LIVING HELL SERIES by HoMin EL
.
ChanKai
.
Storty 11 : we will meet in paris
.
WARN: TYPO BEJIBUN!
(sory saya memang nyerah banget sama yang satu ini. Jadi kalau ada yang review keberatan masalah Typo maaf banget,karena saya gak bisa berbuat banyak. Mian)
Enjoy
3 tahun kemudian...
1 juli Paris, Perancis
Park Yura gadis cantik semampai itu keluar dari sebuah supermaket dengan membawa sekantung belanjaan. Terlihat ada roti yang mencuat dari kantungnya. Ia berjalan menyisiri kota Paris yang sangat cerah di pagi musim panas kini. Ia sudah hampir dua tahun menetap disini. Masih teringat jelas suara adiknya 3 tahun yang lalu, saat memberitahunya bahwa identitas mereka sudah di ketahui oleh para Aliran Hitam.
Chanyeol... apa kau baik-baik saja?
Pertanyaan itu selalu menyelimuti pikirannya selama 3 tahun ini. Namun apa daya, ia hanya bisa berharap dan berdoa akan keselamatan adiknya yang selalu membuatnya khawatir tersebut.
Ckit!
Yura kaget bukan main ketika sebuah mobil tiba-tiba berhenti di depannya. Yura sudah akan memaki orang tersebut dengan bahasa Perancisnya yang belum begitu sempurna. Namun matanya mulai melebar dan bibirnya bungkam seketika saat ia melihat sosok tinggi menjulang di hadapannya. Dia sadar dia dalam bahaya.
"Aku menemukanmu... Park Yura"
Suara Duizhang membuat sang lady melumpuh. Yura terjatuh di atas aspal yang kasar. Aura yang di berikan Duizhang memberika syok mental padanya. Rasanya Yura seperti melihat Mafia yang telah membantai keluarga besarnya dulu. Membunuh kedua orang tuanya.
"Ge kelihatanya dia benar-benar Park Yura, dia mirip sekali dengan adiknya" Ucap Tao dengan seringai kecil di bibirnya.
"Ren,Amber. Bawa dia" Perintah Duizhang pada anak buahnya.
"Baiklah...Bos muka dingin" dan begitulah suara anak buahnya yang terdengar sedikit tengil.
3 tahun Duizhang menghilang. Kini Duizhang telah mengepakan sayapnya kembali. Kini Duizhang telah lahir kembali dengan Tubuh yang lebih kuat. Anak buah baru dan kepercayaan baru.
Duizhang tidak menghilang tanpa sebuah alasan. Duizhang yang sekarang tak akan terkalahkan.
"Eoni kita tidak akan menyakitimu kalau kau mau menurut ne?" Ucap Amber, perempuan Tomboy yang kini berjongkok di depannya. Wanita itu terlihat manis tapy juga... manly?
"Noona Turuti saja, atau gadis gila ini akan membunuhmu disini" kini ucap suara berat milik laki-laki cantik di depannya. Laki-laki itu memiliki rambut panjang, dan juga wajah yang kelewatan cantik. Benar-benar kontras dengan gadis tomboy di depannya.
Chanyeol-ah... tolong!
Suara hatinya berteriak
.
.
.
JRAP
Chanyeol bangun dari tidurnya. Entah mengapa tiba-tiba ia seperti mendengar suara yura yang sedang berteriak. Chanyeol kini mulai panik dengan keadaan kakaknya.
"Kau baru bangun?" Suara yang sudah familiar di telinganya itu kini menanyainya.
"Nde" Jawabnya singkat. Laki-laki mungil itu memeberinya senyum kecil
"Tidurlah lagi, lagi pula ini masih terlalu pagi untukmu" Ucap pemuda mungil dengan mata yang besar tersebut.
"Hmm" dehamnya. Chanyeol mulai merebahkan tubuhnya lagi. Apa mungkin hanya perasaannya? Namun suara Yura terdengar nyata dalam mimpinya.
Chanyeol merasakan beban di belakangnya. Dan sebuah tangan menelusup di pinggangnya, lalu melingkari perutnya dengan erat. Chanyeol bisa merasakan nafas Kyungsoo di punggungnya.
