Kirara967:

He..he..he.. gome ne… *garuk kepala rasa bersalah*. Ane juga bingung, tiba-tiba aja muncul ide jahil -?- untu membuat konflik sasusaku… tapi setidaknya penyatuannya berasa manis kan? Plakk

ohshyn76:

iya… selalu semangat kok. Makanya di up date tiap hari *devil's smirk*. Thx ya udah selalu ngasi semangat

.

.

Chap depan mungkin ending.

.

.

Rahasia Hino Hikari

Sesosok tubuh melangkah lambat sambil menenteng sebuah alat musik kecapi. Rambutnya yang merah panjang terurai, berkibaran dipermainkan angin. Sebagian wajahnya yang biasanya selalu tersembunyi, tampak tersibak jelas karena hembusan angin yang menyibakkan rambutnya.

Sosok tubuh yang tak lain adalah Nagato, ia tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sebuah pedati melintas di depannya.

Seperti sebelum-sebelumnya, sebelum membantai para korbannya, ia terlebih dahulu memperdengarkan alunan dan syair sedihnya pada para korban.

Sontak rombongan para pemusik jalanan itu menoleh. Alis mata menaut menandakan rasa heran dan kagum.

Seperti sedang terhipnotis, anggota rombongan yang berjalan kaki, cuma berdiri terpaku mengamati pria itu memainkan kecapinya.

Trass!

"Uuuh!"

Salah seorang diantara mereka tiba-tiba terjatuh dengan dara merembes keluar dari dadanya. Padahal tidak terlihat adanya serangan tapi tiba-tiba rekan mereka itu jatuh dengan luka seperti habis di tikam.

Ting! Ting!

Kembali dua orang tumbang dengan kepala terpenggal.

Salah seorang diantaranya seperti tersentak setelah darah salah satu dari rekannya telah berciprat mengenai wajahnya. Ia sadar kalau kematian mengerikan yang melanda rekannya di sebabakan oleh orang yang memetik kecapi di depannya.

Wajahnya merah padam menatap pada Nagato yang masih duduk tenang memperdengarkan syair sendunya.

"Kau… kau harus mati keparat!" usai menggeram marah, ia mulai menerjang Nagato.

Ting!

Belum sampai maksud dari si penyerang, dentingan kecapi milik Nagato telah memotong tubuh pria itu menjadi dua bagian.

Rekan yang lain tidak mau tinggal diam, mereka berharap jika menyerang bersamaan akan mudah mengalahkan pria pemain kecapi itu.

Tapi semua tinggal harapan. Saat Nagato memtik dawai kecapinya secara bersamaan. Serasa ada ribuan pedanga yang di lemparkan kepada mereka. Dan hasilnya, semua tumbang dengan kondisi tubuh tercabik-cabik.

"Keparat! Rupanya kau juga sudah menemukan kami!" seru pria yang tiba-tiba muncul tak jauh tempatnya di depan Nagato. Pria itu berambut putih memakai masker.

"Hm! Akhirnya kau keluar juga Sakumo" geram Nagato yang di tujukan pada pria berambut putih memakai masker.

Pria yang di panggil Sakumo oleh Nagato, cuma menatap intens pada Nagato dari atas ke bawah.

"Nampaknya kau punya urusan dengan atasan kami, Orang Gila!" Ujar pria yang disamping kanan Sakumo.

Nagato mesih tetap di tempatnya, ia mulai memainkan kecapinya. Dan melantunkan syair yang ia biasa dendangkan ketika akan mencabut nyawa korbannya.

"Sebenarnya apa maumu? Kenapa kau banyak membantai para pemusik seperti kami" Ujar pria di samping kiri Sakumo memotong syair Nagato yang di lantunkan.

Lagi-lagu lantunan syair pengantar maut yang biasa di praktekkan Nagato kembali terdengar. Bahkan kali ini terasa pilu.

Datang dari jauh membawa duka.

Merambah hutan belantara

Dekat menebarkan luka.

Mencerca tanpa bersuara

Meski di hati dendam membara.

Mencari sang durjana penyebab sengsara.

