Hujan turun dengan deras.

Dia menatap ke arah jendela, melihat kerumunan orang yang berlarian, atau payung-payung yang sudah dibuka.

Matanya tetap memandang ke bawah sambil bertanya di mana Luhan berada.

Kemarin dia tidak pulang tanpa memberi kabar apapun.

Laki-laki itu menghela napas.

Apakah dia baik-baik saja?

.

Hujan turun dengan deras.

Dia menatap ke depan, melihat kerumunan orang di depannya berteduh atau sekedar mampir membuka payung.

Matanya tetap memandang lurus ke depan sambil bertanya kenapa semua ini terjadi kepadanya.

Dia tidak memberi kabar Jongin, dan sekarang dia meninggalkan Sehun begitu saja.

Laki-laki itu menghela napas.

Aku harus bagaimana?

.

Hujan turun dengan deras.

Dia menengadahkan kepalanya ke langit, membiarkan tubuhnya basah kuyup.

Tetap dalam posisinya sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan.

Sekarang semua berbeda dengan apa yang sudah diprediksinya.

Laki-laki itu menghela napas.

Memang apa yang kupikirkan?

.

Trapped-in-Hunhan

Presents

.

First and Second

.

Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE

.

You were always at the same place waiting for me –but I was gone

Don't trust me like a fool

When I said I would protect you –they're lies

I think of myself only, even on the last moment

Like a criminal I run away

You always knew that I'm selfish

Sorry

Sorry for not being able to protect you

I hope you live well

Sorry

Forget about me

It hurts

But that promise we made to be together forever no longer exists

(iKON – Apology)

.

Kriet.

Luhan membuka pintu apartemennya.

Apartemen bersamanya dengan Jongin.

Jongin, kekasihnya.

Ketika pintu terbuka cukup lebar, laki-laki itu bisa melihat Jongin yang sedang memegang setumpuk surat.

Jongin juga sedang menatapnya.

"Luhan"

Mendengar suara itu, entah bagaimana perasaan Luhan kembali berkecamuk.

"Jongin"

Luhan segera menghampiri Jongin dan memeluknya.

"Jongin"

Jongin membalas pelukan Luhan. Tangannya dengan pelan mengelus punggung laki-laki berambut coklat madu itu berulang kali.

"Jongin"

Jongin pikir dia basah karena Luhan yang juga basah kuyup sedang memeluknya. Tetapi melihat tubuh Luhan yang bergetar, Jongin tahu dia tidak basah karena Luhan kehujanan saja.

"Jongin" bisik kekasihnya itu.

Lagi.

Berulang kali.

Jongin mengecup pucuk kepala Luhan.

"Aku di sini, Luhan. Aku di sini"


First and Second


Hujan masih setia mengguyur kota Seoul malam itu.

Dalam sebuah ruangan dari sebuah apartemen, dua orang berdiri berhadapan. Saling memandang.

Yang satu dengan air muka bingung, terkejut, tidak percaya, atau apapun itu yang saling bercampur.

Sedangkan yang lain dengan ekspresi tidak hidup –namun dipenuhi dengan aura penyeselan.

"A–Apa ... A–Apa maksudmu?" tanya salah satu dari dua orang yang berada di ruangan apartemen itu dengan suara bergetar.

"Maafkan aku" yang lain membalas dengan tatapan mata bersalah. "Aku memang bodoh"

"Ke–Kenapa?" lagi. Seperti malam-malam sebelumnya, air mata mengalir dari kedua mata itu.

Seharusnya dia tidak menangis karena sosok yang sempat hilang darinya sudah kembali.

Tetapi dia tidak menginginkan hal seperti ini yang kemudian terjadi.

Melihat sosok di depannya menangis, dia hanya bisa mengutuk kembali dirinya sendiri. "Aku juga tidak tahu. Yang aku tahu, ini semua salahku. Aku–"

Memejamkan mata dan menghela napas, dia melanjutkan. "–minta maaf untuk itu"

Gadis itu terduduk. Tubuhnya semakin bergetar hebat. "A–Aku kira ka–kau mencintaiku"

Sedangkan yang lainnya, Sehun, hatinya mencelos sakit melihat orang yang dia sayangi –entah sebagai sahabat atau seperti keluarga, Sehun masih belum mengerti– kini menjadi hancur karena dirinya. "Maaf"

"Aku juga mengira aku mencintaimu" Sehun bersimpuh di depan gadis itu, dan memeluknya erat. "Akan lebih mudah jika aku memang mencintaimu"

Selanjutnya hanya suara isakan dari gadis itu yang terdengar di antara suara butiran-butiran hujan yang membasahi bumi.

