Title : Blood, Sweat & Tears (눈물): SOULMATE.

Cast :

KaiSoo.

And onother EXO couple, Nuest, SVT.

GS/Gender Switch, Fantasy, Vampire!AU.

.

.

.

Happy reading!

Don't read if you not light!

No plagiat! No ctrl c + ctrl v!

.

.

.


Udara yang lembab dengan mendung menggantung di langit menjadi pendukung yang sempurna bagi keluarga Kim untuk bermain Baseball. Mereka menaiki mobil menuju lapangan yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah, sebuah lapangan kosong nan luas yang dikelilingi hutan pinus. Sebenarnya kegiatan ini sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi mereka, setiap tiga atau dua bulan sekali. Tapi kali ini ada yang berbeda karna Kyungsoo juga ikut serta. Gadis manis itu memakai kaus baseball yang sama dengan Kim Familly.

"Disini dingin," Kai berkata setelah mereka turun dari Jeep, memakaikan sebuah mantel hangat serta beanie warna pink pada Kyungsoo, membuat gadis itu tersenyum.

"Terimakasih."

"Apa ini hangat?" Kyungsoo mengangguk dan telapak tangan dingin lelaki itu menangkup wajahnya, memberikannya sebuah kecupan ringan di bibir.

"Ayo!"

Kyungsoo mengikuti kekasihnya yang berkumpul ditengah lapangan. Disana dia melihat Chanyeol, sempat bertatap sejenak sebelum lelaki itu mengalihkan pandangan terlebih dahulu. Ah, apa Chanyeol masih memikirkan tentang hubungannya dengan Kai?

"Oke, kita akan membagi tim menjadi dua regu. Wonu menjadi Pitcher dan regu pertama berisi Chanyeol, Sehun dan Luhan. Sisanya bergabung denganku." Suho berkata dengan semangat kemudian menatap Kyungsoo.

"Oh, aku melupakan bahwa kita memiliki satu tambahan pemain. Kyungsoo, kau menjaga base di dekat Wonu, oke?" Kyungsoo mengangguk, disini dia tidak akan bermain dan itu membuatnya lega, dia hanya harus menonton jalannya pertandingan saja. Lagipula dia tidak yakin ini akan menjadi sebuah permainan baseball biasa.

"Ayo tentukan siapa pemain pertama!"

Kai dan Chanyeol maju, kedua saudara itu sempat bertatapan sejenak dengan tajam sebelum akhirnya melakukan suit.

"Sial!" Lelaki yang lebih tua mengumpat saat dia memasang kertas sementara Kai menang telak dengan memasang gunting. Lelaki tan itu menyeringai, dia akan bermain pertama.

Regu Chanyeol bersiap menjaga. Ah, mereka semua terlihat sangat agresif dan antusias. Lihat saja tatapan mata Sehun yang begitu berkobar saat Lay bersiap memukul.

"Siap?" Wonu mengangkat bolanya sebelum melemparkannya pada Lay yang langsung memukulnya dengan keras. Bola melayang tinggi dan cepat, namun secepat kilat Sehun melompat meraihnya bersamaan dengan Lay yang sudah berlari mencapai base pertama. Kyungsoo tercengang, nyaris tidak berkedip saat semuanya berjalan dengan begitu cepat. Sudah diduga, permainan baseball ini bukan permainan biasa karna pemainnya adalah bangsa vampire.

"Ini belum seberapa sayang, kau harus melihatku memukul."

Kai mengambil tongkat pemukul, mengambil ancang-ancang untuk bermain.

"Siap?" Saat Wonu melempar bola, lelaki tan itu memukul dengan keras, terlampau keras hingga Kyungsoo yakin bahwa bola itu terlempar hingga ratusan meter. Chanyeol dan Sehun berlari cepat menuju ke arah hutan untuk meraih bola sementara Kai berlari melewati base pertama menyusul Lay dan kembali ke home base tepat waktu, karna Chanyeol yang ahli menangkap bola itu berhasil mengejar bola dan melemparkannya ke home base.

"Dua kosong!" Wonu berteriak saat tim Kai berhasil mencetak skor. Permainan kembali dimulai dan Kyungsoo terus mengikuti permainan dengan wajah terkagum. Kai masih memukul dengan begitu keras, membuat Chanyeol dan Sehun berebut untuk mendapatkan bola.

"Oh ayolah, kalian para lelaki kapan mau memberikan aku kesempatan mendapatkan bola?" Luhan menggerutu, gadis itu kesal tidak memiliki kesempatan menangkap bola karna Chanyeol dan Sehun yang terus melakukannya. Chanyeol mengernyitkan alisnya sebelum menggumam.

