Persona 4: Memories of You…

Hmm, terlalu banyak humor aneh di chap-chap sebelumnya. Waktunya untuk serius mulai chap ini.

LvNa-cHaN : Nephilim itu sebagai char pelengkap. Dia nggak ikut ke Port Island krn author kehabisan biaya transportasi. Hahahaha, bercanda! Dia bakal muncul lagi mungkin di chap 12 ato 13. jadi tenang aja. Aq beri bocoran deh. Nephilim itu selalu ada di sekitar Souji, mengawasi Souji karena itu merupakan tugas utama Nephilim.

____________________________________________________________________________________________________________________________

Pernahkah kau bertanya pada dirimu sendiri…

Mengenai siapa dirimu yang sebenarnya…

Dan sudahkah kau tahu siapa dirimu?

-Souji Seta-

----------

Lounge

----------

"Jadi, apa kalian bersedia membantu kami?"

Team SEES tetap terdiam. Mereka tampak berpikir keras. Mempertimbangkan baik dan buruknya. Nyx adalah masa lalu mereka. Dan sekarang Nyx datang kembali walaupun hanya melalui mimpi seseorang yang bahkan tidak mereka kenal dan tiba-tiba saja datang dan mengembalikan masa lalu yang kelam itu kembali. Nyx adalah masa lalu yang ingin dilupakan, dihancurkan, dan dimusnahkan tanpa bekas dari ingatan mereka. Namun datang seorang pemuda aneh yang membangkitkan kembali ingatan lama itu.

"Souji-kun, kami…tidak bisa!" jawab Mitsuru tegas.

Bahkan sebelum Souji dkk sempat bertanya, Yukari sudah menjawab seolah-olah tau apa yang akan mereka tanyakan.

"Souji-kun, ini adalah pertarungan kalian. Bukan lagi pertarungan kami. Jika kami ikut serta dalam misi kalian…kami benar-benar tak bisa. Terlalu banyak kenangan buruk di masa lalu kami." Yukari tersenyum sedih. Wajahnya yang manis itu menunjukkan banyak kesedihan yang pernah ia alami dalam hidupnya. Begitu juga dengan mantan SEES yang lain.

"Jika kami kembali mencampuri urusan Nyx, kami pasti akan teringat kemnbali pada 'Dia'. Itu sebabnya kami menolak permintaanmu. Maaf."

Yosuke ikutan tersenyum sedih, namun masih memperlihatkan ketegasan. "Apa kalian mau menyerah sampai di sini? Apa kalian ingin melupakan 'dia' begitu saja setelah apa yang kalian lalui bersama dengan 'dia' yang kalian maksud itu?!"

"Kalian tidak mengerti perasaan kami! Bukan, tapi kalian tidak akan PERNAH bisa mengerti perasaan kami!" Seru Yukari. Air matanya mulai menetes.

"Kami tak ingin kehilangan lagi. Jadi aku mohon. Jangan paksa kami lagi." Sahut Mitsuru lemas. Yosuke masih terlihat belum puas dengan hasil yang sudah di depan mata, bahwa team SEES menolak permintaan Souji. namun ia segera mengurungkan niatnya untuk memaksa begitu Souji berdiri.

"Aku mengerti. Kami tidak akan memaksa. Tapi asal kalian tahu, kami selalu menantikan bantuan kalian. Kalau begitu, kita akhiri pembicaraan ini di sini saja. Selamat malam." Begitu selesai berbicara dan membungkuk memberi hormat, si rambut abu-abu itu langsung beranjak menuju ke tangga. Bermaksud ingin menuju ke kamarnya.

"Tunggu!" langkah Souji terhenti ketika seorang cewek mengejarnya di dekat tangga. Souji masih belum berbalik memandang si cewek, walaupun ia tahu siapa cewek itu.

"Siapa kamu yang sebenarnya, Souji-kun? Dari tatapan matamu, aku tahu kau bukan orang biasa seperti teman-temanmu yang lain." Mendengar ucapan gadis itu, Souji berbalik menghadap sumber suara.

"Yukari-senpai, aku sendiri tak tahu. Belakangan ini…rasanya seperti ada orang lain yang hidup di dalam diriku. Bahkan aku tak tahu siapa dia. Mengenai permintaanku tadi. Aku ingin senpai memikirkannya lagi. Dan, jangan pernah lari dari ketakutan anda sendiri, senpai. tapi, hadapi rasa takut itu." Selesai bicara, Souji langsung beranjak ke kamarnya di lantai 2. Sekarang hanya Yukari seorang yang ada di dekat tangga. Termenung-menung dengan ucapan Souji tadi. "Dan, jangan pernah lari dari ketakutan anda sendiri, senpai. tapi, hadapi rasa takut itu."

