Previous Chapter

"Aku merindukanmu, Sasuke."

Braakkk!

"Haahh… haaahhhh… Sa… Sakura…"

"Ino…"

.

.

.

"Salah satu teman kalian, Yamanaka Ino, ditemukan telah meninggal di kediamannya sendiri tadi pagi."

"Ba-bagaimana bisa?"

"Di… bunuh?"

"Apa maksudmu, Sasuke? Kau—Apa kau mencurigai salah satu di antara kami? Apa kau juga termasuk di dalamnya, eh?"

.

.

.

"Sebelum bahaya itu menemuimu, dia akan terlebih dahulu menemui orang-orang terdekatmu."

"Apa maksudmu?"

"Tetaplah bertahan hidup untuk menjaga cahaya lilinmu agar tidak padam. Jika tidak… kau akan terperosok ke dalam kegelapan tak berujung."

"Cahaya lilin? Apa yang dia maksud adalah Sakura?"

.

.

.

Naruto©Masashi Kishimoto

Obsession©Tsukiyomi Kumiko

Genre : Romance/Mysteri/Crime

Rate : T+

Warning : OOC, AU, GaJe

Enjoy This Chapter

And

Give Me Review

.

.

.

Pada akhirnya Sasuke membawa Sakura ke rumahnya karena memang atas permintaan kekasihnya itu. Lagi pula kalaupun Sasuke mengantarnya pulang ke rumah, toh kedua orang tua Sakura tengah berada di luar negri untuk satu bulan ke depan. Benar-benar kedua orang tua yang gila akan bisnis dan kejayaan, begitulah pendapat Sasuke mengenai kedua orang tua angkat kekasihnya.

Orang tua dirinya meskipun senang berbisnis tapi tak pernah absen untuk sekedar bertanya mengenai keadaan dirinya ataupun perkembangan prestasinya di sekolah. Dan Sasuke sangat mensyukuri hal itu dan merasa miris mengingat keadaan sebaliknya kekasihnya itu.

"Kau tak keberatan 'kan, Sasuke?" tanya Sakura entah untuk yang keberapa kalinya ketika dia mengatakan ingin mengunjungi rumah—err… istana—kekasihnya.

Sasuke kembali tersenyum tipis dan melirik Sakura dengan ekor matanya. Tangannya membelokan stir kemudi ke arah kanan sebelum menjawab pertanyaan Sakura. "Kenapa aku harus merasa keberatan? Ini adalah kunjungan pertamamu bukan? Aku pasti akan melayanimu dengan istimewa," terang Sasuke dan tiba-tiba saja memberhentikan laju mobilnya di depan sebuah gerbang tinggi dan mewah berwarna kuning.

Tin! Tin!

Nampak Sasuke menekan klakson mobilnya dua kali untuk memberitahukan penjaga gerbang rumahnya kalau ia—sang tuan rumah—akan memasuki istananya. Buru-buru Sakura mengalihkan pandangannya ke arah gerbang ketika sedikit demi sedikit pintu gerbang berdaun pintu dua itu terbuka.

Sakura menelan ludahnya gugup dan penasaran, di dalam hatinya ia menerka-nerka bagaimana rumah seorang Uchiha—keluarga konglomerat seantero Konoha. Jauh di dalam hatinya ia merasa senang karena bisa menjadi kekasih Sasuke, namun hati kecilnya selalu mengatakan jika ia tak pantas untuk pemuda itu.

Dirinya bagaikan seorang kupu-kupu yang tengah terbang tersesat dan kemudian hinggap di atas setangkai bunga. Bunga itu diibaratkan Sasuke, laki-laki yang membuat hidupnya menjadi berwarna. Kelopak bunganya melindungi dirinya dari kupu-kupu lain yang ingin hinggap di bunga yang sama.

Sasuke… selalu melindunginya di saat ia membutuhkannya. Akan selalu ada di saat ia kesepian dan terpuruk seperti sekarang. Sebenarnya yang merasa beruntung di sini adalah Sakura sendiri. Meskipun Sasuke kerap kali mengatakan jika ia sangat beruntung bisa mendapatkan Sakura, menurut gadis itu adalah sebaliknya. Ia bersyukur bisa mengenal dan menjadi bagian dari hidup Sasuke.

Sebuah sentuhan di pundak gadis itu telah menyadarkan pemikirannya mengenai Sasuke. "Hm?" gumam Sakura tak mengerti akan tatapan Sasuke padanya.

"Mau sampai kapan kau akan terus berada di dalam mobil?" tanya Sasuke dan sedikit terkekeh kecil. Entah kenapa perasaan duka dan sedih lenyap seketika ketika melihat wajah polos kekasihnya. Sakura bagaikan obat untuk dirinya di saat hatinya sedang sakit, begitupun sebaliknya.

Sakura hanya nyengir mendengar penuturan Sasuke. Akhirnya ia segera membuka sabuk pengaman mobil dan turun secara perlahan. Dapat dilihat oleh kedua mata emerald milik gadis manis itu jika Sasuke berjalan tergesa-gesa menghampirinya. Sebelah tangannya langsung menggenggam erat tangan kanannya. Mungkin Sasuke bermaksud ingin memapahnya kembali karena khawatir akan kondisi lemah Sakura, namun buru-buru gadis itu menampiknya halus dengan sebuah senyuman menenangkan.

Kedua mata emerald gadis itu menjelajahi halaman rumah Sasuke dengan sangat terkejut. Gumaman kagum meluncur begitu saja ketika ia melihat kebun bunga mawar merah dan juga putih. Kebun itu terlihat sangat sekali terawat dan cantik, begitupun dengan kolam air mancur yang di tengahnya terdapat sepasang angsa yang tengah membentangankan sayapnya dan keluar air dari mulutnya.

Sakura kembali dibuat terkejut ketika tiba-tiba saja Sasuke menarik sebelah tangannya dan sedikit berlari menuju pintu utama untuk memasuki rumah. Dan keduanya harus menaiki undakan singkat yang di kedua sisinya ditumbuhi oleh rumput hijau lebat namun pendek dan terlihat segar.

Sebelum Sasuke meraih gagang pintu rumahnya, pintu itu sudah di buka terlebih dahulu dari dalam oleh seseorang. "Sasuke aku ingin—eh?" Itachi cengo di tempat ketika melihat sosok seorang gadis berambut merah muda yang hampir nyaris tertabrak olehnya dulu. Dan Itachi mempunyai firasat buruk setelah ini. Kedua mata onyx-nya menatap bergantian antara Sasuke dan Sakura sambil menunjuk-nunjuk keduanya dengan jari telunjuk kanannya.

"Singkirkan tanganmu! Tidak sopan sekali," komentar Sasuke dan langsung saja berjalan melewati Itachi beserta Sakura.