"Oke, giliranmu Lu."

Di home base sana Suho bersiap memukul, saat Wonu melempar, bola melambung tinggi dan cepat. Luhan berlari mengejar bola yang terus bergerak memasuki hutan, gadis itu melompat ke atas sebuah pohon dan–

Hap!

Bola berhasil dia tangkap, namun tiba-tiba kakinya tergelincir sehingga tubuhnya melayang jatuh ke tanah.

Grep!

"Perhatikan gerakanmu sayang," Sehun ternyata menyusul dan ada dibawahnya, dengan sigap menangkap tubuh Luhan yang hampir jatuh. Pria itu tersenyum tipis, mengecup bibir soulmatenya dan membawa Luhan kembali kelapangan dengan bridal style.

"Ck, mereka mulai." Wonu memutar bola mata malas, berteriak bahwa skor sudah delapan kosong sebelum bersiap kembali untuk melempar bola.

"Siap?"

Kai didepannya mengangguk dan bersiap memukul, Wonu terdiam sejenak sebelum melempar bola dengan tidak yakin, itu melenceng jauh dari jangkauan Kai.

Deg!

Gadis cantik itu membulatkan mata, membalik tubuhnya dengan wajah semakin memucat tiba-tiba.

"Wonu ada apa?" Lay adalah orang pertama yang menyadari ada yang tidak beres dengan putrinya.

"SEMUANYA BERKUMPUL!" Gadis itu berteriak, membuat semua keluarganya langsung berkumpul ditengah lapangan dengan waspada. Kai menarik Kyungsoo mendekat, mendekapnya erat.

"Kai, ada apa?" Tanya Kyungsoo namun Kai tidak menjawab sebelum Wonu melanjutkan, dia sepertinya melihat sesuatu.

"Mereka datang! Ada vampire lain yang mendekat!"

Seketika keluarga Kim itu berkumpul berdekatan. Kai orang yang paling terkejut disini, vamire lain datang? Sial, ini tidak baik untuk Kyungsoo. Lelaki itu segera berniat membawa Kyungsoo pergi.

"Terlambat! Mereka sudah dekat!"

Kai mendesis, dia semakin merapatkan Kyungsoo padanya. Lelaki itu menggerai rambut kekasihnya keluar, menaikkan kancing mantel serta memperbaiki beanienya. Berupaya agar vampire lain yang datang itu tidak mencium aroma darahnya.

"Kai, sebenarnya ada apa? Siapa yang datang?" Kyungsoo bertanya dengan begitu cemas, namun Kai menenangkannya dengan mengatakan semuanya baik-baik saja dan meminta Kyungsoo untuk diam.

"Kyungsoo, tetaplah bersama Kai." Kyungsoo mengangguk saat Lay mengatakan hal itu padanya sambil merapikan tatanan rambutnya. Gadis manis itu beringsut takut dalam dekapan kekasihnya, ketakutan.

Kim Family menunggu dengan waspada, siapakah tamu yang tak diundang itu? Suho sebagai kepala keluarga berdiri didepan bersama Lay dan Chanyeol sementara Wonu, Sehun dan Luhan berjaga di sisi Kai. Keluarga vampire yang datang itu ada tuju. Satu pasangan berada didepan yang Suho tebak sebagai kepala keluarga sementara dibelakangnya ada lima orang sebagai anak-anaknya, dua perempuan dan tiga laki-laki.

"Sepertinya ada pertandingan disini." Si kepala keluarga, dengan rambut hitam legam itu berkata santai saat berdiri dengan jarak tidak kurang dari lima meter didepan Suho. Kepala Kim Familly itu tersenyum, meraih Lay dan memeluk pinggangnya.

"Ya, aku dan anak-anakku hanya menghabiskan waktu."

"Bagus, apa kalian tidak keberatan menambah pemain?" Suho menatap anak-anaknya yang kompak mengangguk dan kembali tersenyum.

"Tentu, ini akan menjadi pertandingan yang seru."

Tubuh Kyungsoo bergetar takut didalam dekapan kekasihnya. Dia tidak berani mendongak ataupun sekedar menatap keluarga vampire yang berdiri tak jauh didepannya itu. Ingatannya seketika kembali pada pesta tempo lalu, bagaimana jika orang yang dia temui di pesta itu–

"Kalian bermainlah, aku dan pasanganku mungkin hanya akan menonton saja." Kai berkata, lelaki itu segera membawa Kyungsoo pergi dari sana, namun gerakannya yang sedikit terburu itu menyingkap rambut Kyungsoo, membuat sapuan angin menerbangkan aroma darahnya sampai pada keluarga vampire yang baru saja datang itu.