--------------------

Souji's Bedroom

--------------------

Si pemilik kamar yang baru itu berbaring di ranjangnya. Rasanya lelah sekali, berharap ia bisa cepat tertidur. Dalam hati Souji masih terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Hal ini sangat sulit bagi Souji, sejak ia tak punya shadow yang bisa mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya. Kadang ia sempat merasa iri pada anggota-anggotanya yang semuanya punya Shadow masing-masing. Ia juga ingin mengenal siapa dirinya.

"Mencari tahu siapa dirimu yang sebenarnya?" Suara itu muncul lagi dalam benak Souji.

"Ya. terlalu banyak misteri di depan mata. Nyx, kau, Nephilim, dan masih banyak lagi. Baiklah, kita mulai dari…Siapa kamu?"

"Aku? Akhirnya kamu menanyakan siapa aku! Ini yang kutunggu-tunggu!"

"Iya, siapa kamu? Kenapa bisa berkomunikasi denganku? Bahkan mengendalikan badanku sesuka hatimu."

"Aku…tamu Velvet Room sebelum kamu. Minato Arisato."

Souji langsung terduduk di ranjangnya begitu ia mendengar nama itu. Nama yang pernah disebutkan Elizabeth waktu pertama kali ia bertemu Elizabeth di Velvet Room.

"Senang kau ingat padaku. Akulah orang yang meng-seal Nyx"

"A-apa?! Nyx?!"

"Ayolah, jangan sepanik itu. Dan aku penasaran…apa yang paling kau takutkan selama ini. Kau tak pernah menunjukkannya pada siapapun…bahkan kau membuang rasa takut itu jauh-jauh dan menganggap semua ketakutanmu itu tak pernah ada. Kamu menolak 'shadow' mu sendiri, Souji-kun!" Suara Minato yang samara-samar itu terdengar membentak Souji.

"Shadow? Apa kamu itu 'shadow' ku, Minato-san?"

" Aku bisa tahu segala sesuatu tentang dirimu karena aku tinggal di dalam dirimu…untuk saat ini. Nyx telah kembali ke dunia ini."

Souji kembali merebahkan tubuhnya ke ranjang empuk itu, mencoba memejamkan mata. Tapi, suara Minato selalu menggema di pikirannya. Suara-suara itu tak pernah berhenti menggema.

"Kenapa Nyx kembali lagi? Bukannya kamu sudah menjadikan dirimu 'seal' supaya manusia tak dapat mencapai Nyx?"

"Aku gagal meng-seal Nyx selamanya. Karena itu, aku butuh bantuanmu..."

---------------------------------

24.00 (Midnight…)= raining

---------------------------------

Akihiko dan Mitsuru yang sedang duduk-duduk tenang di command room beserta anggota SEES yang lain langsung menatap layar TV di ruangan tersebut dengan bertanya-tanya. Itukah Midnight Channel? Baru pertama kali mereka menyaksikan tayangan Midnight Channel yang tampilannya masih buram dan menunjukkan seorang pemuda yang berdiri di sana. Wajah pemuda itu tak bisa dibaca dengan jelas siapa dia. Tak lama tayangan itu berakhir.

"Mitsuru-senpai, apakah tayangan itu yang mereka maksud dengan Midnight Channel?" Tanya Yukari sedikit merinding.

Mitsuru tertunduk lesu. "Ya. itu tadi pasti Midnight Channel. Tapi, pemuda yang ada di TV itu siapa? Apa diantara kalian ada yang mengenalinya? Atau mungkin malah pernah bertemu dengannya?"

"Nggak, nggak pernah tuh. Ya kan Koro-chan?" Kata Junpei masih dengan gaya khasnya. Koro-chan membalas menggonggong.

"Mitsuru-senpai, atau mungkin sebaiknya kita Tanya mereka saja. mereka kan jauh lebih tahu dari pada kita. Aku yakin mereka akan menjelaskannya pada kita." Usul Fuuka.

"Tak perlu cemas. Kami sudah ada di sini untuk memulai penyelidikan kami." Suara itu berasala dari Investigation Team yang sudah berdiri di ambang pintu. Mereka melangkah mendekati layar TV yang cukup besar di command room. Team SEES masih diam saja melihat tingkah para persona-user selain mereka.

"Kalian ini…sedang apa di sini?" Tanya Akihiko berjalan mendekati Yosuke. "Mana leader mu?"

"Hmmm, hei, Chie! Souji mana? Kok dia nggak ada?!" barulah Yosuke sadar.

Chie langsung berwajah pucat. "Eh, tadi waktu aku mengetuk pintu kamarnya…dia tidak menyahut. Tak ada jawaban. Mungkin dia sudah tidur?"

"Chie-senpai, mukamu jadi seputih kertas begitu. Kenapa senpai?"

"Kanji-kun…aku…umm…khawatir. Pemuda yang kita lihat di TV tadi…"

Team SEES langsung berdiri tegak. "Apa kalian menonton siaran tadi juga?"

