Sang pimpinan Desa Hiiru hanya bisa menganga. Ia baru saja diberitahu oleh salah satu bawahannya bahwa sang kunoichi Konoha tertembak panah yang dilontarkan oleh seorang misterius. Namun, kini di hadapannya, kunoichi tersebut tampak baik-baik saja. Ia bisa melihat sebuah panah yang teronggok di tanah dan warna darah yang menghias mata panahnya. Ia bisa melihat noda kemerahan yang serupa membentuk pola ganjil di baju ungu sang kunoichi. Lebih dari itu, ia juga bisa melihat, tatapan garang dari mata beriris biru kehijauan yang tengah duduk dengan Sasuke menopang bagian punggungnya. Ke mana sosok yang katanya sedang berada dalam keadaan gawat karena baru saja tertembak panah?
Berapa lama waktu yang ia butuhkan sampai ke sini? Lima belas menit? Dua puluh menit? Tidak sampai setengah jam.
Matanya kemudian beralih pada Sasuke yang sudah menatapnya dingin dan meminta penjelasan. Ia bukan tidak bisa menerka apa yang baru saja terjadi, tapi jelas ada sesuatu yang ia sembunyikan. Ia tidak ingin membicarakannya.
"Kulihat kau sudah tidak apa-apa," ujar sang pemimpin setengah bergumam—tatapannya tampak menerawang, "kalau begitu, kalian bisa langsung perg—"
"Kau menyembunyikan seorang pendosa di desamu sementara kau menolak Sasuke yang bermaksud membantu desa kalian." Ino akhirnya bisa berdiri tegak—dengan bantuan Sasuke—meski ia sempat limbung sesaat. "Apa yang terjadi di sini sebenarnya?!"
Lelaki bertubuh besar itu tak serta-merta menjawab. Ia kemudian menghela napas panjang dan mengangkat kepala. Matanya yang tajam kali ini menunjukkan suatu keputusan yang tidak ingin diganggu gugat—meski para bawahannya sudah menunjukkan gelagat akan menentang.
"Masuklah. Jika kalian sebegitu inginnya berkunjung ke desa kami."
BACK TO THE BEGINNING
Disclaimer : I do not own Naruto. Naruto © Masashi Kishimoto
No commercial advantages is gained by making this fanfic.
I write this just for my personal amusement.
Pairing : SasuIno, NaruSaku,and may be some slights or hints
STEP 11. The Red Prophecy
Dalam perjalanan ke rumah sang kepala desa, keheningan terasa begitu mencengangkan. Hawa-hawa permusuhan jelas tampak memenuhi udara, meskipun tak semuanya dilontarkan secara terang-terangan. Dari laki-laki, perempuan, sampai anak-anak tampak memandang sembunyi-sembunyi ke arah mereka dengan tatapan yang tak bisa dikatakan ramah. Penolakan, kebencian tanpa sebab, ikut-ikutan karena yang lain turut membenci. Beberapa bahkan terang-terangan menarik tangan siapa pun yang ada di dekatnya agar segera menjauh dari rombongan kepala desa yang membawa seorang pendosa.
"Bisa ikut terkena karma jelek nanti."
Bisik-bisik itu terlalu jelas untuk tak sampai ke telinga Sasuke dan Ino. Desa ini terlalu sunyi, pandangan pun sebenarnya sedikit terhalang kabut. Entah memang situasi sunyi sudah biasa terjadi di Desa Hiiru ini, atau keberadaan Sasuke-lah penyebabnya.
Sasuke tak mau ambil pusing. Ia pun sebetulnya sudah tak terlalu berminat dengan apa pun mengenai desa ini. Persetan dengan tugasnya. Kalau saja, perempuannya tidak mendesak.
Di sebelah, Ino tampak melirik ke kiri dan kanan, menilai situasi yang tengah mereka hadapi. Sasuke yakin, meski luka Ino tampaknya sudah sembuh, tapi tubuhperempuan itu tak sepenuhnya merasa demikian. Sasuke menjadi saksi seberapa dalam panah itu menembus kulit di area dada kiri Ino. Ia yang membantu perempuan itu untuk menarik keluar panahnya.
"Sssh, Sasuke-kun," panggil Ino sambil memeluk lengan Sasuke. "Tidakkah kau merasa desa ini—aneh?"
Sasuke hendak mengatakan bahwa ia tidak peduli. Ia ingin berkata bahwa sebaiknya mereka mengurungkan niat untuk terlibat lebih jauh dengan desa yang aneh ini.
"Tidak sia-sia, 'kan, aku sengaja terluka begini. Kini bisa mencari tahu lebih banyak. Pasti ada yang tidak beres—kepala desa itu juga."
Youdan-houshi 1). Itulah nama sang kepala desa yang juga merupakan seorang biksu. Ia mengatakannya tepat setelah mereka melewati gerbang masuk desa. Informasi ini diserap Sasuke dan dibiarkannya mengendap di otaknya untuk sewaktu-waktu dikeluarkan saat dibutuhkan.
Tapi bukan itu yang membuatnya nyaris berhenti berjalan. Bahkan, ia bisa merasakan kedua alisnya yang nyaris bertautan.
"…aku sengaja terluka begini …."
"… sengaja …."
Kepala Sasuke menoleh cepat pada Ino yang masih terfokus pada sekelilingnya. Perempuan berambut kuning pucat itu masih mengamat-amati tiap orang yang tampak tengah menilai mereka sebelum memutuskan untuk menjauh. Mungkin pula ia mengamat-amati bentuk rumah di desa ini yang dominan diwarnai cokelat keemasan dan merah. Tempat yang tergolong makmur meski di beberapa bagian tampak pembangunan masih berlangsung. Desa ini pun tak lepas dari kekacauan akibat perang dunia shinobi.
Puing-puing bangunan yang masih digarap, anak-anak kecil yang tampak lusuh, orang-orang dewasa yang masih tampak lelah—meski, sebelum kedatangan Sasuke dan Ino, sekilas tawa masih membahana di desa yang tak terlalu besar ini. Untuk membantu mereka dan desa inilah, Sasuke dan Ino diutus. Namun, itu tak menjadi alasan untuk serta-merta bertindak nekat hanya demi menyukseskan misi, 'kan?
"Ino!" desis Sasuke akhirnya.
Ino menoleh dan mendapati ekspresi Sasuke yang—murka? Ino tak langsung paham, tapi begitu sorot murka itu tak mewujud menjadi kata-kata, Ino menangkap satu kekhawatiran yang membantunya untuk paham. Mulut Ino hendak terbuka, tapi akhirnya ia tersenyum sembari menyentuh lengan Sasuke terlebih dahulu.