Nagato melanjutkan syairnya.. Mengabaikan pertanyaan pengawal Sakumo.

"Sakumo" usai melantunkan rentetan syairnya, Nagato mulai berbicara, "Ingatkah kau keluarga Uzumaki yang telah kalian bantai sepuluh tahun yang lalu?"

Sakumo masih diam tidak bergeming. Tapi dari raut wajahnya, ia mengingat-ingat peristiwa pembantaian yang ia lakukan pada sebuah keluarga.

Nagato kembali mendengus, "Rupanya tidak ingat ya. terlalu banyak keluarga yang kalian bantai dan anak gadisnya kalian nodai. Sehingga kau lupa"

Suara si pemetik kecapi itu terdengar dingin dan angker. Sehingga hati ketiga orang itu berdebar dan semakin tegang. Dan memang mereka sudah mendengar sepak terjang tokoh itu yang menggiriskan.

"Hmh…! Tentu saja aku ingat. Para keluarga berambut merah. Tapi kenapa hanya aku, bukankah kau sudah tahu kalau aku tidak sendirian" Suara Sakumo terdengar gemetaran.

Ia merasa ngeri membayangkan ia akan menjadi korban dari Nagato. Dari tadi ia tidak mendengar suara pertarungan. Tapi tahu-tahu, semua bawahannya yang berjalan kaki tadi telah tergeletak seperti habis di bacok pedang.

"Ketiga kawan busukmu sudah kukirim ke neraka. Yang tersisa adalah kau" Nada menyeramkan dari Nagato masih tetap di perdengarkan.

"Selama sepuluh tahun aku menyesali perbuatanku yang telah membuat dosa besar terhadap keluargamu" Mata Sakumo terlihat sayu menandakan rasa penyesalan.

Nagato cuma tersenyum meremehkan melihat sinar mata penyesalan dari Sakumo. Ia tahu, itu adalah akal-akalan dari Sakumo untuk meloloskan diri dari maut.

Nagato bukanlah orang bodoh, ia bisa menebak kalau nada penyesalan tadi adalah kata lain meminta di kasihani.

"Sakumo, aku ingin tahu. Siapa yang telah menodai adikku"

"Salah satu rekanku"

"Kalau begitu aku menyesal, ternyata aku membunuh salah satu ayah dari keponakanku"

"Tunggu! Adikmu masih hidup? Pertemukan aku dengannya, aku ingin minta maaf. Aku benar-benar menyesal telah ikut menodainya. Syukurlah, dengan demikian aku sedikit bisa mengurangi beban dosaku" mata Sakumo kelihatan berbinar. Ia berharap jika ia mengaku, Nagato memintanya untuk bertanggung jawab. Dan dengan demikian ia bisa selamat.

"Kau memang licik Sakumo. Kau memang akan ku pertemukan dengannya" Naguto menatap tajam, suaranya terdengar menggeram. "Kau akan bertemu dengannya di akhirat"

"Kau… "

Wuuut! Wuuut..!

Dengan licik Sakumo menyerang

Sakumo tidak mau menunggu lama ia tahu pemuda di depannya itu akan membunuhnya. Ia merasa tak perlu lagi mengambil waktu, maka ia pun memutar pedang secara bersilangan.

"Yeaaat..!"

Diiringi teriakan keras, Nagato mulai membuka serangan. Tubuhnya yang tinggi tegap itu meluncur cepat ke arah lawannya.

Wuuut!

Kecapi yang berada di tangan kanannya menyambar cepat dengan kekuatan menggiriskan, tertuju ke arah kepala Sakumo. Laki-laki bermasker itu segera menggerakkan pedangnya untuk menangkis. Namun, serangan itu ternyata hanyalah sebuah tipuan. Karena pada saat hampir mencapai sasaran, tiba-tiba kecapi itu tertarik pulang. Nagato segera menggantikannya dengan tusukan jari-jari tangan kiri yang terbuka mengancam lambung lawan.

Zebbb!

"Aaah…!"