Di saat itu pula, Sehun hanya bisa makin membenci dirinya sendiri.

Dulu dia meninggalkan Luhan karena tidak ingin membuat Nana bersedih. Tetapi, pada akhirnya, dia sendiri pula yang membuatnya menangis.

Tidakkah ... hidupnya menyedihkan?


First and Second


Tengah malam, dan Luhan masih tidak bisa memejamkan matanya.

Luhan tidak tahu mengapa.

Bukan mengapa dia tidak bisa tertidur meski seharian penuh lelah menangis.

Tetapi dia tidak mengerti kenapa dia harus menangis hanya karena Sehun.

Seharusnya Luhan tidak perlu sekalut ini karena mengetahui Sehun masih mencintainya, benar kan?

Dia ... dia sudah tidak mencintai laki-laki itu, bukan?

Dia ... sudah berpaling kepada Jongin, tidakkah begitu?

Ya. Aku mencintai Jongin. Aku sudah tidak mencintai Sehun. Aku tidak mungkin mencintai Sehun. Tidak mungkin.

Luhan memejamkan mata.

Aku mencintai Jongin.

Berusaha mengingat kembali bagaimana Jongin selalu berada di sampingnya.

Jongin, hanya Jongin.

Memikirkan kembali Jongin yang selalu membuatnya tersenyum dalam keadaan apapun.

Jongin yang selalu membuatku merasa bahagia.

Mencoba mengulang kembali bagaimana Jongin bisa membuatnya merasa nyaman dan lengkap di dekatnya.

"Lu? Kau belum tidur?"

Luhan menghentikan segala rentetan pikirannya.

Dia membuka matanya, menoleh ke arah Jongin yang kini bangun dari tidurnya dan mulai duduk –seperti Luhan.

Dia langsung disambut oleh tangan Jongin yang berada di salah satu pipinya. "Kau ... tidak apa-apa kan?"

Lagi-lagi Luhan tersentuh dengan bagaimana Jongin mengkhawatirkannya.

Kekasihnya ini pasti tadi mengira dirinya sedang menangis lagi –seperti yang tadi dia lakukan seharian.

"Jongin" Luhan menggenggam tangan Jongin yang berada di pipinya dengan salah satu tangannya. Sambil memejamkan mata.

"Lu" Luhan membuka mata lagi, beradu pandang dengan mata Jongin yang memandangnya teduh. "Aku mencintaimu"

"Aku–"

MASALAHKU ADALAH AKU MASIH MENCINTAIMU!

DEG.

"Lu?" Jongin kebingungan karena Luhan diam mematung begitu saja, menghentikan apapun yang tadi pria yang lebih tua empat tahun darinya itu hendak katakan.

Aku lari darimu. Aku lari darimu karena aku masih mencintaimu

...

Bagaimana Jongin tidak merasa semakin panik jika lagi-lagi buliran-buliran air mata itu mengalir dari mata rusa indah yang dia sukai?

Ya, aku hanya bercanda. Oh, aku harap aku hanya bercanda

...kenapa?

Luhan bahkan menggelengkan kepalanya sendiri.

Tapi itu kenyataannya. Kau bilang kau akan mengerti

Aku tidak mengerti.

"Lu?" Jongin membawa Luhan menghadap dirinya secara penuh dengan mencengkeram lembut kedua bahu Luhan yang mulai bergetar.

Kau tidak mengerti, bukan?

Sehun.

"Hiks" satu isakan mulai keluar dan Jongin hanya bisa memandang kekasihnya dengan terluka. Apapun yang menyakiti Luhan membuatnya ikut tersiksa.

Aku mencintaimu, hyung. Aku masih mencintaimu

Sehun ... kenapa?

"Tidak" Jongin bahkan tidak tahu kenapa Luhan tiba-tiba mengatakan Tidak seperti ini. Jongin ingin sekali bertanya, tetapi dia tahu bahwa menanyakannya sekarang hanya akan menambah beban apapun yang sedang ditanggung Luhan sekarang.

Jadi, Jongin hanya memeluk kekasihnya itu –yang lagi-lagi sama seperti yang seharian ini dia lakukan.

Luhan memejamkan matanya dalam pelukan Jongin.

Kenapa aku tidak bisa membalas pernyataan cintamu tanpa memikirkan Sehun, Jongin?

