Nyahoooo, fui update lagiii. Masih lama yah? Sorry ya. Minggu-minggu kemarin ada ulangan semester, jadi, fui sibuk belajar.

Selaen itu, fui ketiban jabatan di redaksi majalah skolah buat jadi illustrator dan creator. Hayeh, kok kesannya fui malah selalu cerita alasan fui lambat update ya? Um… Maaf. Gomen adios… afwan afwan.

Ngemeng-ngemeng, fict ini mau fui tamatin lho-yaelah, semua crita juga ada tamatnye- hehehe. Maksudnya, tinggal beberapa chap lagi, nih fict bakalan tamat. Wokweeeeh, silahkan readers, langsung baca aja…

Reader-sama, Fui will present…

Disclaimer = empu masashi gandring kishimoto

Warning = little OOC, AU, rada gaje, berteman akrab dengan typo-sorryyyy, hiks- fict bergenre romance/friendship yang sedikit angsty. Yah, pko'e seperti biasa lah.

This is my story… enjoy~

Si Penulis Puisi

"Jantung putri anda sudah stabil sekarang." Si dokter bernama Tsunade itu melanjutkan ucapannya.

"Hanya itu?" Hiashi menyela. Di dalam ruangan hanya ada tiga orang yang masih sadar. Neji, , dan Hiashi.

Putra sulung Hiashi itu duduk di samping ranjang adiknya. Diam dan menunggu ayahnya selesai dengan urusannya.

menggeleng. Wanita cantik itu tersenyum tenang dan bersiap untuk berkata lagi.

"Tidak Tuan, ada satu berita lagi…" dan saat tutur kata si dokter cantik itu mengalir, Hiashi tak bisa menyembunyikan rasa senangnya. Matanya terlihat sangat bahagia. Berbinar cerah, dan terus seperti itu sampai sang dokter berhenti bicara.

"Terima kasih dokter, terima kasih…"

Si Penulis Puisi

CHAPTER 11

Hari Senin. Cuaca sedang tak bersahabat dengan kehidupan di Konoha Senior High school. Dingin menggigit. Tugas berhamburan. Hawa salju dingin, menerpa semua tubuh.

Pulang adalah hal terindah yang terpikirkan di benak masing-masing siswa Konoha Senior High School yang sudah mengkerut wajahnya. Beberapa dentang lonceng nyaring dari speaker ruangan, akan menjadi angin surga yang berhembus ke telinga-telinga siswa-siswa yang sudah terlalu lelah mendengar ceramah pengajar mereka.

Hal itu pula yang dirasakan Gaara. Namun bukan rasa lelah atau rindu rumah yang membuatnya seperti itu. Ingatannya tak konsen pada guru yang sedang bertugas. Ingatannya terus berputar pada suara Hanabi yang meneleponnya tadi malam.

_FLASHBACK ON_

"Gaara, ada telepon untukmu." Teriakan si kakak sulung, Temari, membuat Gaara menghentikan kegiatan belajarnya di kamar.

"Dari siapa?"

"Dari keluarga Hyuuga…" mendengar nama marga sahabat baiknya itu disebut, Gaara langsung cabut keluar kamar. Meraih gagang telepon dari Temari.

"Moshi~"

"Kak Gaara, aku Hanabi." Kedua mata Gaara yang sempat berbinar tatkala membayangkan bahwa Hyuuga diseberang adalah Hinata, kini meredup lagi.

"Hanabi? Ada apa?"

Suara diseberang tampak menghela nafas sebelum melanjutkan perkataannya.

"Ano' Hinata nee-chan, tadi pingsan di rumah sakit."

Dan bisa kita semua bayangkan bagaimana respon Gaara saat menerima kabar itu. Hanabi yang memang tak begitu dekat dengan Gaara, sampai terheran-heran dengan respon Gaara yang otomatis langsung merasa siaga 2 itu. Karena apa lagi kalau bukan karena Hinata.