Sakumo yang tidak mengira gerakan lawan demikian cepatnya, cepat melompat ke belakang untuk menghindari serangan berbahaya itu. Sambil melompat, dikirimkannya sebuah bacokan yang tidak kalah berbahayanya. Pedang di tangan kanannya menyambar ganas mengancam leher lawan. Nagato pun bukanlah orang bodoh. Kaki kanannya segera digeser ke samping disertai liukan tubuhnya, maka serangan Sakumo hanya mengenai tempat kosong. Kemudian dilancarkannya serangkai serangan balasan yang mengancam jalan-jalan darah kematian di tubuh pria bermasker itu.

Dengan tidak kalah ganas, pedang di tangan Sakumo menyambar, menyambut serangan lawan. Pertarungan pun berjalan semakin sengit. Kedua tokoh itu saling menyerang dahsyat.

"Yeaaat…!"

Sakumo berteriak melengking tinggi. Nampaknya, pria itu telah mengerahkan seluruh kepandaian untuk segera menjatuhkan lawan. Serangannya kali ini benar-benar hebat dan menggiriskan.

Wukkk! Wukkk!

"Haiiit…!"

Sambil membentak keras, Nagato berkelebat cepat menghindari sambaran pedang yang berhawa maut itu. Di sini kecepatan Nagato yang jarang ada duanya.

Setiap kali pedang di tangan lawan menyambar, selalu saja hanya mengenai tempat kosong. Dan memang, gerakan tubuh pemuda itu masih jauh lebih cepat daripada sambaran pedang lawan. Bukan hanya itu saja. Dalam setiap elakannya, laki-laki tinggi kurus itu selalu mengisinya dengan sambaran kecapi nya maupun tusukan jari-jari tangan. Sehingga dalam beberapa saat kemudian, Nagato kini sudah mulai dapat mendesak lawannya yang mulai kelihatan kewalahan.

Sehingga pada saat melompat, ia tidak sempat lagi menghindari sambaran kecapi yang menghantam punggungnya.

Desss!

"Huagkh…!"

Sakumo terjengkang.

Pada saat bersamaan Nagato mulai duduk bersila dan bersiap memainkan kecapinya.

Sakumo tambah waspada.

"Saatnya permainan puncak di mulai" Suara Nagato yang datar dan dingin.

Tring! Tring!

Sakumo kkaget bukan main, dua orang yang mengawalnya tadi sudah rubuh dengan kepala menggelinding. Makin jelaslah kengerian yang di pertunjukan Nagato.

"Aaaaah!"

Tahu-tahu saja, bahu sakumo mengeluarkan darah seperti habis di tikam

Sebenarnya Sakumo merasakan adanya hawa serangan ke arahnya. Tapi karena tidak terlihat, maka ia pun tak sempat menghindar.

Sakumo makin membulatkan mata menyaksikan pertunjukan Jutsu oleh Nagato.

Tring!

Sekali lagi Sakumo menjerit, sambungan bahunya telah lepas. Tangannya runtuh ke tanah. Darah memancar dari bagian yang terpotong dan membanjiri bagian samping baju yang ia kenakan.

Tring! Tring!

"Aaaah.."

Kedua mata Sakumo telah mengeluarkan darah. Ia makin menjerit-jerit sambil memegangi bola matanya dengan satu tangan yang masih menempel di tubuhnya.

Rasa sakit yang melandanya membuat ia minta ampun dan minta untuk di bunuh.

"Kematian cepat sangat terlalu enak bagimu, Sakumo" Nagato tampaknya sangat menikmati penderitaan yang dialami Sakumo.

"Belum selesai" Nagato memperdengarkan tawa apalah artinya buat orang yang sedang menderita kesakitan seperti Sakumo.

Ting! Ting!

"Aaaaargghh" kembali Sakumo melolong panjang. Dua kakinya telah buntung.

Nagato nampaknya belum puas, kembali dentingan dawainya mencabik-cabik tubuh Sakumo.

Sakumo hanya bisa melolong panjang, merasakan rasa sakit yang perih di sekujur tubuh.

Nagato menarik sedikit sudut bibir.

Ting…! Jreng!

Perut Sakumo robek hingga usus terburai.