Kenapa Sehun mengacaukanku seperti ini?

Kenapa ... kenapa hatiku sakit saat memikirkan Sehun?

Kenapa?


First and Second


Sehun memandang unit apartemen yang luas itu dengan senyuman kecil.

Berdebu.

Banyak kenangan yang begitu saja muncul di dalam benak Sehun ketika dia melihat setiap sudut unit apartemen ini.

Meskipun semuanya tidak seperti dulu mengingat semua barang milik mereka tadinya menghilang dari sana.

Tetapi dia sangat bersyukur unit apartemen ini masih belum ada yang membeli sejak mereka meninggalkannya.

Ya, mereka, Sehun dan Luhan.

Sehun menata semua barangnya persis seperti sebelum dia memutuskan keluar dari apartemen ini dan pindah secara permanen ke tempat Nana –yang pada akhirnya tidak benar-benar permanen.

Selesai dengan semuanya, lelaki itu menghela napas lega.

Apartemen itu sudah setengah mirip dengan keadaannya dulu.

Tinggal membawa Luhan kemari, dan Sehun yakin apartemennya, salah, apartemen mereka akan kembali menjadi sedia kala.

Benar. Sehun sudah memutuskan.

Dia akan membawa kembali Luhan ke apartemen ini, beserta cintanya, dan juga hubungan mereka.


First and Second


Ini sudah satu minggu setelah kejadian hari itu.

Dia tidak lagi menangis. Luhan bersyukur untuk itu, dia bahkan berpikir dirinya sudah berlebihan sekali menangis seharian penuh seperti itu.

Apalagi itu semua karena seseorang yang seharusnya tidak lagi membuat Luhan menangis; Sehun.

Ditambah, dengan tidak menangisnya dirinya, Jongin tidak lagi harus khawatir karena Luhan.

Menghela napas, Luhan memandang ke arah tumpukan file di meja kantornya yang sebenarnya sudah selesai dia kerjakan.

Jongin memang tidak khawatir lagi kepada Luhan.

Namun, Luhan masih merasa tidak nyaman setiap dia mengingat kejadian hari itu –di mana dia hampir setiap saat selalu mengingatnya.

Luhan masih selalu berharap ini semua hanyalah mimpi, ini semua omong kosong, ini semua hanya sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi.

Sayang sekali, lubuk hati Luhan yang terdalam pun mengkhianatinya. Lubuk hatinya tahu bahwa ini nyata dan Sehun tidak bercanda hari itu.

Tetapi ... kenapa? Kenapa Sehun masih mencintai Luhan?

Bagaimana bisa Sehun masih mencintai Luhan ketika dia sendiri yang meninggalkan Luhan untuk Nana, cinta pertamanya?

Mengingatnya membuat kepala Luhan kembali berdenyut.

Seharusnya aku berhenti memikirkannya.

Lagi, lubuk hati Luhan mengingatkan dirinya bagaimana segala cara sudah dia usahakan untuk berhenti memikirkannya.

Hasilnya nihil.

Luhan akan selalu memikirkannya, dan merasakan sakit kepala karena ketidaktahuan dan kebingungan yang melandanya.

Yang Luhan khawatirkan sebenarnya tidak hanya pertanyaan mengapa Sehun masih mencintainya.

Yang paling membuat Luhan takut adalah ... bagaimana hatinya juga merasakan sakit setiap dia memikirkan Sehun dan kejadian hari itu.


First and Second


Sehun menekan bel pada unit apartemen milik seseorang.

Seseorang yang merupakan rekannya dalam tugas kuliah kali ini.

Orang yang seminggu ini banyak membantu Sehun mengejar ketertinggalannya di kampus karena pelariannya dari kenyataan itu.

Orang itu adalah–

Krek.

–"Hai, Jongin"

"Oh, hai, Sehun" Jongin yang baru saja membuka pintu apartemennya mempersilakan Sehun untuk masuk. "Masuklah"

Lelaki itu mengangguk, dan masuk mengikuti Jongin setelah dia menutup pintunya.

Apakah ada tamu?, setidaknya itulah yang ada di dalam benak Sehun tatkala dia mendapati ada beberapa sepatu dengan ukuran yang berbeda dari ukuran Jongin di rak sepatu.

Namun, sampai mereka berada di ruang tamu, tidak ada orang lain sama sekali selain Jongin.

Memutuskan untuk tidak memikirkannya, Sehun akhirnya memilih untuk fokus dengan tugasnya bersama dengan Jongin.

