Title: Sorry, I'm GAY

Disclaimer "Naruto": Kishimoto Masashi

This story belongs to KyuuRiu

Genre: Humor

Romance (?)

Pair : SasuNaru

ItaDei

Rated: M

Warning: Sarap dan gak jelas, chap ini SasuNaru dikit :p

typo(s) dan mis-typo(s) yang berkeliaran bebas tanpa tali pengekang

Anoo.. CHAP INI HUMORNYA SUPER SEDIKIT dan LEMON JUGA DIKIT, GOMEN DX

.

.

Part 11: Goodbye Good Boy

.

.

Namaku Uchiha Sasuke.

'degh.. degh.. degh..'

Ini sudah 2 hari sejak kejadian Baka Aniki datang ke kamar kami, dan sejak itu pula aku tidak menemuinya.

'deg.. deghhh…'

Hari itu, Hari dimana Naruto kesakitan gara-gara coklat pemberian si keriput sinting I –itu.. Ugh sial! Sebenarnya ini bukan murni karena kesalahan Aniki, do –dokt –dokterrr bilang makhluk manis di dalam perut Naruto tidak menyukai semuamua yang terasa manis. Ia tidak bisa menerima asupan glukosa yang terlalu banyak, makanya reaksinya lebay begitu.

'degh.. de –de –deghh!'

Hal yang paling membuatku menderita adalah… Sejak saat itu aku tidak melakukan ehem-ehem dengan Naruto. Pemuda manis kesukaanku itu semacam tidak mood atau apalah namanya.

Dan parahnya, besok pagi kami akan kembali ke Konoha. Itu artinya, tidak ada kesempatan bagi kami untuk melakukan anuanu di Mikazuki, dengan kata lain, bulan maduku sudah berakhir :'(

Sialnya lagi, Dobe menginginkan agar kami.. ehem –aku, Naruto dan… Itachi.. I –TA -CHI, bisa pulang bareng. Ughh! Pulang bareng Itachi.. itaii banget rasanya DX padahal, paling tidak aku ingin melancarkan serangan terakhir di pesawat, tapi… kalau begini caranya… mati sajalah kau Bang Keriput!

Well… Terpaksalah malam ini aku menemui Itachi di kamar no. 23 ini. Letak kamar ini di ujung lobi paling belakang.. Kelihatannya kamar ini jarang digunakan, dan sudah pasti lorongnya jarang dilewati orang.

'deg deg de de de deeeeegh..'

Awalnya, kupikir Aniki memilih kamar ini karena dia tidak memiliki uang yang cukup untuk menyewa kamar lain. Yahh.. barangkali uangnya habis digunakan untuk menyewa pesawat pribadi dan kamar 69 untukku,dll.

Tapi… Semuanya berubah saat Negara api menyerang!

'degh deghh..'

Maksudku, setelah aku tanpa sengaja melihat kelakuan Aniki sintingku. Seriusan! Awalnya aku kesini untuk sekedar mengatakan keinginan Naruto, juga sedikiiiitttt meminta maaf atas tindakan keterlaluanku, dan pastinya memberi tahu kabar gembira bahwa Naruto sudah berbadan seksi –maksudku, berbadan dua.

Tapi… bayangkan! Begitu sampai di depan kamar dengan nomor 23, aku langsung disuguh dengan pintu yang setengah terbuka!

It's no prob kalau di dalam hanya ada Abangku saja. Mau lagi telanjang kek, jungkir balik… aku tidak akan se deg-degan ini. ughh jantungku!

Masalahnya adalah, di dalam ada Deidara! Deidaraaaaaaaa! Aniki dan Deidara sedang melakukan uhhhh! Dengan pintu setengah terbuka begini… bagaimana bisa Itachi melakukannya dengan sepenuh hati (?) maksudku, tanpa khawatir kalau ada yang lewat atau mengintip atau apalah namanya.

Sebenarnya juga aku tidak akan heboh begini kalau saja mereka melakukannya dengan normal… NORMAL! Sayangnya ini BUKAN sesuatu yang normal …

"I –Itachi-san… ngaaahhh!" pekik pemuda bersurai pirang yang duduk bersimpuh di lantai tanpa mengenakan sehelai benangpun. Itachi menjambaknya kasar lalu menampar pipinya keras.

'plakkk'

"Kau pikir kau siapa, huhh?"

"Ngghh.. itanhhhh…mmmbbbbh!"

Aniki yang tidak memakai bawahan langsung menjejalkan miliknya yang sudah tegang ke mulut Deidara. Ia memaju-mundurkan pinggangnya cepat, membuat miliknya seolah sedang menyetubuhi mulut Dei.

Dari ekspresi pemuda yang beberapa hari ini menjadi orang kepercayaanku itu, aku dapat melihat bahwa ia hampir tidak bisa bernafas. Milik Itachi menghujam kerongkongannya dan membuatnya tersedak berulang kali.

"Siapa yang menyuruhmu menangis? Murahan! Kau suka ini kan? Mengaku saja!"

Aku tidak tahu kalau Aniki-ku seperti ini. dia kasar sekali. sungguh aku lebih memilih Uchiha Itachi yang menyebalkan dan selalu menggangguku daripada Uchiha Itachi yang suka menyakiti orang seperti ini.

Itachi semakin menggila, sesekali ia menampar kasar dan menjambak Deidara. Seolah ia tidak melihat bahwa sudut bibir sebelah kiri pemuda itu mengeluarkan darah.

