Chap 10
It's time to know the Truth
"Sudah tenang? Ingin cerita?" Setelah berpelukan selama 10 menit, Dongho pun sudah kembali tenang dan dengan sabar Yebin mengusap surai hitam milik pria itu.
"Sepertinya aku akan berhenti sekolah disini."
"Kenapa? Karena Daehwi?" Yebin dapat melihat ada raut tak nyaman dari Dongho saat ia menyebut nama Daehwi.
"Jika kau merasa bersalah maka minta maaflah dan lupakan semua yang pernah terjadi pada kalian berdua."
"Itu tak semudah yang kau kira. Aku tak bisa berada di dekat laki-laki itu lagi."
"Kenapa? Karena kau terlanjur jatuh cinta padanya?" Dongho tak dapat menjawab pertanyaan itu, karena itu juga masih jadi pertanyaan untuk dirinya sendiri. Dia tak begitu yakin dengan perasaannya sekarang.
"Kau tidak lupakan siapa aku ini? Aku bisa merasakan apa yang kau rasakan Dongho."
"Tapi aku tak ingin menyukainya Yebin. Aku benar-benar tak bisa berhenti membencinya." Sang gadis hanya menghela nafasnya lelah, menasehati manusia ini mungkin tak akan ada habis nya. Mungkin juga bukan salah Dongho, toh Daehwi juga melakukan sebuah kesalahan besar pada pria di depannya itu.
"Apapun itu aku tak peduli. Yang terpenting adalah jangan pernah berhenti sekolah." Setelah itu Yebin melangkahkan kaki nya untuk menuju pintu keluar. Tapi tepat di depan pintu dia kembali berbalik ke arah Dongho. "Jika kau nekat berhenti sekolah, aku tak akan mengakuimu sebagai kembaranku lagi!"
"Hey aku lebih tua 40 menit dari mu!" Namun teriakan Dongho itu berakhir sia-sia karena Yebin sudah menuruni tangga untuk kembali ke kelasnya. Dongho pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah adik kembarnya itu. Ya, mereka memang kembar. Tapi keduanya memutuskan untuk menutupi fakta ini, kecuali kepada teman-teman Dongho yang sudah mengetahui hal tersebut karena mereka sering ke rumah Dongho.
Kedua orang tua sudah mereka menginggal sejak 10 tahun lalu karena sebuah kecelakaan tunggal. Padahal saat itu ibu nya tengah mengandung anak ketiga nya. Hal itu membuat Dongho dan Yebin di asuh oleh nenek mereka, namun saat SMA mereka memutuskan untuk pindah ke Seoul, dan tinggal di sebuah apartement berdua.
Hubungan keduanya memang tak begitu baik sebagai sepasang saudara kembar, namun mereka tak bisa menutupi fakta bahwa mereka memiliki ikatan batin yang begitu kuat sehingga mereka bisa merasakan perasaan satu sama lain.
-School 2016-
Pukk
Wonwoo menatap sebuah benda yang baru saja mendarat di meja nya. Tangan nya mengambil benda yang ternyata adalah sebuah makalah, kemudian menatap sang pelaku pelemparan.
"Itu makalah kita. Aku sudah menuliskan nama mu di dalam nya. Dan tugasmu adalah mengumpulkannya." Tanpa mendengar pertanyaan Wonwoo, Mingyu pun menjelaskan nya panjang lebar. Bahkan murid lain yang berada di kelas itu tercengang karena, yang benar saja! Tugas itu baru di berikan kemarin, dan Kim Mingyu sudah selesai mengerjakannya.
"Tapi kau seharusnya mendiskusinya materinya dengan ku. Bagaima-"
"Aku tak perduli terserah kau mau berpikiran apa. Yang penting makalahku harus sampai ke meja Kahi Ssaem. Jika tidak, aku akan menghabisi mu." Mingyu meninggalkan Wonwoo dan kembali duduk di bangku nya dengan tenang. Dia bahkan tak terganggu dengan tatapan mengutuk dari Wonwoo. Untunglah Wonwoo sedang tak niat bertengkar, dan Wonwoo pun mematuhi ucapan Mingyu tadi. Pria emo itu membawa makalah pemberian Mingyu itu untuk di kumpulkan kepada guru Kahi.
