Annyeong... Opie balik lagi... :)
Setelah mencoba melawan rasa malas yang selalu mendera, akhirnya bisa kelar juga menyelesaikan chapter ini. Dan seperti chapter-chapter sebelumnya, chapter kali inipun jauh dari kata sempurna. Tapi aku berharap para reader bisa memakluminya, secara aku masih mencoba menjadi penulis yang baik *Alasan*
Dan untuk Hyurin, tenang saja, meski cerita ini berbeda dengan kebanyakan cerita yang ada di FFn (kebanyakan Yaoi soalnya) aku akan menyelesaikannya sampai akhir. Begitu juga dengan cerita-cerita yang lain. Semoga saja punya waktu dan tidak malas untuk berada di depan kompi lama-lama *Nyengir*
Dan ucapan terima kasih selalu kupersembahkan kepada semua reader yang telah meluangkan waktu sekedar membaca cerita ini.
HOUNTOUNI ARIGATOU *Ojigi*
Present
HEART
Cast : Park Yunhee (OC), Cho Kyuhyun (SJ), Lee Donghae (SJ), Jung Mari (OC), Cerry Walker (OC) , and other
Rate : T
Genre : Friendship, Hurt (maybe)
Warning : Typo, OOC, Alur berantakan, Plot gak jelas, dan kekurangan yang lain
Disclaimer : Their belong to God, Their Parents, and Themselves
RnR
DLDR
Enjoy :)
Chapter 11
Previous
"Kau menangis lagi" katanya tetap tersenyum.
"Aku sangat merindukannya Andrew" balasku kembali terisak.
"Aku yakin dia juga merindukanmu" bisiknya seraya memelukku. Setidaknya kali ini aku bisa merasakan jika apa yang tengah kurasakan sangat berbeda dengan rasaku terhadap Kyuhyun. Dan aku sadar jika saat itu Cerry memang benar. Saat itu aku hanya terobsesi kepada Kyuhyun, bukan mencintainya. Karena sekarang aku telah menemukan seseorang yang sangat kucintai. Seseorang yang tengah mendekapku erat, Andrew Choi.
*Mari Pov End*
Seoul
Cuaca cerah hari itu sama sekali tidak bisa membuat seorang namja yang tengah duduk di dekat jendela merubah raut kesalnya. Bagaimana tidak kesal, hari ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkna baginya. Tapi kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan membuatnya harus tekurung dalam kamarnya. Ini memang bukan pertama kalinya seorang Lee Donghae gagal mengikuti pariwisata yang diadakan kantor tempatnya bekerja. Bukan karena tidak memiliki uang untuk melakukan wisata seorang diri, tapi kesempatan untuk bersama dengan rekan kerjanyalah yang membuat senyumnya menghilang.
Seringkali dia berpikir kenapa Tuhan memberinya penyakit seperti saat ini. Dengan penyakit yang dimilikinya, dia seperti terisolasi dengan dunia luar. Meski kondisinya tidak separah dulu, tapi tetap saja kadang hal itu membuatnya kesal. Seperti saat ini. Disaat semua rekannya bersenang-senang di pantai, dia hanya bisa duduk dikamarnya seraya mendengarkan musik yang mengalun dari ipodnya.
"Huft...membosankan" kesalnya seraya memainkan boneka nemo hadiah dari seseorang yang sangat disayanginya.
"Apa kabar Cerry? Kau baik-baik saja kan? Aku benar-benar bosan saat ini" monolognya dengan sang boneka. Dia tidak gila, hanya saja rasa rindunya kepada si pemberi membuatnya melakukan hal kekanakan seperti itu. Menghilangnya seseorang yang sangat kau sayangi dua kali bukanlah hal yang mudah untuk dilalui. Apalagi salah satunya adalah seseorang yang selama ini membuatmu bangkit dan bersemangat menjalani roda kehidupan yang dituliskan Tuhan untuknya. Meski dengan kondisi yang tidak sesempurna orang pada umumnya.