Akhir dari penderitaan Sakumo adalah tewas perlahan dan kesakitan dengan tubuh penuh luka bacokan.

Tidak hanya Sakumo yang menjadi korban, pengiring wanitanya pun tidak luput dari maut.

Nagato menarik nafas panjang, "Ayah, Ibu, dan Mito. Ku harap kalian tenang. Dendam kalian sudah terbalas" Gumammnya perlahan sambil menundukan kepala.

Meski ia merasa kalau dendamnya telah tuntas, namun batinnya seperti belumlah puas. Sepertinya ia memang sudah sangat menikmati pembunuhan yang ia lakukan.

-SSS-

"Tsunade, mengenai Sakura ini, kenapa kau menginginkan kematiannya?" Ujar Hikari pada Tsunade yang masih sibuk mengobati luka di dadanya.

Pria itu masih menunggu jawaban dari wanita cantik yang sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari kesibukannya yang mengobati luka di dada Hikari.

"Sakura itu… sepertinya ia orang baik-baik. Aku merasa ia tak pantas untuk di bunuh" Imbuhnya kemudian.

"Kau juga sudah mulai tertarik padanya?" Tsunade menghentikan kegiatannya.

Hikari memegang tangan Tsunade sambil tersenyum, "Sama sekali tidak!" Imbuhnya perlahan tapi tegas.

"Aku tidak tahu dendam mu padanya. Tapi sebaiknya lupakanlah dendammu. Agar kau, maksudku kita bisa hidup tenang"

Hikari menarik nafas dalam-dalam, "Aku tidak suka membunuh tanpa alasan. Kemarin aku menyerangnya karena ia hampir membunuhmu. Tapi sekarang kau sudah selamat, jadi aku tidak memiliki alasan lagi untuk mengincarnya"

Hikari kembali mengulurkan tangannya membelai kepala pirang itu dengan lembut, "Aku mencintaimu, berjanjilah padaku, jauhilah permainan yang kau buat, yang akan membahayakanmu ini" Hikari menarik kepala Tsunade dan memeluknya.

"Hm" Tsunade cuma menggumam dan mengangguk dalam dekapan Hikari.

"Hikari, kau tidak akan meninggalkanku, kan?"

"tentu saja, aku akan membahagiakanmu" balas Hikari sambil tetap membelai kepala Tsunade.

"Pria yang bersama Sakura itu sangat mirip denganmu, apakah dia Saudara kembarmu?"

"Aku rasa bukan. Buktinya dia sama sekali tidak mengenalku. Kalau dia memang saudaraku, pasti dia memanggilku dengan nama lain"

"Atau mungkin dia juga mengalami hilang ingatan, sama sepertimu"

"Entahlah"

Posisi mereka tidak berubah. Tsunade perlahan memejamkan matanya, menikmati setiap belaian kekasihnya itu.

-SSS-

"Pelan-pelan Sakura" Sasuke membantu Sakura untuk bangun. Meski sudah kelihatan baikan, namun tubuhnya masih kelihatan lemah. Suhu tubuhnya juga sudah mulai normal.

Sasuke segera mengambil tempat duduk di belakang Sakura. sehingga Sakura bisa bersandar di padanya.

"Ne Sasuke, Apa kau memiliki saudara kembar?" Tanya Sakura sambil menyandarkan kepalanya di dada Sasuke.

"Orang tuaku tidak pernah bercerita soal aku yang memiliki Saudara kembar"

"Tapi, aku juga bingung. Jika kalian memang bersaudara, apakah kembar bisa memiliki tanda lahir yang sama? Dan jika pria itu hanya meniru, bisakah si peniru meniru semua detil bagian tubuhmu. Bahkan… uumm.. termasuk yang pribadi… bukankah peniru hanya meniru bagian yang biasa terlihat?"

"Ukuran penisnya juga sama" ucapan vulgar Naruto tiba-tiba muncul dan memotong ucapan Sakura.

"Benar… eh!" wajah Sakura kontan memerah dan langsung menyembunyikan wajahnya di dada Sasuke.

