Title : Remember
Cast : Wu Yifan / Kris, Kim Joon Myun / Suho, KrisHo Pair,
Rating : T
Genre : Romance, Drama, Fluff, Hurt / Comfort (bisa jadi)
.
.
Stand by your side
Always
.
.
Remember
[Chapter 11]
.
Suho bahagia.
Karena Kris memberinya banyak cinta untuk membuatnya lebih bahagia lagi.
.
.
Gerimis.
Bau tanah basah menusuk hidung Suho yang membuatnya kembang kempis, dia tak henti-hentinya berjongkok di halaman rumah sambil mengenakan sweater kebesaran yang lengannya menjuntai hingga melewati ujung-ujung jemarinya. Melihat rumput mulai tersiram air yang jatuh dari langit membuat Suho mengadahkan tangannya, membuat air mengenai tangan lembut itu, Suho merasakannya, dingin. dengan helaan nafas panjang, namja mungil itu menenggelamkan wajahnya pada sweater, rasa kecewa perlahan menyelemutinya saat dia sadar hujan bertambah deras.
Hanya satu alasan kecil sebenarnya.
Kencan-bersama-pacar-barunya-batal.
Dan Suho menjadi uring-uringan sejak 30 menit yang lalu. Sekarang hujan semakin deras dan Suho memundurkan langkahnya sebelum dia merasakan sepasang telapak tangan lebar menarik tubuhnya menjauh dari teras rumah yang mulai tersiram air. Suho diam dan membiarkan Kris membawanya ke dalam rumah. Menutup pintu dan mendudukkannya di sofa dekat jendela, yang di dekatnya sudah ada 2 cangkir teh dan satu teko persediaan jika sewaktu-waktu teh di dalam cangkir itu habis.
"Earl grey," Kris berkedip saat Suho menatapnya ingin tahu.
"Teh?"
Dengan anggukan kecil Kris menjawab, dan memberi isyarat pada Suho untuk meminumnya. Suho mengendus baunya, mencicipinya denan ujung lidah sebelum meneguknya perlahan. Entah kenapa, Suho merasa dijalari rasa hangat saat itu, perasaannya, jadi terasa lebih tenang.
"Masih marah?" Kris bertanya sambil menyunggingkan senyum kecil melihat Suho yang hanya diam di depannya.
"Aku tidak marah," jawabnya pelan. Seraya meminum teh itu lagi, Suho memandang jendela, hujan bertambah deras dan angin menggentarkan jendela, menghempaskan ranting-ranting rapuh pohon maple.
"Aku tahu kau kecewa, tapi tidak perlu menyalahkan hujan, kita bisa kencan di luar kapanpun kau mau…"
"…"
"…namun untuk saat ini, aku tidak mau membawamu keluar karena aku takut kau sakit saat terkena angin dingin dan kehujanan nantinya."
Suho mengangguk-angguk kecil, menyadari bahwa Kris sangat memperhatikannya. Perlahan rasa kecewa itu berkurang, seiring dengan habisnya teh di cangkirnya, semakin pula Suho merasa nyaman. Walau diluar angin bertiup sangat kencang dan menggoyangkan ujung pohon maple yang daunnya sudah hilang.
"Kita bisa berkencan disini, hei … jangan kira aku tidak punya apa-apa di rumahku. Kau bisa katakan apa yang kau inginkan."
Suho tertawa saat Kris menuding hidung kecilnya. Dia tersenyum, dan mengisi cangkirnya dengan teh lagi.
"Aku ingin makan, yang banyak."
Kris meletakkan cangkir yang tadi diangkatnya dan mencibir kecil, "Kau bisa gendut kalau terus-terusan makan. Tapi kalau itu maumu, aku mungkin bisa membuatkanmu beberapa makanan kecil untuk dimakan sampai nanti malam."
Kini Suho benar-benar tertawa lepas, senyumnya melebar saat Kris menarik pergelangan tangannya, mengajaknya berdiri dan melangkah menuju dapur, untuk kesekian kalinya, Suho sangat suka saat-saat seperti ini. Dimana rambut coklat lembutnya dibelai dengan sayang, Kris sendiri menyukainya, saat-saat dimana semuanya terlihat begitu apa adanya.
.
.
Suho mengenakan sebuah celemek putih dan Kris membantunya menggulung lengan bajunya sampai siku. Sebenarnya Suho agak ragu, apa Kris bisa memasak atau tidak, namun dia menyukai saat dimana mereka berdua seperti ini.
