Title: Fate

Rate: M

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Tan Hangeng (as Kim Hankyung), Kim Heechul, Jung Jihoo (Yunho's father), Park Yoochun, Kim Junsu, Shim Changmin, and other.

Disclaimer: Saya cuma pinjam nama. Yunho milik Jaejoong dan Jaejoong milik Yunho. Plot is mine.

Pairing: YunJae. HanChul. YooSu.

Warning: OOC. BL. GS for Heechul. Alur ngebut. Typo.

.

[Fate]

.

Yunho ingin segera menyelesaikan semua masalah yang ada. Ia membawa Hankyung ke sebuah gudang yang sudah lama tak terpakai dan memukuli namja tampan berpangkat inspektur itu dengan syarat mau mendengar penjelasannya. Namun penjelasan Hankyung yang mengungkap tentang masa lalu malah membuat Yunho kalap hingga memukulnya secara bertubi-tubi. Untunglah sebuah pesan masuk ke ponsel Yunho dan menyelamatkan Hankyung.

Namun kenyataan yang lebih pahit justru harus mereka terima karena pesan masuk tersebut ternyata foto Jaejoong yang sedang disekap. Yunho segera pergi dari sana. Sedang Hankyung dengan tenaga yang masih tersisa berusaha menelepon Heechul.

.

~yunjae~

.

"Hannie! Omoo, apa yang terjadi, sayang?" Heechul yang baru saja datang ke gudang tempat Hankyung berada berteriak panik.

"Jangan khawatirkan a–ku. Ja–Jaejoong.. dalam bahaya."

"M–mwo?"

Hankyung mengarahkan maniknya ke arah ponsel Yunho yang berada tak jauh dari mereka.

Yeoja cantik itu mengambil ponsel tersebut dan menatap layar.

TRAK

Ponsel itu jatuh begitu saja karena tangan Heechul yang bergetar, "J–jaejoong.. Jaejoongie.. Joongie.. anakku.." lirihnya berulang-ulang bagai kaset rusak.

Kesan sendu, itulah yang tampak dari tatapan Hankyung pada sang istri. Perlahan ia menggenggam tangan yang masih setia bergetar dengan hebatnya itu, "Kajja. Kita harus segera menyelamatkan Joongie."

TES

Sekali terpejam, mata besar nan indah itu mengeluarkan bulirnya.

"Kau harus kuat. Demi Joongie.." Hankyung mengeratkan genggamannya, kemudian dengan mengerahkan seluruh tenaga yang ia punya, diangkat dan ditariknya tubuh sang istri menuju mobil. Tak lupa ia membawa ponsel Yunho. Rasanya ia mendapat sedikit petunjuk dimana keberadaan putranya melalui foto yang dikirim ke ponsel tersebut.

"Aku yang akan menyetir." Ujar Heechul, menahan Hankyung yang hendak membuka pintu kemudi.

"Kau yakin?"

"Melihatmu yang luka-luka seperti ini, seharusnya kau tau seberapa penuh keyakinanku."

"Aku baik-baik saja."

"Kau tidak sedang baik-baik saja!"

TREK

BLAM

Dengan cepat Heechul membuka pintu kemudi, duduk menghadap setir, kemudian menutup pintunya. Menghela napas pelan, Hankyung memutari mobil dan mengambil tempat di samping kursi kemudi.

"Akan kuantar kau ke rumah sakit terlebih dahulu setelah itu aku akan mencari Joongie."

"Andwae. Aku ikut."

"Hannie!"

"Chullie, jebbal.. kau tau. Jaejoong lebih berharga dari nyawaku sendiri."

"..."

Tak menjawab, Heechul menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas kuat-kuat.

"Kita ke rumah sakit setelah menyelamatkan Jaejoongie. Aku janji."

Heechul masih setia bungkam. Tatapannya fokus diarahkan ke jalan. Meski tak tau mau dibawa kemana lamborghini yang sedang dikendarainya ini.