Krek. Blam. Tap. Tap.

Sehun menoleh ke arah Jongin, melemparkan pandangan bertanya. Sedangkan Jongin sendiri tidak mengalihkan pandangannya dari laptopnya dan malah bergumam, "Oh, dia sudah pulang rupanya"

Membuat Sehun bertanya-tanya siapa yang baru saja datang –yang sepertinya juga pemilik dari sepatu berukuran lebih kecil dari sepatu Jongin itu. Setahu Sehun, Jongin tinggal sendiri.

Tap.

"Jongin, apa–"

Sama seperti Luhan yang menghentikan perkataannya, lidah Sehun juga tiba-tiba menjadi kelu.

Mengabaikan Luhan dan Sehun yang saling menatap dalam diam, Jongin membuka suaranya. "Apa yang mau kukatakan, Lu?"

"A–Aku mau bertanya apa kau sudah makan" Luhan terlihat gugup saat mengatakannya, Sehun tahu ini pasti karena dirinya ada di sini. "Se–Sehun ternyata ada di sini ya"

Jongin melemparkan pandangan pada Sehun sejenak sebelum dia kembali menatap ke arah Luhan yang masih mematung di tempatnya tadi. "Iya, dia sudah kembali"

Sehun hanya bisa berpikir bahwa Jongin tidak tahu kalau yang pertama kali bertemu dengan Sehun adalah Luhan.

"Dan aku belum makan, tapi mungkin setelah tugas kita selesai, kita bisa makan bersama" Jongin melemparkan senyuman –yang menurut Sehun sangat penuh dengan ... cinta. "Tidak apa-apa kan? Atau kau sudah lapar?"

Mengatakan Sehun merasa tidak nyaman melihat bagaimana Jongin seperti dekat dan perhatian sekali dengan Luhan merupakan hal yang wajar.

"A–Aku akan menunggu kalian saja" Sehun bisa mendengar suara Luhan yang bergetar.

Jongin menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya. "Kau menunggu di sini saja, kami sebentar lagi selesai"

Luhan dengan enggan berjalan mendekat ke arah mereka dan duduk di samping Jongin, sebisa mungkin mengabaikan tatapan Sehun yang terus-menerus diarahkan kepadanya.

"Kau kenapa seperti terkejut begini?" tanya Jongin yang pada akhirnya merasakan anehnya gelagat Luhan. "Apa karena ada Sehun?"

Berbeda dengan Sehun yang sedari tadi tidak merasakan apapun saking heran, Luhan semakin bertambah gugup. "I–Iya. Se–Sehun sudah kembali ya"

Sehun tertawa miris di dalam hati. Jadi hari itu dianggap tidak ada ya?

"Iya, si bodoh ini sudah kembali" jawab Jongin setengah bercanda.

Sehun tahu Luhan pasti merasa tidak nyaman dengan keberadaan Sehun. Tetapi, masa bodoh. Ada sesuatu yang ingin dipastikannya sekarang. "Apakah kau tinggal di sini sekarang, hyung?"

Sedangkan pria yang berusia empat tahun lebih tua hanya mengangguk sebagai balasan. Bahkan dia tidak menatap Sehun sama sekali.

"Sejak kapan?" ya, sejak kapan mereka tinggal bersama?

Jongin yang sedari tadi sudah kembali ke laptopnya menambahkan. "Sejak dia keluar dari apartemen kalian"

Dan aku mengetahuinya ketika aku sudah mendapatkan apartemen kami kembali.

"Aku tidak tahu kalian sedekat ini" Sehun tidak peduli jika kata-katanya sangat memprovokasi.

Sedari dia melihat Luhan, perasaan negatif sudah berkecamuk. Melihat interaksi Jongin dan Luhan juga tidak membantu menenangkannya sama sekali.

Meski masih berkutat dengan laptopnya, Jongin terkekeh kecil. "Aku menawarinya waktu itu karena aku menyukai Luhan dan ingin dekat dengannya"

Sehun tidak tahu bagaimana bisa Jongin dengan entengnya mengatakan itu.

Sedangkan Luhan, seharusnya dia tidak peduli jika Jongin mengatakan itu, tetapi entah kenapa dia merasa semakin gugup.

"Lalu, bagaimana hasilnya?" Sehun tidak bisa melepas pandangannya dari Luhan sama sekali.

