Sakura masuk kerja seperti biasa lagi. Temari langsung memberondongnya dengan seribu pertanyaan sementara Naruto hanya mampu menatapnya dengan iba. Sejak pertama kali ia melihat gadis itu, entah kenapa wajah sayunya itu terlihat sangat lelah, seperti sehabis menanggung beban dunia seperti Atlas. Sampai sekarangpun rasa ibanya tidak pernah berkurang pada Sakura.

Sakura mengambil beberapa benang dan mulai merajut asal. Temari sedang mengajari beberapa anak muda yang singgah di toko mereka dan tertarik untuk merajut––mungkin seusia Sakura––. Ia tidak sadar kalau Naruto sudah datang dari arah belakang dan menempelkan sekaleng soda dingin ke pipi kanannya.

"Ah. Hei." Sapa Sakura, kembali terfokus pada kerjaannya.

"Atlas, apa manusia semakin banyak saja sehingga bumi yang kau topang semakin berat?" tanya Naruto dengan mata jenaka, meskipun makna pertanyaannya tidak jauh berbeda dengan maksud pertanyaannya yang sebenarnya. "Orangina."

Sakura tersenyum, meraih kaleng itu dari tangan Naruto. "Thanks."

Naruto menarik kursi dan duduk di samping temannya itu, merebut pekerjaan Sakura dan melanjutkan rajutannya. "Kau tidak masuk kerja kemarin. Dan sekarang kau tampak seperti monster––coba lihat mata merah bengkak itu. Kau cocok menjadi model di iklan obat tetes mata, kau tahu?"

"Pujianmu manis sekali." Sakura terkekeh pelan, menghirup udara kuat-kuat dengan hidungnya yang memerah dan berair. "Tapi aku tetap cantik, kan?"

"Yah, aku tidak bisa berbohong. Una lebih cantik."

"Una? Anjing sosismu itu?"

"Dachshund. Ya. Una. Anjingku."

"Mati kau, nanas."

Naruto tertawa, memandang Sakura dengan sorot mata jenakanya lagi. "Kau tahu? Aku lebih suka kau mengutuk dan menyumpahiku, dibandingkan dengan menjadi lesu seperti tadi. Jangan sampai hal-hal yang sepele membuatmu menjadi sedih, Haruno. Banyak orang yang menyayangimu."

"Kau sendiri? Kau sayang padaku?" tanya Sakura geli.

"Tentu saja. Maksudku, kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri."

"Aku juga tidak berniat menjadikanmu pacarku."

"Dasar!"

Naruto bangkit dari duduknya dan memiting Sakura dengan cepat. Mereka berdua berteriak dan saling memaki, membuat para gadis yang sedang belajar pada Temari dan menoleh dengan heran.

"Kakak dan adik. Sudah biasa." Ujar Temari menjelaskan, membuat mereka mengangguk-angguk walau masih tidak paham.

Sakura melepaskan pitingan Naruto dari lehernya dan mencubit perut laki-laki itu. "Kau bilang wajahku seperti monster, tapi kau membuatnya terlihat lebih seram lagi sekarang! Dasar pembual!"

Begitulah. Kalau sudah bekerja dan bertemu dengan Naruto, Sakura dapat melupakan beban yang sedang dirasanya sejenak. Bukan karena Naruto menghiburnya, tapi percayalah, Naruto itu sangat menjengkelkan. Dibanding bersusah-susah marah pada dirinya sendiri, Sakura akan lebih senang memarahi Naruto.

Pikirannya teralih dari Kakashi. Kakashi yang meremukkan hatinya, yang ternyata memacarinya karena suruhan orang lain dan berdasar rasa kasihan belaka. Ia merasa dirinya sangat hina sehingga ada orang yang sampai mau berada disampingnya hanya untuk menyalurkan rasa kasihannya pada dirinya sendiri.

Menyedihkan.

Beberapa jam kemudian, Temari bangkit dan membalik tanda open menjadi close. Dia menatap Sakura yang sedang membereskan benang dan Naruto yang sedang merebahkan tubuhnya di atas meja, lalu menggelengkan kepala ketika tahu kalau dua rekannya itu tidak melakukan apa-apa sejak tadi.

"Hari ini lumayan. Kita berhasil menjual dua puluh gulung benang. Aku tidak menghitung aksesoris lainnya." Ujar Temari, duduk di salah satu bangku dan menatap dua orang di depannya. "Yang lebih bagus lagi adalah, sebuah keluarga meminta kita untuk membuat sweater untuk keluarga mereka. Dengan harga berapa saja. Bukannya serakah, tapi itu berarti mereka akan tetap membayar walaupun kita menggunakan benang terbaik. Maksudku, termahal."