"Sebenarnya dimana kau saat ini?" pertanyaannya kembali tidak menghasilkan sebuah jawaban. Karena bosan hanya mampu melihat orang yang hilir mudik dari kamarnya, namja itu akhirnya memutuskan mengambil sebuah kertas dan membuat sketsa. Dengan earphone terpasang dikedua telinganya dan konsentrasinya pada sketsa yang tengah dibuat, Donghae sama sekali tidak sadar dengan keberadaan orang lain di kamarnya. Sementara penyusup yang baru saja masuk tampak mendesah kecewa, karena rencana untuk membuat putra bungsu keluarga Lee itu terkejut gagal.
Tapi bukan Lee Hyukjae namanya jika menyerah begitu saja. Dia mengendap-endap di belakang Donghae guna mencari tahu apa gerangan yang tengah dilakukan sang sahabat. Setelah sampai dibelakangnya, dia melongok dan mendengus mengetahui lagi-lagi sketsa yeoja itu yang dibuat Donghae. Tanpa membuang waktu Hyukie langsung menyambar sketsa setengah jadi milik Donghae.
"Yakkk..." teriak Donghae saat tiba-tiba sketsa yang tengah dibuatnya telah berpindah tangan. Dia terkejut dengan keberadaan dua orang yang dikiranya tengah menikmati wisata mereka. Sementara sang pelaku hanya menunjukkan cengiran lebarnya mendapati sang sahabat berekspresi seperti ikan kehabisan nafas –menutup dan membuka mulutnya tanpa ada sepatah katapun yang keluar-.
"Berhenti memasang wajah jelek seperti itu Lee Hyukjae" ejek seorang namja yang langsung menyamankan dirinya di sofa tunggal ruangan bernuansa biru itu.
"Yakkk...Apa maksud perkataanmu itu Lee Sungmin? " yang diejek tak terima dengan perkataan namja manis yang kini tengah bersmirk ria melihat sahabat blondenya kesal.
"Hanya mengatakan kenyataan" balasnya dengan senyum kemenangan. Sementara Hyukjae yang sudah kesal akan pernyataan sahabat manisnya mendatanginya dan hendak melakukan suatu tindakan pembalasan. Tapi sebelum hal itu terjadi sebuah suara menghentikan rencananya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" akhirnya setelah sadar dari rasa terkejutnya Donghae mampu mengeluarkan suaranya. Ada rasa tidak percaya mendapati kedua sahabatnya kini berada di kamarnya.
"Mengunjungimu, apalagi" jawab Hyukjae tak kalah heran dengan pertanyaan sahabat ikannya itu. Sahabatnya yang satu itu memang tidak jauh beda dengannya, sedikit bodoh. Tapi dia sama sekali tidak menyangka jika Donghae akan menanyakan hal bodoh semacam itu. Sementara Donghae masih belum mengerti akan keberadaan sang sahabat.
"Saat kami tahu kau tidak ikut wisata, kami juga memutuskan untuk tidak ikut. Kami tidak mau kau merasa sendirian Hae" jawab Sungmin dengan senyum manis yang disetujui oleh Hyukjae.
"Dan jika kau sudah sembuh, kau harus membawa kami ke Lotte " sambung Hyukjae dengan cengiran yang sudah kembali terpasang diwajahnya.
"Gomawo" hanya itu kata yang bisa dikeluarkan Donghae setelah cukup lama terdiam. Dia sama sekali tidak menyangka jika sahabat-sahabatnya sangat peduli padanya. Atau mungkin selama ini dirinya yang terlalu menutup diri sejak Cerry juga menghilang dari kehidupannya, sehingga tidak menyadari ketulusan orang-orang disekitarnya.
"No prob" jawab keduanya kompak.
"Hyukie kembalikan sketsaku" kata Donghae teringat dengan sketsa yang setengah jadi itu.
