~BLUE MOON~ / PART 11
Disclaimer : Naruto © Masashi Kisimoto
Judul : Blue Moon
Author : Ciel Bocchan a.k.a Febi N Maulida
Genre : Romance, Fantasy, Action, Drama, Supernatural, Comedy, AU, Drama
Pairing : NaruHina (Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata)
Rating : T
Kakinya bahkan tidak menyentuh bumi. Dewi Izanami kini berada tepat di depan Hyuuga Hinata. Empat pelayannya berdiri di belakang. Beliau selalu membawa pelayan kemana pun pergi. Hinata sedikit harus mendongak karena posisi Dewi Izanami lebih tinggi darinya. Dewi Izanami memang tidak pernah berdiri dengan kedua kaki menyentuh bumi jika keadaannya tidak mendesak. Dia selalu ingin menunjukan perbedaan antara Dewa dan makhluk lain. Angin yang tadi berhembus sangat kencang langsung berhenti begitu Dewi Izanami berhadapan dengan Hyuuga Hinata.
Hinata menatapnya tegas. Dewi Izanami tersenyum kecil. Bukan senyuman ramah dan hangat, melainkan senyuman dingin yang mengejek.
"Rasanya baru satu hari berlalu sejak pertemuan terakhir kita. Aku masih mengingat semuanya dengan segar, di sini" ujar Dewi Izanami lembut sambil mengetuk pelan pelipisnya.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Hinata. Gadis rubah itu sudah tahu, tapi dia tetap bertanya hanya untuk sedikit mengulur waktu agar semua kalimat yang akan ia gunakan untuk melawan Dewi Izanami nanti bisa menyelamatkan Naruto.
"Kau sudah tahu tanpa harus bertanya, bukan?" balas Dewi Izanami.
"Aku tidak akan membiarkanmu membunuh Naruto"
"Tentu saja kau tidak akan membiarkanku"
"Dan kau tidak akan bisa membunuhku" tegas Hinata. Nada bicaranya terdengar menantang. Dewi Izanami menganggapi serius apa yang gadis rubah itu katakan. Jika Hyuuga Hinata berkata hal seperti itu maka ada sesuatu yang benar-benar membuatnya percaya diri. Bukan berarti Dewi Izanami tidak bisa membunuhnya. Tetapi ada seusatu yang akan membuat Dewi Izanami tidak akan membunuhnya. Tujuan utamanya datang malam ini adalah untuk menghancurkan Hinata dan Ashura bersama, atau setidaknya, salah satu di antara mereka. Meskipun membunuh bukanlah pekerjaan seorang Dewa, tapi Dewi Izanami tahu bagaimana harus membunuh mereka. Sebenarnya, dia tidak ingin melakukan ini, namun Hinata dan Ashura sudah melakukan terlalu banyak larangan. Dan selama Hyuuga Hinata masih hidup, para Dewa akan selalu mengikuti permintaannya meskipun dengan cara yang tidak masuk akal. Karena itu, sebelum si gadis rubah dan reinkarnasi Ashura melakukan hal-hal tidak masuk akal lagi, Dewi Izanami harus mengentikannya. Ashura bahkan belum menerima hukumannya, dan si gadis rubah itu, terlalu banyak dosa yang dia lakukan hingga hukuman apapun pantas untuknya. Ashura malah direinkarnasikan atas persetujuan mendadak para Dewa, dan Hinata tertidur menunggu pria itu kembali.
"Kalau aku tidak bisa membunuhmu, maka Hagoromo Ashura yang akan kubunuh" ujar Dewi Izanami. Wajah Hinata berubah cemas.
"Mari lakukan pertukaran" ujar si gadis rubah.
"Apa kau memiliki sesuatu yang berharga untuk bertukar denganku? Kau tahu aku tidak membutuhkan sesuatu yang tidak berguna"
"Kau pasti membutuhkannya. Aku satu-satunya Yokai yang memilikinya. Bukankah kalian pada Dewa sudah mencarinya selama ratusan tahun?"
Kening Dewi Izanami mengernyit. Apa? Apa yang dimiliki gadis rubah itu? Jika ada yang para Dewa-Dewi cari selama ini dan belum ditemukan, maka satu-satunya adalah...
"Energiku bisa menyembuhkan penyakit apapun" ujar Hinata
"Tidak mungkin"
"Kenapa kau berpikir itu tidak mungkin? Apa kau bahkan tahu siapa yang menciptakanku?"
Tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang menciptakan Hyuuga Hinata atau siapa yang melahirkan gadis rubah itu. Jika ada orang yang sampai bisa meciptakan rubah sekuat dia, maka dia bukanlah orang biasa. Satu-satunya kemungkinan paling besar tentang siapa yang telah menciptakan Hyuuga Hinata adalah Dewa. Karena hanya Dewa yang mampu melakukan hal semacam itu.
"Aku sebenarnya tidak bisa mengingat apapun tentang kelahiranku. Tapi entah kenapa, aku tiba-tiba mengingatnya. Aku bahkan baru ingat kalau aku memiliki energi luar biasa semacam itu dalam tubuhku"
"...Siapa yang menciptakanmu?"
