoong berteriak kesenangan
"Sekarang tidur ayo, aku mengantuk sekali," Yunho kembali memejaman mata.
"Yunnie, Yunnie," Jaejoong kembali mengguncang tubuh Yunho
"Apalagi?" tanya Yunho kesal
"Besok kita periksa aegya ayo," Kini Yunho menatap Jaejoong lama
"Ayo tidur, ia besok kita periksa," Yunho menarik Jaejoong lembut kedalam pelukannya
"Aku juga ingin melihatnya," Bisik Yunho kemudian, Jaejoong tersenyum menyamankan posisinya dalam pelukan Yunho dan ikut memejamkan mata.
OoooO
"Dia Jung Yunho kan? Wah tampan sekali, jadi itu Nyonya Jung yang misterius itu, akhirnya aku bisa melihat mereka secara langsung," Bisik-bisik para ibu-ibu mulai terdengar di sekitar mereka, sesuai yang dijanjikan Yunho benar-benar menemani Jaejoong untuk memeriksakan kehamilannya, tapi bukan di rumah sakit besar, atau periksa dengan dokter spesialis kandungan pribadi, namun atas usul konyol Jaejoong mereka pergi ke salah satu klinik kecil di pinggiran kota, dan alhasil sekarang mereka harus ikut mengantri, harus ikut duduk manis di ruang tunggu, dan harus mendengar bisikan penuh pemujaan akan kehadiran mereka.
"Mereka pasangan yang sangat keren, aku iri sekali, Jung Yunho sangat tampan, dan istrinya juga cantik sekali," Sekali lagi bisikan itu kembali terdengar, Yunho sudah dengan biasanya menulikan telingannya untuk tidak mempedulikan segala ocehan itu, namun lain halnya dengan Jaejoong.
"Kenapa mereka bisa kesini?"
"Mereka sepertinya sedang berhemat,"
"Hah? apa perusahaan Jung sedang dalam masalah?"
"Wah kasihan sekali,"
"Istrinya sedang hamil lagi,"
"Mungkin mereka sedang diuji," dan entah bagaimana bisikan penuh pemujaan tadi sekarang berubah menjadi berbagai macam kutukan, Yunho masih memasang tampang datarnya, berbeda dengan Jaejoong yang mengerutkan dahinya demikian heran.
"Yunnie, mereka bicara apa sich?" Jaejoong berbisik heran, Yunho menatapnya tajam, kemudian menyentil pelan dahi Jaejoong dengan telunjuknya
"Salah sendiri kenapa harus ketempat seperti ini," Kesal Yunho, Jaejoong nyengir
"Hehe, Jongie ingin memeriksakan kehamilan seperti di dorama-dorama, ngantri di ruang tunggu dengan suami, pergi ke klinik kecil, bayar murah, dan itu seru sekali," Jawab Jaejoong sumringah
"Kau... selalu punya ide gila, dan jangan wariskan itu pada aegya kita," Ujar Yunho setengah bercanda
"Arassou, tapi tetap saja itu bukan sesuatu yang bisa Jongie kendalikan," Jawab Jaejoong bijak, bibirnya di poutkan lucu, Yunho tersenyum, kemudian melingkarkan lengannya pada bahu Jaejoong
"Wah, mereka mesra sekali, aku iri,"
"Suamiku tak pernah melakukannya,"
"Mereka sangat romantis,"
"Kapan-kapan aku akan mengajak suamiku juga,"
"Kalau suamiku tidak kabur mungkin dia akan melakukan hal yang sama,"Kata-kata terakhir nan sinis yang terucap dari seorang wanita muda lainnya itu terdengar cukup keras dan mampu menyita perhatian, dalam sekelip mata kini topik pembicaraan beralih pada wanita muda yang sangat berterus terang itu. Jaejoong dan Yunho hanya melirik sebentar dan sama-sama tersenyum saat kini mereka tak lagi menjadi topik center.
"Kehamilan Nyonya sudah memasuki usia 4 bulan, sudah melewati masa-masa krisis hiperemesis, bagaimana sudah tidak merasa mual muntah lagi Nyonya?," Sang dokter spesialis bertanya ramah
"Tidak, sudah hampir tidak pernah lagi, tapi ngidam..." Kata-kata Jaejoong tak diteruskannya
"Oh itu tergantung dari Nyonya sendiri, sesuatu seperti ngidam itu tidak ada dalam dunia kedokteran, tapi ngidam bisa berhubungan langsung dengan psikologi seorang wanita atau bahkan suaminya, dan itu bisa di sebabkan dari banyak faktor," Jelas sang dokter lagi, Jaejoong mengangguk-angguk mengerti
"Tapi jika Nyonya menginginkan sesuatu usahakanlah untuk berkomunikasi dengan suami, jika tidak itu bisa menjadi beban tersendiri dan malah berpengaruh terhadap kondisi bayi di dalam," Tambah sang dokter lagi, mendengar penuturan menyenangkan itu, Jaejoong langsung menatap bahagia kearah Yunho yang balas menatapnya datar
"Lalu bagaimana keadaan bayinya?"Tanya Yunho kemudian
"Detak jantungnya yang tadi Tuan dan Nyonya dengar, membuktikan bahwa keadaan bayi di dalam sangat sehat, dan hasil USG yang saya lakukan kini berat dan juga kuantitas air ketuban juga normal, untuk saat ini kehamilan Nyonya sangat baik sekali, dan Nyonya karena kondisi fisik Nyonya sendiri tidaklah kuat, jadi usahakan untuk tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat, saya sudah meresepkan vitamin untuk Nyonya, dihabiskan ya," Jelas sang Dokter kemudian, kini giliran Yunho yang melirik senang, Jaejoong menghela nafas berat.