Tingkah Sakura justeru membuat Naruto dan Shion tertawa terbahak. Sasuke cuma menatap jengkel pada kakek dan cucunya tersebut.

"Jadi karena itu, kau begitu yakin kalau aku adalah dia" Sasuke tidak peduli dengan tawa Naruto, ia membelai pucuk kepala gadisnya.

"Hm…" Sakura mengangguk dan masih menyembunyikan wajahnya.

"Naruto, kau tahu sesuatu tentang ini?"

Naruto menautkan dahi tanda ia berfikir keras. Berkali-kali bola matanya kelihatan bergulir kekiri dan kekanan.

"Seingatku… dan Sakura memang benar. Kembar identik bukan berarti benar-benar mirip kan? Tapi antara Sasuke dan Hikari tidak ada satu pun yang membedakan. Bahkan sampai tanda lahir yang tersembunyi tempatnya. Itu seperti tubuh Sasuke atau Hikari yang di gandakan"

Naruto masih kelihatan berpikir keras, wajahnya kelihatan berjerut dan seperti menahan nafas. Lalu akhirnya wajahnya seperti kembali ceria, tampaknya ia ingat sesuatu.

"Begini, kalau aku ingat sesuatu, aku akan menceritakan tentang asal muasal kembaran mu itu"

Naruto melihat sekilas pada Sakura.

Sakura yang masih dalam kondisi lemah, tidak kuasa duduk berlama-lama. Maka ia pun berbaring dengan menggunakan paha Sasuke sebagai bantal. Sasuke membelai kepala yang ada di pahanya itu dengan penuh rasa sayang.

"Ceritamu" tegas Sasuke saat hanya Naruto hanya memperhatikan sakura.

"Sabar sedikit, Bocah! Baiklah kulanjutkan. Di dunia ini ada banyak jutsu aneh. Jutsu abadi, termasuk juga jutsuku. Dan..."

"Bukanyan semua jutsu itu aneh" Shion memotong.

"Jangan memotong ucapanku" seru Naruto pada Shion.

Shion cuma cengengesan mendapat seruan dari kakeknya. Sasuke hanya bisa menggeleng. Sepertinya hanya Shion yang memiliki warisan dari kakeknya, yaitu berisik.

"Aku lanjutkan" ia melototi Shion sesaat, "Beberapa puluh tahun yang lalu, ada seorang ninja yang di kenal sebagai Malaikat Tanpa Wajah".

Mendengar penjelasan Naruto, yang lain cuma bungkam. Mereka masih menunggu kelanjutan dari penjelasan Naruto.

"Ada beberapa pendapat kenapa orang ini di sebut tanpa wajah. Yang pertama, karena belum ada yang melihat langsung wajah orang ini. Dan yang kedua, dia memang tidak memiliki bentuk wajah"

"Tapi yang jelas, dia terkenal susah untuk di bunuh karena dia memiliki Reika, yaitu nama jutsu yang bisa berpindah jasad. Dan kemampuan lainnya adalah mampu menggandakan tubuh orang lain"

"Seperti Bunshin?" Shion menyela penjelasan Naruto.

"Tidak! Bunshin jika mati atau kalah maka ia akan lenyap seperti asap. Tapi tubuh yang ia gandakan akan mati dan membusuk seperti manusia pada umumnya. Artinya ia membuat individu baru. Eumm.. sama seperti makhluk bersel satu" bantah Naruto.

Sasuke mulai kelihatan menautkan alis tanda sedang berfikir keras. "Tapi bagaimana bisa ia menggandakan tubuhku"

"Kalau yang itu aku juga kurang tahu. Mungkin ia bisa menggandakan tubuhmu dengan bersentuhan denganmu. Atau mungkin dengan cara mengambil sampel darimu, semisal rambut atau darah", Naruto mendahului Shion yang ingin berbicara, "Bukankah selama ini kau bersinggungan ataupun bertarung dengan banyak orang. Nah,pada saat itulah ia bisa mengambil sampel dari tubuhmu"

"Menggandakan tubuhku? Bukankah itu artinya ia sama sepertiku… maksudku seharusnya pemikiran kami sama… kalau aku sangat mencintai Sakura, kenapa ia tidak?" Sasuke masih nampak kebingungan.