Kyungsoo... Chanyeol sendiri juga tidak tahu kenapa ia dan Kyungsoo bisa menjadi seperti ini.
.
.
.
Flasback
3 tahun yang lalu
Markas militer divisi 8 Cheong-Gam
"Paman bisa aku meminta sesuatu?"
"Katakan apa maumu nak"
"Aku ingin Kau menjaga Jongin untuku, beri dia tempat disini"
"Hanya itu?"
"Tidak, aku juga mohon padamu untuk tidak mendidiknya sebagai tentara yang hanya peduli pada negara. Kalau kau mendidiknya sebagai tentara yang hanya peduli pada negara, bisa-bisa dia melupakan ku ahhahahah"
"Ah... apa kau sedang menyindir ku sekarang?"
"Tidak paman... tentu saja tidak. Tolong beri dia kasih sayang"
"Memangnya kau mau kemana?"
"Aku harus menyelesaikan masalahku terlebih dahulu. Aku tidak mau melibatkan Jongin untuk saat ini"
"Aku mengerti... Apa kau butuh yang lain?"
"Tidak paman... bisa bahaya kalau aku melibatkan militer dalam dunia gelap ini"
"Kau benar-benar seperti ayahmu"
"Bukankah aku anaknya?"
Kyungsoo mendengar percakapan Chanyeol dengan Jendral Lee. Tidak munafik. Dia memang sengaja menguping, pasalnya sudah sejak hari pertama pemuda itu datang, Kyungsoo sudah merasa terpikat dengan pemuda yang sudah memiliki kekasih tersebut. Dan mendengar hal ini, entah mengapa membuat Kyungsoo merasa senang. Akankah ini artinya ia punya kesempatan?.
.
.
.
1 bulan kemudian
Seoul
"Hello Chanyeol-ssi, masih mengingatku?" Kyungsoo menyapa Chanyeol yang sedang membeli senjata di pasar gelap. Yang terletak dekat stasuin bawah tanah Sin-Dae. "Kau- woahh! Dokter militer! Ermm... siapa namamu? Kyung.. kyung..." Chanyeol mencoba mengingat nama pemuda itu.
"Kyungsoo" Kyungsoo membantu dan Chanyeol menjentikan jemarinya tanda ia sudah ingat.
"Yah.. Kyungsoo-ssi bagaimana kabarmu? Dan- hei~kenapa kau berada di tempat seperti ini?" Chanyeol bertanya dan di akhiri dengan bisikan di akhir. Pasalnya janggal sekali melihat Seorang dokter bisa berkeliaran di black market seperti ini.
Aku membuntutimu, Kyungsoo tidak mungkin mengatakan hal yang sejujurnya.
"Banyak yang kau belum tahu tentang ku Chanyeol-ssi"
"Ahhh benar juga..."
"Chanyeol-ssi, mau minum kopi?"
"Tentu"
.
.
.
3 bulan kemudian
"Chanyeol kau pindah saja kerumahku, aku baru pindah rumah dan tempatnya terlalu longgar"
"Kau pasti bercanda"
"Sayangnya tidak"
.
.
.
5 bulan kemudian
"Kyungsso terima kasih atas semuanya selama ini, aku harus pindah, aku... kau tahu? Aku sudah harus mulai mengkoordinasi teman-temanku. Mungkin selama ini aku terlihat tenang. Namun tidak, Duizhang. Unicorn. Semua masih berkeliaran disana. Mereka mengincarku. Dan kurasa, aku tidak bisa melibatkan orang luar-"
"Apa aku masih menjadi orang luar bagimu?"
"Maksudku-"
"Kita teman bukan?"
"Iya, tapi-"
"Chanyeol biarkan aku ikut denganmu, Kau tahu kemampuanku. Aku dokter. Kau yakin tidak membutuhkan ku?"
Sepertinya Kyungsoo terlalu pintar.
"Nde... baiklah"
.
.
.
1 tahun kemudian
"Chanyeol... ermm...kau boleh menyentuhku kalau... kalau kau sedang rindu dengan Jongin. Ok jangan salah paham dulu, aku tahu ini gila dan terdengar seperti- Ahhh sudahlah! Aku hanya ingin membantumu, karena aku bosan selalu melihatmu masturbasi di kamar seperti itu."