Anggota Investigation team mengangguk pelan. "Kalau begitu pemuda yang berada di dalam TV itu adalah korban selanjutnya? Benar begitu?" dan lagi-lagi anggota Investigation Team mengangguk pelan. Chie menjerit begitu sebuah ide terlintas di benaknya. "Tapi, bagaimana bisa?! Maksudku, Izanami sudah dikalahkan bukan? Kenapa Midnight Channel masih menayangkan korban yang akan masuk ke TV selanjutnya?! Kalau bukan Izanami, siapa lagi pelakuknya?!"

Rise menyahuti. "Hei, atau mungkin bukan hanya Izanami yang jadi pelaku utama. Mungkin masih ada pelaku yang lain? Tapi siapa? Toru Adachi?"

"Bukan. Fasilitas penjara tidak menyediakan TV bagi para nara pidana di Inaba. Mustahil dia bisa membuat siaran TV itu kembali." Timpal Naoto. "Rise-chan, Teddie, tolong bangunkan Senpai! segera!"

"Baik!!" jawab mereka berbarengan dan segera ngeloyor pergi.

"Mitsuru-senpai, menurutku…pemuda yang ada di tayangan TV barusan itu mirip dengan Minato-san." Kata Aigis tiba-tiba.

"Aigis, kau pasti salah lihat. Pemuda yang ada di TV itu pasti bukan Minato."

Aigis masih yakin pada pendiriannya bahwa yang dilihatnya di TV itu adalah Minato. Minato Arisato, pemuda yang ia paling rindukan kehadirannya selama ini. Aigis tak pernah bisa lupa wajah Minato yang sudah banyak terekam dalam memorinya. Gadis robot itu yakin kalau ia tak salah lihat. Pemuda yang ada di TV pasti Minato! Yukari menghadap Aigis dengan penuh kesedihan di matanya. Yukari bisa memahami perasaan Aigis. Ia tahu apa yang Aigis rasakan. Karena ia juga merasakan hal yang sama. "Aigis, kamu masih belum bisa melupakannya ya?"

"Yukari-san, aku tak pernah bisa melupakan Minato-san. Dia…sangat berarti bagiku. Aku bahkan tak pernah ingin melupakan dia." Kini Suara Aigis yang aslinya robotic berubah lembut seperti manusia asli, seperti robot yang memiliki perasaan. "Minato-san sudah melakukan banyak hal yang penting untuk kita semua. Apa kalian ingin melupakannya begitu saja?! Dia sudah memberikan hidup yang baru pada semua orang, apa kita pantas melupakannya begitu saja?!! apa kalian masih ingin terus-terusan menolak kenyataannya?!" Aigis mulai terbawa amarahnya yang muncul tiba-tiba.

"Aigis…kami tak ingin lari dari kenyataan. Tapi kami tak sekuat itu menghadapi kenyataannya. Jadi…" kata Akihiko lirih.

"Kalau terus-terusan begini, itu artinya kita menolak Minato-san!" bentak Aigis.

BRAAAKKK!!! Pintu command room terbuka selebar-lebarnya karena ada dua orang yang meluncur masuk dari balik pintu. Rise dan Teddie tampak ngos-ngosan. Nafasnya tak beraturan, seperti orang yang tak menghirup oksigen selama 1 jam. "Sensei…" Teddie mulai bicara walaupun tersengal-sengal. "Sensei…"

"Souji kenapa?!" Yosuke mulai panik.

"Sesei hilang, nee!!!! Sensei hilang!!!!" teriak Teddie masih dengan nafas tersengal-sengal.

Rise mulai mengatur nafasnya. "Pi…Pintu*hosh*…kamarnya…*hosh*awalnya terkunci. Jadi kami…*hosh* dobrak saja. tapi…*hosh* dia nggak ada!"

Semua yang ada di command room langsung terlonjak, termasuk team SEES. "Jangan bialng kalau…pemuda yang ada di TV itu Souji-kun?!!!" jerit Yukiko. SEES ikutan panik. Entah sejak kapan mereka jadi ikutan peduli. Walaupun dalam hati mereka masing-masing sudah tertanam kalimat 'pertarungan itu pertarungan mereka'.

"Ayo cepat susul dia! Tunggu apalagi?!" bentak Yosuke, wajahnya terlihat kaku dan tegang. Ia tak tahu harus berbuat apa kalau Souji kenapa-napa. Segala tindakan dan segala sesuatu yang ada di pikirannya kacau balau. Teddie dengan cepat menahan Yosuke yang kalap melangkahi TV super besar yang ada di balik punggungnya. "Yosu! Jangan, nee!!! Kita tidak tahu di mana kita akan tiba kalau lewat TV di tempat berbeda, nee!!!"

Yosuke berusaha melepaskan cengkraman Teddie yang begitu kuat mengikat tubuhnya walaupun Teddie berpostur tubuh kecil. Usaha Teddie mencegah Yosuke masuk ke dalam TV berakhir gagal, taoi tak sepenuhnya gagal walaupun Yosuke berhasil membuat Teddie terpental. Kanji berhasil dengan sukses menghadang Yosuke, bahkan begitu senpainya menabraknya ia sama sekali tak bergerak sedikit pun.

