Chapter 11

I NEED YOUR BLOOD (LAST CHAPTER)

Author : Naragirlz

Pairing : NaruHina

.

.
Hallo semua pembaca setia FF ini. Akhirnya FF ini selesai juga, maaf kalau akhir-akhir ini aku nggak pernah update. Maklum lagi sibuk banget dirumah. Bicara tentang perubahan Naruto dari Vampir menjadi manusia. Itu aku mendapat inspirasi dari salah satu film tentang vampire aku lupa judul filmnya. Semoga kalian puas dengan akhir cerita ini. Terima kasih sudah setia membaca FFku.

.

Naruto tidak menjawab pertanyaan Hinata. Matanya tertuju pada Sasuke yang melihatnya dengan ekspresi bingung dan tak percaya. Genggaman tangan Sasuke di bahu Hinata semakin erat dari sebelumnya. Mereka berdua saling pandang dengan tatapan yang sangat menakutkan. Kornea merah mata mereka saling beradu. Hinata hanya bisa memandang mereka dan larut dalam pikirannya sendiri. Naruto sedikit menggerakan kakinya ke depan, tanpa di duga dia melayang ke arah Sasuke dan mendorongnya jauh ke depan. Sasuke terpental jauh lebih dari dua meter. Dengan sigap Naruto menarik lengan Hinata dan menyembunyikan kekasih yang dicintainya itu di belakang tubuhnya. Dia ingin melindungi Hinata walau dia harus binasa sekalipun. Sasuke perlahan bangkit dan berjalan pelan ke arah Naruto.

" Jangan sekalipun kau menyentuh Hinata!" Kata Naruto memperingatkan Sasuke.

"Kau pikir aku akan menuruti perkataan budak sepertimu". Jawab Sasuke enteng. "Memang benar dulu kita berteman hanzi, tapi untuk sekarang kau bukanlah lagi temanku namun kau adalah musuh terbesarku. Sebelum aku mengubahmu jadi abu, lebih baik serahkan Hinata padaku?".

"Sampai kapanpun aku akan melindunginya dan mulai sekarang aku tidak akan lagi menjadi budak ataupun monstermu alferic! karena monster itu tidak ada lagi dalam tubuhku."

"Aku tidak peduli dengan itu. Yang ada di pikiranku hanya Hinata karena aku begitu menginginkannya. Jadi, berikan dia padaku?" tanya Sasuke sambil terus berusaha mendekat.

"Tidak, tidak akan!" ucap Naruto tegas. Hinata hanya bisa melihat dan mencengkram erat Naruto. Dia terlihat sangat ketakutan.

"Kau benar-benar membuatku marah Hanzi!".

Sasuke berlari sekencang mungkin kearah Naruto dan mendorongnya sekuat tenaga sehingga dia pun ikut jatuh terlempar di tanah. Mereka berdua berdiri dengan sigap dan saling membanting lawan. Pertarungan ini membuat jarak Sasuke dengan Hinata begitu dekat. Dia segera bediri dan mencoba meraih Hinata, namun sayang, Naruto kembali menghempaskan tubuh Sasuke ke tanah dan jauh. Kesempatan ini Naruto gunakan untuk menempatkan Hinata ditempat yang lebih aman di balik pohon besar. Wajah Hinata begitu terlihat sangat ketakutan bahkan dia beruraikan air mata. Naruto kembali menyerang Sasuke yang berusaha bangkit dari serangannya. Tanpa memberi jeda Naruto membanting Sasuke dan membentur-benturkan tubuhnya ke tanah. posisi Sasuke sekarang sangat menguntungkan Naruto. Dia terus-menerus menyerang secara bertubi-tubi. Di balik pohon Hinata hanya bisa berdoa agar Naruto bisa mengatasi segalanya.

Tiba-tiba datanglah seorang vampire perempuan yang tak lain adalah pengikut Sasuke. Dia berjalan hati-hati agar Naruto tak melihatnya dengan begitu dia bisa mematahkan leher Naruto dengan mudah. Hinata mengerti betul kalau Naruto dalam posisi yang sangat bahaya. Dengan segenap keberaniannya Hinata menghadang Vampire wanita, dia tidak banyak berpikir tentang bahaya yang ia hadapi. Hanya ada satu yang ada di pikirannya yaitu menyelamatkan Naruto dari serbuan dua vampire jahat.

"Halooo, bukankah kau menginginkanku? Kalau begitu kejarlah aku!" Kata Hinata pada vampire wanita itu dan berusaha tenang dengan perasaan yang bergejolak di dadanya. Vampire itu hanya terdiam dan melihat Hinata tajam. "Coba pikirkan, jika kau menangkapku dan memberikanku pada Sasuke, mungkin dia akan mencintaimu seperti kau mencintainya? Bagaimana menurutmu? Ayo, tangkap aku!".