Naruto tersenyum, memandangi kuku jarinya yang kotor. "Untuk keluarga." Ujarnya sambil mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, menirukan orang yang bersulang. "Untuk keluarga!"

"Untuk keluarga!" sahut Temari, menirukan gerakan Naruto.

"Untuk dua orang gila di depanku." Sakura ikut bergabung, dengan hadiah dua jitakan di keningnya dari masing-masing orang yang ia hina.

Sakura tersenyum, menyandarkan kepalanya pada bahu Temari.

"Kau tidak pulang? Sudah cukup malam." Ujar Temari, menatap jam dinding. "Bukankah kau bilang kau naik bus kemari?"

"Malas. Aku malas bergerak." Keluh Sakura, namun akhirnya bangkit dan memandang dua temannya. "Aku pulang saja. Aku akan lebih malas lagi kalau pulang lebih lama. Temari, aku pulang dulu. Hati-hati sendirian di toko, ya."

Naruto menggeram kesal, melempar Sakura dengan gulungan kertas yang ada disampingnya. "Memangnya aku ini apa?!"

Sakura terkekeh pelan, memakai jaket panjangnya dan berjalan keluar toko. Ia malas berganti baju. Ia ingin langsung pulang––ke rumah Shikamaru maksudnya––dan tidur. Kalau bisa, berbicara sebentar dengan bosnya––orang tua Shikamaru––tentang kondisi toko agar tidak dianggap sebagai tamu kurang ajar.

Gadis itu turun dengan eskalator dan berjalan sambil memeluk dirinya sendiri. Udara diluar pasti dingin. Ia terlalu malas untuk mengeluarkan syal dan topi rajutnya, karena menurutnya langkah cepat-cepat dan usapan tangan pada dirinya sendiri akan membuat dirinya tidak terlalu kedinginan.

Langkanya berhenti tiba-tiba saat sedang melewati parkiran mobil. Gurunya, Kakashi Hatake, mantan kekashinya, sedang menyandarkan diri pada mobil alfa romeo yang akhir-akhir ini dihindarinya. Kepala peraknya menengadah menatap sinar bulan, dan rambutnya sedikit berkilauan. Mungkin karena perak itu memang indah, Sakura tidak tahu...

Kakashi menyadari ada seseorang yang khusus berhenti untuk memandanginya, dan sebuah senyum––pahit, mungkin? ––tersungging di wajah pucatnya. Ia mendekat, dan Sakura sama sekali tidak berniat untuk berjalan menjauh. Ia meraih tangan Sakura, dan gadis itu sama sekali tidak berniat untuk menarik tangannya ataupun menampar pipi gurunya itu.

Karena tidak bisa dipungkiri, ia masih terus berharap. Bahwa semuanya bohong.

"Aku minta maaf, Sakura." Ujarnya perlahan, sudah tidak canggung lagi untuk memanggil gadis itu dengan nama Sakura, bukannya Haruno. "Untuk semuanya. Aku tidak memintamu untuk memaafkanku. Tapi jangan bersikap seperti ini kepadaku. Menghindariku bukanlah jalan terbaik, untukku, dan untuk dirimu sendiri.

"Aku seorang guru. Pekerjaanku adalah mendidik, dan perbuatanku memang sama sekali tidak mendidik. Karena itu, kumohon untuk tidak menyebarkan fakta bahwa kita pernah berpacaran. Sekolah akan memecatku, dan aku akan susah mendapatkan pekerjaan."

Hah?

Ehm, wow, ujar Sakura dalam hati, terkejut.

Gadis itu mengerjapkan matanya dengan tidak percaya, lalu segera tersadar dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

Sakura menatap gurunya itu dengan pandangan tidak suka. Setelah semuanya, kau masih sempat memikirkan dirinya sendiri?

Gadis itu baru saja ingin mendorong Kakashi menjauh ketika seluruh anggota tubuhnya menolak. Otaknya terus memberikan perintah tapi tangannya kaku.

"Aku hanya ingin berbicara itu saja. Maaf sudah membuatmu takut. Sampaikan maafku pada Yamanaka juga." Ujar Kakashi, berbalik dan meninggalkan Sakura.