Dengan mata terpejam, Dei mencoba bertahan, bahkan ia menggunakan kedua tangannya untuk memanjakan Itachi yang sedang kesetanan.

Kata-kata kasar mengalir mulus dari bibir pemuda yang dulu sangat kukagumi, Aniki yang –jujur- sampai saat ini menjadi idolaku. Bagaimana bisa dia menjadi pribadi yang seperti ini?

Itachi terus saja memaksakan miliknya untuk masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi ke mulut pemuda pirang berkuncir.

"Ggaaaaahhh~~"

"Uhhkkk.. MMhhh…."

Aniki melenguh, memejamkan matanya dan seenak keriput menyemburkan cairan kentalnya ke mulut Dei tanpa mengatakan apapun, sementara Deidara terlihat bersusah payah menelan seluruh cairan Itachi.

Ia mengeluarkan miliknya cepat dari mulut Dei.

"Ughh.. Uhhkk.. Itachi-sa –"

"Diam! Tidak ada yang menyuruhmu bicara!"

Aku terlonjak kaget. Belum pernah aku melihat Aniki bicara dengan nada setinggi itu, dan dengan raut wajah yang sangat mengerikan.

Deidara terhenyak dan langsung diam. Ia mengalihkan pandangannya dari Aniki. Walau diperlakukan seperti apapun, aku yakin Deidara tidak akan melawan, dia… menyukai Aniki.

'deghh'

Tiba-tiba saja jantungku seolah berhenti berdetak, nafasku terasa sesak. Aku… aku jadi ingat diriku yang waktu itu. aku bajingan yang memaksakan keinginanku kepada Naruto… Ughh brengsek!

"Ughhhh!"

Kaget aku melihat Aniki menendang Dei hingga menabrak pinggiran tempat tidur. Roomboy itu terbatuk beberapa kali. Ia meringkuk memeluk tubuhnya sendiri, membuatku bisa melihat beberapa memar di tubuh langsatnya.

Gila! Apa saja yang Aniki lakukan padanya? Ini sudah bukan melakukan SenaM lagi.. Uchiha Itachi sudah melakukan tindak criminal!

"Maaf.. Itachi-san.. Maafkan aku…" gumam Deidara cukup keras. Aku yakin Itachi yang entah sedang melakukan apa di depan kulkas mampu mendengarnya. Tapi kenapa..? kenapa dia seolah menulikan pendengarannya?

Kenapa Deidara terus saja minta maaf?

Bukannya pemuda brengsek disini adalah Itachi?

"Bangun.." gumam Itachi dengan nada datar. Dia menjambak rambut Dei hingga pemuda malang itu berdiri, lalu membantingnya ke kasur. Deidara menggigit bibir bawahnya. Aku tahu betul ia berusaha keras menahan suaranya.

Dengan tergesa, Aniki memosisikan tubuh Dei hingga dia menungging. Dari belakang Aniki lalu –

"Aaaaccckkkk –"

Deidara berteriak keras hingga suaranya putus. Matanya terbelalak seolah kedua bola warna laut itu akan keluar dari tempatnya.

Aniki sudah benar-benar gila! Ia memasukkan sebatang es batu berbentuk silinder ke dalam lubang Dei, lalu menggerakkannya cepat. Bukan gerakan keluar masuk biasa, namun juga gerakan memutar.

Sensasi dinginnya es batu pasti membuat dinding kenikmatan itu mati rasa, namun gerakan-gerakan brutal dan kasar Aniki pastinya memaksa Dei untuk merasakan sensasi lain di dalam lubangnya.

Aku mematung melihatnya.

Tubuh yang sudah penuh memar itu… Bagaimana bisa Itachi melakukannya? Dan lagi, ini sudah yang ke berapa kali? Pintu lubang Dei yang memerah dan memar… Si brengsek itu pasti sudah melakukannya berkali-kali..

"Kau… beraninya kau mengkhianatiku!"

"Nnhh… Itachi-san.. Akhhh stoppp…"

"Gara-gara kau menunjukkan kamera itu kepada Otouto, dia jadi marah padaku. Brengsek! Murahan! Ini kan yang kau inginkan? Bayaran yang waktu itu belum cukup, huhh? Kau ingin yang begini kan? Yang biasa saja.. kau tidak akan puas kan? Dasar room boy murahan!"

"Ackk henti –ngghhhh Itachi-san! Ahh… Ngghhhh…"

Hatiku rasanya sakit. itachi brengsek! Sudah jelas-jelas dia yang salah karena memasang benda seperti itu di kamarku, kenapa malah Deidara yang disalahkan? Pakai cara begini lagi… aku tidak suka!

Kedua tangan Deidara mencengkram kuat sprei, wajahnya benar-benar terlihat lelah. Air mata tak henti-hentinya mengalir.

"Brengsek kau manusia murahan!" Itachi menghentakkan es batu silinder di tangannya.

"Accck –hhh"

Lalu tiba-tiba mencabut dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih besar, Itachi Jr.

"Ngghhh! Rasakan…" erang Itachi saat ia menghujam Dei dengan miliknya kasar.

"Aaakkhhh.. Itachi-sahhh ahhh …"

Dan milik Dei langsung mengeluarkan cairan kental yang begitu banyak…

Entah hanya perasaanku saja atau lenguhan Deidara terdengar lebih bahagia dari sebelumnya. Yang jelas, pemuda langsat itu kini memejamkan matanya, berusaha menikmati perlakuan Aniki yang terlampau kasar.