"Teddie, kamu tuh kurang gemuk. Urusan menenangkan Senpai serahkan saja padaku!"

Yosuke mengernyitkan dahi mendengar Kanji. hatinya semakin marah dan jengkel. "Kalian ini…apa kita harus kembali ke Inaba dulu untuk menolong Souji?! Apa kalian akan membiarkan Souji terbunuh begitu saja?!"

"Bukan begitu, Senpai! tapi apa senpai tahu tempat apa yang ada di dalam sana?! Bagaimana kalau tempat itu sangat berbahaya?!" sambar Rise cepat menunjukkan betapa berbahayanya tindakan senpainya itu. Yosuke masih menggeram kesal, tapi akhirnya ia memutuskan menyerah dari usahanya melarikan diri untuk masuk ke TV.

"Kita tidak bisa masuk ke dalam sana tanpa persiapan apa-apa, nee!! Ingat, kita tidak membawa senjata apapun ke sini, nee!"

"Benar juga. Meskipun aku bawa kipas, tapi yang lainnya…" celoteh Yukiko dengan nada yang semakin rendah. Mengingat kipas adalah hal yang paling mudah dibawa selain kaki.

"Aku tak butuh senjata lain. Aku sudah ada kaki yang siap manghantam shadow-shadow sialan itu!!" dari gaya bahasa Chie, ia sudah terkontaminasi oleh virus kasar Kanji. Anggota Investigation team langsung menghadap team SEES yang masih menatap mereka horror.

"Mitsuru-senpai, apa ada senjata semacam…pistol, bangku, sepatu, dan pisau dapur?"

Mitusuru dkk langsung sweatdropped. Bangku? Bangku dijadikan senjata?! Lalu…sepatu. Apa mereka memakai sepatu untuk melempari para shadow? Gadis berambut merah itu langsung menepis segala pikiran anehnya itu dan kembali mengingat-ingat kalau mereka pernah punya senjata semacam itu atau tidak. Dan dengan sepakat semuanya menjawab. "Hanya ada pisau dapur dan sepatu. Apa itu saja sudah cukup?"

"Oh, terima kasih. Itu sangat membantu. Nah, semuanya bersiap-siap!" Naoto memberi aba-aba pada teman-temannya untuk mulai memasuki TV. Aigis yang dari tadi hanya menonton langsung menyahut segera, tepat sebelum mereka semua benar-benar masuk TV.

"Tunggu!!" teriak Aigis, berharap semuanya berhenti bergerak sejenak. Dan harapannya terkabul. "Izinkan aku ikut kalian ke dalam dunia TV, aku mohon!" ia membungkuk untuk menunjukkan kesungguhan hatinya. Berharap kembali ia bisa diperbolehkan ikut.

Akihiko melangkah mendekati Aigis, masih dengan menggantungkan jas nya di pundaknya. "Kau yakin, Aigis? Uh, maksudku…Leader?"

Aigis mengangguk dengan penuh yakin. "Ya. aku ingin tahu kebenaran lain mengenai Nyx."

"Kalau begitu aku juga ikut denganmu, leader!" Yukari tersenyum lemah, tak menyangka kalau ia akan bertarung melawan shadow lagi seperti dulu. Aigis benar. Ia tak perlu melarikan diri selamanya dari kenyataan yang ada. "Ayo kita Bantu mereka! Kita tunjukkan seberapa hebatnya kita!"

"Aku setuju dengan, Yuka-tan!! Let's crush the shadows and kick their ass!!" seperti biasa, Junpei langsung asal berseru tanpa pikir panjang lagi. Mitsuru ikutan tersenyu dingin. "Sudah lama kita melupakan kehidupan kita yang dulu. Waktunya melatih kembali kemampuan lama. Baiklah, kami semua akan ikut bergabung dengan kalian."

-----------------

Inside the TV

-----------------

Hal pertama yang menjadi kesan pertama team SEES adalah takjub. Tak pernah terpikirkan oleh mereka kalau TV yang selama ini mereka gunakan untuk mengintai itu bisa dimasuki. Dan di dalamnya berisi kabut kekuningan yang cukup tebal. Tampi, team SEES bisa melihat dengan normal walaupun tanpa pakai kacamata khusus sekalipun. Mereka jatuh berdebuman di lantai yang keras. Lebih tepatnya mereka jatuh di tempat asing. Investigation team yang sudah terbiasa dengan hal ini, sementara team SEES masih mangaduh-aduh kesakitan begitu salah satu bagian tubuh mereka menyentuh lantai.