Itachi langsung menjambak rambutnya dan menggerutu tak jelas, dia langsung membanting pintu rumahnya sampai tertutup sempurna dan berjalan menyusul Sasuke bersama Sakura. "Mati aku!" batinnya.

"Duduklah di sini!" perintah Sasuke dan menekan kedua bahu Sakura pelan. Lantas dirinya juga duduk di samping Sakura, tak mengindahkan tatapan penasaran kekasihnya.

"Sasuke… orang itu—"

"Tidak penting!" potong Sasuke cepat dan merangkul Sakura mesra.

"Tapi aku—"

"Sasuke…"

Lagi-lagi ucapan Sakura terpotong kedua kalinya dan cukup membuatnya merengut kesal. Pada akhirnya ia diam dan hanya menatap intens wajah Itachi seolah mengatakan, "Apa kau masih ingat padaku? Gadis yang kau tolong karena hampir mati tertabrak olehmu?"

Glek!

"Apa?" tanya Sasuke sedikit jengkel dengan kehadiran kakaknya itu karena dianggap sudah mengganggu acara berduanyannya dengan Sakura.

"Aa—kita bicara nanti saja," ucap Itachi dan dengan seribu langkah menjauhi sosok Sasuke dan Sakura. Merasa lega karena gadis itu tak mengungkit soal bagaimana mereka berdua bertemu. Semoga.

Sakura menghela nafas pendek dan melepaskan rangkulan tangan Sasuke di bahunya. Raut wajahnya mendadak serius. "Sasuke… ada yang ingin kuceritakan padamu. Mungkin ini bukanlah waktu yang tepat, tapi… sudah seharusnya kau tahu," ucapnya.

"Hn. Mengenai apa?"

"Selama satu bulan terakhir ada yang menerorku."

Sasuke langsung menatap wajah Sakura dengan serius. "Dengan cara apa?"

"Sebuah foto dan surat. Akan kuperlihatkan padamu nanti."

"Kau tahu siapa kira-kira yang bisa melakukan hal itu?" tanya Sasuke dan memegang kedua bahu Sakura erat. Dapat dilihat oleh Sakura sendiri bahwa ada kilatan emosi dan kemarahan yang luar biasa di dalam kedua mata onyx yang kini tengah menatapnya.

"N-Naruto…"

"A-apa? K-kau serius?" tanya Sasuke tak yakin akan pendengarannya. Mana mungkin kakak Sakura sendiri yang melakukan hal rendahan seperti itu, pikir Sasuke keras.

Sakura mengangguk pelan dan berwajah murung. "Aku—" ucapnya dengan kedua bahu gemetar.

"…"

"…"

"—takut, Sasuke. Setiap kali aku berjalan sendirian, selalu seperti ada yang mengikutiku. Terlebih foto itu… foto yang kirimkan oleh peneror itu—hiks.. hiks.."

Belum sempat Sakura melanjutkan ucapannya dirinya sudah terisak dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Sasuke. Sakura benar-benar tak sanggup mengatakan jika di dalam foto itu dirinya tengah berpakaian minim dan sangat terbuka.

"Ssshhhh! Aku akan melindungimu, tenang saja!" Sasuke membelai lembut belakang kepala Sakura beserta merangkul tubuhnya erat. Betapa berat beban yang dipikul oleh kekasihnya sekarang. Kematian sahabat dekatnya saja sudah membuatnya shock. Bagaimana mungkin Sakura menutupi semuanya selama ini dari dirinya. Perasaan kesal dan kecewa jelas Sasuke mengalaminya, namun perasaan ingin melindungi kekasihnya lebih kuat di bandingkan apapun.

Dan diam-diam Itachi mendengar semua perkataan yang terlontar dari mulut seorang gadis berambut merah muda itu.

.

.

.

.

.

.

Entah sudah berapa jam yang dihabiskan oleh Sakura di rumah kekasihnya itu hanya untuk sekedar mengobrol dan bercanda gurau. Kabut tebal yang tadi pagi menyelimuti hatinya atas berita duka kematian sahabatnya sedikit demi sedikit menipis. Sakura memang tak akan pernah bisa melupakan jika sahabatnya itu mati karena dibunuh, tapi kini dia harus merelakan kepergian sahabatnya itu dengan hati ikhlas.

Dan Sakura ingin melupakan sejenak mengenai rasa takutnya akan prasangka buruk terhadap kakak angkatnya. Bukti-bukti yang sudah Sakura yakini mengarah pada Naruto entah kenapa membuatnya sangat kecewa dan juga miris. Kenapa? Kenapa harus Naruto yang membuatnya merasa tertekan seperti yang sudah-sudah. Sakura memang tahu jika rasa sayang Naruto padanya melebihi rasa sayang pada seorang adik, dan Sakura juga tahu jika selama ini Naruto selalu menahan diri akan perasaannya.

Beberapa kali Sakura sempat memergoki Naruto keluar dari kamarnya saat ia sedang tak ada di kamar. Ataupun saat dirinya tengah tidur Naruto datang ke kamarnya dan selalu membisikan kata 'Aku menyayangimu.' Hal itu terjadi puluhan kali dan Sakura tak ambil pusing mengenai itu, asalkan kakaknya itu tak berbuat macam-macam saat ada di kamarnya ataupun saat dirinya tengah tertidur pulas.

Namun, setelah mengetahui kebenarannya perasaan takut akan Naruto berbuat yang macam-macam padanya muncul secara perlahan.

Tak ingin berpikir lagi yang pastinya akan membuat kepalanya kembali sakit, akhirnya Sakura bangkit berdiri dari sofa merah marun yang tadi dia duduki bersama kekasihnya. Hal itu membuat sebelas alis Sasuke terangkat. "Kau mau kemana?" tanyanya yang juga ikut bangkit berdiri.

Nampak Sakura menghela nafas pendek dan mulai berjalan menjauhi Sasuke. "Toilet," jawabnya setelah punggungnya berbelok ke kanan dekat dapur.

Sasuke angkat bahu dan kemudian berjalan menaiki tangga pergi ke kamar Itachi. Dia mendorong knop pintu setelah sampai di depan kamar kakaknya dan setelahnya masuk tanpa mengunci pintunya. "Kau ingin bicara mengenai apa?" tanyanya dan langsung berjalan mendekat pada sosok kakaknya yang tengah sibuk berkutat dengan laptop.

"Ah! Kau mengagetkanku, Sasuke," komentar Itachi dan sedikit menjauhkan diri dari meja kerjanya.

"Hn."

"…"

"Sudah ada perkembangan mengenai pembunuhan siswi SMA di Suna itu?" tanya Sasuke membuka topik pembicaraan. Dia berjalan mendekati laptop Itachi dan melihat layarnya yang menampilkan gambar kalung milik sang pembunuh. Lagi-lagi Sasuke merasa janggal saat melihat kalung itu.