"Ahh.. akhh.. kau pantas mendapat ini.. Ghhh…"

Itachi terus saja melenguh. Tubuhnya bergerak liar dan tak terkendali. Aku bisa melihat dengan jelas tumpuan kaki Deidara bergetar hebat. Dia berusaha menahan rasa sakit dengan tubuh yang hampir kehilangan tenaga itu.

"Ngghh~ aalllhhh…. Mmwhhhh ngggghhhh hhhggg!"

Aniki menarik wajah Deidara dan memaksa pemuda bermata biru keruh itu untuk berciuman dengannya. Kakak kandungku menggrepe kasar tubuh Deidara, sementara pemuda yang sejak tadi memejamkan matanya itu memegang tangan Itachi lembut.

Bergetar…

Seluruh tubuh Deidara bergetar halus. Dia benar-benar sudah kehabisan tenaga.

Aniki masih saja menghujamnya kasar, sesekali tangannya meremas kuat milik Deidara yang sudah lemas.

"Mwwhhh –pppwaahhhhh!"

Melepas pungutannya, Aniki langsung menggigit punggung Dei dan menghisapnya kuat. Dei hanya bisa mengerang lemah. Tenaganya sungguh benar-benar terkuras. Aniki keterlaluan!

"Haahhh.. Haaahhh…. "

Kedia tangan Aniki memegangi pinggang Dei, memaksanya bergerak berlawanan arah dengan hujamannya, membuat milik Aniki masuk lebih dalam dan lebih dalam lagi.

Gerakan Aniki semakin cepat.. semakin cepattt.. lenguhannya semakin kuat semakin keras dan –

"Aaaaagggghhhhhh! Cuminggghhhhhh!" lenguh Aniki terdengar sangat puas.

Aku sempat mendengar rintihan lemah Deidara sebelum tubuh langsat penuh lebam itu lemas, lalu limbung dalam dekapan Aniki.

"Hei… siapa yang menyuruhmu tidur, huh? Bangun kau dasar murahan!"

Aniki terus saja memaksa tubuh yang pingsan itu untuk bangun. Bahkan dia membaringkan tubuh Dei terlentang, lalu mulai menghujamnya lagi.

Tch, brengsek!

Walaupun aku yang dulu pernah menyiksa Naruto tidak sampai sekejam ini, melihat Aniki yang kesurupan begini hanya membuatku mengingat wajah menderita Naruto saat itu. Kampret!

Aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu dan kembali ke kamarku. Percuma saja aku menunggu, Itachi kelihatannya masih ingin melanjutkan kegiatan biadabnya. Menolong Deidara njuga hanya akan melukai harga dirinya.

Aku yakin.. sebenarnya dia bisa melawan, tapi karena sesuatu hal, dia lebih memilih untuk diam.

Ingatkan aku untuk meminta maaf pada pemuda pirang berkuncir itu. bagaimanapun juga, secara tidak langsung aku ikut ambil bagian dalam kejadian ini.

Aku mengambil Aan di saku celanaku, lalu mengetik pesan singkat untuk kontak bernama Aniki di androku.

"Jam 8 kutunggu di warung es serut favoritku. Harus datang, jangan telat!" gumamku membaca tulisanku sendiri. Kuharap aku bisa membicarakn semuanya di warung yang hanya buka kalau siang itu.

Aku pun melanjutkan perjalanan panjangku menuju kamar bernomor 69. Kamar yang sebentar lagi akan kutinggalkan.

"Nee~ 'Suke. Bagaimana?" pekik Naruto riang menyambutku begitu aku memasuki kamar kami.

"Hn. Aniki sedang sibuk, nanti jam 8 aku akan menemuinya lagi." Gumamku sambil menidurkan diri dipaha istriku yang sedang nonton TV. Tangan tan itu lalu mengelus rambutku, sesekali ditusuk-tusuknya pipiku dengan jarum –ehem! Maksudku, dengan jarinya yang manis.

Pemuda berambut blond kesayanganku masih memfokuskan pandangannya ke layar televisi yang menayangkan dua orang remaja cowok yang tidak sengaja berciuman di kelas gara-gara seseorang tidak sengaja menyenggol bokong salah satu cowok hingga membuatnya menubruk cowok satunya yang bergaya sok cool hingga mereka berciuman. Fans dari si pemuda sok cool memarahi si cowok rambut duren habis-habisan, padahal diam-diam si cowok sok cool menikmati ciuman mereka –kenapa aku jadi bercerita tentang fil nista itu -_- Ehem.. Naruto memakai kaos oblong warna dongker dengan turtle neck dan celana pendek warna putih. Kalau dilihat-lihat baju itu birip yang ada di film barusan.

Btw, kedua potong pakaian itu adalah milikku. Tentu saja kedodoran waktu dipakai Naruto, otomatis, pemuda yang pernah menyelamatkan hidupku dari sepotong tomat yang nyangkut di tenggorokanku semakin terlihat manis dan menggairahkan… seharusnya.

Jujur, sebenarnya ini waktu yang sangat tepat untuk mengajaknya melakukan adegan rate M, sayang sekali.. aku sedang tidak mood gara-gara Aniki.

Huu~~ lagi-lagi gara-gara dia -_-

Kapan ya Uchiha Itachi tidak membuat repot hidupku?

Well, Dari kemarin siang, entah kenapa Naruto maunya pakai bajuku. Sudah begitu, dia tidak mau makan makanan yang banyak mengandung lemak. Bayangkan saja! Seorang Uchiha Naruto lebih memilih memakan sayur bayam ketimbang ramen yang aku pesankan untuknya. Walhasil, aku yang harus menghabiskan makanan berlemak itu. Ughhh..