Hanabi, sebagai adik dari teman kakaknya yang ia sukai, berusaha untuk menjadi lembut dan nyantai saat bercerita tentang kakaknya dan kejadian pingsan itu. Walaupun pada kenyataannya, gadis baru gede itu merona merah sambil terus menahan nafas saat mendengar teman kakaknya itu bicara.

Oh, aku jatuh cinta… oh aku tak berdaya… mungkin itulah lagu wajib Hanabi saat ini.

Tapi… yang jadi persoalan sekarang adalah Hinata, bukan Hanabi.

"Terimakasih Hanabi, besok aku akan kesana."

Tut tut tut…

Belum sempat Hanabi mengucapkan salam, telepon telah terputus. Gaara yang buru-buru meletakkan gagang telepon pada tempatnya semula. Pergi ngamar lagi untuk belajar.

Dan di seberang sana, Hanabi mengerucutkan bibirnya. Kesal.

_FLASHBACK OFF_

Dan seperti yang ia katakan, Gaara benar-benar pergi ke rumah sakit sepulang sekolah. Tapi, sebelum itu, ia menyempatkan diri untuk menemui seseorang di sekolahnya. Seseorang yang ia anggap tahu dan harus bertanggung jawab atas Hinata.

Uzumaki Naruto

Gaara berjalan cepat menuju kelas XI IPS 2, kelas dimana salah satu penghuninya adalah cowok blonde idaman Hinata. Belum sampai di kelas yang dituju, di pertigaan koridor kelas, Gaara berpapasan dengan orangnya. Mata biru langit itu menatapnya ramah, satu senyuman khas Naruto, terbit di wajahnya.

"Yo, Gaara." Sapa Naruto dengan mengangkat sebelah tangannya. Naruto jadi merasa lebih kenal dengan Gaara setelah pemuda yang awalnya ia anggap dingin itu mau bercerita tentang Hinata kemarin.

"Aku mau bertanya." Gaara mendekat. Beberapa orang yang melewati mereka, menatap heran. Tak biasa dengan pemandangan seorang Uzumaki dan Sabaku yang saling pandang dan terlihat akrab ini. Beberapa gadis fans Gaara, menanti mereka bicara dengan mata berbinar-binar dan berucap,

"Gaara-kunnn"

Menyadari kondisi tidak memungkinkan, Naruto angkat bicara lagi.

"Tentang Hinata kan? Sebaiknya kita cari tempat yang lebih enak buat bicara." Kata Naruto sambil mengedarkan pandangannya ke sekelompok kecil fansgirls Gaara di belakangnya.

Mau tak mau, Gaara nengok ke belakang juga. Membelalak bentar buat ngeluarin rasa keget atas perilaku fansgirlsnya.

"Tch, oke."

Dan dengan itu, kedua pemuda berbeda marga itu berlalu dari sana. Dengan Naruto yang berada di depan, Uzumaki itu berjalan ke arah parkiran motor sekolah dengan Gaara yang mengekor di belakangnya.

"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?" Tanya Naruto mengawali pembicaraan. Tubuhnya bersidekap dengan bersandar ke motornya. Sabaku Gaara ada di depannya, memandang tajam dan tanpa ekspresi.

"Hinata pingsan kan?" kemarin, saat aku meninggalkan kalian berdua di rumah sakit. Kau apakan dia?" Gaara berkata tanpa intonasi. Datar dan terkesan dingin. Mata zamrudnya tampak tajam menatap Naruto.

Uzumaki itu berjengit kaget. Lalu menghela nafas sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Kau benar. Kemarin Hinata memang pingsan…" kata Naruto

"Eit, tapi bukan karena aku." Buru-buru Naruto menambahkan keterangan dalam kalimatnya yang sempat terputus karena mata Gaara semakin tajam nian. Naruto menggeleng-geleng dan menggerak-gerakkan tangannya, memberi isyarat bahwa Gaara salah paham padanya.

"Jantungnya bereaksi lagi. Saat itu, dia selesai bersenandung, tiba-tiba dia kesakitan dan memegangi jantungnya. Dan setelah dia mengenggak pil-nya,… dia pingsan." Jelas Naruto.

Gaara menyimaknya dengan sungguh-sungguh.

