"NATSU!"

.

.

.

.

.

2 chapter terakhir dari cerita ini

.

.

.

.

"NAAATSUUUU!"

.

.

.

.

.

Jadi, para dektektif, apakah kalian menemukan penjahatnya?

.

.

.

.

.

Lucy…?

.

.

.

.

.

Ayo kita buktikan, analisis kalian

.

.

.

.

"Hey, Natsu…bangunlah…" Aku mengerjapkan mataku, membiasakannya pada cahaya jingga matahari terbenam. "Kau hampir ketinggalan sunset nya, loh!" kata Lisanna yang duduk diatas pasir disebelahku. Aku bangkit dan membersihkan rambutku dari pasir yang menggantung.

"Gahaa…untung aku bangun!" Lisanna tertawa kecil lalu bersandar dipundakku sambil memandang kearah matahari yang seakan perlahan terendam oleh air laut. Ia menghela nafasnya ringan sambil tersenyum lembut dan menggumam, "Kirei…"

Aku merangkulnya dengan erat sambil tersenyum kecil. Merasa aman saat dia berada didekatku. Semua terasa…

Damai...

"Natsu, jika suatu hari nanti aku terbunuh, akankah… kau melupakan ku?" Aku mengangkat sebelah alis ku saat mendengar pertanyaannya.

"Aku tak akan pernah melupakanmu, Lisanna. Lagipula aku tak akan membiarkan apapun terjadi padamu! Karena kau, seseorang yang berherga bagiku." Aku ber-grins kearahnya dan membuat Lisanna tertawa kecil, sebelum mengecup pipi kananku dan kembali bersandar dipundakku.

"Bahkan jika pembunuhku adalah kakakku?"

"Apa?"

"Ah, b-bukan apa-apa.T-tadi aku ngomong sendiri, hehehe."

Aku melihat kearahnya dengan padangan bingung yang disambut oleh juluran lidahnya.

Lalu aku melihatnya disana lagi

.

.

.

.

.

Dikelilingi dalam genangan darah merah yang bercahaya saat disorot oleh cahaya bulan

.

.

.

.

.

"N-Na-T-Tsu…"

.

.

.

.

.


Mira menarik rambut Lucy dan memaksanya berdiri dikedua kakinya yang lemas. "N-Natsu…Hiks…" Isak Lucy bersamaan dengan turunnya air mata yang deras. Mira mengikat rantai yang berada ditangan Lucy keatas kait yang menggantung dilangit-langit. Ia mengikat Lucy bagai seekor binatang yang akan dikuliti, digantung dengan kedua tangannya keatas.

"Jangan khawatir. Ia belum mati. Aku tak mengenai organ vitalnya." Mira menarik tubuh Natsu yang terkulai lemas dilantai dan mendudukinya di kursi kayu, sebelum mengikatnya dengan tambang. Nafas berat Natsu terdengar bersamaan dengan darah yang keluar dari lukanya yang mulai merembas pada jaket hitamnya, walau terlihat samar.

Mira menghela nafasnya dan merapihkan rambut putih panjangnya, menyembunyikan poni panjangnya dibalik kedua telinganya. Ia tersenyum kearah Natsu,

"Akankah kau melupakan ku, Natsu?"


Aku membuka mataku perlahan. Aku bisa merasakan perutku yang terasa terbakar, perih. Nafasku terasa berat hingga aku memerlukan bantuan pernafasan melalui mulutku.

"T-Tch! Konoyaro…" Aku bisa mendengar suara tawa kecil dari arah belakangku, dan tebakanku, itu adalah Mira.

"Ohayou gozaimasu, Natsu~" Sapanya dengan senyuman. Tch! Bisa-bisanya ia menunjukan wajah itu setelah berkhianat. Aku mecoba memberontak dari ikatanku tetapi rasa membakar itu muncul lagi, terasa bagai seseorang memukul perutku dengan tongkat baseball.

"Natsu!" Aku melihat kedeepan. Mataku membesar saat melihat pemandangan didepanku, "LUCY! Kisama! LEPASKAN LUCY!" Mira terlihat tersentak, lalu ia tersenyum kecil.

"Ah~ Kalau aku melepas Lucy, dimana kesenangannya?" Ia menggenggam pisau bedah kecil, dan menempelkannya pada pipi kanan Lucy. "Yamette!" teriakku, mencoba bangun, tetapi hasilnya nihil. Tubuhku, tak kuat untuk bergerak.

Lucy hanya terdiam. Aku bisa melihat dari matanya, ia menahan rasa takutnya keluar.

"Apakah kau tau siapa aku?" Tanya Mira. Aku melihat kearahnya dengan penuh kemarahan, "Pertanyaan macam apa itu?! " Aku melihat sekilas senyuman itu muncul lagi diwajahnya.

"Salaaah!" Ia menggores pipi Lucy dengan mudah, bagai menggambar garis diatas kertas putih. Lucy memejamkan kedua matanya, menahan rasa perih yang ia rasakan.

Aku menatap mata Lucy dengan perasaan khawatir, takut…

Tetapi, sorot matanya menaruh keyakinan padaku.

Luce…

Aku menarik nafas panjang sebelum tersenyum kecil.

Wakatta…

Aku mencoba menggerakan tanganku, perlahan membebaskan simpul dari tambang yang melilit tubuhku. "Ayo, kita lanjut ke pertanyaan kedua! Siapa aku?" Kali ini, Mira mengarahkan pisaunya kearah perut sebelah kanan Lucy.