"Iya."

"Benar juga—"Sasuke melirik Itachi penuh dengan raut wajah penasaran.

"Ada apa?" tanya Itachi.

"—kenapa kau kembali kemari?"

"Mantan kekasih gadis yang terbunuh itu berada di Konoha," ucap Itachi.

Sasuke mengerutkan keningnya nampak semakin tertarik dengan kasus pembunuhan yang sedang Itachi kerjakan. "Siapa mantan kekasih gadis itu?" tanyanya.

Itachi nampak kembali mengambil alih laptopnya dan mulai mengetik sesuatu setelah itu kembali menyodorkan layar laptopnya pada Sasuke. "Lihat saja sendiri!"

Sasuke merendahkan kepalanya untuk melihat lebih jelas foto seorang pemuda berwajah stoic dan tampan di layar laptop Itachi. Kedua mata onyx-nya melebar sempurna dan lidahnya terasa kelu ketika ingin mengatakan siapa nama pemuda itu.

"Kau mengenalnya? Sudah jelas, karena dia satu sekolah denganmu. Benar begitu, Sasuke?" tanya Itachi.

Sasuke nampak mengutak-atik keyboard laptopnya sehingga kembali menampilkan photo sebuah kalung. "Kira-kira inisial huruf 'S' besar ini apa artinya?" tanya Sasuke dan menunjuk layar laptop dengan jari telunjuk kanannnya.

Itachi nampak menyangga dagunya dengan kedua punggung tangannya. "Kemungkinan inisial nama, tapi bisa juga—"

"Sasuke!" panggil Sakura dan tanpa sadar langsung masuk begitu saja ke kamar pribadi Itachi. Dia berjalan mendekat dan langsung merangkul lengan kekasihnya itu. "Dari tadi aku mencarimu. Sedang apa kau di—eh?"

Itachi memaksakan dirinya untuk tersenyum tipis. "Hallo!" sapanya.

"A-apa aku mengganggu pembicaraan kalian?" tanya Sakura penuh dengan kata penyesalan.

"Hn. Tidak," jawab Sasuke.

"Selamat sore, Kak Itachi!" sapa Sakura dan sedikit membungkuk rendah, seulas senyum simpul terlukis di bibirnya yang mungil. Sasuke sedikit tak suka akan senyuman yang Sakura berikan pada kakaknya.

"Ah! Selamat sore juga, Sakura." Itachi balas menyapa dan mengacuhkan tatapan mengintimidasi dari adik kandungnya.

"Kalian sudah saling—"

"Secara kebetulan kami bertemu di café, aku salah mengira jika Kak Itachi adalah kau… Sasuke," ucap Sakura mendahului ucapan Sasuke berharap pembahasan mengenai pertemuannya dengan Sang Uchiha sulung itu tak dipermasalahkan oleh kekasihnya. Bagaimana pun juga Sakura tak tega melihat tatapan kasihan yang diperlihatkan oleh Itachi padanya.

"Hn." Sasuke menjawabnya antara enggan dan tak suka.

Sakura kembali tersenyum manis pada Itachi dan kemudian manik emerald-nya menatap layar laptop dengan penuh selidik. Dahinya sedikit terlipat dan terlihat dari wajahnya jika Sakura seperti tengah mengingat sesuatu. "Kalung itu—"

"Hn. Kau pernah melihatnya?" tanya Sasuke dan lebih mendekatkan laptop itu pada Sakura.

"Rasanya memang benar aku pernah melihatnya. Tapi… aku lupa."

Itachi langsung saja mengambil kembali laptopnya dan tersenyum canggung pada Sakura dan menatap Sasuke lumayan tajam. Seolah-olah tatapan matanya mengisyaratkan bahwa Sakura tak perlu tahu ataupun terlibat akan kasus pembunuhan yang tengah ia tangani. Salah langkah maka Itachi sudah menyeret satu orang gadis dalam bahaya dengan tanggungan nyawa.

Dan nampaknya Sakura mengerti maksud sikap Itachi. Sesegera mungkin dia pamit keluar dari ruangan itu sambil menuntun tangan Sasuke agar mengikutinya. Tak lupa Sakura juga menutup pintu kamarnya rapat-rapat.

"Sebenarnya pekerjaan kakakmu itu apa?" tanya Sakura saat sedang menuruni undakan tangga melingkar. Manik emeraldnya menatap punggung Sasuke di depannya dengan raut wajah penasaran.

"Kakakku seorang detektif, dia sering meminta bantuanku untuk memecahkan suatu kasus."

"Sugoooiiii!" Puji Sakura dengan sebuah senyuman bangga.

"Hn."

Tiba-tiba langkah Sakura langsung terhenti membuat langkah Sang Uchiha muda juga ikut berhenti. "Sasuke… mengenai kalung itu—"

"Tak usah di pikirkan, itu bukanlah tugasmu untuk mencari tahu siapa pemiliknya. Itu adalah tugasku, juga melindungimu dari bahaya yang mengancam."

"Err… baiklah, aku mengerti."

"Kita makan malam di luar. Ambil tasmu! Aku tunggu di luar lima menit lagi," ucap Sasuke dan berjalan tergesa-gesa menuruni tangga.

Sedangkan Sakura hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah seenaknya kekasihnya. Namun sedetik kemudian di bibirnya terulas sebuah senyuman simpul. Dia menuruni anak tangga di sertai senandungan merdu yang keluar dari bibirnya.

##Obsession##

Ruangan kecil itu terasa pengap dan juga gelap. Tak ada satu pun celah-celah dari jendela untuk udara matahari maupun sinarnya masuk ke dalam ruangan asing itu. Meskipun begitu ada satu orang mahkluk hidup—manusia—yang tengah duduk di atas kasur berseprai merah dengan motif bunga mawar.

Nampak sosok itu tengah memandangi sebuah boneka beruang kecil dan kusam di dalam sebuah bingkai kaca dengan ukuran sedang tak jauh di hadapannya. Sosok itu tak lama kemudian berdiri tegap dan menenggak minuman kaleng bersoda yang dari tadi ia genggam.

Glek! Glek!

Bahkan suara saat minuman itu melewati kerongkongannya pun dapat terdengar jelas. Menandakan jika tempat itu sangatlah sunyi-sepi, atau mungkin ruangan itu jauh dari keramaian dan mengasingkan tempat.