"Aku rasa, hidupnya tak akan lama lagi." Lirih Gaara, sedih. Kepalanya menunduk menatap tanah. Bayangan Hinata yang tersenyum, sejenak melintasi otaknya.

Sedangkan Naruto yang mendengarnya, sukses membelalak lebar. Keget setengah mati, adios… Wajah Naruto yang selalu ramai dengan cengirannya, kini seolah sirna saat kedua telinganya mendapat kabar itu. Kabar yang tak baik. Kabar yang membuat hatinya sakit…

"A-apa…?"

"Karena itu, aku memberitahumu dulu tentang perasaanya padamu. Soalnya, kalau mengharapkan dia yang pemalu itu yang mengatakannya, mungkin sulit." Gaara masih menunduk. Satu tarikan nafas panjang darinya, lalu dia mendongak lagi. Menatap mata Naruto, lurus.

"Dan karena itu juga, aku ingin membuat Hinata bahagia. Entah bagaimana caranya." Kalimat Gaara itu diucapkan dengan mantap. Seolah membuat Naruto harus menyadari sesuatu dalam hatinya yang kini terasa sesak.

'Gaara yang akan membuat Hinata bahagia? Dattebayo, aku yang harus melakukannya!' kata hati Naruto bicara.

Wajah Naruto perlahan berubah masam. Tapi tak bertahan lama setelah satu pikiran melintas di benak pemuda pirang itu.

"Kalau begitu, aku juga!" jempol kanan Naruto menyentuh dadanya sendiri. Memasang cengiran khasnya yang hangat.

"Maksudmu?" satu alis Gaara terangkat, heran.

"AKU! Uzumaki Naruto. Pemuda yang disukai oleh gadis manis bernama Hyuuga Hinata. Aku. Pemuda yang akan membalas rasa suka itu dengan kebahagiaan yang lebih pada Hyuuga Hinata. Aku…" Naruto tetap pada posisinya semula. Mengambil nafas sejenak sebelum melanjutkan ikrar tidak resminya lagi.

"Pemuda yang yang juga akan menyukai Hinata… dengan tulus." Dengan lantang dan penuh keyakinan, Naruto menatap Gaara, seolah menantang. Ikrar yang ia ucapkan di depan Gaara tadi, sedikit banyak mengambil perhatian dari siswa-siswi lain di sekitarnya.

"Uwah, co cweet…"

"Uh, huh?"

"Beneran tuh?"

"Alah, palingan nge-gombal."

"Kereeen, mengucapkan janji dengan lantang gitu… iri…"

Beberapa komentar, samar terdengar. Tapi, Naruto tetap bertahan dengan cengirannya sambil menatap Gaara yang nampak terkejut. Naruto tak ambil pusing, dengan sedikit memelankan suaranya, alias berbisik, ia berkata pada Gaara.

"Sudahlah, kau mau nengokin Hinata kan? Ayo bareng ama aku. Aku juga mau kesana."

_Si_Penulis_Puisi_

"Dasar bodoh…" sebuah suara tawa halus terdengar setelah umpatan Sasuke bergema.

"Kenapa tertawa?" Sasuke memicing tak suka ke arah gadis yang terbaring di kasurnya. Hinata.

"Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya sangat berterimakasih, kau mau menjengukku." Kata Hinata.

"Hei, Hinata, kita kan teman. Ya, emang gini kan?"

Satu senyum tulus terukir di bibir sasuke. Wajahnya yang ramah itu menampakkan ketulusan tentang persahabatan mereka yang baru berjalan selama beberapa minggu.

Kedua bola bulan Hinata yang melihat itu, terharu. Tak bisa menyembunyikan rona bahagia yang semakin ada di wajah putihnya. Kedua sudut bibir Hinata melengkung lembut ke atas. Matanya meneduh dan berbinar.

"Arigato Sasuke-kun…"

"Oey, tentang tiga janji dulu, kau masih ingat kan?" Sasuke bersidekap. Tubuhnya beristirahat pada sebuah kursi di depan ranjang Hinata. Kepalanya yang dihiasi rambut raven, menunduk.

