Disclaimer © Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Sasuke semakin sibuk meski dia masih menyempatkan sedikit waktunya untukku. Entah kenapa aku tak bisa menolak Gaara senpai yang selalu mengantarku pulang. Lebih tepatnya dia selalu melakukan apapun tanpa peduli pendapatku. Situasi ini semakin membebaniku.

Hari ini tim Sasuke akan bertanding. Aku membuka lemari meraih jaketnya yang dipinjamkan padaku beberapa hari lalu. Oh sepertinya ada satu lagi, ini jaket Sasori. Kenapa aku bisa lupa mengembalikannya? Ini bukan seperti aku ingin mengoleksi jaket para pria. Hanya saja Sasori tak pernah membahasnya tiap kali kami bertemu, dan aku lupa. Apa sekalian ku bawa?

Jam pelajaran terakhir dikosongkan karna pertandingan yang akan dilakukan. Aku melihat keluar jendela, rombongan Amegakure sudah datang. Banyak yang turun untuk melihat secara jelas para anggotanya. Rumor yang mengatakan bahwa mereka tampan sangat manjur menarik perhatian para siswi.

"Norak sekali. Kalau hanya karna tampan, bukankah sekolah kita juga memiliki banyak pria tampan?" Aku melirik Ino yang menarik kursi dan duduk di samping jendela. Sepertinya hanya kami yang tersisa di kelas. Hinata membuntuti Naruto yang bilang akan menjadi supporter nomer satu tim Sasuke. Yah memiliki suporter bersemangat seperti Naruto memang hal baguskan?

"Mungkin yang tak biasa dilihat terasa luar biasa." Ku rasa memang begitu. Aku yakin siswi Amegakure pun akan melakukan hal yang sama jika tim Sasuke datang ke sekolah mereka.

"Haaah. Mereka kurang bersyukur." Begitukah? "Kau tahu akhir-akhir ini rumor tentangmu semakin menjadi-jadi. Beberapa teman sekelas bahkan mempercayainya." Ino menopang dagunya seraya menatap ke bawah. Tepatnya pada dua tim yang saling berjabat tangan.

"Samar-samar aku mendengarnya." Ino mengalihkan tatapannya padaku. Jelas dia sedang menerka isi kepalaku. Tapi tidak. Aku sedang tidak memikirkan apapun.

"Kau baik-baik saja?" Aku tersenyum tipis menanggapi ucapan Ino. Gadis ini selalu baik padaku. Meski terkadang rasa penasarannya menggangguku.

"Sebenarnya tidak. Tapi ya, aku baik-baik saja."

"Kau terlalu ambigu. Semakin kau membiarkan situasimu seperti ini. Semakin sulit kau menghilangkan pandangan buruk orang lain padamu. Menurutku kau masih baik-baik saja sampai sekarang karna campur tangan para pria itu. sekolah itu lebih menyeramkan dari yang kau duga." Aku tahu. Bodoh jika aku tak sadar tentang ini. Tapi apa, aku bahkan tak bisa menata hidupku seperti yang ku mau. Aku kesulitan menyelesaikan benang kusut di kepalaku. Bagaimana bisa aku meyakinkan orang lain aku tak buruk sementara aku merasa diriku buruk. Aku kesulitan menegaskan apa yang ku inginkan.

"Ku pikir aku hanya harus mengabaikannya." Aku tersenyum pada Ino. Benar, hanya mengabaikan yang aku bisa lakukan. Aku akan baik-baik saja selama mereka hanya berbisik di belakangku. Tapi aku mulai tak yakin sampai kapan aku akan baik-baik saja.

"Saki..."

"Mau menemaniku ke kelas tiga sains? Aku harus mengembalikan jaket Sasori." Aku menarik keluar jaket Sasori dari dalam tasku. Jika ditunda mungkin saja aku akan lupa lagi.

"Baiklah."

Kami menuju kelas tiga Sains dua. Sepanjang koridor kelas tiga banyak mata memelototi kami. Ini tak bagus. Bahkan Ino menggerutu menyesal masuk ke daerah kekuasaan para senior ini. Akupun menyesal sebenarnya, tapi berbalikpun tak akan menjadi pilihan bagus.

Kami sampai di Sains dua. Aku sedikit lega, setidaknya ada orang yang ku kenal di kelas ini. Aku melongokkan kepala ke dalam kelas, kosong. Maksudku hanya ada beberapa siswi di dalamnya. Ini semakin mengkhawatirkan. Aku pernah berpikir sekolahku berisi monsterkan? Nah pemikiran itu semakin menjadi-jadi seiring banyaknya tatapan aneh dan bisikan di sekitar kami. Ino mulai gelisah.

"Saki, ku rasa sebaiknya kita pergi." Ucap Ino dengan gugup. Tentu aku sadar, segarang-garangnya Ino di daerah kelas satu. Tetap akan merasa khawatir jika memasuki wilayah kelas tiga. Ini wilayah senior.

"Ya." Kami berbalik.