"Kenapa kau selalu melukis wajahnya? Tidakkah ada keinginan untuk melukis wajah orang lain? Kyuhyun mungkin, atau Mari?" pertanyaan itu selalu terlontar setiap kali mendapati Donghae melukis wajah orang yang sama. Sementara yang ditanya hanya bisa memasang wajah sedih setiap kali melihat semua hasil karyanya akhir-akhir ini.
"Kami tahu kau merindukannya, tapi apa itu tidak keterlaluan? Maksudku dia bukan kekasihmu kan?" kali ini Sungmin tidak bisa menahan rasa penasarannya.
"Mungkin kalian benar, tapi entah kenapa aku merasa jika aku tidak akan bisa bertemu lagi denganya. Sementara aku masih bisa bertemu dengan Kyuhyun, Mari, atau bahkan Yunhee." Jawabnya seraya kembali melanjutkan melukis.
"Apa maksudmu?"
"Entahlah Ming, hanya saja aku merasa jika waktu itu adalah terakhir kalinya aku bisa bertatap muka dengan Cerry"
"Jangan berkata seperti itu. Kata adalah do'a" ucap Hyukjae menimpali. Kesunyian kembali terjadi di ruangan itu, hingga suara tawa keduanya sahabatnya membuatnya kebingungan. "Apa ada yang salah?"
"Aniyo, ha...ha..ha..." jawab Sugmin masih tertawa lepas. Sementara Donghae juga berusaha mengatasi rasa geli akibat ulah sang sahabat.
"Yakkkk...berhenti tertawa!" Hyukjae kembali dibuat kesal dengan tingkah dua sahabatnya itu. Pasalnya dia sama sekali tidak mengetahui apa yang membuat kedua sahabatnya itu tergelak seperti ini. "Sebenarnya apa yang lucu hah?"
"Tidak ada Hyukie, hanya saja kami tidak menyangka jika kau bisa berkata sebijak itu, hahahaha :D " Donghae mencoba menjelaskan meski masih diselingi dengan tawa.
"Mwo...?" dan kamar itu kembali dipenuhi tawa, meski salah satu diantaranya sedang dalam bad mood yang parah.
Setelah berhasil meredam rasa geli akibat kata-kata bijak Lee Hyukjae yang jarang –bahkan hampir tidak pernah- diungkapkannya, Sungmin dan Donghae kembali menekuni pekerjaan mereka semula. Jangan ditanya bagaiman dengan Lee Hyukjae. Karena kesal dia memutuskan keluar kamar dan mencari makanan yang bisa membuat moodnya kembali baik.
"Bagaimana kabar Kyuhyun dan Mari?" tanya Sungmin memecah keheningan diantara keduanya.
"Baik, dan sepertinya tahun ini baik Kyuhyun maupun Mari akan kembali ke Korea" jawab Donghae masih fokus pada sketsanya.
"Arraseo" dan keheningan kembali menemani keduanya. Sungmin sama sekali tidak menyadari kesedihan yang terpancar dari manik Donghae, karena namja itu membelakanginya. Ada rasa rindu setiap kali membicarakan sepupu dan cinta pertamanya itu. Bukan kepada keduanya rindu itu ditujukan. Karena selama ini mereka masih saling berkomunikasi meski jarak memisahkan mereka. Bukan juga kepada seorang yeoja yang hingga saat ini menempati hatinya. Melainkan seorang yeoja dingin yang selalu membuatnya nyaman dengan caranya sendiri.
"Cerry, I miss you so much" bisiknya lirih kepada sketsa wajah yang baru saja diselesaikannya. Tanpa sepengetahuannya jika yeoja yang tengah dirindukan juga tengah memandang lukisan wajahnya yang terpasang indah didinding rumahnya.
"Oppa, bogoshippo".