Sosok tegap yang menandakan jika dia adalah seorang laki-laki kini berjalan mendekati meja, membuka salah satu laci dari sekian banyaknya laci yang dimiliki oleh meja kayu berplitur coklat itu. Sebuah lembar foto ukuran besar, dan kemudian dia menempelkannya tepat di depan pintu kayu. Seringai tipis dan menakutkan tercipta di bibirnya. Dia melangkah mundur setelah sebelumnya mengambil beberapa pisau ukuran kecil dari atas meja.

Jleb! Di lemparkannya satu pisau kecil itu dan tepat mengenai sasaran yang dia inginkan. Foto seorang pemuda berwajah tampan dengan rambut khas berwarna biru dongker yang mencuat di bagian belakangnya.

Jleb! Pisau itu kembali dia lemparkan dan tepat mengenai bagian leher di foto itu.

"Uchiha Sasuke… sejak dari awal aku memang tak pernah menyukaimu. Karena apa? Karena kau telah merebut gadis yang teramat sangat aku cintai dari tanganku. Sakura… ia hanya milikku dan tak akan pernah menjadi milikmu. KAU DENGAR ITU, BRENGSEK?" ucapnya dengan diakhiri sebuah teriakan sehingga membuat suaranya memantul dan menggema di ruangan itu.

Dengan cepat ia merobek-robek foto itu menjadi serpihan kecil dan kemudian keluar dari kamar itu dengan sebuah tatapan mata yang haus akan membunuh. "Sudah lama sekali aku tak melihat warna cantik darah," komentarnya dan terkekeh pelan. Dia menaikan resleting jaket hitam dan tebal yang ia kenakan, juga tak lupa menaikan tudung jaketnya membuat kepala bahkan rambutnya pun tak terlihat. Seulas senyum merekah di bibirnya yang tipis.

.

.

.

.

.

.

Meskipun dengan perasaan yang kacau dan berat Hinata datang menghadiri acara pemakaman sahabatnya sekitar tiga jam yang lalu. Dirinya ditemani oleh Tenten dan juga Neji, kedua mata lavendernya sama sekali tak menemukan manik emerald saat pemakaman itu. Hinata tak begitu mempermasalahkan keabsenan Sakura karena dia sangat mengerti betul bagaimana perasaan sahabatnya itu.

Memang, orang yang paling dekat dengan Ino di bandingkan dengan dirinya maupun Tenten adalah Sakura. Mungkin sahabatnya itu tak sanggup jika melihat peti mati Ino diturunkan dan dikuburkan ke dalam tanah.

Dan semenjak kepulangan dirinya dari acara pemakaman, Hinata tak banyak bicara. Ditanya ia hanya terdiam membisu bahkan sama sekali tak merespon ketika Neji bertanya padanya. Begitupun dengan Tenten, ketika sahabatnya itu menyodorkan segelas air putih dingin ke hadapannya. Hinata tak menampik ataupun menerima gelas itu.

Tenten ikut mendudukan dirinya di sebelah gadis berambut indigo itu dan mengelus pelan punggungnya. Kedua mata coklat miliknya melihat ke dalam mata sahabatnya itu. Kosong. "Hinata—"

"Ini sudah hampir malam. Kuantar kau pulang." Sebuah suara menginterupsi ucapan Tenten secara tak sengaja. Neji, datang mendekat pada keduanya dengan wajah kusut dan murung.

"Aku pulang, Hinata," ucap Tenten pada sahabatnya itu dan sekilas menggenggam tangan kanan Hinata yang terkulai begitu saja di kedua samping tubuhnya.

Hinata sama sekali tak merespon. Ia hanya terdiam sambil memeluk kedua lututnya dan menatap kosong layar televisi di hadapannya.

"Ayo!" ajak Neji dan langsung menarik pergelangan tangan Tenten agar membiarkan Hinata untuk sendirian dulu.

Blam!

Bunyi pintu di tutup itu menandakan jika Tenten dan kakak kandungnya itu telah pergi. Kepala Hinata bergerak memandang pintu itu dan sedetik kemudian tubuhnya bangkit dari acara meringkuk di depan televisi dan beranjak naik ke atas—ke kamarnya.

Hinata masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa mengunci pintunya dari dalam. Kedua langkahnya tertuntun ke arah kamar mandi.

Cklek! Krieeett!

Suara pintu bergeser dari tempatnya terdengar sangat nyaring dan sedikit menakutkan. Namun hal itu sama sekali tak membuat niatan Hinata untuk masuk ke dalam kamar mandi itu hilang. Dia berjalan dengan menyeret kedua kakinya mendekati kran shower. Dan sedetik kemudian ia menyalakan shower itu dengan memutar krannya ke arah kanan 180%.

Dan suara gemericik air pun terdengar. Air dingin itu membasahi baju seragam sekolah Hinata beserta tubuh ringkihnya. Hinata jatuh terduduk dan kembali memeluk lututnya. Terdengar samar-samar ia menggumam, "Akan kubalaskan kematian Ino."

.

.

.

.

.

.

Sakura dan Sasuke tengah berjalan pelan berdua di kesunyian malam di bawah langit yang gelap di jalanan yang mulai lenggang. Tak sepenuhnya lenggang juga, terbukti masih ada beberapa pejalan kaki lainnya maupun kendaraan beroda dua maupun empat lewat di samping keduanya.

Kepala Sakura tertunduk lesu meskipun ia baru saja makan malam romantis dengan kekasihnya. Ia masih belum bisa melupakan bayang-bayang akan kematian sahabatnya yang tiba-tiba itu. Dan beberapa kali juga Sakura menengokan kepalanya ke belakang—berpikiran jika ada yang mengikutinya. Sasuke yang menyadari hal itu langsung menggandeng tangannya erat dan memasukan tanganya beserta tangan Sakura ke dalam saku mantel yang ia kenakan.

"Tak ada yang mengikutimu. Tenang saja, ada aku di sini! Kau tak perlu takut, Sakura," ungkap Sasuke tulus dengan sebuah senyuman menenangkan.

Mau tak mau Sakura mengukir sebuah senyuman simpul di bibir mungilnya. "Terima kasih, Sa—"

"Sedang apa kalian di sini?" tanya seseorang tiba-tiba di hadapan Sakura dan juga Sasuke membuat keduanya terlonjak kaget.

Dapat dirasakan oleh Sasuke jika Sakura mengeratkan genggaman tangannya di dalam saku.

"Ini sudah malam. Ayo pulang, Sakura!" ajak Naruto dan mengulurkan sebelah tangannya pada Sakura.

Sakura melirik wajah Sasuke di sampingnya yang terlihat tenang-tenang saja. "Aku yang akan mengantarnya," sergah Sasuke dan berjalan melewati sosok mematung Naruto begitu saja.

Nampak di belakang Sasuke dan Sakura kedua tangan Naruto mengepal erat. Gigi-gigi putihnya bergemeletuk kesal dan pandangan matanya mendingin. Ia kemudian menyusul keduanya dan berjalan dalam diam di belakang.