"Dewa tertinggi. Aku sudah tidak ingat bagaimana wajahnya. Dia menciptakanku dari energi-energi positif kehidupan yang ada di bumi. Kupikir itu hanya ketidaksengajaan, tapi sepertinya tidak"
Hyuuga Hinata diciptakan dengan tujuan untuk melindungi semua pegunungan bahkan hutan-hutan kecil sekalipun. Karena zaman dulu, pegunungan adalah wilayah paling berbahaya dan tempat di mana segala kegelapan berada. Seseorang harus menjaganya, dan Dewa-Dewi lain tidak bisa melakukan hal seperti itu setiap saat karena mereka harus mengurus manusia dan makhluk hidup lainnya. Lalu, Dewa tertinggi akhirnya membuat keputusan untuk menciptakan sesuatu yang akan melindungi wilayah-wilayah itu. Beliau memasukkan semua energi-energi positif ke dalam sebuah wadah khusus dan disimpan selama puluhan tahun. Namun, setelah hampir seratus tahun dan energi-energi itu sudah berwujud seorang gadis yang sangat kecil, sebuah wabah ternyata sedang menyerang salah satu wilayah besar jepang. Dewa tertinggi meninggalkan wadah Hyuuga Hinata dan pergi untuk mengurus wabah penyakit itu. Beliau pergi tanpa meninggalkan penjaga untuk menjaga wadah suci yang bersinar itu. Tidak ada yang menyadari asal dari wabah yang sedang menyerang manusia-manusia itu adalah akibat dari penciptaan Hyuuga Hinata yang terlalu sempurna. Semua energi negatif terpaksa dipancing keluar untuk mencari keseimbangan dan energi positif yang paling kuat berpusat pada wadah Hyuuga Hinata. Dewa tertinggi pergi selama berhari-hari tanpa merasakan wadah Hyuuga Hinata telah tercemar dan sedang masuk ke dalam gadis kecil di dalamnya. Waktu berlalu hampir dua minggu ketika Dewa tertinggi kembali dan wadah telah kosong.
"Aku tidak berbohong" ujar Hinata. Dewi Izanami lalu menempelkan telapak tangannya pada kening Hinata. Itu adalah caranya untuk mengetahui bahwa gadis rubah itu tidak berbohong. Dewi Izanami sangat kaget, tentu saja. Jadi, zaman dulu ketika wabah penyakit melanda bagian utara jepang, Hyuuga Hinata telah diciptakan? Namun, gadis rubah itu terlahir dalam keadaan yang tidak seharusnya setelah tercemar. Sekarang, energi yang ada dalam tubuh Hyuuga Hinata bisa menyembuhkan penyakit apapun. Dewa sangat butuh energi itu.
"Karena sekarang aku sudah mengingat semuanya, kupikir Dewa tertinggi akan segera mengetahui siapa aku"
"Lalu, apa yang kau inginkan sebagai pertukaran?" tanya Dewi Izanami
"Kirim aku kembali, ke masa lalu" ujar Hyuuga Hinata. Dewi Izanami langsung tersenyum sinis.
"Kenapa aku harus mengirimmu kembali ke sana? Aku bisa membunuhmu di sini, sekarang, dan mengambil energi itu"
"Energiku tidak bisa diambil semudah yang kau kira. Dia akan hancur bersamaku jika aku mati. Kalau kau tidak mau melakukannya, aku akan menemui Dewa tertinggi untuk mengirimku kembali"
"Pertukaran diterima" ujar Dewi Izanami
"Persyaratanku bukan hanya untuk mengirimku kembali ke masa lalu"
"Masih ada lagi?"
"Kau harus menjamin keselamatan Uzumaki Naruto. Aku akan membiarkan diriku terbunuh di pertempuran kita sebelumnya, dengan begitu kau bisa mengambil energiku. Kau seorang Dewa, aku percaya kau tidak akan ingkar janji"
"Baiklah" jawab Dewi Izanami serius.