Cool mode on.

Hinata menelan ludah, gugup.

'Gawat, dia masih ingat itu.' Keringat dingin, mulai menuruni wajah Hinata.

"Janji pertama,memanggilku dengan sufiks –kun.." Kata pemuda bermata onyx kelam itu.

"Janji kedua, kau jadi pembokatku selama tiga puluh hari." Lanjut Sasuke, sedikit lebih berat dan lirih. Menyengaja. Ingin melihat ekspresi ketakutan Hinata yang akhir-akhir ini jarang ia lihat. Ekspresi yang menurutnya 'imut'.

Sedangkan Hinata, semakin ciut di tempat. Dua janji di atas, sudah dilaksanakan Hinata dengan baik. Yah, walaupun perannya sebagai pembokat Sasuke tidak genap tiga puluh hari.

"Dan janji terakhir,…" ada jeda sejenak sebelum Sasuke melengkapi kalimatnya.

"M-membantumu, me-memahami Sa-sakura-san…" Hinata tergagap. Emlanjtkan kalimat Sasuke yang semakin membuatnya terpojok.

Satu-satunya pemuda disana, Sasuke, mendongak. Menatap Hinata sebagai manusia selain dirinya di dalam ruangan itu.

"Benar. Sankyu." Sekarang Hinata tak lagi takut atau panik. Tapi, berganti kaget. Kepalanya miring ke kanan, tanda tak mengerti. Melihatnya, Sasuke kembali tersenyum.

"Janji pertama dan kedua sudah kau lakukan, walau tak sempurna, babu… hahaha, dan janji ketiga, juga sudah selesai."

"Maksudnya?"

"Aku dan dia sudah kembali. Ini juga berkat kau."Sasuke berdiri, merapikan kemeja seragam sekolahnya.

"Eh, aku?" satu telunjuk kanan Hinata menyentuh hidungnya sendiri dengan polos.

"Hahaha, sudahlah. Aku malas menjelaskannya. Lagipula, aku mau ke kamar lain." Kata sasuke. Sedikit semburat muncul di pipinya.

Mau tak mau Hinata terkikik geli melihat ekspresi malu-malu Sasuke itu. Dan satu death glare, sukses Hinata dapatkan dari si bungsu Uchiha itu. Namun bukanlah menunduk atau gugup yang dilakukan Hinata seperti dulu. Gadis manis itu malah menjulurkan lidahnya dengan lucu, lalu tertawa.

"Dasar! Jangan tertawa!"

"Hahaha, dasar! Haruno Sasuke." Kata Hinata.

"Hinata…" Sasuke mendesis perlahan. Membuat Hinata mendongak pelan.

"Ya?"

"Mau melanjutkan ciuman tak tuntas kita dulu…" ancam Sasuke.

"Kyaaaaa. Tidaaaak!"

_Si_Penulis_Puisi_

Seperti inilah seharusnya hidup

Terbuka walau beban

Masih terus di pundakmu

Karena

Matahari terbit ini

Akan terus bersinar terang

Dengan segala ikrar yang ia ucapkan

Untuk melindungi

sebuah lavender yang sekian lama

menunggunya dengan sabar

Dan inilah hidupnya, hidup mereka

Segalanya berbalas indah

Dengan sekuntum kebahagiaan

Yang mekar

Dan menyebar ke hati-hati mereka

Dengan lembut

Dengan indah

Kepada hidup, waktu bicara

Biarkan mereka bahagia~

Si_Penulis_Puisi_

"Eng, Gaara…"

"Hn?" Gaara menoleh. Menatap Naruto yang nyengir lebar di sampingnya.

"Kau duluan saja ke kamar Hinata. Aku dengar dari Sasuke, dia sudah siuman." Kata Naruto. Gaara memicing heran. Bukannya tadi Naruto yang semangat menjenguk Hinata?

"Hehehe, ada sesuatu yang harus aku lakukan." Lanjut Naruto, seakan tahu keheranan di mata Gaara tentang tingkah lakunya. Gaara hanya bisa menghembuskan nafasnya.