"Dia menggandakan tubuhmu, tapi tidak dengan jiwamu, dengan kata lain, dia membuat tiruan tubuhmu yang kososng tanpa jiwa. Nah tubuh yang kosong itulah yang ia rasuki" kembali Naruto menerangkan sekaligus menyanggah pernyataan Sasuke.

"Alasannya apa?" suara Sasuke memelan, seperti bertanya pada diri sendiri.

Meski suara Sasuke barusan perlahan, namun masih terdengar oleh Naruto, "mungkin ia tertarik dengan tubuh dan kemampuanmu"

"Sampai di sini kurasa kalian mengerti Sasuke, Sakura" Naruto mengambil jedah sesaat sambil menatap Sasuke dan Sakura.

"Jadi, dia menggandakan tubuhku, dan hasilnya ia rasuki. Dan dia memiliki semua kemampuanku" Sasuke mengulangi keterangan Naruto

"Tentu saja, bukankah, itu adalah fisikmu juga. Bukankah kemampuan berhubungan dengan fisik. Tapi jiwa dan pola pikir kalian berbeda, bisa saja kau baik, tapi dia jahat, karena kalian memiliki jiwa yang berbeda. Termasuk rasa sukamu pada sakura dan justeru dia tidak" terang Naruto

"Tapi satu lagi, mungkin itu di sebut kekurangan. Jika ia tidak segera keluar dari tubuh yang ia rasuki, maka ia akan kehilangan ingatannya. Fungsinya memang hanya untuk menyelamatkan diri", terang Naruto kemudian, "Dan ini sedikit menguntungkan, karena jika ia sudah lama berada dalam tiruan tubuhmu, maka ada kemungkinan ia sekarang kehilangan ingatan. Dan jika ia memang punya misi lain, maka ia tidak akan ingat"

"Menurutku itu juga jutsu yang tidak berguna, apa untungnya jutsu yang bisa menggandakan fisik" Shion malah kalem menanggapi.

"Kata siapa? Jutsu itu bisa dipakai buat mengecoh. Sangat berguna di pakai untuk menyusup daerah musuh", balas Naruto tidak kalah kalem.

"Dan satu lagi, umurnya akan sama dengan tubuh yang ia gandakan. Dan di penghujung umur sebenarnya, barulah ingatnnya kembali. Dan pada saat itulah ia mencari tubuh baru"imbuh Naruto.

Shion malah menautkan alis tidak mengerti,

"Bukankah itu tubuh Sasuke juga. Dan setiap tubuh memiliki usia tersendiri. Contohnya, jika umur Sasuke berumur 70 tahun, maka tiruannya itu atau yang sekarang bernama Hikari, juga berumur 70 tahun. Kecuali jika salah satunya terbunuh, itu tidak masuk hitungan" jelas Naruto atas kebingungan cucunya. (#Footnote#)

"Ada yang ingin kutanyakan, jika ia mungkin sudah kehilangan ingatannya. Apakah ia juga bisa memiliki keturunan? Maksudku tiruan tubuhku yang ia rasuki"

"Kalau kau bisa, dia pasti juga bisa. Memangnya kenapa?" Tanya Naruto penuh selidik.

Sasuke tersenyum, membelai lembut kepala Sakura.

"Akan sangat menyenangkan, jika masih ada lagi Uchiha yang lain, selain keturunan ku dan Sakura"

"Tapi dia kan tidak memakai nama Uchiha, kalau tidak salah dia memakai nama Hino" sela Shion

"Tidak masalah dengan nama, yang penting masih ada lagi keturunan Uchiha lain" ujar Sasuke nampak sangat berharap, ia lalu menoleh pada Sakura yang terlihat sudah mulai memejamkan matanya.

Sasuke mengisyaratkan yang lain agar tidak berbicara dan membiarkan Sakura istrahat.

"Aku juga mau istrahat" ujar Shion sambil menjauh mencari tempat istrahat.

"Jadi, sekarang apa rencanamu Sasuke" Naruto bertanya setelah di rasanya Sakura sudah terlena dalam tidurnya.

