UNFORGIVEN HERO (REMAKE)
Chapter 11
Cast:
Zhang Yixing as Elena
Kim Junmyeon as Rafael Alexander
Kang Seulgi as Victoria
Kim Minseok as Donita
Jung Seoyun as ibu Rahma
Genderswitch. OCC
Sorry for the typo. Story milik Santhy Agatha. EXO milik SM kecuali Zhang Yixing #dihajar
WARNING: Rate M, GS, Remake
Yixing tak pernah tahu, ada sosok dibalik kenyamanannya itu. Kim Junmyeon, pria yang sudah membunuh ayahnya. Dia berusaha membayar kesalahannya dengan menjadi guardian angel bagi Yixing. Masalahnya adalah, Junmyeon jatuh cinta pada Yixing. Dia begitu terobsesi pada gadis itu. Hingga dia berusaha membuat sebuah jalan agar Yixing berjalan ke arahnya
.
.
.
SULAY
Cerita remake dari novel Santhy Agatha
.
.
=CHAPTER 11=
"Tamu untuk anda Mr. Suho." Yuri masih memanggilnya dengan nama Mr. Suho. Tidak masalah untuknya, Junmyeon tersenyum, ternyata namanya bukan masalah buat Yixing.
"Aku dengar kau pulang dari bulan madumu, jadi aku mengajak Yifan kemari." Chanyeol melangkah masuk, seperti biasanya tanpa permisi langsung duduk di sofa besar di ruangan itu. Seorang laki-laki berbadan ramping, berpakaian serba hitam mengikuti masuk, pandangannya mengawasi seluruh ruangan dengan tajam, sampai kemudian bertatapan dengan Junmyeon.
Wu Yifan. Junmyeon membatin. Ini adalah pertemuan kedua mereka setelah pertemuan singkat di sebuah pesta waktu itu. Junmyeon memilih datang sendirian ke pesta Yifan waktu itu dan membuat Chanyeol sibuk mencemoohnya. Chanyeol sempat mengenalkannya dengan Yifan, tetapi mereka tidak bisa berbicara lebih, karena Junmyeon buru-buru pergi untuk urusan lain.
"Yifan juga baru pulang dari bulan madunya." Chanyeol bergumam ketika Junmyeon dan Yifan hanya berpandangan dengan kaku, saling mengawasi.
"Bulan madu? Bukankah kau sudah menikah lama, Yifan?" Dan sepengetahuan Junmyeon, Yifan sudah memperoleh satu putera dari isterinya. Dia melangkah mendekati sofa dan duduk di sana, mempersilahkan Yifan untuk duduk.
"Bulan madu kedua." Yifan menyahut dengan suaranya yang dalam. Entah kenapa kata 'bulan madu' itu membuat ekspresi dingin dan kejam di wajahnya melembut. Mungkin benar kata Chanyeol, lelaki ini benar-benar mencintai isterinya. Kalau begitu, lelaki ini tidak sejahat yang dikatakan orang. Seorang lelaki yang bisa mencintai seorang perempuan sepenuh hati, adalah lelaki yang baik, jauh di dalam hatinya. Junmyeon merasa prasangka buruknya terhadap Yifan memudar.
"Bagaimana bulan madumu?" Chanyeol bergumam lagi, menatap Junmyeon sambil tersenyum, "Semua berjalan sesuai rencana?"
"Sesuai rencana." Senyum Junmyeon melebar, lupa kalau di depannya ada Wu Yifan, sosok yang tidak dikenalnya seakrab Chanyeol, "Dia mengatakan mencintaiku."
Chanyeol terkekeh, "Dasar bajingan yang beruntung." Diliriknya Yifan, "Junmyeon lebih beruntung dari kita, dia bisa dengan cepat mendapatkan cinta isterinya. Sementara kita harus jungkir balik mencoba segala cara."
Yifan ikut tersenyum mendengar kata-kata Chanyeol itu. Dan suasana kaku di antara mereka menjadi cair. Mereka lalu membicarakan masalah pekerjaan dan proyek kerjasama mereka, dan pembicaraan mengalir lancar seolah mereka sudah sering berkumpul dan bercakap-cakap dengan akrab sebelumnya.
"Aku harus pulang." Yifan melirik jam tangannya, "Aku sudah berjanji mengantarkan Jessica ke dokter."