"..."
"Chan-" "Tapi aku tidak akan pernah mencintai orang lain selain Kai" Perih...
"Tentu saja... aku tahu posisiku Yeol"
"Maaf Kyungsoo aku tetap tidak bisa" sakit...
"Kalau begitu setidaknya, biarkan aku tetap disisimu. Sepert ini."
Dan malam itu untuk pertama kalinya Chanyeol membiarkan Kyungsoo memeluknya.
End of flasback
.
.
.
Tidak masalah kau tidak mencintaiku, yang penting kau ada bersama ku saat ini. Bantin Kyungsoo berkata sambil mengeratkan pelukannya pada Chanyeol. Baginya saat ini, seperti ini sudah cukup. Bagi seorang Kyungsoo, Cinta adalah kemenangan semu. Kemenagan nyata adalah, ketika kau bisa dekat bersama orang yang kau cintai, menyentuhnya. Memeluknya. Seperti yang ia lakukan saat ini.
.
.
.
Baekhyun berdiri melihat lautan lampu di kota Paris lewat kamar hotelnya yang terletak di lantai 80. 3 tahun telah berlalu namun disini dia, dan masih hidup. Masih bernafas. Dan masih belum membunuh Duizhang. Hingga saat ini ia di Paris, entah... apa kini mereka akan berhasil atau tidak. Mereka... ya mereka, dia dan Mafia Aliran Putih Unicorn. Dan ia bisa melihat refleksi sang Ketua resmi Unicorn Family dari dinding kaca di depannya. Menghampirinya dengan menggunakan kursi rodanya. Masih mengenaskan seperti 3 tahun yang lalu.
"Apa kekasihku memikirkan sesuatu?" Tanya Yixing mesra. Cih kekasih decih Baekhyun dalam hatinya. Namun.. itulah kenyataanya. Baekhyun sudah menjadi Kekasih Yixing yang sekarang sudah resmi menjadi ketua Mafia Aliran Putih terbesar di Asia, setelah membunuh Ayahnya sendiri. Mengenaskan.
"Aku hanya memikirkan Duizhang" Jawabnya enteng. Mata Yixing menggelap.
"Apa hanya naga bodoh itu yang ada di kepalamu?" Suaranya terdengar jengkel
"Mau bagaimana lagi, aku hidup untuk membantai mereka" Jawab Baekhyun enteng.
"Lalu bagaiman dengan ku? Apa kau tak sedikitun ingin hidup untukku?" Yixing terdengar menuntut.
"Apa kau juga pernah berpikir ingin hidup untuk ku?" Baekhyun memegang pipi Yixing. Mengelusnya pelan.
"Bukankah aku membunuh Ayahku untukmu?" Jawab Yixing seperti sedang mengucapkan bahwa ia telah membunuh semut.
"Kau memang berencana membunuhnya dari dulu, jangan buat aku sebagai alasan" Baekhyun terlalu tahu banyak.
"Aigooo... susah juga punya kekasih yang banyak tahu" Yixing beseringai dan hanya di balas senyum sinis dari Baekhyun.
Keduanya Tahu. Hanya tinggal menunggu waktu hingga kedua harus saling membunuh. Cinta mereka sangat aneh. Karena cinta mereka muncul damalam situasi yang aneh dan tidak wajar. Lawan atau kawan. Seperti di batasi oleh dinding tipis yang rapuh dan mudah hancur. Tak ketara. Cinta atau benci hanya seperti angin yang mengambang di udara. Semuanya terlalu transparan sampai tak bisa terlihat.
.
.
.
"Kai~~ aku capek, Kai~~ ayo instirahat sebentar, Kai~~~ Ka- "
"Diamalah" Kai berucap dingin pada temanya yang lebih mirip kembarannya tersebut. Taemin merengek kepanasan dan kecapekan. Pasalnya mereka berdua sedari tadi memutari sebuah komplek perumahan demi menemukan sebuah alamat.
Kai tak menghiraukan temannya dan terus berjalan menyocokan alamat yang tertulis pada kertas di tangannya dengan deretan rumah elite yang ada di kompleks tersebut. Taemin menggerutu tak jelas. Namun sangat terlihat raut kesalnya pada sahabatnya satu itu. Kalau saja ada Chanyeol. ahh... pemuda itu. Pemuda keparat itu. Tak kunjung kembali juga. Bahkan setelah ia dan Kai keluar dari kemiliteran mereka.