Wush~

"Grr!" Keluarga vampire itu langsung menggeram, bola mata mereka berubah warna menjadi merah pekat sementara taring-taring kecil muncul disela-sela bibirnya. Kim Family juga bertindak cepat, mengambil posisi siap bertarung untuk melindungi Kyungsoo.

"Sial!" Kai satu-satunya yang masih pada mode manusianya, mengumpat karna penyamaran kekasihnya terbongkar. Lelaki itu mendekap kekasihnya semakin erat, saat itu dia bisa mendengar gumaman samar Kyungsoo.

"D–dia.."

"Kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Kai cepat dengan sebelah alis terangkat, Kyungsoo yang ketakutan mendongak dan mengangguk kecil.

"Le–lelaki itu, yang berambut coklat itu, a–aku pernah bertemu dengannya sekali saat di pesta tempo lalu."

Oh sial! Jika mereka pernah bertemu sebelumnya, pasti sudah dipastikan dia akan mengincar Kyungsoo. Firasat Kai benar, dia tidak salah menebak. Aroma ini aroma yang sama dengan aroma di restoran waktu itu.

"Kenapa kau tidak menceritakan hal ini padaku sayang?"

"Ma–maaf." Kyungsoo mencicit ketakutan, menatap ragu pada wajah Kai yang mengeras. "Kufikir kami tidak akan pernah bertemu, maafkan aku." Kai tidak membalas, dia merasa marah karna Kyungsoo tidak menceritakan hal ini padanya, naun dia hanya diam dan memeluk gadisnya semakin erat.

"Wah, kalian membawa santapan uh? Sebaga penutup permainan?"

"Jangan macam-macam, dia adalah bagian keluarga kami."

"Huh? Manusia itu?" Kepala keluarga di depan Suho itu menyeringai, matanya terlihat berkobar menatap Kyungsoo yang ketakutan. Well, mungkin ini saatnya untuk mengungkap identitas keluarganya.

Mereka adalah vampire Keluarga Lee.

Lee Hyunseung dan Lee Hyuna adalah kepala keluarga, Ayah dan Ibu dari kelima anak-anaknya. Putra pertama mereka, dengan wajah sedingin salju serta rambut coklat yang tengah menatap Kyungsoo lekat itu adalah Lee Hui, pria sama yang ditemui Kyungsoo saat dipesta tempo waktu.

"Oh, kau mengenal aroma ini?" Putra kedua, E'Dawn dengan wajah pucat pasi serta rambut blonde itu menatap pada adiknya.

"Ya! Ini aroma manis yang di restoran itu, gadis yang hampir memergokiku saat sedang makan." Sorn, gadis berambut merah terang itu tengah menyeringai, dia adalah Putri Ketiga.

"Apa yang aku tidak tahu disini?" Perempuan di sebelah Sorn dengan rambut lurus berwarna silver mencolok itu mempoutkan bibirnya kesal, dia Elkie, Putri keempat.

"Harusnya kau ikut kami waktu itu." Dan dia adalah Putra terakhir, lelaki tampan dengan tubuh jangkung itu adalah Wooseok, kesayangan keluarganya.

"Baiklah Lee Family." Suho menegakkan tubuhnya, merubah diri menjadi mode manusia saat sudah mengenali situasi. Saat ini Kyungsoo sedang dalam ancaman dan dia fikir akan lebih baik jika masalah diselesaikan secara baik-baik.

"Aku ingin menebak sesuatu, apakah kalian keluarga vampire yang juga pindah ke tempat ini?"

"Bisa dibilang begitu," Jawab Hyunseung. Suho masih mempertahankan senyumnya, melirik sejenak pada istrinya.

"Harusnya kalian mengerti, wilayah ini sudah menjadi tempat keluargaku, Kim Family. Kalian tidak berhak berada disini dan harus mencari tempat persembunyian lain."

"Menurutmu begitu?" Hyunseung terkekeh dengan congkak. "Siapa yang terkuat, merekalah yang bertahan."

Suho menahan nafasnya, emosinya mulai meluap dan dia merasa marah. Apakah kepala keluarga Lee itu baru saja mengajaknya bertarung untuk memperebutkan kekuasaan wilayah dengannya? Seharusnya mereka tahu bahwa ini adalah wilayah keluarganya, milik Kim Family.

"Aku meyakini jika kematian penduduk akhir-akhir ini adalah ulah kalian!"

"Tepat sekali." Hyunseung tertawa bersama istrinya, menatap anak-anaknya dengan bangga. "Anak-anakku juga butuh makanan bukan?"

