Justify

.

.

Setelah pulang Sekolah, Sehun sengaja menarik Jongin dan membawanya ke tempat parkir. Dimana dia memarkirkan motor sport kesayangannya di sana.

Minho sedang mengikuti remedial ulangan matematika. Mengingat nilainya yang di mata pelajaran berhitung selalu kurang. Tetapi bukan berarti pemuda itu bodoh. Dia hanya malas, dan sejauh yang Sehun tahu Minho itu jarang sekali memperhatikan para guru yang sedang mengajar di kelas.

"Ada apa?" Tanya Jongin.

"Kau sengaja menghindariku lagi ya?" Sehun malah balik bertanya.

Jongin menggeleng cepat. "Aku hanya sedikit sibuk akhir-akhir ini. Kau tahu? Minho butuh aku selama dia masih jadi anak baru di kelas"

"Ya, aku mengerti..tapi kita jadi tidak punya waktu selama kau terus fokus padanya"

"Ayolah, Sehun.. Aku tidak bermaksud melupakanmu.. tapi Minho itu-"

"Baiklah.. aku mengerti" Sehun berkata Final. "Sekarang kau harus menemaniku selama yang aku mau"

"Hey"

"Aku tidak mau mendengar penolakan" Sehun menyorongkan helm cadangan yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. "Pakai helmnya. aku akan mengajakmu ke sebuah tempat"

.

.

Harusnya Jongin menunggu Minho di perpustakaan. Tetapi sekarang ini, dia malah berada di sebuah cafe langganan Sehun dan teman-temannya nongkrong.

Seorang namja tiba mendekati mereka dengan senyum ramah. Ia menyapa Sehun dan menanyakan kesibukan Sehun akhir-akhir ini. Lantas saja Sehun menjelaskan jika dia harus ikut pelajaran tambahan yang diberikan oleh tutornya yang bukan main cerewetnya itu. Suatu kalimat yang membuat Jongin mendengus sebal dan mengerucutkan bibirnya lucu.

"Kau sudah jadi langganan tetap di sini, ya?" Tanya Jongin, setelah Sehun selesai menyebutkan menu apa yang hendak mereka pesan.

Sebelum menjawab pertanyaan Jongin, ia memberikan senyum tipis di wajah tampannya. Namun matanya yang sendu itu membuat Jongin merasa aneh sendiri. "Cafe ini milik mendiang ayah dan ibuku"

"Oh" Jongin menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja ia tanyakan. Mengapa ia bisa jadi sekepo ini? Dia jadi tidak enak hati saat melihat Sehun berusaha menutupi kesedihannya itu. "Maaf sudah lancang bertanya" ucapnya.

Sehun terkekeh dan berkata, "That's ok, aku baik-baik saja.. jangan khawatir"

Kenyataannya Sehun memang baik-baik saja. Cuma merindukan mendiang orangtuanya, mengingat keduanya sudah berpulang sewaktu Sehun berusia 3 tahun.

"Ayah dan ibuku meninggal saat aku masih sangat kecil" Sehun berkata, mencoba untuk menceritakan kembali pada Jongin.

"Aku turut berduka" Jongin menyahut.

Itu pasti sulit sekali, pikir Jongin. Apalagi saat dimana Sehun bercerita jika saat itu orangtuanya baru saja pulang dari rumah teman mereka bersama Sehun kecil yang waktu itu baru berusia 3 tahun. Sebuah kecelakaan dimana Sehun tidak akan pernah bisa mengingatnya. Sebuah kecelakaan dimana ia musti kehilangan dua orang yang paling berharga baginya. Tetapi ia selamat karena ibunya sempat mendorong Sehun keluar dari mobil sebelum mobil mereka menerobos tembok pembatas dan terjatuh ke sungai. Sehun mengalami luka patah tulang dan benturan yang tidak terlalu parah di kepalanya. Namun jika diperhatikan dari dekat luka berbentuk garis memanjang di ujung kening bagian kanan Sehun begitu kentara sekali.

"Apa luka ini masih sakit?" Jongin bertanya, seraya menyentuh bekas luka jahitan itu.

Tangan Jongin begitu lembut mengusap bekas lukanya. Sehun sedikit terbuai akan usapan itu.