Ia dan Kai sudah keluar 1,3 tahun yang lalu setelah menjalani wajib militer sekitar 2 tahun, dan mereka berdua mulai berkerja di sebuah kantor ditektif swasta. Kai dan Taemin yang kini berumur 24 tahun sedang melaksanakan pekerjaan mereka. Mereka bukan ditektif terkenal namun mereka tetap profesional, mereka jarang menangani kasus pembunuhan berantai ataupun teror bom dan sebagainya yang seringkali terlihat di TV. Kasus mereka selama ini selalu saja aneh dan terdengar sepele. Kadang mereka di minta untuk menguntit seorang suami yang sedang selingkuh. Kadang mereka disuruh mengungkap tentang pencurian celana dalam yang kerap terjadi di asrama wanita. Tak luput juga pencarian seekor kucing jenis zerbia milik nenek tua umur 80 tahun. Pekerjaan seperti itu selalu mereka lakoni dengan senang hati. Walau kadang Taemin terlihat mengeluh namun keduanya menyukai pekerjaan mereka.
Ayahnya, Jendral Lee mengijinkannya keluar dari markas dan tidak memaksanya ataupun Kai untuk menjadi tentara. Karena ayahnya telah berjanji pada Chanyeol untuk membuat Kai bahagia. Ia juga... ia telah berjanji untuk selalu menjaga Kai pada orang yang telah mengingkari janjinya tersebut. Chanyeol tak pernah kembali selama 3 tahun ini.
Taemin berjalan di belakang Pemuda Tan yang kini hanya berwajah datar tersebut. Wajahnya memang datar, datar sekali. Tidak ada ekspresi. Entah sejak Kapan Kai mulai menjadi seperti itu. Menutup hati. Dan bahkan lebih pendiam dari sebelumnya. Tidak berekspresi. Tidak bahagia. Tapi hanya Taemin yang tahu. Kai yang asli. Kai yang manis dan tertawa riang saat sedang menceritakan orang bodoh bernama Park Chanyeol. Ahhhhhh rasanya rindu sekali pada sosok tersebut. Bagaimana keadaan Chanyeol saat ini? Batinya bertanya, Apa pemuda yang di cintai sahabatnya itu baik-baik saja? Kekhawatiranya tentu bukan apa-apa jika di bandingkan dengan Kai. Tak jarang Taemin melihat Kai menangis dalam diam di kamarnya. Sesekali memanggil nama Chanyeol. Dan Taemin tidak bisa melakukan apapun selain melemparkan lelucon dan candaan di pagi harinya. Meskipun tak pernah di gubris oleh sang sahabat, namun setidaknya bisa membuat Kai melupakan kesedihannya walau hanya sejenak. Karena... membuat Kai bahagia adalah mustahil baginya. Mustahil bagi semua orang. Karena Kebahagiaan Kai... hanya seorang Park Chanyeol.
"Oi, kai! sudah kubilang kita pakai mobil saja kan? Jalan kaki begini kau kira tidak pegal" Taemin mengeluh lagi.
"Bisakah kau tutup mulutmu? terakhir kali kita membawa mobil kau hampir menenggelamkanku ke sungai Han" Balas Kai tetap fokus pada pekerjaannya.
"Yah! Tentu itu berbeda! Salahkan kucing nenek tua itu yang sungguh menyebalkan. Lagipula itu termasuk kecelakaan. Aku tidak bermaksud- Yah! Aku belum selesai bicara oi! Aishhh sialan dasar hitam!" umpatnya saat Kai tiba-tiba meninggalkannya dan melenggang pergi kearah sebuah rumah elit dengan pagar berwarna putih tulang di hadapan mereka.
"Oh, Kau sudah menemukannya " Taemin bertanya. Yang hanya di hadiahi tatapan kosong oleh Kai.