Sakura menatap gurunya yang masuk ke dalam mobil dan menjauh, lalu mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia berteriak sebentar dan langsung melangkahkan kakinya lebar-lebar, menuju halte bus yang terdekat dan menunggu bus disana.

Ketika bus yang terakhir malam itu datang lima menit kemudian, Sakura naik dan mengambil tiket. Ia mencari-cari tempat dan hal tersebut sangat mudah karena jarang ada orang yang ingin naik bus malam-malam.

Ia duduk di samping seorang wanita yang sedang tertidur. Rambut panjangnya menutupi wajah wanita itu, membuat Sakura bertanya-tanya apa yang membuat wanita itu sangat lelah sehingga harus tertidur di dalam angkutan umum seperti ini. Sakura tidak ambil pusing, ia duduk dengan tenang dan menunggu sampai halte tujuannya sampai.

Sepuluh menit kemudian, Sakura berjalan ke depan dan hendak membayar tarif busnya.

Sial sekali.

"Dompetku dimana...?" desisnya bingung, mencari-cari dompetnya. "Naruto! Argh, sialan!"

Sakura teringat kalau tadi Naruto sempat meletakkan dompetnya di atas sebuah lemari penyimpanan benang, dan gadis itu dengan bodohnya lupa untuk mengambil barang fatal tersebut. Sementara ia mengutuk Naruto dengan segala sumpah serapahnya, sebuah tangan mendorongnya ke samping dan membayar tarif busnya.

"Sudah kubayar. Sekarang, minggirlah dan biarkan aku turun."

Suara berat itu membuat Sakura tersentak dan tanpa sadar langsung mempersilakan orang itu turun. Ia cepat-cepat keluar dari bus, dan mencari-cari asal suara baik hati yang mau membayarkan tarif busnya tadi.

Keningnya mengernyit. Ternyata teman sebelahnya bukanlah wanita, melainkan pria. Rambutnya memang panjang, tapi bahunya lebar dan wajahnya jelas sekali menunjukkan kalau ia adalah seorang pria.

"Hei." Panggil Sakura, memandang orang di depannya. "Terimakasih sudah membayar tiketku."

"Sama-sama." Ujarnya dingin, menyalakan korek dan menyulut rokoknya.

Sakura mengeluarkan ponselnya. "Boleh aku meminta nomor ponselmu? Aku akan membayarnya ketika aku sampai di rumah nanti."

"Menemuiku dimana? Kau boleh keluar di malam seperti ini?" tanya laki-laki itu dengan nada sedikit meremehkan. "Tidak usah. Bagaimana bisa kau meminta nomor ponsel orang yang baru kau temui? Lagipula uangku masih cukup untuk membayar tiket bus beberapa orang lagi."

Sakura sedikit kesal akan sikap arogan pria itu, namun ia telah membantunya agar bisa turun dari bus. Mau tidak mau, Sakura menuliskan nomor ponselnya di selembar kertas dan cepat-cepat menyelipkan kertas tersebut di tangan laki-laki itu.

"Telepon aku besok! Aku akan membayar tiketku!" teriak Sakura dari kejauhan seraya menyebrang jalan.

Sementara itu, Neji Hyuuga memandang gadis merah muda yang menjauhinya itu dengan pandangan bingung.

"Gadis aneh."

.

.

Sasori melambai ke arah Shikamaru dan Ino lalu berlalu dari rumah temannya itu. Ia menjalankan harley hitamnya menjauh dari rumah Shikamaru dengan bunyi menderu yang ditimbulkan motornya.

Begitu keluar dari komplek perumahan, sekitar sepuluh meter setelahnya, pandangan Sasori tertuju pada dua orang yang tampak sedang berbicara di sebuah halte. Ia mengenali sang wanita sebagai Sakura Haruno––alasan kenapa Shikamaru memintanya untuk mengawasi Kakashi dan Ino sepanjang hari di sekolah––dan sang laki-laki sebagai Neji Hyuuga.

Neji dan Sakura? Pikirnya bingung.

Ketika melihat Sakura berlari ke arahnya untuk menyebrang, Sasori dengan cepat menjalankan motornya kembali menuju tempat yang sedikit lebih jauh. Setelah aman, ia mengeluarkan ponsel hitamnya dan segera menekan nomor Shikamaru.

"Ada apa?" tanya Shikamaru di seberang sana.

"Apa Sakura Haruno sudah sampai di rumahmu?" tanya Sasori, memandang ke jalanan yang sekarang sudah lengang. "Dan tolong berikan ponselmu pada Yamanaka. Aku perlu berbicara padanya."