"Ini tidak sakit" katanya. 'Tidak lagi, karena kau telah mengobatinya'

"Aku pernah berpikir macam-macam tentang kenakalanmu" Jongin berkata, perlahan. "Tapi sekarang aku mengerti. kau melakukan itu karena kau kesepian, karena aku juga merasakannya saat ibuku pergi"

"Itu sangat berat untukmu" kata Sehun. "Tapi kau punya seorang ayah yang sangat menyayangimu"

Jongin mengangguk pelan. dulu ia pernah merasa tuhan tak adil padanya. Tetapi setelah mendengar cerita Sehun, dia merasa, dirinya kurang bersyukur atas apa yang masih ia miliki saat ini.

"Setidaknya aku masih memiliki seorang kakek dan juga paman Cha. meskipun kakek selalu sibuk, paman Cha selalu merawatku dengan penuh kasih sayang. Ah, kenapa jadi melankolis begini sih" Sehun menggaruk tengkuknya.

Tak lama kemudian seorang pramusaji datang membawakan pesanan mereka. Jongin membantu sang pramusaji meletakan pesanan mereka di atas meja.

"Sebenarnya dari kemarin aku ingin mengajakmu kemari" Sehun berkata setelah si pramusaji pergi.

"Maaf ya" ucapnya, menunduk.

"Tidak apa.. sekarang kan kau di sini, aku lega sekali sudah menceritakan semuanya padamu"

"Aku senang mendengar ceritamu"

"Sore ini, apa kau sibuk?"

Jongin menggelengkan kepalanya. "Kenapa memangnya?"

"Aku ingin mengajakmu jalan-jalan sore"

"Hanya itu?"

"Memangnya kau tidak mau, ya?"

.

.

.

Choi Minho menggerutu pelan. Sudah satu jam yang lalu ia mencari-cari keberadaan Jongin. Inginnya ia menelepon namja manis itu. Tetapi ia lupa, jika ponselnya ketinggalan di rumah. Lagi-lagi ia ceroboh setelah kemarin meninggalkan dompetnya di mobil bibi Sooyoung.

"Sepupunya Jongin"

Menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dimana ia melihat salah satu teman Jongin yang nyaris memiliki wajah yang mirip dengan sepupu manisnya itu.

"Ah, iya.. " Minho mengulum senyuman.

Name tag hangulnya menunjukan jika cowok manis di depannya itu bernama Lee Taemin. Oh, jadi dia yang namanya Taemin. Cowok cantik yang membuat Oh Sehun tega menjadikan sepupunya (Jongin) batu lompatan.

"Sedang apa?" tanya Taemin, merasa heran. Kenapa ada anak IPA yang nyasar ke ruang kelas anak IPS.

Minho terkejut setelah menyadari dirinya berada di lorong kelas IPS. Hal yang membuatnya terkekeh dan merutuki kebodohannya itu.

"Aku mencari Jongin. ku kira dia di sini bersamamu" Minho menjawab asal.

"Dia sedang pergi bersama Oh Sehun" kata Taemin.

"Apa?"

"Dengan Oh Sehun. Apa dia tidak pamit padamu?"

Minho menggelengkan kepalanya. Kenapa Jongin tidak pamit sih? Kalau begitu kan dia bisa langsung pulang saja.

"Darimana kau tahu dia pergi dengan Oh Sehun?"

"Aku bertemu mereka saat di depan perpustakaan tadi. kira-kira 2 jam yang lalu"

"Mungkin dia sudah menghubungiku. tapi aku lupa membawa ponsel, jadi aku tidak tahu. Yasudahlah, aku duluan ya" ujar Minho.

"Hati-hati"

.

.

"Sehun"

Bibir tipis itu bergumam pelan.

"Tiba-tiba saja aku teringat pertanyaanmu tentang mimpi dan cita-cita" ujar Jongin.

Keduanya sedang berada di pinggir sungai buatan yang dangkal dan jernih. Bahkan mereka berdua menceburkan kedua kaki mereka, menikmati segarnya air sungai buatan itu.

"And then?"

"Aku jadi teringat impianku saat aku kecil dulu"

Oh Sehun tertawa kecil mendengarnya. "Apa?"

"Aku ingin kerja di luar negeri" Jongin berkata, perlahan. "Naik pesawat dan ditempatkan di kantor kedutaan. pasti seru sekali"

"Jadi kau ingin bekerja sebagai seorang diplomat ya?"