Hinata mundur perlahan beriringan dengan majunya langkah vampire wanita itu. Langkah Hinata semakin cepat, dia berlari menjauh agar perempuan vampire itu lupa akan Sasuke dan berkonsentrasi untuk mengejarnya. Hinata tahu dia kalah cepat berlari dengan bangsa vampire, bahkan dia bisa mati dalam hitungan detik aja. Seperti yang ia duga sebelumnya kalau vampire itu balik menghadangnya walaupun jarak mereka agak jauh.

"Ini saatnya". Gumam Hinata.

Tangannya meraba saku di belakang celananya. Tangannya sudah mengenggam erat pisau tajam yang terbuat dari perak dan tembaga asli dan tentunya ada doa-doa tertentu di dalammnya sehingga membuat vampire akan langsung menjadi abu ketika ia menusukan pisau ini tepat di jantungnya. Perempuan vampire itu berlari dengan kencang menuju Hinata.

"Oke sekarang !" gumamnya.

Jleeeebbb! Hinata menancapkan pisau itu tepat di jantung perempuan vampire itu. Vampire itu mengerng kesakitan, teriakannya begitu keras. Hinata yakin dalam jarak sepuluh meter orang-orang bisa mendengarnya dengan jelas, tanpa terkecuali Naruto dan Sasuke yang sedang beradu fisik satu sama lain. seketika tubuhnya menjadi abu, hanya sebuah gaun merah yang utuh tersisa. Hinata menghembuskan nafas panjang, melihat gundukan abu didepannya dengan perasaan takut. Ia kemudian lari menjauh menuju kea rah Naruto untuk membantunya dari kesulitan. Mata Naruto menangkap bayang-bayang Hinata yang mendekat kearahnya.

"Hinata apa yang akan kau lakukan? Larilahhh!". Ucap Naruto dengan sekuat tenaga karena mendapat pukulan bertubi-tubi dari Sasuke. Tangan Sasuke meraih kepala Naruto dan siap-siap untuk mematahkannya. Kalau itu terjadi, Naruto akan binasa. "Hinata aku mohon larilah!".

Hinata tak beranjak dari tempatnya berdiri. Dia berpikir, tidak mungkin dia harus melarikan diri disaat kekasihnya berjuang, mempertaruhkan nyawanya demi dirinya. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang harus aku lakukan, come on Hinata berpikirlah. Ucapnya dalam hati. Sekelebat adegan yang terekam di otaknya tiba-tiba muncul. Dia ingat sekali, memang hanya itu cara untuk menyelamatkan Naruto. Mungkin cara ini akan berhasil seperti yang ia sudah lihat sebelumnya.

Hinata mengenggam erat pisau pemberian Naruto, perlahan dia meletakkan pisau terebut di telapak tangan. Sreeettt! Dia mengiris telapak tangannya sendiri. Darah segar bercucuran dari telapak tangannya. Sontak Sasuke melihat ke arahnya sambil sesekali mengendus begitu pula Naruto yang melihatnya dengan rasa khawatir. Fokus Sasuke sekarang teralihkan dari Naruto ke Hinata. Dari awal yang diinginkan Sasuke adalah darah Hinata. Nafsu untuk mendapatkan Hinata semakin besar karena bau darah Hinata membuatnya melayang, terbius seperti heroin yang membuat manusia ingin terus merasakannya. Sasuke berlari mendekati Hinata. Dengan cepat Naruto menghadangya, dan memukulnya. Perkelahian kembali terjadi di antara mereka, namun lagi-lagi Naruto kalah kuat dengan Sasuke. posisi Sasuke membelakangi Hinata dan bersiap untuk membunuh Naruto. Tanpa pikir panjang Hinata berlari lalu menujamkan pisau di punggung Sasuke. Kejadian ini membuat Sasuke mendadak berhenti dari aktivitasnya, dan melepaskan cengkraman tangannya dari kepala Naruto.

Panas dan begitu sakit yang Sasuke rasakan. Kulitnya perlahan melepuh dan detik berikutnya dia sudah menjadi abu, hanya tersisa pakaian yang ia kenakan. Hinata terduduk lemas dengan tatapan kosong. Matanya menitikan air mata. Naruto sejenak memandang abu Sasuke lalu berlih melihat kekasihnya Hinata.

"Hinata, apa kau baik-baik saja?" tanyanya, namun tak ada jawaban darinya.