Aku memejamkan mataku. entah kenapa hari ini rasanya aku lelah sekali. padahal aku tidak melakukan kegiatan-kalian-tahu-maksudku. Seharian aku hanya menemani Naruto jalan-jalan di pantai sebentar, lalu membeli iced black coffee di kafe hotel. aku heran, sejak kapan pemuda berkulit caramel ini suka kopi, sudah begitu, minumnya yang black. Hiii~~ paiiit

Ahh sudahlah… Lebih baik aku tidur saja. Aku benar-benar lelah… mungkin aku akan berhenti menjadikan fanfiction ini sebagai sesuatu yang berbau humor. Aku terlalu ganteng dan seksi untuk itu…

" –uke… Uke…. –ukeee!"

Tch. Siapa yang berani memainggilku 'uke' sambil mengguncang-guncangkan tubuh seksi berototku? Baru saja aku mau tidur, sudah diganggu begini. Memang susah ya jadi actor tampan yang sangat terkenal.

"Ngghh~" lenguhku ngulet tanpa sadar. Dan tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu yang hangat dan lembab menyentuh sudut bibirku.

"Awwmmhhh… Sasuke bangun.. Sasuke.. bangun!"

Aku langsung membelalakkan mataku dan mendapati sosok manis Naruto sedang memejamkan matanya dan mengulum bibir bawahku sambil mengucapkan kalimat-kalimat untuk membangunkanku, seolah dia sedang melakukan Edo Tensei.

Aku sengaja diam, membiarkan dia yang menaiki tubuhku melakukan kegiatan manisnya padaku. Aw aw aw jarang jarang Naruto membangunkanku dengan cara begini. Terima kasih Tuhan…

Bibirnya memunyut bibirku perlahan sementara lidahnya sesekali menelusur garis bibirku. Manis sekali…

"Ewmmhhh…."

Naruto menghembuskan nafas panjang mengakhiri pungutannya. Ia mulai membuka matanya.

"Uhh.."

Pipinya sedikit digembungkan saat ia mendapatiku sudah terbangun. Ia mencubit pipiku lalu beranjak dari tubuhku yang perfect. Uhh Sasuke Jr' ikutan terusik gara-gara kejadian barusan.

"Hei.. Kenapa berhenti?" bisikku menggodanya. Kupeluk tubuh yang sedang menuangkan air itu dari belakang. Kujilat lehernya sekali.

"Kau menyebalkan! Kenapa tidak bilang kalau sudah bangun?" gerutunya sebelum meneguk air putih. Aku menitipkan daguku ke pundaknya, masih memeluk.

"Habisnya kau manis…" gumamku.

"Hape di kantongmu bunyi terus tuh.. makanya aku membangunkan Sasuke." Ia berbalik, lalu mencium pipiku singkat.

Uhhh…

Disodorkannya padaku gelas air putih yang tadi dipakainya. Entah kapan Naruto mengisinya kembali, yang jelas sekarang airnya kembali penuh.

C –c –ci –ciu –ciu –ciuman tidak langsung!

Aku pun berterima kasih lalu meneguknya hingga habis. Kujilat seluruh sisi mulut gelasnya… Yah, memang sih aku bisa mencium Naruto kapan saja aku mau. Tapi.. ciuman tidak langsung begini kan romantic banget!

Ehem!

"Trims ya.."

-chuu-

Aku balas mengecup pipi kirinya. hampir saja aku melahap pipi Naruto kalau saja si Aan tidak mengeluarkan suara mengganggu.\berdecak kesal aku mengambil android di kantong celanaku hanya untuk mendapati 48 pesan dari Aniki. Buset!

Aku langsung membuka pesan terbaru darinya. Ada urusan apa sih sebenarnya sampai-sampai mengirimiku pesan sebanyak ini? jangan bilang dia Cuma mau mengganggu kemesraanku dengan Na –

.

From: Aniki

Maaf Sasuke aku sedikit terlambat. Mungin kau marah padaku, lalu memutuskan untuk kembali ke hotel. aku tidak akan memaksamu tapi… aku akan menunggumu disini. Aku akan selalu menunggumu~~

.

Pesan alay itu membuatku mengeryitkan dahi.

Menungguku?

Aniki?

Ngapain..?

'degh'

.

"Jam 8 kutunggu di warung es serut favoritku. Harus datang, jangan telat!"

.

Crap! Aku lupa ada janji dengannya!

Aku langsung melirik jam digital yang tertera di sudut kanan atas layar ando-ku. Sudah hampir jam Sembilan?

"D –Dobe.. berapa lama aku tidur?" tanyaku terbata. Bagaimanapun juga, ini ngeri. Aku hanya memejamkan mata dan jam sudah menunjukkan pukul 08.49 pm. The heck!?

"Entahlah Teme.. aku tadi juga ikutan tidur soalnya." Bisiknya memelukku.

Damn! Ini saat yang sangat tepat untuk melakukan sesuatu dengan Naruto, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Aniki mati beku di luar sana.

Ughh! Maafkan aku manis..

Tolak dia… tolak dia Sas! Tolak dengan cara yang keren!

Kukecup puncak kepalanya, lalu berbisik lembut di telinga kanannya.

"Maaf sayang, aku harus pergi sebentar."

Naruto mendongakkan kepalanya, menatapku bingung dengan sapphire kembarnya yang membuatku makin galau mau pergi atau tidak DX

"Dengar, Aniki memohon kepadaku untuk bertemu.. Kurasa ada hal penting yang harus dibicarakan. Lagipula aku belum jadi memberi tahu kalau besok kita bertiga akan pulang bersama…" gumamku disela kecupanku di sudut matanya.