"Kalau kau—berbuat seperti itu lagi—" Sasuke menggeram dan seakan terbata karena ia setengah menahan luapan emosinya. Entah pada Ino atau pada dirinya sendiri yang lengah dan tak menyadari. Ke mana sosok Sasuke yang merupakan shinobi kelas atas Konoha? Sebagai keturunan Uchiha yang tersohor, ia juga merasa malu atas kelengahan dan ketidakberdayaannya. Ia tak bisa mengatasnamakan fisik maupun mentalnya yang belum benar-benar pulih, 'kan? Itu hanya akan terdengar sebagai alasan yang dicari-cari.
Ino menepuk-nepuk lengan Sasuke. "Jangan memasang wajah seperti itu. Aku minta maaf, oke?"
Enteng sekali cara Ino berbicara. Namun, harusnya Sasuke sudah sadar dari awal. Yamanaka Ino—seorang shinobi peringkat atas Konoha yang lain. Dari klan Yamanaka—klan yang menghasilkan banyak ninja sensor. Mungkin Sasuke tak menyadari keberadaan penyerang mereka yang begitu samar, tapi Ino? Walau dalam keadaan lengah sekalipun, meski terlambat untuk sadar, tentu ia akan lebih cepat menangkap keberadaan sosok lain itu dibandingkan Sasuke.
"Aku memang sengaja, tapi tak benar-benar sengaja juga. Aku sama sekali tidak tahu kalau ada penyerang yang nekat seperti itu."
Sasuke menghela napas panjang dan menempelkan kepalan tangannya ke dahi. Seketika, mereka tertinggal dari rombongan kepala desa karena memutuskan untuk berhenti sejenak. Sasuke mencoba mengingat-ingat dan ia merasa bisa melihat lebih jelas sekali ini. Ketakutan perlahan merayapi hatinya.
"Kau bisa mati—" Sasuke tercekat oleh kata-katanya sendiri.
Mati. Kematian. Kata-kata yang seharusnya begitu biasa di telinga Sasuke, kini terdengar begitu mengerikan.
Ia sudah tidak ingin merasakannya lagi. Meski hanya sebatas kenangan pahit, Sasuke kini bisa mengingat bahwa di masa lalunya, ia telah berteman akrab dengan yang namanya kehilangan. Cukup. Ia tidak ingin merasakannya lagi. Dan tak akan merasakannya lagi. Tidak dalam waktu dekat.
Ino terkekeh. "Tidak akan," bantahnya cepat seolah ia bisa memahami perasaan yang tengah bergejolak dalam diri Sasuke. "Mungkin kau tak melihatnya, tapi aku sempat memiringkan tubuhku beberapa derajat—menghindari serangan ke organ vital. Kaupikir untuk apa aku berlatih di bawah bimbingan Tsunade-shishou? Tentu bukan sekadar untuk mencari tahu bagaimana caranya memperbesar ukuran dada, 'kan?" Ino tertawa lagi.
Sasuke hendak menyanggah, tapi sebuah suara menghentikan mereka.
"Apa ada masalah?"
Percakapan mereka kemudian terhenti di sana saat mereka menyadari bahwa suara Youdan-houshi-lah yang meminta mereka bergegas. Ino menjawab dengan anggukan kepala dan kemudian berjalan mendahului Sasuke. Perempuan itu tampak begitu bersemangat. Padahal, jika mereka membatalkan misi ini pun, perempuan itu tidak akan mengalami kerugian apa-apa. Entah apa yang membuat Ino malah sesemangat ini di desa yang justru menolak mereka.
Dengan langkah yang mantap tetapi tak terburu, Sasuke mengikuti Ino di belakang. Tangannya sudah terulur hendak menyentuh pundak Ino dan ia akan meminta—atau memohon kalau perlu—pada Ino untuk melupakan saja euforianya dalam menyingkap misteri di desa Hiiru. Ia tak perlu berusaha sekeras ini. Apalagi jika luapan semangatnya hanya karena ia merasa perlu membersihkan nama baik Sasuke.
"Aku tidak akan mundur, Sasuke-kun," ujar Ino seolah bisa membaca apa yang hendak Sasuke katakan. "Setelah semua yang telah terjadi, harusnya kautahu … aku—"
Sasuke menarik tangan. Suara Ino yang memelan masih bisa tertangkap indra pendengarannya. Ia tak kuasa menahan senyum.
Sampai mereka tiba di rumah Youdan-houshi, suara itu masih bergema lembut dalam benaknya. Kata-kata yang diucapkan oleh Ino tanpa menoleh—kata-kata yang membuat perempuan itu memerah sampai ke telinga. Apa Sasuke bisa menahannya setelah Ino menunjukkan tekad?
Seharusnya, sekarang giliran Sasuke untuk menunjukkan tekadnya dan bukan malah bersikap pasrah. Bukankah perasaan mereka bersambut?
"—aku akan melakukan apa pun untukmu. Aku akan membantu menyiapkan dunia yang nyaman dan aman untuk dapat kautinggali. Kau sekalipun, tak akan bisa menghentikanku."
Sasuke juga akan melakukan apa pun untuk perempuan yang sudah melakukan berbagai macam hal untuk dirinya ini. Termasuk … bertahan hidup.
o-o-o-o-o
"Selamat datang, Uchiha Sasuke, Yamanaka Ino."
Sebuah suara serak menyambut mereka. Youdan-houshi yang pertama menyahut.
"Ibu," katanya sambil mendekat ke arah wanita berambut putih keperakan dengan tubuh pendek bungkuk dan wajah yang sudah dipenuhi keriput.
Wanita yang matanya sudah nyaris terpejam itu mengangguk dan memperkenalkan dirinya.
"Namaku Sumiyo. Mantan miko sekaligus ibu dari kepala desa saat ini," ujar sang wanita tegas. Suaranya memang serak, tapi pelafalannya masih jelas terdengar. "Aku yang memberitahu Youdan mengenai kedatangan kalian."
Youdan-houshi membenarkan. "Ibu adalah seorang peramal dan ramalannya jarang meleset."
Sumiyo berdeham. "Namun, aku tak pernah mengira perihal kedatangan kalian akan menyebar luas sampai ke seluruh pelosok desa dengan begitu cepatnya—seolah ada seseorang yang sengaja menyebarkan…." Sumiyo menghentikan perkataannya di sana.
Sang biksu bertubuh besar menyipitkan mata tetapi sedetik berikutnya ia hanya mengangguk tanpa suara pada sang ibu. Setelah sang ibu berbalik, Youdan-houshi menoleh ke arah anak buahnya sebelum memusatkan perhatiannya pada Sasuke dan Ino. Ia kemudian meminta kedua tamunya tersebut untuk mengikutinya dan sang ibu. Setelah sampai di depan suatu ruangan, Youdan-houshi pun memberi instruksi pada para bawahannya untuk berjaga di depan rumah saja.