"Syukurlah berhasil" Jongin menutup laptopnya. "We're in relationship now"

"Sekarang, ayo kita pergi makan ke restoran di dekat sini" lanjut laki-laki itu sambil menggenggam tangan Luhan, membawanya bangkit berdiri.

Sehun melihat kedua tangan yang bertautan itu. Melihat punggung mereka berdua yang berjalan menuju pintu keluar.

Sehun tidak tahu, apakah suara remuk itu berasal dari imajinasinya–

–atau perasaannya.


First and Second


"Kau benar-benar menjalin hubungan dengan Jongin?"

Luhan tidak menyangka akan mendapati Sehun berdiri di depan kantor tempat dia bekerja malam ini.

"Kenapa kau di sini?" Luhan bertanya balik, mencoba tenang.

"Menunggumu" jawab laki-laki yang seperti mayat hidup itu. Dia terlihat sangat lelah. Dan Luhan sepertinya tahu kenapa.

"Untuk?"

"Berbicara"

"Mengenai?"

"Ayolah, Luhan" Sehun tertawa, tetapi Luhan lebih dari tahu untuk mengerti kalau tawa itu sarkastik. "Kau seharusnya tahu, itu yang pertama kali kuucapkan tadi"

"Aku memang berpacaran dengan Jongin" Luhan melihat ekspresi Sehun yang semakin tidak baik. Tetapi lelaki itu diam saja. Menghela napas, Luhan melewati Sehun untuk meneruskan perjalanan pulangnya.

Namun, tangan Sehun menahannya. "Apakah kau mencintainya?"

Luhan menggigit bibirnya. "Ya, tentu saja"

Sehun tertawa kecil, tawa penuh keputusasaan. "Kau sudah melupakanku?"

Pertanyaan Sehun benar-benar membuat perasaan Luhan berkecamuk. "Kau sendiri ... apakah menurutmu aku masih mencintaimu?"

"Aku juga tahu itu tidak mungkin" Luhan merasakan genggaman tangan Sehun di pergelangan tangannya mengendur. "Tetapi entah bagaimana aku berharap aku bisa memulai semuanya kembali"

Lelaki itu melanjutkan. "Ternyata aku salah. Kesempatan itu tidak akan datang. Kau ... sudah bersama Jongin"

"Ya" Luhan menatap lurus ke depan. "Aku sudah bahagia bersama Jongin"

Sehun membawa Luhan berbalik dan dia bisa melihat mata rusa bening itu. Tersenyum miris, dia mengusap satu pipi Luhan yang memandangnya datar. "Aku bodoh sekali"

"Aku meninggalkanmu karena aku pikir aku mencintai Nana. Tetapi ternyata itu hanya karena egoku yang dulu belum sempat terpuaskan karena Nana menolakku. Aku selalu berpikir aku suka membahagiakan Nana, tetapi kenyataannya aku hanya tidak bisa menyakitinya karena aku terbiasa menurutinya, karena dia teman atau mungkin seseorang yang aku anggap saudara, aku tidak mengerti. Aku tidak bisa membedakan mana yang cinta dan mana yang rasa bersalah, sehingga selama ini aku meyakinkan diriku kalau aku hanya sedang merasa bersalah setiap aku tidak pernah baik-baik saja jika melihatmu bersama Jongin"

Luhan tidak tahu harus membalas apa. Jadi dia tetap memandang Sehun dalam diam.

"Dan aku kira aku bahagia ketika kita dekat lagi karena aku senang kau sudah tidak marah padaku. Tetapi aku salah, aku bahagia bukan karena perasaan lega kau memaafkanku" Sehun menitikkan air matanya. Air mata yang selama ini dia tahan. Air mata yang belum pernah keluar sebelumnya.

Sehun hanya lelah dan tidak bisa menahan apapun lagi. Dia lelah berbohong dan berlari. Dia lelah dengan kehancuran yang dia rasakan sekarang. Dia bahkan menyerah karena dia lelah dengan kenyataan bahwa apapun yang dia lakukan, Luhan tidak akan kembali padanya.

"Aku bahagia bersamamu, karena itu dirimu"

Luhan merasakan sebuah bibir menempel di dahinya. "Aku mencintaimu, Luhan"

Juga merasakan sebuah rengkuhan hangat untuk tubuhnya. "Aku sangat mencintaimu"

"Aku–" Luhan melepaskan pelukan Sehun, lalu menatap Sehun dengan perasaan berkecamuk di dalam dirinya. "–tidak mencintaimu lagi Sehun, kau tahu kan?"