"Mungkin akan lebih baik jika saat ini ada Hinata." Aku tertawa pelan mendengar ucapan Ino. Langkah kami terhenti saat ada beberapa gadis yang menghalangi jalan kami. Perasaanku tak enak.

"Wah wah apa kalian sudah akan pergi? Jarang-jarang anak kelas satu kemari. Mau main-main sama kami dulu?" Oh tidak. Aku merasakan bahaya pada kata 'main-main'.

"Maaf, kami harus pergi. Pertandingannya sebentar lagi dimulai." Ucap Ino menarik lenganku agar cepat pergi dari tempat ini.

"Hei bukankah itu tak sopan?"

"Aww." Err kenapa harus memilih rambutku sih? Kan bisa senior ini menarik tanganku saja. "Tolong lepas." Memprovokasi di sini tak akan bagus. Aku memegangi rambutku agar tak terlalu sakit. Kenapa nasib rambutku selalu sial?

"Kami tak berniat mencari ribut di sini. Jadi tolong lepaskan." Aku yakin Ino setengah mati menjaga suaranya agar tetap tenang.

"Bukannya kalian dulu yang bertindak tak sopan?" Jelas itu ejekan. Duh tak bisakah tradisi saling jambak diganti dengan duduk musyawarah?

"Sakura?" Suara ini. Tuhan terima kasih telah mengirimkan ksatria berkuda putihku. "Apa yang kalian lakukan?" Tanya Sasori.

"Tak ada. Kami hanya bicara." Ucap senior sembari melepas tangannya dari rambutku dengan jengkel.

"Sasori senpai, aku mencarimu." Aku bergegas menggeret Ino mendekati Sasori. Dia penyelamatku saat ini.

"Aku?"

"Hn. Untuk mengembalikan jaketmu." Aku menyodorkan jaket yang sedari tadi ku pegang. Dia mengangkat alisnya lalu tersenyum. "Dan terima kasih. Kami lolos dari maut." Ucapku nyaris berbisik yang membuatnya terkekeh hingga menutup mulutnya.

"Kalian terlalu nekad." Ujarnya geli.

"Salahkan gadis ini." Sungut Ino membuatku meringis merasa bersalah. Lagi-lagi Sasori terkekeh.

"Ayo para gadis. Aku akan mengawal kalian keluar dari sarang monster." Ucap Sasori setengah berbisik membuat kami berdua tersenyum geli.

Sasori mengantar kami setelah menyimpan jaket dariku di tasnya. Dia sudah mengenakan jaket. Mungkin dia memiliki banyak koleksi, entahlah. Bukan hal aneh. Kami mendengarkan gerutuan Ino tentang betapa menyebalkannya sifat para gadis kelas tiga tadi. Aku sedikit khawatir karna membicarakan teman sekelas Sasori, tapi sepertinya itu tak masalah buatnya. Apa dia tak memiliki teman dekat seorang gadis di kelasnya? Atau karna hal lain? Seharusnya aku tak terlalu memikirkan hal ini.

"Terima kasih telah menjadi ksatri berkuda putihku." Bisikku.

"Kau masih mengharapkannya?" Kekeh Sasori.

"Bukan. Aku menganggapnya begitu."

"Ksatria berkuda putih ya? Bagaimana jika aku mengharapkan jadi pangeran berkuda putih?" Aku tertawa mendengar leluconnya. Senyum Sasori sangat bagus kali ini.

"Entahlah. Apa aku lebih baik jadi raja harem?" Tawa Sasori meledak. Bukan hanya kekehan. Ini membuat Ino kebingungan. Tapi aku tak mau bilang alasannya pada Ino. Ucapanku tadi memalukan dan terlalu narsis.

Kami berpisah karna Sasori harus mencari Gaara. Dia bilang pria itu sedang bersama adiknya. Aku hanya tersenyum saat Sasori melambaikan tangannya dan berlalu. Kami menuju gedung olah raga. Pertandingan akan dimulai. Dan sepertinya kami akan mendapat tempat duduk di bagian belakang. Ino menggerutu untuk ini.

Dugaanku salah. Naruto dan Hinata menyelamatkan kami. Aku dan Ino mendapatkan tempat duduk diposisi yang bagus berkat mereka. Apa aku harus bilang jika aku semakin menyukai mereka?

Pertandingan dimulai. Aku menopang dagu memperhatikan Sasuke yang dengan cepat berhasil mencetak poin. Sepertinya timnya membentuk Shika-Sasu line. Dua orang itu terlihat keren dikelilingi para senior. Menjadi tim inti meski masih kelas satu adalah hal yang sangat keren.

Sorakan terdengar tiap kali poin tercipta oleh tim Sasuke. Aku menyebutnya begitu karna hanya nama Sasuke dan Shikamaru yang ku tahu, dan Sasuke yang paling ku tahu. Itu sudah jelas. Yang paling ku suka adalah saat Sasuke melakukan over cross dunk. Dia menjadi tampan beberapa kali lipat. Dan aku bersorak untuknya.