"Sakura belum datang. Tunggu sebentar."

Terdengar pembicaraan sebentar, lalu suara Ino masuk ke indera pendengarannya.

"Ada apa, senpai?" tanya Ino pelan.

"Yamanaka," ujar Sasori, memandang jam tangannya sekilas. "Aku baru saja melihat temanmu sedang berbicara dengan Neji. Siswa Akarui. Neji Hyuuga. Dia musuhku, dan dia brengsek. Bilang pada Sakura untuk menjauhinya. Jangan bilang kau dapat informasi ini dariku."

Ino terdengar sedang berbicara sebentar, lalu kembali menjawab Sasori. "Baiklah, senpai. Kalau ia tanya kenapa, aku harus jawab apa?"

"Jawab saja, karena Neji adalah laki-laki brengsek." Jawab Sasori kesal karena menyebut nama musuhnya itu. "Pada laki-laki. Apalagi pada perempuan. Intinya hanya satu. Dia brengsek."

.

.

Tapi Sakura sama sekali tidak mau mendengarkan Ino. Menurutnya Ino itu sok tahu dan hanya menilai orang dari rumor yang ia dengar. Neji itu baik. Dia mau membayar tiket Sakura. Gadis itu tidak mau tahu, yang jelas ia keras kepala sekali.

Hari ini mereka berangkat sekolah bersama––diantar Shikamaru––dan akan kembali pulang ke rumah masing-masing. Sakura tidak bertemu Kakashi sama sekali hari itu, dan ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Tadi malam mereka sudah bertemu dan tidak ada apa-apa yang spesial yang terjadi.

Dan siang ini, ketika sedang istirahat, Neji mengirimnya pesan.

Nona merah muda, temui aku pukul dua di toko buku Ishikawa untuk membayar hutangmu.

Entah kenapa, gadis itu merasa senang. Ia pamit pada Ino untuk pulang lebih dulu dan segera naik bus untuk menuju toko buku Ishikawa. Sesampainya disana, ia mencari-cari sosok pria berambut panjang yang membantunya kemarin.

Dan disana dia, sedang membaca sebuah buku dan rambutnya diikat ekor kuda. Wajahnya tampak serius, dan Sakura mengenali seragam itu sebagai sekolah Akarui. Ino tidak berbohong tentang itu.

"Hei!" sapa Sakura, membuat laki-laki itu terkejut dan menatapnya dengan kesal.

"Kau memang menyebalkan." Ujarnya, lalu memadang Sakura dari atas sampai bawah. "Kareina Sedai?"

Sakura mengangguk saat Neji menyebutkan nama sekolahnya.

"Bagaimana aku bisa membayar hutangku?" tanya Sakura langsung membuka topik.

Neji menarik keluar sebuah note kecil, lalu mengacungkannya pada Sakura.

"Ini?" tanya Sakura bingung, meraih note tersebut dan memandangnya dengan kening berkerut. "Kau yakin? Tapi ini lebih kecil dari hutangku, kan? Ambillah sesuatu yang lebih setara. Kalau seperti ini aku akan selalu merasa berhutang padamu."

Neji menghela nafasnya dengan kesal. "Aku minta ini saja. Sudah."

Sakura mengerucutkan bibirnya, lalu akhirnya mengangguk. "Baiklah. Es krim?"

"Tidak."

Walaupun Neji sudah menolaknya, tapi Sakura tetap menariknya untuk mencari-cari kedai es krim yang dekat dengan toko buku tersebut. Sakura membelikannya sebuah es krim cokelat ukuran jumbo dan gadis itu tertawa lepas ke arahnya.

"Lihatlah. Bahkan dengan wajah menyeramkan seperti ini kau masih seperti anak kecil." Ujar Sakura sambil terkekeh geli. Ia mengulurkan tangan kanannya yang menggenggam selembar tisu, lalu membersihkan sekitar wajah pemuda itu yang belepotan es krim. "Lain kali kalau makan es krim dengan seorang gadis, jangan seperti ini, ya?"

Neji memandangnya dengan kesal, namun bagaimanapun juga akhirnya ia tersenyum.

Sementara itu, dari kejauhan, sepasang mata memandang mereka dengan ekspresi tidak suka. Sasori meraih ponselnya, lalu menekan nomor Ino Yamanaka dengan tangan kirinya yang tidak memegang stang motor.

"Yamanaka," panggil Sasori ketika Ino sudah menjawab teleponnya. "Kau sudah memperingati temanmu itu apa belum?"