Dewi Izanami adalah yang paling menentang hubungan Hinata dan Ashura, hubungan antara Yokai dan manusia tidak boleh terjadi karena itu akan merusak aliran takdir. Dewi Izanami mengatur semua aliran takdir, dan hubungan antara Hinata dan Ashura bisa mengganggu aliran itu. Manusia dan Yokai adalah dua hal yang tidak bisa bersatu, mereka berbeda dari segi apapun. Awalnya hubungan Hinata dan Ashura berjalan cukup baik karena mereka tidak merugikan pihak manapun. Tetapi, mereka tiba-tiba membuat kontrak seumur hidup dihadapan Dewi Ootsutsuki dan hal itu tidak bisa diterima. Membuat kontrak dihadapan Dewa antara dua makhluk yang berbeda telah melangkahi aliran takdir dan membuatnya berantakan. Apa yang dilakukan Hinata dan Ashura telah mengganggu aliran itu. Mereka telah melakukan pelanggaran terbesar. Jika mereka berani melakukan pelanggaran besar seperti itu, maka selanjutnya mereka tidak akan ragu lagi untuk melanggar takdir Dewa yang lain. Satu pelanggaran bisa memunculkan pelanggaran lain. Suatu hari nanti tidak ada yang bisa menjamin bahwa cinta tidak akan tumbuh lagi antara manusia yang Yokai lain, bahkan Dewa tidak bisa menjaminnya. Untuk mencegah hal-hal seperti itu terjadi antama manusia dan Yokai lainnya, Dewi Izanami harus menghentikan hubungan Hinata dan Ashura yang telah salah sejak awal. Sebab itulah, Dewi Izanami dan Dewa-Dewi lainnya menentang hubungan Hinata dan Ashura. Namun, gadis rubah itu selalu punya banyak cara untuk menyelamatkan dirinya dan Ashura. Bahkan setelah kematian Ashura, dia masih bisa mengajukan permintaan tidak masuk akal untuk mereinkarnasikan Ashura yang seharusnya tidak boleh berinkarnasi karena dosa yang pernah pria itu lakukan. Gadis rubah itu sangat kuat. Meskipun para Dewa memiliki kekuatan untuk menentukan takdir manusia, tetapi dalam pertempuran, Hyuuga Hinata tidak tertandingi oleh siapapun. Gadis rubah itu bahkan bisa seimbang dengan Dewi Izanami yang merupakan Dewi tertinggi. Tapi sekarang kekuatannya telah melemah perlahan. Rubah itu sudah tak sekuat dulu. Bahkan Dewa terendah sekali pun bisa mengalahkannya. Pertempurannya dengan Hyuuga Hinata selama dua hari dua malam itu rasanya baru terjadi satu hari yang lalu. Namun, Dewa memiliki beberapa peraturan yang tidak boleh dilanggar sembarangan. Membunuh manusia adalah salah satu peraturan yang tidak boleh dilakukan langsung oleh Dewa. Ashura dulu bertahan hidup dari peraturan Dewa yang tak tertulis itu sampai akhirnya Dewi Izanami bertemu Uchiha Indra.
"Dengar, selama aku mengirim Hinata, jarak kalian tidak boleh lebih dari lima puluh langkah dari kami" Dewi Izanami berbicara kepada empat pelayannya dan dijawab dengan anggukan kepala.
Dewi Ootsutsuki kembali dan melihat Dewi Izanami dan Hinata sudah berdiri berhadapan. Dewi Izanami meletakkan tangan kanannya di atas kepala Hinata. Mengirim seseorang melalui dimensi ruang dan waktu sebenarnya bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh para Dewa, kecuali Dewa dan Dewi dengan kekuatan tertentu. Bahkan Dewi Ootsutsuki harus mempersiapkan dirinya terlebih dahulu jika harus melakukan pengiriman seseorang ke dimensi yang berbeda. Tetapi Dewi Izanami bisa melakukannya bahkan sambil berdiri dan tanpa persiapan apapun. Sudah terlambat jika ingin menghentikan Hinata. Gadis rubah itu sudah berdiri di sana dengan yakin. Dalam beberapa detik tubuhnya tidak akan ada lagi di sana.
"Jangan memikirkan dan mendengar suara apapun. Di kepalamu tidak ada apapun" ujar Dewi Izanami pelan. Hinata memejamkan matanya dan melakukan apa yang Dewi Izanami katakan.
Melihat dari jarak lima puluh langkah itu, Dewi Ootsutsuki hanya bisa menghela nafas lalu bergumam pelan, "Bahkan di saat terakhir seperti ini Uzumaki Naruto tidak ada di sisimu".
OoooO
Naruto sampai di kuil Dewi Ootsutsuki ketika kabut tebal perlahan menutupi Dewi Izanami dan Hyuuga Hinata. Pemuda itu terengah. Dewi Ootsutsuki yang berdiri tidak jauh darinya menoleh pada pemuda itu. Sementara si pelayan kelinci kembali berdiri di belakang majikannya.
"Jika kau datang kemari untuk menghentikannya, itu sudah terlambat" ujar Dewi Ootsutsuki, kemudian kembali melihat ke dalam kabut tebal. Dewi Izanami dan Hyuuga Hinata masih samar-samar terlihat.
"...Tidak...Hinata tidak akan kemana pun" gumam Naruto, lalu langkahnya tiba-tiba mengarah pada kabut tebal di mana Hinata sudah hampir tak terlihat. Naruto tidak tahu betul apa yang terjadi ketika itu, tetapi kedua kakinya melangkah perlahan mendekat ke arah Hyuuga Hinata. Tubuhnya gemetaran. Bukan karena takut, melainkan perasaan cemas berlebihan yang tiba-tiba saja membungkus seluruh tubuhnya. Naruto merasakan seluruh tubuhnya gemetar, bahkan langkahnya semakin buruk. Pemuda itu seperti orang lumpuh yang baru bisa berjalan.
"Hinata...tidak...jangan lakukan itu..."