"SIAL! Pantatku akit sekali! Aww!!" Junpei terus-terusan mengeluh seraya mengelus-elus pantatnya. Yukari malah nyengir waktu menimpa Mitsuru. Sementara Akihiko sesak nafas karena tertindih Mitsuru dan Yukari. Ken juga jatuh secara kasar. Hanya Aigis yang jatuhnya paling menakjubkan. Aigis memutar badannya dengan kaki dibawah sebelum menyentuh lantai. Dan begitu tiba di lantai, kakiknya tertekuk sedikit lalu berdiri kembali.

"Wow, gerakan yang bagus, Aigis-san! Bisa ajarkan gerakan itu padaku di lain waktu? Aku ingin bisa jatuh secara professional sepertimu!" Chie tepuk tangan, merasa tertarik dengan gerak Aigis yang gesit. Ia menganggap gerakan tersebut merupakan gerakan dasar kung-fu. Makanya Chie sebegitu tertariknya.

Yosuke menarik Chie yang masih terpesona ke dekatnya. "Ayolah, sekarang bukan waktunya 'kung-fu show time!', sekarang semuanya bergantung pada Teddie dan Rise-chan. Bisa tolong deteksi lokasinya?"

Teddie mulai mencium bau disekitarnya. Ia berkeliling di antara anggota SEES karena mencium bau. "*sniff*…*sniff*…hmm…baunya enak….*sniff*…*sniff*…Rise-chan, bisa beritahu aku bau enak apa ini, nee?"

Rise menghela nafas panjang. "Itu bau coklat, Teddie. Sudahlah, seseorang sudah mencemari penciumanmu dengan bau coklat."

"Eh, maksudmu coklat ini?" Junpei mengeluarkan coklat batang yang sudah dimakan separuh dari kantong celananya. Teddie menggeram marah. "Grrrr…coklat itu mengganggu sekali, nee!! Sini, biar kumakan saja, nee!" tanpa menunggu detik berikutnya, coklat itu sudah musnah dari genggaman Junpei.

Mata Junpei mendelik mengetahui coklatnya ludes dimakan beruang rakus yang ada di hadapannya. Dalam sekali gigit, coklat itu musnah! Yukiko tertawa, diikuti Fuuka yang dari tadi terus diam. "Teddie, kamu ini…hahaha…tetap saja…ehehehe…ra…ahahahaha…rakus!" celoteh Yukiko di tengah tawanya yang semakin lama semakin meledak.

"Aku bisa membantumu mencari. Yaah, walaupun mungkin agak susah, sih." Sahut Fuuka kemudian. Ia melangkah ke tengah-tengah lokasi di dekat Rise. Lalu mengambil sebuah pistol yang bertuliskan 'SEES'. Ia mengarahkan pistol itu ke arah kepalanya, hendak menekan pelatuknya.

"Jangan!!!" teriak Rise panik.

Terlambat!

Fuuka sudah menekan pelatuk pistol itu sambil meneriakkan sebuah kata yang taka sing lagi di telinga mereka semua. "Persona!" muncul persona milik Fuuka yang sudah lama tak dibangkitkannya semenjak dark hour sudah tak ada. Persona yang bernama Juno itu memberi Fuuka beberapa perlindungan dengan menjebak Fuuka di dalam roknya.

Rise yang jantungnya hampir saja melompat dari tempatnya menjerit kesal. "Hei! Cara macam apa itu?! Kukira kamu bakalan bunuh diri hanya untuk panggil Persona! Kapan-kapan kalau mau melakukan hal yang sangat ekstrim seperti itu bilang-bilang dong!" omel Rise karena rasa terkejut itu hampir membatnya menangis. Mantan Idola itu mengira senpai yang ada di sampingnya bakal mati kena tembak sendiri di bagian kepala.

Akihiko turut heran."Kenapa kalian terkejut begitu? Bukannya cara memanggil persona memang begitu?" suaranya terdengar penasaran.

Yukiko berhenti ketawa sejak Fuuka menekan pelatuk pistol itu. Ia tampak ngeri memandang team SEES. "Kau gila apa?! Kami tidak memanggil persona dengan cara kelewat nggak waras seperti itu! Jauh lebih mudah dan lebih baik malah." Terdengar suaranya sedikit mulai tenang. "Benar kata Rise, lain kali kalau mau melakukan sesuatu yang mengetes jantung bilang-bilang dulu."

Ken menggendong koromaru ke dalam pelukannya, lalu mengelus-elus kepala anjing putih itu. "Lalu cara panggil persona kalian seperti apa kalau bukan pakai evoker?" Koromaru meronta-ronta ingin melepaskan diri dari Ken. Ia ingin menghampiri Fox yang berdiri di dekat Naoto.

Naoto menata posisi topinya. "Kami…menghancurkan…kaca? Mungkin bisa dibilang seperti itu."