Ia memandang tajam punggung Sasuke seperti tengah menusuk-nusuk punggung itu dengan pisau lewat pikirannya. Akhirnya ia berjalan di samping Sasuke dan tersenyum hangat—pura-pura. "Kalian sudah makan malam?" tanyanya pelan.

"I-iya, kami sudah makan malam, Kak Naruto," jawab Sakura setengah gugup tanpa memandang wajah kakaknya itu.

"Begitu… tadinya jika kalian belum makan, aku mau mengajak kalian makan ramen di dekat stasiun phoenix. Sayang sekali jika—"

"Lain kali saja!" potong Sasuke cepat.

"Oh—benar, lain kali saja," timpal Naruto.

Ketiganya terdiam dan hanya suara hembusan napas mereka saja yang terdengar. Naruto berjalan lebih cepat ke depan dan kemudian membalikan badannya sehingga menghadap Sasuke dan Sakura. Ia berjalan mundur sambil berkata, "Kenapa sikapmu jadi aneh padaku, Sakura?" tanyanya.

"Eh? Aku—" Sakura gugup untuk menjawabnya atau mungkin tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan kakaknya.

Belum sempat Naruto untuk mengucapkan kata-kata lagi, sebuah sinar lampu dari motor yang melaju kencang ke arahnya membuat ia terdiam dengan menutup kedua matanya erat—silau. Sasuke yang terkena sorot sinar lampu itu juga ikut menyipitkan matanya.

Brum! Brum!

"Awas! Sasuke. "Setengah berteriak Naruto langsung menubruk tubuh Sasuke hingga keduanya terhempas ke sisi jalanan aspal yang jauh dengan jangkauan motor yang melaju kencang ke arahnya.

Bruk!

Motor yang tak diketahui pengendaranya siapa itu melesat melewati tubuh Sasuke dan Naruto begitu saja dengan kecepatan tinggi.

"Kalian tidak apa-apa?" tanya Sakura khawatir dan langsung mendekati sosok kakak dan kekasihnya yang terbaring tertelungkup di jalanan.

Naruto bangkit pertama dan langsung mengaduh kesakitan karena salah satu sikutnya terluka dan mengeluarkan darah. Setelah itu baru Sasuke yang sama-sama mengerang sakit karena sikut, lengan, punggung dan sisi kepalanya terbentur ke aspal yang dingin dan keras. Darah merembes keluar dan menetes turun membuat Sakura panik seketika.

"Biar aku saja yang menyetir mobilmu, Sasuke," ucap Sakura setelah membantu Sasuke bangkit berdiri. Ia memapah pemuda itu agar menyebrang ke tempat parkir khusus mobil. Naruto juga ikut memapah Sasuke yang notabene-nya terluka lebih serius di bandingkan dirinya.

"Siapa pengendara motor itu? Apa orang yang selama ini meneror Sakura? Tapi, Naruto… ia yang sudah menyelamatkanku dari kecelakaan itu. Jadi, sebenarnya siapa orang yang sudah meneror Sakura jika bukan Naruto pelakunya," batin Sasuke dan berpikir keras.

.

.

.

.

.

.

Sakura tak henti-hentinya menampakan raut wajah cemas dan takut. Beberapa kali ia mengerling sosok Sasuke yang mengerang sakit karena luka yang di dapatnya. Begitupun dengan sosok kakak angkatnya itu yang duduk di sebelah Sasuke di belakang dirinya menyetir. Gadis bernama sama dengan bunga sakura itu berusaha untuk berkonsentrasi dalam menyetir, meskipun pada kenyataannya ia tak bisa.

Sakura berdo'a dalam hati agar mobil yang tengah di bawa olehnya tak menabrak sesuatu dan pulang dengan selamat ke rumahnya.

"Akan memakan waktu lama jika kita pergi ke rumah kita, sebaiknya kita bawa Sasuke ke rumahnya saja, Sakura," komentar Naruto dan beringsut mendekati Sakura.

Deg! Deg! Jantung Sakura berdetak dengan cepatnya tak kala Naruto menaruh kedua tangannya di atas punggung tangannya yang tengah bertengger di stir kemudi. Wajahnya berada dalam jarak dejat dengan wajah Sakura dan dapat di rasakan sendiri oleh gadis itu jika kini kakak angkatnya itu tengah mengaduh kesakitan.

"Cepat pindah ke belakang, biar aku yang menyetir!" ucap Naruto lagi karena Sakura belum mau melepaskan genggamannya—cengkramannya—pada stir kemudi.

Sakura melirik Sasuke dengan ekor matanya meminta persetujuan. Gadis itu sangat takut, jika kakaknya berbuat hal nekat dengan menabrakan mobil ini ke pohon ataupun pada mobil lain—mengingat jika Narutolah yang sudah menerornya selama ini. Bisa saja, ia ingin mati dengannnya beserta Sasuke.

"Biarkan Naruto yang menyetir, Sakura!" perintah Sasuke pelan dan berusaha agar kesadaran dirinya tak hilang dan masih terjaga.

Dengan pelan-pelan Sakura melepaskan stir kemudi itu dan menjauhkan tangannya dari genggaman tangan Naruto. Sakura mulai beringsut setengah berdiri agar Naruto bisa mengambil alih tempat duduk yang sekarang ia duduki. Tak ada pilihan lain lagi bagi Sakura untuk tidak membuat tubuhnya sedikit terhimpit oleh tubuh tegap Naruto. Kedua pipinya sedikit merona namun sesegera mungkin ia pindah ke belakang ketika di rasa sebelah tangan Naruto secara tak sengaja—mungkin—menyentuh pahanya yang mulus dan putih. Gadis itu sedikit merutuki keadaan rok rempel sekolahnya yang memang berada di atas lutut—pendek.

Diam-diam Naruto tersenyum penuh arti ketika punggungnya membelakangi Sakura.

"Hentikan pendarahan di kepalanya!" perintah Naruto.

"A—iya," ucap Sakura gelagapan dan kemudian merogoh saku rok rempel seragamnya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan putih bersih dengan motif bunga-bunga sakura kecil di setiap ujungnya.

Sakura menekankan sapu tangan itu pada luka di samping kepala Sasuke agar setidaknya darah yang mengucur keluar tak seberapa banyak. Kepala Sasuke terkulai begitu saja di bahu kanan Sakura dan suara desahan nafas pendek terdengar dari bibirnya. Kedua matanya terpejam dan sebelah tangannya menggenggam erat tangan Sakura. Diam-diam di balik stir kemudi kedua tangan Naruto mengepal erat sampai kuku-kuku jarinya memutih.

"Cih!" umpat Naruto dalam hati dan langsung menambah kecepatan mobil yang ia bawa.