"Tapi bukan begitu caranya!" Emosi Suho memuncak seketika, terjawab sudah dalang dari kematian mendadak para penduduk disini. "Kau hanya akan membuka penyamaran jika berburu dengan cara kotor!" Tegasnya.

"Aku tidak peduli!" Hyunseung berteriak dengan menantang. "Kami akan menguasai wilayah ini dan setelahnya menghabisi calon menantumu itu haha!"

Suho yang dilanda emosi segera berubah, keluarganya telah ditantang dan dengan senang hati dia akan melayaninya, bertarung untuk memperebutkan wilayah kekuasaan mereka.

"Brengsek kalian!" Sehun menyerang terlebih dahulu, lelaki itu bergerak secepat kilat dan mengibaskan tangannya ke arah Hyunseung, namun E'Dawn menahannya, lelaki yang sama pucatnya dengan Sehun itu menyeringai.

"Kau memiliki kekuatan itu juga ya? Oke, aku akan melawanmu."

"Cih, kau akan mati bedebah!" Kedua lelaki itu kemudian bertarung dengan sengit, sama-sama memiliki kemampuan mengendalikan udara membuat keduanya tidak terkalahkan.

"Eoni, serahkan yang berambut silver padaku. Kau urus yang berambut merah itu." Luhan mengangguk, dia lantas menghadang Sorn.

"Kemana kau akan pergi huh? Berlari seperti pengecut?"

"Berlari? Cih, kusarankan kaulah yang seharusnya lari! Karna kau tidak akan selamat dariku!" Sorn memainkan jemarinya yang ditumbuhi kukuk panjang berwarna biru dengan sengatan listrik kecil disana. Luhan terkejut, sial! Gadis ini memiliki kekuatan mengendalikan listrik. Telekinesis dan listrik sepertinya bukan perpaduan yang bagus, tapi Luhan tidak takut, dia akan menghadapi orang berambut norak ini.

"Majulah kau rambut cabai!"

"YA! Siapa yang kau bilang rambut cabai hah?"

"Tentu saja kau!" Ejek Luhan menjulurkan lidah. "Kau tahu, warna rambutmu itu norak sekali! Sangat jelek!"

"SIALAN!" Sorn mengibaskan lengannya, melempar sengatan listrik pada Luhan yang dengan lihai menghindar.

"Kemarilah dan kau akan mati di tanganku!"

Chanyeol mendesis kesal, menemukan kedua orang tuanya sudah bertarung dengan Hyunseung dan Hyuna. Dia menatap Wooseok yang memasang senyum tampannya.

"Well, dia bagianku." Lelaki itu kemudian menatap adik perempuannya. "Wonu, jaga dirimu baik-baik, si rambut silver itu terlihat berbahaya." Chanyeol berpesan pada adik perempuannya sebelum melesat melawan Wooseok, sempat diliriknya Kai yang juga balas menatapnya lalu mengangguk, seolah mengatakan 'kami akan mengurus disini dan bawa Kyungsoo pergi dari sini'.

"Wah, wah. Keluargamu dan keluargaku sudah pendapat pasangan bertarung, hanya tersisa kita berdua. Haruskan kita bertarung juga?" Wonu memasang wajah datar begiu Elkie berdiri didepannya dengan begitu santai, memainkan jemari dengan cat kuku merah itu sambil tersenyum main-main.

"Jangan membuang waktu! Lebih baik kita segera bertarung!"

"Semangat sekali!" Elkie terkekeh manis, namun tatapan mata merah menyalanya nampak mengancam. "Kau sudah tidak sabar bertarung ya? Baiklah, bersiaplah untuk kalah dan mati!"

Wonu memutar bola mata muak, dengan cepat dia lantas menyerang Elkie yang masih berdiri santai. Pukulannya dihindari dengan baik, dalam hati bungsu Kim Family itu membenarkan jika gadis ini sangat berbahaya, Wonu bahkan bisa merasakan aroma kekuatannya.

Sementara dua keluarga itu bertarung, tersisa Hui yang masih berdiri dengan pandangan lekat kearah Kyungsoo yang ketakutan dalam dekapan Kai.

"Berhenti menatap kekasihku atau aku akan mengeluarkan bola matamu dari kelopaknya!" Hui membawa pandangannya pada Kai setelah sebelumnya hanya terokus pada wajah ketakutan Kyungsoo.

"Oh, kekasihmu?" Jawabnya santai. "Manis, polos dan.. menggiurkan!"

"Katakan sekali lagi dan aku akan merobek mulutmu itu!"

"Kenapa?" Untuk pertama kalinya setelah hanya memasang wajah dingin, Hui menyeringai dan itu sangat mengerikan, membuat Kyungsoo ketakutan, sama persis seperti di pesta itu.