Rise melambai-lambaikan tangannya supaya semuanya berpaling padanya. "Tenang! Akan kutunjukkan caranya. Perhatikan baik-baik!" tak lama muncul sebuah…kaca? Kartu remi? Oh bukan, kartu tarot. Lalu Rise menepuk kedua tangannya pada kartu tarot tersebut. "Persona!" saat ditepuk, kartu itu pecah seperti serpihan kaca. Muncul Kanzeon di belakang Rise yang kemudian menutupi mata Rise dengan lensa scanner.

Mituru berkomentar."Begitu rupanya. Lalu untuk apa kacamata-kacamata yang kalian pakai itu? Mencurigakan sekali kalian memakai kacamata yang bermodel sama." Ia mengeluarkan evokernya dari sarungnya. "Mereka disini! Lindungi Yamagishi-san dan Kujikawa-chan! Semuanya berjaga-jaga!"

Teddie menggeram seperti beruang sungguhan begitu shadow-shadow itu muncul mendekati mereka. "Bearsona!!" seru Teddie memanggil personanya. Muncul Kamui yang langsung menghancurkan shadow-shadow level rendahan itu sebelum sempat menyerang. Team SEES kembali sweatdropped. Yukari mendengus. "Bear…sona? Apa itu? Bear? Bukannya itu beruang? Oi, Ted, kamu manggil beruang?"

Yukiko tertawa geli, kali ini tawanya masih bisa dihentikan. "Teddie kalau memanggil personanya memang begitu. Semenjak dia terlihat mirip beruang dengan kostumnya. Awalnya Kami kira dia monyet raksasa malah." Terang Yukiko masih dengan menahan tawa, mengusahakan tawanya tidak garang lagi.

Yukari mengangguk-angguk pelan, double sweatdropped malah. "Ma-makasih buat penjelasannya."

"Takeba-san, bukan saatnya bercakap-cakap! Serang shadow yang ada di dekat Kujikawa-chan. Shadow itu lemah terhadap elemen angin!"

"Baiklah. Waktunya beraksi. ISIS!!!" Yukari menembakkan evoker itu ke kepalanya sama seperti apa yang dilakukan Fuuka sebelumnya. Isis menyerang shadow incaran Yukari dengan garudyne yang langsung melenyapkan shadow tersebut.

Tak lama mereka berperang dengan shadow-shadow tingkat rendah itu, Rise dan Fuuka mengatakan lokasi yang dicari bersamaan. "Ke arah sana!" dan mereka semua berlari mengikuti arah yang ditunjuk. Jalan yang mereka lalui menuntun mereka ke depan pintu gerbang yang sangat dikenali oleh team SEES. Bangunan itu menjulang tinggi, tapi tak terlalu tinggi seperti bangunan asli yang pernah ditelusuri oleh team SEES. Bangunan itu…rumah dari semua shadow…Tartarus…

"WHAT?!!! Kenapa Tartarus bisa kembali lagi?! Shit! Kita sudah susah payah menghilangkan bangunan jelek itu, tapi kenapa muncul lagi?!" jerit Junpei seakan-akan baru saja menemukan harta karun terbaik yang pernah didapatnya. "Apa-apaan ini?!"

"Apa ini…sesuatu yang ada dalam perasaan Souji-kun?" gumam Yukiko.

Akihiko mendesah. "Sebaiknya kita masuk ke dalam dulu saja."

Semua melangkah masuk ke dalam Tartarus, kecuali Aigis yang masih memandangi bangunan besar di hadapannya dengan tatapan yang tak bisa dikatakan. Bagi Aigis, rasanya seperti kembali ke masa lalu. Apa Minato-san juga ada di sini? Batin Aigis.

"Aigis! Jangan berdiri di situ saja! nanti kamu tertinggal lho!" teriak Chie dari kejauhan, membuyarkan segala lamunan Aigis.

--------------

Tartarus

--------------

Team SEES mengamati lingkungan sekitar mereka dengan saksama. Tempat itu jelas sangat familier dengan dengan mereka. Semuanya persis sama. Di samping kana nada sebuah elevator hijau yang dapat menteleport mereka ke lantai yang lebih tinggi atau kembali lagi ke lantai dimana mereka berada sekarang. Yang menarik perhatian mereka, tak ada tangga utama yang seharusnya terletak di tengah-tengah ruangan. Hanya ada elevator itu yang bercahaya hijau terang.

"Baiklah, kita pakai elevator yang ada di sana. Semenjak tangga utamanya tidak ada." Kata Mitsuru masih dengan gaya pemimpinnya. "Yamagishi dan Kujikawa-chan tetap memberi back up dari sini. Yang lainnya bersiap-siap."

"Tunggu, apa kita semua akan menelusuri ke dalam sana bersama-sama? Di sini ada 13 orang yang bersifat fighter. Apa semuanya akan sekaligus menyerbu secara bersamaan?" Yosuke menyahut, mengingatkan mereka. "Lalu siapa yang akan menjadi leadernya?" lanjutnya.

Junpei maju selangkah. "Aku! Aku! Kumohon! Sekali ini saja!! pretty please?" cowok itu mengedip-ngedipkan mata persis seperti cewek genit yang sedang merayu. "Ayolah, beri aku kesempatan!" kini ia menarik-narik lengan Akihiko.