"Jessica sakit?" Chanyeol yang sedari tadi sibuk membaca berkas catatan pengajuan proyek yang mereka bahas mengangkat kepalanya,
Yifan menggelengkan kepalanya, senyumnya melebar, tak tertahankan.
"Bukan. Dia mual dan muntah di pagi hari. Sepertinya kami membawa oleh-oleh hasil bulan madu kedua kami."
"Wah. Kau mengejarku rupanya." Mata Chanyeol melembut ketika mengingat kedua malaikat kecilnya dan ibu mereka yang sangat dicintainya, "Sampaikan salamku untuk Jessica. Aku akan mempelajari berkas ini dulu, nanti aku diskusikan hasilnya denganmu."
"Oke." Yifan beranjak berdiri, dan Junmyeon mengikutinya. Lelaki itu tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Junmyeon yang segera disambut Junmyeon, mereka bersalaman,
"Semoga kerjasama kita baik ke depannya."
Setelah itu Yifan berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan.
"Dia baik kan. Tidak sekejam yang dikatakan orang. Apakah kau masih tidak menyukainya?" Chanyeol bergumam, matanya tidak lepas dari berkas-berkas di tangannya.
Junmyeon menatap ke arah kepergian Yifan dan mengangkat bahu. "Well, aku tidak salah kalau dulu aku tidak menyukainya. Rumor yang beredar begitu kental kalau dia sangat kejam dan pemarah. Semua orang takut kepadanya. Tapi dia berubah setelah menikah ya?"
"Yah dia berubah setelah menemukan Jessica isterinya. Kekejamannya memang tiada tara, sampai mambuat Baekhyun isteriku mencemaskan Jessica. Kau tahu, mereka bersahabat. Tetapi lelaki itu sungguh-sungguh memperjuangkan cintanya. Dan ketika dia mendapatkannya dia menghargainya." Chanyeol tersenyum ke arah Junmyeon dan meletakkan berkas-berkasnya, "Dan dari kata-katamu tadi, aku pikir pernikahanmu juga berjalan semakin baik. Kau bisa sesegera mungkin membuat isterimu hamil, lalu membangun keluarga kecil yang bahagia, seperti aku dan Yifan."
Junmyeon menghela napas. Bayangan akan perut Yixing yang membuncit mengandung anaknya, ataupun bayangan dia akan menggendong buah cintanya dengan Yixing membuat dadanya hangat. Tetapi ketakutan itu tetap ada, ketakutan yang membuatnya bermimpi buruk akhir-akhir ini. Ketakutan akan terkuaknya sebuah rahasia yang akan menyakiti Yixing.
"Aku belum pernah bercerita kepadamu tentang isteriku ini, dan kenapa aku sangat mencintainya."
"Kupikir kau ingin menyimpannya untuk dirimu sendiri." Chanyeol tersenyum, "Kau tampak letih Junmyeon, bukankah pernikahan ini seharusnya membuatmu bahagia?"
"Aku bahagia." Junmyeon menggumam pelan, "Tetapi aku lelah menyimpan rahasia."
"Rahasia apa?"
"Rahasia masa laluku yang terkait dengan Yixing isteriku." Junmyeon menghela napas "Di masa lalu dan Yixing tidak menyadari bahwa aku adalah orang yang sama. Dia mencintai aku yang sekarang… tetapi kalau dia tahu siapa aku sebenarnya…"
Chanyeol menumpukan tangannya di dagu, "Apa maksudmu Junmyeon? Coba ceritakan kepadaku supaya aku bisa mengerti."
Dan cerita itupun mengalir. Tentang masa lalu Junmyeon, tentang kecelakaan itu dan pengusiran yang dilakukan Yixing dengan penuh kemarahan, yang menyadarkan Junmyeon setelahnya. Tentang semua usaha Junmyeonuntuk menebus dosanya. Semua yang dia lakukan untuk membuat hidup Yixing mudah, hanya untuk menyadari bahwa dia sebenarnya amat sangat mencintai Yixing dan ingin memilikinya. Akhirnya Junmyeon mengambil resiko memiliki Yixing, menikahinya. Dengan tetap merahasiakan masa lalu itu. Junmyeon menceritakan ketakutan-ketakutannya. Mimpi-mimpi buruknya akhir-akhir ini yang sangat mengganggu kepada Chanyeol.
