Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: Tiap chapter berurutan, meskipun masih saling terkait.


Kedua sorot mata beda warna itu saling menatap. Sang permata hijau menatap dengan penuh pengharapan dan tanda tanya, berbalik dengan sang hitam yang tengah menunjukkan raut tak percaya. Pita suara keduanya terdiam, enggan bergetar kembali untuk menyerukan pernyataan yang beberapa menit lalu terucap indah dari bibir sang wanita.

Bola mata hitam kelam milik bungsu Uchiha itu mengerjap, menghalau desiran angin yang sejak tadi mengeringkan bola matanya. Kelopak mata yang semula terbuka menutup seketika, seakan mengerti kegundahan yang diberikan sosok di depannya.

Sebagai seorang lelaki Uchiha Sasuke sadar dengan kedudukannya. Dialah sumber dari segala masalah yang tengah membelit dua sosok yang sebelumnya terbungkus oleh indahnya nama persahabatan. Sebagai seseorang yang harus mengambil sikap untuk mengakhiri segala resah yang selama ini tersimpan dari sorot kerlap mata hijau yang kini meredup.

Sebersit ucapan beberapa menit lalu berputar kembali di dalam memori otaknya.

"Aku ingin menikah dengan orang yang kucintai dan mencintaiku. Kalau tidak bisa, aku ingin dia yang mencintaiku karena aku takut dikecewakan. Sasuke-kun, apakah kau mencintaiku?"

Sebuah pertanyaan yang terlontar manis dari bibir Haruno Sakura. Pertanyaan yang membuat ia harus memberi ketegasan atas sikapnya selama ini. Kelopak matanya akhirnya terbuka, kembali memandang permata zambrut yang menunggu kepastian.

Ia menggambil napas dalam, "Sakura, aku..."

Tak lekas mendapati jawaban yang ia tunggu, Haruno Sakura beranjak dari duduknya. Menepuk debu yang menempel di rok seragamnya sebelum melangkahkan kakinya dari hadapan pemuda Uchiha itu.

"Aku sudah tahu jawabannya, Sasuke-kun." Ia berujar dengan senyum.

Sasuke yakin ia melihat senyum keterpaksaan yang terlempar ke arahnya.

"Sakura..."

"Sudah bel, Sasuke-kun. Aku harus kembali masuk kelas," sanggahnya lagi.

Dan kini Uchiha Sasuke terasa kosong setelah tubuh kecil itu lenyap dari pandangannya.


"Apakah aku mencintainya?"

Lagi-lagi pertanyaan itu menyeruak lepas kendali. Kembali menghantui pemuda Uchiha itu untuk segera mengambil keputusan. Namun sekalinya ia memutar otak mengingat segala kenangan mereka, ia bimbang. Belum ada cahaya yang menuntunnya mengambil langkah kepastian.

Ia berpikir sejenak, mengulang kembali rekaman awal pertemuan mereka. Percuma saja, bahkan ia lupa kapan pertama kali mereka bergandengan bersama dalam arti sahabat. Ia dan Haruno Sakura selalu bersama. Itulah yang ia ingat. Putri keluarga Haruno itulah yang selalu membuka harinya sekaligus menutupnya. Sasuke sudah terbiasa dengan kemunculan kepala berambut merah muda itu dalam hidupnya. Jika ditanya tentang perasaannya kepada Sakura, ia masih abu-abu.

"Aaargghhh..." Uchiha Sasuke menggeram dalam selimut hangatnya. Menutup kelopak mata, melanjutkan kembali mimpinya yang sempat tertunda.


Pagi menjelang. Di luar sana sang penerang siang telah anteng di tempatnya, lengkap dengan suara burung peliharaan beberapa tuan rumah di sekitar kompleks. Berbalik keadaan dengan jalan raya yang telah sepi karena akhir pekan. Suasana libur yang tak membuat beberapa di antara mereka memilih mendekam di rumah lengkap dengan selimut hangat menemani mereka.

Namun sepertinya bungsu dari dua bersaudara keluarga Uchiha masih terlihat bergelung dalam selimutnya. Menikmati alunan mimpi yang masih membuai tidurnya, bahkan ia tak terjaga sedikitpun ketika sang kakak memasuki kamarnya yang masih remang karena tirai jendela yang belum terbuka.

Sreeeg

Wajah yang semula menampakkan raut tenang itu terlihat mulai jengah ketika silau sinar matahari terarah ke arahnya. Membuat ketidaknyamanan pada kedua kornea matanya.

"Nnggg..." Bergumam singkat sebelum berbalik arah membelakangi sinar matahari yang menerobos cendelanya.

Belum juga semenit ia menuai tidurnya kembali ketika sebuah tangan usil menarik selimutnya turun, membuat ia gusar karenanya.

"Sasuke-kun, bangun."

Reflek ia menutup kedua telinganya mendengar suara cempreng yang begitu ia kenali. Masih enggan untuk sekedar membuka mata barang sejenak.

"Sasuke-kun, cepatlah bangun."

"..."

"Sasuke-kun..."

"..."

"Sasuke-kun..."

"..."

Pada akhirnya ia jengah juga mendengar seruan cempreng itu. Gusar ia menarik turun bantal yang menutup wajahnya.

"Diamlah, Sakura, aku ingin tidur," serunya tak suka.

"..."

Uchiha Sasuke terdiam seketika. Bibir yang semula berucap gusar itu mendadak kelu mendapati sosok sang kakak yang berdiri di hadapannya, bukan sosok perempuan berambut pink seperti yang selama ini mengusik akhir pekannya.