"Nggg 'Suke~"

"Boleh aku menemuinya?" tanyaku setengah hati. Onyx-ku kini menatap lekat langit Kristal di kedua bola matanya.

Naruto mengangguk singkat, lalu tersenyum.

Ohh Nooo!

Aku pun dengan berat hati mengucapkan terima kasih. Lalu dengan tubuhku yang atletis, aku menggendongnya ala bridal dan membaringkannya di ranjang kenangan kami. Uhh.. sebentar lagi gak bakal bisa bobok disini : (

"Oyasumi.." bisikku mesra penuh gairah. Kuselimuti tubuhnya..

Setelah menyambar coat berwarna hitam dengan motif awan merah, aku lalu meninggalkan kamar 69 ini dengan langkah terseret.

Uhhh! Kenapa musti lupa segala sih? coba aku tidak ketiduran.. tidak melupakan kalau sudah membuat janji akan bertemu Aniki. pasti sekarang urusannya sudah beres dan aku sudah kembali ke kamar dan aku dan Naruto akan melakukan –nghh!

Tidurlah Sasu Jr.!

Aku berjalan menuju tempat janjian kamu sambil menghapus seluruh pesan dari pemuda yang masih jomblo itu, tanpa sedikitpun membacanya tentu.

Jomblo ya~

Aku jadi ingat kejadian tadi. Aku bisa mengerti kalau Aniki sampai marah gara-gara Deidara membocorkan rencana jahatnya padaku. Bagaimanapun… menyiksa Dei sampai dia babak belur begitu bukanlah tindakan yang patut dipuji. Apalagi Itachi juga menggunakan tubuh Dei untuk memuaskan nafsu bejatnya.

Menurut pelajaran kewarganegaraan yang pernah kudapatkan di SD dulu, semua manusia harus saling memaafkan, tidak boleh berkata-kata kasar, apalagi memukul orang lain. Kita harus rendah hati dan dermawan. Singkatnya, harus bersikap sepertiku.

Tak sadar aku sudah sampai di kedai es serut yang dulu sangat kusukai. Jika kalian ingin tahu kenapa aku benci makanan manis, salahkan saja tempat ini. bongkar! Bongkar! Bongkar saja tempat yang menjual es serut paling enak se-Mikazuki ini!

Kulihat bayangan Aniki duduk di kursi kayu sambil memelototi layar hapenya. Ahh.. tempat yang sama saat aku kesini dengan Naruto tempo hari.

Tarik nafas… hembuskan… bersikaplah wajar Sas! Pasang wajah datar, nada datar dan kulit mulus!

Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, aku langsung nyelonong menduduki kursi di depannya.

"Ahh~ Otouto!" pekik Aniki kaget. Aku hanya ber-hn sekali, lalu –

"Ini.. tadinya hangat, tapi sekarang sudah dingin." Sahut pemuda yang hanya memakai kemeja tipis dan celana panjang itu, bisa dipastikan kalau dia langsung kesini begitu membaca pesanku.

Aniki menyodorkanku sekaleng green tea rasa tomat. Minuman ini memang biasanya tersaji hangat dari mesin, tapi yang ini sudah benar-benar dingin. Aku jadi bertanya-tanya, sudah berapa lama dia berada di sini. Tapi… gengsi dong!

Aku membuka minuman itu, lalu meneguknya. Sudah dingin memang, tapi entah kenapa rasanya begitu hangat…

"Kau tidak minum?" tanyaku iseng-iseng. Aniki yang sepertinya tidak menyangka kalau aku akan bertanya seperti itu langsung berubah ceria. Seolah raut yang tadi sempat kulihat di kamarnya hanyalah fiktif belaka. Seolah nama dan kesamaan wajah hanyalah ketidaksengajaan yang –cukup!

"Ini milikku.." ditunjukkannya minuman kaleng rasa-rasa yang sudah setengah kososng.

'Milikku' dia bilang… Aku jadi ingat milikku yang tadi sempat ingin bangun. Aku juga jadi ingat miliknya Itachi yang tadi ganas sekali.

Jangan salah paham! Milikku jauh lebih hebat dari miliknya! Aku yakin itu!

"Aniki, aku dan Naruto akan pulang besok." Gumamku datar. Pembicaraan ini sangat canggung. Aku berasa seperti sedang berbicara dengan klien bisnis atau semacamnya.

Uhh! Jadi orang besar memang menyenangkan, tapi susah ngejalaninnya DX

"Iya.. aku sudah tahu." Balasnya. Dari tadi onyx-nya tak lepas dari wajahku. Aku jadi ngeri sendiri dibuatnya. Hiiyyyyy

"Naruto ingin kita bertiga pulang sama-sama." Bisikku lirih. Aku berharap Aniki tidak mendengarnya, lalu dia mengucapkan 'tidak', dan akan kukatakan kepada pemuda pirang pujaanku kalau Aniki menolak untuk pulang bersama.

Ayolah.. katakan TIDAK! Katakan TIDAK UNTUK KORUPSI! Untuk alasan apapun.. Katakanlah TID –

"Aku mau!" pekiknya riang. Tangannya reflek menarik kedua pipiku berlawanan arah. Uhhh!

"Kau menyebalkan!" gerutuku menggunakan nada yang DULU sering kugunakan saat aku ngambek dengan Aniki, dan suasana pun sedikit mencair.