"Kau mau cheese fries? Atau smore? Atau juga gingerbread?"
Mata bulat Suho tak berkedip saat melihat buku kumpulan resep kue kecil di depannya, saat Kris memintanya untuk memilih, Suho hanya bilang dia ingin smore saja. Dan coklat panas, itu sudah cukup. Tapi matanya melirik juga ke resep lain yang tampaknya enak.
"Aku selalu ingin menikmati saat seperti ini."
Suho menoleh dan melihat Kris yang mengeluarkan bungkusan marshmallow dari dalam cabinet dapur. Coklat batangan di tangan kanannya dia letakkan di atas meja dan menatap namja jangkung itu lebih dalam.
"Entah kenapa, aku sangat suka, cinta yang sederhana."
Suho tersenyum kecil melangkah mendekat dan melingkarkan lengannya di perut bidang namja jangkung itu, sambil menunggu Kris yang akan mengelus rambutnya.
"Aku juga suka, entah kenapa aku merasa kalau aku belum pernah merasa senyaman ini. Ini membuatku tenang, dan merasa aman bersamamu."
Suho memberikan sebuah ciuman kecil di pipi tirus dokter muda itu, membuatnya mendapat balasan berupa pelukan yang lebih erat. Perasaan hangat dan nyaman lagi-lagi menguar, dan Suho hanya bisa berharap, semuanya akan terasa terus seperti ini.
Kris melepaskan pelukannya dan memberikan Suho sekotak biskuit berbentuk persegi dengan rasa kayu manis. Smore adalah makanan simple yang sering Kris makan waktu dia kecil, karena ibunya adalah orang yang sangat pandai di dalam urusan dapur, Kris sering sekali mendapatkan beragam makanan yang bahkan tidak dia temui di tempat lain. Makanan ringan itu hanyalah tumpukan dari biskuit jahe atau kayu manis, coklat, marshmallow, coklat dan biskuit lagi yang ditumpuk rapi dan dihangatkan di dalam microwave hingga marshmallow dan coklatnya meleleh.
Dan tampaknya, Suho akan sangat menyukainya.
Suho menumpuk biskuit, marshmallow dan coklat, menumpuknya berulang-ulang hingga tinggi dan memasukkannya ke dalam microwave. Selain itu, Kris membuat makanan lain, dia melelehkan coklat, mencelupkan beberapa buah marshmallow kedalamnya dan menunggu hingga coklat itu mengeras, sambil memberikan sebuah sentuhan akhir yaitu krim putih lembut dan membuat jus stroberi untuk minumnya.
Semua makanan yang mereka buat kemudian dipindahkan ke dalam kamar, di atas tempat tidur mereka menikmatinya.
"Kau suka?"
Suho mengangguk, dirasakannya tekstur kenyal marshmallow dalam mulutnya dan rasa manis dari coklat yang meleleh.
"Apa yang akan kau lakukan setelah ini? mau tidur?"
Suho angkat bahu, dia mencomot butir marshmallow coklat sebelum mendempetkan tubuh ringannya ke badan Kris yang lebih besar darinya, untuk saat ini, Suho ingin semuanya mengalir begitu saja, tidak ada apapun yang menganggu dan perasaan senyaman ini, dia ingin terus merasakannya.
"Sebelum tidur nanti aku ingin kau menggosok gigimu, bau coklat."
Dengan anggukan kecil, Suho mengangguk, Kris memang benar, nafasnya selain bau coklat juga bau kayu manis.
"Bagaimana dengan keadaanmu sekarang? apa ada sesuatu yang kira-kira menganggu pikiranmu, atau bagian tubuhmu yang kira-kira sakit?"
Suho memikirkannya sebentar sebelum menggeleng kecil.
"Tidak. Yifan sudah menjagaku dengan baik. terima kasih."
Kris mengangkat alis "Benarkah?"
Dengan pasti Suho mengangguk dan menyibakkan poninya yang mulai panjang. Sambil tersenyum, namja bermarga kim itu berusaha meyakinkan Kris kalau dirinya sedang dalam keadaan yang normal dan tidak ada yang salah.
"Sebenarnya, aku orang yang agak membosankan, aku berharap kau betah tinggal disini."
Tidak tahu arah pembicaraan, Kris entah kenapa mengatakan hal ini, dia melirik piring camilan kecil itu yang mulai menipis dan jus di dalam gelas yang tinggal setengah.
"Aku tidak mengerti kenapa sedari tadi kau mengatakan hal aneh yi, tapi jangan bernada menyesal begitu. Aku suka kok, tinggal denganmu, aku menyukaimu."