"Itachi..."

Senyum tertoreh seketika di bibir Uchiha sulung itu mendapati raut kekecewaan dari wajah sang adik.

"Jadi, kau berharap Sakura-chan yang membangunkanmu, Sasuke-kun?" Senyum kemenangan itu begitu terasa mengejek di penglihatan Sasuke.

"Sial." Marah, bungsu Uchiha itu melempar kasar bantal kepada sang kakak, membuat sang sulung tertawa keras karenanya.


Dua makhluk Tuhan itu kembali berhadapan. Kini tak ada lagi seraut wajah bimbang pada sang lelaki, yang ada hanya wajah kepastian yang tertoreh di sana.

"Kita akan menikah meskipun kau mengelak, Sakura." Sang lelaki akhirnya buka suara setelah sekian lama mendiamkan diri.

Sebelum bibir tipis sosok di depannya berucap, Uchiha Sasuke kembali angkat suara, "Meskipun selama ini keberadaanmu karena terbiasa, bukan berarti aku tak bisa mencintaimu, Sakura," Ia mengambil napas, "beri aku kesempatan untuk mencintaimu dengan kita menikah," katanya penuh keyakinan.

Haruno Sakura tak mampu berdalih ketika tarikan tangan itu membuatnya nyaman berada dalam pelukan bungsu keluarga Uchiha.

"Beri aku kesempatan agar aku bisa menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk kau dan anak kita nanti."


Mendadak dalam sekejam ini ide muncul di tengah waktu menunggu adzan shubuh bersamaan dengan ide chapter selanjutnya yang dengan eloknya tiba-tiba nongol, padahal sebelumnya udah ngotot banget nyari ide tapi nggak ketemu-ketemu. Dan tentu saja langsung kuketik di hp, nggak tahu kenapa kalau buka nb bawaannya males dan idenya jadi buyar. Dan sepertinya chapter ini tetap pendek juga, yang panjang celotehan author dan balasan review XD

Terima kasih juga kuucapkan seperti biasa siapapun yang telah membaca maupun mereview chapter kemarin:

Laura Pyordova

Kan udah tahu say, kalau ane ini pasti bikin chapternya pendek-pendek jadinya pasti cepet bacanya. Makasih sudah setia review :D


Always sasusaku

Iya... pasti nanti kubikin romance sasusaku lagi kok, ditunggu yaaaa. Makasih sudah review :D


NenSaku

Sebenarnya sih sudah ada bayang-bayang scene dimana saku nglahirin, tapi masih abu-abu. Belum dapat pencerahan lagi. Hehe... makasih reviewnya :D


Neerval-Li

Padahal itu perumpamaan ngarang abis lho, tapi aku bahagia ternyata kamu suka*ngakakbahagia* Makasih sudah meluangkan waktu buat kasih oleh-oleh di kotak review :D


Kitty Kuromi

Sebenarnya itu obsesi tersembunyi author pengen punya cowok yang bisa dicontekin*smirk* makasih sudah review un :D


Nina317Elf

Maklum ide yang ada di otakku memang rada nggak beres sehingga bikin fic yang nggak beres juga. Kwkwkkkw... Makasih sudah review yaaaa :D


Uchiha Hime Is Poetry Celemoet

Dari dulu hingga sekarang penname-mu yang paling susah say, padahal udah sering kali kuketik. Lu kasih jampi-jampi apa sih? Kwkwkkwkw... Ah, buat tatapan yang membahayakan itu jangan dibahas lagi un, ane jadi merinding bayangin gimana kalau sasusaku tatapannya sepuluh kali jadi hikari sepuluh*nggakmaubayanin*plaakkkk XD Makasih sudah riview ya popot-ku tersayang. Hihihi...*ngikikalahantu :D


Karasu Uchiha

Makasih sudah review lagi :D


Uchiha The Tomato Knight

Nggak papa kok baru review lagi, dan makasih ya sudah mengisi kembali di kotak review :D


karikazuka

ih, jangan merendah deh, fic kamu kan bagus-bagus un

hehe... makasih ya sudah review :D


Hiruma Enma 01

Emang mata akang saskey itu mah biasa, Cuma authornya aja yang bikin lebey. Kwkwkkkww... Oh iya, buat mereka mencintai atau nggak nya, kayanya dichap ini bisa juga ditarik kesimpulannya. Makasih reviewnya :D


celubba

Nggak mau ah diterusin, authorkan lagi pusa*plakkk* makasih sudah review yaaaaa :D


Guest 1

Kalau author sih menganggap mereka ada saling ketertarikan juga, namun buat rasa mencintai bisa kamu simpulkan dari chapter ini

Makasih sudah suka dan review fic ini buat siapapun kamu yang tertulis 'Guest' di kotak review chapter 10 :D


Guest 2

Masih di buat bingung dengan alur yang acak-acak di fic ini, dimana di chap 2 sakura hamil tapi kok di chap 3 sudah ada anaknya? Begini aja, kamu bacanya jangan disangkut-pautkan alur kemarin dengan chapter selanjutnya, soalnya time tiap chapter itu berbeda. Misal dari dimana chapter sakura hamil bisa jadi author buat chapter selanjutnya Hikari sudah besar, bisa juga author buat lagi Hikari masih bayi. Ceritanya memang satu inti dimana sasusaku nikah muda, namun alur cerita perchap tidak dibuat berurutan seperti fic multichapter lainnya. Seperti kumpulan fic oneshot di sini, satu scene langsung tamat gitu. Mengerti?

Makasih ya sudah membaca dan review fic ini :D