Pintu ruangan itu kemudian tertutup rapat. Sumiyo kemudian memberikan aba-aba tanpa suara agar ketiganya duduk di bantal yang telah disiapkan. Wanita renta itu kemudian mengambil sesuatu dari rak pendek di belakang tempat duduknya sendiri.
Sumiyo memperlihatkan bola kristalnya dan memasang wajah lebih serius dibanding sebelumnya. Ia terbatuk-batuk sejenak sebelum berkata,
"Sebenarnya, ada alasan mengapa aku memperingatkan Youdan mengenai kedatangan kalian."
Sasuke dan Ino mengernyitkan alis. Mereka saling berpandangan dan diam-diam menelan ludah sebelum kembali mengamati sang peramal. Youdan-houshi hanya bisa bergeming menanggapi ketegangan kedua tamunya. Ia hanya melipat tangan di depan dada dan memejamkan mata. Meskipun demikian, samar-samar lelaki besar itu terlihat gelisah di tempat duduknya. Memang ada yang tidak beres.
"Kalian membawa bahaya bagi desa ini … dan itu karena …," Sumiyo memberi jeda sejenak, "bau dosamu telah mengundang Karma untuk datang. Kematian itu begitu melekat dalam dirimu. Terutama di desa dengan pemujaan tinggi seperti di desa ini … akan terlalu berbahaya bagi para penduduk untuk menyambut kedatanganmu. Juga bagi dirimu sendiri dan pendampingmu."
Sasuke tersentak. Apa maksud wanita tua ini? Barusan, ia berkata seolah-olah ia bermaksud melindungi Sasuke dan Ino dari bahaya yang tengah mengancam mereka.
"Kalian tidak tahu, bagaimana kebencian bisa memanifestasikan dirinya, bukan? Aku sudah berulang kali melihatnya—dan itu tidak menyenangkan."
"Sebentar," sela Ino setelah ia merasa tidak bisa lebih lama berdiam diri, "apa Anda baru saja mengatakan bahwa Anda berniat melindungi Sasuke-kun dari bahaya apa pun yang mengancamnya?"
Youdan-houshi sekali ini tampak terkejut. Ia sama sekali tidak terpikir ke arah sana. Saat ibunya mengatakan bahwa Sasuke akan datang, yang dilanjutkan dengan kata-kata bahwa ada bahaya mendekat, ia langsung berkesimpulan bahwa Sasuke adalah 'musuh' yang tidak bisa dibiarkan menginjak desa sucinya. Ia menelan bulat-bulat perkataan ibunya yang sebenarnya bisa diartikan ganda. Sesaat, ia merasa malu, tapi ia tidak bisa membiarkan dirinya kehilangan wibawa. Sebagai kepala desa, sebagai pimpinan bagi penduduk desa sekaligus umatnya. Ia menegakkan duduknya dan kembali memusatkan perhatian pada sang ibu.
Sumiyo sendiri hanya tersenyum dan kembali fokus pada bola kristal di tangannya.
"Aku tidak sebaik itu pada orang yang tidak kukenal," ujar Sumiyo perlahan. "Aku hanya berusaha menyelamatkan desaku. Aku bahkan membiarkan Youdan salah menanggapi isi ramalanku agar segera mengusirmu. Dengan demikian, penglihatanku tak harus terbukti. Namun tampaknya … aku telah gagal menyelamatkan satu jiwa dari cengkeraman dosa. Semoga Karma masih berbaik hati padanya."
Diam-diam, Ino melirik ke arah Youdan-houshi. Wajah pria itu semakin memucat dan tubuh besarnya sedikit bergetar.
"Ibu … benarkah …?"
Sumiyo menghela napas panjang. Sebelumnya, Sasuke tak benar-benar memperhatikan, tapi sang peramal di hadapannya memiliki raut kebijaksanaan yang sama dengan Hokage Ketiga. Kecerdasan, juga kemampuan pengambilan keputusan yang cepat dan tepat. Mungkin dahulu, desa Hiiru yang terlihat makmur ini adalah hasil kerja kerasnya. Mungkin sekarang pun, kepemimpinan tertinggi sesungguhnya ada di pundak wanita tua yang masih berpikiran tajam ini.
Sang peramal wanita menoleh pada putranya. Mata sipitnya tampak tajam memandang sang pimpinan desa.
"Dia telah memilih jalan ini." Sumiyo berkata tegas. "Yang mampu melakukannya hanya dia—kau tahu itu."
Youdan-houshi semakin tidak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia bahkan tak kuasa menutupi kedikan bahunya saat sebuah nama meluncur dari mulut sang ibu.
"Dansei."
"Dansei?" tanya Ino dengan kedua alis yang nyaris bertaut.
Sasuke sendiri memilih memandang Youdan-houshi. Laki-laki itu tampak sudah kehilangan pertahanan. Keringat dingin tampak mulai membasahi pelipisnya.
"Putraku," jawab Youdan-houshi akhirnya membuka mulut. "Dia seorang shinobi seperti kalian. Seperti—" Sang biksu tampak ragu-ragu sebelum melanjutkan, "—almarhumah ibunya."
"Ada baiknya jika kalian mendengar sedikit cerita dari masa lalu sebelum aku memperdengarkan penglihatanku mengenai masa depan pada kalian," Sumiyo menimpali. Usul ini diterima dengan patuh oleh Sasuke dan Ino. "Tragedi ini dimulai sesaat sebelum perang dunia shinobi pecah."
Tanpa terlihat, Sasuke mengepalkan kedua tangannya yang ada di atas masing-masing pangkuan. Pandanganya mengeras.
Sumiyo melanjutkan, "Hari itu, mendadak desa diserang sekawanan shinobi. Meski aku berhasil memprediksi kedatangan mereka, tetapi keahlian mereka memang jauh di atas para pengawal desa. Shinobi dari desa ninja terdekat yang sudah kukirimi pesan beberapa waktu sebelumnya pun tidak bisa datang tepat waktu—takdir sudah menghendaki demikian."
"Di saat kacau demikian, Rakumi turun tangan menghadapi para shinobi—atau lebih tepatnya para bandit penjarah tersebut," sambung Youdan-houshi dengan kepala yang sudah tertunduk. "Dia memang shinobi terlatih tetapi jika hanya dia saja, tidak akan cukup. Waktu itu Dansei sedang berada dalam masa pelatihannya. Ia baru tahu ibunya terbunuh beberapa minggu kemudian setelah aku mengirimkan surat."
"Baik, sampai di sini aku bisa paham," ujar Ino tidak sabar, "tapi aku tidak melihatnya adanya benang merah antara cerita barusan dengan kebencian tidak wajar yang kalian alamatkan pada Sasuke."