"Lebih baik,nanti saat di dalam kau tutup mulutmu. Atau aku akan menendang bokongmu dan melemparmu kesungai han" ancam Kai, dengan suara dingin dan tampangnya yang flat membuat Taemin tertawa geli. Sahabatnya itu lucu sekali. Ucapannya dengan wajahnya sangat tidak singkron. Kalau mau marah, marah saja kenapa sih.
"Kai?" Belum sempat Kai memencet tombol intercom yang tertempel di dinding pagar. Tiba tiba suara asing memanggilnya dari belakang.
"Sehun?" suaranya terdengar kaget. Namun raut wajahnya jauh dari kata kaget. Walau matanya sempat melebar sebentar.
"Lu-Luhan?!" Kini kai makin Tercengang saat melihat pemuda lain yang baru keluar dari mobil sport mereka.
"Apa yang kau lakukan disini?" Keduanya bertanya. Membuat Taemin mengkerut. Sepertinya Taemin berada di tengah-tengah reuni dua orang sahabat.
"Sebaiknya kita masuk dulu" Dan Luhan masih semisterius seperti terakhir kali Kai bertemu dengannya. Mungkinkah Luhan mengetahui keberadaan Chanyeol...?
.
.
.
Kris memandang langit paris yang kelam. Bintang bahkan tak terlihat karena tenggelam dalam kekelaman awan yang jahat. Hatinya... itu seperti hatinya. Ia sudah tak bisa melihat cahaya dalam hatinya. Semua sudah kelam dikubur oleh awan jahat dalam hatinya. Terlahirkan di keluarga Mafia. Dibesarkan dengan doktrin – doktrin tentang Aliran Putih dan Netral yang Harus di habisi, sehingga bisa mengusai dunia hitam. Ayah yang membunuh ibunya sendiri. Kecewa dengan kenyataan bahwa ibunya telah selingkuh dengan seorang dari Aliran nertal. Kecewa karena ia selama ini telah membenci Ayahnya dan tak bisa berkata maaf. Hingga ayah dan semua keluarga besarnya di bantai oleh Aliran Netral yang mana adalah tangan kanannya sendiri (Xi Luhan).
Disaat ia baru menemukan sebuah cahaya dalam hidupnya. Cahaya itu pun di rampas oleh Aliran Netral. Jongin sudah di rampas. Hatinya mulai Kelam lagi. Hitam membeku. Hatinya tak pernah ada cahaya lagi. Hatinya mati. Bunuh. Bunuh Aliran Netral. Bunuh Park Chanyeol. Bunuh Park Chanyeol. Hanya itu yang ada di pikiranya selama 3 tahun ini.
Drrrt... Drtt...
Kris mengangkat Hpnya
"Bagaimana?"
"Aku ada di paris sekarang, aku harus tetap mengikutimu agar tidak mencurigakan"
"Apa kau sudah membereskan semuanya?"
"Ahhh Bos, Jangan menganggap aku begitu hebat. Kau tahu aku tak sehebat itu untuk menghabisi semua Unicorn"
"Baekhyun... ini sudah 3 tahun"
"Ne... Ne... aku tahu, setidaknya Zhang Xihue ketua Unicorn Family sudah mati. Dan juga hampir setengah dari member Unicorn Family juga sudah habis. Zhang Yixing putranya yang lumpuh ini, tidak akan bisa melakukan apa-apa tanpa anak buahnya"
"Kalau dia begitu lemah, kenapa kau tidak langsung menghabisinya?"
"Aku bisa menggunakanya untuk menghabisi Aliran putih yang lain. Mengingat Unicorn family bukanlah satu-satunya Aliran puti yang ada"
"Aku Percayakan semuanya Padamu. Tapi kau tahu Baekhyun? Jangan mengulur waktu. Atau kau tidak akan bisa membunuhnya. Selamanaya"
"Katakan itu pada dirimu sendiri bos. Apa yang kau tunggu dengan park Chanyeol? jangan mengulur waktu. Atau kau tidak akan bisa membunuhnya. Selamanya"
"Tutup mulutmu. Segera selesaikan tugasmu. Karena aku sudah mulai muak"
"Oke. Titipkan salam ku pada Tao dan 2 harem baru mu"
Pip
Suara itu mengakhiri sambungannya dengan Baekhyun. Baekhyun tangan Kanannya yang sudah menyusup ke dalam tubuh Unicorn family dan mulai menghancurkan organ dalam mereka perlahan namun pasti. Tinggal menunggu waktu. Namun tak bisa disangkal ia pun mengulur waktu. Terlalu banyak mengulur waktu. Namun ia bukan orang bodoh. Karena yang di hadapainya adalah park Chanyeol. Kris Yakin bahwa Chanyeol sudah tidak sendiri. Chanyeol mulai mengumpulkan orang-orang tertentu dan mulai membentuk organisasi baru. Tentu bukan pilihan tepat untuk mencari Park Chanyeol dan langsung menghabisinya. Itu sama saja dengan bunuh diri.