Skip
"Siapa yang mengerjakan nya? Kau? Atau Mingyu?" Kahi membalik setiap lembar makalah yang ada di tangannya itu.
"Kami."
"Baiklah. Aku terima ini. Kembali lah ke kelas mu." Wonwoo menundukkan tubuhnya kemudian pergi meninggalkan sang guru.
Kahi membaca makalah tersebut. Baru membaca beberapa kalimat saja dia bisa tahu siapa yang menulis makalah itu. "Seharusnya dia bisa berakting lebih baik."
-School 2016-
"Hey kemari kau!" Jongin yang merasa di panggil oleh seorang guru itu malah meneruskan langkahnya tanpa menoleh sedikit pun.
"Kim Jongin!" Di panggilan kedua pun ia masih tak berhenti juga.
"Baiklah. Aku akan mengalfa mu selama satu semester."
"Ssaem!! Kau tak bisa berbuat seperti itu?!" Kini giliran Jongin yang berteriak kesal di depan sang guru. Namun guru olahraga itu tidak mengindahkan nya sedikit pun.
"Kau tak lihat?! Ini! Aku memakai earphone ssaem, maka dari itu aku tak bisa mendengarmu." Alibi nya.
"Teknolgi canggih apa ini? Mendengarkan lagu tanpa musik?" Guru olahraga itu menarik kabel earphone yang ternyata tidak terhubung dengan apapun.
"Maaf hehe... aku sedang terburu-buru."
"Ya sudah. Ku maafkan kau kali ini. Nah... cepat bawa ini ke lapangan basket." Jongin menatap nanar 2 buah jaring berisi 6 bola basket di masing-masing jaring nya.
"Aku akan memanggil seseorang untuk membantu-"
"Tidak tidak! Bawa sendiri! Jangan minta bantuan dari orang lain. Dan sebaiknya kau bergegas, karena bolanya akan aku gunakan untuk kelas selanjutnya." Dengan seenaknya guru itu melenggang pergi meninggalkan Jongin yang masih meratapi bola-bola itu.
Setelah berpikir selama beberapa sekon, Jongin pun memutuskan untuk menyeret 2 jaring itu dengan susah payah. Murid-murid yang melihatnya hanya lewat begitu saja, tanpa menawarkan bantuan sedikit pun.
"Dasar guru gendut! Bagaimana mungkin orang gendut sepertinya bisa menjadi guru olahraga?! Sialan."
"Dorr!"
"Yak!"
Bukk bukk bukk
"Hentikan Jongin! Hentikan!" Bukan nya menghentikan pukulannya, Jongin malah semakin kencang memukul pria caplang itu.
"Biarkan saja! Biar kau tau rasa. Tanganku sudah sangat pegal, dan kau malah mengagetkan ku Park!"
"Baiklah. Berhenti memukuli ku, maka aku akan membantu mu untuk membawa bola-bola basket itu." Jongin segera menarik tangannya sebelum Chanyeol berubah pikiran. Dengan senang hati ia memberikan satu jaring lainnya kepada Chanyeol.
"Ayo!"
"Dasar. Mood mu benar-benar gampang berubah eoh?" Jongin memberikan senyum termanis nya pada pria itu.
Kris baru saja keluar dari ruang guru. Namun sebuah pemandangan menangkap perhatian nya. Itu adalah Jongin dan juga Chanyeol, teman sekelasnya. Mereka terlihat begitu senang, bahkan Kris dapat melihat nya dari balik punggung keduanya.
'Kemarin Oh Sehun, sekarang Park Chanyeol?' Menepis pikiran nelangsa nya, Kris memutus kan untuk pergi ke arah sebaliknya untuk menghindari pemandangan menyakitkan mata itu, meski jarak ke kelasnya lebih jauh jika melewati jalan ini.