"Baiklah, semenjak leader kalian tidak ada disini, igis akan memimpin untuk misi yang atu ini." Akihiko menunjuk Aigis sesegera mungkin, lalu menendang Junpei jauh-jauh sebelum ingus pemuda bertopi itu mengotori kemejanya.

"Baiklah. Aku akan mengajak-"

Yukiko langsung menyahut dengan cepat. "Aku mau ikut! Aku mohon, izinkan aku ikut aku sangat mengkhawatirkan Souji-kun!" pinta Yukiko dengan paksa.

"I-iya. Lalu aku akan mengajak 4 orang lagi. Mitsuru-senpai dan Yukari-san. Lalu…"

Ganti Chie yang memotong perkataan Aigis. "Aku ikut! Bahkan aku sangat wajib ikut! Aku harus menjaga Yukiko baik-baik!" Chie mengatakannya berapi-api.

"Lalu satu lagi. Siapa yang mau ikut denganku?" mengingat Aigis tak tahu kemampuan-kemampuan Investigation team.

Yosuke ikutan menyumbang suara. "Aku juga ikut, aku khawatir dengan keadaan Souji. aku ingin memastikannya dengan mata kepalaku sendiri kalau dia benar-benar baik-baik saja."

Aigis tersenyum puas. "Kalau begitu, sisanya yang lain berjaga-jaga di sini."

---------------------

Tartarus: 5th floor

---------------------

"Aigis-san, aku merasakan keberadaan seseorang di lantai 10! Cepat tolong dia!" jerit Rise begitu ia merasakan sesuatu jauh lebih cepat dari Fuuka. Aigis mengangguk. "Baik. Semuanya…berpencar, cari tangga yang menuntun ke atas!!"

Begitu mendengar perintah, semuanya langsung berpencar. Ada 3 jalur yang ada di hadapan mereka saat ini. Jalur kanan dimasuki oleh Aigis dan Yukiko, sedangkan yang tengah dimasuki Yukari dan Mitsuru, dan terakhir dimasuki Chie dan Yosuke. Tak lama berlari, Yukari menemukan peti harta dan mengambil isinya. Yosuke dan Chie berbalik ke rute semula karena jalan yang mereka pilih buntu. Aigis dan Yukiko berperang melawan beberapa Shadow.

Dengan gesit Aigis berputar-putar menembakkan peluru-peluru dari jari-jarinya tepat pada sasran. Sebuah shadow datang mendekat dari belakang Aigis dan langsung ikut kena tembakan Aigis. Semantara Yukiko yang serangan kipasnya tidak menimbulkan damage terlalu berat pada shadow-shadow yang lain memanggil Amaterasu untuk melancarkan Maragion. Beberapa shadow musnah terkena serangan Amaterasu. Aigis masih sibuk menyerang beberapa shadow, sampai Chie datang dan menyabet shadow yang hampir saja melukai Aigis.

"Berani-beraninya kau menyerang Aigis-san?! Terima itu!" Aigis menoleh ke sumber suara yang tak lain berasal dari Chie.

"Chie-san, terima kasih atas bantuannya." Chie mengangguk malu-malu. "Tak masalah." Balasnya.

"Chie, Aigis-san, awas!!!" jerit Yukiko dari jauh.

Aigis dan Chie mendongak ke atas. Ada 1 shadow terakhir yang menyerang mereka dari atas. Tapi mereka terlambat menghindar.

"Garudyne!!!" dan monster itu lenyap kena serangan Susano-o milik Yosuke. Satu hal yang paling dan selalu dibenci Chie kalau Yosuke berhasil menyelamatkannya dari serangan shadow.

"Chie, aku kan sudah bilang! Ini bukan waktunya ' Kung-fu show time' atau apalah! Ini serius, jangan main-main! Kamu ini selalu saja ceroboh dan tak pernah berpikir dulu sebelum bertindak. Apa kamu ingin mengulangi kesalahanmu yang kesekian kalinya seperti di istana Yukiko?! Kau ini…blabla…blabla…" Yosuke melontarkan segala rasa khawatir, dongkol, sebel, gemes, sayang, upsss…yang terakhir tadi seharusnya jadi rahasia. Chie Cuma mengangguk lemas. Rasanya dia malu berat karena rahasianya sudah dibongkar Yosuke, ceplas ceplos lagi!

"Yosuke, diamlah sebelum aku menendangmu untuk yang kesekian kalinya karena sikapmu yang…'annoying' itu." Chie sudah menyiapkan kuda-kudanya untuk menendang. Yosuke langsung diam segala bahasa.