Namun tidak untuk sekarang. Usahanya selama tiga tahun mencari Park Yura pun tidak sia-sia. Kris Sudah memegang satu kelemahan Chanyeol selain Jongin. dan sebentar lagi... Chanyeol akan mati.
"Tao, Kirim video kakaknya pada si keparat itu" Perintah Kris. Dan Tao mulai mengirimkan video Yura yang disekap. Lalu mengirimkannya ke alamat email Chanyeol.
.
.
.
Disini mereka duduk di sebuah meja bundar di dekat taman. Well siapa sangka jika sahabatnya Sehun bisa mendadak Kaya seperti ini. Dan Kai juga tidak menyangka bahwa Sehun, sahabat karibnya mempunyai hubungan dengan Mafia seperli Luhan. Sehun menatap Jongin yang kini tak menampilkan senyum sama sekali, padahal seharusnya kai senang. Mereka sudah tidak bertemu selama 5 tahun. Taemin yang sedari tadi memakan cemilan di toples yang telah disuguhkan memilih untuk diam. Ia benar-benar merasa seperti tersansingkan.
"Kau banyak berubah" Kai memulai pembicaraan. Suaranya datar. Membuat Sehun merengut. Apa benar ini Kai? Kenapa sikapnya berubah drastis seperti ini. Sehun merasa janggal sekali.
"Bukankah seharusnya aku yang tanya begitu? Kenapa kau menjadi seperti ini sih?" Sehun masih memasang muka masam. Kesal mendapati sosok temanya yang sudah lama hilang telah kembali, namun sekali kembali sosok temannya itu telah hilang dan di ganti dengan pemuda dingin tanpa ekspresi yang kini ada di depannya.
"Banyak yang terjadi hun" Selalu seperti ini.
"Terus saja merahasiakan sesuatu. Mau sampai kapan kau seperti ini?" Sehun meninggikan suaranya, ia terlihat marah.
"Aku terjebak dalam dunia Mafia hun, makanya aku tidak pernah mau menceritakanya padamu. Aku tidak mau melibatkanmu. Aku tidak pernah mau menyakitimu" Jawaban Kai membuat Sehun terdiam. Setidaknya Sehun bisa melihat sepercik emosi di mata Kai. Kai tidak pernah berbohong padanya.
"Luhan-ssi kenapa kau bersama Sehun? apa yang terjadi selama ini? Terakhir kudengar kau sudah tidak ada. Dan sekarang kau disini. Bersama Sehun? apa hubungan kalian? Dan- sigh... apa kau tahu Chanyeol dimana?" Jongin akhirnya bertanya pada inti pikiranya. Sedari tadi dipikirannya hanya penuh dengan pertanyaan itu. Chanyeol, Chanyeol, dan Chanyeol.
"Aku tahu kau sangat khawatir padanya. Dan Chanyeol baik-baik saja, terakhir kali aku bertemu dengannya, dia terlihat sangat baik-baik saja" Luhan menjelaskan. Nada bicara Luhan sedikit berbeda tidak seperti 3 tahun yang lalu, saat Luhan masih menyamar sebagai kaki tangan Kris. Dan mengingat akan hal itu. Kai baru sadar, bahwa sekarang laki-laki kecil dan manis ini tak lebih dari seorang mosnter yang telah membantai Duizhang.
"Dimana dia?" desis Kai suara seperti ingin menangis.
"Aku kan mulai dari awal dulu. Karena sekarang ini kondisinya sangat gawat. Makanya aku sengaja menhubungi kantormu supaya kau datang kemari" Jelas Luhan membuat 3 orang lainya menatap pemuda yang paling tua tersebut.