Beberapa waktu digunakan untuk beristirahat membuat kondisi Donghae lebih baik. Pagi ini dia bisa kembali menjalani aktifitasnya sebagai manager di perusahaan sang appa. Meski hal yang dilakukannya bukanlah hal yang sangat disukainya, namja penyuka ikan itu berusaha sebaik mungkin menjalankan tugas yang diembannya. Dia tidak mau mengecewakan sang appa yang telah mempercayai dan mendukungnya selama ini. Bahkan ini juga merupakan bentuk terima kasihnya kepada sang appa karena masih memberinya kebebasan untuk tetap menggeluti kesenangannya- melukis-.
"Selamat pagi manager Lee" sapa beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan dengannya. Dan sebuah senyum serta anggukan diberikannya sebagai balasan dari sapaan tersebut. Sikapnya yang ramah dan pantang menyerah membuat para karyawan menghormatinya. Meski pada awalnya dia hanya dipandang sebelah mata oleh mereka dikarenakan posisinya itu didapat karena campur tangan sang appa. Terlebih saat mengetahui sang manager yang berusaha keras mencapai hasil yang ditargetkan meski dalam kondisi yang sangat tidak memungkinkan saat itu. Dan sejak saat itu tidak ada lagi tatapan benci yang diterimanya setiap kali berpapasan dengan seluruh karyawan.
Rasa sakit yang dikiranya telah membaik itu tiba-tiba saja menyerangnya tak lama setelah memasuki lift seorang diri. Dia berusaha menahan rasa sakit itu saat ada beberapa rekan kerjanya yang lain juga bergabung. Dia tidak mau membuat kekacauan di hari pertamanya kerja setelah mendapatkan libur karena penyakitnya kambuh.
"Donghae-ssi, gwaenchanayo?" seorang namja paruh baya menanyakan keadaan Donghae saat menyadari jika anak bosnya itu terlihat pucat.
"Nan gwaenchana" jawabnya berusaha tersenyum. Dia tidak mau membuat rekan kerjanya itu khawatir. Dan sepertinya sang rekan kerja juga berusaha mempercayai perkataan Donghae meski ada sedikit rasa cemas menderanya.
"Sepertinya teh hangat bisa membuat anda sedikit lebih baik" sarannya kepada Donghae.
"Ne, aku akan memintanya setelah sampai diruanganku, terima kasih".
Sesampai diruangannya, Donghae langsung menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya. Seraya memegangi dadanya yang semakin sakit, Donghae mencoba meraih laci meja guna mengambil obat yang memang diletakkannya disana. Dia berusaha keras menggapai laci itu, tapi entah kenapa rasanya laci yang terlihat dekat itu seakan menjauh dari jangkauannya. Belum sempat tangannya menyentuh laci, dia sudah terjatuh dan pingsan.
Seorang namja tampan dengan surai ikal masuk tanpa mengetuk pintu karena ingin membuat seseorang di dalam ruangan terkejut. Seperti reaksi yang didapatnya saat mengunjungi dua orang yang dulu sering menjadi korban keevilannya. Tapi bukannya membuat orang itu terkejut, dialah yang dibuat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Hyung...!" teriaknya panik saat mendapati sang sepupu terbujur lemas di dekat kursi kerjanya.
"Donghae hyung...irreona !" katanya panik seraya menepuk-nepuk pipi sang sepupu, berharap tindakannya membuahkan hasil. Tapi nihil. Namja yang kini berada dalam pelukannya itu sama sekali tidak bereaksi.
'Prang...' sebuah cangkir tanpa sengaja tersenggol dan jatuh menyentuh lantai. Menyebabkan seseorang yang baru saja memasuki rumah langsung berlari menuju asal suara. Sesampainya, ia mendapati sang sahabat tengah membereskan pecahan cangkir yang berserakan.
"Kau tidak terluka kan?" tanyanya cemas seraya membantu membersihkan isi cangkir yang ikut tercecer.