Hal aneh?
Benar juga.
"Apa segala yang ada disini membuatmu bosan?"
Suho yang beberapa detik lalu turun dari ranjang menoleh ke arah Kris dengan dahi mengerut dan tatapan bingung.
"Bosan?"
"Aku takut kau merasa tidak nyaman dengan ini, denganku dan dengan apapun. Entahlah, meskipun kau bilang suka tapi aku masih sedikit meragukannya."
Lagi-lagi, hal aneh yang Kris bicarakan.
"Yifan kehabisan bahan pembicaraan? Yifan bisa membicarakan hal apapun asal jangan pertanyaan aneh begitu, aku sudah bilang, aku suka apapun yang ada disini, apapun tentangmu."
Untuk kali pertama ini, Suho bicara dengan sangat lancar dan tegas.
"Maaf, aku hanya ingin menanyakannya saja."
Suho mendekati Kris dengan terburu-buru, namja tinggi yang duduk di pinggiran ranjang itu terkejut saat namja mungil yang mengenakan kaus kaki berwarna toska itu mendekatinya, menempelkan bibir mereka berdua.
Kris terkesiap sebelum menutup matanya saat bibir namja mungil itu menggigitnya dengan sangat canggung, dan Kris mengerti, Suho malu sekarang. Meskipun ini untuk meyakinkan perasaannya, Suho merasa gugup.
"Aku mohon…"
Suho berucap setengah tersenggal, disela-selanya.
"…jangan meragukan ini."
Namja jangkung itu tersenyum, menangkup sebelah pipi tembam Suho dan mengusapnya perlahan, Kris mengerti, dia tak punya alasan untuk meragukan perasaan Suho terhadapnya.
"Mian."
Suho bergidik karena friksi getaran di sekujur tubuh berkat sentuhan tangan lebar kekasihnya di pipi dan tengkuknya, geli.
"Aku tahu aku salah meragukanmu."
"…"
Kris membawa namja ringan itu ke atas tempat tidur dan mendudukkannya di pangkuan. Memeluknya sangat erat, tidak ingin kehilangannya lagi, Kris sudah cukup kehilangan ingatan Suho dan dia tidak ingin kehilangan raganya. Kris sudah berjanji, untuk menjaga Suho baik-baik.
"Kau membuat suasana jadi seperti ini yi, aku ingin tidak ingin sedih lagi."
"Apa ini membuatmu sedih?"
Saat Suho merasa Kris membelai rambut di belakang kepalanya, Suho mengangguk kecil, dan mencengkram halus kaus abu-abu milik namja tinggi itu.
"Sedikit."
"Oke maafkan aku, suasana suram seperti ini memang membuatku jadi agak aneh," Kris membelai apapun di tubuh kekasihnya dengan lembut dan berusaha menghilangkan perasaan mengganjal di hatinya.
Masih dalam pelukan, Suho tersenyum kecil dan mengangguk.
"Yi, apa kita selalu seperti ini sebelum aku amnesia?"
Terlihat Kris sedikit menimbang-nimbang jawaban dalam otaknya, sesekali dia melirik kekasihnya yang sedang duduk bersila tepat di hadapannya, menanti jawaban yang keluar dari bibir tebal kris saat itu.
"Sepertinya tidak, kita belum jadi sepasang kekasih seperti ini. tapi untuk, makan bersama dan hal-hl kecil ini kita pernah melakukannya, tapi tidak sering, kita berdua sangat sibuk."
Mata bulat itu mengedip beberapa kali . Sesekali terdengar petir yang menyambar dan angin kencang yang menggetarkan jendela, Suho jadi sedikit bergidik, semua itu mengagetkannya. Sedikit membuatnya takut juga karena suasana jadi agak mencekam.
"Mendekatlah, aku tahu kau takut."
Tanpa disuruh dua kali, namja mungil itu mendekat ke tubuh besar Kris yang bersandar pada sandaran tempat tidur, sedikit terkejut saat Kris membungkus tubuh mereka berdua dengan selimut yang sangat lebar.
"Ada yang ingin aku tahu lagi, tentangmu…"
Kris menaikkan sebelah alisnya, mengisyaratkan Suho untuk melanjutkan ucapannya.
"Kenapa, kau menyukaiku, sampai seperti ini?"
Pertanyaan ini, sebenarnya sedikit riskan bagi Kris untuk dijawab, pasalnya, sampao sekarang dia tidak mengerti, apa jawaban yang pas untuk pertanyaan seperti ini.