.

.

.

.

.

.

"Kau tak perlu mengantarku sampai rumah, Neji. Turunkan aku di halte bus di ujung jalan sana saja," ucap Tenten dan mulai membuka sabuk pengaman, ia membenahi letak tas gandongnya dan memandang Neji dengan sama-sama wajah lesu dan suram.

"Tapi—"

"Akan lebih baik jika waktumu dipakai untuk menemani Hinata di rumah. Kasihan dia sendirian, bukankah katamu Paman Hiashi dan Hanabi sedang berlibur ke Iwagakure selama satu minggu lamanya?" tanya Tenten memotong ucapan Neji cepat.

"Aa… baiklah. Kau tidak apa-apa?" Neji sedikitnya juga mengkhawatirkan keadaan teman adiknya itu. Meskipun sampai sekarang ia belum bisa menerima ataupun membalas perasaan sahabat adiknya itu, tetap saja, rasa khawatir itu ada.

Tenten menganggukan kepalanya dan kemudian mulai membuka pintu mobil setelah Neji menepikan mobilnya di dekat halte bus. Sedikitnya gadis bercepol dua itu merasa lega karena sudah malam masih banyak orang yang menunggu bus di halte, setidaknya ia tak sendirian nanti. Lagi pula, gadis itu tak mau merepotkan Neji dalam keadaan seperti ini.

"Sampai jumpa," ucap Neji dan sedikit melambaikan tangannya dari dalam mobil. Setelah itu mobil yang dikendarainya pun mulai meninggalkan Tenten.

Gadis beriris coklat itu ikut melambaikan tangannya dengan semangat. Sebuah senyuman kecil menghiasi bibirnya. Ia menaikan letak tas gandong di pundaknya dan mulai berjalan pelan menuju halte bus. Dalam hati ia berharap jika keadaan Hinata akan menjadi lebih baik, meskipun itu adalah sebuah harapan yang sulit.

Ino.

Nama sahabatnya itu kembali melintas di dalam benaknya. Mengapa? Ino adalah gadis yang baik hati dan juga ramah. Mengapa ada orang yang setega itu membunuhnya? Tenten berdo'a agar pelaku kejahatan itu segera di tangkap.

Gadis bercepol dua itu mengambil tempat duduk di tengah-tengah kursi besi karena memang tak ada yang menempatinya. Ia merogoh ke saku rok rempel seragamnya dan langsung membuka handphone flip miliknya. Ia mencari nama Sakura di kontak telepon dan langsung menekan tombol berwarna hijau, bermaksud ingin menghubunginya.

Tut! Tut!

Namun suara menyebalkan itu yang ia dapatkan. Menggerutu kesal akhirnya ia memasukan kembali handphone itu ke saku. Ia memandang ke depan dan bertepatan dengan melewatnya sebuah motor Ninja berwarna merah. Orang yang mengendarainya memakai seragam yang sama seperti dirinya namun bawahannya adalah celana, menandakan jika ia seorang pemuda.

Kepala yang terbungkuskan sebuah helm berwarna merah nampak menengok ke arah Tenten.

"Motor itu 'kan—" Batin Tenten dan langsung bangkit berdiri. Ia mematung melihat motor itu tiba-tiba saja berhenti tak jauh di mana ia berdiri. Jantungnya mulai berdetak dengan kencang ketika pengendara motor itu membuka kaca helm-nya. Dan sepasang iris jade dengan tatapan dingin menatap dirinya.

Glek! Tenten menelan ludah gugup dan mengambil inisiatif untuk segera pergi dari halte itu. Entah kenapa, ia mempunyai sebuah firasat buruk mengenai kehadiran pemuda bermata jade itu sekarang.

Brum! Sebuah suara motor nampak menyapu gendang telinga gadis itu. Sebuah suara yang entah kenapa semakin lama semakin mendekat. Tenten langsung berlari begitu saja masuk ke dalam gang sempit yang sama sekali ia tak kenali ataupun hafal jalannya. Ia panik. Dan ia tak mampu berpikir apa-apa lagi selain lari dan lari. Di dalam pikirannya ia mengatakan, "Jika aku lari maka aku akan selamat."

Benarkah lari adalah keputusan yang terbaik saat ini? Atau mungkin akan menjadi sebuah keputusan yang salah? Bisa saja ia lari dan mendekati Sang Dewa Kematian pada akhirnya.

.

.

.

.

.

.

Kedua mata emerald gadis itu bergeriliya ke sana kemari mencari sebuah kotak obat di antara banyaknya laci di sebuah dapur kediaman Uchiha. Begitupun dengan para pembantu yang lain yang juga ikut membantu.

"Ah! Ini dia," seru salah seorang pembantu wanita pada orang-orang di dalam dapur itu.

Sakura mengembuskan nafas lega dan segera menerima kotak berlambang plus merah itu dari tangan pembantu yang menyodorkannya padanya. Ia bergumam 'terima kasih' sebelum pergi ke ruang tamu untuk mengobati kakak angkat dan kekasihnya.

"Tolong ambilkan aku handuk dan air dingin," ucap Sakura lembut pada salah seorang pembantu sebelum benar-benar pergi meninggalkan dapur.

Seorang pembantu wanita berambut ungu pendek menyenggol lengan seorang pembantu yang lain dengan sebuah senyuman iri. "Tak kusangka gadis yang bernama Sakura itu sangat cantik. Pantas saja Tuan Muda Sasuke sangat senang ketika gadis itu datang ke rumah ini," komentarnya pelan.

"Iya, benar. Aku jadi iri."

"Hey! Kalian berdua jangan mengobrol saja. Ayo! Siapkan apa yang dikatakan oleh Nona Sakura itu." Salah seorang pembantu yang sudah senior di dapur itu mengingatkan bawahannya.

"Baik-baik."

"Cerewet!" batin kedua pembantu itu.

"Sasuke… Kak Itachi pergi kemana?" tanya Sakura saat baru saja tiba di ruang tamu. Seharusnya kakak sulung Sasuke itu segera datang ketika ada kegaduhan di rumahnya yang sebesar ini. Tapi, dari tadi tak ada siapapun.

"Mungkin dia pergi bekerja," jawab Sasuke pendek dan mulai membuka seragam sekolahnya dan bertelanjang dada.

Muka Sakura langsung memerah. "U-untuk apa kau buka baju, Sasuke?" tanyanya gugup.

Sasuke menaikan sebelah alisnya bingung. "Punggungku terluka. Sudah, jangan banyak bicara! Obati aku," ucapnya memerintah Sakura.

Dengan kikuk dan mencoba untuk mengatur detak jantungnya yang dari tadi berdebar kencang akhirnya Sakura berjalan dan duduk tepat di samping Sasuke. Dan gadis itu langsung meringis sakit membayangkan jika ia yang terluka.