"Aku pernah bertemu manusiamu itu sekali di pesta, aromanya manis, membuatku merasa haus, dan kebetulan menemukannya disini, bukankah ini takdir? Aku menginginkannya!"

"Menginginkannya huh?" Kai lantas berubah menjadi seorang vampire, taring tajam serta bola mata merahnya itu menatap Hui lekat penuh ancaman.

"Tentu aku tidak akan melepaskannya brengsek!"

"Well," Hui bersiap menyerang. " Jika begitu aku yang akan mengambilnya paksa. Karna kau tahu, jika aku menginginkan sesuatu, maka aku akan mendapatkannya!"

"Persetan! Majulah brengsek!"

Kedua vampire itu lantas bertarung dengan begitu sengit. Kai membangun pertahanan karna dia bertarung sekaligus melindungi Kyungsoo sementara Hui terus menyerang berusaha merusak pertahannya. Seperti yang diketahui, Kai dan Hui adalah anggota terkuat di keluarga mereka, pertarungan ini terlihat menarik karna dua ace sedang menyerang satu sama lain. Hui memiliki kekuatan untuk mengendalikan suara, dia bisa menciptakan gelombang suara yang keras dan meretakkan tanah.

Untuk saat ini Kai tidak memiliki pilihan selain membawa Kyungsoo lari, jadi saat dia berhasil membanting Hui ke tanah, dia meraih Kyungsoo keatas punggungnya dan berteleportasi memasuki hutan, priorotasnya adalah keselamatan Kyungsoo.

"Sial!" Hui mengusap rahangnya, lantas berlari secepat kilat memasuki hutan menyusul Kai dan Kyungsoo.

.

.

.

"Ahk!" Wonu mengerang kesakitan, menjatuhkan lututnya ke tanah sambil menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya mendadak berhenti berdetak dan seperti tengah diremas kuat oleh sebuah tangan. Sementara Elkie didepannya tersenyum senang, tatapan matanya seperti bocah yang baru saja menemukan mainan barunya. Gadis itu memainkan kepalan tangan kanannya main-main, membuat erangan Wonu semakin terdengar keras.

"Wonu!" Itu suara Sehun, pria itu berniat membantu adiknya, namun E'Dawn tidak membiarkannya pergi begitu saja. Tubuhnya terlempar menghantam pohon hingga patah. Sehun mendesis, dia bangkit dan harus mengatasi pria ini sebelum membantu adiknya.

"Si–sial!" Wonu terjatuh ke tanah, semakin mengerang kesakitan karna Elkie yang mengambil alih kerja tubuhnya menguatkan kepalan tangannya. Itu sangat menyakitkan dan Wonu rasanya hampir mati. Sial, kemampuan perempuan ini tidak main-main.

"Wah, sudah kalah ya? Sayang sekali, padahal aku belum puas bermain." Elkie memasang tampang pura-pura kesalnya, namun begitu tangannya bermain-main menyakiti Wonu. Untuk sekarang tidak ada yang bisa gadis emo itu lakukan selain mencoba menahan rasa sakitnya, tidak ada yang bisa menolong dirinya selain dirinya sendiri atau seseorang yang datang menolongnya.

"Sudah kubilang bukan, kau akan kalah?" Si gadis silver menatap kasihan pada Wonu yang tersiksa dibawahnya.

"Mengalahkanmu ternyata mudah, membosankan!"

"Si..sial –ahk!"

"Oh, itu kalimat terakhiru? Baiklah." Elkie menguatkan genggaman tangannya, membuat jeritan Wonu terdengar semakin nyaring, saat ini keluarganya tidak bisa menolongnya. Keluarga Lee itu seperti sengaja menahannya untuk melihat Wonu menderita.

"Bangsat!" Chanyeol mendesis melihat adiknya yang tersiksa, dia lantas semakin menggencarkan serangannya pada Wooseok.

"Baiklah bungsu Kim Family! Selamat ting–"

Bruak!

Tubuh Elkie terlempar dengan tiba-tiba saat seekor werewolf besar berbulu hitam lebat mendorong tubuhnya, genggamannya terlepas dan itu menyelamatkan Wonu, gadis itu langsung terbatuk menghirup udara sebanyak-banyaknya.

"Sial! Werewolf ya?" Elkie mendesis, serigala besar itu tidak hanya satu. Tapi ada lima lagi yang keluar dari dalam hutan dan mulai menyerang keluarganya.