Jongin mengangguk pelan. "Tadinya aku berharap aku ditempatkan di kelas IPS. tapi guru Ma bilang nilai-nilai matematika dan IPA-ku cenderung melebihi kualifikasi untuk masuk kelas IPA"

"Taemin bilang aku bodoh, karena aku malah ingin masuk kelas IPS saat dimana dia ingin sekali masuk kelas IPA"

"Kalian benar-benar lucu"

"Tapi aku pikir tidak ada perbedaan khusus antara anak ipa dan anak ips. jika mereka mau berusaha anak IPA bisa menjadi dokter atau ilmuwan, dan anak IPS bisa menjadi diplomat atau pengacara. itu kan keren"

Jongin merebahkan tubuhnya di samping Oh Sehun yang sudah lebih dulu merebahkan tubuhnya.

"Kalau ingat diplomat aku jadi ingat Jaesun"

Oh Sehun menaikan kedua kakinya dari dalam air. Ia jadi tidak suka saat dimana Jongin menyebut nama cowok tengil itu.

"Jangan menyebut namanya lagi"

"Lho, kenapa?"

"Memangnya kau tidak marah? saat dimana dialah alasanmu mendapat surat hukuman itu?"

Jongin menggeleng.

"Kau ini polos sekali"

"Malahan aku bertanya-tanya"

"Apa?"

"Apa yang menyebabkan kalian bertengkar waktu itu?"

Karena aku ingin membelamu, batin Sehun. Tapi apa yang akan dilakukan Jongin? Jika tahu Sehun menghajar Jaesun karena membela namanya yang diinjak-injak oleh cowok bule itu. Sehun tidak tahu mengapa ia musti marah saat dimana ia tidak sengaja mendengar Jaesun dan teman-temannya punya niat untuk mempermainkan Jongin setelah mendengar gosip mengenai Sehun yang cuma menjadikan cowok manis itu batu lompatannya saja. Ya, kurang lebih Jaesun juga ingin seperti itu. Bukan untuk Taemin, tapi hanya untuk mengikuti permainan teman-temannya saja.

"Aku tidak mood untuk menjawabnya"

"Baiklah" Jongin berkata pelan.

Sehun itu sangat keras sekali. Jadi Jongin yakin, dia tidak akan mau menjawab pertanyaannya itu.

.

.

.

Setelah makan malam, Minho masuk ke dalam kamarnya dan seenaknya saja menaiki kasurnya.

"Kau tadi menelponku ya" kata Minho. Tapi matanya tidak juga berpaling dari ponselnya.

Jongin yang sedang belajar, menghentikan kegiatannya dan mengangguk.

"Aku lupa bawa ponsel"

"Ah, begitu ya.. Maafkan aku"

"Kenapa kau sering sekali minta maaf?"

"Karena aku mau"

Dasar aneh, pikir Minho.

"Temanmu yang bernama Taemin bilang padaku tentang kemana kau pergi" kata Minho. "Dia sangat mirip denganmu ya"

"Sudah banyak yang bilang begitu. tapi aku rasa Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan Taemin"

Minho menoleh, menatap Jongin sejenak. lalu berkata, "Karena kau berkali-kali lipat lebih baik darinya"

"Jangan berkata begitu! Taemin itu temanku" Jongin menatap Minho tidak suka.

Padahal Minho sengaja berkata seperti itu. Ingin tahu saja reaksi Jongin seperti apa. Tapi reaksinya jauh dari apa yang Minho harapkan. Dasar anak polos!

"Jongin"

"Apa?"

"Apa kau pernah berpikir Taemin akan membelamu saat orang-orang itu membicarakan dirimu?"

"Tentu saja.. Sudah aku bilang kan? dia itu teman baikku"

"Sudah jangan bicara itu lagi! bicara yang lain saja" kata Jongin.

.

.

.

Yixing menghentikan motornya di depan rumah keluarga Kim. Ia juga membantu putra semata wayang dokter gigi Kim itu melepas helm-nya.

"gege tidak mau mampir?" tanya Jongdae.

Pria berusia 20 tahun itu menggeleng pelan. Dia bilang, dia harus segera pulang dan titip salam pada orangtuanya Jongdae. Calon mertualah kalau boleh berharap, hehe..

"Besok aku jemput lagi, ya?"

Pipi putih Jongdae merona mendengarnya. "Memangnya besok gege tidak sibuk?"

"Tentu saja tidak! gege kan selalu punya waktu luang untuk Jongdae"

Blush..

"Sudah malam! Kau harus segera beristirahat" kata Yixing.