Kulit punggung Sasuke yang tadinya mulus sekarang sedikit mengelupas dan mengeluarkan darah. Dengan hati-hati Sakura memberikan cairan obat merah yang sudah ia pakaikan pada gumpalan kapas kecil terlebih dahulu. Sasuke juga nampak tak diam, ia mengobati luka di tangannya meskipun dengan susah payah.

"Sasuke saja yang di obati, aku tidak?" Naruto merajuk kesal pada Sakura dan menggulung lengan kemeja hitam yang ia kenakan sebatas sikut. Dapat terlihat juga jika ada darah yang keluar.

"Nanti. Sasuke dulu, bersabarlah Kak!"

"Baik-baik," jawab Naruto dan 'pluk!' menyenderkan kepalanya ke bantalan sofa di belakangnya. Kepalanya terasa berat sekali dan tubuhnya terasa lemas.

"Tahan sebentar, Sasuke!" ucap Sakura ketika akan membalut luka di samping kepala—dekat dahi—Sasuke.

Naruto melihat perhatian dan sikap lembut yang diperlihatkan oleh Sakura pada Sasuke. Membuat hatinya panas dan tangannya kembali mengepal. Dan ia membuang mukanya ketika melihat Sakura mencium lembut perban luka Sasuke, dan lebih membuatnya kesal ketika Sasuke meraih dagu gadis itu dan mencium bibirnya sekilas.

Wajah Sakura memerah. "Kau ini mencari kesempatan dalam kesempitan," ucapnya.

"Itu adalah ciuman yang harusnya terjadi saat di atap sekolah," ungkap Sasuke seperti sengaja.

Naruto merasakan getaran di saku celananya. "Ibu…" desahnya pelan ketika melihat layar handphone-nya dan kemudian melirik Sakura yang juga ikut menatapnya.

"Hallo, Ibu—kabar Sakura? Ia baik-baik saja, Ibu tak perlu khawatir, aku akan menjaganya. Kabarku juga baik. —ya, kami sedang bersama. Di rumah Sasuke… hanya main saja—ya, ya, kami akan segera pulang. Ibu tenang saja! Sudah, ya!" Naruto mematikan sambungan teleponnya secara sepihak dan menatap Sakura dan Sasuke bergantian.

"Kita pulang sekarang, Sakura!" ajak Naruto dan bangkit berdiri.

"Eh? Tapi, Sasuke—"

"Aku tidak apa-apa! Ada pembantu yang akan mengurusku. Kau tenang saja!" ucap Sasuke dan menepuk-nepuk kepala Sakura pelan.

"Kau yakin? Jika kau mau aku dan Naruto bisa—"

"Tidak. Kau pulang saja." Sasuke bersikeras meminta Sakura untuk pulang.

Dengan berat hati Sakura bergumam 'iya' dan meraih tas gandongnya. Belum sempat ia membalikkan badannya dan menyusul Naruto, Sasuke sudah meraih kembali dagunya dan mencium bibirnya lembut dan sedikit melumatnya.

"Ngg~"

"Berhati-hatilah!" ucap Sasuke ketika sudah melepaskan ciumannya. Ia menangkup wajah Sakura dengan kedua tangannya dan berucap dengan wajah serius dan penuh kekhawatiran.

Dengan rona merah di kedua pipinya Sakura mengangguk. Setelah itu ia sedikit berlari menyusul Naruto yang sudah sepenuhnya keluar dari rumah Uchiha. Sasuke tersenyum menatap punggung Sakura yang semakin lama semakin kecil dan kemudian menghilang di pintu depan rumahnya.

##Obsession##

Sudah sejak satu jam yang lalu Sakura pulang ke rumahnya, ia pun sudah mengganti seragam sekolahnya dengan piama berwarna soft pink. Sekarang ini ia sedang berbaring tertelungkup di atas kasur dengan seprai bermotif strawberry yang terlihat sangat nyaman dan hangat. Kedua kakinya saling bertumpu satu sama lain dan terbalut oleh selimut tebal sebatas lutut.

Sakura memalingkan wajahnya ke kanan dan sebelah tangannya meraih handphone miliknya yang tergeletak begitu saja di atas buffet kecil di samping tempat tidurnya. Ia membuka handphone itu dan langsung melihat-lihat sebuah galeri foto yang menggambarkan keadaan dirinya dengan ketiga sahabatnya. Ia berada di tengah-tengah, di samping kanannya ada Tenten dan Hinata, sedangkan di sebelah kirinya ada… Ino.

Kedua mata emerald itu mulai berkaca-kaca dan tangan yang memegang handphone itu gemetar.

"Boleh aku masuk?" tanya seseorang di ambang pintu yang memang belum di kunci oleh Sakura.

Dengan secepat kilat Sakura menutup handphone flipnya dan langsung dipejamkannya kedua matanya rapat-rapat. Sebisa mungkin ia bernafas dengan pelan seperti orang yang sudah terlelap lama.

Merasa tak ada jawaban dari pemilik kamar itu, akhirnya sosok seorang pemuda berbadan tegap masuk ke dalam dan sedikit menutup pintunya.

Naruto berjalan memutar ke kanan untuk melihat wajah Sakura yang tertidur. Ia berjongkok dan mengulurkan sebelah tangannya untuk menyingkirkan beberapa helai rambut dari sisi wajah Sakura. Setelah itu ia mendekatkan bibirnya ke dahi Sakura yang tertutupi poni. Dikecupnya pelan dan sedikit lama. "Aku sangat menyayangimu, Sakura," bisiknya pelan setelah melepaskan kecupan ringannya di dahi Sakura.

Pemuda berambut kuning itu bangkit berdiri dan sedikit membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh adik angkatnya sebatas leher. Ia akan segera pergi dari sana ketika ada sebuah tangan yang memegang tangan kanannya.

Nampak Sakura membuka kedua matanya perlahan dan langsung bersiborok dengan kedua mata biru laut milik Naruto. "Maukah kau jujur padaku?" tanyanya dan bangkit duduk.

Naruto menaikan sebelah alisnya bingung akan permintaan tiba-tiba adiknya itu. Namun, akhirnya ia ikut duduk di hadapan Sakura dan kedua matanya tak lepas dari wajah cantik adiknya itu. "Kau ingin aku jujur mengenai apa, hm?" tanyanya dan sedikit mengacak-acak puncuk kepala Sakura.

Sakura belum menjawabnya, ia malah meraih salah satu laci di meja di samping tempat tidurnya dan langsung memperlihatkannya pada Naruto. Ia mengapit benda tipis berwarna merah darah itu diantara jari telunjuk dan jari tengah. "Apa ini milikmu?" tanyanya.