"Hei, Uzumaki Naruto! Apa yang kau lakukan?!" seru Dewi Ootsutsuki. Tetapi Naruto tidak bisa mendengar dan melihat apapun sekarang. Ia hanya bisa melihat pada Hinata yang perlahan mulai tertutup oleh kabut itu. Ia tidak bisa mendengar apapun kecuali detak jantungnya sendiri. Naruto hanya berpikir kalau dirinya harus terus berjalan. Ia harus cepat atau ia akan kehilangan Hyuuga Hinata selamanya. Apa yang dikatakan semua orang benar, bahwa penyesalan memang selalu datang terlambat, tapi terlambat bukan berarti sudah tidak memiliki kesempatan sedikit pun, dan Naruto sedang membuat kesempatan itu sekarang. Karena itu ia harus segera menemui gadis rubah itu, menariknya keluar dari kabut, lalu memeluknya erat, mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja sekarang. Ia akan memberitahu Hinata kalau dirinya adalah milik gadis rubah itu, semuanya, semua yang ada pada dirinya adalah milik Hyuuga Hinata.
"Hinata" kali ini suara Naruto terdengar cukup kuat. Semakin dekat dengan kabut itu langkahnya menjadi semakin yakin.
Hyuuga Hinata merasa dirinya ditarik ke dalam sebuah lorong yang amat panjang dan tanpa ujung. Ia melewati lorong itu, yang memperlihatkan potongan-potongan kejadian yang telah terjadi dalam hidupnya, semakin mundur ke belakang, bahkan potongan kejadian saat ia pertama kali bertemu Naruto juga terlihat. Lalu tiba-tiba saja, Hinata mendengar suara itu memanggil namanya, suara yang sangat dikenalnya, suara orang yang sangat dicintainya. Hinata tersenyum sambil memikirkan Naruto yang bahkan dalam dimensi seperti ini dirinya masih bisa berhalusinasi kalau Uzumaki Naruto memanggil namanya. Setidaknya, ia bisa mendengar suara Naruto untuk terakhir kali meskipun ia sangat ingin memeluk pemuda itu. Hinata menikmati suara Naruto yang terus memanggil, seolah pemuda itu sedang berada di sisinya. Namun semakin lama suara itu tak lagi terdengar seperti sebuah suara yang datang dari alam bawah sadarnya, bukan lagi suara yang hanya ia bayangkan, karena suara itu menjadi semakin nyata dan terdengar sangat jelas di telinganya.
"Hinata!" teriak Naruto.
Hinata tidak mengingat jelas setelahnya karena suara Naruto tiba-tiba sudah tak terdengar, namun bahunya kanannya terasa berat dan hangat. Apa ia sudah sampai ke masa lalu? Gadis rubah itu lalu membuka matanya perlahan dan cahaya masuk perlahan ke matanya. Ketika ia menoleh pada bahu kanannya, tubuh Uzumaki Naruto langsung terjatuh dan gadis rubah itu menangkapnya sambil terduduk di atas tanah. Lengan kanannya memeluk Naruto sementara tangan kirinya memegang pipi pemuda itu. Untuk sesaat Hinata berpikir, apa yang Naruto lakukan di sini? Apa pemuda itu entah bagaimana telah ikut bersamanya? Namun, kebingungannya teralihkan oleh suara Dewi Izanami.
"Sudah kubilang siapa pun tidak boleh mendekat selama pengiriman berlangsung. Semuanya hampir selesai tapi dia tiba-tiba menerjang masuk dan memelukmu" ujar Dewi Izanami. Hinata masih bingung dan melihat pada Dewi Izanami, lalu melihat sekelilingnya di mana Dewi Ootsutsuki dan beberapa pelayannya sedang melihat pula ke arah mereka, kemudian beralih pada Naruto.
"...Apa...Apa yang terjadi pada Naruto?" tanya Hinata
"Dia menggantikanmu ke sana, tentu saja"
"Apa...lalu tubuhnya?"
"Dia bukan orang yang seharusnya kukirim, karena itu kesalahan, maka hanya jiwanya yang pergi. Dan tidak boleh ada dua orang melewati waktu dalam jarak dekat". Hinata menatap Naruto dengan wajah hampir menangis. Tangan kirinya memegang pipi pemuda itu, berharap dia akan bangun. Hinata memanggilnya, berulang kali, tapi Naruto tidak bergeming sama sekali.
"Dia pasti akan terbunuh dengan sendirinya jika berada di sana. Kalau begitu aku tidak perlu membunuhnya"
"Izanami...lakukan sesuatu, kumohon..." ujar Hinata, wajahnya memelas. Sekarang gadis rubah itu menangis.
"Setidaknya salah satu di antara kalian harus ada yang berakhir dan ternyata itu adalah Uzumaki Naruto. Tapi aku akan datang lagi untuk energi itu" kata Dewi Izanami tanpa mendengarkan permohonan Hinata. Dewi Izanami kemudian kembali bersama empat pelayannya.