"Dengar baik-baik ok? Aku tidak akan mengulanginya" 3 yang lainya mengangguk kompak.
"Aku dan Sehun adalah sepupu. Ayah Sehun adalah Mafia Aliran Netral juga. Namun beliau sudah meninggal di saat pembantaian dulu. Ayah Sehun adalah Adik ayahku. Sekarang sudah terjawab apa hubunganku dengan Sehun kan?. Kedua, Kris pergi menghilang 3 tahun yang lalu. Entah menghilang kemana bahkan markasnya di cina juga sudah tak berbekas. Dan beberapa hari yang lalu aku mendengar kabar bahwa Park Yura Kakak Chanyeol telah di tangkap oleh Kris."
"Kau pasti bercanda" Kai terlihat khawatir kini. Meski tidak begitu ketara.
"Aku tidak bercanda. Baekhyun sudah ada di Paris bersama Lay"
"Baekhyun? Tangan kanan Kris? dengan Lay pengkhianat itu?! Lelucon macam apa ini" Kai semakin pusing dengan apa yang di ucapkan Luhan, namun ia menunggu untuk penjelasan yang lebih lengkap.
"Baekhyun sedang menyusup ke tubuh Unicorn. Dia yang menolongku dari kematian. Baekhyun adalah asli keturunan Mafia Aliran Netral, walau ia lahir dari rahim ibu Kris. Baekhyun tidak memiliki darah Duizhang sama sekali. Jadi sekarang ini. Posisi Baekhyun memihak pada Aliran Netral. Apa sekarang kau sudah paham?"
"Lalu dimana Chanyeol?" rasanya ingin berteriak saat menanyakan pertanyaan itu.
"Chanyeol membentuk organisasi baru bernama Izuna, selama ini target Izuna adalah Duizhang dan Unicorn. Tapi Duizhang selalu berpindah-pindah dan unicorn selalu mengikutinya, sedangkan Izuna ada di belakang keduanya. Selama 3 tahun ini mereka hanya saling kejar-kejaran tanpa ada yang kalah ataupun yang menang. Sedangkan 3 orang itu saling ingin membunuh. Kris yang telah menyakitimu. Dan juga Lay yang telah membunuh sahabatnya. Begitulah kobaran api di dada Chanyeol yang selalu membakarnya. Begitu juga dengan aku. Aku ingin membalaskan dendam Xiumin pada Yixing. Rasanya mendidih sampai sekarang. Dan Kris, Kris begitu dendam pada semua Aliran Netral. Terutama pada Chanyeol. Namun kita semua tahu, belum ada waktu yang tepat untuk bertemu. Dan hari ini. Chanyeol mungkin akan berangkat ke paris sendirian. Mengingat Kris mempuyai kartu AS di tanganya yaitu Yura. Chanyeol tidak akan berani membawa anak buahnya. Hari ini kalau Chanyeol pergi tanpa bantuan dari anggota, maka hari ini mungkin sama saja dengan hari kematian Chanyeol."
Tubuh Jongin menegang seketika mendengar ucapan Luhan. Bagai lelucon yang sudah tidak lucu lagi.
"Maka dari itu Jongin. Aku memanggilmu kesini. Ini sudah saatnya. Walau aku akan dibunuh Chanyeol, kalau Chanyeol sampai tahu aku membawamu lagi ke dunia hitam ini. namun Hanya kau kartu jokernya dari semua permainan ini?"
"Jadi Chanyeol selama ini tahu tentang keberadaanku? Dan dia bersembunyi dariku? Tidak ingin melibatkan ku?" Jongin bertanya nanar. Setes air mata jatuh kepipinya. Namun wajahnya masih datar. Seakan kepedihan itu sudah tak berarti lagi. Karena kepedihan itu sendiri sudah menjadi bagian dari tubuhnya.
"Begitulah..." satu kata dari Luhan menamparnya sungguh keras.
Sreg
Bruk
Jongin tiba-tiba berdiri namun kakinya serasa melumpuh hingga membuatnya terduduk lagi. Taemin memegangi bahu Jongin.