Naruto merobek baju Hinata dan membalutkan di telapak tangannya yang terluka parah karena irisan pisau yang tajam. "Kenapa kau melakukan ini? kau tau ini sangatlah membahayakan nyawamu!".

"Aku hanya ingin kau selamat, aku ingin kau tetap hidup,"Jawab Hinata. Naruto tak bisa menyanggah perkataan Hinata. Dia memberikan sebuah kecupan di bibir Hinata dengan lembut.

" Terima kasih kau telah menyelamatkanku Hinata. Sekarang ayo kita kembali, mungkin Gaara dan temannya membutuhkan bantuan kita". Hinata hanya menganngguk dan kemudian pergi menghampiri Gaara.

Di lapangan yang terdapat di tengah hutan. Para manusia serigala sudah berubah menjadi manusia normal. Mereka berbaris rapi dan mengelilingi sebuah api unggun. Hinata penasaran dengan keberadaan api disitu. Setelah dilihat lebih dekt lagi, ternyata itu adalah tumpukan vampire yang sudah mati lalu kemudian di bakar oleh mereka. Senyum kemenangan terlihat jelas di wajah mereka. Gaara melihat Hinata penuh arti.

"Hinata-ssi, tanganmu kenapa?" tanyanya khawatir.

"Tidak apa-apa ini hanya luka kecil," jawab Hinata bohong. Gaara melihat Naruto sejenak dengan tatapan garang. Dia menarik Hinata dari dekapan Naruto dan mendekatkan padanya.

"Mulai sekarang, menjauhlah dari Hinata. Kau begitu berbahaya baginya. Apa kau tahu, tadi kau hampir membunuhnya," ucap Gaara.

"Aku tahu," jawab Naruto singkat.

"Gaara sudahlah. Monster itu sudah tidak ada lagi di tubuhnya. Dia melakukan itu karena itu bukan dirinya sendiri," ujar Hinata.

"Dia benar Hinata, aku memang sangat berbahaya untukmu. Aku akan menjauhkanmu dari bahaya, aku tidak mau kau terluka hanya karena aku. Kau hampir mempertaruhkan nyawamu demi aku. Aku sangat berhutang budi padamu. Gaara memang benar, seharusnya aku menjauhimu," kata Naruto sambil mendekat di pinggran danau di tengah lapangan hutan. Dia melihat ke dalam air danau namun tak ada bayangannya di genangan air itu.

"Apa maksudmu ? Apa kau akan meninggalkanku?"

"Aku akan pergi meninggalkanmu selamanya. Aku sudah tak punya kekuatan lagi, bahkan jika aku terkena sinar matahari sedikit saja maka tubuhku akan terbakar dan hangus menjadi abu. Aku tidak mau kau dalam bahaya. Aku begitu mencintaimu Hinata-ya."

"Apa yang akan kau lakukan Naruto?" Awan yang mendung kembali cerah. Sinar matahari yang kuat dan panas keluar dari celah-celah awan. Matahari itu tepat mengenai Naruto. "Tidak! Tidak!," teriaknya.

"Arggggghhhhhhhh," teriak Naruto kesakitan.

Hinata tidak menyerah dia berlari kea rah Naruto dan mendorongnya ke danau. Dia tidak tahu kenapa dia malah menenggelamkan Naruto ke danau. Menurutnya air danau bisa memadamkan api yang melilit tubuh Naruto. Hinata dengan sabar menanti tanda-tanda kehidupan Naruto, Gaarapun ikut melihat kearah danau.

"Aku begitu mencintaimu Naruto, aku tidak akan membiarkanmu meninggalkan aku. Aku mohon, jangan tinggalkan aku," Gumamnya sambil menangis.

Satu menit kemudian Hinata dan Gaara melihat ada gelembung-gelembung udara di permukaan air danau. Terlihat Naruto melambai-lambaikan tangannya untuk meminta pertolongan. Hinata tersenyum bahagia, begitu bahagia sampai ia menitikan air mata. Gaara menjeburkan dirinya kedalam danau dan membawa Naruto ke tepi danau.

"Uhuk…uhuukkkkk," Naruto mengeluarkan banyak air danau di mulutnya.

"Naruto, apa kau baik-baik saja? syukurlah kau masih hidup," ucap Hinata senang. Perlahan Naruto membuka mata dan melihat Hinata penuh arti. ada yang berbeda dari Naruto, kornea mata yang tadinya merah sekarang berubah menjadi hitam seperti manusia pada umumnya.

"Hinata lagi-lagi kau menyelematkanku. Tanpa kau sadari kau merubahku menjadi manusia," ucap Naruto.