"Para bandit itu yang mengatakannya sendiri!" Suara Youdan-houshi mendadak mengeras. Ia kemudian menatap Sasuke dengan ekspresi yang sulit dibaca. Amarah itu tak lagi ditutup-tutupi. Penguasaan dirinya tak lagi sanggup melapisi wajahnya dengan topeng ketenangan. "Mereka berkata, 'Tunduklah kalian pada Uchiha Sasuke!' Lalu mereka merampok desa dan membakarnya sebelum mereka melarikan diri dengan tertawa-tawa."
Mata biru kehijauan Ino membelalak lebar tak percaya. Ia spontan menoleh pada Sasuke yang sekali ini sudah memasang wajah tenang. Sama sekali tak terbaca apa yang tengah pemuda itu pikirkan.
"Beberapa persiapan yang bisa kami kumpulkan berkat penglihatanku membuat desa tidak sampai terbakar sepenuhnya tetapi demikianlah kenangan dan dendam tak lenyap begitu saja bersama api yang padam. Nama 'Uchiha Sasuke' pun menjadi momok sekaligus sasaran kebencian dari para penduduk desa yang selamat—terutama Dansei."
"Ka-kalian kan pemuja Karma, kenapa kalian tidak menyerahkan saja pembalasan dendam itu pada Karma kalian yang agung?" tanya Ino tak mengerti.
Tak ada yang menjawab. Hal ini membuat Ino meringis. Sesaat keadaan begitu heningnya sampai kemudian Sasuke mendadak membuka mulut.
"Apa pun yang kukatakan sekarang, tak akan ada artinya, bukan?"
Sumiyo tersenyum lembut. "Bahwa para bandit itu bukan bawahanmu?"
"Benar, benar!" ujar Ino sembari menepuk tangannya. "Lagi pula, katamu tadi para bandit itu berkata, 'Tunduklah pada Uchiha Sasuke—'" Ino sekilas menirukan suaralaki-laki sebelum kembali pada suaranya yang biasa, "—kalau memang tujuan mereka ingin menyebarkan teror agar ke depannya semua benar-benar tunduk pada Sasuke-kun untuk tujuan-tujuan tertentu, mereka tidak perlu sampai membakar desa. Mereka membakar dengan niat membumihanguskan isi desa tanpa meninggalkan seorang pun penduduknya, 'kan? Bayangkan jika tak ada seorang pun yang bisa bertahan hidup, tujuan teror itu akan jadi sia-sia. Kata-kata 'Tunduklah pada Sasuke' itu jadi tidak akan berarti apa-apa!"
Ino memberi jeda sejenak, lalu melanjutkan dengan nada serius. "Kesimpulan akhirnya, mereka hanyalah penjahat biasa yang tak ada hubungannya dengan Sasuke-kun."
Sesaat, keheningan itu kembali terjadi. Ino mengamat-amati ketiga orang yang ada di sana sebelum pipinya menggembung.
"Halo? Tidak adakah di antara kalian yang mau merespons analisisku barusan?"
Sumiyo tertawa tertahan sementara Youdan-houshi hanya bisa menggelengkan kepalanya perlahan. Senyum samar terpatri di wajahnya. Hanya Sasuke yang tampak bergeming—benar-benar tak menunjukkan ekspresi ataupun pergerakan tubuh yang berarti.
"Aku bisa paham pola pikirmu, Yamanaka-san," ujar Youdan-houshi kemudian, "tapi di satu sisi, saat itu pun tidak ada bukti bahwa mereka tidak bekerja untuk Uchiha Sasuke. Penduduk desa pun hanya manusia biasa—mereka butuh seseorang untuk disalahkan. Lagi pula, dari isu yang selanjutnya beredar, Uchiha Sasuke-lah yang menyebabkan perang dunia shinobi pecah."
"Aku tidak punya bawahan lain. Saat aku melakukan misi pengejaranku terhadap Itachi, aku bergerak hanya bersama dengan tiga—rekanku," ujar Sasuke dengan berhati-hati. Ia kemudian mengedikkan bahunya sedikit. "Soal perang dunia shinobi yang pecah, mungkin memang akulah penyebabnya. Secara tidak langsung. Tepatnya ... semua dimulai sejak pembantaian keluarga Uchiha."
Ino tercenung. Ternyata memang ... Sasuke sudah berhasil mengingat semua kenangan yang sempat dilupakannya. Sekilas pemuda Uchiha tampak tenang, tapi, jantung Ino justru berdegup kencang hingga terasa menyesakkan. Ia pun tak bisa berbuat banyak kala itu selain merenggut baju di sekitar dada. Ia berhasil menenangkan gemuruh di dadanya untuk sementara, tapi ia akan memastikan bahwa semua memang benar-benar baik-baik saja. Nanti.
Untuk sekarang, suara Sumiyo yang menggelitik telinganya telah menuntut perhatian. Ino tak lagi diberi kesempatan untuk berlama-lama merenungi ingatan Sasuke yang sudah kembali.
"Aku sudah mendapatkan detail mengenai kronologis kejadian sampai perang pecah, juga beberapa hal perihal dosa-dosamu, Uchiha Sasuke," Sumiyo mengatakannya dengan ringan. "Bukankah para Kage sedang diundang datang untuk membahas perihal hukumanmu?"
"Baachan tahu dari mana? Itu kan—" Ino tampak tidak percaya.
Bukankah itu informasi yang tak seharusnya menyebar sebegitu mudahnya?
Sumiyo tersenyum lebar. Namun, ia tak menjawab pertanyaan Ino. Ino hanya bisa menggeram karena ia merasa telah diabaikan beberapa kali.
"Kalian sudah tahu sekarang, jadi sebaiknya … tinggalkan desa ini segera," ucap Youdan-houshi sambil perlahan bangkit dari posisi duduk bersilanya. "Masalah Dansei, serahkan saja pada Karma. Ia akan—"
"Tidak, tidak," jawab Ino sambil mengibaskan tangan dan ikut berdiri. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar. "Kalau kami pergi begitu saja, misi ini tidak akan selesai, 'kan?"
Wajah Youdan-houshi mengernyit menyiratkan ketidaksetujuan. Ia hendak mengatakan sesuatu, tapi dipotong Ino dengan cepat,
"Sumiyo-baachan, memangnya, apa yang terlihat di bola kristalmu? Apa masih ada petunjuk tentang masa depan?"
Sumiyo terdiam sesaat sembari memperhatikan bola kristalnya lekat-lekat. Alisnya berkerut dalam sebelum ia kemudian menghela napas panjang.