"Diam berarti iya. Kita ke kampus Jaejoong. Dari foto yang dikirmkan ke ponsel Yunho ini, dapat kita lihat Jaejoongie yang disekap di dekat jendela tak bertirai. Dari jendela itu terpantul gedung kampus Jaejoong."

Heechul membelokkan mobilnya ke kiri, jalan yang akan membawa mereka ke kampus Jaejoong.

"Kemana pemilik ponselnya?"

"Oh, Yunho. Dia—"

"Ah, harusnya tak perlu ditanya. Ia pasti segera ke sana untuk menghabisi Jaejoong setelah mendapat laporan penyekapan dari anak buahnya."

"Kau salah pa—"

"Sudah kubilang kan untuk segera menjauhkan Jaejoong dari Yunho. Dia berbahaya."

"Kau salah paham!" Hankyung berujar cepat, sebelum Heechul kembali menyela ucapannya, "Yunho sangat mencintai Jaejoong. Kau pasti mengerti maksud ucapanku."

Hechul tak menjawab, hanya mengalihkan pandangan pada sang suami, itupun hanya sekilas sebelum kembali fokus pada jalan di depannya, "...Ck." hanya decakan yang akhirnya lolos dari bibirnya.

.

~yunjae~

.

"Itu Hankyung ahjussi dan Heechul ahjumma kan?"

"Mana? Mana?" serempak Junsu dan Yoochun mengikuti arah pandang Changmin.

"Oh. Apa yang sedang mereka lakukan?" heran Junsu.

"Mungkin sedang mengejar tersangka. Hankyung ahjussi seorang inspektur kan? Sudah biarkan saja, jangan mengganggu pekerjaan polisi."

Yoochun berbalik dan menarik tangan Changmin dan Junsu menjauh dari sana.

"Tapi Hankyung ahjussi terluka, Chunnie. Wajahnya lebam-lebam."

"Mwo?" Yoochun menghentikan langkahnya, kembali berbalik menatap pasangan suami istri itu dari kejauhan, "Kau benar."

Setelah memastikan kebenaran ucapan Junsu, Yoochun segera berlari menghampiri Heechul dan Hankyung. Namun..

CIIIT

"Chunnie!"

Yoochun, Changmin, Junsu, dan pengemudi mobil yang mengerem mobilnya tepat waktu itu membuka mata mereka perlahan.

"Aku.. selamat." Yoochun mengelus dadanya lega, Tuhan masih mengizinkannya hidup.

"Y–yunho seonsaengnim?" Junsu sedikit memekik kala melihat pengemudi mobil yang sedang menurunkan kaca pintu mobilnya itu.

"Ka–kalian.. temannya Jaejoong kan? Kalian tau dimana dia berada? Apa dia bersama kalian hari ini?" tanya Yunho panik seraya keluar dari mobil dan mengguncang-guncang tubuh Junsu dengan mencengkeram kedua bahunya.

Ia ingat benar wajah ketiga orang di depannya ini, meski tak ingat bahkan tak peduli akan nama mereka.

"Kami tidak melihatnya hari ini. Dia tidak masuk mata kuliah pagi." Kali ini Changmin bersuara.

Cengkeraman Yunho pada bahu Junsu terlepas. Tubuhnya lemas seketika.

'Shit!' batinnya kesal.

"Tapi kami melihat orang tuanya yang seperti sedang mencari seseorang."

"Dimana?!" Yunho menatap Yoochun tajam. Berharap banyak pada jawaban dari namja berjidat lebar itu.

"Disa–na..." tunjuknya pada area tempat HanChul berada yang ia lihat tadi, "Oh.. kemana mereka? Tadi kami melihat mereka di sana, seonsaeng–nim. Seonsaengnim?!"

Yoochun yang mengalihkan pandangan ke Yunho terkejut saat tak mendapati dosennya yang sudah tak ada di hadapannya lagi, berlari menuju titik yang ditunjuknya tadi.