Naruto mengambil amplop merah itu dari tangan Sakura dan menelitinya dengan cara membolak-balikannya depan-belakang. Kedua alisnya langsung berkedut satu sama lain dan dahinya sedikit terlipat. Kepalanya menggeleng ke kanan dan ke kiri. "Bukan. Kau mendapatkan amplop ini dari mana?"

"Di dalam kamarmu—lebih tepatnya di dalam sebuah novel di rak bukumu. Kau—Kakak, berkatalah jujur padaku sekarang!"

"Hhh.. aku benar-benar tak mengerti maksudmu, Sakura. Aku harus jujur? Jujur mengenai apa? Apa aku—"

"Ada yang menerorku selama ini," potong Sakura cepat dan kembali merampas amplop merah itu dari Naruto. Segera saja ia buka amplop itu dan mengambil secarik kertas dan juga selembar foto di dalamnya. "Lihat! Ini tulisanmu 'kan? Dan foto ini… tak ada yang tahu aku pernah di foto di panti asuhan ini selain kau."

Naruto nampak mendengus sebal. "Banyak yang mempunyai tulisan seperti ini, bukan aku saja. Dan foto ini… ada yang mengambilnya dari dalam dompetku. Dengar! Dompetku pernah hilang dan kemudian kembali lagi padaku. Aku tak mungkin—"

"Jangan berbohong lagi padaku!" ucap Sakura setengah berteriak dan mencengkram masing-masing kepalanya. Sakit. Rasanya berdenyut-denyut seperti akan meledak dalam sekejap saja.

"Aku tak berbohong padamu. Mana mungkin aku yang selama ini menerormu? Ah! Jadi ini penyebab sikapmu jadi aneh padaku."

"…"

"Sudah cukup kau berbohong padaku, Kak!"

"Berapa kali harus kubilang padamu, Sakura? Aku bukanlah orang yang selama ini menerormu. Aku adalah kakakmu sendiri, mana mungkin aku setega itu padamu. Percayalah!"

Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya cepat ke kiri dan ke kanan. "Aku benci Kak Naruto!" teriaknya.

Bruk! Naruto langsung membanting tubuh mungil Sakura ke tempat tidur dan langsung mencengkram kedua bahunya erat sampai-sampai Sakura sedikit merintih sakit. Ia kunci tubuh Sakura di bawahnya dengan menduduki bagian pahanya.

Sakura mengerjapkan kedua matanya tak percaya atas apa yang dilakukan oleh Naruto sekarang. Jantungnya mulai berpacu kencang dan setitik keringat mengalir dari pelipisnya. Menelan ludah gugup ia membuka bibirnya untuk mengeluarkan kata-kata namun bibir mungilnya langsung terkunci rapat oleh bibir lain.

Takut.

Sakura sangat merasa takut saat ini. Ia meronta minta di bebaskan dengan mendorong kuat-kuat dada Naruto yang semakin menghimpit dadanya. "Hmmpphh~"

Bukannya melepaskan Sakura, Naruto malah semakin memperdalam ciumannya dan lebih mencengkram erat kedua bahu Sakura yang mulai gemetar.

Melumatnya dengan ganas. Menghisap bibirnya dengan kuat sampai memerah. Dan air mata telah sukses jatuh dari kedua mata emerald itu. Naruto melepaskan ciumannya karena membutuh oksigen untuk ia bernapas sejanak.

Plak!

Tamparan yang Sakura layangkan di pipi kanan Naruto sangat keras membuat wajah Naruto berpaling ke kiri, seketika pipi yang berwarna kecoklatan itu memerah.

Plak!

Tak dapat diduga oleh Sakura jika Naruto akan membalas menamparnya keras. Wajah Sakura memerah sempurna karena sesak dan juga rasa panas di pipinya.

Plak!

Kedua kalinya Naruto menampar pipi Sakura yang satunya dengan punggung tangannya. Suara tangis seketika pecah di dalam kamar yang dihuni oleh dua insan itu.

"Hiks… hiks…"

Segaris aliran darah tercipta di sudut bibir kanan Sakura akibat tamparan keras Naruto dan mengalir ke lehernya.

Sakura sama sekali tak percaya jika Naruto—kakak yang selama ini ia sayangi dan menjadi panutannya dapat melakukan hal seperti ini. Bukan hanya fisik yang terasa sakit oleh Sakura tapi hatinya diikuti oleh rasa sakit juga.

"Bukan aku pelakunya. Sakura—maafkan aku…" Naruto berucap lirih dan menghapus aliran darah itu di dagu dan bibir Sakura.

Ia kembali merendahkan kepalanya dan mencium lembut sudut bibir Sakura guna menghapus darah yang masih tersisa. Kali ini Sakura sama sekali tak bereaksi ketika lagi-lagi Naruto melumat bibirnya pelan. Tangannya tiba-tiba saja merasa lemas untuk mendorong jauh tubuh Naruto. Air matanya tak henti-hentinya mengalir dari kedua mata emerald miliknya.

Naruto menjaukan wajahnya dari wajah Sakura dengan pandangan sendu. Ia turun dari atas tempat tidur dan duduk di tepinya. Mencengkram erat kedua sisi kepalanya. Ia menyesal karena tak bisa mengontrol emosi dan perasaannya. Kedua bola mata sewarna dengan batu safir itu menatap lirih sosok adiknya yang sangat berantakan. Atasan piama yang terangkat ke atas sampai perutnya yang rata dan putih terlihat, belum lagi bekas cengkraman yang menghiasi kedua bahu Sakura. Rambut merah mudanya nampak acak-acakan dan menutupi sebagian wajahnya. "Maafkan aku—Sakura, maafkan aku," ucapnya dan langsung mendekap Sakura ke pelukannya. Suara tangis Sakura kembali pecah dan kemudian membalas memeluk erat tubuh tegap Naruto.

"Kakak—hiks… hiks…" gumam Sakura.

.

.

.

.

.

.

.

Tsuzuku

Maaf, atas adegan terakhir itu… khu.. khu… ^/^

Adegan itu memang sudh termask ke dalm alur yang aku buat. Ga kerasa fic nie sdh mencapai chapter ke-11.

Wow! Lmyn panjng untk ukurn sbuah fic, d tmbh ini adalah fic yg panjang yg q buat.

Q perkirakan fic nie akan tamat di chapter ke -15…

Terhitung msh bnyk adegan-adgan penentu dlm fic nie yg menunjukan siapa pelakunya.

Mohon maaf jk reader semua merasa bosan ataupun jengah dngn fic-ku ini.

Dan trma kasih bagi semua yang sudah mengikuti fic ini dr awal sampai skrg.

.

.

.

.

Boleh minta review'y?