Suho masih menunggu, wajah bulatnya di depan wajah Kris yang masih mencari jawaban. Dengan tidak sabar, Suho mendekat, menggesekkan hidung mereka berdua, membuat Kris terkesiap dari lamunannya untuk mencari jawaban.
"Hum?"
Dengan sebuah senyuman kecil, Kris balas menggerakkan hidungnya dengan milik Suho yang mungil, namja berambut coklat lembut itu kemudian menjadi tertawa-tawa kecil.
"Kau ingin mendengar jawaban tulus dariku?"
Tanpa pikir panjang Suho mengangguk.
"Sejujurnya …. aku tidak tahu Joon, perasaan sukaku padamu mengalir begitu saja. Aku menyukaimu, karena aku merasa… entahlah, aku tidak tahu alasannya, yang jelas aku merasa menyukaimu adalah hal yang benar. Bersamamu dan menjagamu, aku merasa itu semua adalah hal yang bisa aku lakukan karena aku memang sangat tulus menyukaimu. Kau mengerti?"
Meskipun bukan jawaban yang pasti, Suho tahu, jawaban itulah jawaban yang sebenarnya tulus, membuat hatinya mendingin dan semua yang ada pada diri Kris dan semua perlakuannya untuk Suho, terasa seperti suntikan morfin. Dia menginginkan lagi, lagi dan menjadi kebutuhan.
"Apa aku bisa terus bahagia seperti ini?"
Kris angkat bahu, tapi selanjutnya dia menangkup sebelah pipi Suho, mengusapnya sebentar, "Aku tidak bisa menjaminmu bahagia selalu, tapi kalau denganku, aku pasti akan mewujudkannya untukmu."
Namja mungil itu berjengit, tersenyum dan mengangguk saat Kris menyelesaikan kalimatnya, bahkan saat tubuh kekar itu mengurungnya, Suho hanya diam, membiarkan namja itu merunduk, menangkup bibir tipisnya dengan lembut. Untuk saat ini, di saat jantung dan hatinya berdebar dan berkecamuk perasaan bahagia yang tidak dapat didefinisikan, Suho merasa dia belum pernah sebahagia ini sebelumnya. Hanya dengan Kris, Suho merasa dia berada dalam suatu perasaan aneh, begitu nyaman, hangat, terlindungi dan bahagia, semuanya terasa begitu sesak.
Ciuman itu berakhir, sedikit kecewa Suho menjauhkan wajahnya, memasang senyum malu-malu dengan tangan kanan berada di leher Kris, wajahnya yang merah dan mata beningnya yang berkilau, membuat Kris ikut tersenyum, merasakan hal yang baru pertama kali ini dia rasakan.
"Aku ingin memperlihatkan sesuatu untukmu. Mungkin bisa membuat ingatanmu kembali, kalau kau ingin melihatnya, aku akan perlihatkan padamu. Bagaimana? kau mau?"
Namja pendek itu mengangguk kecil sementara Kris kemudian mengambil sesuatu dari rak di meja nakasnya, yaitu satu buah album foto besar dan satunya lagi adalah buku dengan ukuran yang lebih kecil.
"Album?"
"Tidak masalah kau tidak ingat, karena aku hanya ingin menunjukkan padamu, bagaimana kita yang dulu."
Album berwarna merah maroon itu terbuka, halaman pertama yang dia lihat adalah sebuah foto, ditaman hiburan, ramai sekali. Dan dia menyadari, jika namja yang mengenakan mantel biru muda itu adalah dirinya, mengenakan bando kelinci dan tersenyum sangat lebar, tangan kanannya memegang botol cola.
"Aku?"
Kris menatap Suho dengan senyuman kecil, "Kau, yang memaksaku ke tempat hiburan disaat aku sedang libur. Masih sangat jelas di kepalaku, bagaimana kau mengajakku berlari kesana kemari hanya karena ingin naik wahana. Waktu pulang aku langsung terkapar tak berdaya di kamar."
Halaman lain terbuka dan Suho tanpa sadar melebarkan matanya saat dia melihat boneka salju setinggi lebih dari 2 meter disana, ada dirinya, memeluk perut boneka bulat yang besar itu, ada Kris di sampingnya serta Chanyeol dan Baekhyun yang duduk di depan boneka gendut yang dingin itu.
"Musim dingin tahun lalu. Minggu depat mungkin salju sudah turun, kita bisa bermain dan membuat boneka seperti ini lagi, kita ajak juga Chanyeol dan Baekhyun. Kau mau kan?"