Wonu mendudukkan dirinya, menatap antara lega dan tidak percaya pada werewolf yang kini mulai menyerang keluarga Lee termasuk Elkie. Bagaimana bisa bangsa itu ada disini? Dan apa yang mereka lakukan dengan membantu keluarganya? Siapakah mereka?

"Grrrr!" Werewolf yang barusan menyelamatkannya itu masih ada disekitarnya, nampak menggeram menatap kearahnya. Wonu menatap tepat pada mata itu dan terdiam seperti mengenali tatapan itu.

Mata coklat yang bening,

"Siapa kau?"

Mata yang sama seperti milik seseorang.

.

.

.

Kai memasuki hutan semakin dalam dengan Kyungsoo dalam gendongannya, dia terus melesat, menghindari Hui yang mengejar. Tapi sebuah suara melengking membuatnya terjembab dengan memalukan, karna Kai sebelumnya tidak akan pernah mudah untuk dijatuhkan. Lelaki itu memutar badannya menjadi memeluk Kyungsoo, mendekapnya erat membiarkan tubuhnya terseret ditanah sebelum menghantam pohon hingga retak.

"Sial!" Lelaki itu mendesis, menatap Kyungsoo dalam dekapannya. "Sayang, kau baik-baik saja?" Kyungsoo terlihat takut, matanya membulat lebar karna mengalami shock. Kai berdiri cepat, berjaga-jaga saat Hui sudah berada didepannya tengah menyeringai, ya suara lengkingan tadi adalah miliknya.

"Jalan buntu huh?" Ejeknya. Kai tentu saja tidak akan mudah dikalahkan begitu saja, dia lebih dari sanggup untuk bertarung, namun dia juga harus melindungi Kyungsoo, itu sedikit memecah konsentrasinya.

"Kau fikir aku sudah kalah? Cih." Kai membawa Kyungsoo mundur, memintanya bersembunyi dibalik pohon besar.

"Tunggu disini sampai aku kembali, hm?"

"Ta–tapi, bagaimana denganmu?" Kyungsoo menatapnya dengan cemas serta tangisan tertahan.

"Aku? Kau jangan khawatir, aku baik-baik saja." Kai menangkup wajah Kyungsoo sejenak dan memberikannya kecupan di dahi sebelum menghilang dan melancarkan serangan langsung pada Hui. Dia sudah merasa jengah, vampire Lee itu harus diselesaikan disini juga.

Kedua lelaki itu masih saling menyerang, sama-sama kuat dan tangguh hingga keadaan hutan menjadi hancur. Tanah retak dengan pepohonan yang tumbang dimana-mana.

"Sial!" Disebuah kesempatan, Hui membanting tubuh Kai dengan begitu kuat sebelum menendangnya hingga melayang memasuki hutan.

"KAI!" Kyungsoo berteriak di balik persembunyiannya, menatap pada Hui yang menuju kearahnya dengan begitu cepat.

"Lepaskan aku!" Jeritnya saat lelaki itu meraih lengannya dan mencengkramnya dengan begitu kuat, Kyungsoo memberontak sekuat tenaga meski itu percuma. Hui menggendongnya dan berniat membawanya pergi sebelum sebuah serangan membuat keduanya terpental. Kyungsoo terguling beberapa kali sebelum tubuhnya menghantam batang pohon dan gadis itu pingsan seketika.

"Grrr!" Geraman tertahan itu muncul dari seseorang yang baru saja menyerang, tidak tidak, itu bukan Kai karna lelaki itu baru saja datang dan langsung berlari menghampiri kekasihnya.

"KYUNGSOO!" Kai memangku kepala gadis itu, mendesis dengan marah pada Hui yang sedang menyeringai.

"Jadi kau bersekutu dengan werewolf huh?"

Serigala besar berbulu putih salju itu mengeluarkan suara geraman tertahan, mata coklat tajamnya menatap pada Kai sebelum focus kembali pada Hui, binatang itu bersiaga, bersiap melakukan perlawanan.

'Bawa Kyungsoo pergi dari sini'

Kiranya seperti itulah arti tatapan serigala tersebut. Kai menggendong tubuh Kyungsoo, menatap dengan dahi berkerut pada werewolf yang sudah menyerang Hui dengan brutal. Kai tidak punya pilihan, dia segera membawa Kyungsoo pergi dari sana, menyerahkan Hui pada werewolf yang entah bagaimana bisa datang menolongnya.

Namun Kai tahu, siapakah werewolf itu sebenarnya.

.

.

.

"Lukanya cukup parah." Hyuna memeriksa lengan Elkie yang tergores membentuk carakan itu kemudian tersenyum. "tapi ini akan membaik." Lanjutnya.

"Sial!" E'Dawan mengumpat, menemukan luka sayatan yang cukup lebar di perutnya. Hyuna mendekati putra keduanya.