Changmin dan Junsu menatap cemas pada Yoochun, menunggu perintah dari namja yang paling tua diantara mereka itu.

"Kita ikuti mereka. Kajja.."

.

~yunjae~

.

BOUGH

Pukulan terakhir dilayangkan Jaejoong. Namja cantik itu tersenyum puas.

'Ikatan di tubuhku terlalu longgar. Kalian meremehkan tenagaku, huh?' tanyanya membatin. Tatapan nyalang dilayangkan kepada dua orang bertubuh kekar yang kini terbaring tak berdaya.

Melihat sekeliling, ia terpikir sesuatu. Siapa yang melakukan ini? Mungkinkah...

'Ah, berpikirnya nanti saja. Yang terpenting aku harus keluar dari sini sekarang juga.' batinnya lagi seraya mengangguk mantap.

Dilangkahkan kaki jenjangnya keluar dari ruangan minim oksigen itu.

'Pintu tidak dikunci. Mereka benar-benar meremehkanku.'

Dipercepat langkah kakinya, 'Di sini terlalu pengap. Tempat apa sih ini? Hhh, aku harus segera mandi untuk menghilangkan keringat akibat kepengapan ini.'

Kim Jaejoong.. benar-benar sandera yang angkuh.

GREP

Seseorang yang menjegal kuat leher Jaejoong dari belakang dengan lengannya, menahan laju pergerakan namja cantik itu di sebuah koridor.

"Mau coba-coba lari, Kim Jaejoong?" desisnya berbahaya.

Suara itu. Jaejoong kenal suara baritone yang sedikit banyak mirip dengan milik Yunho –mantan– kekasihnya. Namja paruh baya yang pernah memeluknya di koridor kampus atau bisa ia sebut.. Jung Jihoo.

"Bunuh aku, tuan Jung."

"Oh. Apa kau sedang menyerahkan diri?"

"Bunuh aku dan jangan usik kedua orang tuaku lagi. Juga Yunho.." Jaejoong menarik napas kuat-kuat, mengingat wajah tampan orang yang dicintainya itu membuat dadanya sesak, "Jangan biarkan dia membunuh siapapun lagi." Tak pelak, air mata lolos dari doe eyes itu.

"Mencoba membuat perhitungan denganku, hah?!" Jihoo membalik tubuh Jaejoong kasar.

DEG

Wajah ini.. Yoonhee. Mata besar yang sedang mengalirkan bulir itu persis sama dengan milik Yoonhee.

"Lee Yoonhee..." tak sadar Jihoo melafalkan nama mendiang istrinya.

'Tidak! Tidak!' namja paruh baya itu menggelengkan kepalanya.

Kembali. Ia menahan pergerakan Jaejoong seraya memberikannya tatapan tajam, "Apa kau sedang mencoba membuat perhitungan denganku, hah?!" bentaknya mengulang pertanyaan tadi.

"Kau menginginkan kematianku kan? Aku sudah akan mengabulkannya, jadi kabulkan juga keinginanku. Kurasa itu mudah, aku tak menyuruhmu untuk mati."

"Cih." Seringai tampak di wajah namja paruh baya itu, "Jangan bercanda!" ditariknya kasar kerah kemeja Jaejoong.

"Jung Jihoo! Lepaskan tanganmu!"

Jihoo menoleh cepat ke asal suara. Hankyung... bersama Heechul.

"Ck. Tamu tak diundang."

Jihoo menarik perlahan tubuh Jaejoong menjauh dari sana seraya mengarahkan pisau tajam ke leher putih itu.

"Saeng.. jangan macam-macam atau kau akan menyesal!" desis Hankyung berbahaya. Ia menghentikan langkahnya melihat pisau yang semakin didekatkan kala kakinya melangkah mendekat.

Heechul sudah jatuh terduduk. Lemas tak bertenaga menatap putra kesayangan yang kini berada antara hidup dan mati.