"Kai, Kita bisa pergi besok... kau-"
"Kita pergi sekarang, Kita pergi sekarang Taemin" Potong Jongin cepat.
Sehun pun sudah mulai paham dengan situasinya.
.
.
.
"Chanyeol"
"Siapa"
"Eagle..."
"Hallo bajingan... kau ada di pihak mana sekarang"
"Tenanglah keparat, yang pasti aku bukan di pihak Kris. Dan... Apa kau sudah di paris?"
"Tidak, aku akan berangkat besok"
"Ahhh adik macam apa kau ini. Kakakmu akan mati dan kau masih terlihat sangat senang"
"Segala sesuatu harus di selesaikan dengan kepala dingin"
"Jangan menceramahiku. Ku tunggu kau besok di Stronzon st. aku punya rencana"
"Apa Kau akan membawa dia bersama mu?"
"Dia? Yixing?"
"Siapa lagi?"
"Tergantung, bisa ku bawa bisa tidak. Dia lumpuh sih. Tidak bisa kemana-mana. Kenapa? Kau kangen dengan Hyung mu dan ingin reuinan."
"Begitulah, lebih tepatnya aku akan membuat Yixing reunian bersama Chen dan Xiumin hyung"
"Ah... sebaiknya kau fokus dulu pada Duizhang, Yixing bisa kita bereskan di akhir"
"10 pm"
Pip
Setelah menyebutkan jam pertemuanya Chanyeol menutup teleponnya. Wajah Chanyeol mengeras. Baekhyun tidak bisa begitu di percaya. Baekhyun bisa berpihak kepada siapa saja. Namun pertemuanya dengan Luhan beberapa bulan yang lalu membuatnya sedikit banyak menaruh kepercayaan pada Seorang Byun Baekhyun. Karena Byun Baekhyun menyelamatkan Luhan dari ambang kematian.
"Hyung, rencana apa yang akan kau jalankan?" Anak buahnya bertanya dan Chanyeol mendesah. Ini memang sudah harinya. Chanyeol bersyukur Jongin tidak bersamanya Kini. Meskipun tersiksa selama 3 tahun ini. Ia tidak menyesali keputusannya. Setelah semua ini berakhir... ia akan menghampiri Jongin dan akan menyatakan cintanya pada Jongin. Seperti apa yang sudah ia janjikan. Pada orang yang paling di cintainya tersbut.
Jonginah... sebentar lagi. Kuharap kau tidak lelah menungguku baby.
"Ini sudah waktunya... Mati atau hidup, kita harus menghakhiri ini semua sekarang"
Ucap Chanyeol ketua kelompok Izuna organisasi Mafia Aliran Netral paling kuat. Saat ini.
Dia tidak terkalahkan
.
.
.
Story 11: we will meet in Parin END
A/N
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA~~
Ini cerita kapan selesainyaaaa... galon juga nih kalau story gak selesai-selesai. Mungkin.. mungkin 4 chapter lagi story ini akan tamat . Soalanya~~ well /spoiler lagi nih/ apabila semua conflik mafia ini sudah selesai, nanti bakal ada Conflik baru. Dan kkkk kalian pasti tahulah siapa satu orang yang belum muncul di FF ini iya kan? Ya udah jangan di pikir dulu. Yang penting next chape! Next chape semuanya akan tempuk jadi satu! Siapa yang bakal matiii? Siapa? Bisa aja Jongin yang mati dan pairingnya malah jadi Chansoo? LOL bisa jadi Chanyeol,Kris, lay mati semua dan pairingnya jadi TaeKaiHun jadi Taemin dan Sehun rebutan Kai gitu~~ #eaaaaa bisa jadi Yura mati. dan semua gak mati. Bisa jadi Baekhyun yang mati bisa jadi.. bisa jadi... /plak/
Ahhhhh di pikirin terus tambah puyeng. Ya udahlah... saya mau ngucapin terima kasih buat yang sudah nyumbang FF di event "CHANKAI FOREVER LOVE" kalian semua the best~~~!
saya juga lagi dalam proses ngetik fic juga. Fic Chaptered kalau LIVING Hell udah tamat.
Oke mina-san terima kasih sudah mau baca ff saya selama ini. Saya sangat cinta sekali sama kalian semua!
I LOVE U~~
EL