"Sudah senpai. Tapi Sakura tidak mau mendengarkanku." Jawab Ino, terdengar sedikit kesal.

Sasori menghela nafasnya, mengalihkan perhatiannya dari dua orang yang diamatinya sedari tadi sejenak. "Buat dia mengerti. Neji memang terlihat polos, tapi dia tidak seperti itu. Aku masih peduli dengannya sebatas teman satu sekolah, jadi aku meminta pertolonganmu untuk melindunginya."

Ino terdiam sebentar, lalu kembali angkat suara. "Senpai suka Sakura, ya?"

"Jangan banyak tanya. Lakukan saja."

Sementara itu, berpuluh-puluh kilometer darisana, Ino memandang ponselnya dengan bingung ketika Sasori memutuskan sambungan telepon mereka begitu saja. Ia masih berada di sekolah untuk menyalin catatan yang belum sempat di tulisnya tadi, dan sekarang ia masih malas untuk bergerak dari tempat duduknya.

Gadis itu tertawa ketika Sasori menjawab pertanyaannya dengan nada kesal. Yah, Sakura memang disukai semua orang. Ino tidak heran lagi.

Setelah mengucapkan salam pada beberapa teman yang masih tinggal di kelas, Ino berjalan menuju ruang loker. Di tengah koridor ketika bertemu Kakashi, ia sempat takut pada awalnya, namun pada akhirnya gadis itu menyapa Kakashi dan menghentikan langkahnya.

"Sensei," sapanya, membuat Kakashi menoleh dan mengangguk canggung.

"Yamanaka. Belum pulang?" tanyanya berbasa-basi, pribadinya berbeda seratus delapan puluh derajat dari sikapnya yang kemarin-kemarin ditunjukannya pada Ino dan Sakura.

Ino membalas senyuman Kakashi, lalu menggeleng. "Belum, sensei. Bisa kita bicara?"

Ketika Kakashi menyadari kemana arah pembicaraan ini, tanpa sadar pria itu mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju tempat duduk di pinggiran lapangan olah raga yang dekat dengan parkiran mobil. Sesudah Kakashi duduk tenang di sampingnya, Ino menghela nafas perlahan dan memulai pembicaraan.

"Aku tidak tahu apakah kau benar-benar menyukai atau tidak, dan aku sudah tidak mempermasalahkan itu lagi. Tapi," gumam Ino pelan, menarik nafas sebanyak-banyaknya yang ia bisa. "Sekarang, Sakura sedang berada dalam masalah––setidaknya itulah yang dikatakan oleh Sasori senpai."

"Sasori? Yang waktu itu menyela pembicaraan kita di ruang loker?" tanya Kakashi.

Ino mengangguk. "Iya."

Anak-anak ini, bersekongkol untuk membuatku kelihatan bodoh, desis Kakashi sedikit jengkel.

"Kami tidak tahu bagaimana tapi Sakura kenal dengan laki-laki itu, tapi senpai itu tahu dengan jelas seperti apa Neji." Ujar Ino, memandang Kakashi dengan ekspresi khawatirnya. "Aku takut, sensei. Senpai bilang kalau Neji itu laki-laki brengsek. Brengsek dalam artian sebenarnya, pada wanita."

Kakashi mengerti apa maksud pembicaraan Ino.

Ino memandang Kakashi dengan sungguh-sungguh.

"Aku akan melupakan semua dendamku pada sensei sampai saat ini. Tapi aku mohon satu hal pada sensei. Lindungi Sakura, tapi jangan buat dia sedih lagi." Ujar Ino pelan. "Karena hanya sensei yang dapat mengubah cara pikirnya, membuat Sakura mengerti."

Ino bukannya berkata seperti itu tanpa alasan. Ia sudah melihat perubahan positif yang terjadi pada diri Sakura ketika gadis itu berpacaran dengan Kakashi––walaupun saat itu tidak diakuinya karena mereka mogok bicara––dan Ino kagum pada kemampuan Kakashi mengubah cara pandang Sakura.

"Tolong, sensei."

.

.

Sakura pulang dari tempat kerjanya dan langsung naik bus begitu bus tersebut datang. Hari yang cukup menyenangkan, berkencan sampai jam bekerjanya mulai. Gadis itu merenungkan hidupnya sejenak dan berusaha untuk mengulas jalan hidupnya sampai hari ini yang terasa begitu kompleks dan tidak terduga.

Ponselnya bergetar. Nama Kakashi tertera di layarnya, membuat kening Sakura berkerut.