"Jihoo yah... jebbal. Kau benar-benar akan menyesal. Jaejoong—"

Heechul meremat celana Hankyung. Memberikan isyarat kepada sang suami untuk tak melanjutkan kalimatnya melalui gelengan kepala.

"Jaejoong adalah—"

"Kim Hankyung, hentikan!" Heechul memekik keras.

"Ckckck. Cukup basa-basinya."

Jihoo menarik tubuh Jaejoong cepat, menjauh dari sana.

"Jaejoong adalah anak yang lahir dari rahim Lee Yoonhee, mendiang istrimu!"

DEG

Tubuh Jihoo kaku, meski tak dilonggarkan penjegalannya pada leher Jaejoong.

Seketika keadaan menjadi hening.

Hanya helaan napas berat yang terdengar, keluar dari bibir Heechul. Kepalanya ditundukkan dalam-dalam. Tak akan kuat melihat bagaimana reaksi keterkejutan dari Jaejoong. Anak itu pasti sangat terpukul, pikirnya.

"Hahaha.." Jihoo tertawa rendah. Membuat siapapun yang mendengarnya begidik ngeri. Termasuk 4 orang yang sedang mengintip kejadian itu dengan salah satu dari 4 orang itu sudah siap dengan pistol di tangannya.

"Kau pikir aku akan menghentikan niatku untuk membunuhnya karena bualanmu itu?!"

SET

Pisau itu semakin didekatkan, hingga leher putih itu mengeluarkan darah dari suatu titik.

"Hentikan atau peluruku akan bersarang di kepalamu, appa!"

Oh.

Yoochun, Junsu, dan Changmin yang berada di belakang Yunho menutup mulut mereka sendiri sebagai ekspresi keterkejutan. Kejadian yang terpampang di hadapan mereka bagaikan puzzle yang harus disusun untuk memperjelas semuanya.

Jihoo memandangi Yunho yang sedang berdiri berseberangan dengan HanChul, mengarahkan pistol padanya.

"Kau berani membunuh appamu demi namja menjijikkan ini?"

TREK

Yunho menggerakkan jarinya menarik pelatuk. Jaejoong yang melihatnya sedikit terbelalak. Tatapan memohon bermakna 'Andwae, Yun..' dilayangkan pada mantan kekasihnya itu.

"Yaa keparat! Kau pasti telah meracuni otak anakku." Jihoo memandang HanChul sinis. Tak menyadari bahwa Yuno telah menarik pelatuknya.

"Yunho yah, andwae!"

DOR

"JAEJOONGIE!"

"HYUNG!"

Trak.

Pistol di tangan Yunho terjatuh begitu saja. Tangannya bergetar hebat. Ia menatap nanar tubuh bersimbah darah Jaejoong yang dikerubungi HanChul serta ketiga temannya.

Namja cantik itu berlari ke arah Yunho dan mengarahkan mulut pistol itu ke dirinya tepat saat Yunho menarik pelatuk. Dan peluru itu kini bersarang di perut Jaejoong.

De Javu.

Itulah yang dirasakan Jung Jihoo sekarang. Namja paruh baya yang tersungkur karena Jaejoong yang tadi mendorongnya itu teringat kembali kejadian bertahun-tahun lalu yang menimpanya. Sama persis.

"Yoonhee.. Lee Yoonhee.. istriku."

Sedikit gontai namun tetap dikerahkan tenaganya untuk mencapai tubuh Jaejoong. Ia mendorong kasar orang-orang yang sedang mengerubungi Jaejoong kemudian membawa tubuh namja cantik itu ke dalam gendongan ala bridal style . Persis sama dengan yang ia lakukan puluhan tahun lalu.

Tak peduli bahwa orang dalam gendongannya berbeda dengan puluhan tahun lalu, yang dipikirkannya sekarang adalah 'Yoonhee-nya selamat'.

.

~yunjae~

.

"Yoonhee yah.. Yoonhee yah.. bertahanlah. Demi aku..." Jihoo terus menggumamkan kata-kata itu dengan kedua tangan mengepal dan disatukan seperti sedang berdo'a.