Sahabatnya itu hanya menatapnya tajam beberapa lama, lalu menarik napas panjang. "Wow." Gumamnya kemudian, "Aku pikir kisah cintaku adalah kisah paling rumit di antara semua pasangan. Punyamu lebih rumit dan penuh rahasia." Chanyeol menyandarkan tubuhnya di sofa. "Tetapi sebuah pernikahan harus didasarkan pada kejujuran utuh kedua pasangan, Junmyeon. Kalau tidak pernikahan itu tidak punya landasan."
Chanyeol menatap Junmyeon yang hanya terdiam, "Aku menikahi Baekhyun waktu itu setelah kami sama-sama menyatakan cinta, setelah tidak ada ganjalan dan rahasia di antara kami berdua. Karena itulah kami bisa melalui semuanya dengan baik sampai sekarang. Saling mendukung dan mencintai." Chanyeol mengangkat bahu, "Kalau mengambil contoh pernikahan Yifan, hampir sama dengan yang kau lakukan, dia dan pasangannya sama-sama keras kepada dan tidak mau mengakui kalau mereka saling mencintai. Awal pernikahan mereka dipenuhi gejolak dan salah paham, tetapi itu akhirnya mendorong mereka untuk mengungkapkan isi hati masing-masing dan pada akhirnya mengakui kalau saling mencintai."
"Aku dan Yixing sudah mengakui saling mencintai ." Junmyeon bergumam, tetapi hatiku tetap tidak tenang.
"Karena kau seperti berjalan di atas bom yang akan meledak entah kapan. Itu membuatmu selalu waspada dan mengalami mimpi buruk." Chanyeol menatap Junmyeon dengan serius, "Kau harus menceritakan semuanya kepada Yixing."
Wajah Junmyeon dipenuhi kesakitan, "Aku tidak bisa, Bagaimana kalau dia meninggalkanku?"
"Katamu dia mencintaimu. Dia mungkin akan mengamuk dan marah besar kepadamu. Tetapi aku yakin dia akan menghargai kejujuranmu. Pada akhirnya dia akan kembali kepadamu." Chanyeol menghela napas panjang, "Kau harus melakukannya kawan. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, sebuah rahasia tidak akan pernah bisa disimpan selamanya, kau bisa membayangkan kan betapa buruknya kalau sampai Yixing tahu dari orang lain?"
Junmyeon tercenung. Menyadari kebenaran dari kata-kata Chanyeol. Betul juga. Dia tidak boleh menyimpan rahasia ini terlalu lama dari Yixing. Dia harus menjelaskan semuanya. Yixing mencintainya, dan Junmyeon yakin semarah apapun Yixing. Perempuan itu pasti akan memaafkannya pada akhirnya nanti, dan menghargai kejujuran Junmyeon
Ya…Junmyeon akan mengungkapkan semuanya kepada Yixing.
.
.
.
"Bayi Minseok sangat lucu dan cantik." Yixing bercerita sambil menyiapkan air mandi di bathtub besar di kamar mandi mereka untuk Junmyeon yang baru pulang dari kerja.
"Oh ya? Kau sudah menyampaikan salamku untuknya?" Junmyeon melepaskan dasinya dan menyampirkan jasnya di kursi. Lalu melangkah menuju kamar mandi besar itu dan bersandar di pintu. Yixing sedang memeriksa suhu air di kamar mandi itu, kemudian mengambil handuk-handuk putih dan melipatnya lalu meletakkannya di rak handuk di dekat bathtub.
"Sudah kusampaikan. Minseok mengucapkan selamat untuk pernikahan kita." Yixing berdiri dan menatap Junmyeon, "Aku berpikir untuk mengunjungi Nyonya Jung….kita kemarin hanya sempat mengabarkan pernikahan kita melalui telepon, dia sudah seperti ibuku jadi rasanya tidak sopan kalau kita tidak segera menemuinya."
"Akhir pekan nanti aku akan mengantarmu ke asrama untuk bertemu Nyonya Jung." Junmyeon tersenyum, mengagumi kecantikan isterinya di bawah sinar lampu kamar mandi yang temaram.