"Sebelumnya, kalian perlu tahu. Ramalan masa depanku jarang meleset—sebagaimana yang disebutkan oleh Youdan sebelumnya. Tanda-tanda peringatan yang diperlihatkan padaku melalui bola kristal ini cukup jelas untuk membantuku membuat pertimbangan—meski aku tak selalu menggunakannya. Namun, aku tetap bisa memilih, antara membiarkan tiap hal mengalir mengikuti tanda-tanda yang diperlihatkan bola kristal, atau berusaha mengubah isi masa depan yang terlihat tak mengenakkan." Sumiyo tampak berpikir sejenak sebelum ia melanjutkan,
"Kali ini pun, aku melihat adanya perseteruan yang tak terhindarkan. Darah—akan ada korban. Belum berubah, sejak terakhir aku melihatnya—karena kalian sendirilah yang telah dengan sengaja membelokkan kembali jalur awal yang telah kuusahakan untuk diubah."
Sasuke dan Ino yang sudah berdiri berdampingan melihat Sumiyo perlahan-lahan berdiri. Wanita tua itu mendadak mengacungkan jari telunjuknya ke arah pasangan shinobi dari Konoha tersebut.
"Sekarang, pilihan itu kuserahkan ke tangan kalian."
o-o-o-o-o
"Dansei-san," panggil seorang laki-laki berambut hijau pucat dengan baju semacam yukata kelabu sepinggang yang dipadukan dengan celana kargo kecokelatan. "Dari kabar yang kudapatkan, saat ini mereka tengah berada di tempat ayahmu."
Pemuda bermata gelap kosong dengan rambut kebiruan yang dipanggil 'Dansei' itu terdiam tak merespons. Hanya tangannya yang bergerak memeriksa mata panah. Mulutnya tampak bergetar ringan sepersekian detik. Ia masih bisa mengendalikan dirinya hingga tak sepatah kata pun meluncur saat itu.
"Dan katanya, perempuan yang terkena panahmu sudah baik-baik saja."
Sekali ini, kepala laki-laki tersebut menoleh. Ia menerima sebuah anggukan dan dengan itu, ia pun balik mengangguk.
"Syukurlah kalau memang begitu. Aku sama sekali tidak berminat mengotori tanganku dengan darah selain darah Uchiha Sasuke." Dansei kembali memeriksa anak panahnya. "Kali berikutnya, aku tak akan membiarkan panah ini mengisap darah yang lain."
Temannya yang berada di depan pintu tampak bergidik saat mendengar Dansei mengatakan hal tersebut. Ia tahu jelas bahwa meski terdengar tenang, kebencian itu ada di tiap suara dan tingkah laku anak sang pimpinan desa. Ia tidak bisa melarang, ia pun bisa merasakan kebencian itu dalam tiap embusan napasnya. Namun, ia harus mengakui bahwa logikanya masih berjalan lebih baik dibandingkan Dansei.
"Kau … tidak ingin menyerahkan urusan ini pada Karma? Biar Karma yang membalas perbuatannya pada ibumu, pada penduduk desa kita."
Dansei meraih busur panahnya kali ini. Setelah memastikan bahwa tidak ada masalah dengan senarnya, ia kemudian berdiri.
"Akulah Karma itu," ucapnya sambil memandang temannya dengan tatapan yang dingin.
Kehampaan, kekosongan yang mencekam, membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya meremang. Kegelapan telah mengelili pemuda berusia sekitar tujuh belas tahun tersebut. Dan temannya tidak bisa mengingat, kapan terakhir kalinya Dansei mengenakan pakaian lain selain yang berwarna kelam—hitam sepekat malam.
"Akulah Karma bagi Uchiha Sasuke."
"Da-Dansei-san."
"Ini adalah kesempatanku, ini adalah saatnya." Dansei kemudian menepuk pundak temannya yang tak juga beranjak dari depan pintu. "Kalau kau tidak berniat membantuku, jangan sampai kau menghalangi jalanku, Ryuu."
Ryuu bungkam dan membiarkan Dansei berjalan melewatinya. Ia tampak menimbang sejenak sebelum kedua tangannya mengepal. Ia berbalik dengan cepat kemudian mengekori Dansei yang sudah menuju pintu depan.
"Aku ikut denganmu."
"Mungkin Karma akan mengejarmu setelah ini."
Ryuu tersenyum dengan ekspresi yang sedikit kekanakan. "Kalau Karma itu adalah kamu, aku percaya bahwa ia tidak akan melakukan apa-apa padaku."
Dansei melirik sejenak pada teman yang sudah menyejajari langkahnya tersebut. Ia akhirnya tersenyum tipis. "Terserah. Asal kau tidak menghambat langkahku."
Ryuu mengajukan kepalan tangannya dan tanpa diduga, Dansei membalas acungan tinju persahabatan tersebut. Keduanya kemudian siap melangkah keluar—mengejar sang target dendam ke mana pun ia akan melangkah. Begitu pintu terbuka dan sinar mentari siang yang telah melenyapkan kabut melesak masuk, Dansei dan Ryuu tak bisa tak menyipitkan mata mereka sejenak sebelum kemudian terbebalak.
Uchiha Sasuke ada di hadapan mereka, beserta perempuan berambut pirang yang merupakan pendampingnya. Laki-laki berambut raven dan bermata gelap itu menatap tajam pada Dansei yang langsung menampakkan ekspresi lain di wajahnya.
Tak ada lagi ketenangan, tak ada lagi kekosongan. Mata itu seakan dipenuhi bara api dendam. Gigi Dansei bergemeretak dan tanpa pikir panjang, ia mengangkat busur panahnya dan mengambil sebatang anak panah. Ryuu bahkan tak sempat berkata apa-apa saat mata panah yang tampak tajam itu sudah mengarah pada Sasuke.
Seolah menjadi aba-aba, Ino mengeluarkan sebuah kunai-nya dan spontan berteriak,
"Turunkan panahmu!"
Sebagai respons dari teriakan Ino, Ryuu langsung melemparkan sebuah shuriken yang melayang tepat ke arah wajah Ino. Belum sempat Ino menepisnya dengan kunai, Sasuke di sebelah Ino sudah berhasil menghentikan shuriken itu dengan kunai miliknya sendiri.
Mata Sasuke kemudian terpejam sejenak dan begitu kedua matanya terbuka, sharingan merah manyala itu sudah aktif.
"Jika kalian memang menginginkan pertumpahan darah, aku siap menghadapi kalian." Tangan Sasuke perlahan bergerak dan mendorong Ino di bahunya, menyembunyikan perempuan itu ke balik punggungnya.
"Heh?"
"Tapi dia tak ada hubungannya, mengerti?"
Dansei menggerakkan kepalanya sedikit, tetapi matanya masih memandang Sasuke lekat—tidak bermaksud menurunkan kewaspadaannya sedikit pun. Ia benar-benar tak akan melepaskan Sasuke kali ini. Panah kali ini sudah ia lumuri racun kuat, hanya dengan menyerempet kulih dan membuka luka sayat tipis sekalipun, racun akan segera bekerja.