"Tidak, sepertinya aku hanya butuh tidur" jawab sang sahabat dengan senyum palsunya. Gadis yang baru saja datang itu sadar jika sang sahabat tengah berbohong. Tapi karena juga merasa lelah dia tidak memperpanjang masalah malam itu.
"Ya, sebaiknya kau tidur. G'night Cerry"
"Night Fia". Setelah sang sahabat menghilang dari jangkauan matanya, Cerry hanya mampu memandangi sebuah lukisan yang selalu menjadi pemandangan favoritnya. Entah pandangan seperti apa yang kini tengah ditampilkannya. Yang jelas ada rasa khawatir yang ditujukan kepada salah satu dari keempat objek yang berada dalam lukisan.
"Oppa...apa yang terjadi padamu?" katanya sebelum beranjak menuju kamarnya.
Putih. Itu adalah hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata. Seorang namja tampak heran karena berada di tempat yang sangat familiar baginya. Bukannya tadi dia berada di kantornya? Kenapa saat ini dia berada di tempat ini? Dia mencoba kembali menggali ingatannya, dan berhasil. Akhirnya dia sadar jika rasa sakit yang sempat menderanya tadilah yang membuatnya berakhir di tempat berbau obat ini.
"Hyung kau sudah sadar, syukurlah..." terlihat seorang namja yang baru saja masuk dalam kamar inapnya dengan wajah sumringah saat melihat sang sepupu telah sadar.
"Kyu...? Apa yang kau lakukan disini?" tanya namja yang ternyata adalah Donghae bingung mengetahui sang sepupu berada disisinya.
"Menjagamu tentu saja. Kau benar-benar membuatku khawatir tahu !" ada rasa kesal dalam suaranya, tapi tak dapat dipungkiri jika rasa khawatirnya jauh lebih besar daripada rasa kesal itu sendiri. Sementara yang dikhawatirkan hanya mampu memasang wajah bingung. Bukan karena rasa khawatir sang sepupu, -hampir semua orang selalu mengkhawatirkan keadaannya setiap kali masuk rumah sakit-, tapi keberadaan sang sepupu yang dikiranya masih berada di Jepanglah yang membuatnya bingung.
"Bukankah kau seharusnya ada di Jepang?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutnya.
"Aku sudah berhasil menyelesaikan kuliahku. Bukankah kau tahu jika aku sangat jenius?" kata namja itu dengan sombongnya. Kenarsisannya itu hanya mendapat dengusan dari sang sepupu.
"Terserah kau lah. " dan keheningan menemani mereka. Donghae sesekali mengernyit saat dirasakan dadanya kembali nyeri saat mencoba untuk bergerak. Sehingga dia memutuskan untuk tetap terbaring tanpa berusaha melakukan gerakan berlebih.
"Hyung..." Kyuhyun mencoba memanggil sang sepupu yang terlihat menyamankan dirinya dengan kondisi seperti itu. "Gwaenchanayo?"
"Hmmm" jawab Donghae dengan senyum menenangkan. "Bagaimana kabar Yunhee?" Kyuhyun sama sekali tidak menyangka jika Donghae akan bertanya seperti itu dalam kondisinya saat ini. Sejak kepergian yeoja itu, Donghae tidak pernah bertanya dimana keberadaan sang pemilik hatinya itu. Hanya saja dia selalu menanyakan keadaannya kepada sang sepupu karena Donghae yakin jika Kyuhyun adalah satu-satunya orang yang masih berhubungan dengan Yunhee sampai saat ini.
"Dia baik" jawab Kyuhyun tak yakin. Karena akhir-akhir ini dia jarang atau bahkan tidak pernah menghubungi Yunhee lagi. Selain disibukkan dengan skripsinya, entah kenapa rasanya ada yang salah setiap kali Kyuhyun mencoba menghubungi yeoja yang dikiranya pemilik hatinya itu.
"Baguslah" setelahnya Donghae kembali memejamkan matanya karena pengaruh obat. Sementara Kyuhyun hanya mampu memandangi sang sepupu dengan banyak hal yang ada di pikirannya.