Tak perlu sebenarnya Kris bertanya, Suho sudah menjawab dengan pasti "Tentu saja, aku mau. sepertinya sangat…. Menyenangkan."
Lembar demi lembar foto terbuka, banyak sekali, semuanya tentang dia, dan buku yang lebih kecil itu adalah sebuah scrapbook, hadiah untuk Kris dari Suho saat dokter itu berulang tahun.
"Aku masing ingat kau mengatakannya padaku kalau kau membuat buku ini semalaman penuh tanpa tidur semenitpun."
"…"
"Aku juga masih ingat, karena kau kelelahan membuat buku ini, kita tidak jadi keluar untuk makan ramen bersama dan malah menghabiskan waktu tidur dan makan kue disini, di rumahku."
"Aku… yang membuatnya? Sungguh?"
"Apa kau masih tidak percaya, namamu ada di bagian depannya, semuanya, tulisan tanganmu, gambarmu juga. semua ini, mungkin kau tidak mengingatnya, tapi aku berharap kau akan sedikit ingat tentang ketulusan kita berdua dari awal."
"…"
"Suho…"
Namja berkulit putih susu itu menoleh saat Kris menyebut namanya seraya mengelus puncak kepalanya pelan-pelan dengan lembut.
"…aku tahu kau sedih karena telah kehilangan ingatanmu, tapi, aku hanya ingin meyakinkamu, kalau semua memori ini masih bisa tersimpan dengan cara yang lain."
Suho paham, semua buku ini adalah memorinya. Dia tidak kehilangan semua memorinya, karena ingatan itu masih bisa tersimpan dengan cara lain.
"Aku juga hanya ingin meyakinkanmu, kalau dulu, kau pernah bahagia melebihi sekarang. denganku, ayah ibu, keluargamu dan teman-temanmu… aku tidak mau kau merasa sedih."
Tidak tahu kenapa, mata coklat itu mulai sembab, bulir air kelauar dari ujungnya dan dadanya mulai naik turun tak beraturan. Namja mungil itu menatap Kris sebentar sebelum menghambur memeluk erat tubuh kekar Kris, bersamaan dengan itu, dia mengangis, halus, namun sedikit keras.
Ditepuknya pundak Suho lembut dan menciumi puncak kepalanya.
"Maaf, aku membuatmu menangis."
Suho menggeleng, perlahan semuanya terasa menyesakkan di dadanya, mulutnya yang terkatup dan dadanya yang naik turun bertambah cepat. Dengan sedikit keras, Suho terisak.
"Joonmyun…"
"Terima kasih, sudah menunjukkannya…."
Dia biarkan suho menangis saat itu, dia berikan bahunya untuk ditangisi dan mendekapnya dengan sebelah tangan sementara tangan yang lain memainkan ujung rambut pemuda bersweater abu-abu ini.
"…."
Isakan yang mulai reda dan nafas yang mulai teratur, Suho melepas pelukannya, menatap dalam mata Kris dan menempelkan dahi keduanya dengan perlahan, dia tersenyum merasakan nafas hangat Kris menerpa permukaan wajahnya.
"Aku tidak tahu…"
"…"
"…kalau aku pernah sebahagia itu sebelumnya."
.
.
.
TBC
.
.
Annyeong.
HUWAAA
I know I have no right to apologize. I left this story for a very long time. I know… and I'm deeply sorry. I always wanted to write but my activity didn't allow me to do.
MIAAAAANNNN, Rae terakhir kali update waktu idul fitri dan sekarang malah sudah lewat idul adha…
Oke, jadi, maafkan Rae karena Rae enggak update lama sekali, bukan tanpa alasan, Rae tidak punya waktu untuk melanjutkan ini. Sungguh, Rae tidak bohong karena SMA Rae yang baru ini bersistem fullday dormitory dimana dari pagi hingga malam punya rupa-rupa acara, belum lagi ujian, deadline tugas dan proposal, kegiatan organisasi dan lomba di saat yang bersamaan.
Dan hasilnya tidak memuaskan di chapter ini, Rae tahu dan sekali lagi minta maaf.
Untuk chapter depan, doakan agar tak ada penghalang yang berarti hingga Rae bisa lanjut lebih cepat.
Terima kasih untuk yang sudah mendukung dan masih setia menunggu, Rae marasa sangat dihargai menjadi seorang author.
Sampai jumpa di chapter depan.
Kamsahamnida
Annyeong!
.
/superdeepbow/
.
SungRaeYoo