"Entahlah! Yang pasti aku tidak tinggal diam. Sakura selalu terancam, dan ternyata orang yang mengincarnya adalah mantan atasannya sendiri. Aku akan mendatangi mereka"

"Lalu?"

Sasuke mendesah nafas, "Aku akan meminta mereka agar tidak memburu lagi Sakura"

"Kalau mereka menolak?"

"Akan ku paksa agar berhenti. Meski aku dan tubuhku yang lain itu akan bertarung?"

Sasuke malah menatap Naruto yang justeru cengengesan.

"Kau tidak perlu ikut, Sakura adalah tanggung jawabku" Imbuh Sasuke lagi sambil menatap Naruto.

"Baiklah, kapan kita mulai!" Naruto masih setia dengan cengirannya.

Kelihatan dada Sasuke mengembang, hembusan nafas kuat dari Sasuke terdengar, ia pikir tidak ada salahnya jika Naruto ikut membantu "Setelah Sakura pulih"

Sasuke menatap Sakura yang kini sudah mulai terdengar dengkuran halusnya. Ia kembali menatap Naruto

"Oh ya, ada yang ingin kutanyakan padamu. Kau bilang Sakura pernah ingin mengakhiri hidupnya, kenapa kau malah menghentikan?" tanya Sasuke kemudian. "Bukankah kami pernah membunuh cucumu."

Naruto tersenyum, "Aku sudah terlalu sering di tinggal mati. Kesedihanku karena kematian anggota keluargaku sudah biasa aku alami. Jadi kematian Deidara dan Ino, hanyalah sebagian kecil. Tenang saja, sudah terbiasa"

"Bukankah aku pernah bilang, mereka berdua adalah penjahat yang paling dicari. Membunuh mereka mungkin adalah cara terbaik bagi mereka agar berhenti" Naruto nampak mengambil jedah sambil menatap Sasuke.

"Tapi aku juga tidak tahu alasannya, hanya saja, waktu itu aku sangat kasihan pada Sakura" imbuh Naruto

Sasuke menunjukan seringai pada Naruto, "Tapi jika saja kau membiarkan Sakura waktu itu. Aku akan menyalahkanmu dan aku akan membunuhmu"

Terdengarlah tawa perlahan Naruto, "Karena itulah aku menghalangi Sakura"

"Terima kasih" ujar Sasuke perlahan.

-SSS-

"Bagaimana keadaanmu sekarang, Sakura?" tanya Sasuke sambil menatap Sakura.

"Aku sudah baikan" jawab Sakura.

"Kau masih ingat, rumah tempat Tsunade?"

Sakura mengangguk.

"Kita akan kesana"

"Untuk apa Sasuke" tanya Sakura kini berganti wajah kekhawatiran, tanpa bertanya pun Sakura sudah bisa menebak tujuan Sasuke. Dan seperti apa berikutnya, sudah ia pastikan, bertarung.

"Sakura, mereka akan terus menerus memburumu. Kita tidak tahu, siapa saja yang menjadi suruhannya. Yang bersiap menyerangmu secara diam-diam"

"Tapi…"

"Aku tidak tahu tentang Hikari. Tapi kurasa ia mau di ajak berdamai. Saat bertarung dengannya, aku merasakan adanya kebaikan di dalam dirinya. Kurasa kau juga sudah mengerti kenapa waktu itu ia ingin membunuhmu" alasan Sasuke.

Sasuke mendesah nafas panjang, "Kita akan mencoba berdamai dengan mereka"

"Kalau tidak mau?" Shion tiba-tiba menyela.

"Jika itu terjadi, aku minta kalian untuk segera pergi, karena kami kemungkinan saling bertarung. Dan aku tidak ingin kalian melibatkan diri" ucap Sasuke menatap Shion bergantian.

"Lalu bagaimana dengan Sakura"

"Aku akan menyertaimu, Sasuke" Sakura menegaskan.

"Mungkin inilah yang memang harus terjadi. Tapi aku yakin padanya, kami akan tetap mencari jalur damai" jujur, Sasuke juga tidak ingin bertarung dengan orang yang ia anggap adalah uchiha itu.