Hinata benar-benar menangis sekarang. "Apa yang harus kulakukan?" ujarnya sambil mengusap wajah Naruto. Air matanya jatuh pada wajah pemuda itu. Hinata belum bisa berpikir jernih sekarang. Gadis rubah itu masih terlalu kaget bahkan untuk membawa Naruto masuk ke dalam kuil dan membaringkannya. Dia hanya memeluk Naruto, mengusap wajahnya, begitu berulang kali. Jadi suara tadi bukan hanya perasaannya saja? Naruto memang datang dan memanggilnya namanya. Hinata senang ternyata Naruto datang kembali padanya. Tetapi bukan keadaan seperti ini yang gadis rubah itu inginkan. Jika Naruto sekarang benar-benar berada di masa lalu, pemuda itu pasti akan berada dalam bahaya, karena keadaan masa lalu tidak seperti sekarang, siapa pun bisa saja merampok dan membunuhnya. Naruto bisa saja terbangun di sebuah hutan, tempat yang paling berbahaya di mana ia harus tidak boleh berada di sana. Naruto harus bertemu Ashura untuk melindunginya. Jika tidak, pemuda itu akan selalu berada dalam bahaya setiap saat. Karena Hinata tidak mempercayai siapa pun kecuali Ashura dan Indra. Jika Naruto bertemu Indra, dia pasti akan selamat selama Indra tidak menyadari kalau Naruto adalah reinkarnasi Ashura, sebab Indra tidak membunuh orang-orang yang tidak berkaitan dengannya. Jika Naruto bertemu dengan dirinya di masa lalu, Hinata tidak bisa menjamin keselamatan Naruto. Dahulu dirinya masih sangat tidak menyukai manusia, jadi kemungkinan besar dia akan menyakiti Naruto. Jadi, satu-satunya harapan Hinata jika Naruto benar-benar berada di sana saat ini hanyalah Naruto bertemu dengan Ashura.
OoooO
Aromanya seperti musim gugur.
Mata Naruto bergerak, kemudian perlahan membuka. Hal pertama yang dia lihat saat membuka mata adalah rimbunan pohon-pohon besar yang menghalangi langit terlihat jelas. Naruto merasakan dirinya sedang berbaring di atas dedauan musim gugur. Satu hal yang pasti bahwa ia jelas sedang berada di dalam hutan. Kenapa ia bisa ada di hutan? Kenapa...
"Aaa!" Naruto memekik tertahan sambil berdiri, wajahnya kaget. Pemuda itu lalu melihat sekitarnya, tidak ada siapa pun selalu pepohonan, ranting patah, dan daun yang berguguran. Apa yang terjadi?
"...Hinata?" panggil Naruto sambil melihat lagi sekelilingnya. Apa yang terakhir kali Naruto ingat adalah dirinya sedang berusaha mengentikan Hinata. Ia memeluk gadis rubah itu, lalu ia tidak ingat lagi apa yang terjadi. Kemudian tiba-tiba terbangun di tempat yang bukan halaman kuil Dewi Ootsutsuki. Naruto ingat kalau ia membawa ponselnya.
"Tidak ada signal?!" seru Naruto kaget. Masalahnya, saat ini Naruto tidak bisa memikirkan hal-hal positif lah yang sedang terjadi padanya sekarang. Satu-satunya kemungkinan terburuk yang masuk akal saat ini hanyalah, ia dibawa ke masa lalu atau semacamnya. Tunggu, jika ia yang berada di sini, lalu apa yang terjadi pada Hinata? Apa dia baik-baik saja? Jika hanya ada dirinya di sini berarti Hinata tidak apa-apa dan gadis rubah tetap di kuil Dewi Ootsutuski.
Naruto perlahan berjalan menyusuri hutan sambil memperhatikan apa saja yang ada di sekelilignya. Sepertinya sudah sore karena langit sudah berwarna jingga. Apa yang harus ia lakukan di saat seperti ini? Melihat betapa rimbun dan luasnya hutan ini tidak mungkin rasanya ia akan menemukan jalan keluar dengan cepat. Ia bahkan tidak tahu ke mana arahnya berjalan. Naruto menjadi waspada karena tahu bagaimana keadaan hutan seperti apa. Semua hutan adalah tempat di mana binatang-binatang buas tinggal, dan Naruto tidak membawa senjata apapun untuk melawan. Pemuda itu lalu cepat mencari beberapa potongan kayu yang cukup kuat untuk mempertahankan diri. Ia hanya berharap ada manusia yang lewat hingga ia bisa keluar dari hutan ini. Sambil berjalan kembali dengan sebuah kayu yang cukup runcing di tangan kanannya, Naruto kembali memeriksa ponselnya. Tetapi, jika dia memang berada di masa lalu, tidak mungkin signal akan muncul di layar ponselnya.
Langkah Naruto berhenti ketika menyadari ada sesuatu di belakangnya. Pemuda itu menggenggam kayu di tangannya semakin erat, lalu perlahan berbalik. Seekor anjing berwarna hitam berdiri di sana. Tidak lebih besar dan menyeramkan dari Yamainu atau Inugami, tetapi anjing itu bukan sekutunya, dan juga bukan peliharaan temannya. Anjing hitam itu melihat padanya sambil menggeram, jelas sekali kalau anjing itu ingin menerkamnya. Naruto mengangkat potongan kayu di tangan kanannya ke depan walaupun ia tidak yakin kayu seperti itu bisa menyelamatkan nyawanya, tentu saja tidak bisa, ia butuh sebuah pedang, panah, atau setidaknya pisau.