"Mianhe hyung, jeongmal mianhe" katanya lirih. Dan tanpa disadarinya jika Donghae belum benar-benar terlelap. Sebuah tanda tanya besar langsung bersarang di kepalanya saat sang sepupu tiba-tiba meminta maaf seperti itu.
Empat tahun bukanlah waktu yang singkat apabila harus berjauhan dengan keluarga. Tapi bukan pula waktu yang lambat jika ada yang membuatmu merasa nyaman di tempat yang sangat jauh sekalipun. Dan setelah empat tahun menempuh pendidikan di negeri orang, hari ini Mari telah kembali ke negeri tempat dimana dia dilahirkan sekaligus tempatnya menghabiskan masa kecil. Dia sengaja tidak memberi tahu kedatangannya kepada siapapun. Rencananya dia ingin membuat keluarganya terkejut akan kedatangannya. Dan sepertinya rencana itu akan berhasil.
Sebenarnya dia ingin mengajak serta sang kekasih dan mengenalkannya kepada keluarga besarnya. Tapi karena kesibukan tuan muda Choi itu membuatnya menunda rencana tersebut. Dan dengan senyum yang terkembang, Mari melangkahkan kakinya keluar dari bandara.
"Aku pulang..." teriaknya. Dia sama sekali tidak mempedulikan tatapan aneh yang dilayangkan banyak orang kepadanya. Rasa bahagia karena akan bertemu dengan keluarganya mengalahkan semua rasa yang ada, bahkan rasa malunya sekalipun. Setelah puas berteriak tidak jelas –Mari sama sekali lupa jika saat ini dia bukan lagi anak sekolah-, akhirnya putri keluarga Jung itu menghentikan sebuah taksi. Tak lama setelah taksi berjalan, yeoja itu tertidur dengan senyum tetap terukir di wajah cantiknya.
Merasa mendapat guncangan di tubuhnya, Mari mulai membuka mata. Setelah melakukan sedikit peregangan pada tubuhnya yang cukup kaku, yeoja itu keluar dari taksi. Senyum kembali mengembang saat dilihatnya sebuah rumah yang sama sekali tidak berubah sejak kepergiannya empat tahun lalu. Dengan semangat dia melangkahkan kaki menuju rumah tempatnya bernaung itu dan menekan bel yang tersedia.
Keterkejutan jelas terlihat dari seseorang yang melihatnya melalui monitor di dalam rumah. Dan untuk kesekian kalinya sebuah senyum menghiasi wajahnya. Tak lama kemudian pintu terbuka, dan sosok paruh baya itu langsung mendapat pelukan dari Mari.
"Ahn ahjuma, bogoshippo" ujarnya tanpa melepaskan pelukan diantara mereka. Sementara yang dipeluk hanya mampu menahan rasa harunya karena gadis kecilnya itu telah pulang.
"Nado bogoshippo, nona muda"
"Ahjuma...siapa yang...NOONAAA..." seorang namja tampan tampak terkejut mendapati sang kakak telah kembali. Setelah pelukan antara kakaknya dan Ahn ahjuma terlepas, dia langsung menghambur memeluk noona kesayangannya itu.
"Bogoshippooo" katanya manja. Namja itu sama sekali tidak malu menunjukkan sikap manjanya hanya kepada sang kakak. Dia sama sekali tidak peduli usianya saat ini, yang jelas baginya adalah dia akan tetap menjadi adik kecil bagi Jung Mari.
"Aigooo, Ji Hoon-ah, ternyata sikap manjamu sama sekali tidak berkurang eoh?" sudah lama tidak menggoda sang adik entah kenapa membuat Mari menjadi ingin menggodanya lebih lagi.
"Aku tidak manja, hanya terlalu senang karena kau telah datang" Ji Hoon mencoba berkelit, meski demikian semburat merah tetap muncul di kedua sisi wajahnya.