Berkat Sakura sebagai petunjuk jalan, Sasuke dan yang lainnya berhasil memasuki area wilayah kekuasaan Senju. Yang sekarang di pimpin oleh Tsunade.

"Berhenti kalian!" bentak seorang penjaga gerbang ketika Sasuke dan yang lainnya sudah berada di depan gerbang distrik Senju.

"Kami ingin bertemu dengan pemimpin kalian" Naruto menanggapi.

"Mau apa!" pria penjaga tadi masih menatap penuh selidik. Sementara penjaga yang lain sudah siaga.

"Mungkin kalian sudah tahu. Akulah Sakura, yang di inginkan oleh pemimpin kalian" Sakura yang kali ini menjawab.

Sekilas kelihatan kalau penjaga tadi kaget. Tapi sebelum penjaga itu mengatakan atau melakukan sesuatu. Seorang penjaga lain datang.

"Siapa mere…ka.." penjaga yang baru datang tadi, hendak menunjukan wibawanya. Menghentikan ucapannya, bahkan ia kelihatan ciut ketika melihat Sasuke.

"Maaf Tuan Hikari…" penjaga itu semakin ketakutan, "Bukankah.. tadi.. Tuan.. ada di… maaf, silakan masuk" dia yang salah mengenal orang. Ia pikir kalau atasan mereka datang membawa temannya.

"Aku bukan atasan kalian, namaku Sasuke"

"Sasuke?" Salah satu pengawal itu mungkin sudah mendengar atau pernah mengenali Sasuke.

"Dia pasti Sakura" tudingnya lagi pada Sakura

"Benar" jawab Sasuke sambil menatap pengawal itu satu persatu.

Para pengawal itu sontak menghunus pedang masing-masing dan siap melakukan serangan.

Siapa yang tidak ingin langsung menyerang, hadiah yang di tawarkan Tsunade bagi mereka yang berhasil membunuh Sakura sangat menggiurkan. Kemolekan tubuh Tsunade dan hartanya.

"Seraaaang" teriak sang komandan setelah mengetahui kalau orang yang menjadi incaran atasan mereka kini sudah berada di depan mereka.

TO BE CONTINUE

.

.

Voila… setelah bertapa satu menit satu detik dan puasa tujuh menit tujuh detik persepuluh, akhirnya dapat juga pencerahan tentang Hikari. Haaah… chara yg satu ini agak repot juga *emang ini ide siapa*.

Oh ya sekalian juga mau sedikit ngasih info nih, ide awalnya Hikari adalah hasil kloning atau hasil penelitian atau apalah namanya yg bersangkutan dengan lab, tapi nggak jadi karena kayaknya ini udah terlalu pasaran deh.

Berikut ane juga mau ngambil inspirasi (baca : meniru) dari Mr Masashi, masih ingat tentang misi penyelamatan Gaara di awal2 serial shippuden? saat Gaara di tangkap anggota Akatsuki. Dan ingat saat Tim nya Might Guy, menginjakkan kaki di sebuah tempat di markas Akatsuki, dan timnya Might Guy bertarung dengan duplikatnya masing-masing. Dan ada yg tahu nama tempat itu? Nah ane sempat dapat ide asal Hikari dari situ. Ini juga nggak jadi, udah kebanyakan ngutang sama Mr Masashi

Note : Sorry ya, ane nggak terlalu excited nonton, jika serial Naruto nggak ada Sasu atau Saku yg tampil :D (-_-")) jadi wajarlah ane nggak tahu soal nama tempat itu. Ato memang nggak di sebutin ya, nggak tahulah.

Yang terakhir, Hikari lahir dari sebuah Jutsu, dan ini yang kayaknya cocok, dan ini yg kepake, meski rada2 aneh sih.

Note: (#Footnote#)

Tolong, ini jangan di campur adukkan dengan agama dan kepercayaan, yang mengatakan kalau umur emang sudah di tentukan dari Sang Pencipta, yang tidak bisa dimajukan atau di undur.