Anjing hitam itu, entah Yokai anjing atau hanya anjing hutan biasa, yang jelas mereka tetap berbahaya. Anjing berjalan semakin dekat ke arahnya. Naruto baru akan mundur beberapa langkah untuk mengambil kuda-kuda ketika bahkan ia tidak sadar kalau anjing itu sudah berada di atas tubuhnya. Anjing itu melompat ke arahnya sangat cepat, wajah hitamnya berada di atas wajah Naruto sambil menggeram. Naruto menahan kepala anjing itu dengan potongan kayu di tangannya tadi. Sementara matanya mencari dengan cepat sebuah ranting yang cukup kuat, ia butuh ranting untuk membutakan mata anjing itu, setidaknya cara itu bisa mengurangi kecepatan gerak dan pengelihatannya, jadi ia bisa lebih mudah melawan dan menyerang anjing itu.
Naruto meraih ranting kayu yang paling terjangkau dari tangannya begitu ranting itu terlihat dan secepat yang ia bisa, Naruto langsung menusuk salah satu mata anjing hitam itu hingga anjing itu menggeram namun sama sekali tidak bergerak dari atas tubuhnya dan wajah Naruto sudah terkena darah anjing itu sekarang. Naruto hendak menusuk anjing hitam itu dengan potongan kayu di tangannya ketika tubah anjing hitam itu tiba-tiba terjatuh dan menimpanya. Sementara bingung apa yang terjadi, Naruto mendorong tubuh anjing itu menjauh darinya. Pemuda itu lalu melihat dua buah anak panah menancap di punggung anjing hitam itu, tepat ke arah jantung. Naruto mengusap darah anjing itu dari wajahnya sambil bertanya-tanya siapa yang menyelamatkannya? Ketika ia berbalik dan melihat seseorang sedang duduk di atas kuda dengan busur panah di tangannya. Pria itu mengenakan hakama putih dengan sedikit corak warna merah dan kuning di beberapa bagian. Rambutnya cukup panjang hingga dikuncir, mungkin jika dilepas akan mengenai bahu. Bagi Naruto, dia terlihat bukan orang biasa. Dia seperti berasal dari sebuah keluarga yang penting. Pria itu turun dari kudanya, lalu memasang kembali peralatan panahnya di bahu. Dia melihat Naruto dengan wajah curiga cukup lama, sementara Naruto belum berani berbicara apapun, ia takut ucapannya salah.
"Siapa kau?" dia bertanya.
"...Aku tersesat di hutan ini. Namaku...Uzumaki Naruto" jawab Naruto. Pria itu masih melihat penuh curiga pada Naruto. Naruto berpikir, mungkin pakaiannya yang membuat pria itu curiga.
"A-Aku dirampok oleh beberapa orang, barang-barang dan pakaianku diambil, mereka hanya menggantinya dengan pakaian ini" jelas Naruto. Ia mungkin harus berbohong selama berada di sini. Mendengar penjelasannya, raut wajah serius dan curiga pria itu langsung hilang, dan dia tersenyum lebar penuh keramahan.
"Kupikir kau mata-mata dari musuh Kaisar. Aku minta maaf" ucapnya sambil membungkuk sebentar dihadapan Naruto. Naruto balas membungkuk dengan perasaan tidak enak. Suasana hatinya langsung baik-baik saja karena sekarang ia yakin pria itu bukan orang jahat. Dia bahkan langsug percaya kalau Naruto bukan orang jahat.
"Ah, sebelumnya, terima kasih banyak sudah menyelamatkanku" ucap Naruto lalu kembali membungkuk sebentar. Pria itu hanya tersenyum lebar sambil mengangguk. Raut wajahnya sangat ramah, dia bahkan tidak berhenti tersenyum sejak tadi.
"Hutan ini sangat berbahaya, manusia tidak boleh sembarangan masuk ke sini apalagi jika hari sudah gelap" jelas pria itu.
"Tapi anda datang ke sini sendirian, bukankah itu juga berbahaya?"
"Aaah, aku? Mmm...aku ada urusan penting, jadi harus masuk ke hutan" jawabnya setelah sempat berpikir beberapa saat hanya untuk menjawab pertanyaan mudah Naruto. Walaupun dia sendiri yang mengatakan kalau hutan ini berbahaya, dia tetap masuk juga ke dalam hutan, sepenting apakah urusannya itu? Naruto berpikir mungkin ia harus mengikuti pria itu sampai bisa keluar dari hutan ini. Pria itu juga terlihat terampil menggunakan panah, dan ada sebuah pedang yang terikat di atas punggung kudanya. Dia pasti cukup kuat sehingga berani masuk ke hutan sendirian.
"Karena kau tidak tahu jalan keluar dari sini, kau boleh ikut denganku sebentar sampai urusanku selesai. Besok pagi aku bisa membawamu keluar dari sini. Lagipula sebentar lagi gelap. Aku juga akan sulit menemukan jalan keluar jika gelap" tawar pria itu. Dia lalu menuntun kudanya berjalan sementara Naruto yang berada di sampingnya juga ikut berjalan denga perasaan aman.
"Terima kasih, tuan" ujar Naruto ketika mereka sudah mulai berjalan. Pria itu tersenyum dan mengangguk pelan.
"Tidak perlu memanggilku tuan" katanya. Ah, Naruto baru ingat kalau dia belum tahu nama pria itu.