Jujur aku bukannya menganggap Aniki menyebalkan karena menarik-narik pipiku. Aku mengatakan bahwa ia menyebalkan karena ia setuju pulang bareng sama aku dan Naruto. singkatnya, rencana serangan terakhirku di pesawat gagal total.

"Hei, maaf kemarin sudah membentakmu. Aku terlalu panic."

"Ahh.. Itu mah biasa saja! Gertakan Otouto manisku tidak akan pernah menggentarkanku. Hahahahah!"

Ndobos!

Sekarang bisa tertawa begitu. Mengaku saja kalau tadi dia benar-benar takut kalau aku marah. Hihhh! Dasar sok-sokan.

Aku hanya ber-hn untuk menghindari kata-kata yang tidak diinginkan keluar dari bibir sensualku. Aku tidak mau omongan ngawur itu nantinya membawa citra buruk kepada diriku sendiri.

"Ya.. ya.. yang paling penting. Kabar genbira untukmu. Sebentar lagi kau akan menjadi seorang Pakdhe."

Kali ini Aniki diam seribu bahasa. Matanya seolah ingin melompat keluar, sedangkan mulutnya menunggu untuk diisi dengan pasir segentong.

Sesuai dugaanku, setelahnya aku mendapat pelukan gratis dan kecupan di pipi. KE –CU –PAN DI –PI –PI!

Aku hampir saja menyemprotnya kalau saja aku tidak mengingat tujuanku menemuinya malam-malam di tempat remang begini.

Aniki membrondongku dengan berbagai pertanyaan dan ucapan selamat. Untuk kecupan, aku sudah menegaskan agar dia tidak melakukannya lagi.

Kuceritakan padanya tentang insiden coklat, tentu saja hal ini membuatnya memiliki bahan baru untuk menggodaku.

"Makanya Dek, jangan buru-buru menyimpulkan sesuatu.." gumamnya dengan wajah sok keren. Membuatku ingin melemparinya dengan sandal jepit.

Aku juga menceritakan bahwa kami sepakat untuk tidak member tahu orang rumah dulu, ini akan menjadi kejutan saat kami pulang nanti. Entah kenapa, aku dengan santainya menceritakan semuanya…

Bahkan aku sampai menceritakan perubahan kebiasaan Naruto. Mulai dari selera makan hingga caranya berpakaian. Itachi terkik geli saat aku mengatakan bahwa aku harus menghabiskan semangkuk besar ramen penuh lemak, huekkk.

Aniki bilang Naruto mengalami masa ngi.. ngi… ngidam? Atau apalah namanya. Dan aku harus menuruti semua keinginannya. Kalau tidak, nanti anakku bakal jadi bocah yang suka ngiler.

Aku tidak mau!

Anakku haruslah jadi sosok yang keren seperti Tou-san gantengnya!

"Hahahahahhahhh kalian ini benar-benar membuatku bangga! Tidak sia-sia dulu aku sering main ke tempat Naruto hanya untuk memberinya selembar fotomu."

Dan ingin sekali rasanya aku menutup telingaku. Tawa menyebalkan Itachi tak henti-hentinya pecah. Ughh! Awas ya.. akan kubuat kau diam.

Wait!

Aku punya sesuatu yang bisa membuatnya diam. Dan lagi… aku kan kemari juga untuk membicarakan masalah yang satu ini.

"Kalian manis.. aku suka kalian!" ucapnya ceria. Ia terlalu bahagia hingga matanya mengeluarkan air mata..

"Aniki.. bagaimana dengan Deidara."

Pertanyaan bernada datarku sukses membuatnya membatu. Tawa tak lagi keluar dari mulutnya. Wajahnya pun kini nampak pucat.

"Aku tadi melihatmu loh.. Aku tidak menyangka kau bisa bersikap begitu. Berapa kali kau melakukannya pada Dei?"

Aniki-ku yang keriputan itu masih diam. Reaksi yang sama persis seperti yang kuberikan saat paman min membrondongku dengan pertanyaan lewat telfon waktu itu.

Ugh!

Ini hanya perasaanku saja, atau memang aku selalu mengingat hal-hal buruk saat aku sedang bersama pemuda yang suaranya mirip Ishikawa Hideo ini? -_-

"S –S –S –Sa –Sasuke, kau…"

"Aku tidak suka kau menggunakan aku sebagai alasan untuk melakukan tindak criminal. Bagaimanapun juga kau ini Aniki-ku, orang yang paling kukagumi. Seberapa marahnya aku padamu, akhirnya kita juga akan baikan."

Tuturku panjang lebar. Aku.. sepertinya ingin melindungi Dei sebagai balas budiku atas bantuannya selama ini.

"Tapi dia –"

"Dengar! Yang salah itu Aniki! Kamera sebanyak itu… kau ingin menjadikan Otouto-mu yang ganteng ini bintang AV?"

Suaraku meninggi. Si rambut kuncir satu ini memang seenaknya melakukan hal-hal sesuka hati. Mirip seperti Otouto gantengnya! Lohh… itu aku o_O

"Bukan! Aku… aku hanya… AKU HANYA INGIN MELIHAT PERKEMBANGAN OTOUTO TERCINTAKU!"

Kali ini dia berteriak.. membongkar alasannya melakukan aksi kejahatan. Semuanya… demi aku? Apa-apaan chapter ini? kenapa malah terjadi adegan aneh dengan pair SasuIta?

"Aku tahu… aku tahu mungkin ini kesempatan terakhirku melihatmu.." gumamnya dengan nada yang jauh lebih rendah dari yang tadi. Bibirnya bergetar seolah dia sedang melakukan pengakuan dosa.