"Ommo...bahkan sekarang kau merona hanya karena kugoda eoh?"
"Yakkkk, noona ! berhenti menggodaku" ekspresi kesal Ji Hoon malah membuat Mari tertawa lepas. Dia sama sekali tidak menyangka jika akan merasakan rindu sebesar ini kepada keluarganya. Dan mendengar keributan di depan rumah membuat nyonya Jung yang tengah membaca majalah keluar. Rasa bahagia juga menyelimutinya saat mengetahui keberadaan sang putri.
"Mari-ah" katanya menghentikan keusilan Mari kepada Ji Hoon. Merasa ada yang memanggil namanya, Mari menghentikan kegiatannya sejenak dan melihat kearah suara.
"Eomma..." dihampirinya yeoja yang telah melahirkannya itu ke dalam pelukan hangat. Setetes airmata tanpa sungkan keluar dari netranya.
"Bogoshippo" bisiknya pelan. Sementara sang ibu hanya mampu mengelus surai pendek sang putri dengan penuh kasih sayang.
"Yakkk...aku juga mau dipeluk" rajuk Ji Hoon sebelum bergabung dalam pelukan keluarga itu. sementara Ahn ahjuma hanya mampu menatap haru kepada ketiganya.
Sama seperti yang lainnya, kepala keluarga Jung itu cukup terkejut akan keberadaan sang putri yang berada di rumah. Rasa lelahnya setelah bekerja seharian tiba-tiba menguap hilang saat melihat senyum sang putri yang sangat dirindukannya.
"Appa..." Mari langsung menghambur ke dalam pelukan sang ayah saat menyadari keberadaannya.
"Kapan kau pulang? Kenapa kau tidak bilang-bilang?" tanya sang ayah setelah pelukan mereka terlepas.
"Tadi siang. Aku sengaja tidak memberitahukan kepulanganku agar kalian terkejut" jawabnya masih dengan wajah yang berbinar senang.
"Kuliahmu?"
"Sudah selesai, dan aku masih belum mau bekerja. Aku masih ingin mendinginkan otakku dari angka-angka dan hal memusingkan lainnya"
"Bilang saja kau malas" sebuah suara menginterupsi keduanya.
"Yakkk...Ji Hoon, apa maksudmu itu eoh?" tak terima diejek oleh sang adik, Mari langsung melempari Ji Hoon dengan bantal kursi yang berada dekat dengannya. Tak terima atas perlakukan sang kakak, Ji hoon-pun membalas. Dan perang bantalpun tak dapat dihindarkan. Sementara Jung Yunho hanya mampu menggelengkan kepala melihat sikap kedua anaknya yang sangat kekanakan.
Keesokan harinya, Mari berencana akan menemui Donghae dan Kyuhyun. Tapi sebelumnya dia mengirim pesan kepada dua namja itu. Setelah mengetahui dimana posisi keduanya, Mari langsung menuju dimana mereka saat ini. Sama seperti keluarganya, sahabat-sahabatnya itu juga tidak tahu jika dia telah berada di Korea. Dan dia harap jika kedatangannya yang tiba-tiba itu akan membuat mereka terkejut. Sebuah senyum kembali terukir membayangkan wajah terkejut dari keduanya.
Sementara itu, jauh di belahan dunia yang lain, seorang yeoja tengah membereskan beberapa baju yang baru saja diperagakan oleh beberapa model kenalan 'eonninya'. Bukan karena tidak ada yang bertugas membereskan, hanya saja pikirannya sedang kalut dengan pembicaraan yang sempat dilakukannya dengan sang 'eonni'.
*Flashback*
Seorang yeoja cantik dengan surai hitam panjangnya yang tergerai memandang adik kelasnya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh orang yang menjadi obyek pandangan. Sementara yang dipandang hanya mampu menunduk, segan bertatap muka dengan sang 'eonni' yang telah membantunya mencapai cita-cita sampai seperti yang diraihnya saat ini.