"Halo..." jawabnya pelan, sembari menatap ke luar dengan pandangan lelahnya.

"Kau belum pulang dari bekerja?" terdengar suara berat Kakashi di seberang sana.

Sakura tersenyum kecil, dan siapapun bisa melihat kalau senyuman tersebut adalah sebuah senyuman sedih. "Belum, sensei. Dan bukan urusan sensei juga, sebenarnya."

Mereka berdua terdiam setelah pernyataan tajam itu terlontar dari bibir Sakura. Bunyi bus menggema memenuhi indera pendengaran Sakura, dan gadis itu akhirnya dapat mendengarkan suara helaan nafas berat Kakashi di seberang sana. Tanpa sadar Sakura sedikit sedih mendengar helaan nafas itu.

"Dimana sekarang?" tanya Kakashi lagi.

Sakura menatap keluar jendela sebentar. "Lima menit lagi aku sampai di halte bus depan perumahan."

"Akan kujemput."

Sakura mengerutkan keningnya tidak enak. "Eh? Sensei tidak perlu repot-repot."

"Aku ada di depan rumahmu sekarang. Kita harus berbicara."

Penggunaan kata kita yang dingin dan tegas membuat Sakura tidak berani menolak. Gadis itu menutup sambungan dan kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku. Setelah empat menit menunggu, ia turun dari bus dan mendapati Kakashi disana, menunggunya sambil menyandarkan tinggi tubuhnya ke tiang halte.

Astaga, Tuhan, aku masih menyukainya, gumam Sakura kesal, berjalan dekat ke arah Kakashi.

Kakashi yang merasakan ada orang mendekat menolehkan kepalanya dan memberikan senyuman ke arah Sakura. Gadis itu berkerut melihatnya. Ada yang aneh, gumam Sakura pada dirinya sendiri. Senyuman Kakashi sensei tidak seperti biasanya.

Tentu saja Sakura bodoh. Itu senyuman sedih.

Sakura berhenti tepat di depan pria itu, lalu memandang wajahnya yang terlihat kuyu.

"Ada apa, sensei?" tanya Sakura.

Kakashi memandang murid yang jauh lebih pendek darinya itu. "Ino mengkhawatirkanmu."

"Tentang Neji?" Sakura langsung mengubah nada suaranya menjadi sengit. "Dia berlebihan. Dan sekarang sensei datang untuk memperingatiku juga tentang Neji? Kalian semua menyebalkan sekali."

"Ino tidak mungkin menjerumuskanmu. Lebih baik kau jauhi orang itu."

"Menjauhi pacarku sendiri?"

Kakashi tertegun ketika kata-kata tersebut meluncur dari bibir Sakura. Matanya menyipit tidak suka, dan keningnya berkerut. Cukup seram sebenarnya, tapi Sakura menguatkan dirinya untuk menjadi berani dan menantang Kakashi.

"Pacar?" desis Kakashi, sedikit kesal. Entah kenapa.

"Iya. Baru tadi siang." Jawab Sakura seenaknya saja, melipat tangannya di depan dada dan menaikkan dagunya untuk menantang mata Kakashi. "Kenapa? Kau cemburu?"

Kakashi tetap memandang Sakura dengan pandangan dinginnya. "Tentu tidak. Tapi kau harus tahu betapa buruknya dia, Sakura."

"Ini semua karena kau!" Sakura berteriak kurang ajar sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Kakashi. "Aku menerimanya untuk melupakanmu! Puas?! Sekarang, jangan pernah temui aku lagi kecuali untuk masalah sekolah!"

Sakura hendak berlari namun tangan Kakashi mencengkram lengannya. Dengan segenap perasaan marah, Sakura menghentakkan tangannya kuat-kuat dan langsung berlari menyebrang jalan, menjauhi Kakashi.

.

.

hai semuanyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!

cie, ada dua cowok brengsek disini. kira kira sakura bakal jadi sama si brengsek yang mana ya, endingnya?

fufufu. rahasialah.

ayo tebak, unlovable kapan tamat? yang bisa nebak bener nanti aku kasih hadiah!

seneng banget bisa nyuri-nyuri waktu buat ngedit dan update fanfic ini. yang memecahkan rekor monogatari sebagai ff terpanjang aku buat kakasaku.

kalian belom bosen kan ya? kalo udah bosen bilang deh, aku takut jatohnya jadi bala :(

yaudah segitu dulu cuap cuapnya.

bhabay!

and... tbc asap!