"Tapi.. setelah ini kau akan tinggal dengan Naruto, kau akan jadi sangat sibuk mengurusi keluargamu sendiri.. pasti jadi jarang pulang. Adek jarang pulang… Abang jarang dibelaii~~~"

Huhhh?

Dan dia mulai mengungkapkan alasan-alasannya melakukan tindakan SEMUA menyebalkan kepadaku. Termasuk aksinya mengintip adeganku dan Naruto di kediaman Namikaze waktu itu… dan ternyata, semua hipotesisku benar!

Aku tidak tahu harus sedih atau senang. Pokoknya mengerikan! Pantas saja Ayahanda Min tidak jadi marah padaku kemarin. Mungkin.. karena dia sudah melihat sendiri betapa aku memperlakukan putra tunggalnya sebagai milikku yang paling berharga. He he :3

Aku menghela nafas berat. Itachi masih bercerita dan dia masih saja mengungkapkan perasaan CINTAnya kepadaku. Si brother complex satu ini…

Sabar.. Sabar Sas! Carilah cara agar Abangmu ini berhenti mengoceh!

'tring!'

Tiba-tiba sebuah lampu petromak menyala di jidatku. Aku pun jadi mendapatkan ide untuk sedikit mengalihkan pembicaraan ini.

"Tetap saja.. kau tidak boleh melakukan tindak criminal. Bagaimana kalau sampai dia melaporkanmu ke polisi? Siapa yang akan jadi Aniki-ku? Sai..? Amit-amit! Kau… adalah satu-satunya Aniki-ku."

Gumaman pelanku benar-benar menghentikan aksi ngocehnya. Dan sekarang pemuda berkulit pucat di hadapanku malah tersipu malu-malu. Holy crap! Kelihatannya kalimat terakhir tadi sebaiknya tidak diucapkan!

Kami terdiam sesaat. Aku memikirkan tentang apa yang harus kuucapkan selanjutnya, sedangkan Aniki, aku yakin.. dia pasti tenggelam dalam fantasy-nya sendiri. Kemungkinan besar dia sedang membayangkan aku yang sedang menyatakan rasa kagum dan cintaku kepadanya secara blak-blakan.

"Aku benci dia.." gumam Aniki masih dengan wajah penuh kebahagiaan. Lalu dia menceritakan bahwa ia telah memberikan imbalan kepada Deidara untuk tutup mulut dan merahasiakan keberadaan kamera-kamera nista itu. Deidara.. dia mendapatkan hujaman Aniki di lubangnya sebagai imbalan.

Ya.. Dei meminta Aniki agar menyetubuhinya.

Aku sama sekali tidak merespon. Bingung dengan apa yang harus kukatakan. Satu yang aku yakin.. Aniki belum menyadari perasaan Dei kepada dirinya.

Ahh… perasaan Deidara..

Itu dia!

Semoga setelah ini aku bisa menyudahi percakapan ini dan kembali ke kamar hangatku!

Sumpah di sini dingin banget… brrrrrr!

Ehem…

"Kau tahu.. Deidara orangnya kuat loh.. dia bisa mengangkat tiga koper ukuran besar sekaligus." Kuteguk greentea rasa tomat yang tinggal setengahnya sebelum meneruskan,

" –jadi, merobohkanmu, sebenarnya bukan hal yang sulit."

Mendengar ini, Itachi yang sedang menyeruput minumannya langsung tersedak hingga keluar melalui hidung. Jijik banget -_-

"J –jadi.. dia pasti menginginkan sesuatu dariku! Dia tidak menolakku sama sekali. Jangan-jangan dia ingin menerorku, memeras keluarga kita lalu –"

Dan sikap heboh bin paranoid Aniki kambuh lagi. Ahh… aniki yang begini… aku suka~~

"Dia menyukaimu."

Gumamku lagi-lagi menghentikan ocehannya.

"Dia memberitahuku tentang kamera-kamera itu hanya demi beberapa fotomu. Dia sadar.. dia hanyalah orang lemah dan miskin, tidak akan pernah setara dengan Uchiha Itachi yang sangat dikaguminya. Makanya, dia mempertaruhkan kepercayaanmu demi sesuatu yang kelak akan bisa selalu dilihatnya, bisa mengobati rasa rindunya… foto-fotomu."

Aku sendiri kaget dengan kemampuanku mengarang bebas. Serius kalimat barusan sama sekali tidak kurencanakan. Dan pengetik abal yang saat ini mengetik juga tidak tahu kalau jari-jarinya akan merangkai kalimat seperti ini *plak.

"Dan alasannya tidak membalas perlakuanmu adalah… tentu saja karena dia menyukaimu. Dan kau benar.. dia memang menginginkan sesuatu. Sesuatu yang sangat mahal dan berharga."

Aku beranjak dari kursiku, lalu berdiri di belakang Aniki. Kulepas coat milikku lalu memakaikannya kepada pemuda yang sejak dulu suka menjahiliku ini.

"Dia menginginkan hatimu.." bisikku menarik tangan kanan Aniki dan menuntunnya ke dada kirinya sendiri, tepat di jantung yang saat ini berdetak random.

"Otouto…" Aniki mendongak, sorot matanya yang terlihat bingung menatapku. Membuatku juga bingung harus berkata apa.