Aku masih terdiam, menunduk, membiarkan poni salmon panjangku menutupi senyuman yang menempel dibibirku.

"Jadi, Natsu… Apa jawabannya?"


Erza dan Gray sedang berada dalam ruangan Makarov. Gray mengepal kedua tangannya dan memukul meja berkali-kali, "Dia hanya ingin menyelamatkan seseorang yang berarti baginya… APA ITU SALAH?!" Gray membentak kearah Makarov, melepaskan semua amarahnya saat mendengar Natsu diberhentikan sementara dari tugasnya. Erza hanya terdiam, duduk dikursi sambil menundukan kepalanya.

"Natsu…Lucy…"

Suara ketukan lembut terdengar dari arah pintu yang perlahan terbuka dan memunculkan sosok seorang perempuan berbadan tinggi dan berambut coklat panjang bergelombang. "Cana?" kata Erza dengan heran yang disambut oleh senyum Cana. "Maaf mendengar apa yang terjadi pada Natsu. Ah, Makarov-sama, ada kiriman untukmu dari Mira." Cana meletakan sekotak bento diatas meja Makarov.

Makarov tersenyum lebar seperti anak kecil, "Kau tak perlu repot-repot~ " Lalu ia berdeham dan menatap kearah Gray dan Erza. "Ini usaha maksimalku. Aku juga tak ingin anakku dikeluarkan dari keluarga hanya karena perintah mereka yang mentingkan uang," Ia tersenyum meyakinkan Gray dan Erza yang mulai terlihat bersemangat.

"Nah~ Untuk sekarang ayo kita makan!" Saat Makarov membuka bentonya, terdapat beberapa potongan daging panggang dan chicken-katsu. Wajah Makarov yang tadinya cerah berubah menjadi pucat pasi seraya keringat dinginnya turun.

"T-tidak mungkin…"

Gray mengangkat sebelah alisnya sebelum melihat kedalam bento. "U-uso…" bisik Gray dengan tatapan tak percaya. "E-Erza, lihat potongan i-ini. A-aku salah lihat kan?" Mata Erza membesar dan tangannya bergetar. "P-potongannya, b-bentuknya pun sama! H-hanya dia yang bisa m-membuat p-potongan ini..."

Cana berdiri mematung sambil melihat kearah mereka dengan tatapan bingung, "Kalian kenap—"

"DIMANA MIRA, CANA?!"

"Eh?"

"KATAKAN PADA KAMI! INI DARURAT!"

"S-sebentar! M-memangnya ada apa?"

Makarov berdiri dari mejanya. "Erza, kau pergi ke kamar mayat autopsy bersama Cana, dan Gray…Kau ikut bersamaku!"

"J-jadi, selama ini..."

.

.

.

.

.

.

"Ia masih hidup…"


"Natsu, jadi siapa aku?" Mira perlahan menusukan unjung pisaunya kedalam perut Lucy. "U-ukh!" ringis Lucy menahan rasa sakit yang menyetrum tubuhnya. Tetai, natsu hanya terdiam.

"Kukukuku..Maaf jawabannya sa—"

"Kau bergerak, akan kuledakan kepala mu." Natsu berdiri dihadapan Mira dengan moncong revoler 38 mengarah kearah kepalanya. Kursi kayu itu kini terbalik kebelakang, masih terlilit oleh tambang tebal.

Lucy tersenyum kecil melihat kearah Natsu dengan tatapan lega, 'Aku tau kau akan menyelamatkanku...'

Mira menundukan wajahnya. Hening seketika...

"Apakah kau benar-benar melupakanku, Natsu?" Air mata hangat mulai turun dikedua pipi Mira.

Natsu tak melepas padangannya atau menurunkan senjatanya. Mira menarik pisau bedahnya lalu memotong rambut putih panjangnya. Mata Natsu membesar saat melihatnya.

Tangannya mulai bergetar. Mulutnya terbuka namun kata-kata tak bisa keluar darinya. Ia hanya terdiam diposisinya.

.

.

.

.

.

.

Banyangan senyumannya mulai terlintas dibenak Natsu

.

.

.

.

"Apakah kau akan membunuhku untuk kedua kalinya, Natsu?"

.

.

.

.

.

.

Ia masih tak mempercayai matanya

.

.

.

.

.

"T-tidak m-mungkin…" Bisik Lucy pelan, tak kalah terkejutnya dengan Natsu.

.

.

.

.

.

.

Apakah ini hanya mimpi? atau ilusi?

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Lisanna…"


Tadaaaaa! Ahahahha, aha-aha-aha /kaukenapanak

Well, para detektif tersayangku, bisakah kalian mengambil kesimpulan dari chapter ini? Kurasa sudah jelas banget ya! Pasti ceritanya kegambar dong~

Ah, aku mau berterimakasih atas dukungand an review kalian yang berharga, karena chapter elanjutnya akan menjadi chapter terakhir nih, dari cerita kita!

Terimakasih atas bimbingan kalian yaa~ Mohon bimbingan di chapter nanti dan ceritaku selanjutnya!

#PS:

Review kali ini, harus tentang pendapat kalian mengenai seluruh cerita ya! Arigatou~

-Salam manis

Alia-chan