"Em."

"Oke, jaa~"

Mata zamrud Gaara mengikuti kepergian Naruto hingga tubuh pemuda itu menghilang bersama pintu lift yang tertutup. Usai itu, Gaara kembali melangkah. Kamar rawat Hinata sudah sangat dekat, tinggal beberapa meter lagi, dan Gaara akan bisa melihat dua mata bulan teduh milik Hinata. Amin.

Cklek…

"Sumimasen…" lirih Gaara, sembari memasuki ruangan yang menjadi kamar Hinata selama beberapa hari itu.

"Gaara-kun…" pekik Hinata senang. Mengundang penglihatan pemuda Sabaku itu pada sumber suara.

Detik berikutnya, Gaara mengedarkan pandangannya, melihat ada dua Hyuuga lain disana.

Neji Hyuuga. Hanabi Hyuuga.

"Sumimasen~" Gaara ber-ojigi sopan pada Neji dan Hanabi.

"Hn." Balas Neji datar, lalu kembali konsen pada buku metafisik di tangannya. Hanabi yang bertindak sebagai adik kecil yang baik, balas membungkuk.

"Gaara-nii…" mata gadis remaja itu berbinar senang. Wajahnya tersenyum manis. Senyum manis yang dibalas Gaara dengan sebuah anggukan kecil yang terasa hangat.

Selanjutnya, dua gadis Hyuuga disana, sibuk berbincang dengan Gaara. Hingga belasan menit berlalu, akhirnya, suara ketukan pintu terdengar.

Neji yang berposisi paling dekat dengan pintu, berjalan pelan. Siap menyambut tamu yang akan menengok adiknya.

Cklek

Pintu terbuka pelan, hanya terbuka dengan batas tubuh Neji. Mata putih kokoh milik Neji yang sedari tadi memperhatikan gagang pintu yang ada dalam genggamannya, mulai membelalak saat ia mengamati sosok dibalik pintu itu.

Mata khas klan Hyuuga itu terus melebar, bergerak dari bawah ke atas. Memperhatikan dengan seksama wajah yang penuh corang coreng aneka rupa yang sedang tersenyum.

"Kau siapa?" Neji berkata pelan. Sikapnya itu membuat tiga manusia di dalam ruangan merasa penasaran dengan sosok tamu di balik pintu.

"Ada apa Neji-nii?" Hinata membuka suara. Membuat Nii-channya itu menoleh pada Hinata. Pemuda yang sekarang telah menempuh perguruan tinggi semester tiga itu tidak menjawab pertanyaan adiknya. Neji malah angkat bahu lalu keluar dan menutup pintu.

Ketiga orang dalam ruangan, saling pandang. Heran.

Di luar~

"Heh, kau siapa?" bentak Neji pelan pada sosok di depannya yang masih nyengir.

"Ini aku, temannya Hinata. Naruto Uzumaki."

"Buktinya?" Neji tak langsung percaya. Bisa saja ini adalah teroris yang mau nge-bom kamarnya Hinata, ya gak sih?-sister complex-nya kumat-

Dengan segala cara, mulai dari menunjukkan puisi dari Hinata, menunjukkan kartu pelajarnya, sampai SIM-nya, akhirnya Hyuuga dingin itu mengijinkanNaruto dalam sosok 'lain' itu menjenguk adiknya.

"Lha buat apa kamu pakai beginian?" kata Neji sambil nunjuk-nunjuk kostum Naruto yang udah mau membuka pintu.

"Buat apa lagi kalau bukan membuat Hinata tertawa…" jawab Naruto yakin.

Dengan satu helaan nafas, ia bersiap untuk masuk, mengagetkan penghuni di dalamnya.

Tret…tret… treeeet…

Dengan gerakan lincah, Naruto melompat masuk sambil meniup terompet kecil di tangan kirinya.

"Halo semuanya…" suaranya di cempreng-cemprengkan sedikit. Walau aslinya sudah seperti itu, hehehe.

Ketiga orang di depanya yang menatapnya kini, bingung. Speechless.