Kami sempat terdiam beberapa saat sebelum akhirnya aku mengingat fakta bahwa aku memiliki seseorang yang sedang menungguku di kamar. Uchiha Naruto manismu… Bang Sasu ganteng pulaaaang~~

"Minta maaflah padanya. Jangan menunggu sampai semuanya terlambat. Bicarakan masalah ini baik-baik, OK? kurasa, kau juga menyukainya, kok… Jangan jadi jahat lagi ya."

Nasihatku sambil tersenyum sebelum akhirnya beranjak pergi meninggalkan Aniki yang masih mematung berselimutkan coat hitam bermotif awan merah

Kalau boleh jujur, barusan aku berasa sedang menasihati anak TK. Yah.. mungkin ini dampak karena sebentar lagi aku akan memiliki little baby. Uhhh jadi gak sabar.

Aku pun berjalan cepat menuju kamarku. Aku yakin Naruto masih belum memiliki mood untuk melakukan anu, tapi bagaimanapun, aku sangat ingin tidur di sampingnya saat ini.

Mengarang bebas barusan sungguh membuatku kelelahan.

Sesampainya di depan pintu kamar, aku langsung membukanya dengan kunci di sakuku, lalu tentu saja.. setelah masuk, aku menguncinya dari dalam.

Setelah cuci tangan dan kaki, lalu gosok gigi, aku pun memosisikan diriku di sebelah Naruto, sebenarnya di belakangnya sih… Dia tidur membelakangiku, manis sekali.

Aku memeluknya dari belakang, lalu mengecup tengkuknya singkat. Aku hampir memejamkan mataku saat kurasakan tubuh mungil di dekapanku berbalik lalu memelukku erat.

"Ngg Sasuke…" rengeknya. Sepertinya sejak tadi dia belum tidur. Apa dia menungguku? Suami tercintanya yang gagah perkasa ini?

"Hei.. kau ini kenapa sih..?" kutarik dagunya, memaksa mata indahnya yang sudah kelihatan sangat mengantuk itu menatapku.

Ia menggeleng pelan lalu kembali memelukku. Aku tahu Naruto menyembunyikan sesuatu. Harus kuselidiki!

"Katakan, manis… aku ini suamimu kan? Jangan ada rahasia, OK?" bisikku lembut sebelum mengulum tipis daun telinganya. Uhhh.. mungkin mala mini aku akan dapat jatah. Horeeee!

Ia mengangguk singkat, lalu mulai mengeluarkan suaranya lagi, "Janji tidak akan marah?"

Aku mengangguk, lalu menarik tangan kirinya dan mencium jari manis Naruto, mencium cincin pernikahan kami. Bukti janji setia kami.

Tanganku mulai membelai pinggangnya, bersiap mendengar kalimat yang kemungkinan besar akan membawaku dalam sebuah jatah yang dua hari ini tidak kudapat.

"Aku.. aku takut kalau Sasuke bosan padaku."

Huhh? Dia bilang apa?

"Aku benar-benar sedang tidak ingin melakukan itu, padahal kan ini bulan madu kita.. Aku takut kalau kau pergi dan mencari orang lain yang da –ewmmhhh…"

Kubungkap ocehannya dengan bibirku.

Aku sebal. Bukan karena kalimatnya secara tidak langsung telah mendeklarasikan bahwa aku tidak akan dapat jatah mala mini, tapi karena dia masih saja tidak percaya bahwa hanya dia yang mampu membuatku bergairah.

Aku menarik nafas dalam sebelum mengucapkan kalimat pernyataan cintaku untuknya. Ya.. aku mencintai Uchiha Naruto. Putra tunggal kelarga Namikaze.

"Aku mencintaimu. Aku sudah berjanji tidak akan memaksakan apapun kepadamu kan? Dan yang paling penting, kau sudah memberikan kebahagiaan terbesar untukku. Menurutmu, apa aku punya alasan untuk meninggalkanmu?"

Naruto menggeleng sambil tersenyum. Aku menghela nafas sebelum akhirnya membisikkan sesuatu yang bahkan tidak kusadari hingga detik ini,

"Kuberi tahu satu rahasia… Entah sejak kapan dimulainya, yang jelas… tubuhku hanya mau bereaksi jika tubuh yang kulihat adalah tubuh Naruto… Aku hanya akan bereaksi kalau itu adalah Naruto…"

Dan pemuda tan favoritku langsung menenggelamkan wajahnya di dadaku, "Maaf Teme~"

"Hn.. Oyasumi."

"Oyasumi 'Suke.. I love you too.."

.

.

Tbc

.

.

Hahahahah XDDDD

Chap ini beneran nista. Entah kenapa dapet ide begini.

Dan suami Kyuu.. Itachi menjadi sangat nista. Sesungguhnya Kyuu gak relaaa DDDX

Untuk review-revie-nya.. terima kasih banyak *kiss semua readers.

Kyuu pikir karena Kyuu terlalu lama gak apdet, readers bakal ninggalin Kyuu.. ternyata Kyuu salah. Readers setia banget sama Kyuu yang abal ini

Terima kasih readers *sembah sembah sujud

Ohh ya.. chap kemarin ternyata gila banget typo dan mis typo banyak -_- dan Kyuu baru sadar kemarin *nistaabaldetected

Semoga chap ini gak mengecewakan.

Mohon maaf readers (-/|\-)

Btw, selamat puasa ya bagi yang puasa…

Ehh, pas bulan puasa nanti, Kyuu break dulu gak bikin ini :o

Ini Kyuu beneran serius nanya lohh.. Takutnya ngeganggu ibadah readers yang pada puasa…

.

.

Akhir kata, Review please..

Mohon kritik dan sarannya,

Terima kasin.. emmuachhh