"Saeng.. dia pasti selamat."

SET

Jihoo menatap Hankyung yang sedang memegang bahunya tajam.

"Brengsek!"

BUGH

BUGH

BUGH

Kalap. Seperti 20 tahun lalu. Ia memukuli Hankyung yang dianggap telah dengan sengaja menembak istrinya. Meski kali ini salah sasaran.

Yoochun, Junsu, dan Changmin mencoba menghentikan aksi brutal itu. Namun merasa hasilnya akan sia-sia saja, dengan otak cerdiknya Changmin memanggil dokter untuk menyuntikkan obat penenang pada Jihoo secara paksa.

Tampaknya namja paruh baya itu sudah setengah gila sekarang. Karena itulah Changmin merasa tindakannya pantas.

Setelah Jihoo berhasil dibereskan, Hankyung mendapat tatapan meminta penjelasan dari Changmin, Junsu, dan Yoochun.

"Maaf." Hanya itu yang dapat keluar dari mulut Hankyung.

Ketiga orang itupun hanya diam. Agaknya mereka memang harus menerimanya. Mau menjelaskan atau tidak, itu hak Hankyung.

"Hiks.. Joongie.."

Junsu menghampiri Heechul yang mulai terisak, "Ahjumma, tenanglah. Jaejoong hyung orang yang kuat. Jangan cemas." Ucapnya mencoba menenangkan, meski tampaknya gagal karena ia malah mengeluarkan air mata.

Teringat kembali kejadian mengerikan yang dilihatnya beberapa saat lalu. Junsu tak menyangka, Jaejoong yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya sendiri ternyata memiliki hidup yang.. rumit. Ditatapnya Yunho yang sedang duduk di lantai dengan tatapan kosong seraya bibir hatinya bergerak-gerak seperti melafalkan sesuatu. Meski tak terdengar, Junsu dapat membaca apa yang diucapkan dosennya itu melalui gerakan bibirnya.

'Jaejoongie.. mian.. mianhae..'

.

~yunjae~

.

Tik Tik Tik.

Bunyi jarum jam memenuhi koridor yang sunyi meski banyak orang berada di sana.

Menunggu, menunggu pintu ruang operasi di hadapan mereka terbuka. Memberikan kabar yang mereka semua harapkan. 'Operasinya berhasil'.

Heechul sudah tertidur karena terlalu lelah menangis, bersandar pada bahu tegap sang suami. Tak jauh berbeda dengan Junsu yang juga bersandar pada Yoochun, namun namja itu tak tertidur. Ia hanya sedikit lelah menangis. Changmin juga hanya terdiam. Ia yang biasanya merasa lapar setiap menitnya seakan mati rasa, meski mereka berenam sudah melewatkan makan siang mereka karena terus menunggu sedari tadi. Yunho jangan ditanya, keadaannya masih sama seperti tadi, duduk di lantai seraya bergumam tidak jelas.

CKLEK

Bunyi pintu terbuka bagai oase di tengah gurun. Melegakan tenggorokan kelima orang di sana yang sedari tadi terasa seperti dicekat. Heechul pun terbangun dari tidurnya.

"Pasien akan segera dipindahkan ke ruang perawatan biasa."

"Gamsahamnida, uisangnim." Hankyung menggenggam tangan sang dokter yang baru keluar dari ruang operasi seraya memberikan senyuman terbaiknya. Setelah membungkuk sejenak, ia memandang ranjang dimana Jaejoong berbaring di atasnya sedang didorong oleh suster. Langkahnya mengikuti kemana ranjang itu akan dibawa.

.

~yunjae~

.

Hankyung memandangi Jihoo yang kini sedang duduk di samping ranjang menggenggam tangan Jaejoong erat. Kemudian tatapannya dialihkan pada Yoochun, Junsu, dan Changmin.

"Kalian pulanglah."

"Tapi kami ingin menunggu hingga Jaejoong hyung sadar." Junsu mengeluarkan suara penolakan.