"Namaku Hagoromo Ashura. Panggil saja Ashura, tidak perlu berbicara terlalu sopan padaku"
Langkah Naruto langsung berhenti. Kakinya seakan terpaku di atas tanah yang ia injak. Hagoromo Ashura? Ashura? Ashura yang diceritakan Hyuuga Hinata? Ashura, satu-satunya manusia yang dicintai gadis rubah itu? Tentu saja hanya ada satu Hagoromo Ashura di dunia ini. Jadi, pria itu benar-benar Ashura? Ashura adalah dirinya yang dulu sebelum bereinkarnasi. Seperti itukah dirinya ratusan tahun yang lalu? Tangan Naruto mengepal. Sekarang ia benar-benar merasa sedang bersama dirinya sendiri. Tiba-tiba saja ia merasa melihat dirinya sendiri setelah menyadari pria itu adalah Hagoromo Ashura. Pria itu Ashura. Manusia yang sangat Hinata cintai sampai gadis rubah itu bisa memberikan segala yang dia punya. Baginya, Ashura bahkan terlihat sangat normal dari yang ia bayangkan daripada ketika Hinata menceritakan tentang pria itu padanya. Dia manusia yang sangat normal. Lalu bagaimana Ashura bisa jatuh cinta pada Hyuuga Hinata? Bagaimana manusia normal sepertinya bisa sangat mencintai perempuan yang bukan manusia? Bagaimana dirinya bisa tergila-gila pada Hyuuga Hinata? Naruto hanya menatap punggung pria itu masih mencoba mencari tahu apa sebenarnya yang dipikirkan Ashura. Apa yang dipikirkan dirinya di masa lalu. Apa Ashura bahkan tahu betapa Hinata begitu mencintainya? Apa Ashura tahu apa saja yang Hinata telah lakukan setelah ini demi tetap bersama dirinya? Apa Ashura memikirkan akibat dari semua yang ia lakukan sekarang? Apa yang akan terjadi jika Naruto memberitahu Ashura kalau dia akan bereinkarnasi dan reinkarnasi itu adalah dirinya? Apa yang akan terjadi jika Naruto memberitahu Ashura kalau dia akan mati dan Hinata tertidur selama ratusan tahun untuk menunggunya bereinkarnasi?
"Uzumaki-san? Ada apa? Cepatlah, sebentar lagi gelap" seru Hagoromo Ashura karena melihat Naruto ternyata masih berdiri cukup jauh di belakangnya. Sambil berjalan kembali, Naruto tetap melihat pada Hagoromo Ashura dengan kepala yang dipenuhi banyak sekali pertanyaan. Rasanya ia ingin sekali memberitahu semuanya pada Hagoromo Ashura di sini, sekarang juga.
Naruto masih mencoba mempercayai kalau Ashura yang sekarang sedang berjalan di depannya sambil menuntun kuda adalah benar-benar dirinya di masa lalu. Naruto merasa tidak ada yang mirip di antara, tetapi karena ia merasa kalau Ashura memang adalah bagian dari dirinya yang dulu, namun sekarang telah berubah. Ia seperti sedang bercermin di kaca yang kusam hingga ia tidak bisa melihat dengan jelas dan ada beberapa bagian dari wajahnya yang tak terlihat. Semuanya terlihat sangat tidak masuk akal namun inilah yang sedang terjadi. Naruto sedang tidak bermimpi. Ia hanya kebetulan terbawa melewati dimensi waktu dan sampai ke sini untuk mengetahui sendiri segalanya tentang Hagoromo Ashura dan Hyuuga Hinata di masa lalu. Seperti apa sebenarnya hubungan mereka. Siapa sebenarnya gadis rubah itu bagi Ashura? Naruto sudah mendengar ceritanya dari Hinata dan semua orang yang berkaitan dengan masa lalu mereka. Tapi Naruto belum mendengar langsung cerita Ashura. Ia ingin mendengar dan melihat langsung semua tentang Ashura dan Hinata dari dirinya di masa lalu, yang tidak akan pernah berbohong. Kenapa Hinata yang hanya seekor Yokai rubah dan Hagoromo Ashura yang seorang manusia keturunan klan terhormat dan bekerja langsung untuk Kaisar, bisa saling jatuh cinta? Kenapa mereka yang jelas berbeda bisa saling mempercayai dan jatuh cinta hingga para Dewa bahkan susah untuk memisahkan mereka?
"Tuan rumah yang kita datangi mungkin akan sedikit marah. Jadi, Uzumaki-san, kuharap kau tidak melakukan sesuatu yang akan mengusik perasaanya" kata Hagoromo Ashura.
"Eh? Iya" sahut Naruto.
"Kita hampir sampai" katanya lagi. Naruto melihat sekelilingnya, yang terlihat masih hanya pepohonan tinggi dan semak-semak. Memangnya ada manusia yang tinggal di tengah hutan seperti ini?
"Hagoromo-san...kau penasehat Kaisar, bukan?" tanya Naruto.