"Na-naruto-kun…" Hinata yang pertama kali menyadari sosok itu. Naruto yang asalnya nyengir, sampe terkaget-kaget dengan Hinata yang bisa mengenalinya. Neji saja tak bisa.

"Ha? Naruto-nii? Beneran badut ini Naruto-nii?" Hanabi penasaran. Dilihatnya kakak perempuannya yang kini mulai tertawa-tawa kecil.

Naruto yang aslinya pengen mengejutkan Hinata, cemberut.

"Yah., Hinata-chan kok tahu sih…"

Yap, adios… Naruto memakai baju badut.

'Dasar Naruto' Gaara tersenyum dalam hati. Sejatinya, ia memang tak tahu itu Naruto. Dia tahu setelah Hinata memekik pelan dan menyebut nama 'Narutoi' sambil memandang sosok itu.

"Kenapa Nee-chan bisa tahu itu Naruto-nii?" Hanabi bertanya lagi.

"Nee-chan tidak tahu, hanya perasaan saja yang bilang kalau itu Naruto-kun." Kata Hinata pelan. Naruto sempat sweatdroped sejenak mendengarnya.

Lalu, kostum seperti apa sih yang membuat Hinata merasa itu Naruto? Padahal yang lainnya tidak bisa mengenali penyamaran Naruto dengan baik,

Dari atas, rambut jabrik Naruto sudah terganti dengan rambut kribo biru ngejreng yang senada dengan matanya, ngembang seru pula. Wajahnya belepotan cat rias entah dari apa bahannya. Pakaiannya terdiri dari satu stel atasan dan celana. Atasannya sendiri berbentuk kemeja rame dengan aksesoris badut dan polkadot yang berwarna merah silver. Tak lupa bagian perut yang membuncit seksi. Celananya, terbuat dari kain nilon berwarna biru keperakan dengan rumbai-rumbai yang tidak sedikit.

"Hahaha, Hinata-chan hebat. Bisa ngenalin aku dengan cepat. Padahal Neji-san tadi aja nggak bisa. Hahaha, dattebayo." Naruto ketawa, Hinata juga. Neji yang baru masuk, mengernyitkan dahi, sadar, namanya disebutkan.

"Bukan aku nggak bisa. Aku hanya nggak terlalu kenal sama kamu." Begitulah kata Neji. Pemuda yang hampir duapuluh tahun itu berangsur ke kursi, mengambil tasnya.

"Hinata-chan, Nii-chan ada kuliah siang sekarang. Baik-baik ya." Kata Neji lagi, mendekat pada Hinata, lalu mengecup dahi adiknya singkat. Hinata sih merem aja. Udah biasa seperti itu. Yang nggak biasa itu buat dua pemuda yang nyaksiin itu.

"Hanabi-chan." Panggil Neji kembali. Hanabi senyum, terus menghampiri kakanya. Keduanya meakukan toast bentar sebelum Neji melakukan hal yang sama pada Hanabi. Hal yang sama yang ia lakukan tadi pada Hinata.

Dua penonton laki-laki disana speechless.

Sepeninggal Neji, Naruto yang aktif bicara dan membuat lelucon yang sukses mengundang tawa dari dua gadis disana. Gaara hanya diam. Sesekali ikut tersenyum saat menyimak Naruto melawak.

"Duh Naruto-nii, bakat banget jadi pelawak, hehe." Komentar Hanabi sambil mengelap ujung matanya yang berair.

"Hahaha, jangan ah. Ntar kalau Nii-chan jadi pelawak, Sule mau dikemanain?" jawab Naruto innocent. Mengundang tawa lagi.

"Ada-ada aja." Gaara yang ngomong. Senyum melihat Naruto yang menoleh padanya sambil mengacungkan jempol padanya.

Hinata yang melihat itu, pelan-pelan merasa hangat. Hangat melihat dua pemuda yang dulunya sempat saling nggak suka, kini terlihat akrab.