Jongdae mengangguk malu. dia segera masuk setelah melambaikan tangan ke arah Yixing, salam perpisahan maksudnya.

.

.

.

Siang itu para murid nampak bahagia sekali. Ditambah salju yang sudah turun, meski tidak sebanyak di pertengahan desember. Sehun pun juga terlihat sumringah saat nilai-nilai ulangannya tidak ada yang diremedial. Ternyata aku pintar juga, batinnya.

Matanya melirik Chanyeol. cowok jangkung itu biasanya akan tersenyum ceria dan memamerkan kalau nilainya tidak ada yang kecil. Bahkan dia juga dengan bangganya bercerita tentang perjuangannya sebelum menghadapi ulangan. Hal yang tidak perlu diceritakan, pasti akan dia ceritakan.

Tapi hari ini Chanyeol terlihat berbeda. Dia seolah tidak bergairah sekalipun nilainya nyaris sempurna. Matanya yang bulat itu terlihat sendu, dan tak ada satu patah katapun yang dia katakan.

"Kau kenapa?"

Moonkyu lebih dulu bertanya. Sehun hanya menoleh, tapi juga penasaran dengan teman sebangkunya itu.

"Hanya sedikit stress akhir-akhir ini"

"Woahh.. jangan diambil pusing! nikmati saja semua ini"

"Kau bisa bercerita padaku" Namjoon tiba dengan kertas ulangan di tangannya. dia baru saja pamer pada para siswi di depan sana. "Aku bersedia mendengarnya kok. mana tahu aku bisa memberi solusi"

Hal yang Chanyeol ketahui setelah berteman dengan trio rusuh ini adalah: Mereka bertiga adalah anak pintar yang malas. dan sekalipun mereka sering berbuat onar, tetapi ketiganya adalah anak-anak yang saling memperhatikan keadaan temannya satu sama lain.

"Hey, aku baik-baik saja. mungkin sedikit nervous untuk pertunjukan dan ujian kelulusan nanti"

Sehun tahu, Chanyeol pasti berbohong.

"Lihat aku masih bisa tertawa kan" kata Chanyeol disela-sela tawanya.

"Aku bahkan selalu tertawa saat melihat wajah Namjoon yang ditolak Jin hyung" celoteh Moonkyu.

Sehun dan Chanyeol tertawa saat melihat Namjoon yang melayangkan jitakan di atas kepala Moonkyu.

.

.

"Bagaimana hubunganmu dan Yixing hyung?" Tanya Jongin.

Jongdae menoleh ke arah Jongin. Ia jadi malu kalau mengingat cowok kelahiran Changsa itu.

"Kami baik-baik saja. malahan dia akan menjemputku nanti"

"Pacarmu itu keren sekali ya" Puji Jongin.

"Ah, hehehe"

Jongin ikut terkekeh. Namun tawanya hilang saat matanya tak sengaja melihat ke arah Sehun. cowok itu sedang tertawa dengan teman-temannya. entah apa yang dia tertawakan.

"Bagaimana kalian bisa bersama seperti itu? Apa dia menyatakan perasaannya langsung padamu?"

Namja berparas manis itu menggeleng pelan. Tapi tidak ada tatapan sendu di matanya.

"Tidak..Tapi dia selalu bilang jika Cinta itu harus seperti angin. kita tidak bisa melihatnya, tapi kita bisa merasakannya. Kau tahu, Jongin? Gege bilang dia sedang membuat lagu untukku.. dan lagunya sangat keren"

"Benarkah? Wah, itu keren sekali"

"Hmm.. Baekhyun juga bilang lagunya sangat keren..Kau juga harus mendengarnya nanti"

"Yixing hyung itu keren ya.. dia menunjukan rasa sayangnya lewat lagu. Kau sangat beruntung" Puji Jongin. Terbesit ada perasaan kagum dan juga iri dengan hubungan teman dekatnya itu dengan pacarnya.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

A/n :

Hey, sorry banget baru bisa update..Aku nyaris kehilangan semangat dan gairah buat nerusin semua FF-ku. Makanya aku lagi mencoba buat kembali menulis FF lain di akun Line aku. Entah itu oneshoot, maupun twoshoots. so, bagi yang kepo mungkin bisa langsung japri aku di Line johanxie25. Mana tau kalian bisa kasih inspirasi lain untuk karya2 aku selanjutnya..