"Itu juga akan membaik,"

"Aku tahu bu, yang aku sesali adalah aku belum bisa menghabisi putra Kim itu."

"Saat ini mungkin belum," Hyunseung, kepala keluarga Lee itu tersenyum kecil. Dia bangkit dari duduknya dan menatap putra-putrinya yang tengah menyembuhkan diri dari luka pasca pertarungan tadi.

Yah, pertarungan menjadi tidak seimbang karna bangsa werewolf yang entah bagaimana bisa membantu keluarga Kim, keluarga Lee terdesak dan terpaksa mundur untuk menghindari luka-luka yang lebih parah lagi. Tapi, bukan berarti mereka sudah kalah.

"Mungkin jika para werewolf itu tidak datang membantu, kita pasti berhasil menghabisi mereka."

"Menurut Ayah kenapa mereka membantu keluarga Lee? Apa mereka sekutu?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Elkie yang mengerucut. "andai mereka tidak datang, aku sudah menghancurkan jantung si bungu Kim itu."

"Aku tidak tahu pasti Elkie, yang jelas musuh kita betambah satu, menarik."

"Ya, sepertinya melawan bangsa werewolf tidak buruk." Kali ini Sorn yang berkomentar.

"Kita harus memiliki rencana." Hyunseung kembali bersuara. "dan setelahnya menghancurkan keluarga Kim dan membalas dendam pada bangsa werewolf yang sudah membantunya."

"Itu artinya kita harus menambah pasukan kan?"

"Well," Wooseok bangkit kemudian menyeringai. "itu adalah tugasku, aku akan dengan senang hati meracuni orang-orang disini."

Dan disana, hanya Hui seorang yang terdiam di tempatnya. Lelaki itu mendengarkan apa yang keluarganya bicarakan, namun dia tidak tertarik. Dia tidak tertarik pada ambisi Ayahnya yang ingin menguasai wilayah ini atau membalas dendam pada bangsa werewolf, yang dia fikirkan hanya satu.

Kyungsoo.

Gadis di pesta tempo lalu, gadis milik keluarga Kim yang dia ambisikan untuk dia miliki.

.

.

.

Baekhyun menatap rumah didepannya dengan perasaan ragu, sekali lagi ditatapnya alamat yang tertera di ponselnya sebelum mengangguk, meyakinkan diri sendiri bahwa ini benar-benar rumah Kim Familly. Dia lantas melangkah masuk mendekati pintu yang tertutup rapat dan mengetuknya perlahan.

Tok! Tok! Tok!

Namun setelah menunggu tidak ada sahutan apapun dari dalam, apa tidak ada orang dirumah? Baekhyun mencoba sekali lagi, mengetuk pintu dan menunggu.

"Permisi!" Dia akhirnya berseru, merasa tidak sabaran. Hari sudah beranjak sore dan dia merasa khawatir.

"Permisi!" Baekhyun mendengus sebal karna tak kunjung mendapat respon, gadis imut itupun kembali mengetuk pintu, kali ini dengan lebih keras.

"Permi–"

Klek!

Pintu terbuka dengan cepat dan tangannya yang siap mengetuk pintu menggantung di udara saat matanya bertatapan langsung dengan orang yang membuka pintu.

"Chan–"

"Apa yang kau lakukan disini?" Suara datar itu menyadarkan Baekhyun dari keterkejutannya, tentu saja dia kaget saat menemukan Chanyeol datang membuka pintu dengan wajah yang bisa dibilang tidak baik, errrr, dia memiliki beberapa luka.

"Apa yang kau lakukan disini Byun Baekhyun?" Lelaki jangkung itu membuka lebar pintu, berdiri dengan menjulang didepan Baekhyun yang masih terpaku menatapnya, ada apa dengan gadis kecil ini dan apa yang dilakukannya disini? Batin Chanyeol.

"Baekhyun!"

"Um! Ka–kau baik-baik saja?" Baekhyun berkata dengan terbata. "a–ada luka di wajahmu yang–"

"Apa yang kau lakukan disini?" Chanyeol kembali melontarkan pertanyaan yang sama, dia tidak suka berbasa-basi seperti ini, dia baru selesai bertarung dan dia butuh istirahat.

"Jika tidak ada yang penting, cepat pergi!" Chanyeol hendak menutup pintu dan Baekhyun yang baru menyadari tujuan awalnya mengetuk pintu itu segera berteriak menahan si jangkung.

"Tunggu! Apa Kyungsoo disini?" Chanyeol membalikkan tubuhnya, menatap Baekhyun tajam.

"Apa urusanmu mencari Kyungsoo?"