Mimik wajah Chie berubah. "Bagus. Kamu anak penurut juga ternyata! Aku senang kamu mengkhawatirkanku. Makasih, Yosu!" Chie menginggalkan Yosuke yang masih diam terpaku dengan perasaan senang. Degan riang ia mengahampiri Yukiko dan Aigis yang sedari tadi menonton pertunjukan gratis secara Cuma-Cuma. Chie merangkul pundak Yukiko, lalu membisikinya sesuatu. Suatu rahasia yang saat ini hanya Yukiko dan dirinya yang boleh tahu.

"Ehm, Mitsuru-senpai dan Yukari-senpai menemukan tangga menuju ke atas. Apa perintahmu selanjutnya, Aigis?" terdengar Suara Fuuka dari transmisi. Aigis tersenyum dan mengangguk. "Ayo kita naik ke lantai selanjutnya!"

----------------------

Tartarus: 10th floor

----------------------

Setelah mereka ber-enam berputar-putar mencari tangga-tangga yang menuntun mereka ke lantai selanjutnya, tibalah mereka di lantai 10. hanya ada pintu gerbang besar -namun tak sebesar pintu gerbang utama di depan Tartarus- dengan gagang pintu yang juga cukup besar. Terdengar suara transmisi dari Fuuka.

"Di balik pintu itu, aku merasakan kehadiran seseorang di dalam sana. Berhati-hatilah, Aigis-san!"

Tak perlu peringatan yang lainnya, Aigis sudah meningkatkan pertahanannya berlipat ganda. Perlahan-lahan tangannya terulur menyentuh gagang yang besar itu. Ada rasa was-was dan takut dalam diri Aigis. Tapi, ia memutuskan mendorong pintu itu. Satu hal pertama yang dilihatnya.

Seorang pemuda di tengah cahaya putih…

____________________________________________________________________________________________________________________________

------------------

Extra Story

--------------

Chie: gimana? Sudah ingat sesuatu?

Souji: yaah, makasih buat para reviewers. Jadi ingat semua lagi.

Yosuke: oya? Untunglah. Kalo kamu lupa sama kita-kita, entah apa yang bakal Kanji lakukan.

Kanji: h-hei~! Jangan melirikku dengan tatapan begitu dong!

Rise: yah, setidaknya author sedeng itu sudah diberi pelajaran berharga.

Yukiko: apa dia nggak marah? Sedikit pun enggak?

Naoto: enggak. Dia belakangan ini sibuk terus sama sekolah. Kata Teddie dia sedang dibombardier ul2 yang paling dia benci. Fisika, Matematika, Elektronika, dll.

Teddie: selain itu, waktu dia disuruh baca puisi di depan kelas…

Yosuke: emang dia kenapa?

Teddie: dikasih nilai 70, nee!

Rise: nggak Tanya!

Lonely KOS-MOS: ehm, kenapa membicarakan aku sih? Jangan mengelak, aku udah denger semuanya. Lalu Teddie…

Teddie: ap-ap-ap-apa, neeee…?

Lonely KOS-MOS: ini kostum beruang baru yang sempat dirusak koro-chan. (ngasih bingkisan)

Teddie: *sob*…*sob…uhu….uaawwaawaawaa!!!(nangis)

Lonely KOS-MOS: (sweatdropped)

Souji: dia kenapa sih? Tumben baik.

Yukiko: kesambet petir?

Chie: dia aneh banget deh. Biasanya kerjanya…menyiksa.

Lonely KOS-MOS: siapa yang mau kue?! (teriak)

Yosuke: sekarang malah menawari kue. Jangan2 sama parahnya sama Mystery Food X?!

Rise: hush! Kita minta Naoto menyelidiki aja!

Naoto: eh? Aku ini detektif, bukan penguntit!

Kanji: swt, yang penting selidiki dia!

Besoknya…

Naoto: pantas sikapnya kemaren aneh…

Souji: kenapa?

Naoto: kemaren dia seharian tidur dan ngelindur. Makanya bisa sebaek itu.

Chie: ngelindur?! sambil jalan?! Hebat tuh.

Naoto: maklum, belakangan ini dia nggak tidur gara2 ul2 di sekolah yang katanya menyebalkan-menyebalkan.

Yosuke: terus kue yang kemarin?

Naoto: 99,9999% hasil buatannya karena ngelindur.

Lonely KOS-MOS: ada yang mau kue black forest ?!!! (teriak)

Kanji: kali ini kuenya bahaya nggak ya?

Teddie: Teddie mau, nee!!!

Lonely KOS-MOS: ambil sendiri di meja! Oc, extra story kali ini bener2 ga punya ide! Makasih banyak bwat LvNa-cHaN, silvermoonarisato, BlazingFireAngel, Messiah Arisato, de el el, de ka ka. Hmm, exstra story berikutnya merupakan wawancara terhadap char2 P4. jadi tolong kirimkan pertanyaan2 yg pengen ditanyakan pada char2 P4. sekedar buat menambah tambahan. reviews ya! oc2…hmm…ngantuk. Sampai di sini dulu ya. see me again on the next chap~! Bubye!!!