Quarter pertama selesai. Naruto dengan antusias menghampiri para pemain yang beristirahat di samping lapangan. Hinata dan Ino mengekorinya. Akupun ingin ke sana, tapi terlihat sudah terlalu banyak orang berjejal. Seorang gadis menghampiri Sasuke, mungkin itu manajer tim basket. Dia begitu perhatian dan membuatku mengerucutkan bibir sebal.

Aku mengalihkan pandanganku pada Ino yang mengipasi seorang pria berkulit pucat. Entah apa yang dikatakan pria itu hingga membuat Ino tersipu malu. Ugh aku yang melihatnya dari kejauhan pun merasa malu. Apa itu pria yang ditaksirnya? Tampan. Aaaaah di sekolahku bertebaran pria tampan. Aku meregangkan tubuhku yang kaku.

Quarter kedua dimulai. Pertandingan berjalan alot. Tapi aku menyadari satu hal. Ada pria mirip Sasuke di tim lawan. Terlalu mirip hingga aku akan menyimpulkan mereka keluarga. Lagi pula Sasuke tak banyak cerita tentang dirinya, tidak, kami tak pernah punya waktu banyak. Hanya sebatas membahas pelajaran dan diriku. Ini membuatku semakin buruk. Aku tak mengenal Sasuke seperti Sasuke mengenalku. Bukankah ini berbahaya?

Memasuki quarter terakhir. Selisih hanya tiga angka, meski tim Sasuke unggul tapi ini mengkhawatirkan. Ngomong-ngomong kursi Naruto, Hinata dan Ino kosong. Mereka dengan kejam tak kembali dan membiarkanku dikelilingi orang asing. Tapi untunglah semua orang hanya fokus pada pertandingan dan bersorak hingga tak memperdulikanku. Ini membuatku tenang.

"Kau terlihat menyedihkan." Aku menoleh melihat seseorang yang duduk di kursi Hinata di sisi kiriku. Gaara senpai. Tayuya duduk di sebelahnya dan Sasori senpai duduk di sisi kananku. Oh yeah. Hariku akan ramai seperti biasa. Dan yang bicara tadi adalah Tayuya, ku rasa jelas dengan nada menghina itu.

"Jangan pernah ke kelasku lagi. Terutama alasannya bukan karnaku." Gaara menarik kepalaku dan mengacak puncaknya. Ini membuatku tak enak. Gaara memang selalu seenaknya, tapi kali ini lebih banyak orang yang melihatnya. Demi tuhan, semua orang berkumpul di sini dan aku tak mau menggantikan pertandingan menjadi pusat perhatian.

"Jangan melakukan hal menjijikkan nii-san. Itu membuatku malu." Dengus Tayuya jengkel. Ya aku juga jengkel, kali ini aku berterima kasih pada mulut menyebalkan Tayuya.

"Apa kau butuh penyelamat?" Bisik Sasori.

"Tidak terima kasih. Hasilnya hanya bencana." Aku balas berbisik. Sasori terkekeh. Aku benarkan?

"Jangan selingkuh Sakura. Dan kau jangan menggoda pacarku." Gaara memukul kepala Sasori yang justru membuat kekehan pria bermanik hazel itu menjadi tawa. Tawa itu menular padaku. Tapi Gaara masih berwajah datar, oh sialan.

"Ayolah nii-san, gadis ini tak ada bagusnya sama sekali. Berhentilah menyebutnya pacarmu. Itu menjijikkan." Aku juga ingin itu. Tapi rasanya menyakitkan mendengar Tayuya mengatakannya. Gadis ini dan mulut beracunnya memang menyebalkan.

"Kau tak bisa mengaturku." Balas Gaara dengan kalem.

"Tapi kau mengaturku!" Jerit Tayuya tak terima.

"Karna aku kakakmu."

"Itu tidak adil. Memangnya mauku lahir setelah kau!" Ha ha perdebatan konyol macam apa ini? Tapi menyenangkan melihat Gaara yang meski dengan wajah datar meladeni segala omong kosong Tayuya. Dia terlihat sangat menyayangi gadis itu. Mungkin wajar jika Gaara marah melihat Sasuke menyakiti Tayuya dengan kejam -itu jika cerita Ino tentang penolakan kejam Sasuke benar.

"Mereka terlihat manis kan?" Ucap Sasori.

"Hn. Sangat manis." Ucapku mengalihkan perhatian pada pertandingan yang memasuki menit terakhir. Tim Sasuke berhasil melebarkan selisih menjadi tujuh angka. Mereka memang hebat.

Pertandingan berakhir. Gaara mendorong Tayuya yang masih menggerutu agar jalan meninggalkan tempat ini. Dan pria itu masih sempat menarik tanganku agar mengikuti mereka. Aku menoleh pada Sasori yang di belakangku. Saat itu tak sengaja mataku bertatapan dengan onix di bawah sana yang memperhatikan kami. Dia tersenyum dan membentuk victory dengan jarinya. Ini semakin menyakitiku. Aku merasa benar-benar buruk.

.

.

.

.

Keyikarus

Maaf untuk keterlambatannya.