"Tidak bisa diajak bekerja sama, eh?"
"Dansei-san," ujar Ryuu ragu-ragu.
Benar saja, saat itu, Ryuu kembali melihat kekosongan dalam mata Dansei. Jika seperti ini, Dansei seolah sudah tak mendengar apa pun kecuali suara-suara di kepalanya sendiri. Ia ingat, saat-saat Dansei bertengkar dengan Youdan-houshi. Laki-laki di sampingnya ini seolah tak lagi mengenali ayahnya, ia bahkan bisa berkata bahwa ia akan menyingkirkan ayahnya jika ayahnya tetap berusaha menghalangi jalannya.
Dansei bisa saja berkata bahwa ia tak akan melukai orang lain. Namun, ketentuan itu berlaku hanya dengan satu syarat: bahwa orang itu tak akan menghambat usaha balas dendamnya.
"Sebentar!" ujar Ino sambil meringsek maju dan menolak punggung Sasuke. "Kami datang untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini!"
"Minggirlah kalau kau tak mau terluka lagi, Perempuan."
"Heei! Para bandit yang menyebabkan kematian ibumu itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Sasuke-kun! Mereka hanya bandit biasa! Mengertilah!"
Mendadak, satu anak panah melesat dan nyaris menembus tubuh Ino begitu saja. Tetapi, seolah sudah dapat melihatnya, Sasuke langsung menghentikan laju anak panah itu dengan kunai yang ia lempar.
"Sasuke-kun!"
Sasuke tak lagi berdiam diri, ia berlari cepat mendekat ke arah Dansei. Sementara Dansei menyiapkan anak panahnya dan dalam sepersekian detik ia berhasil menembakkan panah lain. Sasuke lantas melemparkan kunai yang berhasil memutus senar busur Dansei sembari menghindari tembakan panah yang dilontarkan lawannya.
Tangan Sasuke sudah siap menerjang Dansei yang dirasa sudah tak punya senjata saat tiba-tiba laki-laki berambut kebiruan tersebut meloncat ke belakang sembari mengempaskan beberapa kunai ke arah Sasuke. Sasuke mendengus sebelum ia memundurkan tubuhnya dengan cepat hingga kunai-kunai itu tak ada yang mengenainya satu pun.
Dengan katon, Sasuke kemudian mengarahkan api pada Dansei yang semakin memperlebar jarak di antara mereka. Sementara itu, saat melihat api merah berkobaran di hadapannya, Ryuu langsung memucat dan kaku sekejap di tempatnya. Ia nyaris terpanggang begitu saja jika Ino tak menarik pemuda kikuk tersebut.
"Kau mau mati, heh? Kupikir kau seorang shinobi jika melihat shuriken yang kaugunakan terhadapku barusan!"
Ryuu tak menjawab, pupil matanya mengecil seolah mencerminkan suatu ketakutan. Tubuhnya kini bergetar dan tangannya perlahan terangkat ke dekat pelipisnya. Saat itu, perhatian Ino sudah teralihkan pada Sasuke yang sudah menghilangkan jutsu apinya.
Namun, dari balik api yang perlahan padam, sebuah panah melesat begitu saja. Tanpa menggunakan busur, Dansei berhasil melemparkan panah tersebut layaknya ia melempar sebuah tombak. Sasuke berhasil menghindar, tetapi mata panah yang tajam itu sedikit mengenai ujung telinganya. Bagi Sasuke, luka tersebut sama sekali tak berarti.
Sharingan-nya kemudian tampak berubah bentuk dan kemudian mengobarkan sebuah api hitam tepat di belakang Dansei. Api hitam itu melahap habis panah yang tersisa dan nyaris membakar rambut serta baju Dansei jika pemuda itu tidak dengan tanggap melemparkan tempat berisi anak panahnya. Beberapa saat setelahnya, barulah api hitam itu padam atas kendali Sasuke.
Sasuke melihat Dansei yang tampak menggeram. Ia kemudian melirik Ino yang hanya bisa mengerjapkan mata melihat pertarungan kilat ini.
Ino sendiri kemudian berbalik melihat kondisi sang laki-laki berambut hijau pucat yang sudah jatuh terduduk. Mulutnya tampak berkomat-kamit sementara keringat dingin sudah membasahi pelipisnya. Ino yang paham situasi pemuda tersebut hanya bisa menggigit bibir bawah sebelum ia mengambil sebuah keputusan. Dihantamkannya sebuah pukulan ke tengkuk sang pemuda dengan gerakan singkat yang langsung menghilangkan kesadaran si pemuda. Begini lebih baik. Ia tentu saja ingin meminimalisir korban yang mungkin muncul.
"Dansei-san! Dengarkan aku," teriak Ino. "Kami sama sekali tidak—"
Dansei tampak menyeringai sebelum ia menghirup napas pelan. Mendadak saja, laki-laki itu berteriak.
"SI SETAN UCHIHA ITU ADA DI SINI! IA BERMAKSUD SEKALI LAGI MEMBAKAR DESA KITA! MEREKA BAHKAN MELUKAI RYUU! APA YANG KAUINGINKAN SEBENARNYA, UCHIHA?! DASAR BRENGSEK KAU! PERGI! PERGI KALIAN DARI DESA SUCI INI!"
Teriakan-teriakan itu tak berhenti sampai di sana. Umpatan dan makian yang dibalut drama dan fitnah langsung memenuhi udara siang desa Hiiru yang tak lagi berkabut. Dan suara Dansei yang terdengar jelas itu mulai menimbulkan reaksi yang seharusnya bisa diperkirakan oleh Sasuke maupun Ino.
"Kaaauu!" Ino melesat dan langsung membekap mulut Dansei dengan tangannya. Tangan perempuan itu setengah mencengkeram pipi Dansei yang tampak tak peduli. "Dasar tidak bisa diberi tahu! Orang yang kaubenci karena telah membunuh ibumu itu—"
"Mereka di sinii!"
"Ah! Be-benar! Si Uchiha itu …."
"Dansei-san!"
"Itu Ryuu-san, bukan? Apa yang sudah mereka lakukan terhadapnya?!"
Penduduk-penduduk desa Hiiru yang terpancing oleh keributan itu sekonyong-konyong memenuhi lahan kosong yang sempat menjadi arena pertempuran antar shinobi tersebut. Laki-laki, tua dan muda, beberapa gadis dan anak-anak kecil yang langsung disuruh menjauh oleh para ibu mereka, mereka yang penasaran, kini tampak memandang kejadian di hadapan mereka lekat-lekat, berusaha menilai situasi yang ada. Tatapan kebencian itu kemudian muncul lagi saat mereka melihat Sasuke di hadapan mereka.