Kamar mandi itu luas, dengan bathtub-nya yang sangat besar, muat untuk dua orang. Tetapi Junmyeon dan Yixing belum pernah mencoba melakukannya, berendam berdua karena mereka terlalu sibuk setelah kepulangan mereka. Nuansanya hitam dan putih. Di dominasi oleh marmer hitam dengan semburat abstark keputihan di seluruh ruangan, selain itu semua perabotnya berwarna putih bersih, menciptakan kekontrasan sendiri yang sangat indah. Tetapi Junmyeon tidak peduli dengan suasana kamar mandinya, baginya yang paling indah adalah isterinya. Isterinya yang cantik, Yixingnya yang luar biasa. Yang sekarang berdiri dengan gaun putih sederhana yang melambai di betisnya, membuatnya tampak seperti dewi yang turun dari langit dan mempunyai kekuatan untuk menghilangkan semua kelelahan Junmyeon.
"Kemarilah" Junmyeon mengulurkan tangannya, "Aku merindukanmu."
Yixing tersenyum dan menerima uluran tangan Junmyeon, membiarkan dirinya dihela masuk ke dalam pelukan lelaki itu. Junmyeon memeluknya dengan erat kemudian mengangkat dagu Yixing dan mengecupnya lembut.
"Apakah kau merindukanku Yixing?"
"Sangat." Yixing tersenyum, "Aku terbiasa melihatmu setiap saat." Jemarinya menelusuri wajah Junmyeon yang tampan dengan lembut. "Rasanya berbeda kalau kau tidak ada."
Junmyeon meraih jemari Yixing dan mengecupnya lembut, "Mungkin kau bisa masuk ke kantor lagi dan menjadi asistenku."
Yixing tersenyum, "Ide bagus."
"Dan perusahaanku akan bangkrut dalam sekejap, karena sang pemiliknya terlalu sibuk menyetubuhi asistennya di kantor."
"Junmyeo!." Yixing berseru, mencela kata-kata Junmyeon yang vulgar. Membuat Junmyeon terkekeh, dikecupnya pucuk hidung Yixing dan dihelanya masuk ke kamar mandi. Lelaki itu menatap bathtub dengan air hangat yang tampak menggoda,
"Ayo, ikut mandi bersamaku,"
"Tetapi aku sudah mandi."
Tatapan Junmyeon kepada Yixing sangatlah sensual, melumerkan Yixing sampai meleleh,
"Mandi bersamaku akan lebih bersih, Aku akan membantu menggosok punggungmu, dan membersihkan tempat manapun yang susah kau jangkau sendirian." Dengan menggoda lelaki itu melepaskan kemejanya, membuangnya ke lantai kamar mandi, celananya menyusul kemudian. Membuatnya telanjang bulat dengan tubuh kokoh dan otot yang keras di tempat-tempat yang pas, dibalut warna kulit perunggu kecoklatan yang indah.
Yixing menelan ludahnya, terpesona oleh sihir sensual yang dipancarkan suaminya.
"Ikut?" Junmyeon mengulurkan tangannya lagi dan Yixing menerimanya, membiarkan Junmyeon menelanjanginya dan mengajaknya masuk ke bathtub.
Lelaki itu bersandar di kepala bathtub dan menarik Yixing ke pangkuannya. Yixing bersandar dengan nyaman di dada Junmyeon yang bidang. Seluruh punggung dan bagian belakang tubuhnya menempel dengan seluruh bagian depan tubuh Junmyeon, mereka berendam dengan nyaman, aroma minyak aromaterapi mawar mulai memenuhi ruangan, bercampur dengan air hangat yang merendam tubuh mereka.
Jemari Junmyeon bergerak nakal dan mengusap buah dada Yixing. Buah dada itu licin terkena minyak mawar yang bercampur air hangat dengan puting yang tegak karena terkena angin, Junmyeon memainkannya dengan lembut membuat Yixing mengerang dan menggerakkan pinggulnya. Merasakan kerasnya kejantanan Junmyeon yang menekan-nekannya dari belakang.
"Angkat sedikit pinggulmu sayang." Junmyeon membantu Yixing bergerak, dan dengan mudah memasukkan kejantanannya yang sudah begitu keras, menyatukan dirinya dengan kewanitaan Yixing yang sudah begitu siap menerimanya. Mereka mengerang bersama-sama, menikmati penyatuan yang begitu erotis itu. Kemudian Junmyeon menggerakkan pinggulnya pelan, menggoda Yixing, membuat isterinya menggeliat penuh gairah, jemarinya menyentuh titik sensitif di antara kedua paha isterinya dan memainkannya sambil terus bergerak dengan ritme yang teratur, menciptakan riak pelan di air mandi mereka.