Hinata pun sadar, Naruto yang sekarang, sedikit berubah dari yang dulu. Sekarang, entah kenapa, saat mata langit Naruto menghunjam mata bulannya, ada aliran listrik yang membuat Hinata semakin blushing. Kalau dulu, Hinata hanya berani mengartikan pandangan Naruto padanya hanya sebatas teman, apakah sekarang Hinata boleh mengartikan pandangan Naruto padanya sebagai… Cinta?

Author bilang, YA!

Gaara memandang Hinata, sendu tapi bahagia. Cowok berambut merah itu menghela nafas. Dalam hati yang ia rasakan, ia tahu masih ada cinta untuk Hinata. Tapi, ia sadar. Ia mungkin tak akan sepenuhnya bisa membuat Hinata bahagia. Pemuda yang berambut blonde dengan cengiran bodohnya itulah, yang sanggup mencuri segala hati Hinata. Hanya dia yang bisa membuat Hinata bahagia. Hanya Naruto.

Cklek

Pintu terbuka lagi. Membawa seorang lelaki paruh baya berjas hitam yang menyita semua perhatian muda-mudi disana.

"Selamat siang, Hiashi-sama…" kata Naruto dan Gaara hampir bersamaan. Hiashi otomatis membalasnya dengan berucap,

"Selamat siang anak-anak…" lalu senyum. Naruto dan Gaara yang semula siap dengan sikap dingin Hiashi seperti biasa, terkejut. Mendadak Hiashi jadi ramah beud.

Entah kenapa, wajah Hiashi nampak lebih sumringah dari biasanya. Hanabi yang merasa amat penasaran dengan perubahan drastis ayahnya itu, mengangkat suara.

"Tou-chan kenapa sih? Kayaknya lagi seneng banget?"

Hiashi tak menjawab. Ia hanya terus tersenyum. Memandang anak bungsunya itu seolah berkata,

'Ada kabar gembira untuk kita'

Hiashi terus melangkah. Mendekati Hinata yang masih terbaring dalam ranjangnya. Satu tangannya meraih kepala Hinata, sebelum mengelus-elusnya lembut.

"Sayang, satu minggu lagi kita berangkat ke New York. Tou-chan sudah menemukan donor jantung untukmu."

Hinata terkesiap

Gaara terbelalak

Hanabi senyum gembira

Naruto melongo

'Duh, pedekate-nya kan belum kelar…! Kenapa mendadak gini sih~' batin Naruto.

_Si_Penulis_Puisi_

_TBC_

Hoah~

Akhirnya, akan ada saatnya untuk Naruto beraksi. Hahaha.

Um, maaf kalau akhir-akhir ini fict-nya lebih pendek dari biasanya. Hehehe. Itu karena fui pengen menuntaskan fict ini dengan jumlah chappie yang udah ditargetkan ama otak fui.

Oey, kritik dan sarannya masih sangat dibutuhkan…

So, review yang banyak ya~-ngarep-

Flame masih diterima dengan senang hati ^ _ ^

RIVIEW!

Nyahaaaaaa…

Salam

NaruHina Lovers

Balesan review=

Akira tsukiyomi: hohoho, iyak.

Hinata audina: wah, maaf yah. Makasih udah riviu

Vecalen: disini ada jawabannya, -nunju2 chap 11-

Crunk riela chan : makasih ya, um, panggil aja fui. Gag usah senpai. Hehe ukey?

Demikoo: jyah, hoho, makasih ya

Zephyramfoter: wah, tega beud kau. Hahaha makasih ya.

Dwi93 : baca ajah…

Putri hinata uzumaki: wah, jempol satu Negara tuh? Hahaha

Doblang: oh ya? Maaf ya~

Reno: baca baca baca, jangan lupa ripiu lagi,…

Ai yukazawa : oh hu'u, judul lagunya "without words". Emang lagu korea…

RAB: yeah yeah yeahhhhh. Haha

Kuro tema: wahaha, belum belum. Masih ada chappi lagi.

Kimochi no hyuuki-chan: ah, tak mengapa. Makasih ya~

Sayurii dei-chan: baca and ripiu lagi yah… hehe

Pik-pik: hu'um. Hahaha

Sq: baca lagi and ripiu yah!