-School 2016-
Tidak seperti hari sebelum nya, hari ini Seongwoo pulang lebih awal. Biasanya dia akan pulang saat tengah malam karena mampir ke rumah Dongho ataupun Daniel. Tapi kali ini dia pulang tepat waktu, dan itu menjadi sebuah pemandangan baru bagi Jonghyun serta ibu tiri nya.
"Kau pulang lebih awal Seongwoo?"
"Kau buta? Lalu kau pikir aku ini apa? Mimpi?" Senyum yang awalnya menghiasi bibir sang ibu tiri pun luntur seketika. Namun wanita itu kembali tersenyum seperti tak pernah mendengar penuturan buruk dari Seongwoo.
"Maafkan aku. Kau ingin makan malam apa hari ini? Ibu akan membuatkan makanan spesial untuk mu."
"Tak perlu sok baik dengan ku. Aku tak sudi makan makanan buatan mu. Dan jangan panggil dirimu dengan sebutan ibu jalang, karena sampai kapan pun kau tak akan jadi ibuku." Jonghyun berusaha menahan amarahnya, ia tak terima ibu nya di lecehkan seperti itu. Namun dia tak bisa berbuat apapun.
"Ah... sepertinya kau sangat lelah. Istirahatlah." Jonghyun bisa melihat setetes air mata ibu nya saat ibu nya berbalik, dan Jonghyun sudah kehabisan kesabarannya.
Buaghh
"Jonghyun! Apa yang kau lakukan nak?" Setelah memberikan pukulan nya pada pipi Seongwoo, tubuh Jonghyun segera di tahan oleh sang ibu. Sementara Seongwoo sudah jatuh terbaring di lantai.
"Kau marah karena ibu mu ku sebut jalang hah?" Seongwoo tersenyum remeh.
"Kau boleh menghina ibuku sepuasmu. Tapi jika kau membuatnya menangis, maka aku lah yang akan membunuhmu."
"Jonghyun tenanglah..."
Seongwoo bangkit dan mendekatkan tubuh nya dengan Jonghyun, lalu berdesis tajam, "Kalau begitu pergilah dari rumah ku sialan! Berhenti jadi benalu di keluarga ku!"
"Kau ingin tau apa itu benalu? Baiklah akan ku beritahu kau!"
"Jonghyun hentikan!" Jika dalam kondisi normal, Jonghyun pasti akan segera menuruti perkataan ibu nya. Namun amarah begitu menguasainya, sehingga ia tak peduli dengan kondisi di sekitarnya.
"Bayangkan jika ada sebuah keluarga harmonis dengan anggota keluarga yang lengkap. Lalu datanglah seorang pria asing yang masuk dan menggoda sang wanita dengan trik mengenang masa lalu. Dan dengan seribu satu caranya si brengsek itu membuat si wanita membenci suami nya sendiri, hingga akhirnya mereka bercerai. Itu lah yang pantas kau sebut BENALU bajingan!"
"Jonghyun! Ibu bilang hentikan!" Jonghyun pun akhirnya kembali sadar. Berangsur-angsur amarahnya mereda. Tapi dia tidak menyesali kalimat yang telah ia keluarkan. Seongwoo pantas mengetahui hal yang sebenarnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Seongwoo linglung. Perasaan nya mendadak tak enak. Jangan-jangan si brengsek yang dimaksud Jonghyun disini adalah-
"Jangan pikirkan kata-kata Jonghyun, Seongwoo. Dia sedang emosi jadi lebih baik kau lupakan apa yang telah ia katakan." ibu Jonghyun segera menarik Jonghyun untuk masuk ke kamarnya.
"Apa yang sebenarnya terjadi disini?" Monolog Seongwoo saat Jonghyun serta ibu tiri nya sudah pergi dari ruang tamu.
'Aku akan mencari tahu nya.'
Tbc
note: mumpung ide ngalir. jadi fast update. jangan lupa komennya yah...