"Aku mencintaimu Yixing." Suara Junmyeon parau, lelaki itu menunduk dan melumat telinga Yixing dengan sensual, bibirnya lalu menjelajahi leher dan pundak Yixing dari belakang, menjilatnya dengan erotis, sementara di bawah sana, pinggulnya bergerak dengan teratur bersama dengan pinggul Yixing, membawa mereka berdua bersama-sama mendekati puncak kenikmatan.
Gerakan Junmyeon makin cepat dan makin bergairah dan air di sekitar mereka beriak, mengikuti gerakan mereka.
"Terimalah cintaku sayang, terimalah aku." Junmyeon mengangkat pinggulnya, menekankan dirinya dengan begitu kuat, menyatu jauh di kedalaman pusat diri Yixing, dan menyemburkan ledakan kenikmatannya di dalam sana. Membawa Yixing bersama-sama mencapai orgasme bersamanya.
Mereka lalu terengah bersama dalam diam yang syahdu. Yixing menyandarkan kepalanya di dada Junmyeon, menikmati debar jantung Junmyeon yang berpacu cepat setelah orgasmenya dan gerakan naik turun dadanya yang tersengal. Setelah tubuh mereka tenang, Yixing merasa mengantuk, tetapi Junmyeon menegakkan tubuhnya,
"Hei cantik, kau tidak boleh tertidur di bathtub. Berbahaya, kau bisa tenggelam." Dengan lembut dia mengajak Yixing berdiri melangkah keluar dari bathtub dan mengarahkannya ke pancuran, "Ayo, aku akan menggosok punggungmu." Lelaki itu menyalakan pancuran air panas yang langsung menyiram mereka dari atas.
Dan mereka bercinta sekali lagi di bawah pancuran.
.
.
.
"Apa kabarmu?" Junmyeon langsung bertanya begitu mendengar suara Seulgi menyahut teleponnya.
Suara diseberang sana terdengar mendengus kasar, "Oh. hai oppa, tak kusangka kau masih ingat menelepon adikmu yang kau biarkan terjebak dengan seekor ular di sebuah pulau terpencil."
Junmyeon tertawa mendengar nada sarkatis di suara Seulgi,
"Mendengar suaramu, aku berkesimpulan kalau kau baik-baik saja."
"Aku baik-baik saja, hanya sedang bosan setengah mati."
"Bagaimana dengan Sulli?"
Seulgi mendesah, "Sulli baik-baik saja. Dia sudah hampir sembuh dan sangat menyebalkan, kami saling membenci satu sama lain dan tidak tahan seruangan, kurasa itu juga yang memberi motiviasi kepadanya untuk sembuh lebih cepat. Dia akan pulang lusa. Aku juga."
Junmyeon mengerutkan keningnya, "Menurutmu apakah dia punya rencana untuk mengganggu lagi?"
"Siapa yang bisa tahu apa yang ada di balik kepala cantiknya itu." Seulgi tertawa, "Kau harus waspada Junmyeon. Dia sepertinya menyerah sekarang. Aku berusaha menunjukkan kepadanya bahwa dia sama sekali tidak punya harapan."
"Yah semoga dia melangkah mundur. Aku sudah terlalu sibuk untuk direpotkan dengannya." Junmyeon mengehela napas dalam-dalam, "Aku akan mengungkapkan semua kepada Yixing.:
"Kau yakin?" suara Seulgi merendah, "Menurutmu Yixing akan mengerti?"
"Aku tidak tahu." Junmyeon mendesah, "Tetapi dia mencintaiku. Dan tidak adil kalau aku terus merahasiakan kenyataan ini dari dirinya. Lagipula aku takut kalau suatu waktu dia mendengar kenyataan itu dari orang lain. Kepercayaannya padaku akan hancur total kalau itu terjadi.
Seulgi terdiam, tidak bisa membantah kebenaran yang ada di dalam kata-kata Junmyeon. Memang benar. Rahasia tidak akan bisa selamanya tersimpan. Lagipula paling baik kalau Yixing mendengarnya langsung dari Junmyeondaripada dia mendengarnya dari orang lain lalu merasa bahwa Junmyeontelah membohongi dan menipunya selama ini.
"Kapan kau akan mengatakannya?"