"Huft... apa kau benar-benar yakin dengan keputusanmu Yunhee-ah?" pertanyaan itu kembali terulang untuk kesekian kalinya.
"Ne, eonni. Sudah saatnya aku kembali ke Korea. Selain itu, aku juga sangat merindukan keluarga dan teman-temanku" jawabnya mantap. Lima tahun tidak bertemu dengan keluarga membuatnya tak dapat lagi menahan rasa rindunya.
"Tapi kau akan menjadi designer terkenal jika kau bertahan di New York"
"Aku yakin jika aku juga bisa menjadi designer hebat meski berada di Korea"
"Baiklah jika itu sudah keputusanmu. Dan seandainya ada yang bisa aku bantu, kau bisa mengatakannya."
"Gomawo eonni" setelah mengucapkan terima kasih, sebuah panggilan kembali membuatnya menghentikan langkahnya.
"Aku mempunyai kenalan yang memiliki butik di Korea. Meski bukan sebuah butik yang ternama, tapi jika kau mau aku bisa merekomendasikanmu kepadanya. Setidaknya kau tidak akan menjadi pengangguran sesampainya di Korea". Betapa bahagia Yunhee memiliki seseorang yang sangat baik seperti Anna. Tanpa yeoja itu, dia tidak akan bisa bertahan bersaing dengan calon designer yang lain.
"Sekali lagi, gomawo ne" sebuah senyum didapatnya sebelum dia keluar dari ruangan bernuansa coklat muda itu.
*Flashback end*
Helaan nafas kembali dikeluarkan oleh Yunhee. Dia sedang bingung dengan keputusan yang sudah dipikirkannya. Tapi pembicaraannya denga Anna membuatnya sedikit bimbang.
"Ommo, apa yang harus aku lakukan?" teriaknya frustasi seraya mengacak rambutnya yang sudah agak memanjang.
"Memang apa yang ingin kau lakukan eoh?" sebuah suara yang akhir-akhir ini akrab di pendengarannya membuat Yunhee menoleh ke sumber suara. Sebuah senyum akhirnya mampu muncul di wajah kusutnya.
"Hanya berniat untuk kembali pulang kampung"
"Really? "
"Ne, tapi aku masih tidak yakin akan keputusanku itu. Menurutmu apa yang harus aku lakukan? Apa sebaiknya aku tetap di NY?"
"Aku menyarankan kau kembali ke Korea, dan seandainya kau masih belum bisa damai dengan hatimu sebaiknya kau tetap disini"
"Eomma, memangnya kenapa aunt Yunhee halus ke Kolea" sebuah suara membuat kedua yeoja itu menoleh bersamaan.
"Aunt Yunhee miss her parents Marc" seorang yeoja yang datang bersama dengan bocah laki-laki itu menjawab pertanyaan yang ditujukan 'anak'nya kepada Yunhee.
"Ne Marcus. I really miss with my parents, so that's why i want go to Korea."
"Will you back hele ?" pertanyaan itu entah kenapa membuat Yunhee semakin ragu dengan keputusannya.
"Aunt Yunhee pasti akan kembali, benarkan?" kali ini sang eomma mencoba menenangkan sang buah hati yang hendak meneteskan airmata.
"Tentu saja. Aku pasti juga akan sangat merindukanmu Marc" Yunhee ikut berjongkok menyamankan tingginya sejajar dengan sang bocah.
"Lagipula kita juga belum tahu kapan aunt Yunhee akan pergi bukan. Jadi daripada kau menangis seperti gadis, sebaiknya kita pergi dan makan ice cream" sang 'mom' mencoba mencairkan suasana haru itu. Dan teriakan anaknya itu membuat ketiga wanita dewasa yang berada di sekelilingnya spontan menutup telinga. Setelah meredakan kemarahan sang bocah, akhirnya mereka keluar dan menuju tempat ice cream favorit Marcus.
TBC
Salam
OPIE ^^