"Karna aku menghawatirkannya!" Baekhyun memutar matanya. "Dia mengatakan pada orang tuanya bahwa dia pergi kerumahku sementara pada nyatanya dia pergi bersama Kai. Dimana dia? Aku butuh bertemu dengannya dan membawanya pulang agar orang tuanya tidak cemas!"

"Dia tidak disini." Chanyeol akan menutup pintu dan kembali di tahan.

"Apa? Bagaimana bisa? Dia bersama Kai kan?"

"Dia bersama Kai. Tapi tidak disini."

"Lalu dimana mereka?"

Chanyeol mendengus, "tidak tahu." Balasnya.

"Sekarang pergilah!"

Chanyeol menutup pintu, namun dia tidak beranjak, mendengarkan Baekhyun yang masih mengetuk pintu dengan gerutuan kecil.

"YA! Apa kau benar-benar tiak tahu dimana mereka? Hei, Kyungsoo harus segera pulang karna orang tuanya akan cemas, ya!"

Chanyeol masih diam disana, mendengarkan omelan keputusasaan Baekhyun dan mendengarkan dengan jelas bahwa gadis itu masuk kedalam mobilnya dan berkendara pulang.

"Sial! Dimana aku harus mencari Kyungsoo?"

Baekhyun mengomel sambil menyetir mobilnya, melempar ponselnya ke kursi samping saat dia masih menemukan ponsel Kyungsoo tidak aktif. Uh, apa yang harus dia katakan apa orang tua Kyungsoo? Lagipula kenapa Kyungsoo tidak jujur saja pada orang tuanya jika dia akan pergi bersama Kai? Kenapa harus berbohong jika dia pergi bersamanya? Uh, sekarang Baekhyun sendiri yang susah. Gadis imut itu terus merengut, berkendara di sore hari melewati hutan yang sepi. ini cukup menakutkan sebenarnya, namun Baekhyun meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja sebelum–

Brak!

Seseorang jatuh tepat diatas mobilnya hingga Baekhyun menginjak rem dengan keras, tubuhnya terpental maju membentur stir yang melukai dahinya.

Grrr!

Baekhyun mengangkat kepalanya, membulatkan mata menemukan seorang lelaki dengan taring dan sepasang mata merahnya itu merayap di kaca depan mobilnya dengan seringaian, seolah bersiap untuk menghancurkan kaca itu untuk meraih dirinya.

"AAAAA!" Baekhyun berteriak keras, suara benturan keras terdengar bersamaan dengan pecahan kaca yang beterbangan.

Well, vampire itu adalah Wooseok, yang tengah mencari mangsa untuk dia jadikan vampire sebagai pasukan keluarganya.

.

.

.

Kyungsoo terbangun dengan kepala yang terasa sangat pening, dia mengerjap, menemukan dirinya terbaring di atas ranjang yang empuk. Langit-langit kamar terlihat berbeda dari kamarnya. Uh, ini dimana?

"Sayang kau sudah sadar?" Sebuah telapak tangan menyentuh pipinya, Kyungsoo tahu itu adalah tangan Kai dan–

Oh astaga!

Kyungsoo langsung terbangun dengan cepat saat dia mengingat apa yang terjadi sebenarnya. Keluarga Kim, pertarungan dan serigala besar.

"Kai, aku takut hiks."

Ketakutan itu menguasai dirinya, membuatnya langsung menangis. Kai memeluknya dengan cepat, mencoba menenangkan kekasihnya.

"Tidak sayang, kau bersamaku, kau akan aman aku janji."

"Tapi, va–vampire itu."

"Ssst, tenanglah."

Kai semakin mengeratkan pelukannya, membisikkan kata-kata manis di telinga Kyungsoo agar gadis dalam dekapannya itu menjadi tenang. Cukup lama dia meredakan tangisan Kyungsoo sampai gadis itu akhirnya kembali tertidur. Kai menatap wajah Kyungsoo yang terlelap dan menghela nafas, menunduk memberikannya sebuah kecupan manis di dahi.

Diluar sana senja menggantung, malam akan tiba sebentar lagi.

"Kau akan aman sayang," Bisiknya. Tentu saja, dia akan melindungi Kyungsoo dari Hui. Namun bagaimana caranya? Untuk saat ini, menyembunyikan Kyungsoo adalah sebuah pilihan yang bijak.


.

.

.

Tbc.

.

.

.

.

Hehe, gimana? Makin ngga jelas or gimana? Tapi, semoga suka^^

Ps. Tidak bisa update cepat karna masih riweh sama tugas kuliah T.T

See you next chapter and next fanfict~

Love.