"Dalam waktu dekat." Junmyeon mengerang dan mengacak rambutnya frustrasi. "Kurasa aku harus menyiapkan diri dan keberanian dulu, dan menunggu waktu yang tepat."
"Semoga semuanya lancar oppa." Seulgi ikut merasakan kegelisahan Junmyeon, "Kabari aku ya."
"Pasti. doakan aku Egi."
"Pasti. Aku menyayangimu oppa."
"Aku juga Egi."
Telepon ditutup. Menyisakan kegelisahan di dalam diri Junmyeon. Kegelisahan yang mulai melingkupinya, bercampur dengan ketakutannya. Takut Yixing akan meninggalkannya.
.
.
.
Leo mengawasi rumah Junmyeon dari kejauhan, dan mengetahui bahwa setiap hari Junmyeon berangkat kerja dan Yixing dirumah bersama para pelayan. Dia tidak bisa bertamu begitu saja ke rumah Junmyeon. Para pelayan itu mungkin ada yang menjadi mata-mata Junmyeon yang mengawasi dan langsung melaporkan kalau Leo datang ke sana, dan Junmyeon akan langsung pulang dan menggagalkan semuanya.
Leo harus bertindak hati-hati, dia harus menggiring Yixing supaya berada di luar rumah dan bertemu dengannya, ditempat mereka tidak akan diganggu, di tempat di mana dia bisa leluasa membeberkan semua rahasia busuk Junmyeon. Dan setelah itu Yixing pasti akan sangat membenci Junmyeon.
Leo tersenyum, menikmati saat-saat kemenangannya yang akan segera tiba. Tidak lama lagi.
.
.
.
"Aku akan keluar sebentar untuk membeli kue." Yixing berpamitan kepada pelayan di rumahnya, dia hendak membeli kue untuk di bawa ke asrama tempat Nyonya Jung berada esok hari. Supir pribadinya sudah menunggu dan Yixing masuk ke dalam mobil, menuju ke sebuah cafe bakery yang cukup elegan di pusat kota. Di sana ada kue brownies panggang yang sangat enak, Yixing akan membeli beberapa sebagai buah tangan untuk dibawa besok.
Ketika mobil mencapai parkiran Bakery itu, ponselnya berdering, dia melihat nama Leo di layar ponselnya dan menghela napas. Kebetulan. Pikirnya. Dia sudah berpikir untuk menghubungi Leo dan berbicara, menyelesaikan salah paham di antara mereka dan berharap mereka bisa berbicara baik-baik, lalu berpisah tanpa ada ganjalan lagi di antara mereka. Dia meminta supir menunggu dan melangkah keluar, memasuki bakery itu lalu mengangkat teleponnya.
"Halo." Yixing menyapa Leo, dengan suara ramah.
"Hai Yixing. Apa kabar?" suara Leo terdengar kaku.
"Kabarku baik Leo, kuharap kau juga sehat-sehat saja." Yixing menjawab. Terbawa oleh suasana kaku dan formal yang dibawa Leo.
Sejenak suara Leo di seberang sana hening, lalu lelaki itu berucap dengan nada datar,
"Aku mendengar tentang pernikahanmu." Napas Leo agak tercekat, "Selamat ya."
Yixing tersenyum, setidaknya Leo mau memberinya selamat, itu pertanda lelaki itu mempunyai niat baik kepadanya,
"Terima kasih Leo. Maafkan aku tidak sempat mengabari. Semuanya begitu terburu-buru dan tiba-tiba saja aku sudah menikah."
Leo terkekeh pahit di seberang sana, "Apakah kau mencintainya Yixing?"
Yixing menganggukkan kepalanya tanpa sadar, "Ya Leo, aku mencintai Junmyeon."
Hening lagi, Kali ini agak lama.
"Aku ingin bertemu." Gumam Leo akhirnya.
Yixing menghela napas, "Kebetulan aku juga berpikiran sama, kurasa kita harus bercakap-cakap untuk menyelesaikan beberapa hal yang mengganjal di antara kita…"
"Kapan kau bisa?"
"Aku harus menanyakannya kepada Junmyeon dulu." Yixing tentu saja tidak bermaksud bertemu diam-diam dengan Leo, dia akan meminta izin pada Junmyeon dulu, dia yakin Junmyeon akan mengijinkannya kalau Yixing bisa menjelaskan alasannya dengan tepat.