Tak lama, pengawal desa pun datang. Bersama dengan Youdan-houshi yang langsung membuat kerumunan-kerumunan itu sedikit menyingkir. Dansei segera menyingkirkan tangan Ino dari wajahnya dan seketika menunjuk ke arah Sasuke.
"Ayah! Lihatlah! Si Pembunuh itu ada di sini!" teriak Dansei spontan dengan suara yang terdengar polos bagaikan anak kecil yang tak bersalah. "Apa yang kaulakukan?! Tangkap mereka! Jatuhkan penghukuman pada mereka yang sudah mengancam kedamaian desa kita!"
"Hei!" seru Ino tak terima. Namun, ia langsung berhenti bergerak saat melihat tangan Youdan-houshi yang terangkat sebelah.
Mata Youdan-houshi pun meneliti sejenak kondisi di tempat itu meski sebelumnya ia sempat mendengar sekelebat bisik-bisik penduduknya. Bisik-bisik itu semakin berani dan seakan mendesak Youdan-houshi untuk segera memmberi hukuman setimpal bagi kriminal yang ada di hadapan mereka.
"Beri mereka hukuman yang setimpal!"
"Jangan biarkan mereka lolos!"
"Mereka … penjahat! Karma pasti tak akan melepaskan mereka begitu saja! Benar, kan, Houshi-sama?"
Di tengah suara-suara riuh-rendah tersebut, sebuah batu sempat terlontar meski tidak sampai mengenai Sasuke. Seorang bocah yang melakukannya langsung ditarik menjauh dan dipeluk oleh kakak perempuannya. Kakak perempuan bocah laki-laki itu kemudian komat-kamit sebelum menoleh dan memperlihatkan wajah garang pada Sasuke.
Melihat kelakuan para penduduk desa yang dapat dengan mudah dikendalikan agar memihaknya, Dansei tersenyum puas diam-diam.
Ino tampak bingung menjelaskan situasi ini. Ia sekali lagi menghadap Youdan-houshi yang masih bergeming—berharap laki-laki itu paham dan menjelaskan kesalahpahaman yang terlanjur meluas. Matanya menyorotkan harap dan mulutnya membuka-menutup seakan berusaha mencari kata-kata yang tepat.
Memang, sebelumnya Sasuke dan Ino memutuskan untuk menyelesaikan permasalahan ini sendiri. Mereka kemudian meninggalkan Youdan-houshi bersama Nenek Sumiyo begitu saja. Mereka kini sadar, betapa naifnya keputusan mereka saat itu. Jika memang Nenek Sumiyo sebenarnya memihak mereka, beliau bisa menjadi sekutu yang hebat.
Namun, Youdan-houshi pun sudah paham permasalahan sebenarnya, bukan? Seharusnya ia bisa lebih diajak bekerja sama.
"Kalian—" Youdan-houshi akhirnya membuka suara, suaranya rendah dan berat, "—pergilah. Tinggalkan desa ini segera."
Tentu Ino tak menyangka bahwa kata-kata itulah yang akan dilontarkan oleh Youdan-houshi. Laki-laki itu mengusir mereka. Lebih lagi, ia tak berniat menjelaskan apa-apa. Jika demikian, reputasi Sasuke akan semakin buruk. Bukan ini yang direncanakan oleh Ino.
Mendadak, Ino merasa sebuah tangan menepuk pundaknya. Begitu ia menoleh, ia bisa melihat Sasuke berdiri tegak di belakangnya, tidak gentar sedikit pun.
"Tidak perlu mengusir kami," ujar Sasuke jelas dan tegas. "Bahkan jika kau berniat membunuhku sebagai hukuman atau karma, atau apa pun kepercayaan kalian mengenai balas dendam, aku tidak akan melarikan diri."
Ino terkesiap dengan pernyataan Sasuke barusan. Ia nyaris meloloskan teriakan protes saat tangan besar Sasuke menutup mulut Ino.
"Tapi, sebagai sesama orang yang pernah dikuasai dendam, izinkan aku bertanya pada kalian."
Dansei menyipitkan mata kelamnya. Kini perhatian Sasuke mengarah sepenuhnya pada pemuda tanggung tersebut.
"Apa yang kalian dapat setelah membunuhku?"
Seketika, riuh-rendah itu lenyap. Keheningan mendera mereka. Dansei pun hanya bisa membelalakkan matanya.
"Apa ibumu bisa kembali?" tantang Sasuke tanpa mau repot-repot memikirkan perasaan orang di hadapannya. Sesaat, ia merasa napasnya menjadi lebih sesak, tapi ia tak mau terlampau menghiraukan. "Apa semua yang telah hilang, bisa kembali?"
Seolah berhasil mendapatkan jawaban, Dansei mendadak tersenyum. Sinis.
"Kami tak perlu mendapatkan apa pun, cukup kau menanggung karma dari perbuatan yang telah kaulakukan di masa lalu."
"Baiklah, aku ... paham," balas Sasuke dengan napas yang mulai tersengal. "Namun ... bagaimana jika sebenarnya, semua yang kaubilang perbuatanku, bukanlah perbuatanku? Lalu kalian ... yang memaksakan karma padaku—apa yang akan terjadi pada kalian?"
Kasak-kusuk kembali terdengar. Sebagian mulai mempertanyakan kebencian yang selama ini mendekam di hati mereka—yang lain pun mulai mempertanyakan dendam yang ditanamkan pada mereka tanpa mereka tahu apa-apa.
"Sasu—?" Dari sela mulut Sasuke, Ino bergumam.
Ino bukan terpesona pada kata-kata Sasuke yang seakan bisa membalikkan keadaan, ia lebih mencemaskan laki-laki yang kini semakin terlihat pucat tersebut. Mata biru kehijauannya meneliti kondisi Sasuke sebelum perhatiannya tertumbu pada luka kecil di puncak telinga kanan Sasuke.
"Sudahlah! Uchiha! Yamanaka! Sebaiknya kalian—"
Seketika, sesuatu yang tak pernah terbayangkan itu pun terjadi. Pemandangan mengerikan itu mengundang pekikan sebagian besar penduduk wanita yang ada di sana. Youdan-houshi memang tidak berteriak, tapi matanya terbelalak ngeri menatap Sasuke sebelum ia menoleh ke putra semata wayangnya yang tak menunjukkan reaksi berlebihan, bisa dibilang, Dansei sama sekali tak bereaksi seakan ia sudah bisa memperkirakan bahwa inilah yang akan terjadi.
Begitu cepatnya darah itu tumpah dari mulut Sasuke. Kemudian, batuk-batuk parah yang tak terhindarkan menggema di sela-sela pekik kengerian. Sasuke mati-matian hendak mengeluarkan sesuatu yang seakan mengganjal kerongkongannya sekaligus menghalangi jalur pernapasannya. Dalam sekejap, tubuhnya pun merasa lemas dan kakinya seakan tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya.