"Panggil Ashura saja. Sebenarnya itu pekerjaan Ayahku, aku hanya membantu" jawabnya. Naruto menyesal kenapa ia selalu tidak tertarik dengan pelajaran sejarah di kelasnya. Setidaknya ia bisa tahu garis keturunan Hagoromo dan sebagainya. Ia hanya tahu kalau Hagoromo penasehat khusus Kaisar memiliki dua orang putra dan seorang putri, dan salah satu dari mereka tidak ada yang bernama Hagoromo Ashura. Sejarah tidak mencatat namanya sebagai salah satu dari klan Hagoromo.
"Apa kau memiliki saudara?" Naruto bertanya lagi. Ashura menoleh pada pemuda itu, lalu tersenyum dan menjawab, "Iya, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Aku kakak tertua". Naruto tidak bertanya lagi setelah itu. Bertanya terlalu banyak mengenai keluarga seseorang di awal pertemuan sangat tidak sopan dan sedikit mencurigakan. Ashura bahkan sempat mengiranya sebagai mata-mata dari musuh Kaisar.
Naruto merasa mereka berjalan semakin ke dalam hutan. Lalu, di depan mereka ada pepohonan yang entah kenapa tumbuh membentuk sebuah lingkaran yang jika dilihat lebih jelas, sengaja dibedakan untuk memberi tanda kalau di antara pepohonan yang tumbuh itu ada sebuah pondok kecil yang semuanya terbuat dari kayu. Naruto melihat sebuah pondok kecil yang seakan dilindungi oleh pepohonan yang tubuh membentuk sebuah pagar tak rapi. Siapa yang membangun pondok seperti itu di tengah hutan dan bahkan tinggal di dalamnya?
"Kita sampai" kata Ashura lalu mengikatkan tali di leher kudanya pada sebuah pohon kecil yang tak jauh dari pintu pondok itu. Naruto masih berdiri di depan kuda itu sambil memandangi pondok kecil yang terbuat dari kayu itu. Ia belum bisa memikirkan kemungkinan siapa yang Ashura datangi sampai rela masuk ke dalam hutan yang berbahaya seperti ini. Katanya, ada urusan penting. Sementara itu, Ashura melihat-lihat sekitar pondok, seperti sedang mencari seseorang. Kenapa ia tidak mengetuk pintu dan memanggil tuan rumahnya saja?
"Sepertinya dia sedang tidak ada di rumah" gumam Ashura. Naruto hendak menyahut gumaman pria itu ketika sebuah suara yang sangat keras tiba-tiba terdengar sangat dekat di telinganya.
"ASHURA?!"
Naruto tanpa sadar langsung mundur dengan cepat begitu seekor rubah berwarna putih melompat di antara dirinya dan Ashura. Rubah putih dengan enam ekor yang tingginya hampir menyamai Naruto. Naruto kenal rubah putih itu. Naruto sangat mengenalnya. Naruto mengingatnya. Itu adalah wujud asli Hyuuga Hinata. Naruto melihat pada Ashura yang hanya tersenyum melihat rubah besar itu. Lalu, rubah itu perlahan berubah mencari manusia perempuan yang tidak lain memang Hyuuga Hinata. Naruto tertegun. Ia merasa sedang melihat Hinata yang berbeda. Hinata yang ini, wajahnya berseri dan pipinya memerah. Tak ada kesedihan yang terlihat di mata itu. Apakah rasanya begitu bahagia berada di sisi Ashura, Hinata? Naruto yakin kalau dirinya hampir saja menangis melihat Hinata kalau saja Ashura tidak segera berbicara.
"Aku datang...lagi" ujarnya, lalu tersenyum lebar. Ashura tahu kalau Hinata pasti marah karena ia datang ke sini sendirian dan tanpa memberitahunya, karena itulah dia tersenyum selebar mungkin. Wajah Hinata memang terlihat marah, namun gadis rubah itu tidak bisa menyembunyikan bahagianya dengan pipi yang memerah dan senyum yang perlahan mengembang itu. Naruto melihat mereka hanya terpaku di tempatnya. Tidak tahu dan tidak yakin harus mengatakan apa. Bahkan dari jaraknya, ia bisa melihat bahwa Ashura dan Hinata memang saling jatuh cinta.
Hinata baru akan berbicara ketika gadis rubah itu tiba-tiba membalikan tubuhnya dan melihat pada Uzumaki Naruto, seakan dia baru sadar kalau ada orang selain mereka berdua di sana.
"Siapa manusia aneh ini?" dia bertanya pada Ashura dengan nada dingin. Ketika melihat manusia lain, Hinata jauh lebih menyeramkan saat ini daripada tiga ratus tahun kemudian. Jelas sekali bahwa dia belum terlalu terbiasa dengan orang lain. Hinata menatap Naruto penuh curiga. Beberapa saat yang lalu ia tidak merasakan kehadiran orang lain kecuali Ashura. Ia hanya mencium bau Ashura dan seekor anjing hutan, karena itulah Hinata memanggil Ashura begitu keras tadi. Pemuda berambut kuning itu memiliki bau yang sama dengan Ashura.
OoooO
[to be continued]
PS: Maaf karena baru memposting chapter 11 setelah 4 bulan (mungkin) hilang. Ada banyak alasan salah satunya karena saya mhs tingkat akhir jd sedikit sibuk. Tapi saya akan tetap usahakan utk memposting 1 x sebulan.