"Apa yang kau maksud aku tidak mengerti?".

"Jika vampire ingin menjadi manusia ia harus membakar tubuhnya sendiri lalu kemudia menjatuhkan dirinya dalam pusaran air yang besar. Awalnya aku memang berniat memusnahkan diriku sendiri tapi kau menenggelamkanku di danau itu."

"Jadi ini yang kau maksud proses untuk menjadi manusia?" tanya Hinata.

Narutopun pun mengangguk dan tersenyum. Hinata tertawa bahagia dengan berlinang air mata. Dia memeluk Naruto erat, seakan tak mau untuk kehilangan Naruto. Naruto juga tak kalah erat memeluk Hinata. Gaara tersenyum kecil dan turut bahagia melihat temannya bahagia.

ooOOoo

Delapan tahun kemudian,

Di minggu yang cerah tepatnya dipagi hari. Sebuah keluarga kecil tampak bahagia dan menikmati indahnya hari. Mereka bekerja sama membuat kebun di belakang rumah. Seseorang sedang asyik berkutat dengan tanah, sedangkan seorang anak kecil laki-laki berambut kuning sibuk membawakan benih sayur mayur kepada seseorang.

"Ayah, ini benihnya," ucap sang anak.

"Terima kasih, anak ayah pintar sekali," pujinya.

"Naruto-kun, kau seharian belum makan. Makanlah dulu," ujar Hinata. Gadis itu berkata sambil menggendong anak perempuan yang masih berusia enam tahun.

"Iya sebentar lagi," jawab Naruto.

"Boruto, ayo makan dulu. Ibu sudah memasakkan ayam goreng kesukaanmu."

"Asik, terima kasih ibu. Ayah ayo kita makan," ujar Boruto sambil menarik-narik tangan ayahnya.

"Iya, ayah tahu."

Boruto dan Naruto memasuki sebuah rumah minimalis namun tampak sedikit mewah. Kehidupan mereka layaknya manusia biasa. Naruto sudah seutuhnya menjadi manusia, sekarang ia sudah terbiasa memakan makanan matang. Hinata tak percaya bahwa hal semacam ini merupakan akhir dari kisah cinta mereka. Menjadi satu keluarga adalah impian terindah Hinata bersama Naruto. Keluarga mereka adalah keluarga sebenarnya bukan keluarga vampir atau setengah vampr tapi manusia. Saat makan mata Boruto fokus ke televisi. Di sana ia melihat satu film dengan judul "Vampire Diares."

"Ayah apa vampire itu ada?" tanya Boruto.

"Uhuk...uhuk," Naruto tersedak, ia meneguk segelas air sampai habis.

"Boruto, vampir itu hanyalah mitos dan cerita fantasi saja. Vampir itu tidak ada," jelas Hinata. Ia melepaskan gendongannya dari Himawari.

"Benarkah, padahal vampir itu kuat. Kalau besar nanti aku ingin jadi Vampir," ucap Boruto polos.

"Boruto, kamu jangan aneh-aneh. Itu bukan cita-cita namanya," protes Naruto.

"Pokoknya aku ingin jadi vampir. Himawari, ayo main dengan kakak." Boruto tak menggubris nasehat Naruto.

"Hei Boruto dengarkan ayah...,"

"Sudahlah Naruto, jangan marahi Boruto namanya juga anak kecil. Jadi seperti itu tingkah lakunya. Ehm Naruto-kun, apa kau menyangka kalau kisah cinta kita akan sejauh ini. Tak sadar kita sudah memiliki dua anak," ucap Hinata.

"Iya, aku juga tidak menyangka kita sudah memiliki Boruto dan Himawari," ujar Naruto. Tatapan matanya kepada Hinata penuh arti. Betapa cintanya dia dengan Hinata. Tak ada yang dia cintai di dunia ini selain Hinata dan putra-putrinya. "Hinata, aku sangat mencintaimu."

Naruto meraih dagu Hinata. Ia mendekatkan bibirnya ke bibir Hinata. Ciuman Naruto bukan hanya ciuman biasa tapi ciuman liar nan panas. Sejenak ciuman itu berhenti. Naruto menatap Hinata lekat-lekat, tatapan itu seperti ingin menyampaikan sesuatu.

"Hinata, apa kau tidak ingin membuat adik untuk Himawari?" rayu Naruto.

"Apa? tidak, aku tidak mau Naruto-kun. Dua saja sudah merepotkan apalagi tiga" sanggah Hinata.

"Ayolah, Hinata hehehe."

"Tidak, aku tidak mau."

THE END