"Ahjussi akan memberitahumu. Yaksok."

"Shireo." Junsu tetap berkeras.

"Hannie, tidak baik berjanji pada orang lain sebelum kau sendiri menepati janjimu."

Hankyung mengernyitkan alis, bingung dengan ucapan sang istri. Namun sejurus kemudian ia tersenyum, "Aku ingat kok."

Heechul merangkul lengan Hankyung, menuntunnya berjalan.

"Meski hari ini aku sudah berkali-kali dipukuli, aku bukan namja lemah atau kakek tua yang tak mampu berjalan, Chullie. Tak perlu kau menuntunku seperti ini.." Hankyung membelai rambut Heechul dengan sayang kemudian menghapuskan sisa-sisa air mata yang masih menjejak di kedua pipi pucat sang istri, "Oh.." ia menghentikan langkahnya kala melewati Yunho, "Tampaknya kau harus bersabar sebentar lagi. Aku tau saat ini kau pasti sangat ingin melakukan seperti yang dilakukan appamu."

Tak lama setelah Jaejoong dipindahkan ke ruang rawat biasa, Jihoo datang dan langsung menarik kursi ke sisi ranjang, tak membiarkan siapapun menyentuh Jaejoong. Alhasil, keenam orang lainnya hanya bisa pasrah menunggu kesadaran Jaejoong dari luar ruang rawat.

"A–appa..." doe eyes Jaejoong terbuka.

Junsu yang melihatnya memekik tertahan, "Ahjussi, ahjumma, Jaejoong hyung sudah sadar."

Sontak Hankyung dan Heechul berbalik dan berjalan mendekati pintu ruang rawat Jaejoong, tak terkecuali Yunho, Yoochun, dan Changmin.

"Appa..." Jaejoong menolehkan kepalanya ke kiri dimana Jihoo berada, "Boleh aku memanggilmu.. 'appa'?"

TBC

a/n: pendek bingiiiits... maaf-maaf, jangan timpuk saya ya. Chapter ini sengaja saya bikin sebagai klimaksnya, dan karena berikutnya adalah anti-klimaks cerita, makanya tebece deh. Maaf udah update lama, tapi chap ini absurd dan pendek. Oke deh, ini balasan review:

shipper89: iyah, diculik. Saudara bukan yaa? Hehe. Gomawo ne reviewnya^^

akiramia44: lihat apa yg diperbuat ayahnya Yunho di chap ini. Anaknya bukan yaaa? Hehe. Gomawo reviewnya^^

Dewi15: ini dilanjut :) gomawo reviewnya^^

azahra88: ah, gak juga.. hehe. Gomawo ne reviewnya^^

JonginDO: dan ini updatenya lama lagi, haha. Gomawo reviewnya^^

irna. lee. 96: chapter ini sudah ada sedikit penjelasan. Semoga gak bingung :) dan ini updatenya lama again :D gomawo reviewnya.. semangaaat ^^

Guest: (perihal hankyung yg bkn pembunuh umma yunho .. sdh terungkap.. tp ttg jihoon? ttg hub status Yunjae, ? lnjutkan..fighting! ! rajin2 updat nee.. ff yunjae makin jarang) terjawab di chap-chap berikutnya :) ini udah rajin belom? (belom sih kayaknya -_-a) gomawo ne reviewnya^^

Dennis Park: wakakakk. Reviewmu lucu.. geregetan gitu ya sama jaemma :D makasih ya reviewnya^^

sexYJae: kalo Yunho gak kalap, selesailah ff ini.. haha. Gomawo ne reviewnya^^

editorr: makasih editor.. authornya dibilang keren :P weits, jangan ngumbar-ngumbar kalo yadong :P emang orang ganteng gak boleh dibunuh? -_- makasih reviewnya^^

nabratz: anak kandung bukan yaaa? Haha.. gomawo ne reviewnya^^

Terima kasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca :)

Regards,

Ai CassiEast