Sehun tersenyum kecut. Entah perasaan Luhan saja, atau wajahnya semakin pucat. "Aku tahu"

"Lalu untuk apa kau mengatakan ini semua padaku kalau kau tahu pada akhirnya aku tidak akan kembali padamu?" Luhan tidak tahu bagaimana pertanyaan kejam itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Senyuman Sehun yang tulus itu entah bagaimana bisa tercetak di wajahnya. "Aku hanya ingin mengatakan itu untuk terakhir kalinya"

"Karena aku tidak akan mengatakannya lagi" lanjut laki-laki itu. "Selamat tinggal Luhan"

Luhan melihat Sehun yang berjalan mundur, sebelum berbalik dan menghilang dari pandangannya.

Dan seketika itu juga bahu pria yang kini menunduk itu bergetar.

Tangannya mencengkeram erat kemejanya di depan dadanya.

"Brengsek"

"Kau brengsek, Sehun"

"Kenapa kau membuatku seperti ini"

"Kenapa kau membuatku menangis lagi"

"Kenapa Oh Sehun? Kenapa?!"

Dan akhirnya kedua kaki itu jatuh ke tanah. Tangannya mengepal di atas jalanan. Air mata pun membasahi aspal itu.

Kenapa, Sehun?


First and Second


Luhan tetap berdiri di tempat yang sama ketika dia masih menggenggam tali yang mengikatnya dengan Sehun. Ketika Sehun berusaha melepaskan diri dari ikatan itu.

Seperti orang bodoh, Sehun mengira ikatan cintanya dengan Luhan sudah terputus. Tanpa menyadari jika dia masih menggenggam tali itu ketika Luhan bahkan sudah melepaskannya.

.

Sehun sudah banyak menyakiti Luhan.

Hanya demi memenuhi kebodohannya.

Dan dia sudah terlalu banyak kabur dari masalahnya.

Karena egonya.

.

Namun tidak peduli seberapun rasa bersalah yang kini mendera Sehun, masa lalu tidak akan pernah menjadi masa sekarang.

Luhan sudah hidup bahagia tanpanya, dan Sehun menerimanya.

Mengucapkan kata maaf setiap hari pun tidak akan mengubah apapun.

Sekarang Sehun hanya bisa berharap dia bisa melupakan semua rasa sakit yang kini dia rasakan.

.

Setidakmengerti apapun Luhan dengan perasaannya, Luhan mengerti Sehun dan dirinya adalah masa lalu.

Dia sudah bahagia bersama Jongin, dan tidak seharusnya Sehun mengacaukannya.

Perasaan cinta Sehun kepada Luhan yang masih ada tidak akan mengubah apapun.

Sekarang Luhan hanya bisa berharap Sehun bisa melupakan dirinya.

.

Memang menyakitkan.

Tetapi inilah kenyataannya.

Janji yang pernah mereka buat untuk terus bersama sudah lama musnah.


To Be Continued


Chapter depan mungkin tamat. Ini vote terakhir, tolong vote Kailu atau Hunhan ya hehe

Jadi, kalau ada yang tanya Luhan itu masih cinta sama Sehun atau tidak, dulu di awal Luhan hanya merasa nyaman bersama Jongin tapi masih mencintai Sehun. Sekarang, sebenarnya Luhan sudah mencintai Jongin, tetapi dia belum melupakan Sehun sepenuhnya. Dan Sehun kembali terlalu cepat makanya Luhan jadi terombang-ambing.

Omong-omong, maaf lama. Kehidupan di Jepang benar-benar berat ... mohon doanya saja supaya saya bisa bertahan hehe.

Dan saya punya ff baru, fantasy (lagi) tapi remake dari mitologi Yunani, yang berniat silahkan follow, favorite, atau review hehe

And ... thank you very much for reviewers, followers, and favoriters!

auliaMRQ | whoami | Arifahohse | mischa baby | Double Kim (masih lanjut nulis kok kalau saya ada waktu) | BB137 (saya malah tidak tahu QwQ iya tetep bakal nulis hehe)| lzu hn (boleh kok OwO beasiswa ke Jepang banyak, sering-sering cek situs kedubes ya hehe)| kaika0788 (tenang, pasti akan ditamatin kok)| LightCSI (WB itu selalu ada QwQ)| ZzzxHan | avheril psychomonst49 | ludeer | HHS Hyuuga L | shamphony | Zahra | dearmydeer7 | luluuuHS | Shizuluhan

So,

Mind to review?