"Tidak! Jangan!" Leo menyela dengan cepat, membuat Yixing mengernyitkan keningnya,
"Jangan apa Leo?"
Leo berdehem di seberang sana, "Kau tahu, aku kan masih bekerja di perusahaan Mr. Suho…..eh…Junmyeon…" Suaranya merendah, "Akan sangat tidak mengenakkan bagiku kalau sampai Junmyeon tahu aku mencoba menemui isterinya, mengingat aku dulu pernah dekat dengan isterinya."
"Tetapi aku tidak bisa bertemu diam-diam denganmu, kalau Junmyeon tahu…"
"Junmyeon tidak akan tahu. Aku mohon Yixing…aku tidak akan menyita lama waktumu, aku Cuma butuh beberapa lama di tempat umum yang kau pilih, sehingga tidak akan memicu salah paham dan fitnah terhadap kita…" Leo menghela napas panjang, "Aku mohon Yixing. Hanya satu kali pertemuan untuk menjelaskan semuanya dan setelah itu kalau kau mau, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi."
Yixing termenung memikirkan kata-kata Leo, dia menarik napas panjang,
"Baiklah, kapan dan dimana?"
"Hari ini bisa?"
Yixing melirik jam tangannya. Masih jam dua siang. Dia punya waktu panjang sebelum pulang ke rumah dan menanti suaminya pulang dari pekerjaannya.
"Aku sedang membeli kue di bakery" Yixing menyebut nama Cafe dan Bakery tempat dia berada, "Kalau mau kau bisa datang kemari."
"Oke kedengarannya bagus. Aku akan kesana beberapa saat lagi. Saat ini aku masih di kantor, aku akan mencari alasan untuk keluar."
Setelah itu Leo menutup teleponnya.
Yixing lalu memilih beberapa kue dan membayarnya, dia menuju ke mobil dan meminta supir membawa kue-kue itu pulang dulu, dan menjemput Yixing nanti. Yixing akan menelepon ke rumah minta dijemput. Karena dia akan bertemu dengan seorang teman dulu selama mungkin satu atau dua jam,
Supir itu mengikuti instruksinya dan membawa mobil pulang ke rumah. Dengan langkah pelan Yixing memasuki cafe dan bakery yang cukup ramai itu lalu memilih tempat duduk dan memesan cokelat panas untuk dirinya, dan menunggu.
.
.
.
Leo datang hampir satu jam kemudian. Lelaki itu masih tampan dengan senyumnya yang luar biasa menawan. Meskipun senyuman itu tidak bisa menggetarkan hati Yixing lagi, dia telah tertawan oleh suaminya, Kim Junmyeon yang tiada duanya, dan tidak ada laki-laki manapun yang bisa mengalahkannya.
Leo menyalami Yixing dan tersenyum meminta maaf lalu duduk di depan Yixing,
"Maafkan aku terlambat, aku tadi melarikan dari kantor." Lelaki itu tersenyum dan mengamati Yixing, "Kau tampak makin cantik Yixing, makin bersinar."
Seperti biasa Leo sangat pandai merayu, Yixing membatin sambil tersenyum,
"Terima kasih Leo."
Leo menghela napas panjang, seolah bingung ingin berkata apa, kemudian setelah lama, dia mengangkat kepalanya dan menatap Yixing dalam-dalam,
"Yixing, kau tahu aku mencintai dan menyayangimu, dan aku ingin kau bahagia." Suaranya lembut, "Tetapi kemudian aku mencemaskanmu ketika mengetahui bahwa kau ditipu."
"Ditipu?" Yixing mengerutkan keningnya bingung.
"Ya ditipu. Pernikahanmu ini terjadi atas dasar kebohongan, kau ditipu mentah-mentah Yixing, dan aku tidak rela kau diperlakukan seperti itu."
"Apa maksudmu Leo?" suara Yixing berubah tajam, apakah Leo bermaksud memfitnah Junmyeon lagi?
"Jangan marah dulu, dengarkan aku dulu baru kau boleh memutuskan akan berbuat apa." Leo menatap Yixing dengan kejam ketika melemparkan bom itu,
"Selama ini kau dibohongi Yixing. Kim Junmyeon, adalah orang yang membunuh ayahmu dalam kecelakaan sepuluh tahun yang lalu."
.
.
.
=TBC=