"Sasuke-kun! Sasuke-kuuunnn!" teriak Ino sambil menahan tubuh Sasuke. Tak dihiraukannya tangan dan bajunya yang sudah ternodai oleh warna merah darah Sasuke. Ia hanya bisa meringis dan menoleh pada siapa pun yang tertangkap indra penglihatannya. "Seseorang! Tolong bantu aku!"
Awalnya, tidak ada yang bergerak. Ino nyaris putus asa. Namun kemudian, suara yang familier membuat Ino merasa sedikit tenang. Nenek Sumiyo telah ada di sampingnya—entah sejak kapan—dan ia pun kemudian membantu Ino membopong Sasuke dengan tenaganya yang tak seberapa.
"Ibu! Tsk!" Youdan-houshi langsung bergegas ke arah Ino dan Sumiyo lalu menggantikan ibunya—dan juga Ino—untuk memapah Sasuke seorang diri. "Kalian benar-benar merepotkan!"
Ino mengernyitkan alis tanda tak suka. "Sumimasen? Apa katamu tadi?"
"Ino," Sumiyo memperingatkan dengan lembut, "sebaiknya, kita fokuskan pada kesembuhan Sasuke terlebih dahulu. Dilihat dari reaksinya barusan … kemungkinan besar, dia terkena racun."
Mendengar penuturan Sumiyo yang semakin menguatkan dugaannya membuat Ino, tanpa sadar, menoleh ke belakang. Ia pun beradu pandang dengan Dansei yang tengah memapah Ryuu yang belum juga sadarkan diri. Keduanya menatap sengit tanpa mengatakan apa-apa sebelum Dansei membuang muka dan lalu meloncat menaiki atap rumah—meninggalkan begitu saja kerumunan yang mulai mempertanyakan aksinya barusan. Tak lama, laki-laki bermata kelam itu sudah tak terlihat lagi sosoknya.
Kepala Ino menggeleng perlahan. Kemudian, kakinya melangkah mengikuti jejak Youdan-houshi dan Sumiyo yang sudah memasuki rumah persembunyian milik Dansei.
***つづく***
1) houshi= sebutan untuk biksu (sumber: wikipedia)
Yak! Chapter 11 yang sedikit lebih panjang dibanding chapter pendahulunya. Hahaha. Iya, belum terlalu ada hints SasuIno-nya. Maaf yak, kita akan lebih serius dulu membahas permasalahan kehidupan Sasuke #tsaaah tapi ada hints DanRyuu, 'kan? /lho/ XD
Terus di chapter ini jadi tukeran deh, Sasuke yang sekarat. Mwahaha. Apa deh SasuIno ini hobinya luka mulu. Dansei malah nggak kenapa-kenapa~ :')
Eh, btw, Mulyono udah punya nama, jangan panggil dia Mulyono lagi yah. Panggil saja dia Mulyoudan #yay!
Btw, ini sedikit … kenistaan yang muncul di kepala saya pas ngetik chapter ini XD
POJOK (SOK) GAHOEL!
Sumiyo memperlihatkan bola kristalnya dan memasang wajah lebih serius dibanding sebelumnya. Ia terbatuk-batuk sejenak sebelum berkata,
"Sebenarnya, ada alasan mengapa aku memperingatkan Youdan mengenai kedatangan kalian."
Sasuke dan Ino mengernyitkan alis. Mereka saling berpandangan dan kemudian menelan ludah sebelum kembali mengamati sang peramal.
"Kalian membawa bahaya bagi desa ini … dan itu karena …," Sumiyo memberi jeda sejenak, "Sasuke-kyuun terlalu ganteng, sih! Pasti kamu akan menebar kebencian di antara para lelaki jomvlo di desa ini, juga pertarungan sengit di antara para wanita-wanita kesevian. Aku hanya tidak mau ada pertumpahan darah tak berarti di desa yang sedang memulai pembangunannya kembali ini. BAHAHAHAHA-ohok! Ohok!"
"Aiyaa~ Ibu! Mulia sekali alasanmu! Youdan terharu~!"
Krik.
Lalalala!
Alasan jujur Sumiyo barusanlah yang menjadi awal dari percik perang yang akan segera tumpah dalam sekejap mata. Tuh, kedengeran kan suara Grabak Grubuk Bruak Desh Dooong! yang diikuti desahan-desahan gaje?
Korban sampai saat ini: dua orang.
THE END
Semoga menikmati! XD
Btw, saya balesin dulu yak review non-login yang sudah masuk. Yang review login boleh cek PM kalian :D
JelLyFisH: Ino … kena panah … biar … seru? #plak X"D
uchiha jani: haioo maunya yg mana XD kembangkan imajinasimu! Hehe. Syukurlah kalau kamu terhibur XD
xoxo: syiip, ini chapter barunya, silakaan~ ;)
L. zy: apa coba? XD ah, kalau sasuke-nya boleh mati gak? #plak
yuki22: *tarik-tarik n seret biar gagal move on* *evil smirk*
kiwi: mungkin maksudnya kegiatan olahraga malam, atau tidur di bawah selimut tanpa AC, pas musim panas lagi~ #plak
kuroba: if our love is tragedy why are you my remedy~ /lah malah nyanyi/ kalau keinget obat keinget lagu ini, sih X"D eeh, kira-kira berapa desa lagi hayo? Maunya berapa lagi? XD
Kuroba (pakek K kapital (?)—orang yang sama gak sih? OAO): i-iya, maaf kalau kelamaan yah. Ini udah di-update. Hehe.
amay: ihiy! Makasih juga udah review XD iya dong, sasuke kan sudah gede, udah bisa pipis berdiri (?)
Guest (1): silakan lanjutannya~ :D
Sasulvr: maaf yak, gak bisa cepet-cepet update-nya X")
Guest (2): hahaha, iyah tenang yah, pasti dilanjut kok. Memang masih gantung, kan masih to be continued (?) XD
AP. Hatake: aww, jadi terharu ada yang setia menungguku~ /bukan kamuuu/ X"D ini lanjutannya, silakaan~ jangan guling-guling lagi, ya, tuh lantainya retak (?) /plak/
Nah, selesai deh balesan ripiu-ripiu-nya. Seperti biasa juga, buat yang silent reader (kalau ada), buat yang udah nge-fave dan nge-alert juga, terima kasih yang sebesar-besarnya! *hug you all*
Last but not least, jangan lupa beritahukan pendapat, pesan, kesan, kritik tentang chapter ini via review. Okay, okay? XD
I'll be waiting.
Regards,
Sukie 'Suu' Foxie.
~Thanks for reading~