OoooO
"Jangan melakukan pekerjaan berat, itu sama artinya dengan tidak keluyuran, tidak kabur, tidak bertingkah aneh, dan bersikaplah seperti orang hamil biasanya," jelas Yunho, kini mereka sudah berada di mobil
"Tidak bisa begitu, bagaimana kalau psikologi Jongie terganggu, karena bosan," Jaejoong membela diri
"Paling tidak, kau tidak boleh pergi tanpa bodyguard, dan harus dengan ijinku, mengerti Nyonya Jung," Yunho melirik Jaejoong
"Haah, ya sudah jangan marah yah, kalau Jongie menelpon kekantor, dan jangan marah juga kalau Jongie membangunkan Yunnie, malam-malam,"
"Terserah kau saja, itu tak lebih merepotkan dari mencarimu ke seantero New York," Jawab Yunho dingin
OoooO
4 bulan kemudian
Kehamilan Jaejoong sudah memasuki usia 8 bulan, dan perutnya juga sudah membesar seiring bertambahnya umur kehamilannya, Jaejoong sudah mulai cuti dari kuliahnya dan sekarang sibuk dengan persiapan melahirkan, meski semua kebutuhan sudah tersedia dari sejak ia mengumumkan kehamilannya pada orang tuanya, namun Jaejoong masih merasa belum puas. Yunho juga sudah mulai mengurangi pekerjaannya dan lebih sering menemani Jaejoong di rumah, atau jalan-jalan pagi hari di sekitar perumahan mereka. Junsu, Kyuhyun dan Ryewook tak pernah absen menjenguk sahabat mereka itu.
"Jung Jaejoong-shii, lama tidak bertemu," Boa berdiri satu meter dari Jaejoong, menggunakan kostum tercasualnya dan tersenyum begitu manis pada Nyonya Jung itu. Saat ini mereka sedang di sebuah department store, dan tentu saja bertemu secara kebetulan.
"Kwon Boa-shii, apa kabar?" Jaejoong berusaha ramah
"Kau terlihat aneh dengan perut besar itu, jadi begini ya penampilan terbarumu" Jawab Boa sontal, Jaejoong mengerutkan dahi bingung
"Maksudmu apa?" Tanya Jaejoong kesal, tapi Boa malah mengeluarkan wajah polosnya
"Suamimu yang tampan itu, bisa saja berselingkuh, kalau penampilanmu seperti ini," Boa menyunggingkan senyum
"Kau bicara apa? Suami siapa yang berselingkuh?" Jaejoong meninggikan suaranya
"Aku kan hanya memperingatkan, kenapa kau sewot begitu,"
"Kau bicara tentang perselingkuhan suami, di depan istrinya yang sedang hamil, bagaimana mungkin aku tidak marah," Kesal Jaejoong
"Hah, emosimu semakin memburuk saja, yah semoga saja tidak kejadian,"
"Astaga, Boa-shii, kau ternyata belum berubah juga, dasar siluman rubah," Maki Jaejoong kesal, mendengar penuturan itu Boa langsung mengkerutkan wajahnya murka
"Kau bilang apa hah?"
"Jangan marah-marah dengan wanita hamil, tidak baik, hah, emosimu semakin memburuk saja,"Jaejoong mengulang kata-kata Boa, dan melengos pergi begitu saja, meninggalkan Boa yang wajahnya memerah seperti kepitinng rebus
"Dasar wanita menyebalkan," Hardiknya hampir tidak terdengar. Boa mengerucutkan bibirnya sebal, ia membanting setumpuk roti ke dalam keranjangnya dan berlalu sambil ngomel-ngomel.
"Wanita yang aneh, ayo, aku kita ke bagian pakaian dalam wanita dulu," Ujar Jaejoong pada bodyguardnya dan mereka langsung patuh mengikuti. Jaejoong berjalan gontai, setelah beberapa menit, ia tiba-tiba berhenti.
"Yunnie?" Jaejoong mengerutkan dahinya heran, menatap kejauhan, saat melihat sosok suaminya sedang berada di department store,
"Yun..." Jaejoong hendak berteriak memanggil, namun suaranya tercekat begitu saja, saat melihat Yunho tidak sendirian, ia bersama seorang wanita, wanita itu sangat cantik, berambut lurus, berwajah dingin dan tirus, tubuhnya semampai, ia menggandeng lengan Yunho sangat mesra, dan Yunho juga tampak biasa saja. Jaejoong hampir oleng, membayangkan sesuatu yang buruk, dan tiba-tiba otaknya mencerna perkataan Boa.
"Tidak, mana mungkin..."
OoooO
TBC
Sebelumnya sembah sujud, mohon maaf updatenya selalu lama, semoga chap depan bisa cepat, semoga...
Chap depan siap-siap dengan proses persalinan Jaejoong, bagaimana Tuan Jung yang selalu tenang akhirnya berada dalam situasi amat sangat khawatir dan menyedihkan, hahaha
Dan bagaimana kalau kita tambahkan sedikit bumbu mengerikan di prosesi persalinan Jaejoong
Ok, selamat membaca...
